P a g e | 38 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp Reducing Anxiety Levels With Guided Imagery In Pre Operative Patients With General Anesthesia Techniques Ika Husnul MarAoa1 . Vidya Urbaningrum2 . Muh. Nur Syamsu3. Cicilia Nony Ayuningsih Bratajaya4 1,2,3,4 Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi. Universitas Medika Suherman. Bekasi. Indonesia Email: Ikahusnul9@gmail. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: April/04/2026 Revised date: May/27/2026 Accepted date: May/30/2026 Keywords: General Anesthesia. Guided Imagery. Anxiety. Preoperative ABSTRACT/ABSTRAK Background: Anxiety is a common psychological response experienced by patients in the preoperative phase, especially those undergoing surgery under general anesthesia. Efforts to reduce anxiety can be done through non-pharmacological approaches, including guided imagery. Objectives: This study aimed to determine the effect of guided imagery on reducing anxiety in preoperative patients undergoing general anesthesia at Bekasi Regency Hospital. Methods: This study employed a quantitative method with a pre-experimental design using a one-group pretestAeposttest design. A total of 47 respondents were selected using a purposive sampling The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) was used to evaluate respondents' anxiety levels before and after the intervention. The guided imagery lasted for 10 minutes. Data evaluation included univariate and bivariate analyses, with the nonparametric Wilcoxon test used to test hypotheses. Results: This study demonstrated a decrease in preoperative anxiety levels in patients after receiving guided imagery intervention. Based on the Wilcoxon test results, a p-value of 0. 000 indicated that the intervention significantly reduced patient anxiety. Conclusions: That there is an effect after being given guided imagery intervention on reducing anxiety levels in preoperative patients with general anesthesia techniques. P a g e | 39 Kata Kunci: General Anestesi. Guided Imagery. Kecemasan. Pre Operasi Latar Belakang: Cemas merupakan respons psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi, terutama pada pasien yang akan menjalani pembedahan dengan teknik general anestesi. Upaya penurunan kecemasan dapat dilakukan melalui pendekatan nonfarmakologis, diantaranya menggunakan metode guided imagery. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan rancangan pre-experiment menggunakan desain one group pretestAeposttest. Sebanyak 47 responden dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) digunakan untuk mengevaluasi tingkat kecemasan responden pada fase sebelum dan setelah pemberian Guided imagery berlansung selama 10 menit. Evaluasi data mencakup analisis univariat dan bivariat, di nonparametrik wilcoxon. Hasil: Penelitian ini menunjukkan penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi setelah diberikan intervensi guided imagery. Berdasarkan hasil statistik uji wilcoxon p-value 0,000 yang menandakan bahwa intervensi tersebut mempengaruhi penurunan kecemasan pasien. Kesimpulan: Terdapat pengaruh setelah diberikan intervensi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi. CopyrightA 2026 Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Ika Husnul MarAoa Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi. Universitas Medika Suherman. Bekasi. Indonesia Email: Ikahusnul9@gmail. P a g e | 40 PENDAHULUAN Pembedahan merupakan prosedur medis yang merusak jaringan, ditandai adanya tindakan membuka area tubuh tertentu untuk tujuan penanganan kesehatan. Umumnya, tindakan ini diawali dengan pembuatan sayatan untuk membuka area yang akan diobati. Jika bagian tersebut sudah terlihat, selanjutnya dilakukan tindakan perbaikan, kemudian ditutup kembali dan dijahit. Selama proses operasi, anestesi digunakan untuk meminimalkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan pasien (Hartini et. al, 2. Pada saat dilakukan pembedahan nyeri akan timbul, sehingga diperlukan anestesi. General anestesi merupakan kondisi yang diinduksi oleh obat-obatan yang memiliki efek kerja pada sistem saraf pusat untuk menekan impuls saraf, sehingga menurunkan persepsi terhadap rasa nyeri dan sensasi lainnya di seluruh Kondisi ini menyebabkan hilangnya kesadaran secara menyeluruh dan biasanya dicapai melalui penggunaan satu atau lebih jenis obat (Riu, 2. Berdasarkan penjelasan dari American Society of Anesthesiologists (ASA), general anestesi didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami kehilangan kesadaran Akibat pengaruh obat, namun pasien masih dapat memberikan respons terhadap menimbulkan rasa sakit (Riu, 2. Dalam lingkup pembedahan, terdapat tiga fase yaitu preoperative, intraoperative, dan post Pada ketiga fase tersebut, penata memberikan asuhan baik secara mandiri maupun kolaborasi bersama tenaga kesehatan lain, dengan tujuan agar pasien memperoleh hasil optimal dari tindakan pembedahan yang direncanakan (Ainul Haqi Fatkhul et al. , 2. Fase preoperative dimulai sejak perawat melakukan pengkajian hingga menentukan Selanjutnya memasuki, fase intraoperative dimulai ketika pasien dipindahkan ke ruang operasi dan berlangsung hingga proses pembedahan selesai. Selanjutnya fase post operative, dimulai saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan (Angellina & Winarti, 2. Fase pre operasi langkah pertama dalam penerimaan pasien di ruang terima hingga dipindahkannya pasien ke meja operasi. Fase ini sangat penting dan menjadi kunci keberhasilan operasi secara keseluruhan, sebab dapat menentukan dasar kelancaran proses selanjutnya. Oleh karenanya, persiapan mental harus menjadi fokus utama pada tahap ini (Angellina & Winarti. Kecemasan dapat memengaruhi tubuh dan pikiran pasien melalui berbagai perubahan fisiologis maupun psikologis. Dari perspektif fisik, aktivasi sistem saraf otonom simpatik akibat kecemasan mengakibatkan meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, serta laju pernapasan. Kondisi ini juga sering kali mengurangi energi tubuh secara keseluruhan (Mulia et al. , 2. Jika tidak segera ditangani, kecemasan dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang ketidakseimbangan hormon adrenocorticotrophic (ACTH) yang berpengaruh pada sistem saraf (Maryam Qarinah Rabbani et al. , 2. Akibatnya, tindakan operasi berisiko tertunda atau bahkan dibatalkan. Secara keseluruhan, dampak kecemasan tersebut dapat mengganggu kelancaran jalannya prosedur pembedahan (Sumiati & Andriani, 2. Mengacu pada data World Health Organization (WHO) tahun 2020 angka prevalensi ansietas pada pasien pre operasi dilaporkan mencapai kisaran 60% hingga 90%, yang setara dengan akumulasi sekitar 534 juta individu. (Maulina et al. , 2023. Gangguan kecemasan dialami sekitar 11,6% dari populasi individu dewasa di Indonesia. Sekitar 75-90% merupakan pravelensi kecemasan pasien pre operasi di indonesia Kemenkes RI, 2020 dalam (Maulina et , 2. Di Jawa barat yaitu sekitar 20% menurut riset Kesehatan Dasar (Riskesda. dan 11,6% orang dewasa mengalami gangguan mental. P a g e | 41 khususnya gangguan kecemasan (Amalia et al. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ratno & Zerin tahun 2024 di RSUD Kabupaten Bekasi, didapatkan responden dengan kecemasan ringan 0 . 0%), 12 reponden . ,3%) mengalami kecemasan sedang, sedangkan mayoritas 24 responden . ,7%) termaksud pada kategori kecemasan berat. Kasus kecemasan sulit dihindari karena dipicu oleh berbagai faktor pada pasien. Hal ini diperparah oleh pandangan yang sudah mengakar di masyarakat sejak lama, di mana operasi sering kali diilustrasikan sebagai tindakan yang identik dengan vonis mati, sangat menyakitkan, dan berpotensi mematikan (Erindra Budi Cahyanto, 2. Metode kecemasan salah satunya yaitu dengan guided imagery . majinasi terbimbin. Teknik ini berperan sebagai sarana untuk menurunkan tingkat kegelisahan . Prinsipnya adalah melibatkan pasien mengkhayalkan suatu kondisi, tempat, atau urutan pengalaman yang bersifat menyenangkan secara terbimbing dan melibatkan pancaindra (Yijing et al. , 2. Intervensi ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan serta memberikan efek relaksasi, sehingga mempercepat proses penyembuhan, menurunkan tingkat stres, dan membantu pasien depresi dalam menggali pengalaman. Secara keseluruhan, teknik guided imagery bertujuan untuk mengurangi kecemasan, menekan sensasi nyeri, mengatasi asma, gangguan tidur, pusing atau migrain, serta menurunkan tekanan darah tinggi (Firmawati et al. , 2. Teknik relaksasi ini melibatkan pasien untuk membayangkan suatu situasi atau tempat menyenangkan, misalnya pemandangan alam yang indah atau pengalaman positif yang pernah Melalui latihan relaksasi mendalam yang dilakukan secara berkesinambungan dengan bantuan imajinasi terbimbing, pasien dapat mencapai kondisi rileks, nyaman, dan tenang (Yan Syah, 2. Pratama & Pratiwi . dalam penelitian menyatakan 39,5% pasien pre operasi mengalami ansietas berat akibat belum menerima relaksasi guided imagery. Namun, setelah intervensi tersebut diaplikasikan, dominasi kecemasan ringan menjadi kategori dengan persentase tertinggi, yaitu mencapai 41,2%. Ditinjau hasil uji Wilcoxon, didapatkan nilai p sebesar 0,000, yang menandakan intervensi penurunan kecemasan pasien. Sesuai penelitian Safitri & Agustin . menjelaskan terdapat perubahan kondisi kecemasan setelah intervensi diberikan. Sebelum menerima terapi, skor kecemasan sebesar 20,22. Setelah implementasi terapi guided imagery dilakukan, terlihat adanya penurunan skor kecemasan responden mencapai angka 14,55. Hasil ini menunjukkan perbedaan selisih 5,67 poin Berdasarkan analisis statistik, didapatkan nilai pvalue 0,000, yang menunjukkan bahwa terapi guided imagery memiliki efek untuk membantu meringankan kecemasan pasien yang menjalani operasi sectio caesar. Berbanding lurus dengan penelitian Wijaya Rahman . desain dalam penelitian ini mencakup kelompok perlakuan dan kelompok Hasil pengamatan pada kelompok perlakuan menunjukkan skor mean kecemasan sebesar 2,77 sebelum intervensi, yang kemudian berubah ke angka 1,61 setelah pemberian Sementara itu, pada kelompok kontrol, rata-rata tingkat kecemasan awal 2,65 turun menjadi 2,10 dengan perbedaan 0,55. Kalkulasi uji statistik memperoleh nilai p sebesar 0,000, maka disimpulkan bahwa kecemasan pasien pre operasi laparatomy dapat dikurangi melalui relaksasi imajinasi terbimbing. Studi awal dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari salah satu penata anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi, pada periode September 2025 tercatat jumlah pasien sebanyak 185 pasien yang menjalani prosedur pembedahan, 119 pasien di antaranya menggunakan teknik general P a g e | 42 anestesi untuk tindakan cito dan elektif. Dimana tercatat 88 pasien yang menjalani operasi dengan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi menggunakan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan design pre eksperimental pada kelompok intervensi, tanpa pembanding (Hafni Sahir, 2. Populasi dalam penelitian ini yaitu 88 responden dalam periode satu bulan. Perhitungan sampel menggunakan rumus slovin, sehingga diperoleh sebanyak 47 responden dalam satu bulan. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang sudah ditetapkan oleh peneliti yaitu, pasien cemas dengan operasi elektif menggunakan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Mekanisme pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap, yaitu observasi tahap awal . sebelum pemberian perlakuan. Setelah intervensi diberikan, dilakukan evaluasi tahap dua . guna melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada responden setelah intervensi guided imagery diberikan. Pengukuran responden, diukur melalui kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Instrumen APAIS versi Indonesia telah diuji pada 102 orang pasien dewasa, dimana 42 pasien pria dan 60 pasien wanita, yang direncanakan menerima tindakan operasi elektif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta. Hasil uji validitas menunjukkan total korelasi 0,773 hingga 0,868, dan korelasi antar pernyataan berada pada nilai 0,481 hingga 0,712. Uji reliabilitas instrumen APAIS dengan metode konsistensi internal didapatkan nilai CronbachAos Alpha yaitu 0,825 dan 0,863. Menandakan seluruh item pernyataan dalam kuesioner menunjukkan validitas yang memadai serta dapat digunakan secara tepat untuk menilai tingkat kecemasan praoperatif (Perdana et al. , 2. Variabel penelitian diukur menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dikumpulkan langsung dari pasien pre operasi dengan kecemasan, serta data sekunder dilihat dari rekam medis pasien (Wibowo et al. , 2. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara berdasarkan isi Data penelitian dianalisis melalui metode univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Melakukan anamnesa & melihat rekam medis Pemilihan responden Kriteria eksklusi Kriteria Inklusi Mengukur kecemasan awal responden sebagai Pretest Meminta persetujuan responden kemudian ttd . nformed consen. Pemberian Intervensi Guided imagery Kaji kecemasan setelah intervensi diberikan Posttest Gambar 1. Alur penelitian Persetujuan etik telah diperoleh sebelum penelitian dilaksanakan, terhadap pasien pre operasi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan nomor izin: 005379/Universitas Medika Suherman/2025. P a g e | 43 HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pasien Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Sebelum Diberikan intervensi Guided Imagery Kecemasan Frekuensi Presentase Cemas Sedang Cemas Berat Total Berdasarkan tabel 1, pasien pre operasi sebelum diberikan intervensi guided imagery, mayoritas dari 40 responden . ,1%) mengalami kecemasan berat, sedangkan 7 responden lainnya . ,9%) mengalami kecemasan sedang. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Setelah Diberikan intervensi Guided Imagery Kecemasan Frekuensi Presentase Cemas Ringan Cemas Sedang Total Berdasarkan tabel 2, mayoritas pasien pre operasi yang telah mendapatkan intervensi guided imagery mengalami kecemasan sedang sebanyak 31 responden . ,0%). Sementara itu minoritas responden dengan tingkat kecemasan ringan berjumlah 16 responden . ,0%). Tabel 3. Pengaruh Guided Imagery Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan Teknik General Anestesi Kecemasan Wilcoxon N Mean Sum of Ranks Sig. Posttest . egative rank Pre test . ostive ran. Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, memperoleh nilai signifikansi 0,000 <0,05. Dengan demikian. Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti signifikan dalam menurunkan kecemasan pasien pre operasi di RSUD Kabupaten Bekasi. PEMBAHASAN Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Sebelum dan Sesudah Diberikan Intervensi Guided Imagery Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis pasien menjelang tindakan operasi, mayoritas berada di tingkat kecemasan berat. Ditinjau dari total keseluruhan 47 responden didapatkan tingkat kecemasan yaitu cemas berat 40 responden . 1%) dan cemas sedang 7 responden . 9 %). Namun berbanding terbalik hasil penelitian terhadap pasien pre operasi setelah diberikan intervensi guided imagery, sejumlah 31 responden . mengalami kecemasan tingkat sedang dan 16 responden . 0 %) dengan tingkat kecemasan Sesuai dengan Wijaya Rahman . dalam penelitian tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Setelah menerima intervensi, kelompok perlakuan menunjukkan penurunan tingkat kecemasan, dari rata-rata 2,77 menjadi 1,61. Studi ini berkesinambungan dengan hasil penelitian Safitri & Agustin . pengolahan data statistik penelitian, menunjukkan terjadinya reduksi kecemasan yang signifikan setelah intervensi diberikan. Indikasi ini terbukti dari perolehan skor mean, pada kelompok perlakuan, setelah intervensi yaitu menyusut ke angka 14,55. Sedangkan sebelum intervensi, berada di nilai 20,22. Selisih rerata yang diperoleh sebesar Oe5,67 dengan nilai thitung 3,820, simpangan baku 1,625, serta rentang penurunan antara 2,736 hingga 8,802. Didukung oleh teori penelitian Pratama & Pratiwi . sebanyak 114 responden Studi ini menyatakan pasien pre operasi tanpa pemberian intervensi guided imagery mayoritas responden mengalami P a g e | 44 kecemasan berat . ,5%), sementara itu responden yang menerima intervensi lebih banyak mengalami kecemasan ringan . ,2%). Pengaruh Guided Imagery Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi dengan Teknik General Anestesi Berdasarkan hasil analisis statistik mengenai pengaruh teknik relaksasi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan teknik general Mengacu pada tabel diatas. Diperoleh hasil Uji Wilcoxon p-value 0,000 (<0,. , artinya hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi antara sebelum dan setelah pemberian intervensi. Relaksasi Guided imagery efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi, terbukti melalui penurunan skor kecemasan setelah intervensi dilakukan di ruang IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Dalam penelitian Wijaya Rahman . studinya membagi subjek ke dalam dua kelompok, yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, didapatkan nilai pada kelompok perlakuan p-value =0,000 dengan demikian guided imagery memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi derajat kecemasan pasien yang melaksanakan operasi laparatomy. Begitu juga Safitri & Agustin . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa terjadi penurunan tingkat kecemasan secara signifikan setelah intervensi, diperoleh hasil pengolahan data statistik yaitu p-value 0,000 (<0,. , menandakan bahwa kecemasan pasien pre operasi dengan tingkat tinggi, dapat dikurangi melalui metode teknik guided imagery. Sejalan dengan penelitian Vagnoli et al. dengan total keseluruhan 60 responden yang berpartisipasi, melibatkan anak umur 6-12 tahun, serta terdiri atas dua kelompok, yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Nilai p yang diperoleh pada kelompok perlakuan . disimpulkan bahwa guided imagery mengurangi rasa cemas menjelang operasi, terutama bagi pasien yang memiliki riwayat tindakan bedah sebelumnya. Diperkuat oleh penelitian Pratama & Pratiwi . terkait pengaruh efektifitas teknik relaksasi guided imagery pada kecemasan pasien pre operasi. Melibatkan 114 responden, berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p sebesar 0,000, yang mengindikasikan bahwa kecemasan pasien pre operasi mampu diminimalkan dengan penerapan guided imagery. Keterbatasan Penelitian Umumnya reponden yang menjalani operasi di RSUD Kabupaten Bekasi dominan menggunakan teknik spinal anestesi, sehingga untuk mendapatkan responden dengan teknik general anestesi membutuhkan penelitian dengan waktu lebih lama. Responden penelitian sering kali memiliki tingkat pemahaman yang berbeda pernyataan-pernyataan Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun kondisi psikologis responden. Hal ini berpotensi memengaruhi konsistensi jawaban. pengumpulan data responden dibantu oleh peneliti, untuk mengisi kuesioner karena adanya keterbatasan fisik, seperti pemasangan infus di area tangan. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan guided imagery memiliki kontribusi dalam menurunkan kecemasan pada pasien pre Dibuktikan sebelum intervensi diberikan, sebagian besar responden, yakni 40 responden . ,1%) berada pada kategori kecemasan berat, sedangkan 7 responden . ,9%) mengalami kecemasan sedang. Namun setelah intervensi diberikan, sebanyak 31 responden . ,0%) mayoritas merasakan kecemasan sedang, dan 16 responden . ,0%) merasakan kecemasan ringan. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi Asymp Sig sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,05, sehingga disimpulkan bahwa guided P a g e | 45 imagery berpengaruh kepada penurunan kecemasan pasien pre operasi dengan teknik general anestesi. Intervensi non farmakologi yaitu guided imagery diterapkan karena dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien, hal tersebut memiliki dampak signifikan bagi berbagai pihak. Saran untuk RSUD Kabupaten Bekasi, metode ini dapat dijadikan bagian integral dari pelayanan keperawatan preoperatif. Dengan melibatkan teknik guided imagery ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) di ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS), diharapkan mampu menurunkan tingkat kecemasan pasien sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini membuka peluang untuk dikembangkan dengan desain yang lebih beragam, seperti penggunaan kelompok kontrol, penambahan jumlah responden, maupun variabel lain yang berkaitan dengan respon fisiologis dan psikologis pasien. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat bukti ilmiah mengenai efektivitas teknik guided imagery dalam menurunkan kecemasan pasien. REFERENSI