e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH LEMBAH PALU YANG DIBERIKAN BERBAGAI KONSENTRASI MIKROB RIZOSFER GROWTH RESPONSE AND YIELD OF PALU VALLEY RED ONION PLANTS GIVEN VARIOUS CONCENTRATIONS OF RHIZOSPHERIC MICROBES Jumardin1*. Aris Aksarah1. Idris1. Winarti1. Fadila Baharta1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Alkhairaat. Jl. Diponegoro. Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat. Palu 94221. Indonesia ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui respon pertumbuhan dan hasil bawang merah Varietas Lembah Palu (Allium cepa L. Var. Aggregatu. melalui pemberian berbagai konsentrasi konsorsium mikrob risozfer R15. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan satu faktor dengan dasar pengelompokan berdasarkan tinggi petakan lahan. Adapun perlakuan yang dicobakan sebagai berikut : R0 = Kontrol (Tanpa pemberian mikro. R1 = 10 ml / Tanaman. R2 = 15 ml / Tanaman. R3 = 20 ml / Tanaman. R4 = 25 ml / Tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa Perlakuan berbagai konsentrasi mikrob rizosfer R15 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu dan Perlakuan mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman 42 HST . 98 c. , jumlah daun 42 HST . 65 hela. , jumlah anakan 42 HST . 58 anaka. , bobot umbi per rumpun . 85 g/rumpu. dan bobot umbi per hektar . 63 ton/h. Kata kunci: Bawang Merah Lembah Palu. Konsentrasi. Mikrob Rizosfer ABSTRACT The research aims to study and determine the response to growth and yield of Palu Valley Variety shallots (Allium cepa L. Var. Aggregatu. by administering various concentrations of R15 risozfer microbial This research used a Randomized Block Design (RAK) using one factor based on grouping based on the height of the land plot. The treatments tried were as follows: R0 = Control (Without microbial administratio. R1 = 10 ml / Plant. R2 = 15 ml / Plant. R3 = 20 ml / Plant. R4 = 25 ml / Plant. The research results show that Treatment with various concentrations of R15 rhizosphere microbes has a significant effect on the growth and yield of shallot plants of the Palu Valley Variety and Rhizosphere microbial treatment R15 with a concentration of 20 ml/liter of air gave the best results for plant height of 42 DAP . 98 c. , number of leaves 42 DAP . 65 piece. , number of tillers 42 DAP . 58 tiller. , tuber weight per hill . 85 g/clum. and tuber weight per hectare . 63 tons/h. Keywords: Palu Valley Shallot Plants. Concentration. Rhizosphere Bacteria industri bawang goreng. Rendahnya produktivitas komoditi tersebut disebabkan penerapan teknik budidaya yang belum sesuai dianjurkan (Aini dkk. , sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri bawang goreng secara kontinyu yang ada di Kota Palu. Salah produktivitas tanaman bawang merah adalah karena rendahnya kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman. Pendahuluan Bawang merah Varietas Lembah Palu (Allium cepa L. Var. Aggregatu. merupakan salah satu komoditas hortikultura yang digunakan untuk penyedap masakan dan bahan baku utama -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: jumardin22@gmail. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Pemanfaatan mikrob rizosfer sebagai pupuk hayati, merupakan upaya untuk meningkatkan hasil dan mengurangi penggunaan pupuk sintetis secara terus menerus. Juarsah . , menyatakan bahwa kemampuan konsorsium mikrob rizosfer mampu meningkatkan hasil karena konsorsium melarutkan unsur P dan mensekresikan hormon tumbuh tanaman. Penggunaan mikroba sebagai pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas tanaman merupakan tindakan budidaya yang murah, mudah, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pupuk hayati dapat diproduksi dengan isolasi mikroba dari perakaran tanaman. Penelitian sebelumnya telah dilakukan penggunaan konsorsium mikrob rizosfer R15 pada tanaman padi pada tahun 2021 - 2022. Konsorsium mikrob rizosfer berasal dari hasil ekplorasi pada berbagai ekosistem di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2015 (Pas dkk. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian meningkatkan hasil tanaman padi (Pas dkk. Konsorsium mikrob rizosfer R15 mampu beradaptasi dengan lingkungan sawah dan memacu pertumbuhan tanaman padi meskipun berlangsung lambat. Konsorsium mikrob filosfer Fm48 dan mikrob rizosfer R15 serta kombinasinya, memacu pertumbuhan jumlah daun dan jumlah anakan padi (Aksarah et al. Untuk hortikultura, khususnya tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu di Sulawesi Tengah, maka peneliti bermaksud ingin melihat pengaruh konsorsium mikrob rizosfer R15 terhadap komoditi bawang merah. Pupuk hayati dengan konsentrasi berlebihan dapat menyebabkan terjadinya persaingan antar mikroba dalam memperoleh makanan sehingga akan berpengaruh terhadap kebutuhan nutrisi mikroba, akibatnya mikroba akan bekerja kurang optimal, sehingga pengaruhnya terhadap tanaman juga kurang optimal (Budi, 2. Berdasarkan uraian di atas dilakukan penelitian tentang respon pertumbuhan dan hasil bawang merah Varietas Lembah Palu, dengan pemberian berbagai konsentrasi konsorsium mikrob risozfer R15. pembentukan tanah, memacu pertumbuhan tanaman, dan sebagai agens hayati pada lahan pertanaman bawang merah. Apakah terjadi interaksi positif . imbiosis mutualism. antara keberadaan dan aktivitas mikrob rizosfer terhadap eksudat yang dihasilkan oleh perakaran tanaman, sehingga menjadi habibat yang baik untuk pertumbuhan mikroba dan meningkatkan ketersedian nutrient bagi tanaman bawang merah. Bakteri rizosfer memiliki kemampuan melindungi tanaman dari infeksi bakteri patogen . erutama di daerah perakara. , menghasilkan hormon pertumbuhan seperti indole acetic acid dan pelarut fosfat Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian akan ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2024, bertempat di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat di bukit Asybaalul Khairaat. Kelurahan Kabonena. Kecamatan Palu Barat. Kota Palu. Provinsi Sulawesi Tengah. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 85 m dpl, dengan suhu rata-rata 27,8EE dan curah hujan rata-rata 48,7 mm . Bahan dan Alat Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah isolate konsorsium mikrob rizosfer R15, media NB sintetik, agar-agar plain, alkohol 70% dan aquades, varietas bawang merah, larutan isolat mikrob rizosfer R15. sedangkan alat yang skot/Erlenmeyer 1. 000 ml, timbangan digital, hotplate, stirrer, botol spriyer, botol kaca, jarum ose, korek api, shaker, kertas label, tisu gulung, plastik wrapping, aluminium foil, plastik gula, gelas ukur 1. 000 ml, oven, karet gelang, centrifuge tube, srynger, botol plastik dan satu pasang sarung tangan, mesin handtraktor, pacul, parang, handsprayer, skop, martil, paku, papan label, kotak sampel, karet, penggaris, kamera dan alat tulis menulis. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan satu faktor dengan dasar pengelompokan berdasarkan tinggi petakan lahan. Adapun perlakuan yang dicobakan sebagai berikut : Rumusan Masalah Mengetahui pengaruh interaksi berbagai jenis Apakah konsorsium mikrob rizosfer R15 mampu berperan dalam siklus hara, proses R0 = Kontrol (Tanpa pemberian mikro. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 R1 = 10 ml / Tanaman R2 = 15 ml / Tanaman R3 = 20 ml / Tanaman R4 = 25 ml / Tanaman Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap unit percobaan dipilih lima sampel Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman . bawang merah varietas Lembah Palu pada perlakuan berbagai konsentrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 Konsentra Tinggi tanaman . si Mikrob 14 R15 HST HST HST HST HST 0 ml/l air 9. 10 ml/l air 9. 15 ml/l air 10. 20 ml/l air 10. 25 ml/l air 10. BNT 0,05 Ket. : Angka yang diikuti dengan notasi yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 0,05 Parameter Tinggi Tanaman . Pengukuran dilakukan setiap 1 minggu, dari pangkal daun sampai ujung daun yang terpanjang, pada umur 14, 21, 28, 35, 42 HST. Diukur dengan menggunakan mistar. Jumlah daun per rumpun . Dihitung daun setiap minggu, selama pertumbuhan jumlah daun yang terbentuk sempurna pada umur, 14, 21, 28, 35, 42 HST. Jumlah anakan per rumpun . , diamati dengan cara menghitung jumlah seluruh anakan terbentuk dari setiap umbi pada umur 21 dan 35 HST. Bobot segar umbi per rumpun . , ditimbang berat umbi dari sampel tanaman, dilakukan pada saat panen Bobot umbi kering umbi per petak . , ditimbang dari hasil panen pada luas ubinan sampel yang telah dikeringkan. Bobot umbi kering per hektar . , bobot umbi kering hasil ubinan dikonvesri ke luasan per hektar . 000 m. Hasil uji BNT 0,05 (Tabel . menunjukan bahwa perlakuan konsorsium mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 25 ml/liter air memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu pada umur 35 HST, sementara perlakuan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan hasil terbaik pada umur 42 HST meskipun berbeda tidak nyata dengan kosntrasi 25, 15 dan 10 ml/liter air, tetapi berbeda nyata dengan kontrol. Jumlah daun . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsetrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu umur 14, 21, 28 dan 35 HST, tetapi berpengaruh nyata pada umur 42 HST. Analisis Data Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang dicobakan maka dilakukan analisis ragam. Bila terdapat pengaruh perlakuan akan dilakukan uji lanjut BNT 0,05. Untuk mengetaui perbedaan antar perlakuan. Tabel 2. Rata-rata jumlah . daun tanaman bawang merah varietas Lembah Palu pada perlakuan berbagai konsentrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 Konsentra Tinggi tanaman . si Mikrob R15 HST HST HST HST HST 0 ml/l air 15. 10 ml/l air 14. 15 ml/l air 15. 20 ml/l air 16. 25 ml/l air 14. BNT 0,05 Ket. : Angka yang diikuti dengan notasi yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 0,05 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Tinggi tanaman . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsetrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu umur 14, 21 dan 28 HST, tetapi berpengaruh nyata pada umur 35 dan 42 HST. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Tabel 4. Rata-rata bobot umbi per rumpun bawang merah varietas Lembah Palu pada perlakuan berbagai konsentrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 Konsentrasi Bobot umbi per BNT 0,05 Mikrob R15 rumpun . 0 ml/l air 10 ml/l air 15 ml/l air 20 ml/l air 25 ml/l air Ket. : Angka yang diikuti dengan notasi yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 0,05 Hasil uji BNT 0,05 (Tabel . menunjukkan bahwa perlakuan konsorsium mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan pengaruh terbaik terhadap jumlah daun tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu pada umur 42 HST, meskipun berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 10, 15 dan 25 ml/liter air tetapi berbeda nyata dengan kontrol. Jumlah anakan . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsetrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu umur 14, 21 dan 28 HST, tetapi berpengaruh nyata pada umur 35 dan 42 HST. Tabel 3. Rata-rata jumlah anakan bawang merah varietas Lembah Palu pada perlakuan berbagai konsentrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 Konsentra Tinggi tanaman . si Mikrob R15 HST HST HST HST HST 0 ml/l air 10 ml/l air 4. 15 ml/l air 4. 20 ml/l air 5. 25 ml/l air 4. BNT 0,05 Ket. : Angka yang diikuti dengan notasi yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 0,05 Hasil uji BNT 0,05 (Tabel . menunjukkan bahwa perlakuan konsorsium mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan pengaruh terbaik terhadap jumlah anakan tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu meskipun berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 15 dan 25 ml/liter air, tetapi berbeda nyata dengan konsentrasi 10 ml/liter air dan kontrol. Bobot umbi per rumpun . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsetrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 berpengaruh nyata terhadap bobot umbi per rumpun tanaman bawang merah Varietas Lembah. Hasil uji BNT 0,05 (Tabel . menunjukkan bahwa perlakuan konsorsium mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan pengaruh terbaik terhadap bobot umbi per rumpun tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu, meskipun berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 10, 15 dan 25 ml/liter air, tetapi berbeda nyata dengan kontrol. Bobot umbi per hektar . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsetrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 berpengaruh nyata terhadap bobot umbi tanaman bawang merah Varietas Lembah per hektar. Tabel 5. Rata-rata bobot umbi per hektar bawang merah varietas Lembah Palu pada perlakuan berbagai konsentrasi konsorsium mikrob rizosfer R15 Konsentrasi Bobot umbi per BNT 0,05 Mikrob R15 hektar . 0 ml/l air 10 ml/l air 15 ml/l air 20 ml/l air 25 ml/l air Ket. : Angka yang diikuti dengan notasi yang sama berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNT 0,05 Hasil uji BNT 0,05 (Tabel . menunjukkan bahwa perlakuan konsorsium mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan pengaruh terbaik terhadap bobot umbi per hektar tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pembahasan Pemberian R15 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah varietas Lembah Palu. Mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan hasil rata-rata lebih tinggi terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot umbi per rumpun dan bobot umbi per hektar. Hasil ini menunjukkan bahwa mikrob rizosfer R15 yang diberikan mampu memicu pertumbuhan tanaman bawang merah varietas Lembah Palu. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Mikrob yang diberikan pada tanah dapat hidup dan berkembang dengan baik, sehingga berdampak baik bagi tanaman, yakni membantu proses pertumbuhan tanaman bawang merah varietas Lembah Palu. Mikrob tersebut dapat hidup di rizosfer karena tanaman mengeluarkan eksudat akar yang dapat berperan sebagai sumber nutrisi bagi mikrob. Sementara itu mikrob mengeluarkan metabolit berupa senyawa-senyawa aktif yang digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Mikrob pada media tanam akan berinteraksi dengan tanaman dan menghasilkan nutrisi bagi tanaman. Didukung oleh pendapat (Sukasih, 2. , mikrob tanah dapat berfungsi sebagai agen biokemik dalam pengubahan senyawa organik yang kompleks menjadi senyawa anorganik mineralisasi. Mikrob dapat memicu pertumbuhan tanaman melalui kemampuannya menambat N2, melarutkan P dan mensekresikan hormon tumbuh Tanaman memperoleh hara dari mikrob terutama dari mikrob filosfer yang dapat menambat N dari udara. Nitrogen merupakan penyusun klorofil, sehingga bila klorofil meningkat maka fotosintesis akan meningkat pula. Menurut Arifah dkk. bahwa unsur hara N berperan dalam pembentukan klorofil. Klorofil pada daun dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Jumlah klorofil yang cukup dapat meningkatkan proses fotosintesis pada tanaman. Fosfor pada tanah berperan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Menurut Augustine dan Suhardjono . bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara nitrogen dan fosfor pada medium dan yang tersedia bagi tanaman. Kedua unsur ini berperan dalam pembentukan sel-sel baru dan komponen utama penyusun senyawa organik dalam tanaman seperti asam amino, asam nukleat, klorofil. ADP dan ATP. Mikrob yang diaplikasi pada tanah mampu mendegradasi P dalam bentuk tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman. Bakteri pelarut fosfat merupakan bakteri dekomposer yang berperan dalam membantu menyuburkan tanah. Ilham dkk. , . menjelaskan mekanisme bakteri melarutkan fosfat dalam tanah adalah dengan cara mengsekresikan sejumlah asam organik berbobot molekul rendah seperti oksalat. Bakteri memanfaatkan senyawa karbon sederhana . ksudat dari akar tanaman dan sisa dari tanama. Fitohormon yang dihasilkan oleh mikrob Fm48R15 berperan memicu pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil tanaman. Hasil ini sejalan dengan pendapat Iksani dkk. , mikrob memiliki kemampuan mensintesis hormon pertumbuhan tanaman seperti IAA yang merupakan senyawa aktif dari auksin dan memproduksi sitokinin serta giberelin yang berperan dalam perkembangan dan pembelahan sel tumbuhan Mikrob yang diberikan dengan konsentrasi yang tinggi sampai dengan 25 ml/liter air memberikan pengaruh yang cenderung lebih rendah bila dibandingakan dengan konsentrasi 20 ml/liter air terhadap semua parameter yang Hal ini diduga telah terjadi kompetisi akibat jumlah populasi mikrob yang meningkat, disaat bersamaan ketersediaan sumber energi bagi mikrob terbatas. Pada kondisi tersebut terjadi kompetisi interspesies, yakni kompetisi yang terjadi antara spesies yang berbeda pada satu habitat yang sama dalam hal ini adalah mikrob dengan tanaman bawang merah. Jumlah mikrob yang banyak pada habitat yang sama menyebabkan tingkat kompetisi akan semakin tinggi karena keterbatasan sumber makanan. Kesimpulan Perlakuan berbagai konsentrasi mikrob rizosfer R15 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah Varietas Lembah Palu Perlakuan mikrob rizosfer R15 dengan konsentrasi 20 ml/liter air memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman 42 HST . 98 c. , jumlah daun 42 HST . , jumlah anakan 42 HST . 58 anaka. , bobot umbi per rumpun . 85 g/rumpu. dan bobot umbi per hektar . 63 ton/h. Daftar Pustaka