RUNGKAT : Ruang Kata Jurnal Inovasi Pembelajaran. Bahasa, dan Sastra Vol. No. September 2024, pp. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat || PENGARUH TERJADINYA KETIDAKADILAN GENDER DALAM NOVEL YUNI KARYA ADE UBAIDIL Heny Sulistyowati 1,*. Nisaul Barokati Selirowangi 2, *1 SD Negeri Wadang II Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Indonesia. 2 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan - Indonesia. 1 henysulistyowati819@gmail. 2 nisa@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 10-07-2024 Revised: 14-08-2024 Accepted: 10-09-2024 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terjadinya ketidakadilan gender dalam novel Yuni karya Ade Ubaidil. Ketidakadilan gender menjadi isu sosial yang kerap terjadi dalam kehidupan nyata dan direfleksikan dalam karya sastra. Novel Yuni menyoroti berbagai bentuk ketidakadilan yang dialami oleh tokoh utamanya. Yuni, seorang perempuan muda yang hidup dalam masyarakat yang masih kental dengan norma-norma patriarkal. Penelitian ini berfokus pada penggambaran ketidakadilan gender, termasuk diskriminasi, stereotip, subordinasi, dan kekerasan berbasis gender, serta dampaknya terhadap perkembangan karakter dan alur cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakadilan gender dalam novel Yuni sangat memengaruhi perkembangan karakter dan alur cerita. Yuni, sebagai tokoh utama, harus menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang menghalangi kebebasan dan pilihannya sebagai perempuan. Melalui karakter Yuni, novel ini berhasil menggambarkan kompleksitas ketidakadilan gender yang berakar dalam struktur sosial masyarakat patriarkal. Pengalaman Yuni tidak hanya mencerminkan pengalaman individu, tetapi juga merupakan kritik sosial terhadap ketidakadilan yang dialami oleh perempuan di masyarakat Indonesia. Kata Kunci: Ketidak Adilan Gender. Feminisme. Novel Yuni. ABSTRACT This research aims to analyze the influence of gender inequality in the novel Yuni by Ade Ubaidil. Gender inequality is a social issue that often occurs in real life and is reflected in literary works. Yuni's novel highlights various forms of injustice experienced by the main character. Yuni, a young woman who lives in a society that is still steeped in patriarchal norms. This research focuses on depictions of gender injustice, including discrimination, stereotypes, subordination, and genderbased violence, and their impact on character development and storylines. The research results show that gender inequality in Yuni's novel greatly influences character development and storyline. Yuni, as the main character, has to face various forms of injustice that hinder her freedom and choices as a woman. Through the character Yuni, this novel succeeds in depicting the complexity of gender inequality that is rooted in the social structure of patriarchal Yuni's experience not only reflects individual experiences, but is also a social criticism of the injustices experienced by women in Indonesian society. Kata Kunci: Gender Inequality. Feminism. Yuni's novel. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat rungkat@unisda. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. Pendahuluan Ketidakadilan gender merupakan salah satu isu sosial yang hingga kini masih menjadi perhatian di berbagai sektor kehidupan (Sutardi and Ernaningsih 2. Dalam banyak masyarakat, ketidaksetaraan gender terlihat dalam bentuk stereotip, marginalisasi, subordinasi, hingga kekerasan terhadap perempuan (Marzuqi. Darmawan, and Sulistiyorini Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga sering tercermin dalam karya-karya sastra. Sastra sebagai cerminan sosial memiliki peran penting dalam mengungkapkan realitas dan memberikan ruang bagi kritik terhadap ketidakadilan yang terjadi (Rohim and Rofiki 2. Novel Yuni karya Ade Ubaidil adalah salah satu karya sastra yang secara eksplisit menggambarkan fenomena ketidakadilan gender, khususnya yang dialami oleh perempuan dalam berbagai bentuk (Seliro Wangi and Wajdi 2. Isu ketidakadilan gender telah menjadi salah satu topik penting dalam diskusi sosial dan budaya modern. Ketidakadilan gender tidak hanya mencakup diskriminasi langsung terhadap perempuan, tetapi juga ketidaksetaraan dalam akses, peluang, dan perlakuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk di bidang pendidikan, ekonomi, dan budaya (Khulel 2. Dalam konteks sastra, penggambaran ketidakadilan gender sering kali mencerminkan realitas sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra sering digunakan sebagai medium untuk mengeksplorasi dan mengkritisi fenomena ketidakadilan tersebut (Bisarul Ihsan dan Aulia Zuhrufi Nafisa 2. Novel Yuni karya Ade Ubaidil merupakan salah satu contoh sastra kontemporer yang menyentuh isu-isu ketidakadilan gender secara mendalam. Novel ini menggambarkan perjalanan hidup Yuni, seorang perempuan muda yang harus menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk tekanan budaya dan ekspektasi patriarkal yang membatasi kebebasan dan pilihannya sebagai perempuan. Melalui tokoh Yuni. Ade Ubaidil menampilkan gambaran ketidakadilan gender yang sering terjadi di masyarakat, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam konteks sosial yang lebih luas. Penelitian ini berfokus pada analisis pengaruh ketidakadilan gender yang terjadi dalam novel Yuni. Hal ini penting untuk memahami bagaimana karya sastra dapat berperan dalam menyuarakan pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, serta bagaimana ketidakadilan tersebut mempengaruhi karakter, alur cerita, dan pesan moral yang disampaikan oleh penulis (Sukowati 2. Melalui pendekatan analisis gender, penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana ketidakadilan gender memengaruhi perkembangan tokoh utama dan bagaimana hal tersebut menggambarkan kondisi nyata dalam masyarakat. Urgensi penelitian ini juga didasari oleh pentingnya menyadarkan pembaca akan dampak dari ketidakadilan gender yang tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga menghambat kemajuan sosial secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mengkaji karya sastra, tetapi juga untuk memberikan kontribusi dalam diskursus kesetaraan gender melalui kajian sastra. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan analisis terhadap karya sastra yang belum banyak diangkat dalam kajian akademis, terutama dalam konteks novel Yuni. Meskipun isu ketidakadilan gender telah banyak dibahas dalam berbagai karya sastra, novel ini menghadirkan perspektif baru dengan penokohan dan alur cerita yang unik serta setting sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Penelitian ini memberikan sumbangsih dalam literatur kritik gender melalui studi yang mendalam terhadap tokoh-tokoh dalam novel serta bagaimana ketidakadilan gender memengaruhi pengembangan karakter dan dinamika sosial di dalam cerita. Analisis yang berfokus pada pengaruh ketidakadilan gender dalam novel ini menawarkan wawasan baru tentang cara karya sastra dapat berperan sebagai media kritik sosial dan transformasi kesadaran pembaca. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk mengkaji pengaruh terjadinya ketidakadilan gender dalam novel Yuni karya Ade Ubaidil. Pendekatan ini dipilih karena penelitian kualitatif memungkinkan untuk mengeksplorasi secara mendalam makna, tema, dan representasi yang terkandung dalam teks sastra. Melalui (Pengaruh Terjadinya Ketidakadilan Gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidi. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. metode deskriptif-analitis, penelitian ini akan memaparkan data secara sistematis terkait ketidakadilan gender dalam novel dan menganalisis pengaruhnya terhadap karakter, plot, serta pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Data utama dalam penelitian ini adalah teks novel Yuni karya Ade Ubaidil. Data sekunder meliputi berbagai literatur yang relevan seperti buku, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu mengenai analisis gender dalam karya sastra. Penelitian ini akan memfokuskan pada penggambaran ketidakadilan gender dalam bentuk diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, stereotip, dan kekerasan yang dialami oleh tokoh utama maupun tokoh-tokoh perempuan lainnya dalam novel. Penelitian ini akan menggunakan teori feminis sebagai kerangka analisis untuk memahami bagaimana isu ketidakadilan gender direpresentasikan dalam novel dan bagaimana pengaruhnya terhadap dinamika sosial dalam cerita. Hasil dan Pembahasan Faktor ketidakadilan gender terhadap perempuan dalam novel yuni karya Ade Ubaidil meliputi faktor budaya, faktor legal, dan faktor ekonomi. Berikut pemaparan terkait faktor ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh perempuan. Faktor Budaya Budaya yang menempatkan laki-laki pada posisi sebagai satu-satunya yang memiliki wewenang dalam masyarakat disebut patriarki. Budaya patriarki menjadi akar terjadinya dominasi . laki-laki terhadap perempuan. Akhirnya, perempuan hanya dianggap sebagai kelompok pengabdi dan segala sesuatu yang dilakukan oleh perempuan kurang dihargai atau tidak diperhitungkan. Budaya patriarki akan terus ada jika kita semhua tidak berusaha mengubahnya. Sejak dahulu, budaya patriaki sudah muncul dan dilakukan sejak Hal ini sesuai dengan data yang telah di temukan dalam Novel Yuni sebagai berikut. AuSelalu demikian, tidak pacaran. Menikah menghindari zina. Seperti semuanya sudah diatur tanpa pernah meminta persetujuanAy. (FKG/NY/. Pada kutipan di atas terdapat nilai-nilai agama yang kuat. Adanya penekanan pada pentingnya menghindari zina dan menjaga kesucian sebelum menikah menunjukkan pengaruh agama yang besar dalam kehidupan sosial masyarakat tersebut. Pola kawin tanpa pacaran. Dalam budaya tersebut, terdapat kecenderungan untuk menjalani proses pernikahan tanpa pengalaman pacaran sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya pernikahan dianggap lebih penting daripada proses pacaran. Pernyataan "seperti semuanya sudah diatur tanpa pernah meminta persetujuan" menunjukkan rasa hormat dan ketaatan terhadap tradisi serta otoritas yang dianggap memiliki kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat. Dibawah ini juga merupakan faktor budaya dari ketidakadilan gender terhadap perempuan. AuToh Perempuan tetap akan Kembali kedapur, jadi ibu, jadi istri. Lebih cepat lebih baikAy, (FKG/FB/NY/. Pernyataan pada kutipan "Toh Perempuan tetap akan kembali kedapur, jadi ibu, jadi istri" menunjukkan adanya penekanan pada peran tradisional perempuan sebagai ibu dan istri. Hal ini mencerminkan pandangan atau keyakinan bahwa perempuan memiliki peran utama sebagai pendukung keluarga dan menjalankan tugas domestik, khususnya di dapur. Kutipan "Lebih cepat lebih baik" mengisyaratkan adanya tekanan atau harapan untuk melaksanakan peran sebagai ibu dan istri secepat mungkin. Ini mungkin mencerminkan pandangan bahwa perempuan sebaiknya berfokus pada peran domestik mereka secepat mungkin setelah menikah atau memiliki anak. Kutipan diatas mengandung elemen budaya patriarki, di mana terdapat dominasi laki-laki dalam menentukan peran dan ekspektasi perempuan. Hal ini dapat menyebabkan ketidakadilan gender dan mengurangi kesetaraan dalam hak dan peluang antara laki-laki dan (Pengaruh Terjadinya Ketidakadilan Gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidi. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. AuAnak perempuan nggak baik main jauh-jauh. Yun. Apalagi sampai pulang larut malam. Mending di rumah, bantu-bantu Ndek,Ay (FKG/FB/NY/. Kutipan "Mending di rumah, bantu-bantu Ndek" menekankan peran tradisional perempuan sebagai pendukung keluarga dan pekerja rumah tangga. Pandangan ini menempatkan harapan pada perempuan untuk lebih berfokus pada tugas rumah tangga daripada beraktivitas di luar rumah. Pada kutipan tersebut mencerminkan adanya kontrol dan batasan terhadap kebebasan dan mobilitas anak perempuan. Pandangan ini mungkin mengakibatkan ketidakadilan gender, karena perempuan dapat merasa dibatasi dalam aksesnya untuk berpartisipasi dalam aktivitas di luar rumah atau mengejar aspirasi dan minat mereka. Adanya perbedaan perlakuan berdasarkan gender, di mana anak perempuan diberikan pandangan dan harapan yang berbeda dibandingkan anak laki-laki. Hal ini dapat menyebabkan ketidakadilan dalam hal peluang dan kebebasan untuk anak-anak. AuAnak sekarang mah kriterianya banyak, masih mikirin cocok apa nggak sagala. Kita mah dulu, mun teu cocok, ya dicocok-cocokin aja. Kan, di situ nilai pahalanya, ya,Ay AuLagian terima ajalah. Kalau belum cocok berarti kan emang udah takdirnya, tinggal cerai. Umur segitu saya udah nikah dua kali. Biasa aja, kan?" AuIya, dua, tiga kali baru cocok sih biasanya. Percaya deh, nih, sama yang udah empat kali,Ay (FKG/FB/NY/. Kutipan tersebut menggambarkan pandangan tentang pernikahan dan perceraian yang lebih ringan dan mudah untuk mengatasi masalah kecocokan dalam hubungan. Pemikiran ini bisa mempengaruhi cara masyarakat menangani masalah keberlangsungan hubungan pernikahan dan bagaimana mereka melihat pentingnya kecocokan dalam pasangan. Kutipan tersebut juga mencerminkan pandangan yang lebih fleksibel dalam mencari kecocokan dalam Memahami bahwa mencari pasangan yang cocok membutuhkan waktu dan pengalaman, serta menerima kemungkinan untuk mencoba beberapa kali sebelum menemukan pasangan yang sesuai. Ungkapan "Kalau belum cocok berarti kan emang udah takdirnya" menunjukkan keyakinan dalam peran takdir dan nasib dalam mencari pasangan hidup. Pandangan ini dapat memberikan rasa ketenangan dan penghiburan bagi individu yang belum menemukan pasangan yang tepat. Pernyataan tersebut mencerminkan norma dan nilai budaya tentang pernikah an, perceraian, dan pencarian kecocokan dalam hubungan. Pandangan ini mungkin mencerminkan cara masyarakat di lingkungan tertentu melihat dan mendekati hal- hal Dapat disimpulkan bahwa faktor budaya pada ketidakadilan gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidil yakni pentingnya perempuan menghindari zina dan menjaga kesucian sebelum menikah menunjukkan pengaruh agama yang besar dalam kehidupan sosial masyarakat tersebut. Pola kawin tanpa pacaran. Dalam budaya tersebut, terdapat kecenderungan untuk menjalani proses pernikahan tanpa pengalaman pacaran sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya pernikahan dianggap lebih penting daripada proses Perempuan memiliki peran utama sebagai pendukung keluarga dan menjalankan tugas domestik, khususnya di dapur. Faktor Legal Faktor legal dalam faktor ketidakadilan gender merujuk pada keberadaan atau ketiadaan peraturan hukum yang berdampak pada kesetaraan gender. Ketidaka` 11dilan gender juga dapat muncul jika hukum tidak memberikan perlindungan yang cukup bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan atau pelecehan berbasis gender. (Pengaruh Terjadinya Ketidakadilan Gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidi. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. Ketidaksetaraan dalam akses perempuan terhadap sistem peradilan, termasuk kesulitan untuk mengakses proses pengadilan atau sistem hukum, dapat menyebabkan ketidakadilan gender. Hal ini sesuai dengan data yang telah di temukan dalam Novel Yuni sebagai berikut. AuTerus lama-lama dia sering mukulin aku, sampai aku sempat traumaAy. AuYang aneh setelah kita cerai, akumalah diusir keluargaku. Karena menurut mereka aku lebay, dianggap nuduh mantan suamiku mukulin aku,Ay (FKG/FL/NY/. Faktor legal pada kutipan tersebut yang relevan adalah perlindungan hukum terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana undang-undang di negara atau wilayah tersebut mengakui dan menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi penting. Perlindungan hukum yang kuat untuk korban dapat membantu mencegah kekerasan lebih lanjut dan memberikan perlindungan bagi mereka yang mengalami kekerasan. Setelah perceraian, perlindungan hukum untuk mantan pasangan yang mengalami kekerasan juga menjadi penting. Ini melibatkan bagaimana sistem hukum memperlakukan kasus-kasus di mana mantan pasangan tetap mengalami ancaman atau kekerasan dari pihak mantan suami atau istri. Pernyataan kedua mencerminkan adanya hambatan dalam mengakses keadilan setelah Jika keluarga atau masyarakat menolak untuk mendukung atau mengakui pengalaman kekerasan yang dialami oleh mantan pasangan, maka korban bisa menghadapi kesulitan dalam mencari keadilan melalui jalur hukum. Faktor legal juga mencakup bagaimana hukum melindungi korban kekerasan, termasuk memberikan perlindungan sementara atau perintah penahanan bagi pelaku kekerasan. Hukum harus memberikan dukungan dan perlindungan yang cukup bagi korban agar mereka merasa aman dan dihormati. Selamjutnya dibawah ini juga terdapat kutipan tentang faktor AuTapi sekarang, dia jadi pendiem banget,Ay AuAda gosip juga katanya diperkosa,Ay (FKG/FL/NY/. Pada kutipan tersebut menyebutkan adanya gosip tentang dugaan perkosaan. Dalam konteks ini, faktor legal yang relevan adalah bagaimana sistem hukum mengatasi dan melindungi korban kekerasan seksual. Perlindungan hukum yang efektif sangat penting untuk memberikan dukungan kepada korban, menyelidiki kasus-kasus tersebut dengan serius, dan menuntut pertanggungjawaban bagi pelaku kekerasaan seksual. Kutipan pertama mencerminkan bahwa ada gosip atau komentar tentang perubahan perilaku seseorang . ijuluki sebagai "pendiem"). Dalam situasi ini, faktor legal yang relevan adalah bagaimana sistem hukum melindungi hak privasi dan mencegah pencemaran nama Jika gosip tersebut menimbulkan pencemaran nama baik atau pelanggaran privasi yang merugikan seseorang, maka sistem hukum harus dapat memberikan perlindungan terhadap hak-hak tersebut. Dapat disimpulkan bahwa faktor legal penyebab ketidakadilan gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidil dengan adanya ketidaksetaraan dalam akses perempuan terhadap sistem peradilan, termasuk kesulitan untuk mengakses proses pengadilan atau sistem hukum. Sistem hukum melindungi hak privasi dan mencegah pencemaran nama baik. Jika gosip tersebut menimbulkan pencemaran nama baik atau pelanggaran privasi yang merugikan seseorang, maka sistem hukum harus dapat memberikan perlindungan terhadap hak-hak tersebut. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi dalam ketidakadilan gender mencakup berbagai hal yang menyebabkan kesenjangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki. Dalam beberapa masyarakat, perempuan mungkin menghadapi hambatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Tingginya angka kemiskinan di antara perempuan, terutama di negara-negara (Pengaruh Terjadinya Ketidakadilan Gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidi. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. berkembang, adalah indikasi lain dari ketidakadilan ekonomi yang dialami oleh perempuan. Semua faktor ekonomi ini berkontribusi pada ketidakadilan gender dalam berbagai aspek kehidupan dan masyarakat. Untuk mengatasi ketidakadilan ini, diperlukan upaya untuk menghapuskan diskriminasi gender dalam akses ekonomi, memastikan upah yang setara untuk pekerjaan yang setara, memperkuat pendidikan dan pelatihan bagi perempuan, serta memberikan dukungan yang lebih besar bagi kesejahteraan ekonomi perempuan secara Hal ini sesuai dengan data yang telah ditemukan dalam Novel Yuni sebagai AuWah, keren. Ibu bakal cari uang buat biayain Yuni jadi dokterAy (FKG/FE/NY/. Pernyataan kutipan di atas tersebut menunjukkan ambisi untuk mendukung Yuni dalam mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Ini mencerminkan pentingnya dukungan finansial dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan karier seseorang, terutama dalam konteks menjadi seorang dokter yang memerlukan biaya pendidikan yang tinggi. Kutipan ini menyoroti peran ibu dalam upaya untuk mencari uang guna membiayai pendidikan anaknya. Hal ini mencerminkan bagaimana peran perempuan dalam keluarga sering kali juga berkontribusi pada aspek ekonomi dan pendidikan anak-anak mereka. Pernyataan tersebut menunjukkan kesadaran akan keterbatasan ekonomi yang dapat mempengaruhi akses pendidikan, terutama di profesi yang memerlukan biaya tinggi seperti menjadi dokter. Faktor ekonomi dapat menjadi penghalang bagi banyak individu dalam mengejar pendidikan tinggi. Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana keluarga seringkali saling tergantung dalam hal dukungan finansial untuk mencapai tujuan bersama, termasuk pendidikan anakanak. Kondisi ekonomi keluarga dapat mempengaruhi kesempatan pendidikan yang dimiliki anggota keluarga. AuSi Arif beja ku aing aman. Dia oge pernah ka ditu. Eh, dasar keur apes,Ay Autiba-tiba rame warga datang langsung ngancem, seolah-olah aing jeung Arif ngges macemmacem,". "Sakabehna ngancem, mun aing teu ngabere cicis, bakalan ngalapor ka polisi. Arif dipentaan 500 ribu bakal tutup mulut. Sok, ti mana aing jeung Arif boga cicis sakitu?". (FKG/FE/NY/. Pernyataan kutipan tersebut mencerminkan kondisi ekonomi yang sulit, di mana orangorang dalam cerita merasa terpaksa untuk mencari uang dengan cara- cara yang tidak adil atau Kekurangan sumber daya keuangan dapat membuat individu rentan menjadi sasaran pemerasan atau ancaman. Kondisi ekonomi yang sulit dapat membuat korban menjadi rentan terhadap eksploitasi dan pemerasan oleh pihak lain. Mereka yang menghadapi kesulitan keuangan mungkin menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang berusaha memanfaatkan situasi tersebut. AuPokoknya. Ibu sama Bapak nggak setuju kalau kamu jadi TKW kayak Teh Asih. Nggak usah jadi pembantu, cukup Ibu sama Bapak aja,Ay AuAtau mau nerusin ke pesantren? gak apa apa juga YunAy AuKalau bapak gimana bu?Ay AuBapak kan, pengennya kamu lanjut kuliah. Yun. Biar jadi pegawaiAy (FKG/FE/NY/. Pada kutipan tersebut plihan karier atau pekerjaan dapat dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi dari orang tua. Bapak menginginkan anaknya menjadi pegawai, yang mungkin berarti memiliki pendapatan yang stabil dan terjamin, sedangkan ibu mungkin lebih khawatir dengan pilihan karier yang melibatkan pekerjaan seperti menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanit. atau pembantu, yang mungkin dianggap memiliki risiko dan ketidakpastian finansial. Dapat disimpulkan bahwa faktor ekonomi ketidakadilan gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidil yang mana perempuan sering menghadapi hambatan dalam mengambil keputusan (Pengaruh Terjadinya Ketidakadilan Gender dalam Novel Yuni Karya Ade Ubaidi. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. September 2024, pp. ekonomi, terutama dalam hal kepemilikan dan kontrol atas aset dan harta, termasuk tanah dan Serta faktor ekonomi dapat menjadi penghalang bagi banyak orang dalam mengejar pendidikan tinggi. Kondisi ekonomi yang sulit dapat membuat seseorang menjadi rentan terhadap eksploitasi dan pemerasan oleh pihak lain. Mereka yang menghadapi kesulitan keuangan mungkin menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang berusaha memanfaatkan situasi tersebut. Simpulan Faktor ketidakadilan gender yang ditemukan dalam penelitian ini yakni faktor budaya, faktor legal, dan faktor ekonomi. Faktor budaya yakni pentingnya perempuan menghindari zina dan menjaga kesucian sebelum menikah. Perempuan memiliki peran utama sebagai pendukung keluarga dan menjalankan tugas domestik, khususnya di dapur. Pada faktor ini ditemukan empat data. Faktor legal dengan adanya ketidaksetaraan dalam akses perempuan terhadap sistem peradilan, termasuk kesulitan untuk mengakses proses pengadilan atau sistem hukum. Pada faktor ini ditemukan dua data. Faktor ekonomi yang mana perempuan sering menghadapi hambatan dalam mengambil keputusan ekonomi, terutama dalam hal kepemilikan dan kontrol atas aset dan harta, termasuk tanah dan properti. Serta faktor ekonomi dapat menjadi penghalang bagi banyak orang dalam mengejar pendidikan tinggi. Pada faktor ini ditemukan tiga data. Daftar Pustaka