JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 08 NOMOR 02 DESEMBER 2025 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN Pengalaman perawat dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik: studi fenomenologi NursesAo experiences in providing self care management education to patients with chronic kidney disease: a phenomenological study Ferlan Ansye Pondaag . Gresty Natalia Maria Masi . Imelda Sirait Prodi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi. Manado. Indonesia Abstrak Article history Received date: 20 Agustus 2025 Revised date: 9 Oktober 2025 Accepted date: 25 November 2025 *Corresponding author: Ferlan Ansye Pondaag. Universitas Sam Ratulangi. Manado. Indonesia, ferlanpondaag@unsrat. Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis dituntut untuk mampu melakukan manajemen perawatan diri, meliputi pengaturan diet, pembatasan cairan, kepatuhan pengobatan, perawatan akses vaskular, serta kepatuhan menjalani Edukasi merupakan komponen penting yang menentukan keberhasilan manajemen perawatan diri pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan edukasi mengenai manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan terdiri atas sembilan perawat bersertifikat pelatihan perawat dialisis yang bertugas di ruang hemodialisis RSUP Prof. Dr. Kandou. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik melalui proses pengodean, kategorisasi, serta pengembangan tema secara induktif. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, member checking, dan refleksivitas peneliti. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu: . strategi pendidikan kesehatan yang efektif, meliputi penyesuaian bahasa dan tingkat pendidikan pasien, penggunaan media edukasi, serta pendekatan interpersonal yang suportif. hambatan dalam memberikan pendidikan kesehatan, meliputi resistensi pasien akibat informasi yang bertentangan, keterbatasan fisik seperti gangguan pendengaran, serta dukungan keluarga yang tidak konsisten. upaya mengatasi hambatan melalui pemberian motivasi berkelanjutan, penguatan keyakinan diri pasien, serta kolaborasi aktif dengan anggota keluarga dalam perencanaan perawatan. Pendidikan kesehatan pada pasien hemodialisis memerlukan pendekatan yang adaptif dan peka terhadap konteks sosial Keberhasilan manajemen perawatan diri sangat dipengaruhi oleh literasi kesehatan pasien, dukungan keluarga, dan hubungan terapeutik antara perawat dan Kata Kunci: Fenomenologi, manajemen perawatan diri, penyakit ginjal kronik Abstract Copyright: A 2025 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis are required to perform effective self-care management, including dietary regulation, fluid restriction, medication adherence, vascular access care, and compliance with hemodialysis Education is a key component in determining the success of self-care management among hemodialysis patients. This study aimed to explore nursesAo experiences in providing self-care education to patients with chronic kidney disease. This study employed a qualitative design with a phenomenological approach. Participants consisted of nine dialysis-trained nurses working in the hemodialysis unit of Prof. Dr. Kandou General Hospital. Data were collected through semistructured, in-depth interviews and were analyzed thematically through coding, categorization, and inductive theme development. Data trustworthiness was ensured through source triangulation, member checking, and researcher reflexivity. The findings identified three main themes: . effective health education strategies, including adjustment of language and educational level to patient needs, use of educational media, and supportive interpersonal approaches. barriers to health education, including patient resistance due to conflicting information, physical limitations such as hearing impairment, and inconsistent family support. strategies to overcome barriers through continuous motivation, strengthening patientsAo self-efficacy, and active collaboration with family members in care planning. Health education for hemodialysis patients requires an adaptive approach that is sensitive to socio-cultural contexts. The success of self-care management is strongly influenced by patient health literacy, family support, and the therapeutic relationship between nurses and patients. Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Keywords: Phenomenology. self-care management. chronic kidney PENDAHULUAN Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 10% populasi dunia menderita PGK, dengan lebih dari 850 juta orang terdampak. Di Indonesia, prevalensi PGK mencapai 3,8%, dan jumlah pasien yang menjalani hemodialisis meningkat hingga lebih dari 100. 000 kasus pada tahun 2021 (WHO. PGK ditandai oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversibel, sehingga pada stadium lanjut memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis (National Kidney Foundation, 2. Tingginya prevalensi serta risiko progresi PGK menjadi penyakit ginjal stadium akhir atau end-stage renal disease (ESRD) berdampak pada peningkatan beban biaya yang signifikan bagi sistem kesehatan global. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien memerlukan pemahaman terhadap faktor-faktor klinis yang memengaruhi partisipasi pasien dalam perawatan PGK, khususnya manajemen perawatan diri yang optimal (Yu et al. , 2. Pasien PGK dituntut untuk secara konsisten melakukan manajemen perawatan diri, meliputi pengaturan pola makan dan cairan, kepatuhan terhadap pengobatan, aktivitas fisik, serta kemampuan mengenali tanda dan gejala komplikasi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa banyak pasien belum mampu menjalankan manajemen perawatan diri secara efektif, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keterbatasan pengetahuan, rendahnya efikasi diri, serta kurangnya dukungan keluarga dan tenaga kesehatan (Astuti et al. , 2. Pengetahuan pasien merupakan faktor kunci yang memengaruhi keberhasilan manajemen perawatan diri pada pasien hemodialisis. Pasien dengan pengetahuan yang baik mengenai hemodialisis cenderung menunjukkan kemampuan manajemen perawatan diri yang lebih optimal. Pemberian informasi yang akurat sejak diagnosis penyakit ginjal stadium akhir menjadi penting karena informasi awal tersebut akan memengaruhi perilaku perawatan diri pasien sepanjang perjalanan penyakitnya (Santana et al. , 2. Oleh karena itu, edukasi yang tepat dan berkesinambungan dari perawat berperan penting dalam membantu pasien mengelola penyakit secara mandiri. Perawat memiliki peran strategis sebagai edukator dalam memberikan pendidikan kesehatan terkait manajemen perawatan diri pada pasien PGK. Untuk mengoptimalkan manajemen diri, pasien perlu memiliki tingkat literasi kesehatan yang memadai, yaitu kemampuan untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi serta layanan kesehatan dasar guna membuat keputusan kesehatan yang tepat (Nutbeam, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pasien dengan literasi kesehatan yang baik memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang penyakit dan manajemen perawatan diri (Pondaag. Mariana, & Ahmad, 2. Sebaliknya, literasi kesehatan yang rendah berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat, rawat inap, serta mortalitas pasien (Taylor et al. , 2. Manajemen perawatan diri yang efektif juga berkontribusi pada penurunan beban biaya perawatan, penurunan angka rawat inap, dan peningkatan kualitas hidup pasien (Schrauben et al. Kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis perlu mendapat perhatian khusus karena dampak penyakit kronik dan ketergantungan pada terapi dialisis dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien, termasuk aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, keberhasilan terapi hemodialisis tidak dapat dinilai hanya berdasarkan parameter klinis seperti hasil pemeriksaan laboratorium atau peningkatan berat badan interdialitik, tetapi juga harus mempertimbangkan kualitas hidup pasien (Mailani, 2. Edukasi manajemen perawatan diri terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PGK (Prastiwi et al. , 2. Namun, perbedaan tingkat literasi kesehatan antar pasien menjadi tantangan bagi perawat dalam memastikan edukasi yang diberikan mampu mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, perawat tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi, tetapi juga membangun sikap dan keterampilan pasien dalam melakukan perawatan sehari-hari. Meski demikian, perawat sering menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan edukasi, seperti beban kerja yang tinggi, karakteristik pasien yang beragam, keterbatasan waktu, serta kurangnya fasilitas pendukung. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas edukasi yang diberikan dan berdampak pada hasil perawatan pasien. Dengan kompleksitas tersebut, pemahaman terhadap pengalaman perawat dalam memberikan edukasi menjadi penting. Fenomena di rumah sakit menunjukkan bahwa pelaksanaan edukasi oleh perawat sering kali belum optimal. Hasil observasi awal di ruang hemodialisis RSUP Prof. Dr. Kandou menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan masih berfokus pada penjelasan teknis sebelum dan sesudah prosedur dialisis, serta belum secara komprehensif menekankan aspek manajemen perawatan diri jangka panjang. Beberapa pasien melaporkan hanya menerima informasi secara singkat tanpa penjelasan mendalam mengenai diet, pengaturan cairan, dan pentingnya kepatuhan terhadap terapi. Pengalaman perawat dalam memberikan pendidikan tentang manajemen perawatan diri pada pasien PGK belum banyak dieksplorasi. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman perawat dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai faktor Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. pendukung dan penghambat pelaksanaan edukasi, serta menjadi dasar dalam pengembangan strategi edukasi yang lebih efektif bagi pasien PGK. METODE Desain dan pendekatan penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali secara mendalam pengalaman perawat dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. Pendekatan fenomenologi dipilih karena memungkinkan eksplorasi makna subjektif dari pengalaman profesional perawat dalam konteks praktik klinis. Setting dan partisipan Penelitian ini dilaksanakan di ruang hemodialisis RSUP Prof. Dr. Kandou Manado, yang merupakan rumah sakit pusat rujukan di wilayah Sulawesi Utara. Unit hemodialisis ini memiliki beban kerja yang tinggi, dengan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis dua hingga tiga kali per minggu, serta melibatkan perawat dialisis tersertifikasi dengan pengalaman kerja minimal satu tahun. Teknik sampling Partisipan dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang hemodialisis dengan pengalaman kerja minimal satu tahun. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi perawat yang bertugas di ruang hemodialisis RSUP Prof. Dr. Kandou, memiliki sertifikat pelatihan perawat dialisis, serta mampu mengomunikasikan pengalaman secara terbuka. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak sembilan orang. Pengumpulan data dihentikan ketika data telah mencapai kejenuhan, yaitu tidak ditemukannya tema baru pada wawancara terakhir. Pengumpulan data Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Wawancara dilakukan secara tatap muka di ruang yang tenang untuk menjaga privasi partisipan. Setiap wawancara berlangsung selama 30Ae45 menit dan direkam dengan persetujuan partisipan. Panduan wawancara mencakup pertanyaan mengenai: . cara perawat memberikan pendidikan kesehatan tentang manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. strategi yang digunakan dalam proses edukasi. tantangan yang dihadapi perawat dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri. kebutuhan perawat untuk meningkatkan kemampuan dalam memberikan edukasi manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik. Analisis data Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: . membaca dan memahami transkrip wawancara secara berulang. mengidentifikasi pernyataan bermakna. menyusun kode awal. mengelompokkan kode ke dalam subtema. menyusun narasi tematik yang menggambarkan hubungan antar tema. Proses analisis data dibantu dengan perangkat lunak NVivo versi 15 untuk mengorganisasi dan mengelola data secara sistematis. Keabsahan data Keabsahan data dijaga melalui beberapa strategi, yaitu member checking dan triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari sembilan perawat dialisis yang memiliki variasi usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman kerja. Member checking dilakukan dengan memberikan ringkasan hasil wawancara kepada partisipan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan makna yang dimaksudkan oleh perawat. Pertimbangan etik Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUP Prof. Dr. Kandou Manado dengan nomor 111/EC/KEPK-KANDOU/VI/2024. Setiap partisipan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur penelitian serta menandatangani lembar persetujuan tertulis. Kerahasiaan identitas partisipan dijaga dengan penggunaan kode, dan partisipan memiliki hak untuk mengundurkan diri dari penelitian kapan pun tanpa konsekuensi. HASIL No. Kode Responden Tabel 1. Karakteristik partisipan Umur Pendidikan Lama menjadi perawat dialisis Magister 12 tahun Ners 12 tahun Ners 12 tahun Ners 9 tahun Ners 14 tahun Ners 12 tahun Ners 8 tahun Ners 9 tahun Ners 10 tahun Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Sebanyak sembilan perawat berpartisipasi dalam penelitian ini. Karakteristik demografi partisipan disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan partisipan, teridentifikasi tiga tema utama, yaitu: . strategi pendidikan kesehatan yang efektif, . hambatan dalam memberikan pendidikan kesehatan yang efektif dan . cara mengatasi hambatan. Tema 1. Strategi pendidikan kesehatan yang efektif Temuan menunjukkan bahwa strategi pendidikan kesehatan yang efektif menurut perawat di unit hemodialisis didasarkan pada kemampuan menyesuaikan metode edukasi dengan karakteristik pasien. Perawat menilai pentingnya mengenali karakteristik pasien sebelum memberikan edukasi, termasuk tingkat pendidikan, kemampuan memahami informasi, serta kebutuhan edukasi yang spesifik. Penyesuaian tersebut dipandang perlu agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam praktik manajemen perawatan diri. Perawat dengan pengalaman kerja yang lebih panjang di unit hemodialisis menjelaskan bahwa penilaian tingkat pendidikan pasien menjadi langkah awal dalam menentukan cara penyampaian edukasi. Hal ini berkaitan dengan pengalaman perawat dalam menghadapi pasien dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Salah satu responden menyampaikan: Au. sebelum memberikan edukasi, biasanya kita melihat tingkat pendidikan pasien, jadi kita punya gambaran bagaimana cara kita memberikan informasi. Biasanya pasien yang punya pendidikan tinggi punya pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan dibandingkan pasien yang berpendidikan rendah . (P. Ay Selain tingkat pendidikan, perawat juga menyesuaikan bahasa yang digunakan dengan kemampuan pasien dalam memahami informasi. Penggunaan bahasa daerah dipandang membantu pasien dengan latar belakang pendidikan rendah agar lebih mudah memahami edukasi yang diberikan. Responden P7 menyatakan: Au. saya menyesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien ketika memberikan edukasi. Pasien disini bervariasi tingkat pendidikannya. Ada yang memang tingkat pendidikan dibawah, ya memang sulit mengerti pakai Bahasa Indonesia, harus pakai Bahasa Manado. (P. Ay Pendekatan interpersonal dan emosional juga digunakan untuk menciptakan suasana edukasi yang Perawat berupaya membangun kedekatan dengan pasien melalui percakapan ringan sebelum menyampaikan informasi utama. Pendekatan ini dinilai membantu mengurangi ketegangan dan meningkatkan kesiapan pasien dalam menerima edukasi. Responden P2 menjelaskan: AuA pada dasarnya kita pendekatan dulu ke pasien, seperti bersenda gurau supaya pasien tidak stres. Setelah itu baru masuk ke edukasi tentang apa yang harus dilakukan. Kalau sambil bersenda gurau, pasien tidak merasa terbebani dan tidak berpikir bahwa hemodialisis itu menakutkan AAy (P. Selain itu, perawat menggunakan strategi motivasional dengan menekankan manfaat dari informasi yang Pendekatan ini digunakan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan pasien dalam proses edukasi. Responden P1 menyampaikan: Au. pasti saya kasih tahu dulu manfaat supaya mereka lebih tertarik, mereka akan berpikir kalau manfaatny baik mereka pasti dengar dan melakukan. Karena kalau tidak dari manfaatnya, kayaknya mereka kurang Jadi ada cara-cara yang memang jangan dulu langsung pada teorinya, tetapi manfaatnya dulu supaya mereka lebih tertarik dulu, seperti itu. (P. Ay Pemanfaatan media edukasi visual seperti leaflet, banner, dan video juga menjadi bagian dari strategi Media tersebut dianggap membantu meningkatkan daya tarik dan pemahaman pasien. Responden P9 Au. saya pakai leaflet dan banner. Disitu ada gambar-gambarnya supaya lebih menarik. (P. Ay Responden lain mengembangkan media video edukasi untuk memperkuat pemahaman pasien, khususnya terkait manajemen cairan: Au. selain ceramah, ada pula lewat video edukasi. Kalau ceramah dan tanya jawab biasanya saya bertanya ke pasien juga, pasien menjelaskan apa yang dia lakukan kemudian disitu saya tambahkan edukasi sesuai dengan kebutuhan yang dia jawab. Kebetulan saya membuat video mengenai batasan cairan, jada saya mengarahkan pasien untuk bisa menonton video yang berhubungan dengan penyakit yang dia derita. (P. Ay Temuan pada tema ini menunjukkan bahwa efektivitas pendidikan kesehatan dipengaruhi oleh kemampuan perawat dalam menyesuaikan pendekatan edukasi dengan karakteristik pasien, didukung oleh pengalaman klinis, keterampilan komunikasi interpersonal, serta pemanfaatan media edukatif. Tema 2: Hambatan dalam memberikan pendidikan kesehatan yang efektif Perawat mengidentifikasi berbagai hambatan dalam pelaksanaan pendidikan kesehatan yang memengaruhi efektivitas penyampaian dan penerimaan informasi oleh pasien. Hambatan tersebut meliputi resistensi pasien terhadap edukasi, keterbatasan fisik pasien, serta dukungan keluarga yang kurang optimal. Subtema 2. resistensi pasien terhadap edukasi akibat pengetahuan dari sumber lain Resistensi pasien terhadap edukasi merupakan hambatan yang paling sering dilaporkan. Beberapa pasien cenderung lebih mempercayai informasi dari internet, pengalaman orang lain, atau sesama pasien hemodialisis dibandingkan informasi yang disampaikan oleh perawat. Responden P2 menyampaikan: Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Au. ada sesekali pasien yang sok tahu. Biasanya dia berbicara seakan lebih tau dari petugas. Ada pasien yang demikian, sehingga ketika melaksanakan edukasi dia yang lebih banyak bicara. (P. Ay Responden P9 menjelaskan bahwa pasien dengan tingkat pendidikan lebih tinggi sering membandingkan informasi dari internet dengan edukasi yang diberikan perawat: Au. kadang-kadang ada pasien yang status pendidikan tinggi, kadang kala ketika diberikan edukasi seperti tidak menerima. Ada yang bilang yang mereka lihat di internet berbeda dengan yang kita berikan, seperti kalau kita memberikan edukasi jangan makan makanan tertentu, mereka bilang, kami lihat di internet boleh. Ada juga pasien yang merokok setelah diedukasi, mereka bilang ada kenalan kita yang juga cuci darah tetap merokok tapi tetap aman. (P. Ay Resistensi juga ditemukan pada pasien baru yang belum memahami pentingnya kepatuhan terhadap anjuran medis. Responden P3 menyatakan: Au. kadang pasien itu bandel, susah dikasih tahu terutama yang pasien baru. Kadang baru diedukasi datang lagi masuk UGD dengan kelebihan cairan. Kadang ada yang bilang, ini musim panas ini jadi sering, jadi kebanyakan yang begitu masuk UGD. (P. Ay Subtema 2. Hambatan fisik pasien Keterbatasan fisik, terutama gangguan pendengaran, menjadi hambatan dalam proses edukasi karena menghambat komunikasi dua arah. Responden P1 menyampaikan: Au. ada pasien yang mengalami gangguan pendengaran. Nah ini agak sulit karena ada beberapa pasien disini yang memang gangguan pendengaran dan memang sulit kita edukasi tentang manajemen perawatan (P. Ay. Kondisi ini menuntut perawat menggunakan strategi tambahan, seperti visualisasi atau bantuan media, agar pesan edukasi tetap dapat dipahami. Subtema 2. Dukungan keluarga yang kurang optimal Dukungan keluarga berperan penting dalam keberhasilan edukasi, namun tidak selalu optimal. Beberapa keluarga mengalami kesulitan dalam mendukung penerapan diet dan gaya hidup sehat karena kebiasaan dan budaya lokal. Responden P3 menyampaikan: Au. keluarga pasien kadang sulit menyediakan diet khusus untuk pasien karena sudah terbiasa dengan gaya hidup yang kurang sehat, apalagi budaya didaerah kita yang sering mengadakan acara dan makan besar, itu sulit sekali dihindari. (P. Ay Selain itu, ketidakkonsistenan pendamping keluarga juga menjadi kendala dalam penerapan hasil edukasi, sebagaimana diungkapkan oleh P4: Au. keluarga pasien yang bergantung dengan keluarga agak sulit diberikan edukasi. Biasanya pasien lansia kita edukasi ke keluarganya. Tapi masalahnya keluarga yang membawa pasien sering berganti-ganti, kedang datang dengan anak A, berikut anak B, ketika pindah di anak C akan berubah lagi konsepnya atau tidak melakukan seperti apa yang kita edukasi. (P. Ay Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan kesehatan dipengaruhi oleh faktor psikologis, fisik, dan sosial pasien, serta dukungan lingkungan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Tema 3. Cara mengatasi hambatan Perawat menggambarkan berbagai strategi untuk mengatasi hambatan dalam pendidikan kesehatan, terutama melalui pemberian motivasi berkelanjutan dan kolaborasi dengan keluarga pasien. Subtema 3. 1: Motivasi dan pendekatan empatik Resistensi pasien dihadapi dengan pendekatan empatik dan pemberian motivasi secara berulang untuk membangun kepercayaan diri pasien. Responden P4 menyampaikan: Au. harus menumbuhkan rasa percaya diri dulu dari pasien dengan memberikan motivasi seperti, bapak/ibu pasti mampu menjalani perawatan ini dengan baik. Selain itu, kita ingatkan terus mereka, harus seringsering supaya mereka ingat dan juga mengingatkan keluarga mereka. (P. Ay. Responden P8 menambahkan bahwa kesabaran dan pengulangan edukasi diperlukan untuk membantu pasien melewati fase penolakan: Au. tetap memotivasi pasien, larena dalam satu periode, memang ada saatnya pasien itu masih denial dengan situasi yang ada, tapi kita sebagai tenaga kesehatan ya sabar, memberikan informasi berulangulang, pasti ada satu masa dia akan kembali ke tingkat patuh. Pasien kan seperti itu, kalau misalnya ada sebab ada akibat, jika sudah ada akibat yang dirasakan karena ketidakpatuhan, pada umumnya pasien akan kembali patuh pada anjuran-anjuran yang diberikan. (P. Ay. Subtema 3. Kolaborasi dengan keluarga Kolaborasi dengan keluarga dilakukan untuk memastikan keberlanjutan perawatan di rumah. Responden P5 Au. kita tetap libatkan keluarga pada saat datang melakukan HD. Pada saat baru pemasangan alat biasanya kan keluarga keluar tapi kalau alat sudah terpasang, keluarga bisa masuk. Nah saat itu kita bicara dengan keluarga tentang manajemen perawatan diri pasien dirumah. (P. Ay. Responden P6 menegaskan bahwa keluarga berperan penting dalam mendukung kepatuhan pasien: Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Au. kolaborasi dengan keluarga, karena kan kita tidak bersama pasien 24 jam, jadi kolaboraasi dengan keluarga untuk mendukung pasien sepenuhnya itu penting. Bagaimana keluarga yang mendampingi pasien 24 jam dirumah itu bisa menjadi pendukung atau penunjang supaya pasien dapat menjalani HD dengan patuh misalnya diet, obat-obatan yang diberikan. (P)Ay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berkelanjutan dan kolaborasi dengan keluarga merupakan strategi utama perawat dalam mengatasi hambatan pendidikan kesehatan dan mendukung keberhasilan manajemen perawatan diri pasien hemodialisis. PEMBAHASAN Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan edukasi kesehatan mengenai manajemen perawatan diri pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan pada pasien hemodialisis merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh kemampuan perawat dalam menyesuaikan pendekatan edukasi dengan karakteristik pasien, hambatan yang muncul selama proses edukasi, serta strategi kolaboratif yang digunakan untuk mengatasi hambatan tersebut. Ketiga tema yang diidentifikasi strategi pendidikan kesehatan yang efektif, hambatan dalam pemberian edukasi, dan cara mengatasi hambatan yang saling berkaitan dan membentuk praktik edukasi yang adaptif serta kontekstual. Tema pertama menunjukkan bahwa perawat menerapkan strategi edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik pasien, seperti tingkat pendidikan, kemampuan berbahasa, dan kebutuhan informasi. Pendekatan interpersonal melalui penggunaan bahasa yang sederhana, komunikasi empatik, serta pemanfaatan media edukasi seperti leaflet dan video menjadi metode yang umum digunakan. Temuan ini sejalan dengan Kormos et al. yang menyatakan bahwa hubungan perawatAepasien merupakan fondasi penting dalam keberhasilan edukasi kesehatan. Pemahaman terhadap karakteristik pasien, termasuk konteks budaya lokal, menjadi dasar bagi perawat dalam menentukan pendekatan edukasi yang tepat. Dalam konteks lokal, penggunaan bahasa daerah dan komunikasi santai, termasuk percakapan ringan, membantu menurunkan kecemasan pasien hemodialisis yang umumnya menjalani terapi jangka panjang dan rentan terhadap kelelahan emosional. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien, tetapi juga memperkuat hubungan terapeutik yang mendukung proses pembelajaran pada pasien dewasa (Dionigi. Duradoni, & Vagnoli, 2. Selain itu, penyampaian informasi dengan menekankan manfaat praktis sebelum penjelasan teoritis terbukti meningkatkan motivasi pasien untuk menerapkan anjuran yang diberikan (Gao et al. , 2. Penggunaan media visual seperti leaflet, banner, dan video juga membantu menjangkau pasien dengan gaya belajar yang beragam dan meningkatkan pemahaman, khususnya pada pasien dengan literasi kesehatan rendah (Mbanda et al. , 2. Pendekatan-pendekatan tersebut mencerminkan upaya perawat dalam meningkatkan self-care agency pasien, yaitu kemampuan individu untuk mengelola diet, cairan, pengobatan, akses vaskular, dan kepatuhan menjalani hemodialisis. Dalam teori Self-Care Deficit Orem, peningkatan agency memerlukan pendidikan kesehatan yang disesuaikan dengan kemampuan kognitif dan kondisi sosial pasien. Ketika perawat menyesuaikan cara komunikasi, menggunakan media edukatif, dan menerapkan pendekatan emosional, mereka menjalankan komponen supportiveAeeducative system, yaitu sistem keperawatan yang berfokus pada dukungan terhadap kemampuan perawatan diri pasien (Gonzalo, 2. Tema kedua menyoroti berbagai hambatan yang dihadapi perawat dalam memberikan edukasi. Salah satu hambatan utama adalah resistensi pasien akibat perbedaan informasi antara edukasi yang diberikan perawat dan informasi yang diperoleh pasien dari internet, media sosial, atau pengalaman orang lain. Ketidaksesuaian ini memicu penolakan terhadap informasi profesional, terutama ketika pasien cenderung mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal mereka (Shimazaki et al. , 2. Fenomena ini mencerminkan tantangan literasi kesehatan, sebagaimana dijelaskan oleh Nutbeam . , bahwa kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi kesehatan sangat memengaruhi pengambilan keputusan pasien. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pasien hemodialisis dengan literasi kesehatan yang lebih baik memiliki kemampuan manajemen perawatan diri yang lebih optimal (Pondaag. Mariana, & Ahmad, 2. Dalam konteks ini, perawat dituntut untuk bersikap reflektif dan menyesuaikan gaya komunikasi agar lebih sederhana, kontekstual, dan empatik, misalnya dengan menekankan manfaat praktis dari perilaku sehat dibandingkan penjelasan teoritis semata. Pendekatan ini selaras dengan konsep patient-centered care, di mana hubungan terapeutik dan komunikasi empatik berperan dalam meningkatkan kepercayaan serta keterlibatan pasien dalam perawatan (Kwame & Petrucka, 2. Hambatan lain yang diidentifikasi adalah keterbatasan fisik pasien, terutama gangguan pendengaran, yang menghambat efektivitas komunikasi verbal. Kondisi ini berdampak langsung pada pemahaman pasien terhadap edukasi, khususnya pada pasien lansia atau pasien dengan disabilitas (Kwame & Petrucka, 2. Selain itu, dukungan keluarga yang tidak konsisten juga menjadi tantangan dalam mempertahankan perubahan perilaku Ketidakkonsistenan pendamping keluarga serta kebiasaan budaya yang tidak mendukung anjuran medis dapat menyebabkan miskomunikasi dan rendahnya kepatuhan pasien (Yasin et al. , 2. Temuan ini sejalan Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. dengan Sentell et al. yang menyatakan bahwa misinformasi dan dukungan sosial yang lemah merupakan kendala utama dalam manajemen perawatan diri pada penyakit kronik. Dalam kerangka teori Orem, resistensi pasien akibat misinformasi, keterbatasan fisik, dan dukungan keluarga yang tidak stabil mencerminkan kondisi self-care deficit, yaitu situasi ketika kemampuan pasien tidak memadai untuk memenuhi tuntutan perawatan diri. Misinformasi menyebabkan kesenjangan antara pengetahuan yang dibutuhkan dan yang dimiliki pasien, sementara keterbatasan fisik dan lemahnya dukungan keluarga menghambat fungsi dependent care, yaitu peran keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien dengan keterbatasan tertentu (Gonzalo, 2. Tema ketiga menggambarkan strategi perawat dalam mengatasi hambatan tersebut melalui pemberian motivasi secara berkelanjutan, pengulangan edukasi, dan kolaborasi aktif dengan keluarga. Pemberian motivasi yang konsisten membantu meningkatkan kepercayaan diri pasien dan mendukung proses penerimaan terhadap kondisi penyakit kronik. Pengulangan informasi memungkinkan pasien memahami konsekuensi dari ketidakpatuhan dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap (Gao et al. , 2. Kolaborasi dengan keluarga, baik selama perawatan di rumah sakit maupun di rumah, memperkuat dukungan emosional dan praktis bagi pasien. Dalam konteks budaya Indonesia, keluarga memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan bersama dan penopang utama perawatan, sehingga keterlibatan keluarga menjadi elemen kunci dalam keberhasilan edukasi (Lianti & Rosyid, 2. Ketiga tema dalam penelitian ini dihubungkan oleh fenomena refleksi profesional perawat. Perawat tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga secara berkelanjutan menilai kemampuan dan respons pasien . ssessment of self-care agenc. , mengidentifikasi hambatan . elf-care defici. , serta memberikan intervensi edukatif dan dukungan emosional melalui supportiveAeeducative system (Gonzalo, 2. Pengalaman kerja yang panjang memungkinkan perawat membangun hubungan terapeutik yang kuat dengan pasien hemodialisis yang menjalani terapi dua hingga tiga kali per minggu, serta menyesuaikan pendekatan edukasi sesuai dengan perkembangan kondisi pasien. Pendidikan kesehatan pada pasien hemodialisis sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan karakteristik individual pasien. Perawat berperan sebagai fasilitator literasi kesehatan, motivator, dan mediator antara pasien dan keluarga. Oleh karena itu, penguatan kompetensi komunikasi terapeutik, kemampuan reflektif perawat, serta pengembangan edukasi berbasis keluarga menjadi aspek penting dalam praktik keperawatan Selain itu, dinamika ruang hemodialisis di IndonesiaAiseperti penggunaan bahasa daerah, peran sentral keluarga, serta pengaruh budaya lokalAiperlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pelaksanaan edukasi kesehatan agar lebih efektif dan berkelanjutan. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Penelitian ini memberikan implikasi bagi praktik keperawatan, khususnya dalam penguatan kompetensi komunikasi terapeutik dan kemampuan reflektif perawat untuk menghadapi resistensi pasien yang berkaitan dengan kesenjangan literasi kesehatan. Edukasi kesehatan perlu dirancang tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai mitra utama dalam manajemen perawatan diri. Penggunaan media edukasi yang sesuai dengan konteks budaya lokal, termasuk pemanfaatan bahasa daerah, serta integrasi prinsip literasi kesehatan dalam intervensi edukatif perlu menjadi bagian dari standar praktik keperawatan di unit Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah partisipan yang relatif terbatas dan fokus penelitian yang hanya mengeksplorasi pengalaman perawat tanpa mengevaluasi secara langsung dampak edukasi terhadap perilaku manajemen perawatan diri pasien dapat membatasi keluasan temuan. Selain itu, pelaksanaan penelitian yang berfokus pada satu rumah sakit menjadikan hasil penelitian sangat kontekstual terhadap budaya organisasi, kebijakan klinis, dan sistem pengelolaan edukasi di institusi tersebut. Oleh karena itu, temuan penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya dapat digeneralisasikan ke fasilitas pelayanan kesehatan lain dengan karakteristik sosial budaya dan pengorganisasian layanan yang berbeda. KESIMPULAN Strategi edukasi yang efektif pada pasien hemodialisis bersifat kontekstual, humanistik, dan adaptif. Hambatan dalam komunikasi, baik secara fisik, psikologis maupun sosial dapat diatasi melalui pendekatan empatik, penggunaan media yang tepat, dan kolaborasi dengan keluarga. Keberhasilan manajemen perawatan diri pasien sangat bergantung pada literasi kesehatan, hubungan interpesonal yang baik dan sensitivitas perawat terhadap konteks sosial budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa perawat memegang peran kunci dalam menjembatani pengetahuan dan perubahan perilaku pasien melalui pendekatan edukasi yang bijak dan responsif terhadap kondisi pasien. Sebagai tindak lanjut, penelitian selanjutnya perlu mengevaluasi model edukasi yang telah diidentifikasi atau menggali pengalaman pasien dan keluarga untuk melengkapi sudut pandang perawat serta memperkaya pemahaman tentang proses edukasi dalam konteks hemodialisis. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada LPPM Universitas Sam Ratulangi yang telah memberikan dana hibah penelitian PNBP BLU Universitas Samratulangi tahun 2024 dan seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Ferlan Ansye Pondaag. Gresty Natalia Maria Masi. Imelda Sirait. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 98-106 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. REFERENSI