Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 KECERDASAN AGRARIS: REINTERPRETASI KEJADIAN 1:26-30. 2:15 DARI PERSPEKTIF TEOLOGI AGRARIA Jefri Andri Saputra Institut Agama Kristen Negeri Toraja. Indonesia E-mail: jefrijefri293@gmail. Abstract This article aims to respond to agrarian issues that are currently struggling with churches and society in several regions in Indonesia. The texts of Genesis 1:28-30 and Genesis 2:15 often raise problems with ecological implications because of their contrasting meanings. Mastering and subduing creation in Genesis 1:28-30 tends to be counter-ecological, while Genesis 2:15 is pro-ecological. The author examines these two texts from the perspective of Norman Wirzba's Agrarian theology. The research results show that these two texts meet in efforts to manage natural potential and protect its vulnerability from damage. Genesis 1:28-30 constructs intelligent mastery or comprehensive and balanced insight into creation, and Genesis 2:15 constructs the act of cultivating natural potential and protecting its vulnerabilities from damage. These two texts are the starting point for constructing church services in responding to agrarian issues. Keywords: ecotheology. Genesis 1-2, agrarian conflict. Norman Wirzba, agrarian theology Abstrak Artikel ini bertujuan untuk merespons isu agraria yang menjadi pergumulan gereja dan masyarakat masa kini di beberapa daerah di Indonesia. Teks Kejadian 1:28-30 dan Kejadian 2:15 kerap menimbulkan masalah implikasi ekologis karena maknanya yang kontras. Menguasai dan menaklukkan ciptaan dalam Kejadian 1:28-30 cenderung kontra ekologi, sedangkan Kejadian 2:15 bersifat pro ekologi. Penulis mengkaji kedua teks ini dalam perspektif teologi Agraria dari Norman Wirzba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua teks ini berjumpa dalam upaya mengelola potensi alam dan melindungi kerentanannya dari Kejadian 1:28-30 mengonstruksikan penguasaan secara inteligensi atau wawasan komprehensif dan berimbang terhadap ciptaan, dan Kejadian 2:15 mengonstruksikan tindakan mengolah potensi alam dan melindungi kerentanannya dari kerusakan. Kedua teks ini menjadi titik tolak mengonstruksikan pelayanan gereja dalam merespons isu-isu agraria. Kata Kunci: ekoteologi. Kejadian 1-2, konflik agraria. Norman Wirzba, teologi agraria Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 PENDAHULUAN Isu permasalahan yang aktual dalam pergumulan masyarakat di Indonesia saat ini. Urgensi masalah agraria lahir dari kesadaran bahwa pengelolaan tanah dalam beberapa dekade terakhir melahirkan berbagai masalah, seperti ketimpangan penguasaan, kepemilikan dan penggunaan tanah, konflik agraria, masifnya alih fungsi lahan tani, kualitas kemiskinan dan kesejahteraan sosial (Sulistyaningsih. Beberapa masalah ini ditemukan sebagai dampak penggunaan pestisida dan insektisida, serta perkebunan monokultur jangka panjang pada perkebunan kelapa sawit (Lisdayani and Ameliyani, 2021. Mailendra and Buchori, 2019. Putri. Valensia. Purnama, and Manik, 2. Dalam penelitian Mailendra dan Imam Buchori, aktivitas penambangan emas tanpa izin di kabupaten Kuantan. Singingi, mengakibatkan kerusakan lahan sekitar 2. 680,03 hektare dengan perincian tingkat kerusakan tinggi seluas 699,34 hektare, kerusakan sedang 501,04 hektare, dan kerusakan rendah 479,65 hektare (Mailendra and Buchori. Penelitian Riska Amalia dkk. terhadap perkebunan kelapa sawit di desa Gunung Sari. Kalimantan Timur, menunjukkan beberapa dampak seperti konflik sosial, kenaikan suhu udara, banjir, hilangnya biodiversitas, serta ketersediaan sayur, hewan buruan, dan ikan di sungai semakin berkurang (Amalia. Dharmawan. Prasetyo, and Pacheco, 2. Berbagai masalah dan fenomena di atas mendorong munculnya berbagai perspektif maupun gerakan ekologis. Salah satu di antaranya adalah Beberapa penulis sebelumnya telah mengonstruksikan perspektif ini dalam Tantan Hermansah sehingga tidak hanya bersifat sosiopolitis, tetapi juga merupakan spirit dan gerakan keagamaan. Teologi agraria merupakan usaha pengejawantahan keadilan Tuhan di dunia (Hermansah. Wawuk Kristian Wijaya meneliti pelayanan yang dilakukan oleh Yayasan Bina Sarana Bakti (YBSB) dan Sekretariat Pelayanan Tani dan Nelayan Hari Pangan Sedunia (SPTN HPS) kepada kaum petani dan nelayan. Kedua paguyuban ini menemukan bahwa gereja perlu menghadirkan pelayanan kepada kaum petani, dengan meneladani kenosis Yesus yang solider kepada kelompok yang termarginalkan, termasuk petani dan nelayan (Wijaya. Yanti Paninggiran mengonstruksikan teologi pertanian dengan berangkat dari makna kata abodah yang digunakan sebagai istilah Perjanjian Lama. Paninggiran bertani juga perlu dipahami sebagai pekerjaan yang sakral, di mana usaha Allah (Paninggiran. Firman Panjaitan menganalisis Injil Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 Matius dan kosmologi Jawa dan menemukan bahwa manusia dan alam berada dalam relasi yang seharusnya saling melindungi dan menjaga. Relasi ini berimplikasi pada bentuk pertanian organik, yang menjaga kelestarian hidup alam dan manusia (Panjaitan. Meskipun gereja memiliki andil merespons masalah-masalah di atas, pada saat yang sama gereja masih bergumul dengan interpretasi teks yang dianggap eksploitatif dalam kitab suci. Sebut saja penafsiran teks Kejadian 1:2630, menaklukkan ciptaan lain. Teks ini kerap disalah pahami sebagai sebuah legitimasi dalam eksploitasi alam sehingga ikut berkonstribusi negatif dalam eksploitasi dan kerusakan alam. Meskipun sudah ada upaya untuk AumemperlunakAy AutaklukkanlahAy dan AuberkuasalahAy dalam Kejadian 1:26-30, namun sepenuhnya berhasil membebaskan bias penguasaan dan dominasi yang kuat atas ciptaan lain. Gayus Darius menyebutkan bahwa perintah ini disampaikan dalam kondisi manusia yang segambar dengan Allah, serta belum sampai pada keadaan manusia yang dipenuhi keserakahan ekonomi (Darius, 2. Kivatsi Jonathan Kavusa menyebutkan bahwa puncak penciptaan manusia, melainkan ketika Tuhan beristirahat dan menguduskan Hal ini mengindikasikan bahwa segala ciptaan berpusat pada Tuhan (Kavusa, 2. Oleh karena itu, apa pun makna dari dominasi manusia, hal tersebut tetap harus menghormati kuasa Tuhan yang menguduskan segala ciptaan-Nya. Kedua tafsiran di atas tidak memberi cara mengaktualisasikan kata menguasai dan menaklukkan dalam konteks pro ekologi. Emanuel Gerrit Singgih merekomendasikan agar teks ini dibekukan mengingat hasil tafsir selalu terindikasi menguasai dan dengan pengertian yang AukerasAy. Pada saat yang sama, sikap pro ekologi justru muncul dari cerita yang sama pada sumber yang berbeda. Teks Kejadian 2:15 juga memperlihatkan misi Allah yang diberikan kepada manusia, tetapi lebih ramah terhadap lingkungan (Singgih, 2. Perintah yang kontras dari kedua teks ini menjadi sebuah masalah dalam tafsir. Kedua masalah di atasAimakna yang AukerasAy pada menguasai dan menaklukkan, serta makna kontras dari dua teks misi Allah bagi manusia tentang ciptaanAimendorong penulis untuk melihat kedua teks ini dari perspektif teologi agraria. Pernyataan tesis yang hendak dipertahankan penulis adalah membaca teks Kejadian 1:26-30. 2:15 dalam lensa teologi agraria akan memberikan perspektif yang dominasi dan penguasaan alam dalam konteks pro ekologi, serta menunjukkan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 keselarasan kedua teks ini dalam rangka penyelenggaraan misi Allah. Melalui tulisan ini, penulis berharap kesadaran ekologis dapat menjadi prioritas dalam kehidupan warga gereja. Penulis berharap dapat memberikan sumbangsih bagi gereja dan praktisi maupun pemerhati lingkungan dalam menata ulang perspektif mengenai posisi dan relasi manusia dengan ciptaan yang lain. Dengan demikian, pengelolaan alam atau ciptaan lain tidak bersifat eksploitatif dan destruktif terhadap Untuk mencapai tujuan di atas, beberapa sub bahasan. Sub bahasan pertama menjelaskan tentang teologi agraria, secara khusus beberapa pandangan dari Norman Wirzba (Wirzba, 2. Selanjutnya pada sub menggunakan lensa teologi agraria yang dikonstruksikan oleh Wirzba terhadap teks Kejadian 1:26-30. 2:15. Sub bahasa ketiga menguraikan implikasi dari hasil penafsiran Kejadian 1:26-30. 2:15 dalam pelayanan gerejawi untuk menyikapi berbagai masalah menafsir Alkitab dari lensa tertentu untuk menghasilkan gagasan-gagasan alternatif, baru, segar serta kontekstual (Listijabudi, 2. Adapun lensa perspektif yang digunakan dalam penelitian ini adalah perspektif teologi Penggunaan pendekatan seeing through dalam teks ini bertujuan mengaktualisasikan sikap dan tindakan AumenaklukkanAy maupun AumenguasaiAy ciptaan yang lain. Beberapa langkah kajian yang dilakukan penulis dalam tulisan ini antara lain: Pertama, mendeskripsikan Kedua, menafsirkan teks Kejadian 1:28-30. 2:15 sesuai dengan lensa teologi agraria yang telah dibahas sebelumnya. Ketiga, merumuskan implikasi teks Kejadian 1:28-30. 2:15 bagi penatalayanan gereja dalam pengelolaan alam atau ciptaan yang lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Teologi Agraria Teologi Agraria perspektif teologi yang dikonstruksikan kekayaan alam. Dalam situasi ini, teologi agraria hadir sebagai sebuah cara pandang baru untuk melihat dan Usaha mengonstruksi teologi agraria, tidak berorientasi pada romantisme masa bercocok tanam, atau pada pemujaan METODE Penelitian metode deskriptif kualitatif, yang secara spesifik merujuk pada pendekatan hermeneutik seeing through. Seeing Through adalah upaya membaca atau Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 kehidupan metropolitan. Norman Wirzba berangkat dari kisah penciptaan dan pembebasan dari mendiskreditkan kehidupan material. Seluruh komponen ciptaan diciptakan dan dicintai oleh Tuhan. Alam dan segala isinya ada atau diciptakan karena Tuhan menginginkannya (Wirzba. Pandangan ini dilegitimasi oleh atribut baik yang diberikan Tuhan pada setiap penghujung hari penciptaan. Pada hari keenam. Tuhan menyebut seluruh ciptaan-Nya Ausungguh amat baikAy (Kej. Ungkapan Ausungguh baikAy menggunakan frasa towb meod, yang berarti Ausuasana yang berlimpah kebaikan, kesejahteraan, dan sangat menyenangkanAy (Bible Works, 2. Sekalipun ungkapan ini muncul pada hari keenam, tetapi cakupan dari ungkapan ini merujuk kepada seluruh ciptaan (Arnold, 2. Menurut Jhon Leonardo Presley Purba dkk. , ungkapan Ausungguh amat baikAy mengindikasikan kualitas ciptaan yang harmonis, utuh, dan sempurna, serta mencerminkan kualitas (Purba. Prastowo, and Rimun, 2. Penciptanya. Ungkapan ini merupakan bentuk kasih ilahi atas kelayakan dan baiknya keberadaan setiap ciptaan (Wirzba, 2. Akan tetapi, ciptaan atau dunia ini tidak hanya disebut sebagai objek dari kasih Allah. Ciptaan sendiri merupakan sarana atau perwujudan kasih ilahi. Setiap ciptaan tidak hadir dengan sendirinya atau ada sebagai sebuah Kasih Tuhan mengitari atau menjiwai setiap ciptaan dalam kosmos. Status ciptaan sebagai sarana untuk mewujudkan kasih-Nya, menjadi alasan Tuhan selalu ingin dekat dengan makhluk ciptaan-Nya (Wirzba. Dengan demikian, makhluk ciptaan Allah menempati tempat yang sangat berharga dalam pemandangan Tuhan, sehingga perlu dihormati dan Hal ini didukung oleh tindakan Tuhan yang menguduskan segala pekerjaan-Nya begitu proses penciptaan telah selesai (Kej. Pandangan seharusnya mengasihi alam atau ciptaan lain sebagaimana Tuhan mengasihi ciptaan-Nya. Lebih dari itu. Tuhan juga menjadikan alam dan segala ciptaan sebagai sarana perwujudan kasih-Nya, semestinya mengasihi, merawat dan menghormati sarana kasih Allah ini. Dunia dan segala isinya seharusnya dikehendaki oleh Allah. Selain teologi penciptaan. Wirzba juga berupaya membebaskan diri dari upaya mendiskreditkan kehidupan Tatanan kehidupan material atau fisik kerap dianggap sebagai realitas yang lebih rendah, sehingga dihancurkan sama sekali (Wirzba. Telos dari pandangan ini adalah Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 kehidupan surgawi yang tidak dapat dirasakan hari ini. Jiwa akan terbebas dari tubuh menuju kehidupan yang akan datang dan meninggalkan segala penderitaan akibat kehidupan masa kini dalam dunia (Wirzba, 2. Wirzba pengalaman yang dimiliki manusia mengenai kesejahteraan (Wirzba, 2. Pengabaian pengalaman tubuh menjadi alasan tindakan eksploitatif pada dunia Eksploitasi dunia material yang merusak AukesejahteraanAy alam kesejahteraan manusia (Wirzba, 2. Pengalaman dengan tubuh adalah pengalaman yang konkret. Tubuh fisik manusia bahkan memiliki implikasi sosial dan ekologis bagi kebahagiaan seluruh makhluk. Manusia adalah makhluk yang sebenarnya tidak berdiri sendiri secara individual. Manusia merupakan makhluk yang simpatik, dan terjalin dalam rangkaian reaksi dan interaksi, antara pemberian dan penerimaan bersama dengan makhluk yang lain (Wirzba, 2. Gagasan ini didukung oleh Sony Keraf dengan menyebut manusia sebagai makhluk ekologis (Keraf, 2. Kehidupan dan kesejahteraan manusia bergantung pada alam. Keadaan alam berimplikasi bagi kehidupan manusia, baik secara biologis, ekonomis, sosial budaya, hingga teologis (Keraf, 2. Manusia bergantung pada kehidupan seluruh makhluk hidup lain, dan Tindakan manusia terhadap realitas fisik akan berimplikasi pada kehidupan manusia secara holistik. Hal ini tidak saja memengaruhi tubuh atau fisik tetapi juga kebahagiaan . aca: keadaan jiw. Berdasarkan pertimbangan di atas, alih-alih mendukung usaha manusia melanggengkan pemujaan kehidupan jiwa yang mendiskreditkan kehidupan fisik saat ini. Wirzba justru berupaya agar kebahagiaan jiwa manusia tidak dihadirkan dalam realitas saat ini (Wirzba. Manusia menghadirkan diri secara holistik dalam realitas sosial dan ekologis, serta kehidupan (Wirzba, 2. Perubahan perspektif inilah yang akan mengubah cara hidup dan cara memperlakukan alam dalam kehidupan manusia. Implikasi dari perspektif yang Wirzba perubahan dalam stigma terhadap dunia material atau alam. Dunia bukanlah tempat yang harus ditolak. Menolak dunia atau alam berarti menolak kasih Allah yang Sebaliknya. Wirzba merekomendasikan agar manusia dapat berpartisipasi bersama dengan cinta ilahi yang berupaya terus menopang kehidupan di dunia (Wirzba, 2. Upaya Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 dunia atau alam ciptaan juga ditunjukkan dalam tulisan Paulus. Teks Roma 8:19-22 memperlihatkan bahwa segala makhluk dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan. Kata ktisis dalam teks ini merujuk kepada Ausegala makhluk, ciptaan, atau alam semestaAy (Bible Works, 2. Dengan kata lain, alam atau segala ciptaan menjadi dilakukan Allah. Kolose 1:19-20 juga Allah Aumemperdamaikan segala sesuatu dengan diri-NyaAy. Cakupan dari tindakan rekonsiliasi ini juga mencakup seluruh ciptaan. Implikasi dari tindakan Allah adalah pemulihan ciptaan menuju hakikat penciptaannya (Saputra, 2. Kedua teks ini mengindikasikan bahwa alam ciptaan juga merupakan objek penebusan, sehingga tidak seharusnya didiskreditkan oleh manusia. Dalam kesadaran akan urgensi alam dan seluruh ciptaan di dalamnya. Wirzba menawarkan agar manusia menekankan pentingnya memiliki Kecerdasan material yang dimaksud di sini merujuk kepada gagasan dari Glenn Adamson yaitu pemahaman yang mendalam mengenai dunia material, mampu membaca keadaan lingkungan, dan menjadi bentuk yang baru (Adamson. Dalam konteks teologi agraria, kemampuan mengenal dunia atau ciptaan secara mendalam, memahami potensi dan kerentanan ciptaan, hingga kemampuan untuk mengolah hasil alam menjadi bentuk yang baru (Wirzba, 2. Keberadaan material akan membuat cara pandang manusia terhadap alam menjadi Ketika manusia belum mengenal kecerdasan material, manusia harus berpindah-pindah agar dapat bertahan hidup. Bahan makanan di alam yang membutuhkan pengolahan terlebih dahulu tidak dapat dikelola dan dimakan sehingga manusia harus mencari makanan ke tempat lain. Hal ini berbeda ketika manusia memiliki Kecerdasan kepada kesadaran di mana alam memiliki potensi rasa yang ketika dikombinasikan dengan keterampilan menghasilkan kenikmatan dalam setiap makanan (Wirzba, 2. Implikasi penting dari kecerdasan material adalah manusia dapat bermukim dan bercocok tanam dengan menetap di tempat Kecerdasan potensi dari setiap ciptaan sehingga beralih menjadi pertani. Dengan kata lain, kecerdasan material memampukan manusia beralih dari cara hidup nomad ke cara hidup menetap karena kemampuan pengelolaan potensi alam. Dalam konteks penanaman padi, seseorang yang memiliki kecerdasan material dapat memahami tanaman padi yang terindikasi dari kemampuan menanam, menyiapkan lahan tanam. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 mengenal iklim dan cuaca yang tepat untuk menanam, menyemai bibit padi, menanam, merawat, hingga perlakuan kualitas padi yang baik. Hal yang sama terjadi dalam pemahaman mengenai Kecerdasan material juga mengetahui potensi pada tanaman padi yang bukan hanya potensi biji padi menjadi makanan pokok . dan tepung, namun juga potensi jerami sebagai makanan ternak, bahkan menjadi pupuk organik. Kecerdasan dalam pengolahan akan terlihat dalam pengolahan tepung beras menjadi makanan yang lain. Semua disebutkan di sini perlu ditunjang atau dilatih oleh kemampuan mencintai Pengejawantahan cinta kepada alam akan dilihat melalui penerimaan terhadap segala rasa sakit, lelah, kesenangan, kegembiraan, dan setiap berinteraksi dengan alam (Wirzba. Perpaduan pengalaman dan perasaan interaksi dengan alam akan mempertajam kecerdasan material yang dimiliki Agar kecerdasan material dalam konsep Wirzba tidak berdampak pada tindakan manipulatif-eksploitatif, maka kreativitas dan rasa simpatinya dalam mengolah alam, termasuk potensi dan terhadap segala kenikmatan yang diterimanya melalui kehadiran ciptaan lain (Wirzba, 2. Menyadari potensi memanfaatkan sekaligus melindungi Perspektif berpartisipasi dalam cinta ilahi yang merasakan cinta ilahi yang juga memancar dari kehadiran ciptaan. Istilah kecerdasan material yang digagas oleh Adamson dan dilanjutkan oleh Wirzba, sedikit banyak memiliki kesamaan dengan aktivitas agraria dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960, yakni pengelolaan bumi, air, ruang angkasa dan segala kekayaan alam di dalamnya (UndangUndang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dengan mempertimbangkan pengertian dari agraria dan konsep dari Adampson maupun Wirzba mengenai kecerdasan material, maka dalam pembahasan selanjutnya penulis akan menyebut kecerdasan material atau keterampilan praktis di atas sebagai kecerdasan agraris. Reinterpretasi Teks Kejadian 1:2630. 2:15 dari Perspektif Teologi Agraria Kejadian 1:26-30. 2:15 adalah teks yang berisi perintah Allah kepada Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 manusia dalam rangka menjalankan memelihara ciptaan lain. Teks ini merupakan bagian penutup dari kisah Setelah Allah menciptakan dunia dan isinya, ada perintah atau misi Allah bagi manusia dalam relasinya dengan ciptaan yang lain. Khusus merekonstruksi pemahaman dari misi ini dengan menggunakan lensa teologi Teologi agraria memberikan perspektif untuk mengelola sekaligus melindungi ciptaan lain. Teks Kejadian 1:26-30 Allah menciptakan manusia, yakni untuk Auberkuasa atasAy ciptaan lain . Hal ini kerap dipahami sebagai posisi Kecenderungan merujuk pada kata Aupenuhilah bumi dan taklukkanlah itu, dan berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udaraAy. Kata AupenuhilahAy dalam teks Ibrani menggunakan kata male, yang mengisi atau memenuhi, sedangkan kata AutaklukkanlahAy dalam teks Ibrani menggunakan kata kabash, menundukkan, memperbudak, dan mengalahkan (Bible Works, 2. Kata kabash dalam teks Perjanjian Lama juga digunakan pada penaklukan dalam konteks perang (Yos. 18:1. 2 Sam. 8:11. Taw. 22:18. dan merujuk kepada penaklukan dalam konteks relasi tuan dan budak (Neh. 5:5. Yer. Kata AuberkuasalahAy dalam teks Ibrani menggunakan kata radah, yang berarti menginjak-injak (Bible Works, 2. Kata ini juga digunakan dalam kekuasaan politis, kekuasaan atas budak, maupun kekuasaan dalam pemerintahan (Im. 25:43,46,53. Bil. 24:19. 1 Raj. 5:4,30. 9:23. Neh. Kavusa penggunaan kata kabash maupun radah mengimplikasikan kekerasan pada objek kekuasaan (Kavusa, 2. Meski Sekalipun keistimewaan dalam tatanan yang hierarkis, tetapi batas, tugas, dan pengaturan Tuhan . Purba dkk. melihat kedudukan ini sebagai tindakan Allah menunjuk manusia menjadi wakil-Nya atau kepala atas seluruh ciptaan (Purba et al. , 2. Sementara Pasang menyebut posisi ini sebagai kekuasaan yang unik, kooperatif, dan bertanggung jawab (Pasang, 2. Tremper Longman i menyebutkan bahwa perintah taklukkanlah dan berkuasalah mengindikasikan bahwa manusia menjadi AotuanAo atas makhluk hidup yang lain (Longman i, 2. Beberapa penjelasan di atas berusaha untuk mencegah ayat ini menjadi legitimasi atas eksploitasi alam. Akan tetapi belum ada perspektif yang relevan untuk mengaktualisasikan kata kabash maupun radah menjadi sikap atau tindakan yang pro ekologi. Status wakil. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 kekuasaan kooperatif, tanggung jawab, memberikan penyelesaian signifikan untuk mengaktualisasikan tindakan yang mencegah eksploitasi. Kesulitan untuk menjelaskan makna dominasi dan penguasaan terhadap teks ini membuat Singgih memberikan sebuah sementara teks ini untuk beralih pada teks lain yang lebih pro ekologi. Kata kabash dan radah mengandung makna asli yang AukerasAy dan selalu berkaitan dengan penguasaan bumi. Keterkaitan dengan penguasaan bumi membuat kata ini sulit untuk dilihat dalam makna yang lebih AulunakAy (Singgih, 2. Salah direkomendasikan oleh Singgih untuk ekologi adalah Kejadian 2:15. Teks ini memperlihatkan misi Allah kepada manusia untuk menjaga ciptaan lain Aumengusahakan tamanAy. Kata AumengusahakanAy dalam teks Ibrani menggunakan kata abad yang berarti Aubekerja/mengerjakanAy dan AumelayaniAy (Bible Works, 2. Selain AumengerjakanAy, penggunaan kata abad dalam teks Perjanjian Lama juga dapat berarti menjadi budak (Kej. 15:13. 25:3, dl. , tunduk atau melayani (Kej. , dan beribadah (Kel. 4:23. Ams. 22:31, ds. Kata abad juga dapat dipahami sebagai pekerjaan Aumembudidayakan lahanAy (Coote and Ord, 2. Kata AumemeliharaAy dalam teks Ibrani menggunakan kata shamar, yang berarti AumenjagaAy. AumengawasiAy. AumelestarikanAy (Bible Works, 2. Menurut Philip Asura Nggada dan Yunana I. Malgwi, kata abad dan shamar dalam konteks pembahasan teks ini AomenggarapAo dan AomelindungiAo dari kerusakan (Nggada and Malgwi, 2. Perintah ini merupakan kewajiban yang perlu dilaksanakan manusia sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Sementara bagi John Arierhi Ottuh, makna abad dan shamar dalam teks Kejadian 2:15 mengarah pada dua tindakan yakni pelayanan dan ketaatan pada perintah Tuhan. Teks ini mengarahkan pada tanggung jawab di hadapan Tuhan untuk mengelola dan melestarikan lingkungan (Ottuh, 2. Beberapa pengertian di atas memperlihatkan bahwa abad dan shamar cenderung pro ekologi. Manusia ditempatkan dalam tugas dan tanggung Tugas mengelola atau memelihara taman sarat dengan makna yang ramah lingkungan, dan tanggung jawab manusia kepada Tuhan sangat dominan. Hal ini kontras dengan pengertian kabash dan radah yang memperlihatkan manusia dalam posisi yang unggul bahkan disebut tuan atas ciptaan yang lain. Posisi dominan yang dimiliki manusia kemudian berimplikasi pada tindakan eksploitasi. Makna yang kontras ini kemudian membuat beberapa penafsir cenderung Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 dibandingkan abad dan shamar (Ottuh. Singgih, 2. Menindaklanjuti makna kontras kedua teks di atasAiKejadian 1:26-30 bayang-bayang kekerasan dan penguasaan, sedangkan Kejadian 2:15 ekologiAipenulis menjembatani pesan kedua teks dalam lensa perspektif teologi agraria. Keistimewaan manusia di antara ciptaan yang disebut sebagai tuan, hendaknya dipahami dalam kacamata Penulis menawarkan agar AupembedaAy . kecerdasan agrari. yang membuat manusia beralih dari fase nomad ke cara hidup menetap dan bercocok tanam sebagai sebuah bentuk dominasi atas Pembeda atau kecerdasan pemahaman yang mendalam mengenai dunia atau ciptaan secara material, kerentanan dari setiap ciptaan, serta mampu mengolahnya menjadi bentuk yang lain (Adamson, 2. Menurut Wirzba kecerdasan agraris akan membuat berpindah-pindah tempat agar dapat bertahan hidup (Wirzba, 2. Tidak ada kecerdasan agraris berarti manusia tidak mengenal potensi maupun kerentanan yang ada pada ciptaan lain. Akibat dari ketidaktahuan ini adalah manusia harus berpindah-pindah tempat agar dapat memperoleh makanannya. Kondisi yang kontras akan terlihat dengan adanya kecerdasan agraris. Kecerdasan agraris membuat manusia mampu bertahan di suatu tempat. Kemampuan mengenal alam dengan sangat mendalam, mengetahui potensi dan kerentanannya, serta mengetahui cara pengolahannya membuat manusia memiliki pertimbangan dan perhatian untuk bersentuhan dengan ciptaan yang lain (Wirzba, 2. Manusia tidak lagi perlu berpindah-pindah untuk Manusia disediakan alam untuk menjadi Kondisi mengenal potensi dan kerentanan ciptaan serta kemampuan untuk menindaklanjuti pengenalan itulah yang seharusnya disebut sebagai menguasai dan menaklukkan. Dengan kata lain, menguasai atau menaklukkan harus diletakkan pada sisi inteligensi bukan pada sisi eksploitasi. Dalam situasi ini, manusia dapat mengetahui potensi hewan dan tumbuhan tertentu untuk menjadi makanan ataupun Pada saat yang sama penguasaan juga dipahami dalam pengertian memahami risiko ketika kerentanan dari hewan dan tumbuhan Pemahaman atau kecerdasan agraris seperti ini kemudian dapat mengonstruksikan tindakan-tindakan pencegahan dan perlindungan kepada Perspektif kecerdasan agraris kemudian mengaktualisasikan kata Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 kabash dan radah sebagai tuan yang menguasai dan menindaklanjuti potensi dan kerentanan ciptan. Manusia dapat memanfaatkan ciptaan lain sesuai dengan wawasannya mengenai potensi Pada saat yang sama manusia yang mengetahui kerentanan ciptaan Dengan kata lain menguasai dan menaklukkan ciptaan lain dapat diaktualisasikan sebagai komprehensif atas ciptaan, baik potensi kecakapan dalam menindaklanjutinya secara berimbang. Membaca kabash dan radah dari perspektif kecerdasan agraris tidak sekadar dapat mengaktualisasikan makna menguasai dan menaklukkan dalam konteks pro ekologi. Perspektif ini sekaligus menegaskan misi Allah dalam teks Kejadian 2:15, untuk menggarap dan melindungi taman dari berbagai kerusakan . bad dan shama. Kecerdasan manusia untuk memahami dan menikmati keajaiban ciptaan yang dibentuk oleh Tuhan, serta peka terhadap pemeliharaan yang dialami manusia dengan kehadiran ciptaan, hingga secara sadar dapat bersimpati terhadap setiap potensi dan kerentanan ciptaan (Wirzba, 2. Simpati ini Manusia dapat menggarap atau mengolah potensi ciptaan pada satu sisi, sekaligus melindungi ciptaan kerentanannya pada sisi yang lain. Dengan demikian, manusia dapat mewujudkan tugas abad dan shamar dalam mengelola ciptaan. Berdasarkan uraian di atas, penulis mengonstruksikan bahwa perspektif teologi agraria dapat menyelaraskan usaha untuk mengaktualisasikan teks Kejadian 1:26-30 dan Kejadian 2:15 dalam konteks pro ekologi. Kedua teks ini bermuara pada usaha untuk mengenal potensi dan kerentanan alam secara komprehensif dan berimbang, sekaligus menindaklanjutinya dalam pengelolaan dan perlindungan alam. Makna penguasaan dapat diberikan aktualisasi yang lebih AulunakAy dengan memahaminya sebagai kecerdasan Menguasai dan menaklukkan tidak lagi disebut eksploitatif dan penguasaan inteligensi atau wawasan yang komprehensif dan berimbang terhadap ciptaan. Implikasi Teks Kejadian 1:26-30. 2:15 bagi Pelayanan Ekologis Gereja Membaca teks Kejadian 1:26-30. 2:15 dari perspektif teologi agraria memberikan sebuah perspektif baru untuk memahami posisi manusia dalam mengelola ciptaan. Pengelolaan alam dalam perspektif kecerdasan agraris dan teks Kejadian 1:26-30. 2:15 mengaktualisasikan posisi AutuanAy dan Menguasai alam berarti memiliki wawasan yang komprehensif dan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 berimbang terhadap potensi dan kerentanan alam. Konsep di atas berlaku dalam kasus agraria. Isu agraria kerap kerentanan tanah dan sumber daya alam melalui tindakan eksploitatif. Beberapa kasus yang telah disebutkan dalam bagian awal tulisan ini pertambangan dan perkebunan mono kultur jangka panjang pada kelapa sawit telah melalaikan kerentanan alam, mulai dari tanah, air, udara, hingga satwa dan tanaman di sekitar Akibat dari tindakan ini adalah terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan (Lisdayani and Ameliyani, 2021. Mailendra and Buchori, 2019. Putri et al. , 2. Menindaklanjuti hasil penafsiran di atas, dan isu agraria akhir-akhir ini, gereja sebagai pengemban misi dari Allah saat ini perlu menyuarakan dan mewujudkan pengelolaan potensi yang kerentanan alam dalam lingkup pelayanan gereja. Untuk mewujdukan upaya ini, penulis mengusulkan agar gereja bekerjasama dengan lembaga terkait untuk mengupayakan pengembangan Misalnya pengembangan teknologi pertanian yang ramah lingkungan, sehingga pengembangan ekonomi tidak merusak Begitupun sebaliknya. Gereja juga perlu bekerjasama dengan lembaga maupun pemerhati lingkungan hidup lingkungan yang tidak mengabaikan kebutuhan ekonomi. Selain itu, gereja juga dapat terjun langsung dalam pengembangan potensi alam untuk kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk paguyuban atau bidang pelayanan entrepreneurship gereja yang dapat memberdayakan pengelolaan potensi alam agar bernilai ekonomis. Beberapa tahun terakhir, berbagai pelayanan gereja. Upaya ini berfokus pada pemberdayaan potensi dalam jemaat untuk pengembangan ekonomi (Barlian & Kristiani, 2020. Ngedi, 2019. Tunliu & Pono, 2. Namun, untuk mewujudkan pengelolaan ciptaan yang memperhatikan potensi dan kerentanan secara berimbang, diperlukan juga pemberdayaan jemaat dari sisi ekologis. Oleh karena itu, gereja dapat menambah bidang pelayanan pada bagian ekologi, atau Aumelebarkan sayapAy pelayanan dari lembaga entrepreneurship gereja agar ikut merangkul sisi ekologis. Beberapa Yayasan Bina Sarana Bakti (YBSB) dan Sekretariat Pelayanan Tani dan Nelayan Hari Pangan Sedunia (SPTN HPS) adalah contoh yang dapat diteladani (Wijaya, 2. YBSB mengembangkan pola pertanian organik, sebagai bentuk Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 pertanian yang bersahabat dengan SPTN HPS juga memperlengkapi anggotanya dengan cara bertani yang organik dan keterampilan pengolahan hasil tani agar bernilai ekonomis (Wijaya, 2. Keterlibatan gereja dalam kedua paguyuban seperti ini seimbang pada potensi dan kerentanan tanah pertanian. Dengan demikian, pertanian yang AumemuaskanAy secara ekonomis maupun ekologis. Kehadiran gereja dalam bentuk Aumelebarkan sayapAy pelayanan pada diharapkan mampu mengembangkan kecerdasan agraris bagi warga gereja. Kehadiran gereja perlu membina keterampilan umat untuk mengenal ciptaan dari kerusakan. Dengan demikian, gereja dapat mewujudkan misi ekologisnya di tengah dunia, secara khusus menindaklanjuti masalah Hal ini merujuk pada wawasan komprehensif dan berimbang pada potensi dan kerentanan ciptaan, yang ditindaklanjuti dalam tindakan Tindakan pengejawantahan konsep abad dan shamarAimenggarap dan melindungi. Dalam rangka pengembangan dan merekomendasikan agar gereja dapat bekerja sama dengan lembaga terkait untuk pengembangan ekonomi seperti pertanian yang ramah lingkungan, serta lingkungan yang ekonomis. Selain itu, pelayanan entrepreneurship dari gereja yang menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dan ekologis akan menjadi sarana pengembangan kecerdasan agraris untuk mewujudkan misi Allah yang membangun kehidupan ciptaan. Khusus dalam ranah akademis, penulis merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya agar teks-teks kitab suci yang kerap diinterpretasikan secara antroposentris, dapat ditinjau kembali. Teologi agraria, atau kecerdasan agraris dapat menjadi lensa perspektif untuk melihat kembali relevansi teks dalam konteks masa kini yang bergumul mengenai isu-isu ekologis. Dengan demikian, teks-teks tersebut tetap relevan dan memiliki sumbangsih dalam usaha pelestarian lingkungan. KESIMPULAN Kecerdasan agraris dari Wirzba memberikan bentuk aktualisasi kabash dan radah dalam konteks pro ekologi, sehingga tidak menjadi teks antagonis Bentuk dominasi dan penguasaan dalam teks Kejadian 1:26-30 yang direkomendasikan berada pada sisi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 144-159 DAFTAR PUSTAKA