Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi Volume 5. DOI 10. 33323/indigenous. SELEKSI ENZIM PROTEASE JAMUR ENDOFIT DAUN MANGROVE Avicennia marina DI PANTAI NOELBAKI (SELECTION OF ENZYME PROTEASE OF MANGROVE LEAF ENDOPHITE FUNGUS Avicennia marina AT NOELBAKI BEACH) Ocsryn L. Ludji Lobo1. Anggreini D. Rupidara2. Mellissa E. Ledo2 Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Kristen Artha Wacana. Kupang. Indonesia. Email Correspondence : ocsrynludji@gmail. Abstrak Jamur endofit dapat diartikan sebagai mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan internal makhluk hidup seperti pada daun tanpa menyebabkan efek yang merugikan secara langsung pada organisme tersebut. Jamur endofit mampu menghasilkan enzim ekstraseluler, salah satunya enzim protease. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur endofit penghasil enzim protease yang hidup pada daun mangrove Avicennia marina di Pantai Neolbaki. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan dua perlakuan yaitu daun tua dan daun muda mangrove A. Data karakterisasi morfologi secara makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara kualitatif sedangkan data uji aktifitas protease dari jamur endofit dengan metode plug agar berupa hasil perhitungan zona bening secara kuantitatif dan dideskripsikan dalam bentuk gambar dan tabel. Berdasarkan data penelitian ditemukan bahwa dari daun tua dan daun muda mangrove A. yang ada di pantai Noelbaki menghasilkan 12 total isolat hasil isolasi. Dari total 12 isolat diperoleh 5 isolat jamur endofit penghasil enzim protease ekstraseluler yang terbagi atas 3 isolat dari daun tua dan 2 isolat dari daun muda. Pembentukan zona aktifitas proteolitik tertinggi pada daun tua A. marina dalam uji enzim protease ekstraseluler terdapat pada kode isolat DT Am 05 OLL dengan diameter zona proteolitik sebesar 2,1 mm. sedangkan untuk daun muda A. marina aktivitas tertinggi terdapat pada kode isolat DM Am 02 OLL dengan diameter zona bening sebesar 1,9 mm. Kata Kunci : Avicennia marina. Enzim protease ekstraseluler. Jamur endofit. ABSTRACT Endophytic fungi can be defined as microbes that live in colonies in the internal tissues of living things such as leaves without causing direct adverse effects on these organisms. Endophytic fungi are able to produce enzymes, one of which is the protease enzymes. This study aims to identify Endophytic fungi that produce protease enzymes that live on mangrove leaves of Avicennia marina in Noelbaki Beach. The research used an experimental method with two treatments, namely old and young leaves of the A. marina mangrove. The macroscopic and microscopic morphological characterization data were analyzed qualitatively, while the protease activity test data of endophytic fungi using the plug agar and the clear zone were analyzed quantitatively, then described in the form of figures and tables. The founding of the research of the old and young leaves of A. marina from the Noelbaki beach had been isolated a total of 12 isolates of endophytic fungi. Of the 12 isolates, 5 isolates were shown to produce extracellular protease enzymes, consisting of 3 old leaves isolates and 2 young leaves isolates. In the extracellular protease enzyme test, the proteolytic activity zone was confirm as a clear zone was found to be the highest in the old leaves of A. marina found in the isolate code DT-Am-05-OLL with a proteolytic zone diameter of 2. 1 mm. As for young leaves of A. marina, the highest activity was found in the DM-Am-02-OLL isolate code with a clear zone diameter of 1. 9 mm. Key Words : Avicennia marina, endophytic fungi, extracellular protease enzymes PENDAHULUAN Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Indonesia merupakan salah satu negara yang terdiri atas banyak pulau. Kebanyakan pulau di Indonesia memiliki potensi ekosistem mangrove dan hutan pantai yang tersebar pada lebih dari 000 pulau dengan memiliki garis pantai sepanjang 80. 000 km (Litbang, 2. Nusa Tenggra Timur (NTT) merupakan salah satu dari jajaran pulau-pulau yang memiliki potensi ekosistem Data dokumen final rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjelaskan bahwa NTT memiliki ekosistem mangrove yang sangat potensial yaitu 52 Ha. Ekosistem mangrove tersebar di beberapa pesisir pantai termasuk pantai Noelbaki. Pantai ini memiliki luas 10. 2 Ha dengan ekosistem mangrove yang melimpah dan masih Terdapat beberapa Jenis mangrove yang ditemukan di pantai ini, salah satunya adalah jenis Avicennia marina (Abo dkk. , 2. Avicennia marina merupakan tumbuhan belukar atau pohon yang tumbuh tegak dan menyebar dengan ketinggian pohon mencapai 30 meter. Mangrove A. marina biasanya hidup pada daerah pasang surut air laut yang memiliki substrat berlumpur. marina juga memiliki potensi ekonomi dimana bagian-bagian mangrove jenis ini juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pada daun mangrove juga menghasilkan jamur endofit (Kasi dkk. , 2. Jamur endofit adalah jamur yang hidup dalam jaringan tumbuhan seperti pada daun dan mampu membentuk koloni dalam jaringan tersebut tanpa membawa dampak negatif bagi inangnya (Kasi dkk. , 2. Jamur mampu mengahasilkan motoksin, antibiotik, serta enzim (Sinaga, 2. Enzim merupakan suatu kelompok protein, sehingga kemungkinan besar bahan organic sekunder . etabolit sekunde. dihasilkan oleh bahan organik primer seperti protein (Nuryanti dan Pursitasari, 2. Enzim merupakan molekul protein kompleks yang dihasilkan oleh sel hidup dan bekerja sebagai katalisator dalam berbagai proses kimia di dalam tubuh. Berdasarkan letak dan fungsinya, enzim dibagi menjadi dua yaitu enzim intraseluler dan ekstraseluler. Salah satu enzim ekstraseluler yang sering digunakan adalah enzim protease (Fatimah dan Wardani, 2. Enzim Protease adalah enzim yang memutuskan ikatan peptida pada protein (Murray dkk. , 2. Enzim Protease memiliki manfaat dan berpotensi untuk diaplikasikan dalam dunia industri antara lain industri detergen, industri makanan, industri farmasi, susu, kulit dan pengempukan daging (Ramadhani dkk. , 2. MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2020. Pengambilan sampel dilakukan di area Pantai Noelbaki. Kabupaten Kupang. Nusa Tenggara Timur (NTT). Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Tahap sterilisasi, pembuatan media, isolasi, purifikasi dan seleksi jamur selanjutnya dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Pendidikan Biologi. Universitas Kristen Artha Wacana Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Kupang. Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu gunting, plastik ziplock, coolbox, kamera dan alat tulis, oven, autoclave, jarum ose, bunsen, timbangan alanitik, erlenmeyer, hot plate, magnetic stirrer , petridish, beker gelas, scalpel atau pisau steril, inkubator, penggaris, blue tip dan alat pelindung diri berupa jas, masker dan gloves. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun mangrove A. marina sebagai sampel penelitian. PDA (Potato Dextrose Aga. , skim milk . %), chloramphenicol, air laut steril, aquades, alkohol 70%. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan yaitu daun muda dan daun tua A. marina dan tiga ulangan. Isolasi dan identifikasi dilakukan dengan melihat morfologi jamur baik secara makroskopis dan mikroskopis. Prosedur Penelitian Pengambilan Sampel Pengambilan sampel daun mangrove Avicennia marina dilakukan di Pantai Noelbaki. Sampel daun A. marina diambil dengan cara dipetik langsung dari pohonnya menggunakan gunting. Sampel daun yang digunakan adalah daun muda serta daun tua. Penentuan daun muda dan daun tua dilihat dari letak duduk daun. Daun muda terletak pada daun ke tiga dari ujung cabang batang sedangkan daun tua terletak pada pangkal cabang batang (Fadilah dkk. , 2. Masing-masing sampel daun mangrove dimasukan secara terpisah ke dalam kantong sampel . lastik ziploc. , disimpan di dalam cool box dan dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Pendidikan Biologi. UKAW untuk dianalisis. Sterilisasi dan Pembuatan Media Semua peralatan yang akan digunakan akan disterilkan terlebih dahulu. Peralatan yang terbuat dari gelas, disterilkan dalam oven pada suhu 160oC - 170oC selama 1 jam. Sedangkan alat Ae alat yang tidak tahan pada pemanasan dengan suhu tinggi, disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Jarum ose disterilkan dengan cara pemanasan langsung menggunakan bunsen hingga memijar. Media PDA dan air laut steril digunakan sebagai media isolasi jamur. Pembuatan media diawali dengan menimbang media PDA sebanyak 39 gram dan dilarutkan dalam 1000 mL air laut steril di dalam labu Erlenmeyer kemudian dipanaskan dan diaduk menggunakan Hot plate dan stirrer sampai Media yang sudah homogen disterilisasi menggunakan autoclave selama 15 menit pada suhu 121oC. Selanjutnya pada media ditambahkan Chloramphenicol sebagai antibakteri, kemudian larutan PDA dituangkan ke dalam cawan petri dengan ketebalan A 5 ml dengan kondisi tertutup, dan diamkan sampai membeku. Antibakteri digunakan 1 kapsul untuk 1L media. Sebelum digunakan, media disimpan selama 24 jam dalam suhu kamar. Isolasi Jamur Endofit Sampel daun A. marina dicuci terlebih dahulu menggunakan air bersih yang mengalir. Sampel daun selanjutnya dikeringkan dengan tisu steril kemudian daun dibilas lagi dengan aquades steril selama A 1 menit. Setelah kering, daun dipotong berbentuk persegi dengan ukuran A1x1 menggunakan pisau steril kemudian ditanam pada media PDA (Potato Dextrose Aga. dengan proses pertumbuhan jamur selama A 24 - 48 jam. Setelah potongan daun ditanam, maka dilakukan pengamatan setiap hari sampai jamur sudah tumbuh. Purifikasi (Pemurnian Jamu. Setelah jamur tumbuh dilakukan purifikasi . emurnian jamu. Pemurnian jamur bertujuan untuk memisahkan koloni dengan mengamati perbedaan morfologi koloni. Pemurnian jamur dilakukan dengan cara miselium jamur yang sudah tumbuh diambil dengan menggunakan jarum ose yang steril kemudian bagian dari jamur tersebut dipindahkan kembali ke media PDA steril. Hal yang sama juga dilakukan pada miselium jamur yang memiliki morfologi makroskopis koloni yang berbeda sampai dihasilkan biakan murni (Nuramalia, 2. Seleksi Jamur Proteolitik Uji aktivitas protease menggunakan metode Plug Agar. Uji ini menggunakan media PDA yang diperkaya dengan skim milk . %). Setiap isolat murni jamur dipotong menggunakan pangkal Blue Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 tip dan ditotolkan pada media PDA yang diperkaya dengan skim milk, kemudian diinkubasi selama 24 - 48 jam pada suhu 37AC. Adanya aktivitas enzim protease ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar koloni jamur setelah diinkubasi (Queendy dan Roza, 2. Besarnya kemampuan jamur dalam menghasilkan protease dapat ditandai dengan indeks proteolitik. Indeks proteolitik yaitu perbandingan antara diameter zona bening dengan diameter koloni untuk memperoleh isolat potensial (Kabense, 2. Indeks Proteolitik dirumuskan sebagai berikut. IP = Diameter Zona bening Diameter koloni IP adalah Indeks proteolitik, dimana hasil pengukuran Indeks proteolitik yang tergolong dalam kategori rendah adalah kurang dari 2,1 mm, kategori sedang berkisar antara 2,1 Ae 3,1 mm sedangkan yang termasuk dalam kategori tinggi adalah lebih dari 3,1 mm (Hastuti, 2. Analisis Data Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif meliputi karakteristik makroskopis berupa bentuk serta warna koloni jamur. Deskriptif kuantitatif meliputi uji aktifitas protease dari masing-masing jamur yang berhasil diisolasi dari daun Avicennia marina. HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Purifikasi Jamur Dari Daun Mangrove Avicennia marina di Pantai Noelbaki. Sampel daun Avicennia marina yang digunakan berasal dari mangrove di Pantai Noelbaki. Kecamatan Kupang Tengah. Kabupaten Kupang tahun 2020. Sampel daun mangrove A. marina di ambil dengan menggunakan gunting pada 1 tangkai. Gambar 2. Foto duduk daun mangrove A. marina pada tangkai. Letak daun tua. Letak daun Daun mangrove A. marina yang diperoleh dicuci menggunakan air mengalir dengan tujuan untuk membersihkan permukaan daun dari kotoran. Daun dipotong per segi dengan ukuran 1 x 1 cm kemudian diletakkan di permukaan media PDA yang diperkaya dengan Chloramphenicol sebagai antibakteri. Penggunaan Chloramphenicol pada media PDA bertujuan untuk mencegah kontaminasi media oleh bakteri. Daun dibiarkan selama 3 hari sehingga terdapat pertumbuhan jamur pada media tersebut. Setelah 3 hari, jamur tumbuh dengan ciri-ciri terlihat seperti benang . di atas daun. Purifikasi dilakukan dengan dikarakterisasi berdasarkan ciri morfologi yaitu warna, permukaan koloni, tepi dan karakteristik mikroskopik seperti hifa dan spora yang dibentuk sesuai dengan buku petunjuk Illustrated Genera of Imperfect Fungi (Barnett dan Hunter, 2. Kemudian diambil potongan koloni jamur sebesar 1 x 1 cm untuk dimurnikan sampai dengan mendapatkan isolat tunggal yaitu 1 koloni jamur dalam 1 media pertumbuhan. Purifikasi dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan koloni jamur endofit berdasarkan karakter morfologinya agar didapatkan isolat tunggal jamur. Data isolat jamur endofit dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Karakteristik morfologi isolat jamur endofit Karakeristik Morfologi Secara Makroskopis Kode Isolat Warna Permukaan Koloni DT-Am-01-OLL Hitam Halus dan rata Tepi Rata Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 DT-Am-02-OLL DT-Am-03-OLL DT-Am-04-OLL DT-Am-05-OLL DT-Am-06-OLL DM-Am-01-OLL DM-Am-02-OLL DM-Am-03-OLL DM-Am-04-OLL DM-Am-05-OLL DM-Am-06-OLL Putih keabuan Putih Kehijauan Putih Hijau Tua Hijau tua pada bagian tengah dan hijau muda pada bagian tepi Putih dengan warna hijau pada bagian tengah Putih kehijauan Hijau Tua Coklat Muda Hitam pada bagian tengah dengan warna putih pada bagian tepi Putih kecoklatan Halus dan rata Kasar dan tidak rata Halus dan tidak rata Kasar dan tidak rata Kasar dan tidak rata Rata Tidak rata Rata Tidak rata Tidak rata Halus dan rata Rata Kasar dan tidak rata Kasar dan tidak rata Kasar dan tidak rata Halus dan rata Rata Rata Tidak rata Rata Kasar dan tidak rata Tidak rata Data tabel menunjukkan karakterisasi isolat jamur endofit secara makroskopis pada daun tua dan daun muda mangrove A. Berdasarkan warna, permukaan koloni, dan tepi diperoleh total 12 isolat murni jamur endofit. Pada daun tua A. marina (DT-A. diperoleh 6 isolat jamur dengan kode isolat DT-Am-01-OLL. DT-Am-02-OLL. DT-Am-03-OLL. DT-Am-04-OLL. DT-Am-05-OLL dan DT-Am-06-OLL. Sedangkan pada daun muda A. marina (DM-A. diperoleh 6 isolat jamur endofit dengan kode isolat DM-Am-01-OLL. DM-Am-02-OLL. DM-Am-03-OLL. DM-Am-04-OLL. DM-Am-05OLL dan DM-Am-06-OLL. Sedangkan untuk karakteristik secara mikroskopis dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2. Karakteristik jamur endofit dari daun mangrove Avicennia marina secara makroskopis dan mikroskopis. Kode Isolat DT-Am-01-OLL DT-Am-02-OLL DT-Am-03-OLL DT-Am-04-OLL DT-Am-05-OLL DT-Am-06-OLL Gambar Isolat Secara makroskopis dan Karakeristik Morfologi Secara Mikroskopis Ada rhizoid, sporangiophor tidak bercabang, memperlihatkan konidiofordan sporangium serta spora kecil dan bulat. memiliki sporangium, hifa halus bercabang dan stolon yang halus dan bercabang konidia panjang, adanya kolumella, sporangium dan spora bulat, sporangiophor tidak bercabang, serta hifa berseptat kecil dan memiliki hifa halus dan bercabang, memiliki stolon lebih besar hifa bersepta, sporangiophor tidak bercabang, sporangium bulat, konidia bulat serta adanya bagian sporangiophor pendek dengan memperlihatkan bagian konidiofor, konidia bulat memanjang, hifa bersepta dan halus, serta terlihat adanya stolon Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 DM-Am-01-OLL hifa tidak bersekat, sporangium kuning, konidia bulat, terdapat DM-Am-02-OLL memiliki rhizoid, sporangiophor tidak bercabang, konidiofor, sporangium berbentuk bulat, kionidia berbentuk bulat kuning dan tersusun memanjang memiliki stolon, sporangiophor tidak bercabang, sporangium bulat, konidia kuning dan bulat DM-Am-03-OLL DM-Am-04-OLL konidia bulat kuning, konidiofor bercabang, dengan memperlihatkan fialid DM-Am-05-OLL ada rhizoid, sporangiophor tidak bercabang, serta sporangium dan konidia bulat kecil DM-Am-06-OLL hifa halus berwarna sporangiophor tidak bercabang dan sporangium Isolat DT-Am-01-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna hitam, permukaan koloni halus dan rata serta tepi koloni rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp karena memperlihatkan ciri-ciri memiliki rhizoid, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, serta sporangium dan spora yang berbentuk bulat dengan ukuran yang kecil (Wahyuni, 2. Isolat DT-Am-02-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih keabuan, permukaan koloni halus dan rata serta tepi koloni yang rata dan membentuk cincin. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk kedalam genus Fusarium sp, karena ciri-cirinya memiliki sporangium, hifa halus yang bercabang, serta bagian stolon yang halus dan bercabang (Sholihah dkk. , 2. Isolat DT-Am-03-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih kehijauan, permukaan koloni kasar dan tidak rata, serta tepi koloni yang tidak rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp, karena ciri-ciri yang diperlihatkan memiliki konidia yang panjang dengan adanya kolumella, sporangium dan spora yang berbentuk bulat, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, walaupun spesies ini termasuk genus Aspergillus namn berbeda dengan DT-Am01-OLL karena adanya hifa bersepta kecil dan bercabang (Wahyuni, 2. Isolat DT-Am-04-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih, permukaan halus dan bergelombang membentuk zonasi serta tepi koloni rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Fusarium sp, dengan ciri-ciri memiliki hifa yang halus dan bercabang serta memiliki stolon dengan ukuran yang lebih besar (Sholihah dkk. , 2. Isolat DT-Am-05-OLL mempunyai ciriciri miselium berwarna hijau tua, permukaan koloni yang kasar dan tidak rata, serta tepi koloni yang tidak rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp, ciri-ciri yang dipunyai yaitu memiliki hifa bersepta, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, sporangium berbentuk bulat, konidia berbentuk bulat serta bagian stolon yang menghubungkan satu sporangiophor dengan sporangiophor yang lain. Ciri stolon yang membedakan isolat ini dengan isolat DT-Am-01-OLL dan DT-Am-03-OLL (Wahyuni. Isolat DT-Am-06-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna hijau tua pada bagian tengah dan hijau muda pada bagian tepinya, permukaan koloni kasar dan tidak rata, serta tepi koloni tidak Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga merupakan genus Penicillium sp, adapun ciri-cirinya memiliki sporangiophor yang pendek dengan memperlihatkan bagian konidiofor, konidia berbentuk bulat yang tersusun memanjang, hifa yang bersepta dan halus, serta terlihat adanya stolon (Ristiari dkk. , 2. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Isolat DM-Am-01-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih dengan bagian tengah berwarna hijau, permukaan koloni halus dan rata, serta tepi koloni yang rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Mucor sp, karena ciri-ciri yang diperlihatkan memiliki hifa yang tidak bersekat dengan sporangium berwarna kuning, konidia berbentuk bulat, terdapat stolon serta menunjukan adanya vesikel (Sanjaya dkk. , 2. Isolat DMAm-02-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih kehijauan, permukaan koloni kasar dan tidak rata serta tepi koloni yang rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga merupakan genus Aspergillus sp, karena ciri-cirinya yaitu memiliki rhizoid, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, serta sporangium berbentuk bulat, kionidia berbentuk bulat dan berwarna kuning dan tersusun memanjang. Spesies ini mirip dengan DT-Am-03-OLL namun berbeda pada konidia yang berwarna kuning dan tersusun memanjang (Wahyuni, 2. Isolat DM-Am-03-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna hijau tua, permukaan koloni kasar dan tidak rata, tepi koloni rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp, yang memperlihatkan ciri-ciri memiliki stolon, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, sporangium berbentuk bulat, konidia berwarna kuning dan berbentuk bulat, perbedaan utama dengan genus Aspergillus lainnya adalah konidianya berwarna kuning dan berbentuk bulat (Wahyuni, 2. Isolat DM-Am-04-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna cokelat muda, permukaan koloni kasar dan tidak rata, serta tepi yang rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga merupakan genus Trichoderma sp, karena memperlihatkan ciri-ciri memiliki konidia bulat dan berwara kuning, konidiofor bercabang, dengan memperlihatkan fialid pada bagian percabangannya (Purwantisari dan Hastuti, 2. Isolat DMAm-05-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna hitam dan putih, permukaan koloni yang halus dan rata, serta tepi koloni rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp, ciri-ciri yang dimiliki yaitu adanya rhizoid, sporangiophor yang tidak bercabang, memperlihatkan bagian konidiofor, sporangium serta bentuk konidia yang bulat dengan ukuran kecil yang mencirikan perbedaan dengan genus serupa pada isolat daun A. marina muda lainnya (Wahyuni, 2. Isolat DM-Am-06-OLL mempunyai ciri-ciri miselium berwarna putih dengan bagian tengah berwarna coklat, permukaan koloni yang kasar dan tidak rata, serta tepi koloni yang tidak rata. Pada pengamatan secara mikroskopis, isolat ini diduga termasuk ke dalam genus Aspergillus sp, yang memperlihatkan ciri-ciri memiliki sporangiophor yang tidak bercabang dengan memperlihatkan bagian konidiofor. Memiliki Sporangium berbentuk bulat. Perbedaan spesifik isolat ini adalah hifanya yang halus berwarna putih dan stolon sebagai penghubung bagi setiap sporangiophor (Wahyuni, 2. Uji Aktifitas Protease Dari 12 isolat jamur endofit yang telah diperoleh dan di identifikasi dari daun mangrove A. marina, kemudian dilakukan pengujian lanjut terhadap kemampuannya menghasilkan enzim protease ekstraseluler menggunakan media PDA yang diperkaya dengan Skim milk 1%. Jamur endofit yang menghasilkan enzim protease ekstraseluler ditandai dengan pembentukan zona bening pada sekitar koloni jamur endofit. Semakin besar zona bening yang dihasilkan maka semakin tinggi enzim protease yang dihasilkan (Hastuti, 2. Berikut data isolat jamur endofit yang menghasilkan enzim protease ekstraseluler yang disajikan pada tabel 3. Tabel 4. 2 Pengujian Jamur endofit penghasil enzim protease ekstraseluler Reaksi Diameter zona bening Nomor Kode Sampling . DT Am 01 OLL DT Am 02 OLL DT Am 03 OLL DT Am 04 OLL DT Am 05 OLL DT Am 06 OLL DM Am 01 OLL DM Am 02 OLL DM Am 03 OLL DM Am 04 OLL Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 DM Am 05 OLL DM Am 06 OLL Keterangan : = Positif tinggi . ,1 m. = Positifsedang . ,1 Ae 3,1 m. = Positif rendah . ,1 m. - = Negatif Berdasarkan tabel 4. 2 seleksi jamur endofit yang diperoleh dari daun tua (DT) A. terdapat 3 isolat yang menghasilkan enzim protease ekstraseluler yaitu isolat DT-Am-02-OLL. DTAm-04-OLL dan DT-Am-05-OLL dengan masing-masing diameter zona bening adalah 1,6 mm . ositif renda. , 2 mm . ositif sedan. , dan 2,1 mm . ositif sedan. Sedangkan untuk daun muda (DM) terdapat 2 isolat dengan kode DM-AM-02-OLL dan DM-Am-03-OLL dengan masing-masing diameter zona bening adalah 1,9 mm dan 1,6 mm yang memiliki reaksi protease positif rendah. sehingga total isolat yang menghasilkan enzim protease ekstraseluler sebanyak 5 isolat. Gambar 3. Hasil uji enzim protease ekstraseluler. Pada daun tua (DT), . Pada daun muda (DM). Pembentukan zona aktivitas proteolitik tertinggi pada daun tua A. marina dalam pengujian enzim protease ekstraseluler terdapat pada kode isolat DT Am 05 OLL dengan diameter zona proteolitik sebesar 2,1 mm. sedangkan untuk daun muda A. marina aktivitas tertinggi terdapat pada kode isolat DM Am 02 OLL dengan diameter zona bening sebesar 1,9 mm sesuai dengan pengukuran Indeks proteolitik yang tergolong dalam kategori rendah adalah kurang dari 2,1 mm, kategori sedang berkisar antara 2,1 Ae 3,1 mm sedangkan yang termasuk dalam kategori tinggi adalah lebih dari 3,1 mm (Hastuti, 2. Isolat jamur endofit yang positif ditandai dengan adanya zona bening disekitar isolat pada media skim milk. Media skim milk memiliki kandungan protein yang akan dipecah oleh mikroorganisme proteolitik menjadi senyawa nitrogen terlarut sehingga pada koloni dikelilingi area bening (Harun dkk. , 2. Hasil perombakan polimer protein ditunjukkan dengan adanya zona bening yang menandakan adanya aktifitas enzim protease yang mengkatalis pemecahan ikatan peptida dalam peptida, polipeptida dan protein dalam media melalui reaksi hidrolisis menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana seperti peptide rantai pendek dan asam amino (Naiola dan Widhyastuti, 2. Protein yang terdapat pada media skim milk bertindak sebagai induser bagi enzim protease. Zona bening yang dihasilkan merupakan hasil hidrolosis substrat protein yang terkandung dalam media skim milk oleh enzim protease yang dihasilkan oleh isolat jamur (Yuniati , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa hasil isolasi jamur endofit pada daun mangrove Avicennia marina, diperoleh total isolat jamur endofit sebanyak 12 isolat yang terbagi atas 6 isolat pada daun tua dan 6 isolat lagi pada daun muda. Setelah dilakukan pengujian aktivitas protease pada media skim milk diperoleh total 5 isolat jamur endofit yang memiliki kemampuan menghasilkan enzim protease ekstraseluler yaitu isolat dengan kode DT-Am-02-OLL. DT-Am-04-OLL. DT-Am-05-OLL. DM-Am-02-OLL dan DM-Am-03-OLL. Tiga isolat jamur endofit dari daun tua A. marina memiliki aktifitas protease dengan diameter zona bening tertinggi terdapat pada kode isolat DT-Am-05-OLL sebesar 2,1 mm. 2 isolat jamur endofit pada daun muda A. memiliki aktifitas protease dengan diameter zona bening tertinggi terdapat pada kode isolat DT-Am02-OLL sebesar 1,9 mm. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. DAFTAR PUSTAKA