Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Reni et al. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 DETERMINAN KINERJA PELATIHAN DALAM PENINGKATAN KAPASITAS KEWIRAUSAHAAN PEMUDA PEDESAAN: STUDI KASUS JAWA BARAT Determinants of Training Performance for Strengthening Rural Youth Entrepreneurial Capacity: The Case of West Java Reni Suryanti1*. Maesti Mardiharini2 Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor. Bogor. Indonesia, 16119 Badan Riset dan Inovasi Nasional. Jakarta. Indonesia, 12710 ABSTRAK Kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan dalam mengelola agribisnis relatif masih rendah, padahal mereka merupakan generasi penerus yang diharapkan dapat memperkuat sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kinerja pelatihan yang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dilaksanakan pada Tahun 2022 di empat kabupaten di Jawa Barat, yaitu di Kabupaten: Sukabumi. Cianjur. Subang, dan Tasikmalaya. Jumlah responden sebanyak 144 orang pemuda pedesaan yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur sepuluh indikator kinerja pelatihan dan tiga dimensi kapasitas kewirausahaan . engetahuan, sikap, dan keterampila. Analisis data menggunakan Structural Equation Modeling dengan Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menguji hubungan kausal antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sepuluh indikator yang diuji, terdapat lima determinan kinerja pelatihan yang berpengaruh signifikan terhadap kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan, yaitu peran pelatih, kesesuaian materi, kesesuaian metode, pengelolaan sarana prasarana, dan peran aktif pemuda. Temuan ini mengimplikasikan bahwa efektivitas pelatihan kewirausahaan pemuda pedesaan tidak hanya ditentukan oleh konten materi, tetapi juga oleh kualitas pelatih, metode pelatihan yang interaktif, dukungan sarana prasarana yang memadai, serta partisipasi aktif Peran pelatih sebagai faktor paling signifikan, mengindikasikan bahwa pendekatan mentorship yang personal dan kemampuan pelatih dalam memotivasi serta menjadi role model sangat penting bagi generasi milenial pedesaan. Hasil penelitian ini merekomendasikan strategis bagi penyelenggara pelatihan dan pembuat kebijakan dalam merancang program pelatihan kewirausahaan yang lebih efektif untuk meningkatkan kapasitas pemuda pedesaan di sektor pertanian. Kata kunci: determinan kinerja pelatihan, kapasitas kewirausahaan, pemuda pedesaan. Jawa Barat ABSTRACT The entrepreneurial capacity of rural youth in managing agribusiness remains relatively low, despite their role as the next generation expected to strengthen the agricultural sector. This study aims to identify the determinants of training performance that significantly influence the improvement of rural youth entrepreneurial capacity. The research was conducted using quantitative and qualitative approaches, carried out in 2022 across four districts in West Java, namely in the Regencies of Sukabumi. Cianjur. Subang, and Tasikmalaya, with 144 respondents who had participated in entrepreneurship training. Data were collected using questionnaires measuring ten indicators of training performance and three dimensions of entrepreneurial capacity . nowledge, attitude, and skill. Data analysis employed Structural Equation Modelling with Partial Least Squares (SEM-PLS) to test causal relationships among variables. The results revealed that five out of ten indicators significantly affected rural youth entrepreneurial capacity: trainer role, material relevance, method suitability, facility management, and youth participation. These findings Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. highlight that the effectiveness of rural youth entrepreneurship training is not only determined by the training content but also by the quality of trainers, interactive methods, adequate facility support, and active participant engagement. The role of trainers as the most significant factor suggests that a personal mentorship approach, combined with the coach's ability to motivate and serve as a role model, is crucial for the rural millennial generation. The study provides strategic recommendations for training organizers and policymakers in designing more effective entrepreneurship training programs to enhance rural youth capacity in the agricultural sector. Keywords: Entrepreneurship Capacity. Determinants of Training Performance. Rural Youth Developmen. West Java. Indonesia @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal, https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-Agr-Sosekpenyuluhan/article/view/683 Received 5 Oktober 2025 Accepted 28 December 2025 Published Online 31 December 2025 * Email Korespondensi: yreni029@gmail. PENDAHULUAN Rendahnya kapasitas kewirausahaan petani muda merupakan permasalahan yang akan mengancam sektor pertanian Indonesia. Hal ini disebabkan pertanian Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pemuda tani dalam menjalankan usaha tani. Kondisi ini tercermin secara empiris dari struktur demografi petani di Indonesia. Sekitar 67,5% petani berusia di atas 45 tahun, dan hanya 16,3% yang berusia di bawah 35 tahun (Badan Pusat Statistik, 2. Angka ini mengindikasikan lemahnya regenerasi pelaku usaha pertanian sekaligus rendahnya daya tarik sektor agribisnis bagi generasi muda. Pada sisi lain, penelitian Anwarudin et al. , salah satu faktor kritis yang menghambat keterlibatan pemuda dalam agribisnis di atas, adalah rendahnya kapasitas kewirausahaan yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam mengelola usaha pertanian. Penelitian ini menunjukkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan umumnya pada tingkat sangat rendah dan rendah . , 50%). Apabila permasalahan kapasitas tidak diatasi maka pertanian Indoensia akan dijalankan oleh petani muda yang memiliki kapasitas kewirausahaan yang rendah. Pengembangan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan merupakan prasyarat penting dalam menciptakan regenerasi petani yang profesional dan berdaya saing. Penelitian Mardiharini et al. menyatakan bahwa kapasitas petani muda menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha tani di masa depan. Dalam konteks ini, pelatihan kewirausahaan menjadi strategi penting untuk meningkatkan minat dan kemampuan pemuda dalam mengelola agribisnis. Terkait dengan pelatihan, disampaikan oleh Ismaiel et. bahwa pelatihan merupakan proses belajar mengajar yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Berbagai program pelatihan bagi pemuda di pedesaan, khususnya terkait topik kewirausahaan telah dilaksanakan oleh pemerintah, seperti Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Namun demikian, efektivitasnya dalam meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan masih perlu dievaluasi secara komprehensif. Berdasarkan hasil penelitian Simoes dan Brito . , terdapat kesenjangan antara desain program pelatihan dan kebutuhan riil pemuda pedesaan. Rujukan lain menjelaskan, beberapa aspek kinerja pelatihan seperti peran pelatih, kesesuaian materi, dan metode pelatihan belum secara optimal dikembangkan (Kementan, 2. Penelitian sebelumnya cenderung hanya fokus pada aspek konten materi pelatihan, dan belum mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual yang memengaruhi efektivitas pelatihan bagi pemuda pedesaan (Puryantoro, 2. Gap pengetahuan ini semakin kritis mengingat karakteristik generasi milenial yang memiliki ketergantungan tinggi pada teknologi informasi namun cenderung memiliki kemampuan bersosialisasi yang rendah. Klibler et al . menjelaskan bahwa karakteristik generasi milenial sangat terikat dengan internet namun memiliki tingkat kosmopolit yang relatif rendah Kondisi ini memerlukan pendekatan pelatihan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dari perspektif teoritis, pelatihan merupakan proses pendidikan nonformal yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas individu melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Coulter, 2004 dan Sastradipoera, 2. Dalam konteks pemuda pedesaan. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. kapasitas kewirausahaan dipahami sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi peluang, mengambil risiko terhitung, dan mengelola sumber daya dalam mengembangkan agribisnis (Anwarudin et al. , 2. Berdasarkan teori pelatihan dari Hamalik . , efektivitas pelatihan ditentukan oleh beberapa unsur utama termasuk kualitas pelatih, kesesuaian materi, metode pelatihan, dan partisipasi aktif peserta. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kinerja pelatihan yang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan model pelatihan kewirausahaan yang kontekstual bagi pemuda pedesaan, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi penyelenggara pelatihan dan pembuat kebijakan dalam merancang program yang lebih efektif. MATERI DAN METODE Landasan teori dan pendekatan penelitian Pelatihan kewirausahaan untuk pemuda di pedesaan paling kuat ketika menggabungkan teori kewirausahaan klasik, modal manusia dan modal sosial, dengan ekosistem agribisnis lokal. Kerangka teoritis kewirausahaan yang klasik adalah tentang inovasi dan pertumbuhan, atau dikenal sebagai AuSchumpeterian entrepreneurshipAy yang dikembangkan oleh Schumpeter pada tahun 1911 (Zledzik 2. , yang menempatkan wirausahawan . sebagai motor penggerak inovasi dalam ekonomi. Menurutnya, dinamika inovasi itulah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui siklus inovasi, adopsi, dan penggantian teknologi lama. Sementara itu, teori modal manusia yang dikembangkan oleh Melton . , memandang bahwa pendidikan, pelatihan, dan kesehatan sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas individu. Teori tersebut kemudian diperkaya lagi menjadi teori modal sosial yang dikembangkan oleh Siisiainen, 2003, yang menurutnya modal sosial mencakup jaringan hubungan, norma, dan kepercayaan yang memfasilitasi kerja sama dan aksi kolektif dalam masyarakat. Melengkapi teori di atas. Rossi and Sengupta . memperkenalkan konsep tentang kapasitas kewirausahaan sebagai mediator antara performa individu/kelompok/perusahaan dengan sumber daya, dan hasilnya menunjukkan bahwa sumber daya internal . isalnya, teknologi dan SDM) hanya meningkatkan kinerja jika dikonversi melalui kapasitas kewirausahaan. Berdasarkan landasan teori dan konsep di atas, maka kerangka penelitian kinerja pelatihan dalam upaya meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan menekankan pada penguatan karakteristik individu . endidikan, akses pada teknologi informasi, persepsi, dan motivas. , serta peran penyuluh, norma sosial, dan kebijakan daerah yang mendorong aktivitas agribisnis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang diperkaya dengan informasi kualitatif. Pendekatan yang dilakukan melalui survei lapang dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, serta Focus Group Discussion (FGD) menggunakan kuesioner semi terstruktur Berdasarkan landasan teori dan konsep yang telah diuraikan, kerangka penelitian mengenai kinerja pelatihan dalam meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan dirancang untuk menganalisis interaksi antara penguatan karakteristik individu, meliputi tingkat pendidikan, akses teknologi informasi, persepsi, dan motivasi, serta faktor eksternal seperti peran penyuluh, norma sosial, dan kebijakan daerah yang mendukung pengembangan agribisnis. Untuk menguji kerangka konseptual ini secara komprehensif, penelitian ini mengadopsi pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur variabel kuantitatif, dilengkapi wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) berpanduan semi-terstruktur guna mengeksplorasi dinamika sosial, persepsi subyektif, serta tantangan implementasi kebijakan yang tidak terukur secara numerik. Kombinasi ini memastikan validitas temuan sekaligus memberikan gambaran holistik tentang efektivitas pelatihan dalam konteks pedesaan. Pemilihan lokasi, waktu penelitian, dan teknik pengumpulan data Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi. Cianjur. Subang dan Tasikmalaya. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive berdasarkan wilayah pelaksanaan pelatihan pemuda pedesaan yang diselenggarakan oleh Politeknik Pembangunan Pertananian Bogor (Polbangtan Bogo. di lokasi tersebut. Penelitian ini dilakukan mulai Bulan Mei sampai dengan Desember Tahun 2022. Populasi penelitian adalah pemuda tani yang mendapatkan program pelatihan yang dilaksanakan oleh Polbangtan Bogor di empat kabupaten tersebut. Jumlah populasi sebanyak 7. 998 orang, sementara responden dipilih secara proposional dan acak sederhana dari setiap kabupaten. Total responden dari keempat kabupaten sebanyak 144 orang pemuda tani yang telah mengikuti program pelatihan. Jumlah responden disesuikan dengan jumlah indikator yang digunakan dalam kerangka pikir penelitian, yakni Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. sebanyak 22 indikator. Mengacu pada ketentuan dalam penggunaan SEM, bahwa jumlah responden sebaiknya mencapai lima sampai dengan sepuluh kali jumlah indikator dalam kerangka pikir, sehingga jumlah responden peserta minimal adalah 110 responden. Dengan demikian jumlah responden dalam penelitian ini . mencukupi untuk dilakukan analisis dengan SEM. Jenis dan metoda analisis data Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden dengan menggunakan instrument kuesioner. Data primer meliputi variabel kinerja pelatihan (X), dengan 10 indikator, yaitu: pendidikan non formal (X 1. , penguasaan IT (X1. , tingkat kosmopolit (X1. kebijakan pemerintah (X1. , nilai sosial (X1. , peran pelatih (X1. , kesesuaian materi (X1. , kesesuaian metode (X1. , pengelolaan sarana prasarana (X1. , dan peran aktif peserta/pemuda (X1. Sementara itu, variabel Y adalah Kapasitas kewirausahaan yang terdiri dari tiga indikator yaitu: tingkat pengetahuan (Y 1. sikap (Y1. dan keterampilan (Y1. Data yang terkumpul merupakan data kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif yang terkumpul kemudian dikuantitatifkan menggunakan skala ordinal, sesuai skala likert yang disesuaian menggunakan penilaian angka 1 sampai dengan 4. Nilai 1 = sangat lemah . angat tidak setuj. 2 = lemah . idak setuj. 3 = kuat . dan 4 = sangat kuat . angat setuj. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensia menggunakan Structural Equation Model (SEM) Ae Partial Least Square (PLS). Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat kapasitas kewirausahaan peserta dan kinerja pelatihan. Analisis SEM-PLS digunakan untuk mengetahui determinan faktor-faktor kinerja pelatihan dalam meningkatan kewirausahaan peserta pelatihan, serta merumuskan strategi pelatihan ke depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kinerja Pelatihan Kinerja pelatihan direfleksikan dari beberapa variabel yakni pendidikan non formal (X1. penguasaan IT (X1. , tingkat kosmopolit . , kebijakan pemerintah (X1. , nilai sosial (X1. , peran pelatih (X1. , kesesuaian materi (X1. , kesesuaian metode (X1. , pengelolaan sarana prasarana (X1. peran aktif peserta/pemuda (X. Tingkat kinerja pelatuhan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Pendidikan non formal dan penguasaan IT Responden No. Variabel Pendidikan non-formal . elatihan yang pernah diikut. (X1. Rata-rata jumlah pelatihan yang diikuti Menurut kelompok (%) Belum pernah ikut pelatihan 1-2 jenis pelatihan 3 jenis pelatihan Lebih 3 pelatihan Jenis pelatihan yang diikuti (%) 1-2 jenis pelatihan 3 Ae 4 Jenis Pelatihan > 4 Jenis Pelatihan Penguasaan teknologi informasi/IT (X1. Penguasaan jenis alat IT (%) Tidak punya 1 Ae 2 jenis 3 Ae 4 jenis > 5 jenis Intensitas koneksi internet (%)) Tidak pernah Sebulan sekali Seminggu sekali Setiap hari Frekuensi (%) 4,86 67,36 22,92 4,86 66,67 19,44 13,89 4,64 95,36 5,30 10,60 4,64 79,47 Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 No. Variabel Jenis penggunaan (%) Hanya untuk komunikasi pribadi . elp/vide. Komunikasi pribadi dan grup . iskusi usaha & pemecahan Komunikasi pribadi/grup, dan aktif mencari informasi positif di media sosial Komunikasi pribadi/grup,aktif mencari informasi/ konfirmasi kepada sumber kompeten Tingkat kosmopolit (X1. Reni et al. Frekuensi (%) 24,50 29,14 20,53 25,83 42,38 27,81 16,56 13,25 56,95 19,21 11,92 11,92 Intensitas pergi ke pusat kota (%) < 1 kali sebulan 1 Ae 2 kali sebulan 3 Ae 4 kali sebulan > 4 kali sebulan Intensitas bertemu/menerima tamu dari kota (%) < 1 kali sebulan 1 Ae 2 kali sebulan 3 Ae 4 kali sebulan > 4 kali sebulan Tabel 1 menunjukkan bahwa responden memilki tingkat pendidikan non formal yang telah Rata- rata responden telah mengikuti pelatihan sebanyak dua kali dengan jenis pelatihan 2 atau 3 jenis latihan. Hanya 4,86% responden yang belum pernah mengikuti pelatihan. Beberapa literatur menyatakan bahwa pelatihan merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas individu melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi kerja. Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa pelatihan yang dirancang secara sistematis dan berorientasi pada kebutuhan pasar kerja terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pembelajaran sepanjang hayat (OECD, 2021. World Bank, 2020. UNESCO, 2. Peserta pelatihan adalah pemuda yang telah terbiasa menggunakan alat komunikasi. Terlihat dari Tabel 1 bahwa peserta dominan menguasai 3 atau 4 alat IT. Intensitas penggunaan IT juga cukup tinggi. Penguasaan informasi teknologi dan komunikasi peserta cenderung baik, semua peserta memiliki perangkat IT dan umumnya terkoneksi dengan internet setiap hari. Kondisi ini menggambarkan karakteritik milenial yang sangat terikat dengan internet (Kilber et al. , 2. Penggunaan alat komunikasi tersebut sangat beragam mulai dari untuk komunikasi pribadi, media sosial dan mencari informasi. Pemanfaatan terbanyak adalah untuk komunikasi pribadi dan media sosial. Hal ini sesuai dengan rekomendasi penelitian Dong et , . bahwa strategi pendidikan harus mengintegrasikan pendekatan sosial, psikologis, dan digital untuk mendukung perkembangan positif pemuda. Hal berbeda terlihat dari tingkat kosmopolit, intensitas peserta untuk pergi keluar wilayahnya atau menerima tamu dari kota cenderung rendah. Ketergantungan milenial dengan internet dan kecemderungan mereka menggunakan transaksi secara on line (Kilber et al. , 2. menyebabkan milenial enggan melakukan perjalanan keluar wilayah domisili mereka. Secara efektif mereka dapat memenuhi kebutuhannya secara on line sehingga gerak mereka ke luar wilayahnya cenderung rendah. Walaupun disisi lain diidentifikasi milineal memiliki karakteristik menyukai traveling sebagai wujud dari eksistensinya (Kilber et al. , 2. Tapscott . menyatakan bahwa generasi milenial memiliki kemampuan bersosialisasi rendah, ini dapat menjadi alasan temuan bahwa responden memiliki tingkat kosmpolitan yang Temuan ini mengkonfirmasi bahwa meski pemuda milenial memiliki keterhubungan digital tinggi, keterlibatan sosial berbasis komunitas di dunia nyata masih perlu diperkuat agar tidak melemahkan social capital pedesaan (Dong et al. , 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa pemerintah daerah dinilai berperan tinggi dalam pelatihan pemuda Dominan responden . ,42%) menyatakan bahwa pemerintah berperan dalam persiapan, pelaksanaan, dan pendampingan setelah pelatihan. Peran tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang dianggap oleh peserta sesaui dengan kebutuhan sasaran pelatihan . ,44%). Peran pemerintah sangat diperlukan dalam mencapai keberhasilan kegiatan pelatihan. Hermawan & Yunita . menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan pemuda sangat ditentukan oleh keterlibatan pemerintah, khususnya melalui pendampingan pasca-pelatihan agar hasil pembelajaran dapat terimplementasi dalam praktik usaha. Kondisi ini juga sejalan dengan temuan Hastuti et al. yang menyatakan sinergi antara dukungan struktural Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. pemerintah dan konteks sosial budaya lokal menjadi kunci agar program pelatihan tidak hanya berhasil pada tahap pelaksanaan, tetapi juga berdampak pada peningkatan kapasitas kewirausahaan jangka panjang. Kebijakan pemerintah terkait pelatihan yang diikuti dengan pendampingan, terbukti menghasilkan output pelatihan yang lebih baik (Yoana et al, 2. Peran penting pemerintah dinyatakan juga oleh Zuhriyati . dan Wahyuni . Tabel 2. Respon peserta tentang kebijakan pemerintah dan nilai sosial No. Variabel Kebijakan Pemerintah (X1. Peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan pelatihan Tidak ada Berperan dalam persiapan . dentifikasi peserta pelatihan/tempat Berperan dalam persiapan dan pelaksanaan Berperan dalam persiapan, pelaksanaan, dan pendampingan setelah Kebijakan pemerintah terkait program pelatihan telah tepat . esuai kebutuha. dan sesuai sasaran Tidak tepat Belum tepat . elum sesuai sasaran/kebutuha. Telah tepat . esuai kebutuha. , namun dalam pelaksanaan tidak sesuai sasaran Telah tepat, sesuai kebutuhan dan sesuai sasaran Nilai Sosial (X1. Kesesuaian penyelenggaraan pelatihan dengan nilai budaya otong-royong, menghargai kepentingan masyarakat, dan Tidak sesuai nilai budaya setempat Belum seluruhnya sesuai dengan budaya Telah sesuai . otong-royong dan menghargai kepentingan masyaraka. namun belum terbuka Telah sesuai seutuhnya Norma dan tata nilai yang terjadi antar peerta pelatihan Tidak ada kerja sama/interaksi antar peserta Ada kerja sama/interaksi, namun terbatas . Ada kerja sama/interaksi, cukup harmonis Ada kerja sama/interaksi, cukup harmonis . aat pelatihan maupun setelah pelatiha. Respon peserta Frekuensi (%) 21,53 22,22 20,83 35,42 6,25 18,06 31,25 44,44 2,78 27,78 47,22 22,22 11,11 29,86 22,92 36,11 Pelatihan yang dilaksanakan sesuai juga dengan nilai budaya dan norma yang berlaku di Tabel 2 menunjukkan mayoritas responden menilai pelatihan telah sejalan dengan budaya Aspek nilai sosial juga menunjukkan kontribusi penting terhadap keberhasilan pelatihan. Sebanyak 47,22% responden menilai pelaksanaan pelatihan sudah sesuai dengan nilai budaya setempat, seperti gotong royong dan menghargai kepentingan masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa penyelenggaraan pelatihan yang berakar pada nilai sosial pedesaan lebih mudah diterima oleh pemuda. Temuan ini mendukung rekomendasi Lukiyanto dan Wijayaningtyas . bahwa modal sosial seperti gotong royong serta nilai lainnya diperlukan dalam intervensi komunitas. Arti penting modal sosial dalam pelatihan ditegaskan juga oleh Tan et al . Wahyuni . Peserta menilai pelaksanaan pelatihan dari sisi kemampuan pelatih, materi dan metoda latihan pada kondisi baik . Tabel 3 menunjukkan peran pelatih dinilai sangat baik oleh sebagain peserta . ,5 %), dengan rata-rata skor 2,9 . ategori kua. Peran pelatih diperlukan dalam kebehasilan pelatihan. Andoh et al . menemukan bahwa self-efficacy pelatih terkait dengan keefektifan pelatihan . elatih yang percaya diri memberi instruksi lebih jelas dan evaluasi lebih bai. Peran pelatih didukung juga dengan kesesuaian materi dan metode pelatihan. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. Tabel 3. Respon peserta pelatihan tentang peran pelatih , kesesuaian materi, metode. No. Variabel Peran Pelatih (Kemampuan pelatih/pendamping dalam penyampaian materi pelatihan, memotivasi peserta, dan melakukan evaluas. Respon peserta Frekuensi (%) Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat Rata-rata Kesesuaian materi pelatihan . etersediaan modul, kesesuaian dengan kebutuhan, menjawab permasalaha. 4,17 17,36 15,97 Kuat (Bagu. Tidak tepat Belum tepat . elum sesuai sasaran/kebutuha. Telah tepat . esuai kebutuha. , namun dalam pelaksanaan tidak sesuai sasaran Telah tepat, sesuai kebutuhan dan sesuai sasaran Rata-rata Kesesuaian metode pelatihan . istematika, keseimbangan teoripraktek, menggerakkan partisipasi pesert. 3,47 22,92 58,33 2,85 13,28 Kuat (Bagu. Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata 2,76 4,17 27,78 56,25 11,81 Kuat (Bagu. Tabel 3 menunjukkan kesesuaian materi dan metoda pelatihan dinilai kuat oleh peserta pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan kewirausahaan yang diberikan kepada pemuda pedesan telah sesuai dengan kebutuhan materi yang mereka rasaka, dan pendektan metode juga sesuai dengan karakteristik Omary et al . menyatakan relevansi materi dan konteks implementasi merupakan hal krusial dalam transfer pengetahuan. Dengan demikian konten yang sesuai kebutuhan dan modul terstruktur meningkatkan capaian pembelajaran (Mikkonen et al, 2. Kesesuaian materi dengan kebutuhan riil akan meningkatkan efektivitas pelatihan sebagaimana ditekankan oleh teori andragogi, bahwa pembelajaran orang dewasa harus berbasis kebutuhan aktual peserta (Knowles. Holton, & Swanson, 2. Metode partisipatif merupakan salah satu metode yang disarankan. Putra et al. , . menjelaskan penggunaan metode partisipatif sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif, terutama dalam meningkatkan keterampilan kewirausahaan pemuda pedesaan. Tabel 4. Respon peserta pelatihan tentang pengelolaan sarana prasarana (X1. dan peran aktif No. Variabel Pengelolaan . asilitas dan dukungan managemen. Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata Respon Peserta Frekuensi (%) 3,47 22,92 56,25 17,36 2,88 Kuat . Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 No. Variabel Peran aktif peserta . enyelesaian tugas, kemandirian, keaktifan dalam berdiskus. Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata Reni et al. Respon Peserta Frekuensi (%) 3,47 26,39 56,25 13,89 2,81 Kuat . Sarana dan peran aktif peserta pelatihan dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan fasilitas dinilai kuat oleh mayoritas responden. Penelitan Burnisa et al . Eling . Nurlaila . menunjukan bahwa pengelolaan sarana dan prasarana adalah hal yang penting dalam keberhasilan pendidikan dan pelatihan. Tabel 4 juga menunjukkan mayoritas peserta memiliki peran aktif dalam penyelesaian tugas, kemandirian dan diskusi . ategori kua. Peran aktif peserta pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kesiapan belajar, memeprkuat pemahaman, mengasah keterampilan berfikir dan pemecahan masalah serta mempercepat perbaikan kompetensi (Minnick et al. , 2022. Mehner et al. , 2. Tabel 5. Kapasitas peserta pelatihan No. Variabel Peningkatan pengetahuan . erusaha lebih baik, peningkatan kinerja, dapat mengkomunikasikan kepada orang lai. Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata Peningkatan sikap . emampuan memotivasi diri dan anggota lainnya, berbagi tugas dan tanggungjawab secara proporsional, serta kemampuan menyelesaikan masala. Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata Peningkatan keterampilan . emampuan mengaplikasikan dalam pekerjaan, mengelola usahanya dengan inovasi yang diberikan, dan berkoordinasi dengan pendamping/peserta lainnya Sangat lemah . Lemah . Kuat . Sangat kuat . angat bagu. Rata-rata Respon Peserta Frekuensi (%) 2,91 3,31 17,22 64,24 15,23 Kuat . 3,31 19,21 61,59 15,89 2,90 Kuat . 2,87 1,99 22,52 61,59 13,91 Kuat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan yang telah dilakukan mampu meningkatkan kapasitas peserta (Tabel . Pelatihan yang dilakukan telah mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta . ategori kua. Temuan ini sesuai dengan pendapat Ismael et al . 1 yang menyatakan bahwa pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar terhadap pengetahuan dan ketrampilan tertentu serta sikap agar peserta semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, sesuai dengan standar. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Coulter . Selain itu pelatihan juga akan mempersiapkan peserta pelatihan menjadi tenaga kerja struktural maupun fungsional yang memiliki kemampuan dalam profesinya, kemampuan melaksanakan loyalitas, kemampuan melaksanakan dedikasi dan kemampuan berdisiplin yang baik Hamalik . Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. Determinan Kinerja Pelatihan untuk Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan Hasil analisis model struktural menggunakan SEM-PLS mengungkapkan lima determinan kinerja pelatihan yang berpengaruh signifikan terhadap kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan, seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Model Struktural SEM PLS Model struktural ini memiliki koefisien determinasi (RA) sebesar 0. 592 untuk variabel kapasitas kewirausahaan, yang berarti model mampu menjelaskan 59,2% varians kapasitas kewirausahaan pemuda Menurut Chin . , nilai RA antara 0. 33 hingga 0. 67, dikategorikan sebagai sedang, atau menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediksi yang cukup baik. Persamaan model SEM penelitian ini adalah sebagai berikut: Y1 = 0. 769 X1 . R2 = 59. Model persamaan struktural (SEM) tersebut menunjukkan bahwa kapasitas kewirausahaan (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja agribisnis pemuda pedesaan (Y. dengan koefisien jalur terstandarisasi sebesar 0,769 ( = 0,769. = 59,20%), mengungkapkan bahwa peningkatan kapasitas kewirausahaanAimelalui penguatan karakteristik individu, peran penyuluh, norma sosial, dan kebijakan daerahAimampu menjelaskan 59,2% variasi kinerja sekaligus berperan sebagai mediator kritis dalam mengoptimalkan konversi sumber daya menjadi hasil ekonomi yang berkelanjutan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai Average Variance Extracted (AVE) untuk semua konstruk memenuhi kriteria minimal 0. 50, dengan rentang antara 0. 74 hingga 0. 87 (Tabel . Hal ini menunjukkan bahwa setiap konstruk mampu menjelaskan lebih dari 50% varians dari indikatorindikatornya (Fornell & Larcker, 1. Loading factor untuk semua indikator berada di atas 0. 70, kecuali satu indikator yang berada pada 0. 68, namun tetap dipertahankan karena konsisten dengan teori dan meningkatkan reliabilitas model (Chin, 1. Tabel 6. Nilai AVE dan CR Average Variance Extracted (AVE) Composite Reliability (CR) Variabel Nilai AVE*) Variabel Nilai CR**) Keterangan: Nilai AVE yang valid >0,5 Nilai CR yang valid >0,7 **) Selain itu. Tabel 6 menunjukkan semua konstruk dalam penelitian ini juga memiliki reliabilitas yang sangat baik. Seperti yang ditunjukkan oleh nilai Composite Reliability (CR) untuk semua konstruk berada di atas 0. 70, dengan rentang antara 0. 933 hingga 0. 942, jauh melampaui batas minimal 0. 70 yang direkomendasikan (Fornell & Larcker, 1. Hal ini mengindikasikan konsistensi internal yang sangat baik dari instrumen pengukuran yang digunakan. Intepretasi dari determinan faktor-faktor yang signifikan memengaruhi kinerja pelatihan kewirausahaan pemuda tani, adalah sebagai berikut: Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. Peran pelatih (X1. Sesuai dengan dengan teori pelatihan dari Hamalik . yang menyatakan bahwa kualitas pelatih merupakan faktor kritis dalam menentukan efektivitas pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pelatih memiliki pengaruh positif dan signifikan terbesar terhadap kapasitas kewirausahaan pemuda Hal ini sejalan dengan penelitian Mardiharini et al. yang menemukan bahwa interaksi langsung dengan pelatih yang berpengalaman dapat memperkuat kemampuan analitis dan pengambilan keputusan pemuda dalam mengelola agribisnis. Andoh et al . mempertegas peran pelatih dalam efesiensi kegiatan pelatihan. Hal ini relevan dengan karakteristik generasi milenial yang membutuhkan pendekatan mentorship yang lebih personal (Kilber et al. , 2. Pemuda pedesaan cenderung lebih responsif terhadap pelatih yang mampu menjadi role model sekaligus mentor, bukan hanya sekadar penyampai materi. Peran fasilitator menjadi faktor kunci dalam keberhasilan proses pembelajaran nonformal, terutama bagi pemuda pedesaan yang membutuhkan pendampingan intensif (Sudarmanto, 2020. Lestari & Widodo, 2. Hal ini menjelaskan mengapa peran pelatih menjadi determinan paling signifikan dalam peningkatan kapasitas kewirausahaan pemuda. Peran Aktif Pemuda (X1. Teori pembelajaran konstruktivis (Sastradipoera, 2. menekankan pentingnya partisipasi aktif peserta dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan aktif pemuda selama pelatihan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas Hal ini sejalan dengan penelitian Anwarudin et al. yang menemukan bahwa pemuda yang aktif dalam diskusi dan praktik selama pelatihan cenderung memiliki kemampuan identifikasi peluang yang lebih baik. Minnick et al. , 2022. Mehner et al. , 2024 menjelaskan peran aktif pemuda mempercepat perbaikan kapasitas dan mempermudah pemahaman peserta pelatihan. Temuan ini juga relevan dengan karakteristik generasi Y yang cenderung lebih responsif terhadap metode pembelajaran yang interaktif dan partisipatif (Tapscott, 1. Walaupun generasi muda pedesaan memiliki ketergantungan tinggi pada teknologi informasi, partisipasi aktif dalam proses pelatihan secara langsung tetap menjadi faktor penentu dalam pengembangan kapasitas kewirausahaan mereka. Kesesuaian Materi (X1. Hasil penelitian ini mendukung konsep tentang relevansi konten pelatihan (Coulter,2. , yang menyatakan bahwa efektivitas pelatihan sangat bergantung pada kesesuaian materi dengan kebutuhan dan konteks peserta. Temuan menunjukkan bahwa materi pelatihan yang relevan dengan kondisi agribisnis di wilayah peserta memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan. Ini menjawab kritik sebelumnya terhadap program pelatihan kewirausahaan di pedesaan yang seringkali menggunakan materi standar tanpa mempertimbangkan konteks lokal (Kementan, 2. Seperti diungkapkan oleh Susilowati . , kesenjangan antara materi pelatihan dan realitas usaha tani di lapangan seringkali menjadi penghambat utama dalam peningkatan kapasitas pemuda. Omary et al . menyatakan relevansi materi dan konteks implementasi merupakan hal krusial dalam transfer pengetahuan. Dengan demikian konten yang sesuai kebutuhan dan modul terstruktur meningkatkan capaian pembelajaran (Mikkonen et al, 2. Dapat disimpulkan, bahwa relevansi materi pelatihan agribisnis yang disesuaikan dengan konteks lokal dan modul terstruktur terbukti signifikan meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan, sekaligus mengatasi kelemahan program pelatihan sebelumnya yang menggunakan materi baku tanpa adaptasi wilayah. Mini simpulan. Kesesuaian Metode (X1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik secara seimbang memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kapasitas kewirausahaan pemuda. Hasil ini mengonfirmasi pentingnya pemilihan metode pelatihan yang sesuai dengan karakteristik peserta, sebagaimana ditekankan oleh Hamalik . Sangat relevan dengan karakteristik generasi milenial yang lebih responsif terhadap metode pembelajaran yang dinamis dan beragam (Kilber et al. , 2. Penelitian Puryantoro et al. juga menemukan bahwa pemuda pedesaan cenderung lebih tertarik pada pelatihan yang menggunakan metode simulasi dan studi kasus nyata dibandingkan dengan metode ceramah Kesimpulannya bahwa pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik secara seimbang serta menggunakan metode dinamis seperti simulasi dan studi kasus nyata terbukti lebih efektif meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan dibandingkan metode konvensional yang kurang adaptif dengan preferensi belajar generasi muda. Mini simpulan. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. Pengelolaan Sarana Prasarana (X1. Temuan ini mendukung perspektif sistem dalam pelatihan yang menyatakan bahwa ketersediaan dan pengelolaan sarana prasarana yang memadai merupakan prasyarat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif (Sastradipoera, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sarana prasarana yang baik selama pelatihan memiliki pengaruh positif yang signifikan, meskipun lebih kecil dibandingkan empat determinan sebelumnya. Sejalan dengan penelitian Fatchiya . , yang menemukan bahwa ketersediaan sarana praktik yang memadai dapat meningkatkan efektivitas pelatihan kewirausahaan. Dalam konteks pemuda pedesaan, sarana prasarana yang memadai tidak hanya mencakup ruang pelatihan dan peralatan, tetapi juga akses ke lahan praktik dan bahan baku agribisnis. Secara ringkas disimpulkan bahwa ketersediaan dan pengelolaan sarana prasarana pelatihan yang memadai, meliputi ruang pelatihan, peralatan, akses lahan praktik, dan bahan baku agribisnis, merupakan prasyarat kritis untuk menciptakan lingkungan belajar efektif yang mampu meningkatkan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan secara Mini simpulan. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Penelitian ini telah mengidentifikasi lima determinan kinerja pelatihan yang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan di Jawa Barat, yaitu: peran pelatih, peran aktif pemuda, kesesuaian materi, kesesuaian metode, dan pengelolaan sarana prasarana. Temuan utama menunjukkan bahwa efektivitas pelatihan tidak hanya ditentukan oleh isi atau konten materi, melainkan merupakan hasil dari sinergi beberapa faktor kritis. Peran pelatih sebagai faktor paling signifikan, mengindikasikan bahwa pendekatan mentorship yang personal dan kemampuan pelatih dalam memotivasi serta menjadi role model sangat penting bagi generasi milenial pedesaan. Partisipasi aktif peserta tidak hanya menjadi kunci keberhasilan pembelajaran konstruktivis, melainkan juga secara langsung memperkuat kemampuan mengidentifikasi peluang usaha melalui keterlibatan intensif dalam diskusi dan praktik Secara keseluruhan, model penelitian ini mampu menjelaskan 59,2% varians dalam kapasitas kewirausahaan pemuda pedesaan, yang menunjukkan kemampuan prediksi yang cukup baik. Hal ini menekankan bahwa pendekatan holistik yang mempertimbangkan kualitas sumber daya manusia . elatih dan pesert. , relevansi konten, keefektifan metode, dan dukungan infrastruktur adalah kunci keberhasilan program pelatihan. Beberapa implikasi dan rekomendasi strategis bagi penyelenggaraan pelatihan atau pembuat kebijakan di tingkat daerah maupun nasional antara lain: . Peningkatan Kualitas dan Peran Pelatih: Program pelatihan harus didukung oleh pelatih yang tidak hanya ahli dalam materi, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, motivasi, dan mampu bertindak sebagai mentor. Pelatih harus dilatih untuk memahami karakteristik generasi milenial dan menerapkan pendekatan yang lebih personal dan Sistem rekrutmen dan pelatihan berjenjang . raining of trainer. perlu diperkuat. Penguatan Partisipasi Aktif Peserta: Desain pelatihan harus dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan peserta. Metode pembelajaran harus dirubah dari ceramah ke metode partisipatif seperti diskusi kelompok, studi kasus, simulasi bisnis, dan presentasi. Penugasan yang mendorong inisiatif dan kemandirian peserta juga harus ditingkatkan. Kontekstualisasi Materi Pelatihan: Materi pelatihan harus dikembangkan secara spesifik berdasarkan analisis kebutuhan . eed assessmen. di setiap wilayah. Materi harus menjawab permasalahan riil yang dihadapi pemuda dalam mengelola agribisnis lokal. Kolaborasi dengan pelaku usaha lokal dan akademisi dapat memperkaya konten. Inovasi dalam Metode Pelatihan: Penyelenggara harus secara aktif mengadopsi metode pelatihan yang interaktif dan menyenangkan. Penggunaan teknologi informasi dalam pelatihan . -learning, aplikasi, media sosia. dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran, namun harus tetap diimbangi dengan praktik lapangan dan interaksi langsung yang intensif. Pemenuhan dan Pengelolaan Sarana Prasarana: Pemerintah daerah dan penyelenggara harus memastikan ketersediaan dan pengelolaan sarana prasarana yang memadai, termasuk ruang pelatihan, peralatan, akses internet, serta yang paling penting, lahan atau tempat praktik yang relevan dengan materi agribisnis. Kemitraan dengan pihak swasta atau kelompok tani setempat dapat menjadi solusi untuk menyediakan fasilitas praktik. Integrasi Kebijakan dan Pendampingan Paska-Pelatihan: Kebijakan pemerintah daerah harus mendukung tidak hanya pelaksanaan pelatihan, tetapi juga pendampingan berkelanjutan paska-pelatihan. Program pelatihan harus terintegrasi dengan program akses permodalan, pemasaran, dan penyuluhan agar dampak peningkatan kapasitas dapat berkelanjutan dan berujung pada keberhasilan usaha Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Reni et al. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor yang telah membiayai penelitian ini sekaligus sebagai penanggung jawab pelaksanaan program YESS Provinsi Jawa Barat. DAFTAR PUSTAKA