Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Pembelajaran Sastra di SMA dalam Kurikulum Merdeka Mukh Doyin Universitas Negeri Semarang ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Kurikulum Merdeka memberikan Capaian Pembelajaran tiap-tiap fase (AF) untuk masing-masing elemen . enyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, dan menuli. Dari Capaian Pembelajaran yang telah dittetapkan dalam kurikulum tersebut, guru diberi kebebasan untuk menurunkannya menjadi tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia terbagi menjadi dua kemampuan, yaitu kemampuan yang bersifat reseptif dan kemampuan yang bersifat produktif. Untuk pembelajaran sastra di SMA (Fase E dan F), kemampuan reseptif berbentuk apresiasi sastra dan kemampuan produktif berbentuk ekspresi sastra dan kreasi sastra. Apresiasi sastra dapat diwujudkan dalam elemen menyimak, elemen membaca, dan elemen Ekspresi sastra dapat diwujudkan dalam bentuk elemen membaca(-ka. , elemen mempresentasikan, dan elemen menulis. Kreasi sastra, yang terdiri atas kemampuan re-kreasi dan kreasi itu sendiri, dapat diwujudkan dalam bentuk elemen berbicara . reasi lisa. dan elemen menulis . reasi tuli. Pembelajaran apresiasi sastra didasari oleh pengetahuan sastra . onsep-konsep dan sejarah sastr. pembelajaran ekspresi sastra dan kreasi sastra didasari oleh apresiasi DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Kemampuan Reseptif Produktif. Apresiasi Sastra. Ekspresi Sastra. Kreasi Sastra This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Mukh Doyin Univeristas Negeri Semarang Sekaran. Gunung Pati. Semarang. Jawa Tengah 50229. Indonesia PENDAHULUAN Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran literasi untuk berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial yang berfondasikan kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir (BSKAP, 2022: . Pembelajaran sastra, dengan demikian, merupakan salah satu bagian dari Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Karena Mata Pelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk membentuk keterampilan berbahasa reseptif . enyimak, membaca, dan memirs. dan keterampilan berbahasa produktif . erbicara, mempresentasikan, dan menuli. (BSKAP, 2022: . , pembelajaran sastra juga demikian, yakni diarahkan untuk membentuk kemampuan bersastra secara reseptif dan kemampuan bersastra secarag produktif. Kurikulum Merdeka diterapkan dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang terlalu teoretis (Tuerah, 2023: 979-. Oleh karena itu, pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah hanya Capaian Pembelajaran yang dipecah menjadi elemenelemen pembelajaran tiap fase, sementara untuk tujuan pembelajaran dan materi ajar diserahkan sepenuhnya kepada guru. Meskipun begitu, melalui Platform Merdeka Mengajar pemerintah tetap memberikan contoh cara menurunkan tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran dari capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan strategi terobosan terbaru untuk menghadapi keterpurukan dunia pendidikan pascapandemi COVID-19 dan ketertinggalan pendidikan Indonesia yang saat ini berada pada posisi ke-72 dari 77 negara (Prastiko dkk. , 2023: 68-. Secara umum kurikulum dapat dikatakan sebagai . seperangkat tujuan . oal atau objectiv. , . mata pelajaran atau konten . ontent goal. , . ontent goals teaching method. , . ontent goals methods assessmen. , dan . ontent goals methods assessment extracurcular activities and learning environment hidden curriculum culture. (Su, 2012: . Secara singkat Pratt . 0: . mengatakan bahwa di dalam sebuah kurikulum terkandung sebuah logistik yang berupa bahan, fasilitas, personal, waktu, dan biaya. Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang diterapkan pada seluruh Satuan Pendidikan di Indonesia juga mengandung hal-hal tersebut. Agar pendidikan dapat berhasil, muatan-muatan Kurikulum Merdeka yang kemudian terjabar dalam capaian pembelajaran dan elemen pembelajaran harus dikuasai secara benar oleh para guru supaya para guru tersebut mampu merumuskan tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran untuk masing-masing fase. Pembelajaran Indonesia berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial budaya Indonesia yang berfondasikan pada kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir (BSKAP, 2022: . Mata pelajaran Bahasa Indonesia membentuk kemampuan reseptif . enyimak, membaca dan memirs. dan kemampuan produktif . erbicara dan mempresentasikan, serta Dengan demikian, dapat dilihat bahwa pembelajaran sastra merupakan salah satu aspek yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakteristik pembelajaran sastra berupa kemampuan memahami, mengapresiasi, menanggapi, menganalisis, dan mencipta karya sastra (BSKAP, 2022: . Sastra bukanlah bagian dari bahasa, melainkan merupakan seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Sumardjo, 1988: . Jadi, sastra adalah bentuk kesenian. Hal ini sesuai dengan pendapat Koentjaraningrat . 4: . bahwa unsur kebudayaan secara universal terbagi menjadi tujuh macam, yaitu . sistem religi dan upacara keagamaan, . sistem dan organisasi kemasyarakatan, . sistem pengetahuan, . bahasa, . kesenian, . sistem mata pencaharian hidup, dan . sistem teknologi dan peralatan. Terlihat bahwa bahasa dan kesenian merupakan unsur yang sejajar dan berbeda dalam kebudayaan. Sebagai bagian dari seni, sastra merupakan ekspresi jiwa pengarangnya yang berfungsi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karena dapat membantu seseorang untuk mengekspresikan kemarahan, rasa sakit, dan rasa lelah (Pandia, 2023: Dalam konsep ini terlihat bahwa kehadiran pembelajaran sastra dimaksudkan untuk membentuk karakter siswa. Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, seorang guru Bahasa Indonesia harus mampu memahami hakikat pembelajaran sastra secara benar. Untuk itulah penelitian ini berusaha untuk mengklasifikasikan bentuk pembelajaran sastra yang terkandung dalam capaian pembelajaran dan elemen pembelajaran. Dengan maksud untuk melihat bentuk pembelajaran sastra secara mendalam, penelitian ini hanya dibatasi pada bentuk-bentuk pembelajaran sastra di SMA yang di dalamnya terbagi menjadi dua fase, yaitu Fase E . elas X) dan Fase F . elas XI dan kelas XII). Secara teoretis, asumsi yang dibangun adalah bentuk pembelajaran sastra di SMA memiliki kesamaan dengan bentuk pembelajaran sastra di fase-fase sebelumnya. Untuk itulah, meskipun hanya dengan melihat bentuk-bentuk pembelajaran sastra di SMA, pada dasarnmya kita juga bisa melihat bentukbentuk pembelajaran sastra di satuan pendidikan lain secara umum. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. Penelitian kepustakaan adalah penelitian terhadap pustaka yang berisi kumpulan materi mendalam tentang satu atau beberapa subjek (Young, 1983: . Kartono . 8: . mengatakan bahwa penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan cara membaca, menelaah, dan mencatat berbagai literatur atau bahan bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan, kemudian disaring dan dituangkan dalam kerangka pemikiran secara teoretis. Jadi, penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis literatur, yaitu bentuk penelitian yang menggunakan literatur sebagai objek kajian. Penelitian kepustakaan berfokus pada satu atau lebih subjek dan materi yang tersedia pada topik yang diambil yang biasanya lebih luas dan lebih mendalam daripada yang ditemukan orang-orang di perpustakaan umum (Cunningham, 2010: . Dengan demikian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur, yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian (Zed, 2008:. Sejalan dengan Mestika Zed. Corbin mengatakan bahwa pada intinya pelaksanaan penelitian kepustakaan meliputi tiga langkah, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan refleksi . 8: ix-. Fokus penelitian ini pada bentuk-bentuk pembelajaran sastra di SMA (Fase E dan Fase F), yang diasumsikan juga terlaksana di fase-fase sebelumnya. Dengan demikian, pada dasarnya yang ingin dicari adalah bentukbentuk pembelajaran sastra secara umum yang diberlakukan dalam Kurikulum Merdeka ini. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa kalimat atau pernyataan yang melukiskan bentukbentuk pembelajaran sastra. Data-data tersebut diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sebagai sumber data primer adalah Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Fase E dan Fase F berdasarkan elemen pembelajaran, sedangkan sumber data sekunder berupa contoh tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia Fase E dan Fase F yang terdapat di Platform Merdeka Mengajar yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek dan materi ajar yang terdapat dalam buku ajar Bahasa Indonesia untuk SMA yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi. Dalam analisis isi kualitatif, data disajikan dalam bentuk kata-kata dan tema, yang memungkinkan diinterpretasikan menjadi beberapa hal yang berbeda (Bengtsson, 2016: . Pada prinsipnya langkah analisis isi mencakupi perencanaan, pengumpulan data, dan analisis data (Bengtsson, 2016: 9-. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan capaian pembelajaran yang ada, bentuk pembelajaran sastra di SMA dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kemampuan sastra secara reseptif dan kemampuan sastra secara produktif. Kemampuan sastra secara reseptif berwujud kemampuan mengapresiasi karya sastra. Inti kemampuan apresiasi sastra adalah menikmati, memahami, dan menghargai karya sastra. Kemampuan itu diperoleh melalui tiga elemen, yaitu elemen menyimak, elemen membaca, dan elemen memirsa. Kemampuan sastra secara produktif ada dua macam, yaitu kemampuan berekspresi sastra dan kemampuan berkreasi sastra. Kemampuan berekspresi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berekspresi secara lisan dan berekspresi secara tertulis. Kemampuan berkreasi sastra juga berwujud dua cara, yaitu secara lisan dan secara tertulis, baik untuk kemampuan re-kreasi maupun kemampuan kreasi itu sendiri. Kemampuan re-kreasi berbentuk alihwahana karya sastra, yaitu mengubah karya sastra yang satu menjadi karya sastra yang lain atau mengubah karya sastra menjadi teks lain atau mengubah teks lain menjadi karya sastra. Kemampuan kreasi sastra secara lisan berbentuk menciptakan puisi atau prosa secara lisan, kemampuan kreasi tulis berbentuk menulis puisi, menulis prosa, atau menulis Pembelajaran apresiasi sastra didasari atau harus didahului oleh pengetahuan sastra. Pengetahuan sastra menyangkut konsep-konsep sastraAiseperti pengertian puisi, prosa, dan drama beserta unsur-unsurnya--yang dibutuhkan sebagai sarana apresiasi sastra dan sejarah sastra yang menyangkut karakteristik karya sastra setiap Pengajaran ekspresi sastra dan kreasi sastra didasari oleh apresiasi sastra. Pembahasan Kemampuan Reseptif Dalam Webster Dictionary . reseptif diartikan sebagai . terbuka dan responsif terhadap ide, kesan, atau saran dan . cocok untuk menerima dan menyampaikan rangsangan. Reseptif bisa diperoleh melalui indra pelihatan, bisa juga diperoleh melalui indra pendengaran atau gabungan keduanya. Kemampuan reseptif adalah kemampuan memahami apa yang dibaca . , didengar, dan dipirsa. Surkamp. dan B. Viebrock dalam bukunya Teaching English as a Foreign Language . mengatakan bahwa kemampuan reseptif mencakupi kemampuan reading, listening, dan viewing. Kemampuan reseptif dalam pembelajaran sastra berbentuk pembelajaran apresiasi sastra. Dalam Webster Dictionary . apresiasi diartikan sebagai . perasaan atau ungkapan kekaguman, persetujuan, atau rasa terima kasih. penilaian, evaluasi. kesadaran yang sensitif. Gove . alam Aminuddin, 2015: . memaknai apresiasi sebagai . pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan . pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Apresisasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi, 1982: . Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam aktivitas apresiasi terkandung proses menikmati, memahami, dan menghargai karya sastra. Menikmati karya sastra diartikan sebagai merasakan nilai keindahan karya sastra. memahami karya sastra diartikan sebagai mengetahui secara mendalam kandungan karya sastra. dan menghargai karya sastra diartikan sebagai menyikapi atau memperlakukan karya sastra secara baik. Terdapat tiga aktivitas dalam mengapresiasi karya sastra, yaitu penafsiran, analisis, dan penilaian (Juidah dkk, 2023:. Penafsiran bertujuan untuk memahami karya sastra yang disajikan. analisis bertujuan untuk membedah suatu karya sastra ke dalam unsur-unsur atau konvensi-konvensi penyusunnya. dan penilaian bertujuan untuk mengetahui derajat keindahan atau keberhasilan suatu karya sastra. Sebagai suatu proses dalam aktivitas apresiasi terkandung tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek emotif, dan aspek evaluatif (Squire dan Taba dalam Aminuddin, 2015: . Aspek kognitif terlihat dalam penetahuan tentang unsur-unsur yang ada dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Aspek Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi atau perasaan apresiator terhadap karya sastra, yaitu ketika apresiator memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan karya sastra. Aspek evaluatif berkaitan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap indahAetidak indahnya karya sastra dan baikAeburuknya karya sastra. Dalam Kurikulum Merdeka pembelajaran apresiasi sastra dapat dilakukan melalui tiga elemen berikut ini. Menyimak Di Fase E CP tentang apresiasi sastra dengan elemen menyimak berbunyi Aupeserta didik mampu perasaan, pandangan, arahan atau pesan yang akurat dari menyimak berbagai karya sastra dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. Wujud apresiasi sastra elemen menyimak dalam CP ini adalah menyimak berbagai karya sastra dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. Di sini siswa dapat menyimak orang baca puisi, mendongeng, bercerita, dan pembacaan cerpen. dialog dalam drama radio. dan gelar wicara yang berbentuk seminar atau diskusi tentang karya sastra. Di Fase F CP tentang apresiasi sastra elemen menyimak berbunyi Aupeserta didik mampu mengevaluasi logika berpikir dari menyimak berbagai jenis karya sastra dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. mengkreasi dan mengapresiasi gagasan dan pendapat untuk menanggapi teks yang disimak. Wujud apresiasi sastra elemen menyimak dalam CP ini adalah menyimak karya sastra dalam monolog, dialog, atau gelar wicara untuk dievaluasi guna memberikan tanggapan. Boleh dikatakan langkah ini adalah langkah untuk mendapatkan informasi yang akan digunakan sebagai bahan untuk menananggapi karya sastra yang disimak tersebut. Membaca Di Fase E CP tentang apresiasi sastra yang dilakukan melalui elemen membaca ada tiga macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengevaluasi informasi berupa gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari berbagai jenis teks, misalnya deskripsi, laporan, narasi, rekon, eksplanasi, eksposisi dan diskusi, dari teks visual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat. Wujud apresiasi satra elemen membaca dalam CP ini adalah mengevaluasi informasi yang diperoleh dari karya sastra yang dibaca. Kedua, peserta didik menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan simpati, peduli, dan/atau pro/kontra teks visual secara kreatif. Wujud apresiasi sastra elemen membaca dalam CP ini adalah menginterpretasi informasi yang diperoleh dari karya sastra yang dibaca. Ketiga, peserta didik menggunakan sumber lain untuk menilai akurasi dan kualitas data serta membandingkan isi karya sastra. Wujud apresiasi sastra elemen membaca dalam CP ini adalah menggunakan sumber lain . engan cara membac. untuk menilai akurasi dan kualitas data. Di sini berarti siswa harus membaca sumber untuk mencari bahan guna menilai akurasi dan kualitas data serta membandingkan isi karya sastra yang dibaca. Di Fase F CP tentang apresiasi sastra yang dilakukan melalui elemen membaca ada dua macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengevaluasi gagasan dan pandangan berdasarkan kaidah logika berpikir dari membaca berbagai karya sastra di media cetak. Wujud apresiasi sastra elemen membaca dalam CP ini adalah membaca berbagai karya sastra di media cetak. Kedua, peserta didik mampu mengapresiasi karya Wujud apresiasi sastra elemen membaca dalam CP ini adalah mengapresiasi karya sastra yang dibaca untuk memperoleh isi atau pesan yang terkandung dalam karya sastra yang dibaca. Memirsa Di Fase E CP tentang apresiasi sastra yang dilakukan melalui elemen memirsa ada tiga macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengevaluasi informasi berupa gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari teks audiovisual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat. Wujud apresiasi sastra elemen memirsa dalam CP ini adalah mengevaluasi teks audiovisual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat. Yang dimaksud teks audiovisual di sini adalah karya sastra yang disajikan secara audiovisual seperti musikalisasi puisi, dramatisasi cerpen, atau pementasan drama. Kedua, peserta didik menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan simpati, peduli, empati dan/atau pendapat pro/kontra dari teks audiovisual secara kreatif. Wujud apresiasi sastra elemen memirsa dalam CP ini adalah menginterpretasi informasi dari teks audiovisual, seperti musikalisasi puisi, dramatisasi cerpen, atau pementasan drama. Ketiga, peserta didik menggunakan sumber lain untuk menilai akurasi dan kualitas data serta membandingkan isi teks. Wujud apresiasi sastra elemen memirsa dalam CP ini adalah cara memperoleh teks yang akan diukur akurasi datanya atau dibandingkan isinya dapat dilakukan melalui memirsa peretunjukan karya sastra. Di Fase F CP tentang apresiasi sastra yang dilakukan melalui elemen memirsa ada dua macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengevaluasi gagasan dan pandangan berdasarkan kaidah logika berpikir dari memirsa karya sastra di media elektronik. Wujud apresiasi sastra elemen memirsa dalam CP ini adalah cara memperoleh karya sastra yang akan dievaluasi dapat dilakukan dengan memirsa pertunjukan karya Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X sastra di media elektronik. Kedua, peserta didik mampu mengapresiasi teks fiksi, dalam hal ini karya sastra. Wujud apresiasi sastra elemen memirsa dalam CP ini adalah cara memperoleh karya sastra yang akan diapresiasi dapat dilakukan dengan memirsa pertunjukan karya sastra di media elektronik. Kemampuan Produktif Dalam psikologi kemampuan produktif berarti penggunaan bahasa secara aktif untuk menyampaikan makna, pikiran, dan ide melalui berbagai bentuk komunikasi, seperti berbicara, menulis, dan isyarat nonverbal. Kemampuan berbahasa secara produktif adalah manifestasi luar dari pengetahuan linguistik yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara lebih efektif dengan orang lain. Kemampuan produktif berbentuk kemampuan berbicara . dan kemampuan menulis . (Zayniddinovna. Bekkulova Xojar & Xodjayorova Sayora Abdullaevna, 2021: . Kemampuan berbicara dan menulis merupakan kemampuan produktif yang bersifat verbal. Selain yang bersifat verbal kemampuan produktif juga dapat bersifat nonverbal, seperti gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Dalam pembelajaran sastra kemampuan produktif ditunjukkan melalui dua jenis kemampuan berikut ini. Kemampuan Berekspresi Dalam Webster Dictionary . ekspresi memiliki dua makna, yaitu . suatu perbuatan, proses, atau contoh penyajian dalam suatu media . eperti kata-kat. sesuatu yang memanifestasikan, mewujudkan, atau melambangkan sesuatu yang lain. suatu kata atau frasa yang bermakna. suatu simbol matematika atau logika atau gabungan simbol-simbol yang bermakna. dan efek yang dapat dideteksi dari suatu gen. Kemampuan berekspresi dalam sastra dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengungkapkan atau mengekspresikan makna dan perasaan yang terkandung dalam karya sastra. Pengekspresian makna dan perasaan ini dapat dilakukan melalui tulisan, pembacaan, dan pertunjukan. Mengekspresikan karya sastra memiliki dua makna, yaitu mengungkapkan perasaan yang dikandung oleh karya sastra dan mengungkapkan perasaan diri sendiri setelah berhadapan dengan karya sastra atau setelah mengapresiasi karya sastra. Ekspresi sastra dapat dilakukan secara lisan dan secara tertulis. Di Fase E CP ekspresi sastra berbunyi Aupeserta didik menginterpretasi informasi untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan simpati, peduli, empati dan/atau pendapat pro/kontra dari teks visual dan audiovisual secara kreatif. Wujud ekspresi sastra dalam CP ini adalah . mengungkapkan gagasan dan perasaan simpati, peduli, empati dari teks visual dan audiovisual secara kreatif dan . mengungkapkan pendapat pro/kontra dari teks visual dan audiovisual secara kreatif. Ekspresi sastra ini dapat diungkapkan secara lisan ataupun secara Di Fase F CP ekspresi sastra ada empat macam, yang bisa diekspresikan secara lisan maupun secara tertulis, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengkreasi dan mengapresiasi gagasan dan pendapat untuk menanggapi teks yang disimak. Wujud ekspresi sastra dalam CP ini adalah menanggapi teks . yang disimak. Kedua, peserta didik mampu menyajikan karya sastra secara kreatif dan menarik. Wujud penyajian karya sastra secara lisan adalah deklamasi, baca puisi, baca cerpen, bercerita, menceritakan kembali cerita, atau pementaskan drama. sedangkan wujud penyajian karya sastra secara tertulis adalah membuat sinopsis atau menuliskan kembali cerita. Ketiga, peserta didik mampu mengkreasi teks . sesuai dengan norma kesopanan dan budaya Indonesia. Wujud ekspresi lisan sastra dalam CP ini adalah musikalisasi puisi atau dramatisasi puisi/cerpen. sedangkan wujud ekspresi tulis sastra adalah menulis resensi atau menulis perbandingan karya sastra. Keempat, peserta didik mampu menyajikan dan mempertahankan hasil penelitian, serta menyimpulkan masukan dari mitra diskusi. Wujud ekspresi lisan dalam CP ini adalah menyajikan hasil penelitian sastra dan menyimpulkan masukan mitra diskusi. sedangkan wujud ekspresi tulisnya adalah menuliskan simpulan masukan dari mitra diskusi. Kemampuan Berkreasi Dalam Webster Dictionary . kreasi diartikan sebagai . tindakan menciptakan. tindakan membuat atau memproduksi. sesuatu yang diciptakan. Kreasi sastra adalah aktivitas untuk mencipta atau menghasilkan karya sastra. Kemampuan kreasi sastra seseorang dapat berwujud kemampuan mengungkapkan khayalan, perasaan, dan imajinasi ke dalam karya sastra, baik secara lisan maupun secara tertulis. Dalam aktivitas kreasi sastra ada dua kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu re-kreasi dan kreasi itu sendiri. Re-kreasi dapat diartikan sebagai upaya penciptaan kembali (Pitoyo, 2008: . , yang berarti menciptakan dari karya yang sudah ada, sedangkan kreasi dapat diartikan sebagai penciptaan karya sastra baru. Dalam bahasa yang sederhana dapat disebutkan bahwa re-kreasi berarti berangkat dari karya yang sebelumnya sudah ada, sedangkan kreasi berangkat dari sesuatu yang belum ada lalu menghasilkan sesuatu yang baru. Di Fase E kemampuan berkreasi siswa berwujud re-kreasi, kreasi lisan, dan kreasi tulis. CP re-kreasi teks lainnya untuk tujuan ekonomi kreatif. Wujud re-kreasi dalam CP ini adalah mengalihwahanakan karya Alihwahana adalah pemindahan atau pengubahan suatu teks menjadi teks lain (Damono, 2012: . Dalam Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X arti sempit pemindahan itu terjadi antarbentuk seni, seperti cerpen diubah menjadi puisi atau cerpen diubah menjadi drama. sedangkan dalam arti luas pengubahan itu dapat terjadi pada segala jenis teks menjadi teks yang berbeda (Doyin, 2014: . , seperti biografi menjadi puisi/cerpen, berita menjadi puisi/cerpen, atau cerpen menjadi iklan. CP kreasi lisan ada dua macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu mengungkapkan penghargaan secara kreatif dalam bentuk karya sastra. Ungkapan simpati, empati, peduli, dan pemberian penghargaan tersebut dapat disampaikan melalui pantun atau dongeng yang diciptakan secara spontan secara Kedua, didik mampu menerbitkan hasil tulisan di media digital. Wujud kreasi lisan dalam CP ini adalah menerbitkan tulisan tentang sastra di media digital. CP kreasi tulis ada dua macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, peserta didik mampu menulis gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan tertulis untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif dalam bentuk karya sastra. Kedua, peserta didik mampu menerbitkan hasil tulisan yang berupa karya sastra ke media Di Fase F kemampuan berkreasi siswa berwujud re-kreasi dan kreasi tulis. CP yang berbentuk re-kreasi Aupeserta mendekonstruksikan karya sastra untuk tujuan ekonomi kreatif. Ay Wujud re-kreasi dalam CP ini adalah memodifikasi/mendekonstruksikan karya sastra. Jadi, yang dimodifikasi atau didekonstruksi adalah karya sastra . rosa, puisi, dram. menjadi sesuatu yang diminati oleh masyarakat, misalnya dimodifikasi menjadi iklan, pengumuman, atau kata-kata mutiara. CP kreasi tulis ada dua macam, yaitu sebagai berikut. Pertama. Aupeserta Ay Wujud sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama, atau perpaduan duajenis karya sastra tersebut. Kedua, peserta didik mampu menerbitkan tulisan hasil karyanya di media cetak. Wujud kreasi tulis dalam CP ini adalah menerbitkan karya sastra yang ditulisnya ke media cetak. KESIMPULAN Pengetahuan sastra yang meliputi konsep-konsep dalam sastraAipengertian dan unsur-unsur karya sastraAidan sejarah sastraAikarakterisasi karya sastra dalam setiap periode--merupakan dasar dalam pembelajaran apresiasi sastra. Sebagai dasar ia bukanlah tujuan pembelajaran sastra melainkan sarana yang dibutuhkan untuk mencapai kemampuan apresiasi sastra. Secara teknis, pengetahuan sastra harus dikuasai siswa terlebih dahulu sebelum mengapresiasi karya sastra. Kemampuan apresiasi sastra menjadi dasar pembelajaran ekspresi sastra dan kreasi sastra. DAFTAR PUSTAKA