Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Pendekatan Guru dalam Mengidentifikasi dan Mendukung Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Slow Learner di Sekolah Dasar Namira Alfia Hikma1. Zahra Marta Hafidzah2. Zulfa Dewina3 1,2,3 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta. Indonesia Corresponding Author: alfia1@gmail. ABSTRACT Key Word Penelitian ini membahas strategi guru dalam mengenali dan membantu siswa slow learner di tingkat sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa guru memanfaatkan tes diagnostik, pengulangan materi, media visual, serta pendekatan multisensori untuk mendukung proses belajar siswa slow learner. Dukungan orang tua dan kolaborasi dengan tenaga profesional menjadi elemen penting dalam keberhasilan pendidikan inklusif. Meski demikian, penelitian ini mengidentifikasi tantangan seperti keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan guru, dan pengelolaan kelas yang Oleh karena itu, disarankan adanya peningkatan pelatihan guru dan kebijakan sekolah yang mendukung pendidikan inklusif guna mengoptimalkan potensi siswa slow learner. Slow Learner. Pendidikan Inklusif. PDBK. How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr ARTICLE INFO Article history: Received 10 November 2024 Revised 21 December 2024 Accepted 10 January 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan inklusif muncul dengan tujuan memberikan kesempatan kepada semua individu untuk mengakses pendidikan berkualitas, sehingga peserta didik berkebutuhan khusus dapat belajar bersama teman-teman sebayanya di kelas reguler. Hermanto. Wiyono. Imron, dan Arifin . mendefinisikan pendidikan inklusif sebagai sistem pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang memberikan peluang setara untuk belajar di sekolah pada semua tingkat kelas. Melalui pendekatan ini, siswa berkebutuhan khusus dapat belajar bersama di lingkungan kelas yang sama dengan teman-teman seusianya, serta memperoleh kesempatan pendidikan yang setara di setiap jenjang sekolah. Salah satu kelompok peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang membutuhkan perhatian khusus dalam pendidikan inklusif adalah siswa slow learner. Siswa slow learner merupakan individu dengan kemampuan kognitif di bawah ratarata, namun tidak termasuk dalam kategori gangguan intelektual. Mereka kerap Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 mengalami kesulitan dalam memproses informasi dengan cepat, memahami konsep abstrak, dan menyelesaikan tugas akademik dengan kecepatan yang sama seperti teman sebayanya (Lerner, 2. Oleh karena itu, siswa slow learner membutuhkan pendekatan pembelajaran yang adaptif dan khusus untuk membantu mereka mengembangkan potensi secara optimal. Pengenalan awal merupakan langkah penting dalam menangani kebutuhan siswa dengan slow learner. Guru sekolah dasar, sebagai ujung tombak dalam pembelajaran, memiliki peran utama dalam mengenali karakteristik dan kebutuhan siswa slow learner sejak dini. Proses ini dapat dilakukan melalui tes diagnostik, pengamatan di kelas, serta kolaborasi dengan orang tua dan tenaga ahli, seperti psikolog atau dokter. Suparno . menyatakan bahwa identifikasi dini membuka peluang untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif. Dalam pembelajaran, siswa slow learner memerlukan pendekatan yang menekankan pengulangan materi, pemanfaatan alat bantu visual, dan metode Pendekatan ini selaras dengan teori pembelajaran berbasis pengalaman yang dikemukakan oleh Kolb . , yang menekankan pentingnya melibatkan pengalaman nyata untuk membantu siswa memahami dan menginternalisasi konsep. Selain itu, metode berbasis proyek dan pembelajaran individual juga terbukti efektif dalam memenuhi kebutuhan siswa slow learner (Smylie, 1. Namun, penerapan metode ini kerap menghadapi berbagai tantangan, seperti minimnya pelatihan guru, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kesulitan dalam mengelola kelas yang Di sisi lain, dukungan dari orang tua dan sekolah merupakan elemen penting dalam keberhasilan pendidikan inklusif. Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan siswa slow learner dipahami dan didukung secara optimal, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Namun, dalam kenyataannya, tidak semua orang tua mampu menerima kondisi anak mereka, sehingga menghambat proses kerja sama (Clark. Dyson. Millward, & Robson, 1. Selain itu, keterbatasan anggaran dan kebijakan sekolah sering menjadi kendala dalam menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung pendidikan inklusif. Berdasarkan penelitian tersebut, diperlukan kajian lebih mendalam mengenai pendekatan guru dalam mengenali dan mendukung siswa slow learner di sekolah Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang strategi yang diterapkan oleh guru, tantangan yang dihadapi, serta bentuk dukungan yang disediakan di sekolah. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi praktis guna meningkatkan kualitas pendidikan inklusif, khususnya bagi siswa slow learner, sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan potensi yang Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis bagaimana guru mengidentifikasi dan mendukung siswa slow learner di sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru kelas dan orang tua untuk memahami strategi pembelajaran, tantangan yang dihadapi, serta bentuk dukungan yang diberikan. Selain itu, observasi partisipan dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran di kelas, termasuk metode pengajaran dan partisipasi siswa slow learner. Dokumentasi terkait kebijakan sekolah tentang pendidikan inklusif juga digunakan untuk melengkapi data. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan guna mengidentifikasi pola-pola yang relevan. Untuk meningkatkan validitas hasil penelitian, dilakukan triangulasi sumber . uru, siswa, dan orang tu. serta triangulasi metode . awancara, observasi, dan dokumentas. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam mengenai praktik pendidikan inklusif di sekolah dasar untuk siswa slow learner. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep pendidikan inklusif muncul dengan tujuan mendorong semua orang untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas tinggi, yang memungkinkan peserta didik berkebutuhan khusus belajar bersama teman sebayanya di kelas reguler. Menurut Hermanto. Wiyono. Imron, dan Arifin . , pendidikan inklusif adalah sistem pengajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang memberikan kesempatan belajar setara di sekolah bagi siswa di semua tingkat kelas. Melalui pendidikan inklusif, siswa dengan kebutuhan khusus dapat belajar bersama temanteman seusianya di lingkungan kelas yang sama, mendapatkan kesempatan belajar yang sama dalam setiap jenjang pendidikan. Identifikasi dan penanganan siswa dengan kebutuhan khusus di sekolah dasar, khususnya untuk siswa dengan kategori slow learner, sangat penting untuk memastikan bahwa semua siswa dapat mencapai potensi akademik mereka. Siswa slow learner memiliki karakteristik dan kebutuhan khusus yang memengaruhi proses belajar mereka, sehingga perlu adanya penyesuaian metode dan strategi dalam proses Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebanyak 14 siswa di sekolah ini teridentifikasi sebagai slow learner dan tersebar di berbagai kelas dari kelas 1 hingga kelas 6. Identifikasi siswa berkebutuhan khusus, termasuk slow learner, dilakukan sejak siswa masuk kelas 1. Identifikasi dini ini bertujuan agar kebutuhan khusus siswa dapat segera ditangani dengan tepat. Menurut Suparno . , identifikasi dini membantu dalam penyesuaian metode belajar yang lebih efektif, khususnya untuk siswa yang membutuhkan perhatian lebih dalam proses belajar mereka. Setiap awal semester, guru Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 melakukan tes diagnostik untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan mereka, dengan tujuan memahami kategori kebutuhan masing-masing Tes ini memberikan informasi awal mengenai kesulitan belajar siswa dan menjadi dasar untuk menentukan metode belajar yang paling tepat. Selain tes diagnostik, identifikasi juga dilakukan dengan menerima surat rujukan dari psikolog atau dokter. Rujukan ini menjadi panduan bagi guru untuk memberikan perhatian khusus, terutama pada siswa yang membutuhkan metode pengajaran Hal ini sesuai dengan teori inklusi pendidikan yang dikemukakan oleh Clark, . Dyson. Millward. , & Robson. , yang menyatakan bahwa keterlibatan ahli atau tenaga medis, seperti psikolog, sangat penting dalam memberikan dukungan profesional bagi sekolah agar kebutuhan siswa berkebutuhan khusus dapat terpenuhi. Kriteria yang digunakan untuk mengategorikan siswa slow leaner di sekolah ini mencakup beberapa aspek utama. Pertama, siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. mereka cenderung lambat dalam menangkap materi yang disampaikan guru. Siswa slow learner biasanya memerlukan waktu belajar yang lebih panjang dibandingkan siswa lainnya, dan mereka membutuhkan proses belajar yang berulang agar dapat memahami dan mengingat informasi atau tugas yang diberikan. Menurut Lerner . , siswa slow learner memiliki keterbatasan dalam kecepatan proses kognitif, yang berarti mereka memerlukan waktu lebih lama dalam memahami konsep-konsep akademis. Mereka sering kali membutuhkan bantuan tambahan, baik dari guru maupun melalui berbagai alat bantu belajar. Sebagai tambahan. Smylie . menyatakan bahwa untuk mendukung siswa slow learner, diperlukan pendekatan yang berbasis pada pemahaman terhadap kecepatan belajar mereka, serta alat bantu yang lebih mendukung gaya belajar mereka. Penggunaan alat bantu visual, pengulangan materi, dan instruksi yang lebih sederhana dapat membantu siswa slow learner dalam mengatasi kesulitan belajar mereka. Dalam proses pembelajaran, siswa slow learner memiliki karakteristik khusus yang memerlukan metode pengajaran yang lebih variatif. Meskipun sudah melalui proses pengulangan dalam belajar, siswa ini sering kali masih mengalami kesulitan dalam memahami tugas atau materi tertentu. Karakteristik ini sesuai dengan teori pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. yang dikemukakan oleh Kolb . , di mana pembelajaran yang efektif bagi siswa dengan kebutuhan khusus perlu melibatkan berbagai pendekatan dan pengalaman yang nyata agar mereka lebih mudah memahami materi. Guru disarankan untuk mengimplementasikan pembelajaran multisensori dan berbasis proyek yang dapat membantu siswa slow learner mengaitkan konsep-konsep akademis dengan situasi nyata. Secara umum, siswa slow learner juga menunjukkan keterbatasan dalam hal memusatkan perhatian untuk jangka waktu yang lama. Mereka lebih cepat kehilangan fokus dibandingkan dengan siswa lainnya, sehingga guru perlu mengatur Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 pembelajaran dalam sesi-sesi singkat dan menarik. Pada akhirnya, proses belajar bagi siswa slow learner membutuhkan pendekatan yang sabar, berulang, dan sering kali personal agar siswa dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya. Identifikasi dan penanganan siswa slow learner di sekolah dasar merupakan hal yang esensial untuk memastikan inklusi pendidikan berjalan dengan optimal. Proses identifikasi sejak dini, kriteria kebutuhan khusus, dan pemahaman terhadap karakteristik pembelajaran siswa slow learner menjadi dasar yang kuat bagi guru dalam menentukan strategi belajar yang sesuai. Dengan metode pembelajaran yang adaptif, pendekatan berbasis pengalaman, dan dukungan yang tepat, siswa slow learner dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan dan berkembang sesuai potensi yang mereka miliki. Tabel 1. Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Dasar Nama Kelas Karakteristik Perilaku di Kelas a Siswa membutuhkan a Cenderung diam saat waktu lebih lama diskusi kelompok atau tanya-jawab di kelas. konsep-konsep baru a Lebih banyak diam saat yang diajarkan. a Ia kelompok atau sesi tanya-jawab di kelas. pengulangan materi a Tampak gelisah atau memproses informasi secara cepat. memahami pelajaran. a Hasil belajarnya sering a Cenderung menunda dibandingkan temandan sering meminta waktu tambahan. meskipun ia tampak a Sering mengandalkan sudah berusaha. bantuan teman atau a Ia yang sederhana. menghadapi kesulitan. a Siswa sulit untuk a Sering menyendiri saat fokus dalam jangka waktu yang lama. a Dia mungkin masih a Mudah menangis jika mengalami kesulitan merasa tertinggal dari mengenali huruf atau teman-teman. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 a Siswa merasa malu atau takut salah saat menjawab pertanyaan di depan kelas. a Meskipun dalam tugas sekolah, dalam seni a Butuh waktu lebih memahami pelajaran dan sering kesulitan menerapkan konsep a Kemampuan Siswa butuh lebih banyak memahami materi. a Ssiwa memahami instruksi panjang dan bingung jika diberikan banyak tugas sekaligus. a Siswa sering merasa untuk berpartisipasi karena melihat temantemannya lebih cepat A Siswa sering kesulitan A Dia biasanya lebih menyelesaikan tugas a Sering tugas yang diberikan. a Lebih antusias saat melibatkan kreativitas, atau mewarnai. a Siswa ketika ingin bertanya. a Cenderung menyendiri dalam diskusi a Dia mudah merasa kesal atau menyerah saat kesulitan a Sering gelisah atau melamun jika tidak paham pelajaran, dan butuh waktu lebih lama untuk merespons. A Siswa cenderung lebih pendiam dan jarang A Dia sering kelihatan bingung saat guru Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 dibandingkan temantemannya. A Siswa daya ingatnya kurang kuat untuk informasi baru. A Siswa biasanya butuh untuk menyelesaikan PR dan sering meminta bantuan ke teman atau A Siswa mengeja kata. A Dia terhadap gambar dan seni, tetapi kurang dalam pelajaran di A Siswa sangat pandai dalam berbicara, tetapi dia sering kesulitan memahami instruksi A Siswa waktu dan urutan A Dia pengulangan materi untuk bisa memahami materi dengan baik. A Siswa merasa rendah diri dengan akademik. A Siswa dan seringkali tampak tidak fokus di kelas. A Dia sering melupakan A Siswa mengalihkan perhatian dengan menggambar di buku catatannya saat pelajaran berlangsung. A Dia lebih aktif dalam diskusi kelompok kecil dihadapkan pada tugas A Siswa kadang merasa frustrasi ketika tidak tugas dengan baik. A Siswa suka membantu teman-temannya, tetapi merasa gugup ketika harus tampil di depan A Dia sering bertanya untuk klarifikasi, tetapi kadang-kadang tidak jawabannya sendiri. A Siswa lebih menyukai aktivitas praktis dan A Siswa bermain-main dengan barang-barang mejanya saat pelajaran Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 tugas yang diberikan dan lupa membawa A Siswa memiliki minat tinggi pada olahraga, tetapi kurang dalam A Dia dorongan ekstra untuk menyelesaikan tugas. A Siswa lebih aktif saat kegiatan fisik di luar kelas, tetapi kurang aktif apabila saat harus duduk dan belajar di A Siswa sering kesulitan fokus saat pelajaran A sering dengan instruksi, jadi butuh waktu lebih memahami materi. A Ia lebih tertarik pada aktivitas kreatif seperti pelajaran akademis. A Siswa yang baik, namun A Ia cenderung merasa mengerjakan tugas di A Siswa seperti permainan dan lebih konvensional. A Siswa sering melamun atau main alat tulis saat guru menjelaskan. A Ia butuh dorongan untuk ikut diskusi kelas dan hanya jawab A Siswa A berkembang baik dengan bimbingan belajar individu, tapi kesulitan saat bekerja dalam kelompok. A Siswa sering minta bantuan teman saat mengerjakan tugas dan kadang frustrasi kalau tidak bisa selesai. A Siswa teman, tapi cenderung menarik diri kalau harus tampil di depan A Saat permainan. Siswa B lebih antusias dan bisa dengan lebih baik. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 A Siswa agak lambat terutama saat belajar A Dia sering kesulitan hal-hal yang baru diajarkan, kadang-kadang dia perlu dijelaskan ulang beberapa kali agar bisa paham. A Siswa agak kesulitan saat membaca dan Dia sering kata-kata. A Ssiwa lebih mudah mengerti kalau ada gambar atau diagram yang menjelaskan, jadi dia lebih suka belajar dengan cara itu. A Siswa sering kesulitan memahami instruksi diulang beberapa kali agar dia mengerti. A Siswa lebih suka dan melakukan aktivitas belajar teori. A Siswa sering kesulitan A Siswa sering terlihat bingung saat guru menjelaskan pelajaran A Dia suka bertanya, tapi kadang-kadang mengulang pertanyaan A Siswa agak lambat, tapi sangat rajin dan selalu menyelesaikan semua tugas yang diberikan. A Siswa sering terlihat Tapi, kalau ada tugas gambar, dia jadi sangat antusias dan semangat A Siswa temantemannya, meskipun kadang-kadang sendiri belum paham materi dengan baik. A Siswa sering terlihat menjawab pertanyaan di depan kelas. A Dia lebih suka bekerja dalam kelompok kecil karena merasa lebih nyaman di situ. A Meskipun kesulitan, siswa selalu berusaha untuk ikut aktif dalam kegiatan A Sering berbicara sendiri atau ngobrol dengan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 terlihat gelisah. A Siswa juga sering lupa dengan tugas yang diberikan dan perlu diingatkan berkali-kali agar tidak terlupa. A Siswa sering kesulitan yang sulit, terutama dalam pelajaran sains. A Dia lebih gampang bentuk cerita atau contoh yang nyata. teman-temannya saat Ketika mendapat tugas, yang harus ditulis. Meskipun begitu, siswa punya imajinasi yang Sering terlihat lebih antusias saat contohcontoh nyata dalam Siswa mendengarkan cerita dan sering mengajukan berhubungan dengan Meskipun cenderung yang besar ketika topik yang dibahas adalah hal-hal yang dia suka. Proses Pelaksanaan yang Dilakukan Guru di Kelas Peran guru kelas sangat penting dalam proses identifikasi awal kebutuhan belajar siswa, terutama untuk siswa berkebutuhan khusus. Setiap awal semester, guru melakukan tes diagnostik untuk menilai kemampuan akademis dan perkembangan sosial-emosional siswa. Tes ini tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kategori kebutuhan masing-masing siswa, tetapi juga sebagai langkah awal untuk merancang program pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai. Setelah hasil tes diperoleh, guru segera mengundang orang tua untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai hasil temuan, serta meminta surat dari dokter atau psikolog sebagai bukti tambahan yang mendukung analisis kebutuhan siswa. Selain itu, guru juga menggali informasi dari Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 guru lain yang pernah mengajar anak-anak tersebut untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi siswa. Dalam rangka menyesuaikan kurikulum agar lebih inklusif, sekolah berupaya menambah waktu belajar bagi siswa berkebutuhan khusus dan mengadaptasi pendekatan sesuai dengan kebijakan pemerintah serta kebutuhan individu siswa Metode dan media pembelajaran yang digunakan dalam proses ini sangat Guru tidak hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi juga menerapkan metode berbasis proyek yang memungkinkan siswa lebih terlibat dalam pembelajaran praktis. Pembelajaran individual juga sangat penting untuk memberikan perhatian lebih pada setiap siswa, mengingat perbedaan kebutuhan yang ada. Teknik multi-sensorik yang melibatkan berbagai indera seperti pendengaran, penglihatan, dan sentuhan, juga diterapkan untuk memaksimalkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Proses evaluasi perkembangan belajar siswa berkebutuhan khusus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk observasi langsung di kelas dan tes formal yang telah diadaptasi untuk mengakomodasi kebutuhan siswa. Evaluasi ini tidak hanya berdasarkan hasil ujian atau tes, tetapi juga mencakup umpan balik dari rekan sejawat, seperti guru lain yang bekerja dengan siswa tersebut, dan orang tua, yang memberikan perspektif tambahan mengenai kemajuan atau tantangan yang dihadapi siswa di luar Dengan pendekatan ini, evaluasi menjadi lebih holistik dan mencakup berbagai aspek perkembangan siswa. Namun, meskipun upaya yang dilakukan cukup beragam, tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mengajar siswa berkebutuhan khusus tetap tidak sedikit. Salah satu tantangan terbesar adalah manajemen kelas, karena guru harus menyeimbangkan kebutuhan siswa reguler dengan siswa berkebutuhan khusus. Hal ini memerlukan keterampilan pengelolaan waktu dan ruang yang baik agar setiap siswa dapat menerima perhatian yang cukup. Selain itu, komunikasi dengan orang tua juga menjadi kendala yang cukup signifikan, terutama ketika orang tua belum dapat menerima kondisi anaknya atau kurang terbuka mengenai kebutuhan khusus yang dimiliki anak mereka. Kurangnya keterbukaan ini seringkali menghambat upaya guru dalam merancang pendekatan yang sesuai. Di samping itu, guru juga merasakan adanya kekurangan dalam hal pelatihan khusus bagi guru kelas dan keterbatasan jumlah guru inklusi di sekolah. Kekurangan ini menjadi hambatan dalam memberikan layanan pendidikan yang optimal bagi siswa berkebutuhan khusus. Untuk itu, diperlukan program pelatihan berkelanjutan bagi guru serta peningkatan jumlah guru yang terlatih dalam pendidikan inklusif agar semua siswa, termasuk yang berkebutuhan khusus, dapat mengakses pendidikan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 Kebijakan dari Manajemen Kepala Sekolah Sekolah yang berada pada kecamatan Pasar Rebo ini, meskipun memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang inklusif, masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pembelajaran siswa berkebutuhan khusus. Salah satu tantangan utama adalah belum adanya ruang khusus yang diperuntukkan bagi siswa dengan kebutuhan khusus atau ruang disabilitas yang memadai. Hingga saat ini, fasilitas pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus masih bergabung dengan kelas reguler, yang kadang menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan spesifik siswa tersebut. Interaksi dengan siswa reguler dalam ruang kelas yang sama sering kali membuat perhatian yang lebih mendalam terhadap siswa berkebutuhan khusus menjadi lebih sulit tercapai. Selain itu, jika ada kebutuhan untuk konseling atau perhatian khusus, pihak sekolah harus menggunakan ruang UKS sebagai alternatif sementara. Meskipun ruang UKS memiliki fungsi lain, penggunannya untuk tujuan konseling tidak ideal karena ruang tersebut tidak dirancang untuk mendukung kegiatan terapi atau konsultasi yang memerlukan privasi dan kenyamanan yang lebih. Dalam hal anggaran, sekolah juga menghadapi kendala yang signifikan. Hingga saat ini, belum ada alokasi dana khusus untuk program pendidikan inklusif. Akibatnya, sekolah kesulitan menyediakan alat bantu belajar khusus yang bisa mendukung perkembangan akademik siswa berkebutuhan khusus. Alat bantu tersebut sangat penting, terutama bagi siswa dengan keterbatasan fisik, sensorik, atau kognitif, yang memerlukan media atau teknologi tertentu agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih efektif. Selain itu, karena tidak adanya anggaran yang dikhususkan untuk pendidikan inklusif, sekolah juga belum dapat menyelenggarakan pelatihan atau workshop khusus bagi guru dalam menangani siswa berkebutuhan khusus. Hal ini mengakibatkan para guru masih menggunakan metode pengajaran yang bersifat umum dan kurang mengakomodasi kebutuhan spesifik siswa berkebutuhan khusus. Tanpa pelatihan yang memadai, guru tidak dapat sepenuhnya memahami dan mengimplementasikan pendekatan pengajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan setiap siswa. Meski demikian, dalam menghadapi berbagai keterbatasan tersebut, sekolah tetap berupaya memberikan dukungan terbaik bagi siswa berkebutuhan khusus. Salah satu langkah yang diambil oleh sekolah adalah membangun kerja sama dengan pihak eksternal, seperti Rumah Sakit Harapan Bunda. Kerja sama ini bertujuan untuk membantu dalam proses identifikasi dan penanganan siswa berkebutuhan khusus dengan dukungan tenaga profesional. Tenaga medis dan psikologis yang terlibat dalam kemitraan ini memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam memahami kondisi spesifik setiap siswa. Dukungan ini tidak hanya berguna dalam mendalami tantangan yang dihadapi siswa, tetapi juga dalam menyusun pendekatan pembelajaran yang lebih Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 297-310 terarah dan disesuaikan dengan kebutuhan individual mereka. Melalui kemitraan ini, diharapkan sekolah dapat lebih memahami dan mengelola berbagai kebutuhan siswa berkebutuhan khusus dengan lebih baik, meskipun terbatas oleh sumber daya dan fasilitas internal yang ada. Sekolah juga berusaha untuk melibatkan orang tua dalam proses ini, dengan mengadakan pertemuan rutin yang melibatkan tenaga ahli untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang kondisi anak mereka. Kerja sama ini menjadi penting, karena keterlibatan orang tua yang aktif dapat mendukung perkembangan siswa di luar lingkungan sekolah, serta membantu dalam merancang pendekatan yang lebih holistik dalam mendukung pendidikan anak mereka. Meskipun tidak ada anggaran atau fasilitas yang memadai, upaya-upaya ini menunjukkan komitmen kuat dari pihak sekolah untuk memberikan layanan yang lebih baik dan lebih tepat bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun, untuk mewujudkan tujuan ini secara lebih optimal, diperlukan dukungan lebih lanjut baik dari pemerintah, masyarakat, maupun lembaga lain yang berkepentingan dalam pendidikan inklusif. KESIMPULAN Pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan akses pendidikan yang setara bagi semua siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, seperti siswa slow Identifikasi dini dan penanganan yang tepat terhadap siswa berkebutuhan khusus sangat penting untuk membantu mereka mencapai potensi akademik mereka. Proses identifikasi dilakukan melalui tes diagnostik dan rujukan dari tenaga medis, serta melibatkan orang tua dan guru lain. Metode pengajaran yang adaptif, berbasis pengalaman, dan multisensori diperlukan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa slow learner. Meskipun terdapat tantangan dalam manajemen kelas dan kurangnya pelatihan bagi guru, sekolah tetap berusaha memberikan dukungan dengan menjalin kerja sama dengan pihak eksternal. Namun, keterbatasan dalam sarana, prasarana, dan anggaran menjadi kendala dalam pelaksanaan pendidikan inklusif yang optimal. DAFTAR PUSTAKA