Agro Estate, 7 . Desember 2023 ISSN : 2580-0957 (Ceta. ISSN : 2656-4815 (Onlin. AGRO ESTATE Jurnal Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet Available online https: //ejurnal. id/index. php/JAE STRATEGI PENANGANAN BERCAK DAUN CURVULARIA SP. PADA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA STRATEGI FOR HANDLING CURVULARIA SP. OF OIL PALM NURSERIES IN INDONESIA Wardatul Husna Irham . Sri Wahyuna Saragih . Eka Bobby Febrianto . Abu Yazid . Rahmat Haholongan . Andre Maulana . Riski Damanik . Program Studi Teknik Kimia. Fakultas Sains dan Teknologi. Institut Teknologi Sawit Indonesia. Indonesia Program Studi Budidaya Perkebunan. Fakultas Vokasi. Institut Teknologi Sawit Indonesia. Indonesia *Coresponding Email: yuna@gmail. Abstrak Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jac. adalah salah satu tanaman perkebunan yang menghasilkan minyak makan yang sudah menjadi bahan utama dan komoditas pertanian unggulan di Indonesia. Serangan penyakit pada saat tahap pembibitan mempengaruhi kualitas tanam an kelapa sawit. Penyakit yang paling umum yang banyak ditemukan di pembibitan kelapa sawit adalah bercak daun penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengemukakan strategi penanganan bercak daun pada pembibitan kelapa sawit di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Data yang digunakan bersumber dari data sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan buku teks, jurnal, dan Analisis data dilakukan dengan cara membaca, mengumpulkan, mengutip informasi, mencatat, menyimpulkan serta melakukan interpretasi atas hasil yang diperoleh melalui bahan kajian yang relevan. Hasil yang telah diperoleh memberikan kesimpulan bahwa terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam penanganan bercak daun pada pembibitan kelapa sa wit di indonesia, yaitu dengan melakukan iradiasi energi foton yang mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap berbagai jenis patogen, pengembangan formulasi pupuk organik dan penggunaan agen biokontrol yang diharapkan dapat membantu pembibitan kelapa sawit dalam menekan penyakit bercak daun, penggunaan fungisida untuk mencegah terjadinya resistensi, melakukan tindakan preventif untuk mengurangi resiko penyakit bercak pada daun sawit, melakukan konservasi pemupukan menggunakan sachet S2 . S3 . , dan S4 . dan pengaplikasian asap cair sabut pinang dalam menekan pertumbuhan Curvularia sp. Kata kunci : Kelapa Sawit. Bercak daun. Curvularia sp, strategi penanganan Abstract Oil palm (Elaeis guineensis Jac. is one of the plantation crops that produces vegetable oil which has become the main ingredient and leading agricultural commodity in Indonesia. The quality of oil palm seedlings is a disease attack during the seedling stage. The most common disease found in oil palm nurseries is leaf spot disease. The aim of this research is to propose strategies for handling leaf spot in oil palm nurseries in Indonesia. This research is a literature study research. The data used comes fro m secondary data. Data collection methods use textbooks, journals and periodical. Data analysis is carried out by reading, collecting, citing information, concluding and interpreting the results obtained through relevant study materials. The results obtained that there are several strategies that can be used to treat leaf spot in oil palm nurseries in Indonesia, i. by carrying out photon energy irradiation which can increase plant resistance to various types of pathogens, developing organic fertilizer for mulations and using biocontrol agent which is expected to help oil palm nurseries in suppressing leaf spot disease, using fungicides to prevent resistance, taking preventive measures to reduce the risk of spot disease on oil palm leaves, carrying out conservation fertilization using S2 . S3 . , and S4 . sachets and applying liquid smoke areca nut in suppressing the growth of Curvularia sp. Keywords: Palm Oil, leaf spot. Curvularia sp, management strategy How to cite : Irham. Saragih. Febrianto. Yazid. Hahalongan. Maulana. & Damanik. Strategi Penanganan Bercak Daun Curvularia sp. Pada Pembibitan Kelapa Sawit di Indonesia . Jurnal Agro Estate Vol. : 11-20. PENDAHULUAN Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jac. (Kirkman et al. , 2. merupakan salah satu tanaman perkebunan Salah satu hal yang mempengaruhi penghasil minyak nabati yang menjadi kualitas bibit kelapa sawit adalah penyakit bahan utama dan komoditas pertanian pada tahap pembibitan. Penyakit yang unggulan di Indonesia. Perkembangan paling sering ditemukan di pembibitan kelapa sawit di Indonesia mengalami kelapa sawit adalah penyakit bercak daun. peningkatan setiap tahunnya. Menurut Penyakit bercak daun pada bibit kelapa Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan, untuk wilayah Indonesia sendiri, luas areal diidentifikasi sebagai Curvularia (Haq et kelapa sawit pada tahun 2019 diperkirakan , 2. Bercak daun dianggap sebagai 559,8 ha dengan total produksi penyakit umum pada kelapa sawit, yang 120,20 ton dan di tahun 2020 terutama disebabkan oleh jamur Curvularia luas areal menjadi 8. 854,5 ha dengan Penyakit ini umumnya menyerang produksi sebesar 296,90 ton dan pada tanaman kelapa sawit pada tahap awal dan tahun 2021 diperkirakan mencapai 8. jika tidak dikendalikan dengan baik dapat ha dengan total produksi 46. 223,30 ton. menyebabkan kematian tanaman (Wibowo Seiring dengan perkembangan kelapa et al. , 2. sawit, maka akan diiringi pula dengan Serangan penyakit ini merugikan meningkatnya resiko serangan hama dan karena dapat menghambat pertumbuhan penyakit kelapa sawit. Bibit yang baik bibit, mengakibatkan bibit menjadi kecil Dengan menggunakan bibit yang baik, tanaman, memperpanjang umur tanaman harapan untuk mencapai produksi yang belum menghasilkan (TBM), dan menjadi (Suyanto et al. , 2. Penyebab penyakit bercak daun dapat disebabkan oleh jamur Curvularia dan Drechslera. Penyebarannya prochloraz untuk mengurangi penyakit dapat terjadi pada musim kemarau dan bercak daun pada bibit kelapa sawit, dan musim hujan. Gejala awal berupa bercak kuning pada daun tmbk atau daun yang mancozeb dapat menghambat pertumbuhan sudah terbuka, bArArk mAmbAir dan miselia C. oryzae dan mengurangi penyakit menjadi gk lonjong dAngn panjang 7-8 bercak daun pada bibit kelapa sawit dalam tArn kondisi rumah kaca (Santoso et al. , 2. mAnAArnkn gl mAnjAdn gl mAnjli. Namun, penggunaan bahan kimia ini Pd iklt dAngn bArAk secara ekstensif menjadi perhatian di mAnEAbbkn nekrosis, beberapa bArAk banyak negara karena dapat menyebabkan mAnEAbbkn bentuk bArAk yang tidak strain jamur yang resisten dan terakumulasi BAbArA kiui bgnn tengah yang dapat menimbulkan risiko kesehatan bArAk kering, rapuh, bArwrn kAlbu atau Beberapa spesies Curvularia juga sklt muda (Defitri, 2. Kemunculan Meena, n. , 2. Oleh karena itu, pengendalian hayati dengan mikroorganisme antagonis alami memiliki tingkat intensitas serangan yang secara aktif diupayakan sebagai pendekatan terhadap manusia dan hewan (Mehta & berdasarkan umur tanaman, setiap umur Frekuensi Culvularia sp. tertinggi pada umur 6 bulan penggunaan fungisida di bidang pertanian. yaitu 28,75% termasuk dalam kriteria Curvularia spp telah dilaporkan dapat serangan sedang dan frekuensi serangan terendah pada umur 4 bulan yaitu 25% termasuk dalam kriteria serangan ringan menyebabkan penyakit bercak daun pada (Andini et al. , 2. bibit (Lekete et al. , 2. Pengobatan dan pengendalian bercak Berdasarkan permasalahan yang telah daun sulit dan mahal, dan saat ini masih diuraikan di atas, maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui penanganan Fungisida merupakan cara yang efektif penyakit bercak daun pada pembibitan di untuk mengendalikan penyakit jamur pada Indonesia kelapa sawit (Sunpapao et al. , 2. penanganan jamur Cilvularia sp dalam "Strategi pengembangan patogen penyebab penyakit bercak daun Indonesia". Tujuan dari penelitian ini Cilvularia pada tanaman kelapa sawit. Pencahayaan perkembangan tanaman. Sumber energi foton dari berbagai spektrum cahaya dapat METODE PENELITIAN peranan penting dalam pertumbuhan dan pembibitan kelapa sawit di Indonesia. Metode meningkatkan ketahanan tanaman terhadap studi kepustakaan, yaitu peneliti menelaah berbagai jenis patogen. Penyinaran energi foton juga telah dibuktikan dalam skala dibutuhkan dalam penelitian (Hermawan, lapangan dan terbukti mampu menekan Penelitian ini menggunakan data Maududy et literatur-literatur (Al Pemanfaatan dikumpulkan oleh lembaga pengumpul teknologi iradiasi energi foton sangat Data pembibitan kelapa sawit untuk mengatasi penelitian ini diperoleh dari referensi masalah penyakit bercak daun Curvularia. seperti studi literatur, buku-buku yang Metode iradiasi ini juga berpotensi sesuai, jurnal, artikel, dan sumber lainnya untuk diintegrasikan dengan teknologi lain yang relevan dengan penelitian. Hasil dari seperti drone dan IoT untuk memudahkan studi literatur digunakan untuk mencapai otomatisasi dalam penerapannya (Wati et , 2. Meskipun demikian, masih Strategi Penanganan Penyakit Bercak Daun diperlukan beberapa studi lanjutan untuk Pembibitan Kelapa Sawit Indonesia. iradiasi energi foton pada pembibitan HASIL DAN PEMBAHASAN dikembangkan tidak hanya efektif dalam Teknologi Iradiasi Energi Foton Hasil menekan penyakit tanaman, namun juga Priwiratama memberikan dampak yang baik bagi Widiyatmoko, . menyebutkan bahwa manusia dan lingkungan (Priwiratama & faktor fisik penyebab terjadinya bercak Widiyatmoko, 2. diakibatkan oleh adanya serangan jamur Curvularia Formulasi Pupuk Organik Menurut Malik menyebutkan bahwa bercak daun termasuk Salah penyakit utama pada pembibitan kelapa Penyakit ini ditandai dengan gejala penyakit bercak di perkebunan kelapa sawit adalah dengan melakukan tindakan lonjong dengan warna yang bervariasi mulai dari kuning, coklat, hingga hitam. penggunaan fungisida secara bijaksana Bentuk awalnya mungkin sekecil jarum untuk mencegah munculnya resistensi. Penanganan Melakukan rotasi dan pencampuran masalah bercak daun pada pembibitan fungisida merupakan salah satu cara untuk kelapa sawit dapat dilakukan dengan mematahkan atau mencegah resistensi mengembangkan formulasi pupuk organik dan penggunaan agensia hayati yang dikendalikan dengan lebih efektif. Akan diharapkan dapat membantu pembibitan kelapa sawit dalam menekan penyakit setengah dari keberhasilan pengendalian bercak daun. Berdasarkan hasil penelitian, penyakit bercak daun di pembibitan. perlakuan pupuk organik dan agensia Sedangkan sisanya adalah kemampuan bercak daun sebesar 47,19% setelah lima faktor-faktor minggu aplikasi. memicu timbulnya penyakit bercak daun di Penggunaan Fungisida pembibitan kelapa sawit yang dikelolanya. Penggunaan fungisida kimia telah Dengan demikian, pemahaman mengenai konsep segitiga sangat diperlukan untuk mengendalikan penularan penyakit pada pengendalian penyakit bercak daun yang lebih baik (Priwiratama et al. , 2. Akan efisiensinya relatif rendah karena patogen Hasil penelitian lain yang dilakukan tekanan seleksi. Diperlukan pendekatan oleh Priwiratama dkk. , . dalam upaya alternatif atau komplementer yang hemat Melakukan Tindakan Preventif Untuk Mengurangi Resiko Penyakit Bercak Pada Daun Sawit pencegahan ledakan penyakit bercak daun dan antraknosa dapat dimulai dari tahap memperoleh berbagai varietas yang tahan penyiapan areal sampai dengan kegiatan terhadap penyakit (Kittimorakul et al. kelapa sawit. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal penanganan risiko meningkatkan stres akibat goncangan penyakit bercak daun pada daun kelapa sawit, yaitu: Pada tahap persiapan area persemaian, menjadi lebih rentan terhadap infeksi sistem drainase harus direncanakan Semua bercak daun dan antraknosa. dan dibuat sebaik mungkin, serta Pengendalian gulma harus dilakukan dipelihara secara rutin. Sistem drainase yang baik akan memastikan bahwa kelebihan air di area pembibitan. Prevalensi gulma yang tinggi di area misalnya karena hujan deras, dapat dialirkan dengan cepat sehingga tidak Pastikan kebutuhan nutrisi bibit kelapa menggenang di dalam pembibitan sawit terpenuhi secara cukup dan terlalu lama. Hal ini dapat membantu Pemupukan yang baik akan mengurangi tingkat kelembapan mikro menghasilkan pertumbuhan bibit yang di persemaian sehingga tidak terjadi baik sehingga bibit kelapa sawit lebih pertumbuhan jamur Curvularia sp. penyakit bercak daun dan antraknosa. Penyiraman bibit terutama pada area Pastikan jarak antar bibit tidak terlalu PN dilakukan secukupnya dan tidak Jarak antar polibag tidak boleh kurang dari 90 cm. Pada intinya, kegiatan di pembibitan harus Kelembaban yang tinggi pada dilaksanakan tepat waktu untuk mencegah tahap PN dapat infeksi penyakit . idak terbatas pad. tumbuhnya lumut di permukaan tanah bercak daun dan antraknosa. Dengan air atau di tepi polibag. yang cukup, nutrisi yang seimbang, dan Ketepatan waktu pemindahan dari pembibitan kelapa sawit di berbagai daerah pemindahan menyebabkan tanaman dapat terhindar dari penyakit, terutama menjadi stres karena persaingan dalam penyakit bercak daun dan antraknosa. pemanfaatan cahaya dan pertumbuhan keterlambatan pemindahan tanaman ke Konservasi Pemupukan Menggunakan Sachet S2. S3. Dan S4. Berdasarkan MN. Penundaan Selain Rahma menyatakan bahwa perlakuan konservasi proses metabolisme pada jamur patogen. pupuk sachet S2 . S3 . Kandungan senyawa fenol pada asap cair mes. , dan S4 . meningkatkan pinang bersifat anti jamur dan menghambat tinggi bibit, jumlah daun, klorofil, berat akar dan berat tajuk bibit kelapa sawit. mempengaruhi biomassa koloni yang kecil Pada pengamatan diameter, pengaruhnya sangat nyata. Sachet yang paling efektif pertumbuhan dan mengontrol biomassa koloni jamur. achet Terkait dengan pemberian asap cair meningkatkan tinggi bibit sebesar 7%, yang paling baik untuk menekan diameter diameter batang sebesar 21%, kandungan koloni jamur Colletotrichum sp. klorofil sebesar 10%, berat kering akar Suyanto sebesar 44% dan berat kering tajuk sebesar penghambatan pertumbuhan jamur sebesar dilakukan oleh Iahaan dkk. , . , bahwa 29,13%. Selain itu, dalam pemberian asap pupuk nitrogen yang bersumber dari POC, cair dapat menghambat pembentukan spora pupuk hijau dan kompos dari Azolla Colletotrichum sp. yang menyebabkan microphylla memberikan pengaruh yang kecilnya kerapatan spora yang terbentuk sama baiknya terhadap pertumbuhan bibit yaitu pada pemberian konsentrasi 0,32% kelapa sawit di pembibitan utama dan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan konsentrasi asap cair 0,32% merupakan pupuk urea dan ZA. Pengaplikasian Asap Cair Sabut Pinang Dalam Menekan Pertumbuhan Curvularia Sp. menghambat perkecambahan . Sejalan 1,5% 0,1875 Sementara Berdasarkan hasil penelitian Mahmud Curvularia 0,32% Pengaplikasian Asap Cair Tandan Kosong Kelapa Sawit Untuk Mengendalikan Curvularia Sp. menyebutkan bahwa asap cair pinang Colletotrichum sp. yaitu sebesar 35,41%. Pada penelitian Usmar dkk. , . Asap cair mengandung senyawa asam perubahan diameter koloni patogen, asap organik seperti asam karbonil dan turunan fenol yang dapat mengganggu proses Konsentrasi asap cair TKKS memberikan 9,98%. efektivitas penghambatan, penghambatan cair pinang dalam menekan pertumbuhan jamur Curvularia sp. terhadap G. boninense dan Curvularia sp. DAFTAR PUSTAKA