PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 Studi Kandungan Mikroba Pada Kecap Isi Ulang Di Kantin x Di Manado Sulawesi Utara Study of Microbial Content In Soy Sauce Refills in Canteenx In The City of Manado North Sulawesi Christine P. Lomo. Filan O. Mandang Program Studi Teknologi Pangan Universitas Prisma Jl. Pumorrow Tikala Baru Kec. Tikala Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Emai : christine. lomo1981@gmail. ABSTRAK Saus tomat dan kecap isi ulang adalah bahan makanan yang sering digunakan setiap hari, baik dirumah tangga maupun ditempat umum seperti kantin,restoran dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, perhatian terhadap kebersihan saus tomat dan kecap tersebut terkadang terabaikan. Hal ini tentu menjadi salah satu factor menurunnya tingkat kesehatan masyarakat apabila mengkonsumsi saus tomat dan kecap yang telah tercemar oleh berbagai jenis mikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan mikroba yang terdapat pada saus tomat dan kecap isi ulang di kantin X di Sulawesi Utara Tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini jenis bersifat deskriptif sederhana yaitu melakukan analisa laboratorium untuk mengetahui adanya mikroba serta jenisnya pada saus tomat dan kecap isi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel yang diambil pada kantin x yang menggunakan saus tomat dan kecap isi ulang positif tercemar mikroba yaitu E. coli salmonella dan Kapang. Berdasarkan penelitian tersebut diharapkan agar pengelola kantin lebih memperhatikan penyajian saus tomat dan kecap isi ulang. Botol saus tomat dan kecap sebaiknya di tempat yang bersih dan tertutup rapat, dibersihkan pada air yang mengalir sebelum melakukan isi ulang. Kata Kunci A Kandungan Mikroba. Saus Tomat. Kecap Isi Ulang ABSTRACT Tomato sauce and refill soy sauce are food ingredients that are often used every day, both at home and in public places such as canteens, restaurants and so forth. But in everyday life, attention to the cleanliness of tomato sauce and soy sauce is sometimes ignored. This is certainly one of the factors in the declining level of public health when consuming tomato sauce and soy sauce which has been contaminated by various types of microbes. The purpose of this study was to determine the microbial content found in tomato sauce and soy sauce refill in canteen X in North Sulawesi in 2019. The method used in this study is a simple descriptive type of laboratory analysis to determine the presence of microbes and their types in tomato sauce and soy sauce refill. The results showed that the samples taken in canteen x using tomato sauce and soy sauce refill were positively contaminated with microbes, namely E. coli salmonella and kapang. Based on these studies it is expected that the canteen manager pays more attention to the presentation of tomato sauce and refill soy sauce. Bottles of ketchup and soy sauce should be in a clean and tightly closed place, cleaned in running water before refilling. KeywordsA Microbial Content in Tomato Sauce. Soy Sauce Refill. Bacterial E- Coli and Salmonella PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 PENDAHULUAN produk makanan hasil olahan, salah satunya Makanan merupakan salah satu dari tiga adalah saus tomat dan saus kecap. unsur kebutuhan pokok manusia. Selain Indonesia, tepatnya di Cirebon, sebuah kebutuhan sandang dan pangan. Sandang lembaga Survey Yayasan Perlindungan dan pangan menjadi kebutuhan pokok Konsumen mempublikasikan bahwa saus manusia keduanya berguna untuk memberi dan kecap yang diproduksi di Cirebon perlindungan bagi tiap manusia dalam diragukan kebersihannya. Dasar publikasi maupun dalam hubungan interaksi sosial didapatinya data bahwa sebanyak 80% satu dengan yang lain. Sementara makanan perusahaan membuat saus dan kecap merupakan sumber energi dan gizi bagi tradisional atau home industry disinyalir tidak aktivitasnya sehari-hari. Tanpa makanan, manusia tidak memiliki tenaga untuk bisa (Depke. melaksanakan berbagai rutinitasnya setiap Departemen Kesehatan Kantin merupakan salah satu tempat hari (Depkes RI, 2. untuk menikmati berbagai menu makanan. Makanan yang layak untuk dikonsumsi Selain itu, kantin juga menyediakan saus oleh setiap manusia adalah bahan makanan tomat dan kecap untuk melengkapi hidangan yang akan diolah terutama megandung meju yang disajikan, seperti bakso, soto dan protein hewani dalam keadaan baik dan sarimie telur. segar, yang segar dan tidak rusak, makanan Survey awal yang dilakukan pada kantin yang melalui proses pengolahan tidak diketahui bahwa saus tomat dan kecap isi berubah bentuk warna dan rasa, bahan ulang yang telah habis dalam botolnya akan diisi ulang kembali oleh pengelola kantin memenuhi persyaratan minimal makanan tanpa membersihkan botol saus terlebih sehat yang berlaku (Mukono, 2. Bila kantin tersebut jarang dikunjungi Makanan dapat tercemar oleh cemaran konsumen maka saus tidak akan diganti kimia dan cemaran biologi. Paling sering terjadi dalam keracunan makanan adalah cemaran yang disebabkan oleh cemaran seperti itu tanpa disadari oleh pengelola Cemaran biologi disebabkan oleh kantin dan juga konsumen dari kalangan berbagai bakteri seperti bakteri anaerob, konsumen, tentu telah memberi peluang Salmonella. Staphylococcus berkembangnya mikroba pada saus tomat aureus. Streptococcus faecalis. Vibrio dan dan kecap isi ulang tersebut. Berdasarkan lain sebagainya (Depkes, 2. uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk Shigella. Secara Salah satu produk makanan yang sering menganalisa kandungan cemaran mikroba disoroti oleh berbagai pihak adalah jenis pada saus tomat dan kecap isi ulang pada PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 kantin X disulawesi Utara Manado Tahun Buffer sampai 60ml. aduk hingga . Dengan menggunakan pipet steril BAHAN DAN METODE Bahan Penelitian pindahkan 1 ml suspense diatas kedalam larutan Buffer Phospaf Saus tomat isi ulang dan saus kecap isi . Lakukan pengenceran sampai di ulang,Nutrient Agar (NA)Potato Dextrose dapat pengenceran 102 dengan Agar (PDA). Mac Conkey Agar (MCA). SS garam fisiologi. Agar. Laktose Broth. Brilliant Green Lactose bile Broth (BGLB) 2%. Buffer Phospat. Pembiakan Sampel Nutrient agar. Gentien Violet 5%. Karbolfuchin. Lugol 1%, . Dari tiap pengenceran diatas di Alcohol 96% 25 ml dan dimasukkan ke dalam petridish. Peralatan Penelitian . Tuangkan sebanyak 22,5ml Nutrient Alat-alat yang digunakan adalah Autoclave. Incubator Timbangan/balance, agar ke dalam petridish tersebut Labu Erlenmeyer. Rak tabung reaksi. Lampu . Goyangkan Bunsen. Spidol. Tabung reaksi. Petri dish/ dan Agar tercampur merata. Objek Glass. Mikroskop. Pipet tetes, . Setelah agar membeku, balikkan Coloni Counter/penghitung koloni cawan petridish dan inkubasi pada Metode Penelitian suhu 30CC selama 2x24 jam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini . Hingga koloni yang tumbuh jenis bersifat deskriptif sederhana yaitu SS Agar . Ambil mengetahui adanya mikroba serta jenisnya Penetapan . Inkubasi pada suhu 37CC selama 2x24 jam. Prinsip A Pertumbuhan bakteri pada media . Amati koloni yang tumbuh. setelah diinkubasi pada suhu 37CC selama . Bila 2x24 jam. berwarna/bening, maka tersangka Pengenceran Salmonnella. 1,25g dimasukkan kedalam gelas ukur. SS Agar secara zig-zag. Metode A Pour Plate/Metode Tuang . Sampel . Goreskan pada permukaan media Angka Lempeng Total (ALT) pengenceran di atas pada saus tomat dan kecap isi ulang. Prosedur sedemikian rupa sehingga sampel cawan petri. Pipet ukutA 1 ml. Ose cincin dan PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 Mac Conkey Agar . Ambil Pipet sampel 10 ml, lalu masukkan ke tabung 1-5 pengenceran di atas. Goreskan pada permukaan media MC Agar secara zig-zag. Pipet 0,1 ml, lalu masukkan ke . Inkubasi pada suhu 37CC selama Masing-masing 2x24 jam. Amati koloni yang tumbuh . Bila Pipet 1 ml, lalu masukkan ke koloni berwarna merah jambu, bulat dan besar, maka Inkubasikan 37CC selama 2x24 jam tersangka E,coli. Hasil ( ) Penetapan Koloni Kapang terbentuknya gas pada tabung Prinsip A pertumbuhan kapang dalam media Durham yang cocok setelah diinkubasi pada suhu . Cara kerja sama seperti pada penetapan ALT. Hasil (-) berarti coliform negatif dan 25CC-30CC selama 5 hari . Pada Test penegasan Dari tiap tabung yang positif pada Patato test awal, dipindahkan 1-2 ose Dextrose Agar (PDA). Inkubasi pada suhu 25CC-30CC. kedalam tabung yang berisi 10 ml . Pada hari ke 5 dilihat pertumbuhan BGLG 2%. Dari masing-masing tabung penegasan diinokulasikan koloni, warna dan struktur. kedalam 2 seri. Koloni kapang biasanya buram. Satu seri tabung BGLB 2% di abu-abu, kehitaman dan seperti 37CC . Tegaskan koloni kapang dengan selama 2x24 jam untuk coliform. pemeriksaan di bawah mikroskop Satu seri tabung BGLG 2% lain . Bila diinkubasikan pada suhu 44CC spora/konodia, selama 2x48 jam untuk colefecal. strikmata berarti Aspergillus ( ). Cara Most 48 jam dengan melihat jumlah Probable Number (MPN) tabung BGLG yang menunjukkan Test Pendahuluan ( ) Siapkan 7 tabung reaksi yang masing-masing Pembacaan dilakukan setelah 24- dengan tabel MPN. Laktose Broth sebanyak 10 ml. PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis mikroba pada saus tomat isi ulang dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini Analisa Mikroba Pada Saus Tomat dan Kecap Isi Ulang Tabel 1 Hasil analisis Mikrobiologi Pada Saus Tomat Isi Ulang di Kantin Kode ALT MPN Coli Coli Salmonella Kapang Sampel Coliform Faecal (-) ( ) ( ) ( ) (-) ( ) ( ) ( ) terdapat 47 koloni dan positif bakteri E. Coli. Berdasarkan Tabel Salmonella, dan Kapang. bahwa ALT pada sampel 001 terdapat 26 Hasil analisis mikroba pada sampel kecap koloni dan dinyatakan positif adanya E,coli, isi ulang dapat dilihat pada Tabel 2 di Salmonella, bawah ini Kapang. Tabel 2 Hasil analisis Mikrobiologi Pada Kecap Isi Ulang di Kantin X Kode ALT Sampel MPN Coli Coliform Faecal Coli Salmonella Kapang (-) ( ) ( ) ( ) (-) ( ) ( ) ( ) Berdasarkan Tabel jambu, bulat dan besar (Supardi. Sukarmto. bahwa ALT pada sampel 001 terdapat 14 1. Salmonella karena pada sampel yang koloni dan dinyatakan positif bakteri E. Coli. Salmonella, sampel pada media SS Agar dengan terdapat 45 koloni dan positif bakteri E. Coli, inkubasi pada suhu 37CC selama 2x24 jam Salmonella, dan Kapang. ditemukan koloni tidak berwarna/bening Kapang. Berdasarkan (Supardi. Sukarmto. dan kapang ini laboratorium mikrobiologi maka didapat hasil disebabkan karena pada sampel yang bahwa saus tomat dan kecap isi ulang pada sampel pada media PDA dengan inkubasi kesehatan karena terdapat pertumbuhan pada suhu 25CC-30CC pada hari ke 5 koloni sebanyak 26 pada saus tomat, 14 ditemukan koloni berwarna buram, abu-abu, koloni pada kecap serta positif tercemar kehitaman seperti kapas. coli karena pada sampel yang di analisa Pada hasil penelitian Laboratorium setelah dilakukan pembiakan sampel pada diatas, dapat dilihat bahwa mikroba lebih media Mac Conkey Agar dengan inkubasi pada suhu inkubasi pada suhu 37CC selama 2x24 jam ditemukan koloni berwarna merah disebabkan oleh kadar air yang lebih banyak Hal PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 terkandung pada buah tomat dibandingkan seringkali mual dan muntah, demam dengan dengan kedelai. Pada buah tomat kadar suhu 30C-38CC umum terjadi. Gejala-gejala airnya sebanyak 94% sedangkan kedelai ini ada hubungannya endotoksin tahan panas yang dihasilkan oleh salmonella, merupakan flora normal didalam saluran gejala tersebut biasanya hilang dalam waktu pencernaan hewan dan manusia yang 2-5hari dan berakhir dengan kesembuhan si mudah mencemari air. Oleh karena itu, penderita (Palezer, 1. kontaminasi bakteri ini pada makanan Kapang dapat menghasilkan mikotoksin, biasanya berasal dari kontaminasi air yang salah satunya adalah Aflatoksin. Aflatoksin Alat-alat yang digunakan dalam dapat diproduksi oleh A. Flavus pada buah, biji-bijian, produk olahan dan rempah- terkontaminasi oleh E. coli yang berasal dari Manusia dengan A. Flavus ini apabila mengkonsumsi Kontaminasi ini pada makanan atau alat-alat makanan yang pengolahan merupakan suatu tanda praktek Keracunan aflatoksin dapat bersifat akut dan sanitasi yang kurang baik (Supardi, 1. coli dalam jumlah banyak bersama-sama hilangnya nafsu makan dan mudah terjadi tinja, akan mencemari lingkungan. Sedangkan kronis terjadi bila thermotoleran adalah strain E. coli yang telah aflatoksin termakan dalam dosis rendah dapat hidup pada suhu biakan 44,5CC dan selama bertahun-tahun. Tubuh tampak lesu, merupakan indikator pencemaran air dan lemah dan hlang nafsu makan. Aflatoksin makanan oleh tinja. Salmonella mungkin terdapat pada makanan perlakuan tidak mengurangi toksisitasnya. dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu Jalan terbaik adalah mencegah aflatoksin menimbulkan perubahan dalam hal warna, dalam bahan tersbeut. Tiga hal pokok dalam bau maupun rasa dari makanan tersebut. Manusia dan hewan merupakan sumber mengendalikan lingkungan tempat tumbuh, kontaminasi salmonella secara langsung maupun tidak langsung, bakteri ini berasal fungisid. dan pemakaian faktor resisten dari manusia atau hewan yang terserang alami komoditas bahan hasil pertanian. salmonellosis atau dari pembawa . (Makfoeld, 1. bakteri tersebut (Supardi, 1. Delapan sampai empat puluh delapan jam setelah makan makanan yang tercemar dengan salmonella timbul rasa sakit perut yang mendadak dengan diare encer atau berair, kadang-kadang dengan lender atau darah, mengandung aflatoksin. Gejala at PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 4 Mei 2024 DAFTAR PUSTAKA