https://jurnal. PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM PADA PASIEN PENDERITA HIPERTENSI DENGAN MASALAH NYERI AKUT Nuraisyah OktaryA*. Zaenab PutriA. Khairunnisa Batubara3 AMahasiswa Akper Gita Matura Abadi Kisaran AMahasiswa Akper Gita matura Abadi Kisaran Dosen Akper Gita Matura Abadi Kisaran *Email koresponden : nuraisyahoktary@gmail. Abstract Hypertension is a condition where systolic blood pressure is more than 140 mmHg and diastolic blood pressure is more than 90 mmHg, which often causes complications, one of which is headache, so it is necessary to provide deep breathing relaxation techniques. Deep breathing relaxation is done by taking a deep breath through the nose, letting it fill the stomach, then exhaling slowly through the mouth for about 3-5 times, this helps reduce pain and lower stress hormone levels. The aim of this scientific paper is to provide non-pharmacological therapy with deep breathing relaxation techniques for hypertension patients with acute pain problems. The research method design is a descriptive case study accompanied by Wong-Baker pain scale measurements. The research sample is 2 elderly The results of the study after administering deep breathing techniques to the first patient showed a decrease in pain with an initial scale of 6-7 until the patient did not feel pain and in the second patient the decrease occurred from a scale of 4-5 until there was no more pain. So it can be concluded that this deep breathing technique has an effect on reducing pain. Deep breathing relaxation techniques taught to patients can have a significant effect in reducing the level of pain experienced by patients with hypertension with pain problems. Keywords: Hypertension. Acute Pain. Deep Breathing Relaxation Technique Abstrak Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg, yang sering menyebabkan komplikasi salah satunya nyeri kepala sehingga perlu dilakukan pemberian teknik relaksasi napas dalam. Relaksasi napas dalam dilakukan dengan cara berupa menarik nafas dalam melalui hidung, membiarkannya mengisi perut, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut selama lebih kurang 3-5 kali, hal ini membantu mengurangi nyeri dan menurunkan kadar hormon stres. Tujuan dari karya tulis ilmiah ini untuk melakukan pemberian terapi non farmakalogi dengan teknik relaksasi napas dalam pada pasien Hipertensi dengan masalah nyeri Rancangan metode penelitian berupa studi kasus yang berbentuk deskriptif yang disertai dengan pengukuran skala nyeri Wong-Baker. Sampel penelitian sebanyak 2 pasien lansia. Hasil penelitian setelah dilakukannya pemberian teknik napas dalam pada pasien pertama terjadi penurunan rasa nyeri dengan skala awal 6-7 sampai pasien tidak merasa nyeri dan pada pasien kedua penurunan terjadi dari skala 4-5 sampai tidak ada nyeri lagi. Sehingga dapat disimpulkan teknik napas dalam ini berpengaruh menurunkan rasa nyeri. Teknik relaksasi napas dalam yang diajarkan kepada pasien dapat memberikan efek signifikan dalam mengurangi tingkat nyeri yang dialami pada pasien penderita Hipertensi dengan masalah nyeri. Kata kunci: Hipertensi. Nyeri Akut. Teknik Relaksasi Napas Dalam. Vol 1. No 2. Juli, 2025 *Corresponding author email : nuraisyahoktary@gmail. Page 56 of 63 Copyright: @ 2025 Authors PENDAHULUAN Hipertensi yang lebih umum dikenal sebagai tekanan darah tinggi pada akhirnya bisa mengakibatkan kerusakan pada lapisan Penyakit ini dianggap sebagai salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya masalah serebrovaskular, seperti stroke atau serangan iskemik. Selain itu hipertensi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi penyakit pada arteri coroner, seperti gagal ginjal, demensia, serta fibrasi atrial. Resiko hipertensi akan meningkat lebih lanjut jika terdapat faktor risiko kardiovaskular lain dalam tubuh orang yang terkena, sehingga dapat berkomplikasi pada tingginya angka kematian pada mereka yang mengalami hipertensi (Rikmasari. , 2. Penyakit hipertensi dianggap sebagai salah satu penyebab risiko terjadinya stroke, terutama ketika individu mengalami Tingkat stress yang sangat tinggi. Mereka yang mengalami hipertensi akan menghadapi aneurisma yang disertai dengan disfungsi pada endotel jaringan pembuluh darah. Jika masalah pada pembuluh darah ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang Panjang, hal ini dapat meningkatkan terjadinya stroke (Ningsih. & Melinda, 2. Bermacam faktor berpotensi untuk berdampak pada tingkat risiko hipertensi, termasuk umur, genetic, aktivitas fisik, tekanan emosional, dan kepatuhan minum obat (Listina. Maritasari, , & Pratiwie, 2. (WHO. , 2. terdapat sekitar satu miliar individu di seluruh dunia yang mengalami hipertensi, di mana sekitar dua pertiga berasal dari negara-negara berkembang dengan pendapatan rendah hingga Jika langkah pencegahan tidak angka ini dan diperkirakan pada tahun 2025, 29% atau 1,6 miliar orang di seluruh dunia akan terkena hipertensi. Sekitar 972 juta orang atau 26,4% dari populasi global menderita hipertensi pada Pada tahun 2022, diperkirakan terdapat sekitar 1,13 miliar orang di dunia hipertensi, yang menunjukkan bahwa satu dari tiga orang terdiagnosis dengan Pada data dari (Kementerian Kesehatan RI. , prevalensi pada populasi lansia Indonesia adalah 45,9% untuk mereka yang berusia 55-64 tahun, 57,6% untuk usia 6574 tahun, dan 63,8% bagi mereka yang berusia lebih dari 75 tahun. Berdasarkan darah, prevalensi hipertensi di Indonesia pada individu usia 18 tahun ke atas mencapai 25,8% (Kementerian Kesehatan RI. , 2. Prevalensi hipertensi di Sumatera Utara mencapai 5,52% dari jumlah penduduk di Sumatera Utara. Prevalensi hipertensi di Kota Medan sebesar 4,97%. Jumlah penderita hipertensi Puskesmas Teladan pada tahun 2019 sebanyak 842 orang dan pada Tahun 2020 sebanyak 1162 orang (Kementerian Kesehatan RI. , 2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Asahan, hipertensi merupakan penyakit dengan kasus terbesar no 1 di Kabupaten Asahan dengan total 27. kasus hipertensi, sedangkan di Kecamatan Kisaran Timur, hipertensi menduduki peringkat ke-1 penyakit terbesar dengan jumlah kasus sebanyak 18. 222 kasus (ASADA. , 2. Pengendalian nyeri dengan pengobatan non farmakologi sangan efektif dalam mengatasi perasaan sakit. Oleh karena itu dibutuhkan kombinasi antara pengobatan farmakologi dan non farmakologi untuk meredakan sensasi nyeri serta mempercepat Pendekatan non farmakologi ini bukanlah pengganti obatobatan melainkan langkah-langkah yang Copyright: @ 2025 Authors diperlukan untuk memperpendek durasi nyeri salah satunya teknik relaksasi nafas dalam yang hanya berlangsung beberapa detik atau menit (Morita. Amelia. and Putri. Teknik relaksasi nafas dalam dilakukan dengan cara mengajarkan dan menganjurkan klien untuk menarik nafas dengan baik, menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas sambil melepaskan rasa nyeri yang Mekanisme yang terjadi pada saat pasien menarik nafas dalam adalah terjadi relaksasi pada otot rangka sehingga menyebabkan paru membesar, suplai oksigen ke paru meningkat sehingga membuka poripori Kohn meningkatkan konsentrasi oksigen untuk dibawa ke pusat nyeri. Relaksasi yang sempurna dapat mengurangi ketegangan otot, kebosanan, dan kecemasan sehingga dapat mencegah peningkatan intensitas nyeri. Tiga hal utama yang dibutuhkan dalam teknik relaksasi adalah posisi klien yang tepat, pikiran yang istirahat, dan lingkungan yang tenang (Roslianti, 2. Sesuai dengan penelitian (Anggraini, 2. didapatkan hasil adanya perbedaan Tingkat skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi teknik relaksasi nafas dalam. Sebelum dilakukan teknik relaksasi nafas dalam, mayoritas reponden memiliki skala 5-8 dan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam, mayoritas reponden memiliki tingkat skala 5-2 sampai tidak ada nyeri (Anggraini. METODE Metode penelitian ini sendiri adalah Data Primer dan Data Sekunder . engan pengkajian perawatan medical beda. Subjek dalam studi kasus ini adalah 2 pasien penderita Hipertensi yang sedang dirawat inap dengan diagnose Hipertensi di salah satu Rumah Sakit Kota Kisaran. HASIL Identitas dan hasil anamnesa Tabel 1 Identitas dan hasil anemnesa Identitas Pasien Kasus I Kasus II Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Status Agama Tn. 64 tahun Laki-laki SMA Wiraswasta Menikah Islam Tn. 59 tahun Laki-laki SMA Wiraswasta Menikah Islam Berdasarkan tabel 1. 1 didapatkan dari kedua responden berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai diagnosa yang sama yaitu Pada kasus I dengan pasien berumur 64 tahun dan kasus ke II dengan pasien berumur 59 tahun. Keluhan utama dan riwayat sakit Tabel 2 Keluhan utama dan riwayat sakit Data fokus Kasus I Kasus II Keluhan utama saat rumah sakit Pasien Keluhan utama saat Riwayat Riwayat Pasien mengeluh nyri kepla dan berputar,pasie n mengatakan nyeri seperti di tusuk-tusuk sering gelap Hipertensi Pasien pusing,tengk uk terasa Pasien Tengkuk pegal,sakit kepala sering gelisah dan wajah merah Hipertensi sejak lebih Hipertensi Hipertensi sejak lebih Copyright: @ 2025 Authors Data fokus Kasus I Kasus II yang lalu kurang 3 tahun yang lalu Riwayat Klien orang anak 2 laki-laki dan 1 dan 1 orang Dan klien tidak memiliki Riwayat tahun yang Klien 2 anak 1 laki-laki dan 1 perempuan 1 orang istri. Klien keluarga jauh Riwayat Mengonsums i makanan tinggi garam Kebiasaan Mengonsumsi tinggi garam Berdasarkan Tabel 2 ditemukan keluhan utama dari riwayat penyakit terhadap kasus I yaitu klien mengatakan pusing berputar dan riwayat penyakit terdahulu adalah Hipertensi yang sudah dialami lebih kurang 3 tahun yang lalu sedangkan pada klien di kasus II ditemukan keluhan utama dan riwayat penyakit yaitu pusing, dan tengkuk terasa Riwayat penyakit terdahulu adalah hipertensi 5 tahun yang lalu. Pemeriksaan diagnostik Tabel 3 Pemeriksaan diagnostik Jenis Hemogoblin Kasus Kasus Eritrosit Leokosit 4,15 Hematokrit Glukosa Nilai rujuk P: 13-16 W: 12-14 g/Dl 3,50 Ae 5,50 /Ul 000 Ae 10. /Ul 37,0 Ae 50,0 % < 115 mg/dl Jenis Urine acid Kasus Kasus Ureum Creatinine Nilai rujuk P: 3,6 Ae 8,2 W: 2,6 Ae 6,1 mg/dl 10 Ae 50 mg/dl P: 0,6 Ae 1,1 L 0,5 Ae 0,9 mg/dl Berdasarkan tabel 3 dari hasil pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa dari kasus I dan II terdapat angka ureum yang melebihi batas normal. Analisis Data Hasil analisa data di atas bahwa pada kasus I dan kasus II sama-sama mengalami masalah nyeri akut berhubungan dengan peningkatan vascular serebral ditandai dengan klien mengatakann nyeri pada Diagnosa keperawatan Pada kedua responden mempunyai masalah keperawatan Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis d/d klien mengatakan nyeri pada kepala. Intervensi keperawatan Disimpulkan bahwa pada kedua responde. dilakukan intervensi yang sama untuk pasien dengan masalah keperawatan atau diagnose keperawatan Nyeri akut. Implementasi Tindakan keperawatan yang dilakukan kepada kedua responden merupakan tindakan yang mampu untuk penanganan pada pasien dengan diagnose Nyeri akut, salah satunya berupa pemberian teknik non farmakologi seperti teknik relaksasi napas Dengan cara menganjurkan klien untuk tarik nafas melalui hidung secara perlahan hingga perut dan dada terangkat lalu tahan selama 3-5 detik dan hembuskan nafas melalui mulut secara perlahan. Copyright: @ 2025 Authors lakukan selama lebih kurang 5 menit untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Evaluasi Diperoleh hasil yang sama antara kasus I dan kasus II dimana pada hari ke 3 setelah intervensi keperawatan dilakukan didapat data masalah Nyeri akut sudah teratasi dan intervensi pun dihentikan. PEMBAHASAN Berdasarkan subyek dalam penerapan ini (Tn S dan Tn S) dapat disimpulkan yang termasuk dalam mempengaruhi faktor terjadinya hipertensi adalah sebagai berikut: Usia Subyek yang terlibat dalam penerapan ini yaitu subyek I (Tn S) berusia 64 tahun. Sedangkan subyek II (Tn S) berusia 59 tahun. Hipertensi primer biasanya muncul antara usia 30-50 tahun. Setelah umur 45 tahun dinding arteri akan mengalami penebalan karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi Selain itu seiring dengan terjadinya proses penuaan, maka terjadi kemunduran secara fisiologis yang menyebabkan arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah di setiap denyut jantung dipaksa melewati pembuluh yang sempit dari pada biasanya sehingga menyebabkan naiknya tekanan darah, inilah yang terjadi pada usia lanjut, dinding arteri menebal dan kaku karena arteriosclerosis. Berdasarkan uraian diatas menurut analisa penulis bahwa usia lebih dari 45 tahun beresiko terkena penyakit hipertensi. Kedua subyek dalam penerapan ini (Tn. S dan Tn. berusia 64 tahun dan 59 tahun sehingga beresiko mengalami hipertensi karena terjadinya proses penuaan menyebabkan kemunduran secara fisiologis sehingga arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut hal ini yang menyebabkan terjadinya hipertensi. Jenis Kelamin Keseluruhan insiden, hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai kira-kira usia 55 tahun. Resiko pada pria dan wanita hampir sama antara usia 55 sampai 74 tahun, kemudian setelah usia 74 tahun wanita berisiko lebih Jenis kelamin kedua subyek dalam penerapan yaitu laki-laki pada subyek I dengan usia 65 tahun dan pada subyek II dengan usia 59 tahun. Berdasarkan uraian diatas menurut analisa penulis hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai kira-kira usia 55 tahun. Resiko pada pria dan wanita hampir sama antara Subyek I dalam penerapan berjenis kelamin laki-laki dengan usia 65 tahun dan subyek II berjenis kelamin pria berusia 59 tahun, sehingga kedua subyek beriko tinggi mengalami hipertensi. Riwayat Keluarga Seseorang dengan riwayat hipertensi berinteraksi dengan yang lainnya dan juga dengan lingkungan yang menyebabkan tekanan darah naik dari waktu ke waktu. Dalam penerapan ini hanya subyek II yang memiliki Riwayat hipertensi dalam keluarga yaitu pada ayahnya. Berdasarkan sebelumnya tentang faktor-faktor resiko dan angka kejadian hipertensi pada penduduk Sumatera Utara, menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat hipertensi keluarga dengan Copyright: @ 2025 Authors kejadian hipertensi. seseorang dengan kedua orang tuanya hipertensi akan memilki 50-70% sedangkan bila orang tuanya tidak menderita hipertensi hanya 4-20% kemungkinan menderita hipertensi. Berdasarkan uraian diatas menurut analisa penulis kejadian hipertensi dapat terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat hipertensi di dalam Pada subyek II dalam penerapan ini memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga yaitu pada ayahnya sehingga beresiko mengalami atau menderita hipertensi karena beberapa gen mungkin berinteraksi dengan yang lainnya dan juga dengan lingkungan yang menyebabkan tekanan darah naik dari waktu ke waktu. Stres Kedua subyek dalam penerapan ini sering memikirkan sesuatu secara berlebihan sehingga mengakibatkan tekanan darah kedua subyek meningkat. Stres fisik dan emosional menyebabkan kenaikan sementara tekanan darah, tetapi peran stres pada hipertensi kurang jelas. Tekanan darah normalnya berfluktuasi selama siang hari, yang naik pada aktivitas, ketidaknyaman, atau respons emosional seperti marah. Sters yang sering atau terus-menerus dapat menyebabkan vaskular atau mempengaruhi jalur integratif sentral otak sehingga menyebabkan terjadinya hipertensi. Berdasarkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan hipertensi. Hal ini terjadi karena Stres dapat memicu timbulnya hipertensi melalui aktivasi sistem saraf simpatis yang mengakibatkan naiknya tekanan darah secara intermiten . idak Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri . dan peningkatan denyut jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut akan mengalami hipertensi (Wulandari. & Atika, 2. Berdasarkan uraian diatas menurut analisa penulis bahwa seseorang yang mengalami stress berisiko mengalami hipertensi. Kedua subyek dalam penerapan ini sering mengalami strees sehingga berisiko mengalami hipertensi. Nyeri kepala merupakan masalah yang sering dirasakan oleh penderita hipertensi. Nyeri kepala ini dikategorikan sebagai nyeri kepala intrakranial yaitu jenis nyeri kepala migren diduga akibat dari venomena vascular abnormal/nausea, penglihatan kabur, auravisual, atau tipe Bahwa usia dan tahap perkembangan seseorang menjadi salah satu hal yang penting. Dimana akan mempengaruhi reaksi nyeri. Nyeri pada individu lansia lebih tinggi, hal ini karena penyakit akut atau kronis dan degeneratif yang diderita dan perbedaan sensitifitas rasa sakit antara pria dan wanita mungkin disebabkan karena laki laki merasa seharusnya mereka kuat, sehingga melemahkan rasa sakit atau tidak mau mengakui rasa sakit yang sedang Peningkatan tekanan darah salah satunya akan menyebabkan pusing atau sakit kepala . yeri pada kepal. , sehingga dapat mempengaruhi aktivitas, mengurangi nyeri kepala tersebut. Tarik nafas dalam dilakukan sebagai pengobatan non-farmakologi komplementer dalam hal ini sebagai terapi pendamping yang dilakukan untuk mengurangi nyeri kepala akibat hipertensi, selain itu tarik nafas dalam juga dapat memberikan rasa rileks pada pasien. Hasil penelitian yang dilakukan dalam 2 kali sehari selama 3 hari ini terjadi penurunan skala nyeri 2 pada setiap tindakan yang diberikan. Hal ini sesuai Copyright: @ 2025 Authors terdahulu bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pemberian relaksasi nafas dalam terhadap intensitas nyeri kepala pada pasien hipertensi dan tarik nafas dalam sangat banyak kegunaanya, salah satunya untuk meredakan nyeri. Sebenarnya, banyak latihan pernafasan yang berbeda, namun untuk mendapatkan manfaat, pasien melakukannya minimal 2 kali sehari atau setiap kali merasakan nyeri, stres, banyak pikiran dan saat merasakan sakit. Semakin sering dilakukan maka semakin banyak manfaat yang didapat. Bahwa tarik nafas dalam dianjurkan diberikan pada pasien secara bertahap selama 15 menit agar mendapatkan yang maksimal bukan hanya menurunkan nyeri kepala tetapi untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia guna menyimpan energi selama tidur (Sabella. & Maryati, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Masalah utama yang muncul pada Tn S dan Tn. S adalah Hipertensi dengan masalah Nyeri akut. Setelah dilakukannya 3x24 jam implementasi keperawatan didapatkan hasil penurunan skala nyeri yang awalnya 6 -7 sampai klien tidak mengeluh nyeri kembali. Diharapkan membahas lebih dalam terkait tindakan non farmakologis atas kejadian hipertensi dengan masalah nyeri. UCAPAN TERIMA KASIH