Jurnal Pendidikan West Science Vol. No. September 2025, pp. Persepsi Mahasiswa FISIP Universitas Jember Angkatan 2024 dan 2025 tentang Pentingnya Literasi Politik di Era Digital Mohammad Raditya Putra1. Ratna Endang Widuwatie2. Yosiana Safira Putri3. Rista Wahyuni Aprilia4. Bella Amanda Ramadhani5. YafiAo Uzlah Arifin6 Universitas Jember dan 240910202141@mail. Universitas Jember dan ratnaendang. sastra@unej. 3 Universitas Jember dan 240910202041@mail. 4 Universitas Jember dan 250210302041@mail. 5 Universitas Jember dan 250910202084@mail. 6 Universitas Jember dan 240910302013@mail. Article Info ABSTRAK Article history: Kemajuan teknologi digital telah merubah cara masyarakat, termasuk mahasiswa dalam berinteraksi dan berpartisipasi dalam politik. Namun, kemudahan akses informasi seringkali tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memastikan kebenarannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa FISIP Universitas Jember mengenai pentingnya literasi politik di era digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dari beberapa sumber daring dan survei secara daring pada mahasiswa FISIP angkatan 2024 dan 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memahami pentingnya literasi politik untuk menghadapi arus informasi digital dan mencegah Tantangan utama yang ditemukan adalah rendahnya literasi dan kemampuan berpikir kritis serta pengaruh algoritma media sosial yang dapat mempersempit wawasan politik. Oleh karena itu, peningkatan literasi politik dan media di perguruan tinggi menjadi penting untuk membentuk generasi muda yang kritis dan bertanggung jawab di ruang digital. Received Sep, 2025 Revised Sep, 2025 Accepted Sep, 2025 Kata Kunci: Literasi Politik. Era Mahasiswa. Media Universitas Jember Digital. Sosial. Keywords: Political Literacy. Digital Era. Students. Social Media. University Of Jember ABSTRACT Advances in digital technology have transformed the way society, including students, interact and participate in politics. However, easy access to information is often not matched by the ability to verify its This study aims to analyze the perceptions of students from the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP). University of Jember, regarding the importance of political literacy in the digital era. The method used was descriptive qualitative, using a literature study approach from several online sources and an online survey of FISIP students from the 2024 and 2025 intakes. The results show that the majority of students understand the importance of political literacy in dealing with the flow of digital information and preventing hoaxes. The main challenges identified are low literacy and critical thinking skills, as well as the influence of social media algorithms that can narrow political insights. Therefore, improving political and media literacy in universities is crucial to developing a critical and responsible young generation in the digital space. Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpdws/index A 362 Jurnal Pendidikan West Science This is an open access article under the CC BY-SA license. Corresponding Author: Name: Mohammad Raditya Putra Institution: Universitas Jember Email: 240910202141@mail. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial dan politik masyarakat Indonesia. Transformasi digital menciptakan ruang baru bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam politik, terutama melalui media sosial. Menurut Saud. Alaidrus. , dan Hamzah . , media sosial berperan sebagai sarana yang memperluas ruang publik dan memungkinkan pengguna untuk terlibat aktif dalam diskusi serta pembentukan opini politik secara daring. Namun, derasnya arus informasi politik tidak selalu diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam menilai akurasi dan kredibilitas sumber informasi yang beredar di ruang digital. Dalam konteks demokrasi, literasi politik menjadi elemen penting agar partisipasi warga negara dapat berlangsung secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Literasi politik tidak hanya mencakup pengetahuan tentang sistem pemerintahan, tetapi juga pemahaman terhadap hak dan kewajiban warga negara, serta kemampuan mengevaluasi isu politik secara objektif (Farikiansyah. Rendahnya tingkat literasi politik di kalangan generasi muda sering kali menjadi penyebab munculnya sikap apatis terhadap politik dan meningkatnya penyebaran informasi yang tidak valid (Saud et al. , 2. Oleh karena itu, peningkatan literasi politik di era digital merupakan kebutuhan yang mendesak. Selain itu, literasi media berperan sebagai faktor pendukung dalam membangun kesadaran politik generasi muda. Penelitian Zulfikar dan Lestari . menunjukkan bahwa kemampuan memahami, memilah, serta memanfaatkan media secara bijak dapat memperkuat sikap kritis dan etika dalam partisipasi politik. Literasi politik dan media dengan demikian saling melengkapi sebagai dasar pembentukan masyarakat demokratis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi (Farikiansyah, 2024. Zulfikar & Lestari, 2. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, khususnya angkatan 2024 dan 2025, memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial yang berperan dalam menyebarkan nilai-nilai demokrasi. Sebagai calon intelektual muda, mereka diharapkan mampu mengembangkan kesadaran politik yang sehat dan berlandaskan pada kemampuan literasi digital yang baik. Namun, penelitian Triwikrama . mengungkapkan bahwa meskipun akses terhadap informasi politik semakin terbuka, sebagian besar mahasiswa masih cenderung mengkonsumsi konten politik secara pasif tanpa melakukan evaluasi kritis. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan . esearch ga. antara ketersediaan informasi digital dan kemampuan untuk mengolahnya menjadi pemahaman politik yang bermakna. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa FISIP Universitas Jember angkatan 2024 dan 2025 terhadap pentingnya literasi politik di era digital serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaran politik mereka. Secara Vol. No. September 2025, pp. A 363 Jurnal Pendidikan West Science teoritis, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur mengenai hubungan antara literasi politik dan media di lingkungan akademik. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam merancang strategi pembelajaran dan kegiatan yang mendukung peningkatan kompetensi literasi politik dan digital generasi muda. TINJAUAN PUSTAKA Setiap kutipan dari buku dikutip dalam teks, dan mengutip sumber dalam daftar pustaka. Kutipan dalam teks ditulis seperti ini: (Nama belakang penulis, tahun: halama. atau (Nama belakang penulis, tahu. untuk sumber buku. Sedangkan kutipan untuk sumber online ditulis seperti ini: (Nama belakang penulis/editor/institusi, tahun postin. 1 Literasi Politik Literasi politik merujuk pada kemampuan individu untuk memahami, menganalisis, dan berpartisipasi dalam proses politik secara kritis, termasuk pemahaman tentang hak, kewajiban, dan struktur pemerintahan (Pratama et al. , 2. Konsep ini menjadi krusial di era digital, di mana akses informasi politik melalui media sosial memfasilitasi partisipasi warga negara, namun juga meningkatkan risiko penyebaran misinformasi. Media sosial berperan sebagai ruang publik virtual yang memungkinkan diskusi politik, tetapi memerlukan literasi untuk membedakan fakta dari opini yang sering kali bias. 2 Keterikatan Literasi Politik dengan Literasi Media Di era digital, literasi politik memiliki keterikatan dengan literasi media, karena keduanya berperan dalam membentuk kemampuan berpikir kritis generasi muda terhadap arus informasi yang begitu cepat dan dinamis, sehingga mampu mengantisipasi tantangan yang datang. Literasi media membantu individu memahami mekanisme kerja media digital, termasuk bagaimana algoritma pada platform sosial media memfilter dan menampilkan konten berdasarkan preferensi pengguna. Pola penyaringan tersebut sering kali memunculkan fenomena echo chamber, di mana pengguna hanya terpapar informasi yang sejalan dengan pandangan dan opini pribadi mereka, hal ini berakibat pada terbatasnya pola berpikir kritis dan berpotensi meningkatkan polarisasi politik. Dalam hal ini, literasi politik berperan sebagai pengimbang masyarakat dalam mengevaluasi kredibilitas informasi, terutama informasi yang berkaitan dengan politik, dan berpartisipasi secara cerdas dalam ruang publik digital. Penguatan literasi politik dan media di kalangan generasi muda dapat membentuk agen perubahan sosial yang etis dan kritis, dan berintegritas. Edukasi literasi politik yang terarah dan berkelanjutan menjadi upaya untuk mencegah generasi muda terpengaruh disinformasi, yang dapat mengurangi kesadaran politik dan meningkatkan risiko konflik sosial. 3 Literasi Politik Mahasiswa di Era Digital Penelitian terkait menunjukkan variasi tingkat literasi politik di kalangan mahasiswa Indonesia. Literasi digital yang rendah di generasi muda sering disebabkan oleh dominasi konten hiburan di media sosial, yang berpotensi menurunkan partisipasi Namun, dengan strategi yang tepat, media sosial memiliki potensi besar dalam meningkatkan literasi politik generasi muda (Jannah et al. , 2. Studi ini relevan Vol. No. September 2025, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 364 dengan konteks mahasiswa FISIP Universitas Jember, yang sebagai calon intelektual muda perlu kesadaran politik yang kuat. Namun, penelitian spesifik tentang persepsi mahasiswa terhadap literasi politik di era digital masih terbatas, sehingga pendekatan kualitatif deskriptif cocok untuk menggambarkan pengalaman responden secara METODE PENELITIAN Jenis metode penelitian yang digunakan pada artikel ini adalah kualitatif yang menggunakan pendekatan studi literatur dari sumber daring dan survei secara daring. Metode ini dipilih untuk mengetahui gambaran faktual tentang persepsi mahasiswa FISIP Universitas Jember angkatan 2024 dan 2025 terhadap literasi politik di era digital. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan menyebarkan Google Formulir kepada responden, hal ini menyesuaikan dengan karakteristik lokasi penelitian yang berada di lingkungan akademik dan relevan dengan kontek era Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang berasal dari jawaban mahasiswa terhadap pernyataan terbuka di Google Formulir yang telah disebar dan data sekunder yang didapat dari literatur secara daring atau buku fisik yang relevan dengan tema artikel. Populasi dari penelitian adalah beberapa mahasiswa FISIP Universitas Jember angkatan 2024 dan 2025, teknik sampling purposive digunakan karena teknik ini menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu dan sesuai dengan kebutuhan penelitian (Sugiyono, 2. Data dari penelitian ini diperoleh dari jawaban Google Formulir yang berisikan pertanyaan terbuka dan pendapat guna untuk mengetahui pemahaman, persepsi, dan pengalaman dari responden. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan jawaban dari responden, penyajian data dari jawaban persepsi responden, dan menarik kesimpulan dari keseluruhan jawaban. Penelitian ini tidak menggunakan proseduk statistik karena menggunakan kualitiatif, data di olah secara naratif dan Beberapa kesulitan yang muncul selama penelitian adalah variasi kualitas jawaban dari responden, partisipasi responden yang kurang merata, dan keterbatasan verivikasi secara langsung karena data diambil melalui survei daring. Namun penelitian ini memiliki keuanggulan karena mampu menggambarkan persepsi dari mahasiswa tentang literasi politik di era digital, penggunaan survei daring yang membuat pengumpulan data lebih cepat dan efisien, serta relevan dengan konteks digital yang ada pada penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pola komunikasi politik masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa. Media sosial seperti Instagram. X (Twitte. TikTok, dan YouTube sekarang menjadi ruang utama bagi generasi muda untuk memperoleh informasi politik, berdiskusi, bahkan mengekspresikan sudut pandang mereka terhadap isu-isu publik. Dalam konteks ini, literasi politik digital menjadi hal yang penting karena berperan dalam membentuk kesadaran kritis dan partisipasi politik yang sehat di ruang digital. Mahasiswa FISIP Universitas Jember, sebagai bagian dari generasi muda, memiliki posisi yang sangat penting dalam memahami dan menjelaskan dinamika politik di era digital. Dari hasil kuesioner yang telah kami sebar kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, khususnya pada prodi Administrasi Negara. Administrasi Bisnis, dan Sosiologi Vol. No. September 2025, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 365 yang memiliki jumlah responden yang dominan dari prodi yang lain maka diperoleh data sebagai Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwasannya sebagian besar mahasiswa telah memahami terkait pentingnya literasi politik di era digital, selain itu para mahasiswa sebagian besar juga setuju bahwa memahami politik di era digital itu penting agar tidak mudah termakan berita hoax yang beredar di media sosial. Dari berbagai pendapat dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa sepakat bahwa literasi politik di era digital sangat penting bagi kalangan mahasiswa. Mereka menilai bahwa kemampuan memahami, memilah, dan menganalisis informasi politik secara kritis merupakan hal yang penting untuk menghadapi derasnya arus informasi di media digital. Literasi politik dianggap membantu mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong . , mampu berpikir objektif terhadap kebijakan pemerintah, serta dapat memberikan kritik dan kontribusi yang berguna bagi pembangunan demokrasi. Selain itu, para mahasiswa juga menyadari bahwa melek politik merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai warga negara untuk turut mengawasi jalannya pemerintahan dan menjaga keberlangsungan sistem demokrasi yang sehat. Dengan demikian, literasi politik di era digital bukan hanya penting sebagai sarana pengetahuan, tetapi juga sebagai bekal dalam membentuk karakter mahasiswa yang cerdas, kritis, dan Berdasarkan berbagai pendapat yang dihimpun dalam data yang telah dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa tantangan terbesar bagi mahasiswa dalam memahami dan menerapkan literasi politik di dunia digital terletak pada kurangnya kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi yang mereka dapatkan di tengah derasnya arus fakta dan opini yang ada di media sosial. Banyak mahasiswa mengakui bahwa hoax, disinformasi, dan banyaknya peran buzzer menjadi faktor dominan yang dapat mengaburkan batas antara fakta dan opini yang ada di media sosial. Selain itu, kondisi ini juga diperparah dengan adanya algoritma dari media sosial yang dapat menciptakan echo chamber yaitu suatu kondisi dimana pengguna media sosial hanya terpapar informasi yang sejalan dengan pandangan pribadinya, sehingga dapat mempersempit wawasan politiknya terkait fakta yang ada dan kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya polarisasi politik di media sosial. Selain itu, rendahnya literasi dan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh mahasiswa membuat sebagian dari mereka mudah terprovokasi dan tergiring oleh opini publik tanpa mencari tahu bagaimana kebenarannya. Hal tersebut dapat digambarkan dengan fenomena FOMO atau fear Vol. No. September 2025, pp. A 366 Jurnal Pendidikan West Science of missing out, yang mana fenomena ini membuat mahasiswa sering terburu-buru untuk membagikan informasi hanya dengan melihat judul suatu berita tanpa memeriksa isi dan sumber berita tersebut. Di sisi lain, masih terdapat rendahnya minat terhadap isu politik di kalangan mahasiswa yang membuat banyak mahasiswa menganggap bahwa politik merupakan hal yang rumit dan tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari sehingga membuat mereka merasa acuh tak acuh pada isu politik yang ada, padahal setiap kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan kampus dan sosial merupakan bagian dinamika politik itu sendiri. Dengan demikian, untuk menghadapi tantangan ini, mahasiswa perlu mengembangkan literasi digital serta kemampuan berpikir kritis, meningkatkan kesadaran politik, dan bersikap selektif dalam mengkonsumsi dan menyebarkan informasi. Selain itu, pendidikan literasi politik di perguruan tinggi juga dibutuhkan mengingat pentingnya membentuk generasi muda yang tidak hanya sekedar mengikuti arus perkembangan teknologi, tetapi juga mampu berpikir reflektif dan analitis serta dapat bertanggung jawab secara etis dalam ruang digital politik modern. KESIMPULAN Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari sampel yang sudah di dapat mahasiswa FISIP Universitas Jember angkatan 2024 dan 2025 memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap literasi digital. Penelitian ini menegaskan bahwa upaya pentingnya literasi politik di era digital seperti sekarang bagi kalangan mahasiswa. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah responden yang hanya mencakup 2 angkatan dan 3 program studi dan juga metode pengumpulan data yang hanya menggunakan survei daring. Dalam penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak responden dan menggunakan pendekatan yang lebih bervariasi agar diperoleh hasil yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA