EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 AuProfesionalisme Mahasiswi PAI dalam Membentuk Karakter Religius Siswa: Studi Kualitatif di SMP IT Al Munadi MedanAy Ilma Septia Azizah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ilmaseptiaazizah@gmail. Salsabila Nur Jannah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara salsabilanurjannah280@gmail. Pani Akhiruddin Siregar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara paniakhiruddin@umsu. Abstract The formation of studentsAo religious character is a fundamental pillar in Islamic education. Islamic Religious Education (PAI) students, as prospective educators, hold a strategic role in this process. This study examines the early professionalism of female students in the PAI program at Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, who concurrently serve as teachers at SMP IT Al Munadi Medan, and its impact on shaping students' religious character. Employing a qualitative case study method, data were collected primarily through in-depth interviews. The findings reveal that the students demonstrate high dedication and effective time management in balancing their dual roles as students and teachers. They actively organize and lead religious activities such as congregational prayers. QurAoanic recitations . , and Islamic holiday commemorations, which significantly contribute to enhancing studentsAo spirituality, discipline, and moral behavior. This study emphasizes that consistent habituation and exemplary conduct are key to the deep internalization of Islamic values. The results highlight the crucial role of hands-on teaching practice in developing both professionalism and the religious character of prospective educators during their academic journey. Keywords: Professionalism. PAI female students. Religious Character. Religious Activities. Abstrak Pembentukan karakter religius siswa merupakan salah satu pilar utama dalam pendidikan Islam. Mahasiswa PAI sebagai calon pendidik memiliki peran strategis. Penelitian ini mengkaji profesionalisme mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang sekaligus berperan sebagai guru di SMP IT Al Munadi Medan, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter religius siswa. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi tersebut mampu menunjukkan dedikasi tinggi dan manajemen waktu yang efektif dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan guru. Ia aktif mengorganisasi dan memimpin kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, tadarus Al-QurAoan, dan peringatan hari besar Islam yang berkontribusi signifikan dalam meningkatkan spiritualitas, kedisiplinan, dan perilaku moral siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa pembiasaan dan keteladanan yang konsisten menjadi kunci internalisasi nilai-nilai Islam secara mendalam. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengalaman praktik mengajar langsung dalam membentuk profesionalisme dan karakter religius calon pendidik selama masa studi. Kata Kunci: Profesionalisme. Mahasiswi PAI. Karakter Religius. Kegiatan Keagamaan. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam membentuk pribadi siswa yang unggul secara moral dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, pembentukan karakter religius menjadi komponen penting yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga penghayatan serta pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Zuhairini et al. , tujuan utama dari pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan iman, ketakwaan, dan akhlak mulia siswa melalui pendekatan pembelajaran yang integratif dan aplikatif. Salah satu strategi efektif dalam pencapaian tujuan ini adalah pelaksanaan kegiatan keagamaan secara rutin dan sistematis di lingkungan sekolah. Dalam praktiknya, sikap profesional seorang guru tidak selalu muncul setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal. Banyak mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) telah menjalankan peran sebagai guru meskipun mereka masih berstatus sebagai mahasiswa aktif. Fenomena ini menunjukkan adanya profesionalisme, yaitu kemampuan individu untuk menunjukkan tanggung jawab, sikap profesional, dan kompetensi pedagogis sebelum mereka dinyatakan lulus secara resmi. Keterlibatan aktif ini berkontribusi pada pembentukan identitas profesional seorang guru serta berpengaruh langsung terhadap pembinaan spiritual siswa. Sebagaimana ditegaskan oleh Muhaimin . , guru pendidikan agama memiliki tanggung jawab sebagai teladan dalam akhlak, keilmuan, dan keteguhan iman, yang idealnya dimulai sejak mahasiswa diberi amanah untuk Sebagai pendidik sekaligus mahasiswa, mahasiswi PAI yang bertugas di sekolah menghadapi berbagai tanggung jawab, termasuk pengelolaan kelas, penyusunan materi ajar, serta pengorganisasian kegiatan keagamaan. Melalui kegiatan seperti tadarus Al-QurAoan, salat berjamaah, serta peringatan hari besar Islam, mereka turut andil dalam menanamkan nilai-nilai religius kepada siswa. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa profesionalisme tidak hanya berkaitan dengan status akademik, tetapi juga tercermin dari sikap, dedikasi, dan kematangan dalam menjalankan tugas kependidikan secara bertanggung jawab. Pendidikan Islam menekankan pentingnya pembentukan karakter religius sebagai salah satu tujuan utamanya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . telah menetapkan lima nilai utama dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), salah satunya adalah karakter religius. Nilai ini meliputi pengamalan akhlak mulia, keimanan, dan EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, karakter religius siswa menghadapi tantangan besar, seperti melemahnya moralitas, minimnya perhatian terhadap aspek spiritual, dan meningkatnya pengaruh budaya asing yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di sekolah menjadi sarana strategis untuk menginternalisasikan nilai-nilai religius secara nyata dan berkesinambungan. Penelitian sebelumnya mengungkap bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan memiliki korelasi positif dengan meningkatnya sikap religius, kedisiplinan, dan tanggung jawab Aktivitas seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur'an, peringatan hari besar Islam, serta doa bersama sebelum dan sesudah belajar berperan penting dalam pembentukan moral dan spiritual siswa (Zuhairini et al. , 2. Kegiatan ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman keagamaan baik secara kognitif maupun afektif melalui pengalaman langsung. Meskipun peran mahasiswi sebagai guru cukup signifikan, masih sedikit penelitian yang mendalami bagaimana profesionalisme mereka berkontribusi terhadap pembentukan karakter religius siswa, khususnya dalam konteks pendidikan agama Islam. Mahasiswi yang mengajar di tengah tanggung jawab perkuliahan menunjukkan dinamika peran ganda yang Namun justru dalam situasi inilah profesionalisme mereka diuji. Kemampuan untuk mengelola kelas, menyampaikan materi yang bermakna, dan menanamkan nilai religius di tengah keterbatasan mencerminkan kematangan dan kesiapan mereka sebagai pendidik masa depan. Studi ini penting dilakukan untuk menggambarkan bagaimana profesionalisme muncul, diterapkan, dan berdampak terhadap karakter religius siswa melalui keterlibatan mahasiswi PAI dalam kegiatan keagamaan. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi cerminan bagi institusi pendidikan tinggi Islam dalam merancang kurikulum dan pengalaman praktik yang mampu menanamkan nilai-nilai profesionalisme sejak kepada mahasiswa. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai profesionalisme seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kelas E1 semester 6 yang telah beberapa tahun mengajar di salah satu sekolah menegah swasta, yaitu SMP IT Al Munadi di Kota Medan. Studi kasus memungkinkan peneliti mengkaji fenomena dalam konteks kehidupan nyata secara mendalam dan menyeluruh (Yin, 2. Subjek penelitian adalah satu orang mahasiswi PAI UMSU yang secara aktif menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan guru. Lokasi penelitian adalah sekolah tempat subjek mengajar, yaitu di SMP IT Al Munadi Medan yang dimana menjadi konteks penting dalam memahami proses pembinaan karakter religius siswa. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive karena dianggap mewakili fenomena profesionalisme yang relevan untuk dikaji. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan siswa seperti salat berjamaah, tadarus, dan peringatan hari besar Islam. wawancara mendalam dengan subjek utama. serta dokumentasi berupa catatan kegiatan keagamaan, dan program pembinaan karakter. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles. Huberman, & Saldaya. Validitas data dijaga melalui triangulasi teknik dan sumber, serta member checking untuk memastikan bahwa interpretasi data telah sesuai dengan pengalaman informan (Creswell, 2. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 HASIL DAN PEMBAHASAN Profesionalisme Mahasiswi PAI Profesionalisme dalam konteks ini merujuk pada kesiapan mahasiswi dalam menjalankan peran sebagai pendidik meskipun masih berada pada tahap pendidikan formal di perguruan tinggi. Mahasiswi yang menjadi subjek penelitian menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyeimbangkan tuntutan akademik dan profesional. Ia bukan hanya hadir di sekolah sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan spiritual siswa. Sudrajat . menekankan bahwa profesionalisme guru tidak hanya terletak pada kualifikasi akademik, tetapi juga pada dedikasi dan tanggung jawab moral terhadap tugasnya sebagai pendidik. Hal ini diperkuat oleh temuan lapangan bahwa subjek tidak hanya hadir sebagai pengajar materi, melainkan juga sebagai pembimbing spiritual dan moral siswa. Sikap disiplin, motivatif, serta konsisten hadir dan terlibat dalam kegiatan sekolah menunjukkan kualitas profesionalisme yang patut diapresiasi. Penelitian ini menemukan bahwa subjek, seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), telah menunjukkan profesionalisme yang menonjol dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa dan guru. Sejak tahun 2022, subjek telah aktif mengajar di sekolah dasar sambil menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi. Pengalaman mengajar yang cukup panjang, memperkuat kematangan emosional dan keprofesionalan subjek dalam menghadapi dinamika kelas. Dalam proses observasi, subjek terpantau aktif dalam perencanaan pembelajaran berbasis karakter, penyusunan program kegiatan keagamaan, serta mampu menjalin komunikasi efektif dengan siswa dan rekan guru. Kedisiplinan dalam menjalankan jadwal mengajar, kemampuan memotivasi siswa, dan komitmen terhadap pembentukan karakter terlihat dari kehadirannya yang konsisten dan partisipasinya dalam hampir seluruh kegiatan Motivasi subjek dalam mengajar berasal dari dorongan internal dan eksternal. Secara pribadi, mengajar dianggap sebagai bagian dari aktualisasi diri serta telah menjadi rutinitas yang terinternalisasi dan menjadi bagian dari minat pribadi yang sudah dilakukan sejak lama. Kepatuhan kepada keluarga juga menjadi bagian dari motivasi spiritual yang memperkuat semangatnya dalam mendidik. Subjek mendefinisikan profesionalisme sebagai kemampuan menunjukkan kualitas diri sesuai dengan peran dan kewajiban di tempat ia berada. Hal ini tercermin dari EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 pengelolaan waktu antara kuliah dan tugas mengajar yang berlangsung harmonis. Pihak sekolah pun memberikan fleksibilitas ketika subjek harus menghadiri kegiatan penting di kampus, sementara kampus juga menyediakan jadwal kuliah yang bias dipilih agar tidak mengganggu aktivitas mengajar. Peran ganda sebagai mahasiswa dan guru menjadi tantangan tersendiri, tetapi subjek menunjukkan bahwa tekanan tersebut justru menjadi pemicu untuk berprestasi dan lebih bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan konsep learning by doing dalam pendidikan profesional, di mana pengalaman praktik langsung lebih cepat membentuk etos kerja dan kematangan karakter (Kolb, 2. Implementasi Kegiatan Keagamaan sebagai Instrumen Pembentukan Karakter Mahasiswi yang menjadi subjek penelitian tidak hanya berperan sebagai guru dalam ranah kognitif, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam pembentukan karakter religius siswa melalui kegiatan keagamaan. Kegiatan ini tidak dilaksanakan secara seremonial, melainkan dibarengi dengan pembinaan makna dan keteladanan langsung. Beberapa kegiatan keagamaan rutin yang dilaksanakan meliputi:Salat dhuha bersama setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi. IsraAo MiAoraj, dan Tahun Baru Islam 1 Muharram, dan yang lainnya A Pembiasaan akhlak mulia, seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, serta membiasakan salam. Salat dhuha bersama setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Tadarus Al-QurAoan rutin, dibimbing langsung oleh guru. Kultum harian yang dilakukan oleh siswa secara bergiliran. Halaqah al-Matsurat dan halaqah Al-Kahfi setiap Jumat. MABIT (Malam Bina Iman dan Takw. yang diadakan dua malam setiap enam MutabaAoah yaumiyah sebagai catatan ibadah harian siswa. Setiap kegiatan ini bukan hanya dijalankan secara seremonial, tetapi dibarengi dengan pembinaan makna dan penguatan nilai-nilai Islam. Misalnya, setelah salat dhuha, guru menyampaikan pesan moral singkat yang relevan dengan kehidupan siswa. Ini memperkuat pemahaman bahwa agama bukan hanya ibadah, tetapi juga pembentuk akhlak dan karakter. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Menurut Lickona . , pendidikan karakter berbasis agama sangat efektif bila diterapkan dalam bentuk pembiasaan yang berkelanjutan dan keteladanan langsung. Dalam konteks ini, subjek berfungsi sebagai role model yang memperkuat internalisasi nilai-nilai religius di lingkungan sekolah. Penguatan karakter juga dilakukan melalui refleksi mingguan, di mana siswa diajak mengevaluasi sikap, perilaku, dan capaian ibadah mereka. Kegiatan ini membuat siswa lebih sadar akan pentingnya menjalankan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar Pengaruh Kegiatan terhadap Karakter Religius Siswa Dari hasil wawancara, diperoleh informasi bahwa implementasi kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh subjek membawa perubahan nyata terhadap sikap dan karakter religius Beberapa indikator perubahan yang teridentifikasi antara lain: Siswa menjadi terbiasa mengucapkan salam kepada guru dan teman. Meningkatnya kesadaran beribadah secara mandiri, termasuk salat lima waktu. Meningkatnya sikap sopan santun, empati, dan gotong royong. Bertambahnya minat siswa dalam belajar Al-QurAoan dan mengikuti kegiatan keagamaan di luar sekolah. Salah satu siswa mengungkapkan bahwa ia merasa lebih dekat dengan Islam sejak aktif dalam kegiatan tadarus dan kultum. Seorang guru juga menyatakan bahwa siswa kini lebih tenang dan hormat saat berbicara kepada orang tua dan guru, yang sebelumnya sulit dibentuk melalui metode pengajaran biasa. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan agama yang dilakukan secara holistik, melibatkan afeksi dan perilaku nyata, lebih efektif dibanding pendekatan kognitif semata. Zubaedi . menegaskan bahwa pendidikan karakter yang sukses adalah yang mencakup tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam hal ini, kegiatan keagamaan yang dikelola oleh subjek mampu menyentuh ketiga aspek tersebut secara seimbang. Dampak positif ini menunjukkan bahwa guru PAI, meskipun masih berstatus mahasiswa, bisa menjadi agen perubahan yang kuat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang religius dan berkarakter. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 Refleksi Subjek dan Harapan Mahasiswi subjek penelitian menyampaikan harapannya kepada sesama mahasiswi PAI agar tidak ragu mengambil keputusan untuk terjun langsung ke dunia pendidikan, meskipun masih dalam tahap perkuliahan. Menurutnya, pengalaman nyata di lapangan merupakan sarana terbaik untuk mengasah tanggung jawab, kedewasaan, dan kepekaan Ia menekankan pentingnya mengelola waktu antara kuliah dan aktivitas mengajar, serta menjaga sikap profesional di berbagai situasi. Refleksi ini menegaskan bahwa profesionalisme tidak hanya berbentuk capaian akademik, tetapi juga tercermin dalam sikap, komitmen, dan keteladanan. Ia meyakini bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjadi panutan dan pembimbing karakter bagi siswa. Konsep learning by doing sebagaimana dijelaskan Kolb . tampak nyata dalam pengalaman subjek. Melalui keterlibatan langsung dalam praktik mengajar, pembinaan keagamaan, serta interaksi intens dengan siswa, subjek membentuk integritas pribadi dan spiritualitas yang matang. Inilah yang menjadi fondasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang religius dan berkarakter. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa profesionalisme mahasiswi PAI yang aktif berkuliah sekaligus berperan sebagai guru di SMP IT Al Munadi Medan berdampak positif dalam membentuk karakter religius siswa. Mahasiswi tersebut menunjukkan dedikasi tinggi, kompetensi pedagogis, dan peran aktif dalam kegiatan keagamaan seperti salat dhuha, tadarus Al-QurAoan, kultum harian, dan peringatan hari besar Islam. Melalui pembiasaan dan keteladanan, siswa mengalami peningkatan spiritualitas, kedisiplinan, sopan santun, dan minat terhadap aktivitas keagamaan. Wawancara mendukung bahwa keterlibatan konsisten subjek membawa perubahan nyata dalam kesadaran dan sikap religius siswa. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dalam dunia pendidikan memperkuat profesionalisme mahasiswi, membentuk kepekaan sosial, dan meningkatkan tanggung jawab sebagai calon pendidik. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi mahasiswi PAI untuk berkembang secara langsung dalam praktik pendidikan guna mencetak pendidik yang profesional dan berkarakter religius sejak masa studi. EL HAYAH: Jurnal Studi Islam. Vol. 15 No. 1 Juni 2025 ISSN : 2086 - 4337 E-ISSN 2809-7920 REFERENSI