Jurnal Ekologi. Masyarakat dan Sains E-ISSN: 2720-9717 Volume 6. Nomor 2, 2025 ECOTAS https://journals. org/index. php/ems https://doi. org/10. 55448/ems Artikel Ulasan Riwayat Artikel: Masuk: 09-10--2024 Diterima: 09-08-2025 Dipublikasi: 08-11-2025 Konstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess dalam Memahami Hubungan Manusia dengan Alam Anas Machmudy Andy1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jl. Ahmad Yani No. Jemur Wonosari. Surabaya. Jawa Timur Penulis koresponden: anasmachmudy024@gmail. Cara Mengutip Andy. Anas Machmudy. AuKonstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess Dalam Memahami Hubungan Manusia Dengan AlamAy. Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . https://doi. org/10. 55448/hk Lisensi: Hak Cipta . 2025 Jurnal Ekologi. Masyarakat dan Sains Artikel ini berlisensi Creative Commons AttributionNonCommercial 4. International License. Abstrak: Kesadaran menjaga alam dan keselarasan ekosistem sangat perlu demi mengatasi permasalahan ekologis saat ini. Artikel ini memfokuskan pada ekologi dari perspektif epistemologi, terutama melalui konsep deep ecology yang dikembangkan oleh Arne Naess. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara manusia dan alam serta pentingnya kesadaran ekologis dalam memandu perilaku manusia menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Dalam artikel ini, penulis mengidentifikasi dua permasalahan utama. Pertama, penelitian membahas hubungan manusia dan alam pada saat Di era modern ini, hubungan manusia dengan alam telah mengalami pergeseran yang signifikan, termasuk eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan yang berdampak negatif. Kedua, penelitian menjelaskan konsep deep ecology yang dikembangkan oleh Arne Naess. Metode penelitian yang digunakan adalah Library Research dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran ekologis dan identifikasi ekologis berperan penting dalam mengubah perilaku manusia menuju pengelolaan lingkungan yang lebih bijaksana. Kata Kunci: manusia dan alam, ekologi dalam. Arne Naess Abstract: Awareness of protecting nature and the balance of ecosystems is crucial in addressing today's ecological issues. This article focuses on ecology from an epistemological perspective, particularly through the concept of deep ecology developed by Arne Naess. The study aims to understand the relationship between humans and nature, as well as the importance of ecological awareness in guiding human behavior towards more sustainable environmental management. This article identifies two main issues. First, the research discusses the current relationship between humans and nature. In the modern era, the relationship has undergone significant shifts, including the exploitation of natural resources and environmental damage that has had negative impacts. Second, the research explains the concept of deep ecology as developed by Arne Naess. The research method used is Library Research with a qualitative approach. The findings show that ecological awareness and ecological identification play a crucial role in changing human behavior towards more thoughtful environmental management. Keywords: human and nature, deep ecology. Arne Naess eksploitasi sumber daya alam serta pembangunan yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Etika ini juga berkaitan dengan persepsi manusia terhadap krisis ekologi yang disebabkan oleh kegiatan manusia yang memanfaatkan alam secara Pada era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan industrialisasi, hubungan antara manusia dan alam mengalami tekanan yang semakin intens. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan lingkungan menjadi isu PENDAHULUAN Krisis ekologis, khususnya yang berkaitan dengan eksploitasi dan pencemaran sumber daya alam, memiliki dampak etis, terutama dalam hal sikap dan perilaku manusia terhadap lingkungan. Etika lingkungan mulai berkembang pada tahun 1970 an bersamaan dengan munculnya etika Keduanya muncul sebagai respons terhadap berbagai masalah sosial, tetapi etika lingkungan lebih terkait dengan peningkatan Andy. Anas Machmudy. AuKonstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess Dalam Memahami Hubungan Manusia Dengan AlamAy. global yang mendesak. Untuk mengatasi krisis ekologis ini, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan alam. Deep Ecology adalah pendekatan yang menekankan pentingnya memahami lingkungan sebagai bagian dari satu kesatuan kehidupan yang saling berkaitan dan saling mendukung. Dalam pandangan ini, setiap elemen lingkungan memiliki makna dan peran yang sama. Deep Ecology mengungkapkan bahwa alam itu sendiri memiliki nilai penting dalam mendukung kehidupan, sehingga alam harus dihormati dan diperlakukan secara baik. Hal ini didasarkan pada prinsip etika Mereka perlindungan dan pelestarian lingkungan tidak hanya untuk kepentingan manusia, tetapi juga demi kepentingan alam itu sendiri. Alam merupakan bagian yang vital dari kehidupan, sehingga keberadaannya bukan hanya untuk manusia, melainkan juga untuk seluruh makhluk Karena itu, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam demi kesejahteraan masyarakat serta kebaikan umat manusia secara keseluruhan (Sarah dan Hambali. Arne Naess, seorang filsuf Norwegia yang dikenal sebagai pelopor ekofilosofi dan pendiri gerakan ekologi dalam. Melalui karya-karyanya. Naess memperkenalkan konsep ekosofi, yang menekankan kesatuan antara manusia dan alam. berpendapat bahwa krisis ekologis yang dihadapi manusia bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah epistemologis yang memerlukan transformasi mendasar dalam cara kita memandang dan memahami dunia. Pendekatan epistemologi Naess menekankan pentingnya memandang alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi (Sarah dan Hambali, 2. Berdasarkan beberapa deskripsi di atas, beberapa persoalan yang ingin dikembangkan dalam penelitian ini: pertama,bagaimana konsep ekologi mendalam Arne Naess mengubah pandangan manusia terhadap alam. Di sini juga akan diuraikan bagaimana prinsip-prinsip ekologi mendalam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkuat hubungan manusia dengan alam. Kedua, penelitian ini akan mendeskripsikan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok kami terhadap hubungan manusia dengan alam. Dari sini akan dikembangkan beberapa hal penting: . bagaimana penjelasan dan konsep ekologi mendalam menurut Arne Naess dalam memandang alam dan manusia, . bagaimana Kritik terhadap paradigma tradisional dalam pengelolaan lingkungan menyoroti kurangnya fokus pada keberlanjutan dan pelestarian alam, . bagaimana pendekatan epistemologi Arne Naess dapat mempengaruhi Dari dikembangkan beberapa cara terbaik untuk menerapkan filosofi Arne Naess dalam pembuatan kebijakan yang mendukung keberlanjutan lingkungan, . bagaimana Kesadaran ekologis memiliki peran penting dalam memahami dan menafsirkan fenomena ekologis serta dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ini melibatkan pemahaman tentang keterkaitan antara manusia dan alam, memungkinkan individu untuk melihat dampak setiap tindakan manusia terhadap Ketiga, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menjawab pertanyaapertayan di atas, guna mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana pendekatan epistemology Arne Naess dapat digunakan untuk memperkuat dan memajukan hubungan manusia dengan alam dalam konteks keberlanjutan lingkungan. Pengkajian tentang ekologi mendalam seperti yang dilakukan oleh Peni yang berjudul AuKritik Ekologi Mendalam Terhadap Regulasi Persampahan Di IndonesiaAy membahas tentang regulasi pengelolaan sampah di Indonesia menggunakan konsep ekologi mendalam. Dalam tulisan ini Peni berfokus pada penanganan aneka persoalan lingkungan termasuk masalah sampah, terdapat dua kelompok gerakan ekologi yakni gerakan ekologi dangkal dan gerakan ekologi Regulasi pengelolaan sampah di Indonesia masih diwarnai oleh konsep ekologi Hal ini dapat dilihat dari tujuan pengelolaan sampah yang berfokus pada kepentingan manusia serta kepentingan ekonomi (Verawati, 2. Berbeda dengan penelitian di atas. Raden Mas Sukarna dalam tulisannya. AuInteraksi Manusia Dan Lingkungan Dalam Perspektif Antroposentrisme. Antropogeografi Dan EkosentrismeAy menekankan pembahasan pada persoalan Manusia dan lingkungan selalu berinteraksi karena mereka menempati ruang yang sama berdasarkan aturan interdependensi dan adaptasi yang terikat pada sistem keseimbangan Interaksi manusia harus beradaptasi untuk menjaga kehidupan dan mengeksploitasi sumber daya alam di sekitarnya yang menghasilkan lanskap budaya yang tak terpisahkan dari karakteristik wilayah tersebut. Pengaruh kuat alam dalam menentukan kondisi sosial-budaya manusia telah mengarah pada antropogeografi. Seiring dengan jumlah manusia yang terus Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . https://doi. org/10. 55448/hk1yac70. meningkat dengan termasuk perkembangan pikiran mereka juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh kebutuhan hidup mereka. Manusia tidak memiliki rasa menjadi bagian dari sistem sosio-biogeofisik, tetapi terpisah dan berdiri di luar sistem tersebut dan menghasilkan antroposentrisme. Fenomenafenomena ini telah menghasilkan gagasan bahwa harus ada hubungan yang harmonis dan seimbang antara kebutuhan manusia dan kemampuan sumber daya alam. Ini berarti bahwa manusia harus mengakui bahwa kelangsungan hidup mereka dan spesies lainnya bergantung pada prinsip-prinsip ekologis. Oleh karena itu, kebutuhan manusia harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan kebutuhan spesies lain yang menghasilkan ekosentrisme yang menghormati alam (Sukarna, 2. Senada dengan penelitian di atas. Syaiful Thoriq Siregar dalam tulisannya yang berjudul AuAnalisis Kondisi Lingkungan Pasca-Pandemi Covid-19 Melalui Antropologi Dan Pemikiran Ekologi Mendalam Arne NaessAy membahas fenomena pandemi COVID-19 yang menyebar ke berbagai belahan dunia dalam waktu cepat dan menyebabkan perubahan signifikan dalam kehidupan manusia serta lingkungan. Selama masa pandemi, lingkungan berdampak secara positif, seperti kualitas udara dan air di bumi meningkat, polusi suara menurun, penggunaan bahan bakar berkurang, ekosistem laut membaik, dan beberapa satwa langka terlihat. Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan antara aktivitas manusia dan lingkungan yang terjadi sebelum Kondisi lingkungan setelah pandemi menjadi isu yang membutuhkan pemikiran dan analisis mendalam terkait hubungan manusia dengan lingkungan, tindakan etis manusia, serta keputusan politik untuk mencapai keseimbangan dengan alam. Untuk itu, penulis menggunakan teori antropologi multispesies dan pemikiran ekologi mendalam dari Arne Naess sebagai alat Arne Naess adalah seorang pemikir dan ekolog yang menekankan bahwa hubungan antara alam dan makhluk hidup tidak dapat dipisahkan. Pandangan ini sesuai dengan tujuan penulisan ini. Hasilnya, terdapat perlunya penyusunan ulang hubungan manusia dan lingkungan dengan paradigma multispesies, pertimbangan etis, serta kebijakan politik yang berkelanjutan pascapandemi. Tulisan ini secara menyeluruh dan komprehensif membongkar serta menyusun ulang formula lingkungan setelah pandemi yang harus Dengan demikian, kondisi lingkungan pasca-pandemi dapat diprediksi, serta peran diidentifikasi (Siregar, 2. Barnabas Ohoiwutun menulis dalam suatu penelitian tentang kedudukan dan peran manusia dalam alam dengan judul AuKedudukan dan Peran Manusia dalam Alam: Tanggapan atas Kritik Al Gore terhadap Arne NaessAy Artikel ini bertujuan untuk menanggapi kritik Al Gore terhadap konsep ekologi mendalam Arne Naess. Bagi Al Gore, ekologi mendalam Arne Naess telah mengurangi posisi dan peran manusia dalam alam. Alasannya adalah bahwa ekologi mendalam Naess diasumsikan melihat manusia sebagai sumber kehancuran di bumi dan asing yang bukan bagian dari alam. ia memahami manusia sebagai makhluk tanpa kemampuan berpikir dan kehendak dan tidak memberikan solusi bagi krisis ekologis saat ini. Naess, sebaliknya, memahami manusia sebagai makhluk yang baik dalam dirinya sendiri, bagian dari alam, dan makhluk Karena keunikan ini, manusia memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan memelihara alam. Oleh karena itu, meskipun memiliki perbedaan, baik ekologi mendalam Naess maupun ekologi Al Gore memiliki banyak Kesamaan ini dapat digunakan sebagai kontribusi untuk setiap upaya menyelamatkan bumi saat ini (Ohoiwutun, 2. Ada juga penelitian dari Barnabas Ohoiwutun yang menulis artikel berjudul AuAgama dan Alam dari Perspektif Arne NaessAy Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan gagasan Naess mengenai hubungan antara agama dan alam. Menurut Naess, hubungan antara agama dan alam memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, agama dianggap sebagai sumber yang baik bagi manusia untuk memahami alam serta diri sendiri. Agama membimbing manusia dalam membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan Di sisi lain, agama juga bisa menjadi penyebab krisis ekologis, karena interpretasi yang bersifat antroposentris dalam agama memberikan kekuatan dan pengetahuan kepada manusia untuk mengendalikan serta meng eksploitasi alam secara semena-mena. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis ekologis, diperlukan peralihan dari interpretasi yang bersifat antroposentris menuju interpretasi yang ekologis. Dalam studi ini, metode deskriptif dan analitis digunakan untuk memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang gagasan Naess mengenai hubungan antara agama dan alam (Ohoiwutun, 2. Adapun dalam penelitian ini amat sangat berbeda dengan penelitian sebelumnya. Dalam jurnal ini akan dibahas konstruksi pengetahuan ekologis berdasarkan pendekatan epistemologi Arne Naess. Tujuannya mengeksplorasi bagaimana pemikiran Naess dapat membantu membentuk pemahaman yang lebih Andy. Anas Machmudy. AuKonstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess Dalam Memahami Hubungan Manusia Dengan AlamAy. komprehensif dan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. pribadinya tentang dunia. Teorinya dikenal sebagai Ekofilosofi AuTAy, dengan "T" merujuk pada tempat favoritnya, yaitu Tvergastein (Krabbe, 2. Arne Naess bukan hanya seorang teoretikus, tetapi juga seorang aktivis. Selama Perang Dunia II, ia aktif dalam gerakan Naess juga terlibat dalam politik partai hijau dan aksi lingkungan tanpa kekerasan, yang terinspirasi oleh karya Rachel Carson berjudul "Silent Spring". Ia menginspirasi gerakan ekologi yang menekankan pentingnya memahami nilai intrinsik alam. Sebagai pengakuan terhadap kontribusinya. Arne Naess menerima banyak penghargaan sepanjang hidupnya, termasuk gelar bangsawan dari Raja Norwegia. Raja Harald V. menikah sebanyak tiga kali, dengan pasangan Else Hertzberg. Siri Blom, dan Kit Fai Tsui, yang merupakan pasangannya hingga akhir hayatnya. Arne Naess meninggal pada tanggal 12 Januari 2009, meninggalkan warisan besar dalam bidang filsafat ekologi dan gerakan lingkungan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan sebagai strategi utama dalam mengumpulkan dan Pendekatan memungkinkan peneliti memahami fenomena secara lebih dalam dengan menjelajahi makna, konteks, serta nuansa yang terkandung dalam berbagai perspektif teoretis mengenai hubungan antara manusia dan alam, khususnya yang berfokus pada ekologi mendalam deep ecology dari Arne Naess. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif analitis dengan pendekatan studi Studi kepustakaan yang dilakukan menganalisis berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan topik penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kata kunci topik dengan alat publish or perish. Pendekatan filosofis diterapkan dalam menafsirkan karyakarya Naess dan literatur terkait, sehingga memungkinkan identifikasi konsep-konsep kunci seperti kesadaran ekologis dan identifikasi Analisis dilakukan melalui tinjauan kritis terhadap sumber primer dan sekunder untuk epistemologis Naess dapat berkontribusi pada pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Ekologi Mendalam Filsuf terkenal yang mengembangkan pendekatan deep ecology adalah Arne Naess. mengajukan konsep deep ecology yang mendorong penghargaan terhadap keragaman hayati serta mengakui bahwa kepentingan alam memiliki nilai setara dengan kepentingan Pendapat Naess menekankan perlunya membangun sikap empati terhadap alam dan menghargai hak-hak alam sebagaimana hak-hak yang dimiliki oleh manusia. Dalam teori deep ecology menyatakan bahwa manusia dituntut untuk menghargai dan menghormati benda-benda hayati maupun non hayati, karena semua benda di alam semesta mempunyai hak yang sama untuk berada, hidup dan berkembang (Wagiu. Berdame, dan Luma, 2. Istilah gerakan deep ecology atau ekologi dalam pertama kali digunakan oleh Arne Naess pada Konferensi Penelitian Masa Depan Dunia Ketiga di Bucharest pada tahun 1973. Naess memperkenalkan istilah tersebut sebagai lawan dari gerakan ekologi dangkal. Menurut Naess, ide inti dari ekosofinya dipengaruhi oleh filsafat Spinoza dan Gandhi, serta pemikiran dari agama Hindu dan Buddhisme. Dari Spinoza. Naess mengambil inspirasi dari konsep Deus sive Natura, yang berarti Tuhan sama dengan alam. Dari konsep ini. Naess menyatakan bahwa semua makhluk memiliki nilai intrinsik, memiliki hak untuk hidup dan berkembang secara setara, serta memiliki tujuan yang ingin dicapai. Dari Gandhi. Naess menerima tiga ide utama, yaitu hubungan internal antara konsep realisasi diri, non- HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Arne Naess Arne Dekke Naess adalah seorang filsuf Norwegia yang lahir di Aker, pada 27 Januari adalah seorang filsuf Norwegia yang terkenal karena kontribusinya dalam berbagai bidang, terutama dalam filosofi ekologi. dilahirkan di Aker. Norwegia, dan memiliki minat yang luas, termasuk dalam filsafat, astronomi, dan Pendidikan Naess berlangsung di Universitas Oslo dan Universitas Sorbonne di Paris. Pada tahun 1933. Naess meraih gelar M. dan pada tahun 1936, ia berhasil memperoleh gelar doktor dalam bidang filsafat dari Universitas Oslo. Meskipun usianya masih muda, yaitu tahun 1939. Naess menjadi profesor filsafat termuda dan satu-satunya di Norwegia (Krabbe, 2. Salah satu karya paling terkenal Arne Naess adalah bukunya yang berjudul "Ecology. Community and Lifestyle: Outline of an Ecosophy", yang diterbitkan pada tahun 1989. Buku ini membahas hubungan antara manusia dengan alam dan dikenal dengan istilah Naess mengembangkan pendekatan ekosofi yang didasarkan pada pandangan Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . https://doi. org/10. 55448/hk1yac70. kekerasan, dan kesetaraan ekosfer. Artinya, manusia dan makhluk lain adalah bagian dari satu Setiap makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup dan berkembang serta tujuan yang perlu diwujudkan. Karena itu, tindakan kekerasan terhadap makhluk lain seharusnya dilarang karena menghambat proses realisasi diri (Ohoiwutun. Konsep deep ecology yang didasarkan pada filsafat ecosophy mengharuskan terjadinya perubahan kebijakan untuk mengatasi krisis atau darurat lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi sumber daya lingkungan secara berlebihan dan tidak memperhatikan aspek kelestarian serta kemampuan lingkungan untuk mendukung Perubahan ini diperlukan karena konsep tersebut mengikuti etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan manusia. Untuk itu, dibutuhkan hukum lingkungan sebagai wadah mencakup aturan-aturan hukum yang sesuai dengan prinsip-prinsip deep ecology sebagai bentuk etika ekosentrisme. Hukum lingkungan ini juga mencerminkan paradigma hukum yang mendukung keberlanjutan lingkungan atau ekologi (Satmaidi, 2. Deep ecology dianggap sebagai sebuah etika lingkungan yang bermanfaat karena mengajarkan kita untuk memperlakukan alam secara hormat dan menghargai hak-hak alam sebagaimana hak-hak manusia. Aliran ini juga menekankan pentingnya memiliki sikap empati terhadap alam, memahami hubungan kita dengan alam, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dengan alam melalui pemahaman yang lebih dalam mengenai keterkaitan antar aspek Apa arti alam menurut pandangan Naess? Dalam artikelnya yang berjudul ASpinoza and Attitude Toward NatureAy. Naess mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan merujuk pada gagasan Spinoza mengenai alam. Fokus utamanya adalah pandangan Spinoza tentang alam, yang menurut Naess memiliki kesamaan dengan pemikiran ekologi dalam. Pandangan ini dimulai dari konsep Spinoza yang dikenal sebagai Deus sive Natura. Menurut Naess, gagasan ini menyatakan bahwa Tuhan berada dalam alam secara imanen, seperti yang ditulis Spinoza, "Allah adalah imanen, bukan penyebab transenden dari segala sesuatu". Sebagai penyebab. Allah tidak dapat dipisahkan kecuali secara konseptual dari segala yang ada. Allah tidak memiliki kekuatan tanpa esensi dari sesuatusesuatu khusus. Tanpa esensi dari sesuatu-sesuatu khusus. Allah tidak ada. Sebaliknya, tanpa Allah, kita tidak ada. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Allah atau alam tidak dapat hidup tanpa sesuatu-sesuatu khusus yang terbatas. Sebagai natura naturans. Allah berada dalam alam secara imanen sebagai natura naturata (Ohoiwutun. Menurut Naess, deep ecology . kologi dala. dapat dipahami dalam dua cara. Pertama, sebagai sebuah gerakan sosial. Sebagai gerakan sosial, ekologi dalam muncul sebagai respons terhadap krisis ekologis. Tujuannya adalah melindungi bumi beserta kekayaan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya demi kepentingan bumi itu sendiri. Ciri khas dari gerakan ini antara lain: menolak pandangan antroposentrisme dan menekankan pendekatan menganut prinsip kesetaraan ekosfer dan keanekaragaman bentuk kehidupan. berjuang melawan pencemaran ekologis demi kepentingan alam itu sendiri. Dengan demikian, berbeda dengan gerakan ekologi dangkal yang fokus pada hal-hal permukaan dan terutama berorientasi pada kepentingan manusia, ekologi dalam lebih berbicara dan bertanya mengenai halhal mendasar, yakni asumsi rasional yang mendasari pendekatan ekonomi kita dalam hal nilai, filsafat, dan agama. Kedua, deep ecology sebagai ekosofi. Menurut Naess, sebagai ekosofi, ekologi-dalam dapat dipahami dalam tiga cara. Yang pertama, sebagai bentuk kearifan dalam mengatur kehidupan agar seimbang dengan kehidupan alam, yang dianggap sebagai sebuah rumah tangga. Tidak hanya itu, ekosofi juga merupakan upaya untuk melebihi kecenderungan ekologi secara umum dan menjadi pandangan yang universal, sehingga mampu menjawab berbagai masalah Yang kedua, sebagai sebuah teori normatif karena memberikan norma-norma untuk sikap dan perilaku manusia dalam hubungan dengan alam dan isinya. Sains mampu memberikan informasi, data, serta pengetahuan, tetapi pada akhirnya, proses ilmiah menghasilkan persoalan filosofis, karena berkaitan dengan nilai, prinsip, dan norma. Pada titik ini, hanya filsafat yang mampu menyediakan prinsip dan norma untuk tindakan manusia (Ohoiwutun, 2. Pemikiran deep ecology menekankan keterkaitan yang kompleks antara semua bentuk kehidupan dan lingkungan tempat mereka hidup. Naess menyatakan bahwa setiap bagian dari alam memiliki nilai intrinsik yang harus dihormati dan Konsep ini mencerminkan penghargaan mendalam terhadap keanekaragaman hayati dan Pemikiran deep ecology tidak hanya berhenti pada tingkat filsafat, tetapi juga mendorong tindakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Andy. Anas Machmudy. AuKonstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess Dalam Memahami Hubungan Manusia Dengan AlamAy. Naess memperjuangkan perlindungan alam dan upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ini perlindungan habitat alami, dan pembangunan masyarakat yang lebih berkelanjutan. realitas utama. Manusia secara alami memiliki kemampuan untuk membedakan antara hal yang sakral dan tidak. Namun, manusia modern telah lupa akan kemampuan tersebut. Kebenaran atau pengetahuan intelektual telah terpisah dari yang sakral karena hilangnya nilai kesakralan dalam Di dunia sekuler, yang sakral hanya dilihat dari perspektif dunia profan . idak sakra. , karena manusia modern tidak lagi memiliki kesadaran tentang Tuhan. Manusia yang tidak memiliki kepekaan terhadap yang sakral tidak dapat memahami pandangan tradisional, dan sebaliknya, manusia tradisional tidak pernah terlepas dari kesakralan (Santosa dan Heriyanto. Paradigma lingkungan tradisional sering kali didominasi oleh pandangan-pandangan yang sempit, yang mengabaikan kekayaan pengetahuan tradisional dari masyarakat adat atau pendekatan ekologis alternatif dari budaya-budaya non-Barat. Hal ini mengurangi potensi untuk memahami dan mengatasi masalah lingkungan dengan cara yang holistik dan inklusif. Paradigma tradisional sering kali menciptakan pemisahan antara manusia dan alam, dengan memandang manusia sebagai entitas terpisah yang bertindak terhadap alam sebagai objek yang dapat dimanfaatkan. Pendekatan ini mengabaikan ketergantungan manusia pada alam dan dampak pentingnya terhadap keseimbangan Kritik terhadap paradigma lingkungan tradisional juga mencakup ketidakmampuannya untuk secara efektif mengatasi tantangan perubahan lingkungan yang kompleks seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan degradasi lingkungan. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam memecahkan masalah lingkungan global. Kritik terhadap Paradigma Tradisional Paradigma konvensional dalam pengelolaan lingkungan sering kali dikritik karena kurangnya fokus pada keberlanjutan dan pelestarian Pendekatan yang dominan dalam industri kehutanan, misalnya, sering kali lebih mengutamakan eksploitasi sumber daya alam memperhatikan dampak jangka panjang terhadap Praktik-praktik seperti penebangan liar dan pengelolaan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan ekologis yang serius serta kehilangan keanekaragaman hayati. Pengelolaan menggunakan metode yang sudah ada saat ini sering kali tidak memperhatikan aspek keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. Dalam beberapa situasi, cara pengelolaan hutan konvensional justru merusak ekosistem hutan dibandingkan dengan metode pemanenan kayu yang berkelanjutan. Hal ini terjadi karena pengelolaan tersebut masih berfokus pada produksi kayu sebagai produk utama dari hutan (Sutrisno dkk, 2. Hutan digunakan sebagai sumber bahan baku kayu untuk memenuhi kebutuhan industri, seperti pembuatan bangunan, perabot rumah tangga, kertas, serta bahan bakar. Namun, jika pengelolaan hutan tidak dilakukan secara bijak dan berkelanjutan, akan terjadi kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta penurunan kualitas lahan. Selain itu, tindakan ilegal seperti penebangan tanpa izin juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup hutan (Sutrisno dkk, 2. Paradigma konvensional tersebut dianggap tidak mampu mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan degradasi Pendekatan yang berfokus pada menyebabkan konsekuensi yang serius bagi keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan Oleh karena itu, kritik terhadap paradigma konvensional menekankan perlunya pendekatan yang lebih holistik, berkelanjutan, dan inklusif dalam mengelola lingkungan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Pandangan tradisional selaras dengan sesuatu yang sakral, yang dianggap sebagai Hubungan Manusia Dengan Alam Menurut Arne Naess Manusia dan alam adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia hidup secara berdampingan dan bergantung pada alam. Menjalankan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan secara bertanggung jawab merupakan tugas manusia. Dengan kelebihan pemikiran yang dimiliki oleh manusia dibandingkan makhluk hidup lainnya, manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan akalnya secara bijak terhadap lingkungan sekitar. Dalam konteks kemajuan teknologi yang semakin pesat, manusia diharapkan dapat memainkan peran yang lebih optimal dalam menjaga lingkungan. Hal ini dikarenakan setiap tindakan yang dilakukan Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . https://doi. org/10. 55448/hk1yac70. manusia terhadap lingkungan akan berdampak pada diri manusia itu sendiri. Arne Naess menyatakan bahwa masalah kerusakan lingkungan berasal dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli, serta hanya mementingkan diri sendiri. Menurutnya, krisis lingkungan hanya dapat teratasi dengan mengubah cara pandang dan perilaku manusia terhadap lingkungan. Hal ini mencakup pola hidup atau gaya hidup, tidak hanya pada individu tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Pola produksi dan konsumsi yang berlebihan serta tidak ramah lingkungan dipengaruhi oleh kemajuan ekonomi dan industri modern yang menawarkan gaya hidup Para mengurangi makna kehidupan manusia hanya menjadi nilai ekonomis. Mereka menganggap pertumbuhan ekonomi sebagai hal yang penting. Hal ini berujung pada pola hidup yang berorientasi pada materi. Akibatnya, semakin banyak sumber daya ekonomi yang diekploitasi, semakin besar pula kerusakan lingkungan yang terjadi (Juliasih, 2. Dalam menghadapi perilaku manusia yang sering kali semena-mena terhadap lingkungan, teori deep ecology diharapkan dapat menjadi panduan untuk memberikan pencerahan dan pemahaman bahwa segala sesuatu tidak berpusat pada manusia semata. Dalam teori deep ecology, semua makhluk di alam ini dianggap sebagai pusat kehidupan. Selama ini, manusia hanya memandang alam sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi semata demi memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Manusia sering kali mengeksploitasi alam secara besar-besaran, menjadikannya sebagai lingkungan buatan yang hanya memikirkan keuntungan yang bisa Deep ecology berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka panjang dan memperhatikan alam serta makhluk hidup yang ada di dalamnya. Manusia tidak lagi menjadi pusat dari alam semesta, melainkan harus menyesuaikan sikapnya dengan alam dan berupaya melestarikan Menurut Naess, akan tiba saatnya di masa depan di mana manusia harus mengubah gaya hidupnya akibat krisis ekologi yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Perilaku serakah manusia merupakan dampak dari konsumerisme yang ekstrim (Kurniawan dkk. Hubungan antara manusia dan lingkungan sebenarnya setara, karena keduanya saling menciptakan ketergantungan dan simbiosis Namun, manusia sering kali menganggap dirinya sebagai yang paling tinggi, yang membuatnya memperlakukan alam dengan semena-mena untuk mencapai tujuannya. Dalam posisi yang sama ini, manusia harus menggunakan dan mengelola lingkungan dengan baik, menjaganya agar tetap lestari, dan mencegah pencemaran lingkungan. Melalui penerapan teori ini, akan tercipta hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Alam akan memberikan produktivitas yang diperlukan manusia, sementara manusia memenuhi kebutuhannya. Dalam pemanfaatannya, manusia tidak boleh bersikap semena-mena dalam mengelola sumber daya alam agar tercipta kehidupan yang harmonis dan Namun, pada kenyataannya saat ini manusia sering kali terlalu mementingkan diri sendiri dan kurang peduli terhadap kondisi Krisis lingkungan yang terjadi saat ini disebabkan oleh sikap egois manusia yang terlalu terikat pada dunia material dan bertindak dengan tidak benar. Majunya teknologi juga dapat membuat manusia semakin semena-mena terhadap lingkungan. Alam hanya dipandang sebagai penyuplai sumber daya dan pemenuhan kebutuhan manusia. Dalam teori ini. Naess mendalam terkait dengan pengelolaan lingkungan yang pada akhirnya akan membangkitkan kesadaran manusia terhadap pentingnya menjaga lingkungan (Kurniawan dkk, 2. Kesadaran Ekologi Terhadap Lingkungan Antara Manusia Dengan Alam Pentingnya kesadaran ekologis dalam memahami dan menafsirkan fenomena ekologis. Kesadaran ekologis memiliki peran penting dalam memahami dan menafsirkan fenomena ekologis. Kesadaran ekologis mengacu pada kepedulian terhadap lingkungan dan keterkaitan antara manusia dengan alam. Dalam konteks ini, kesadaran ekologis memungkinkan individu untuk mempengaruhi lingkungan dan bagaimana lingkungan mempengaruhi kualitas hidup Dengan memiliki kesadaran ekologis, seseorang dapat melihat dampak dari setiap tindakan manusia terhadap lingkungan, sehingga mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana untuk menjaga keseimbangan ekosistem (Lasaiba, 2. Kesadaran ekologis sangat diperlukan dalam memahami fenomena ekologis karena lingkungan memiliki peran sentral dalam keberlangsungan hidup manusia. Lingkungan memberikan sumber daya yang diperlukan untuk kehidupan, seperti air, udara, dan makanan. Kesadaran ekologis memungkinkan individu Andy. Anas Machmudy. AuKonstruksi Pengetahuan Ekologis: Pendekatan Epistemologi Arne Naess Dalam Memahami Hubungan Manusia Dengan AlamAy. untuk memahami bagaimana cara mengelola sumber daya ini secara efektif dan berkelanjutan, serta bagaimana cara mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan ekologis. Misalnya, dalam mengelola hutan, kesadaran ekologis akan mendorong praktik-praktik penebangan yang bertanggung jawab dan pemulihan lahan, guna memastikan kelestarian hutan dan habitat alami. Selain itu, kesadaran ekologis juga memungkinkan individu untuk memahami bagaimana cara mengatasi masalah ekologis yang telah terjadi. Misalnya, dalam konteks penambangan pasir di Sungai Mappak. Tana Toraja, kesadaran ekologis memungkinkan individu untuk memahami bagaimana cara mengelola sungai secara berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan ekologis (Maria dkk, 2. Dalam perspektif agama, seperti dalam Islam, kesadaran ekologis juga memiliki peran penting. Al-Quran menyebut manusia sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan (Muhammad, 2. Oleh karena itu, kesadaran ekologis memungkinkan individu untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan praktik pengelolaan lingkungan yang bijaksana. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa kesadaran ekologis sangat diperlukan dalam memahami dan menafsirkan fenomena ekologis karena memungkinkan individu untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan mengatasi masalah ekologis yang telah terjadi. Kesadaran ekologis juga memiliki peran penting dalam perspektif agama, memungkinkan individu untuk memahami bagaimana cara mengelola lingkungan dengan mempertimbangkan aspek spiritual dan etis. Dengan meningkatkan kesadaran ekologis, masyarakat dapat bekerja sama untuk menjaga kelestarian alam dan Konsep identifikasi ekologis Perspektif Naess sebagai upaya untuk memperdalam hubungan manusia dengan alam. Konsep "identifikasi ekologis" yang diajukan oleh Arne Naess memainkan peran penting dalam upaya untuk memperdalam hubungan manusia dengan Naess mengembangkan sikap empati terhadap alam dan menghargai hak-hak alam yang sama dengan hakhak manusia. Dengan konsep "identifikasi ekologis," Naess bermaksud untuk mendorong individu untuk melihat diri mereka sebagai bagian integral dari ekosistem yang lebih besar. Ini berarti bahwa manusia bukanlah pemisah dari alam, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan proses alamiah. Dengan cara ini, manusia dapat mulai menghargai nilai intrinsik alam dan berkomitmen untuk melestarikan keanekaragaman hayati serta keseimbangan ekosistem. Identifikasi ekologis dalam konteks teori ekologis dan filosofi alam memiliki makna yang lebih dalam. Hal ini mengacu pada proses memahami dan mengidentifikasi hubungan yang kompleks antara manusia dengan alam. Ini melibatkan analisis sistem ekologis, pemahaman pengembangan strategi untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan berimbang. Dalam konteks kesadaran ekologis, identifikasi ekologis juga terkait dengan pengembangan pemahaman yang lebih dalam tentang cara mengelola lingkungan secara berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan ekologis. Dengan memahami hubungan ini, manusia dapat mengambil langkahlangkah yang lebih tepat untuk menjaga keberlangsungan hidup tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk seluruh ekosistem bumi (Sarah dan Hambali, 2. Maka dari itu dapat dipahami bahwa konsep identifikasi ekologis merupakan suatu upaya untuk memperdalam pemahaman manusia tentang hubungannya dengan alam dan untuk mengembangkan strategi yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya alam. Melalui proses ini, manusia diharapkan dapat berinteraksi dengan lingkungan secara lebih bijaksana, menghormati nilai-nilai alam, dan menjaga keseimbangan ekosistem untuk kesejahteraan bersama. PENUTUP Arne Naess, seorang filsuf Norwegia, telah memperdalam pemahaman tentang hubungan manusia dengan alam melalui konsep "deep Dalam Naess menekankan pentingnya mengakui nilai intrinsik alam dan menempatkan kepentingan alam setara dengan kepentingan manusia. Pendekatan ini tidak hanya mengubah pandangan kita tentang lingkungan, tetapi juga mendorong tindakan yang bertanggung jawab terhadap perlindungan alam dan pengurangan konsumsi yang berlebihan. Penerapan teori deep ecology Arne Naess dapat memperdalam pemahaman manusia tentang hubungan dengan alam dan mendorong kebijakan Jurnal Ekologi. Masyarakat Dan Sains 6 . https://doi. org/10. 55448/hk1yac70. Kesadaran ekologis adalah kunci untuk memahami dampak perilaku manusia terhadap lingkungan dan mengambil keputusan yang bijaksana untuk menjaga keseimbangan Pandangan ini juga relevan dalam konteks tantangan ekologis kontemporer, seperti perubahan iklim dan krisis ekologis global, yang mengintegrasikan aspek teknis, moral, dan filosofis dalam pengelolaan lingkungan. Kesadaran ekologis, yang dipromosikan oleh Naess, menjadi kunci dalam memahami dan keberlangsungan hidup bagi manusia dan Dengan meningkatkan kesadaran ini, kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan praktik pengelolaan lingkungan yang bijaksana, memastikan bahwa tindakan kita tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem untuk generasi mendatang. Muhammad. AuKajian Ayat-Ayat AlQurAoan Pelestarian Lingkungan Hidup. Ay Jurnal Alwatzikhoebillah 9. Ohoiwutun. Barnabas. AuKedudukan dan Peran Manusia Alam: Tanggapan atas Kritik Al Gore terhadap Arne Naess. Ay Jurnal Ledalero 20. :67. doi:10. 31385/jl. Ohoiwutun. Barnabas. AuAgama dan Alam dari Perspektif Arne Naess. Ay Media (Jurnal Filsafat dan Teolog. :1Ae12. doi:10. 53396/media. Santosa. Iman, dan Husain Heriyanto. AuPemahaman Tradisional Mengenai Alam Menurut SeyyedHossein Nasr Dalam Upaya Mengatasi Krisis Lingkungan. Ay Jurnal Peradaban 2. doi:10. 51353/jpb. DAFTAR PUSTAKA