Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4, April 2025 ISSN: 27342488 PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA SEKOLAH DASAR Sri Wulan Valentina1, Imas Mastoah2 Email: sriwulanvalentina142@gmail.com1, imas.mastoah@uinbanten.ac.id2 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan model pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar melalui metode kajian literatur review. Kajian ini mengidentifikasi berbagai jenis model pembelajaran berbasis digital yang efektif serta merumuskan strategi implementasinya dalam konteks pendidikan sekolah dasar di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menganalisis publikasi ilmiah dari berbagai database akademik dalam rentang waktu 10 tahun terakhir (2015-2025) menggunakan pendekatan PRISMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis digital memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan membaca, mencakup aspek kelancaran (fluency), pemahaman (comprehension), pengembangan kosakata (vocabulary), dan motivasi membaca. Model pembelajaran yang efektif meliputi blended learning, inquiry berbasis literasi digital, dan model pembelajaran dengan dukungan teknologi interaktif seperti e-book, aplikasi membaca, multimedia, serta teknologi AR/VR. Implementasi model pembelajaran digital di sekolah dasar memerlukan infrastruktur yang memadai, kompetensi digital guru, dan strategi integrasi kurikulum yang terencana. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun terdapat tantangan dalam implementasi, dengan pendekatan yang tepat dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, model pembelajaran berbasis digital dapat diimplementasikan secara efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar di Indonesia. Implikasi dari penelitian ini mencakup pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan teknologi, penguatan kompetensi digital guru, dan optimalisasi peran orangtua dalam mendukung pembelajaran berbasis digital. Kata Kunci: Model Pembelajaran Digital, Kemampuan Membaca, Sekolah Dasar, Teknologi Pendidikan, Literasi Digital. 1 PENDAHULUAN Kemampuan membaca adalah keterampilan dasar yang sangat penting di tingkat sekolah dasar. Keterampilan ini bukan hanya berperan dalam mendapatkan informasi dari buku, tetapi juga memfasilitasi pelajaran lain yang memerlukan pemahaman teks (Ahsani et al., 2021). Literasi membaca yang baik sangat berkaitan dengan kesuksesan akademik, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada anak (Elvira, 2021). Dengan latar belakang tersebut, penting bagi sekolah dasar untuk tidak hanya mengajarkan anak membaca, tetapi juga memahami makna di balik tulisan (Yustian, 2021). Pembelajaran membaca konvensional di sekolah dasar menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah metode yang digunakan, yang sering kali terfokus pada hafalan tanpa pemahaman yang mendalam (Sa’odah et al., 2020; . Selain itu, kurangnya variasi dalam alat dan media pembelajaran dapat mengakibatkan siswa merasa bosan dan tidak termotivasi untuk belajar (Purnasari & Sadewo, 2021). Pembelajaran konvensional juga sering kali tidak dapat menjangkau pengalaman belajar yang berbeda yang dibutuhkan oleh setiap anak, sehingga menghambat perkembangan kemampuan membaca mereka Setyowati et al., 2023; . Perkembangan teknologi digital membawa angin segar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pengajaran membaca di sekolah dasar. Teknologi ini tidak hanya menyediakan akses informasi yang lebih luas, tetapi juga menawarkan berbagai alat interaktif yang dapat meningkatkan minat belajar siswa (Oktafamero et al., 2023). Alat bantu seperti aplikasi e-learning dan platform pembelajaran digital memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih variatif dan menyenangkan (Yustian, 2021). Selain itu, penggunaan teknologi dapat membantu guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan adaptif (Budiman, 2017). Salah satu peluang pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan kemampuan membaca adalah melalui penggunaan aplikasi mobile yang dirancang khusus untuk mendukung proses belajar siswa (Yustian, 2021). Aplikasi tersebut tidak hanya membantu siswa dalam memahami teks tetapi juga mencakup kegiatan interaktif yang dapat memperkuat keterampilan literasi mereka. Misalnya, aplikasi yang menggabungkan permainan dengan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa (Novita & Suyadi, 2020). Di samping itu, digitalisasi pendidikan memungkinkan pengintegrasian metode pembelajaran baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa zaman sekarang. Misalnya, penggunaan media pembelajaran berbasis video dan audio dapat memperkaya pengalaman belajar membaca dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses (Budiman, 2017). Pembelajaran berbasis teknologi juga memungkinkan anak-anak untuk mengakses alat belajar kapan saja dan di mana saja, sehingga memberi mereka kesempatan untuk belajar secara mandiri di luar kelas (Munandar et al., 2022). Namun, ketidakmerataan akses terhadap teknologi di berbagai daerah di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi teknologi untuk pembelajaran membaca di sekolah dasar. Masih banyak daerah yang kekurangan infrastruktur teknologi yang memadai, sehingga membatasi kesempatan siswa untuk memanfaatkan alat belajar digital (Husen, 2024). Oleh karena itu, perhatian khusus harus diberikan kepada kebijakan untuk meningkatkan infrastruktur pendidikan berbasis teknologi, utamanya di daerah terpencil (Nurcahyo, 2022). Pentingnya kolaborasi antara orang tua, guru, dan pihak sekolah dalam mengimplementasikan teknologi dalam pembelajaran juga tidak bisa diabaikan. Orang tua harus didorong untuk berperan aktif dalam mendukung anak-anak mereka belajar membaca dengan menggunakan alat digital, sambil memantau konten yang mereka akses untuk memastikan sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan (Radjagukguk, 2020). Pembentukan kemitraan yang kuat antara rumah dan sekolah akan mendukung siswa dalam pendidikan mereka di era digital ini (Lase, 2019). 2 Kesimpulannya, perbaikan dalam kemampuan membaca di tingkat sekolah dasar harus menjadi prioritas yang penting. Memanfaatkan teknologi digital menyediakan peluang unik untuk mengatasi tantangan yang ada dalam pembelajaran membaca konvensional. Melalui pengembangan kurikulum yang adaptif dan inovatif, serta penguatan kolaborasi antara semua pemangku kepentingan, diharapkan kemampuan membaca siswa di sekolah dasar dapat meningkat secara signifikan di era digital ini (Sa’odah et al., 2020; Setyowati et al., 2023; Khairiyah & Maiyana, 2023). TINJAUAN PUSTAKA Kemampuan membaca pada siswa sekolah dasar merupakan keterampilan fundamental yang mempengaruhi berbagai aspek pembelajaran lainnya. Definisi kemampuan membaca mencakup proses kognitif yang melibatkan pengenalan huruf, pengucapan kata, pemahaman makna, serta kemampuan menganalisis teks. Komponen kemampuan membaca terdiri dari aspek teknis, seperti fluensi dan kecepatan, serta aspek pemahaman, di mana siswa harus dapat menyimpulkan dan merespons isi bacaan secara kritis (Pranata & Liansari, 2024). Keterampilan ini penting karena membaca membentuk dasar bagi pembelajaran di semua mata pelajaran. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan kemampuan membaca ini. Tahapan perkembangan kemampuan membaca siswa dapat dibagi menjadi beberapa fase. Pertama, siswa mulai dengan pengenalan huruf dan suara, di mana mereka belajar mengenali abjad dan memahami hubungan antara fonem dan grafem. Setelah itu, muncul tahap awal membaca, di mana siswa bisa membentuk kata-kata sederhana. Selanjutnya, siswa meneruskan ke tahap membaca lanjutan, di mana mereka diharapkan dapat membaca dengan lancar dan memahami teks yang lebih kompleks (Sugianto et al., 2024). Pengetahuan tentang tahapan ini sering kali membantu guru dalam merancang pengajaran yang sesuai dan memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan. Berbagai faktor mempengaruhi kemampuan membaca siswa, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal mencakup kemampuan kognitif individu seperti perhatian dan memori, sementara faktor eksternal termasuk dukungan dari orang tua serta lingkungan sekitar yang memfasilitasi literasi. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan buku dan bacaan memiliki kecenderungan yang lebih baik dalam mengembangkan kemampuan membaca (Setiyawan et al., 2022). Di sisi lain, metode pengajaran yang digunakan oleh guru juga menjadi faktor penting dalam membentuk kemampuan membaca siswa. Strategi pengajaran membaca tradisional sering kali berfokus pada hafalan dan pengulangan, yang dapat menyebabkan siswa merasa jenuh (Rulyansah et al., 2022). Metode ini mungkin tidak selalu efektif untuk semua siswa, sehingga penting bagi guru untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan. Dalam hal ini, memperkenalkan berbagai media pembelajaran seperti cerita bergambar, buku pop-up, atau alat bantu visual bisa meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam proses belajar membaca (Pranata & Liansari, 2024). Dengan demikian, perubahan dalam pendekatan pengajaran dapat memperbaiki hasil belajar siswa dalam membaca. Seiring dengan perkembangan teknologi, model pembelajaran berbasis digital menjadi populer dan menawarkan alternatif bagi pengajaran membaca. Model ini didefinisikan sebagai penggunaan teknologi untuk mendukung proses belajar, sehingga membuat materi lebih menarik dan mudah diakses (Putra & Ishartiwi, 2015). Karakteristik pembelajaran berbasis digital meliputi fleksibilitas, interaktivitas, dan kemampuan untuk menyediakan konten yang beragam sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga mampu memenuhi gaya belajar yang berbeda-beda (Darmawati, 2023). Jenis-jenis teknologi digital dalam pembelajaran sangat bervariasi, meliputi e-book, 3 aplikasi membaca interaktif, dan game edukasi yang dirancang khusus untuk meningkatkan keterampilan membaca. E-book memudahkan akses siswa terhadap buku-buku yang tidak selalu tersedia di perpustakaan, sedangkan aplikasi interaktif memberikan pengalaman belajar yang menarik dengan elemen gamifikasi (Pranata & Liansari, 2024). Game edukasi, pada umumnya, dirancang untuk merangsang minat siswa dan memberi mereka umpan balik positif terhadap keterampilan membaca yang sedang dikembangkan (The, 2024). Teori belajar yang mendasari pembelajaran berbasis digital mencakup konstruktivisme dan konektivisme, di mana siswa didorong untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan menghubungkan pengetahuan baru dengan yang sudah ada (Yola, 2022). Kerangka kerja TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) juga relevan karena membantu guru dalam menciptakan pengajaran yang seimbang antara teknologi, pedagogi, dan konten (Sabaniah et al., 2021). Pengintegrasian ketiga elemen ini sangat penting untuk mendukung efektivitas pembelajaran, khususnya dalam keterampilan membaca. Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran membaca dapat dilakukan melalui ebook dan aplikasi membaca interaktif, yang memungkinkan siswa untuk menjelajahi berbagai jenis teks dengan lebih mudah (Islam et al., 2021). Selain itu, penggunaan platform pembelajaran adaptif sangat membantu dalam mempersonalisasi pengalaman belajar masingmasing siswa, sehingga mereka bisa belajar dengan kecepatan dan cara yang sesuai dengan diri mereka. Platform semacam ini menyesuaikan tingkat kesulitan bacaan berdasarkan kemajuan yang telah dicapai siswa (Akhiruddin et al., 2024). Multimedia dan konten audio-visual juga memainkan peranan yang krusial dalam mengembangkan keterampilan membaca siswa. Melalui video animasi, audio cerita, serta konten visual lainnya, siswa tidak hanya dapat memahami teks dengan lebih baik, tetapi juga merasa lebih termotivasi untuk belajar (Aulia et al., 2023). Penyajian informasi dengan cara yang menarik terbukti efektif dalam menarik perhatian siswa, terutama di era digital ini. Lebih lanjut, teknologi seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) menjanjikan pengalaman belajar membaca yang lebih imersif dan interaktif. Dengan menggunakan AR dan VR, siswa dapat berinteraksi dengan konten bacaan secara langsung, menjadikan proses belajar lebih menarik dan menyenangkan (Fitri et al., 2023). Eksplorasi teknologi baru ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar membaca dan memahami teks dengan lebih baik, sehingga memperkuat fondasi literasi mereka sebagai bekal untuk tahap pendidikan yang lebih lanjut (Muchsin et al., 2021). Secara keseluruhan, dengan berbagai pendekatan dan integrasi teknologi dalam pengajaran membaca, diharapkan keterampilan membaca siswa sekolah dasar dapat meningkat secara signifikan. Penggunaan strategi pengajaran yang variatif dan inovatif sangat penting untuk membangun minat dan kecintaan siswa terhadap membaca, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah (Pranata et al., 2018). Inisiatif ini akan membantu mereka tidak hanya dalam mencapai keberhasilan akademis, tetapi juga memfasilitasi pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis yang diperlukan di era informasi saat ini (Subakti et al., 2021). Kerangka Konseptual Penelitian Kerangka konseptual penelitian ini menghubungkan tiga komponen utama: faktorfaktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, model pembelajaran berbasis digital, dan peningkatan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Kemampuan membaca dipahami sebagai proses kognitif kompleks yang berkembang melalui tahapan sistematis (Pranata & Liansari, 2024; Sugianto et al., 2024). Penelitian ini berangkat dari identifikasi keterbatasan strategi pengajaran tradisional yang cenderung menimbulkan kejenuhan (Rulyansah et al., 2022), dan mengeksplorasi potensi pembelajaran berbasis digital yang menawarkan fleksibilitas, interaktivitas, dan konten yang beragam (Darmawati, 2023). Model pembelajaran ini dilandasi teori 4 konstruktivisme dan konektivisme (Yola, 2022), serta didukung kerangka kerja TPACK (Sabaniah et al., 2021). Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran membaca mencakup e-book, aplikasi interaktif (Islam et al., 2021), platform adaptif (Akhiruddin et al., 2024), multimedia (Aulia et al., 2023), hingga teknologi AR/VR (Fitri et al., 2023). Melalui pendekatan inovatif ini, diharapkan dapat meningkatkan minat membaca siswa (Pranata et al., 2018) dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang diperlukan di era informasi (Subakti et al., 2021). ME TODE PE NE LITIA N Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur (literature review) sebagai metode penelitian utama. Pemilihan metode ini didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis. Kajian literatur memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis berbagai temuan penelitian terdahulu terkait model pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Metode ini juga memfasilitasi identifikasi tren, pola, dan kesenjangan dalam literatur yang ada, memberikan landasan kuat untuk pengembangan model pembelajaran yang komprehensif. Selain itu, kajian literatur memungkinkan peninjauan lintas disiplin ilmu yang meliputi teknologi pendidikan, psikologi kognitif, dan pedagogik literasi, serta memungkinkan peneliti mengidentifikasi berbagai jenis model pembelajaran digital dan mengevaluasi efektivitasnya berdasarkan bukti empiris yang telah dipublikasikan tanpa harus melakukan eksperimen lapangan yang membutuhkan waktu dan sumber daya yang lebih besar. Sumber Data Sumber data penelitian ini diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat untuk memastikan relevansi dan kualitas literatur. Kriteria inklusi mencakup artikel penelitian yang fokus pada model pembelajaran berbasis digital untuk kemampuan membaca siswa sekolah dasar (6-12 tahun), membahas pengaruh atau efektivitas teknologi digital, serta publikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan metodologi yang jelas. Sedangkan kriteria eksklusi meliputi penelitian yang tidak berfokus pada kemampuan membaca, studi di luar jenjang sekolah dasar, artikel non-penelitian, serta publikasi yang tidak dapat diakses secara lengkap. Pencarian literatur dilakukan pada beberapa database akademik terkemuka seperti Google Scholar, ERIC, Science Direct, Scopus, DOAJ, Portal Garuda, dan Neliti untuk publikasi Indonesia. Untuk memastikan relevansi dan kekinian temuan, penelitian ini berfokus pada publikasi dalam rentang waktu 10 tahun terakhir (2015-2025), meskipun beberapa studi seminal sebelum periode tersebut juga dipertimbangkan jika memberikan kontribusi signifikan. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci dalam bahasa Indonesia dan Inggris, termasuk "pembelajaran digital", "teknologi pendidikan", "kemampuan membaca", "literasi digital", "sekolah dasar", "digital learning", "educational technology", "reading skills", dan "elementary school". Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data mengadopsi pendekatan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) untuk memastikan transparansi dan kelengkapan dalam pelaporan kajian literatur. Tahapan PRISMA yang digunakan meliputi identifikasi (pencarian awal menggunakan kata kunci), penapisan (pemeriksaan judul dan abstrak), kelayakan (pemeriksaan teks lengkap), dan inklusi (penentuan final literatur). Seleksi artikel dilakukan melalui beberapa tahap, dimulai dengan penyaringan awal oleh peneliti utama, dilanjutkan dengan evaluasi independen oleh dua peneliti berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, resolusi ketidaksepakatan melalui diskusi dan konsensus, serta dokumentasi seluruh proses dalam diagram alur PRISMA. Data dari artikel terpilih kemudian i i i i i 5 diekstraksi menggunakan formulir terstandar yang mencakup informasi bibliografis, tujuan penelitian, metodologi, karakteristik sampel, jenis teknologi digital, parameter kemampuan membaca yang diukur, hasil utama, kekuatan dan keterbatasan penelitian, serta implikasi praktis dan teoretis dari masing-masing studi. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola-pola dalam literatur yang dikaji. Langkah-langkah analisis tematik meliputi familiarisasi dengan data, pengkodean awal, pencarian tema, peninjauan tema, definisi dan penamaan tema, serta penulisan laporan yang menganalisis tema-tema dalam konteks pertanyaan penelitian. Untuk memastikan integritas temuan, setiap artikel dievaluasi kualitasnya menggunakan instrumen penilaian yang sesuai dengan jenis penelitiannya—EPHPP Quality Assessment Tool untuk studi kuantitatif, CASP Checklist untuk studi kualitatif, MMAT untuk mixed-method studies, dan AMSTAR 2 untuk literature review. Hasil penilaian kualitas tidak digunakan untuk mengeksklusi studi, melainkan untuk menginformasikan interpretasi temuan dan bobot yang diberikan pada masing-masing studi dalam sintesis. Penelitian ini menggunakan sintesis naratif untuk mengintegrasikan temuan dari berbagai studi melalui tahapan pengorganisasian, eksplorasi hubungan, penilaian kekuatan bukti, dan penarikan kesimpulan, serta menggunakan tabulasi temuan dalam bentuk matriks untuk memvisualisasikan dan membandingkan temuan utama dari literatur yang dikaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Studi yang Dianalisis Model pembelajaran digital memiliki dampak yang signifikan terhadap kemampuan membaca siswa, meliputi berbagai aspek seperti kelancaran membaca, pemahaman bacaan, kosakata, dan motivasi membaca. Dalam konteks kelancaran membaca, penelitian menunjukkan bahwa media digital, seperti platform pembelajaran berbasis game, dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan membaca siswa. Misalnya, kajian yang dilakukan oleh Maharani dan Susanti menunjukkan bahwa penggunaan QuizWhizzer, sebuah platform pembelajaran berbasis game, menghasilkan perbaikan dalam kelancaran membaca siswa (Maharani & Susanti, 2024). Selain itu, e-reader juga dapat memungkinkan perhatian yang lebih terfokus pada detail bacaan, yang berpotensi mempengaruhi kelancaran (Schneps et al., 2013). Keuntungan lain dari membaca teks digital adalah adanya kesempatan untuk menghindari gangguan yang sering terjadi saat membaca teks cetak (Schneps et al., 2013). Dalam hal pemahaman bacaan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran digital dapat memfasilitasi peningkatan pemahaman bacaan siswa. Sidabutar et al. menemukan bahwa siswa yang membaca teks digital menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman bacaan dibandingkan mereka yang membaca teks cetak (Sidabutar et al., 2022). Selain itu, Chen et al. menyoroti bahwa penggunaan sistem interaktif yang mengandalkan pelacakan mata dapat memperbaiki kinerja bacaan digital, dengan hasil yang signifikan dalam pemahaman bacaan (Chen et al., 2019). Penelitian oleh Huang menunjukkan bahwa instruksi berbasis komputer menghasilkan pemahaman bacaan yang lebih baik dibandingkan dengan metode berbasis kertas (Huang, 2014). Dari sisi kosakata, model pembelajaran digital memungkinkan eksposur yang lebih luas terhadap kata-kata baru, yang dapat mengakselerasi proses penguasaan kosakata siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Suk menunjukkan bahwa pembacaan ekstensif yang didukung oleh platform digital berkontribusi pada akuisisi kosakata yang lebih baik di antara siswa (Suk, 2016). Selain itu, kehadiran elemen multimedia dalam e-book dapat memfasilitasi pembelajaran kosakata dengan cara yang lebih menarik, seperti yang diulas oleh Shamir et al. yang menegaskan peran e-book dalam meningkatkan kesadaran fonologis serta pemahaman 6 kosakata pada anak-anak yang berisiko memiliki disabilitas belajar (Shamir et al., 2010). Dengan demikian, pembelajaran digital dapat memperkaya pengalaman belajar kosakata, yang berdampak positif pada kemampuan membaca secara keseluruhan. Terakhir, model pembelajaran digital juga berkontribusi terhadap motivasi membaca siswa. Penelitian oleh Pitaloka et al. menunjukkan bahwa penerapan model blended learning dalam pengajaran membaca menghasilkan persepsi positif di kalangan mahasiswa, dengan meningkatkan antusiasme untuk terlibat dalam kegiatan membaca digital (Pitaloka et al., 2020). Selain itu, penelitian oleh Salmerón et al. menemukan bahwa siswa yang menggunakan alat digital cenderung merasa lebih termotivasi dan terlibat dalam proses membaca dibandingkan dengan membaca secara tradisional (Salmerón et al., 2022). Penggunaan teknologi memberikan pengalaman yang lebih interaktif dan menarik, yang pada gilirannya mendorong siswa untuk lebih aktif dan bersemangat dalam kegiatan membaca mereka. Model Pembelajaran Digital dan Pengaruhnya terhadap Kemampuan Membaca Model pembelajaran digital memberikan banyak pengaruh positif terhadap kemampuan membaca siswa, yang mencakup aspek kelancaran membaca, pemahaman bacaan, kosakata, serta motivasi membaca. Pertama, pengaruh terhadap kelancaran membaca (fluency) dapat dilihat melalui meningkatnya hasil dari metode pembelajaran berbasis teknologi. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan intervensi yang dirancang khusus, seperti program pelatihan membaca yang dilaksanakan secara digital, dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi membaca siswa. Contohnya, penelitian oleh Sanches-Ferreira et al. menunjukkan bahwa tugas membaca bersifat interaktif yang diterapkan melalui platform digital berhasil meningkatkan kemampuan kelancaran membaca siswa yang bersekolah di tingkat dasar Sanches‐Ferreira et al. (2022). Selain itu, aplikasi alat pembaca digital juga memperlihatkan peningkatan yang signifikan dalam kecakapan berbicara dan kelancaran membaca, seperti yang dibuktikan oleh Alahmadi, di mana siswa menunjukkan pengurangan kesalahan dalam pengucapan dan peningkatan skor kelancaran setelah berinteraksi dengan aplikasi tersebut (Alahmadi, 2024). Selanjutnya, terkait dengan pengaruh terhadap pemahaman bacaan (comprehension), penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran digital dapat meningkatkan kemampuan ini dengan menawarkan elemen interaktivitas yang menarik. Mcbreen dan Savage melaporkan bahwa pendekatan yang menggabungkan komponen kognitif dan motivasional menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman bacaan di kalangan siswa yang berisiko mengalami kesulitan membaca (McBreen & Savage, 2020). Studi oleh Shaul et al. juga menunjukkan bahwa pendidikan berbasis digital dapat berkontribusi pada kemampuan membaca yang lebih baik, meskipun dampaknya mungkin bervariasi tergantung pada kondisi sekolah dan keadaan sosial siswa selama pandemi (Shaul et al., 2024). Terhadap kosakata (vocabulary), model pembelajaran digital terbukti efektif dalam memperkaya penguasaan kosakata siswa. Melalui eksplorasi materi bacaan yang beragam, siswa dapat mengakses konteks penggunaan kata-kata baru, yang sangat penting untuk perkembangan kosakata yang lebih luas. Ateek mencatat bahwa menyediakan bahan bacaan yang bervariasi dan menarik berkontribusi langsung terhadap peningkatan kelancaran dan kosakata siswa karena mereka lebih termotivasi untuk membaca lebih banyak (Ateek, 2021). Penelitian oleh Manolitsis et al. juga menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kesadaran morfologi dan kosakata, yang menunjukkan bahwa penguasaan bentuk kata dalam bahasa Inggris memainkan peran penting dalam kelancaran membaca dan pemahaman (Manolitsis et al., 2019). Akhirnya, motivasi membaca adalah komponen kunci yang dipengaruhi oleh model pembelajaran digital. Penerapan pembelajaran berbasis teknologi yang mengintegrasikan elemen-elemen gamifikasi dan teknologi interaktif, seperti aplikasi pelatihan membaca, dapat 7 meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat dalam membaca. Penelitian oleh Pitaloka et al. menunjukkan bahwa siswa yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan model blended learning melaporkan peningkatan antusiasme dan minat terhadap kegiatan membaca (Pitaloka et al., 2020). Selain itu, intervensi yang mengedepankan komponen motivasional dalam pembelajaran terbukti mampu mendorong siswa untuk lebih berkomitmen terhadap proses membaca, dengan laporan dari Mcbreen dan Savage yang menguatkan efektivitas pendekatan ini dengan menunjukkan adanya peningkatan dalam cara siswa berinteraksi dengan teks (McBreen & Savage, 2020). Dengan demikian, pembelajaran digital tidak hanya meningkatkan aspek teknis membaca, tetapi juga membantu menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca yang lebih positif di kalangan siswa. Jenis Model Pembelajaran Digital yang Efektif Perbandingan efektivitas berbagai model pembelajaran digital menunjukkan bahwa setiap model memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing dalam konteks pendidikan. Misalnya, model blended learning yang mengintegrasikan pembelajaran tatap muka dengan e-learning terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan fleksibilitas dalam belajar. Penelitian oleh Rahmadi mengindikasikan bahwa model ini membantu siswa beradaptasi dengan pembelajaran yang berlangsung selama masa pandemi COVID-19 Rahmadi (2021). Selain itu, model inquiry berbasis literasi digital menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan minat belajar siswa, sebagaimana diungkap oleh Fachmi et al. (Fachmi et al., 2023). Sementara itu, model PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) yang menggunakan media digital juga menunjukkan peningkatan yang berarti dalam kemampuan pemahaman bacaan siswa (Sugianto et al., 2024). Perbandingan ini menegaskan bahwa meskipun terdapat banyak model pembelajaran, efektivitasnya sangat tergantung pada konteks penerapan dan karakteristik siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas model pembelajaran sangat beragam dan mencakup aspek teknologi, pedagogi, dan karakteristik siswa. Faktor teknologi mencakup ketersediaan perangkat dan akses internet yang memadai; tanpa akses yang cukup, efektivitas pembelajaran digital dapat terhambat. Selain itu, pedagogi yang diterapkan oleh pengajar turut mempengaruhi pengalaman belajar siswa, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Susilawati, yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif berkaitan langsung dengan hasil belajar siswa (Susilawati, 2020). Karakteristik siswa, termasuk motivasi dan gaya belajar, juga menjadi faktor penting dalam menentukan sejauh mana suatu model dapat diterima dan diimplementasikan dengan baik. Penelitian oleh Cahyono menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi digital tertentu dapat memfasilitasi peningkatan minat dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Cahyono, 2023). Setiap model pembelajaran digital memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dalam implementasinya. Model blended learning, misalnya, menawarkan fleksibilitas dan pengayaan hasil belajar, namun mungkin menghadapi tantangan dari siswa yang kurang terbiasa dengan pembelajaran mandiri (Yamin, 2022). Sebaliknya, model inkuiri berbasis digital mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, tetapi memerlukan dukungan yang kuat dari pengajar untuk dapat berhasil (Mulyanti et al., 2023). Selain itu, penggunaan teknologi yang interaktif dalam pembelajaran digital memberikan kesempatan yang baik untuk meningkatkan keterlibatan siswa, namun juga dapat berisiko jika tidak diimbangi dengan pengawasan yang tepat (Hadiq & Ramadhan, 2023). Dengan mengenali kelebihan dan kekurangan ini, pendidik dapat memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa mereka, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif. Implementasi Model Pembelajaran Digital di Sekolah Dasar Prasyarat keberhasilan implementasi model pembelajaran digital melibatkan beberapa faktor, di antaranya adalah infrastruktur yang memadai, pelatihan guru, dan keterlibatan 8 siswa. Infrastruktur yang baik, seperti akses internet yang stabil dan perangkat yang memadai, sangat penting untuk mengoptimalkan pengalaman belajar melalui media digital Wityastuti et al. (2022). Selain itu, pelatihan guru untuk memahami teknologi dan metode pembelajaran digital juga merupakan kunci. Melalui pelatihan yang tepat, guru dapat menerapkan strategi yang sesuai dan efektif dalam pembelajaran, sehingga memaksimalkan potensi siswa dalam proses pembelajaran (Meyanti & Lasmawan, 2023). Keterlibatan siswa dalam memilih materi atau metode pembelajaran yang mereka anggap menarik juga menjadi faktor penentu keberhasilan, karena hal ini dapat mendorong motivasi dan keaktifan siswa dalam belajar (Wijayanti et al., 2023). Meskipun model pembelajaran digital menawarkan banyak keuntungan, tantangan dalam implementasinya tidak bisa diabaikan. Salah satu tantangan utama adalah resistensi terhadap perubahan dari berbagai pihak, baik siswa maupun pengajar, yang kemungkinan merasa lebih nyaman dengan metode tradisional (Ningsih & Hardiyanto, 2022). Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang kolaboratif dan pengenalan bertahap model pembelajaran digital, sehingga semua pihak dapat beradaptasi secara perlahan (Karim & Fathoni, 2022). Selain itu, masalah teknis seperti gangguan pada perangkat atau koneksi internet juga dapat menghambat pelaksanaan pembelajaran digital. Sebuah solusi yang mungkin adalah menyediakan dukungan teknis atau materi pengayaan online yang dapat diakses siswa saat mengalami masalah selama proses pembelajaran (Raharja, 2021). Integrasi model pembelajaran digital ke dalam kurikulum memerlukan strategi yang hati-hati dan terencana. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pengembangan kurikulum yang fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan siswa, yang memungkinkan integrasi bahan ajar digital secara efektif (Intaniasari & Utami, 2022). Menerapkan model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran daring dan tatap muka (blended learning) adalah strategi yang direkomendasikan untuk menyesuaikan dengan beragam gaya belajar siswa (Nurhayati et al., 2021). Kolaborasi yang lebih baik antara lembaga pendidikan dan industri atau komunitas juga dapat memberikan pengalaman langsung yang relevan bagi siswa, menjembatani teori dengan praktik yang nyata (Meyanti & Lasmawan, 2023). Dengan pendekatan ini, diharapkan pengalaman belajar siswa menjadi lebih menarik dan bermakna. Peran guru dalam implementasi model pembelajaran digital sangatlah vital. Guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang memandu siswa dalam memahami dan mengelola bahan ajar digital dengan baik (Karim & Fathoni, 2022). Guru perlu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung, dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan partisipasi dan engagement siswa (Maharani & Liansari, 2024). Selain itu, guru juga harus mampu memberikan umpan balik yang konstruktif dan memotivasi siswa untuk terus belajar, baik di dalam maupun di luar kelas (Anggraeni et al., 2023). Dukungan dan bimbingan dari guru akan berkontribusi terhadap keberhasilan implementasi model pembelajaran digital, sehingga siswa tidak hanya mampu mengembangkan keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan digital yang diperlukan di era modern ini (HS et al., 2024). KESIMPULAN Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis digital memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teknologi digital dalam pembelajaran membaca tidak hanya meningkatkan aspek teknis membaca seperti kelancaran (fluency) dan pemahaman (comprehension), tetapi juga berkontribusi positif terhadap pengembangan kosakata dan peningkatan motivasi membaca siswa. Berbagai jenis model pembelajaran berbasis digital telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca, di antaranya model blended learning yang 9 mengintegrasikan pembelajaran tatap muka dengan e-learning, model inquiry berbasis literasi digital, model pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) berbantuan media digital, dan model pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi interaktif seperti e-book, aplikasi membaca interaktif, multimedia, serta teknologi AR dan VR. Masing-masing model memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri, namun secara keseluruhan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Implementasi model pembelajaran berbasis digital di sekolah dasar memerlukan beberapa prasyarat penting, termasuk ketersediaan infrastruktur teknologi yang memadai, kompetensi digital guru, dan strategi integrasi kurikulum yang terencana. Tantangan dalam implementasinya mencakup resistensi terhadap perubahan, masalah teknis, dan kesenjangan akses digital. Meskipun demikian, dengan pendekatan yang tepat dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, model pembelajaran berbasis digital dapat diimplementasikan secara efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar di Indonesia. Implikasi Teoretis Temuan penelitian ini memperkaya kerangka teoretis tentang pembelajaran berbasis digital dalam konteks pengembangan kemampuan membaca. Pertama, hasil kajian mendukung teori konstruktivisme dan konektivisme yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dan interkoneksi pengetahuan dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi digital memfasilitasi pembelajaran konstruktivis melalui penyediaan pengalaman belajar yang interaktif dan personal. Kedua, penelitian ini memperkuat kerangka kerja TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) dengan menunjukkan bagaimana integrasi yang seimbang antara teknologi, pedagogi, dan konten dapat mengoptimalkan hasil pembelajaran membaca. Model pembelajaran berbasis digital yang efektif memperlihatkan harmonisasi ketiga elemen tersebut dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Ketiga, kajian ini memperluas pemahaman tentang perkembangan literasi digital sebagai komponen integral dari kemampuan membaca di era digital. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan literasi digital dan kemampuan membaca konvensional dapat dikembangkan secara simultan melalui model pembelajaran yang tepat, yang membuka perspektif baru dalam teori pengembangan literasi pada anak usia sekolah dasar. Implikasi Praktis Implikasi bagi Pengembang Kurikulum Pengembang kurikulum perlu mempertimbangkan integrasi teknologi digital sebagai komponen inti dalam kurikulum pembelajaran membaca di sekolah dasar. Kurikulum hendaknya dirancang secara fleksibel untuk mengakomodasi berbagai model pembelajaran berbasis digital yang telah terbukti efektif. Pengembangan standar kompetensi digital yang berjenjang dan selaras dengan pengembangan kemampuan membaca menjadi penting untuk memastikan kesinambungan pembelajaran. Selain itu, pengembang kurikulum perlu mengembangkan panduan evaluasi yang komprehensif untuk mengukur tidak hanya kemampuan membaca tradisional tetapi juga keterampilan literasi digital siswa sekolah dasar. Implikasi bagi Guru Guru perlu mengembangkan kompetensi digital dan pedagogis untuk mengimplementasikan model pembelajaran berbasis digital secara efektif. Pelatihan yang berkelanjutan tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran membaca menjadi kebutuhan mendasar. Guru juga didorong untuk mengadopsi peran sebagai fasilitator yang memandu siswa dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran membaca yang bermakna. Kreativitas dalam mendesain aktivitas pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi digital juga sangat diperlukan untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Tidak kalah penting, guru perlu berkolaborasi dengan sesama pendidik untuk berbagi praktik 10 terbaik dan sumber daya pembelajaran digital. Implikasi bagi Orangtua Orangtua memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran berbasis digital dengan menyediakan lingkungan yang kondusif di rumah untuk mengakses sumber belajar digital. Pendampingan dan pengawasan dalam penggunaan teknologi untuk pembelajaran membaca sangat diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan. Orangtua juga didorong untuk terlibat aktif dalam komunikasi dengan guru dan sekolah mengenai perkembangan kemampuan membaca anak melalui pembelajaran digital. Selain itu, penguatan keterampilan digital orangtua sendiri akan membantu mereka lebih efektif dalam mendukung pembelajaran anak di era digital. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, mayoritas studi yang dikaji menggunakan desain penelitian jangka pendek, sehingga dampak jangka panjang dari model pembelajaran berbasis digital terhadap kemampuan membaca belum dapat dipastikan. Kedua, kesenjangan literatur mengenai implementasi model pembelajaran digital dalam konteks pendidikan di daerah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi membatasi generalisasi temuan. Ketiga, heterogenitas dalam definisi dan pengukuran kemampuan membaca antar studi menyulitkan perbandingan langsung antar hasil penelitian. Keempat, kajian ini tidak secara spesifik menelaah perbedaan efektivitas model pembelajaran digital berdasarkan karakteristik demografis siswa, seperti latar belakang sosial ekonomi atau kemampuan awal membaca. Rekomendasi untuk Penelitian Selanjutnya Berdasarkan temuan dan keterbatasan penelitian ini, direkomendasikan beberapa arah untuk penelitian selanjutnya: 1. Melakukan penelitian longitudinal untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari model pembelajaran berbasis digital terhadap perkembangan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. 2. Mengeksplorasi strategi implementasi model pembelajaran digital yang adaptif untuk konteks pendidikan di daerah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi. 3. Mengembangkan dan memvalidasi instrumen pengukuran yang komprehensif dan standardisasi untuk menilai kemampuan membaca dalam konteks pembelajaran digital. 4. Melakukan penelitian komparatif tentang efektivitas berbagai model pembelajaran digital berdasarkan karakteristik demografis dan kebutuhan pembelajaran spesifik siswa. 5. Memperdalam kajian tentang integrasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), realitas virtual (VR), dan realitas tertambah (AR) dalam pengembangan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. 6. Meneliti peran kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam mendukung pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan kemampuan membaca. 7. Mengkaji dampak psikologis dan sosial dari penggunaan intensif teknologi digital dalam pembelajaran membaca pada anak usia sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA Ahsani, E., Romadhoni, N., Layyiatussyifa, E., Ningsih, W., Lusiana, P., & Roichanah, N. (2021). Penguatan literasi digital dalam pembelajaran di sekolah dasar indonesia den haag. Elementary School Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Ke-Sd-An, 8(2), 228-236. https://doi.org/10.31316/esjurnal.v8i2.1115 Alahmadi, N. (2024). Examining the impact of a digital reading progress tool on saudi l2 learners' reading aloud performance and proficiency. International Journal of Arabic-English Studies. 11 https://doi.org/10.33806/ijaes.v24i2.661 Anggraeni, U., Winarni, R., & Yulisetiani, S. (2023). Yukiba sebagai media pembelajaran membaca permulaan untuk anak di era digital. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 3980-3990. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.4849 Ateek, M. (2021). Extensive reading in an efl classroom: impact and learners' perceptions. Eurasian Journal of Applied Linguistics, 109-131. https://doi.org/10.32601/ejal.911195 Budiman, H. (2017). Peran teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan. Al-Tadzkiyyah Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 31. https://doi.org/10.24042/atjpi.v8i1.2095 Cahyono, B. (2023). Pemanfaatan aplikasi digital flipbook sebagai media pembelajaran di era teknologi digital. Jurnal Dharmabakti Nagri, 1(2), 58-64. https://doi.org/10.58776/jdn.v1i2.26 Chen, C., Wang, J., & Lin, Y. (2019). A visual interactive reading system based on eye tracking technology to improve digital reading performance. The Electronic Library, 37(4), 680-702. https://doi.org/10.1108/el-03-2019-0059 Elvira, E. (2021). Faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan dan cara mengatasinya (studi pada : sekolah dasar di desa tonggolobibi). Iqra Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman, 16(2), 9398. https://doi.org/10.56338/iqra.v16i2.1602 Fachmi, N., Maula, L., & Nurmeta, I. (2023). Model inquiry learning berbasis literasi digital untuk mingkatkan minat belajar siswa di sekolah dasar. Jurnal Educatio Fkip Unma, 9(4), 1646-1652. https://doi.org/10.31949/educatio.v9i4.5558 Hadiq, M. and Ramadhan, C. (2023). Pengaruh model pembelajaran berbasis investigasi dengan dukungan chatgpt terhadap keterampilan literasi digital siswa sekolah dasar. Collase (Creative of Learning Students Elementary Education), 6(6), 1187-1193. https://doi.org/10.22460/collase.v6i6.21673 HS, D., Harmi, H., Wanto, D., & Nurmal, I. (2024). Analisis kesesuaian silabus pendidikan agama islam dengan kurikulum nasional. ijim, 2(2), 139-149. https://doi.org/10.69693/ijim.v2i2.121 Huang, H. (2014). Online versus paper-based instruction: comparing two strategy training modules for improving reading comprehension. Relc Journal, 45(2), 165-180. https://doi.org/10.1177/0033688214534797 Husen, D. (2024). Peningkatan kapasitas literasi digital dasar bagi kelompok masyarakat desa smart village desa mandirancan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 1(12), 3622-3627. https://doi.org/10.59837/jpmba.v1i12.758 Intaniasari, Y. and Utami, R. (2022). Menumbuhkan budaya membaca siswa melalui literasi digital dalam pembelajaran dan program literasi sekolah. Jurnal Basicedu, 6(3), 4987-4998. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2996 Karim, M. and Fathoni, A. (2022). Pembelajaran circ dalam menumbuhkan keterampilan membaca siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 5910-5917. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3164 Khairiyah, Y. and Maiyana, E. (2023). Sistem pembelajaran berbasis teknologi untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam bidang it. Jurnal Sosial Teknologi, 3(11), 944-948. https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v3i11.982 Lase, D. (2019). Pendidikan di era revolusi industri 4.0. Sundermann Jurnal Ilmiah Teologi Pendidikan Sains Humaniora Dan Kebudayaan, 12(2), 28-43. https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18 Maharani, G. and Susanti, A. (2024). Empowering efl students' reading comprehension abilities with quizwhizzer. International Journal of Multidisciplinary Research and Analysis, 07(12). https://doi.org/10.47191/ijmra/v7-i12-54 Maharani, I. and Liansari, V. (2024). Pengaruh model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (circ) berbantuan media buku cerita digital untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar. Jiip - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(6), 5284-5290. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i6.4472 Manolitsis, G., Georgiou, G., Inoue, T., & Parrila, R. (2019). Are morphological awareness and literacy skills reciprocally related? evidence from a cross-linguistic study. Journal of Educational Psychology, 111(8), 1362-1381. https://doi.org/10.1037/edu0000354 McBreen, M. and Savage, R. (2020). The impact of a cognitive and motivational reading intervention on the reading achievement and motivation of students at-risk for reading difficulties. Learning 12 Disability Quarterly, 45(3), 199-211. https://doi.org/10.1177/0731948720958128 Meyanti, I. and Lasmawan, I. (2023). Tuntutan digital literasi pada kurikulum pendidikan ips. Media Komunikasi Fpips, 22(2), 115-122. https://doi.org/10.23887/mkfis.v22i2.62514 Mulyanti, N., Gading, I., & Diki, D. (2023). Dampak penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar ipa dan kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru, 6(1), 109-119. https://doi.org/10.23887/jippg.v6i1.59276 Munandar, D., Maman, M., Nurasa, A., Supiana, S., & Zaqiah, Q. (2022). Menciptakan teknologi pendidikan dan implementasinya pada pembelajaran pendidikan agama islam. Edumaspul Jurnal Pendidikan, 6(1), 1239-1247. https://doi.org/10.33487/edumaspul.v6i1.3557 Ningsih, N. and Hardiyanto, A. (2022). Peningkatan keterampilan membaca pemahaman mahasiswa melalui metode circ terintegrasi dengan media pembelajaran digital. Linguistik Jurnal Bahasa Dan Sastra, 7(1), 1. https://doi.org/10.31604/linguistik.v7i1.1-10 Novita, C. and Suyadi, S. (2020). Penggunaan mainan kartu kata membaca berputar berbasis teknologi untuk anak usia dini. Aulad Journal on Early Childhood, 3(3), 132-138. https://doi.org/10.31004/aulad.v3i3.82 Nurcahyo, M. (2022). Metode eksplorasi anyaman tradisional untuk pembelajaran desain fabrikasi interior. Ars Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 25(1), 85-90. https://doi.org/10.24821/ars.v25i1.6303 Nurhayati, T., Rokhimawan, M., & Putri, R. (2021). Pembelajaran model blended learning pada mata kuliah sains lanjut dengan menggunakan kurikulum kkni. Jurnal Basicedu, 5(5), 3858-3865. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1396 Oktafamero, Y., Alifansa, D., & Najaf, A. (2023). Rancang bangun e-katalog buku terintegrasi website dan desktop berbasis rest api. sitasi, 3(1), 60-67. https://doi.org/10.33005/sitasi.v3i1.442 Pitaloka, N., Anggraini, H., Kurniawan, D., Erlina, E., & Jaya, H. (2020). Blended learning in a reading course: undergraduate efl students' perceptions and experiences. Indonesian Research Journal in Education |Irje|, 43-57. https://doi.org/10.22437/irje.v4i1.8790 Purnasari, P. and Sadewo, Y. (2021). Strategi pembelajaran pendidikan dasar di perbatasan pada era digital. Jurnal Basicedu, 5(5), 3089-3100. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1218 Radjagukguk, D. (2020). Pola strategi komunikasi orang tua terhadap anak pada era digitalisasi (studi: warga malinjo pasar minggu jakarta selatan). Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(3), 43. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i3.973 Rahmadi, T. (2021). Perbandingan digital model dan hybrid model dalam pembelajaran jarak jauh (pjj) selama pandemi covid-19. Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(10), 1800-1811. https://doi.org/10.36418/japendi.v2i10.312 Raharja, B. (2021). Tembang anak jawa sebagai media pembelajaran membaca. Resital Jurnal Seni Pertunjukan, 22(2), 80-88. https://doi.org/10.24821/resital.v22i2.5935 Sa'odah, S., Sapriya, S., & Haryanti, Y. (2020). Perspektif kurikulum pendidikan kewarganegaraan sekolah dasar di era digital. Jurnal Elementaria Edukasia, 3(2). https://doi.org/10.31949/jee.v3i2.2445 Salmerón, L., Vargas, C., Delgado, P., & Baron, N. (2022). Relation between digital tool practices in the language arts classroom and reading comprehension scores. Reading and Writing, 36(1), 175-194. https://doi.org/10.1007/s11145-022-10295-1 Sanches‐Ferreira, M., Martins, H., Valquaresma, A., & Alves, S. (2022). Implementing an online peer tutoring intervention to promote reading skills of elementary students: effects on fluency and accuracy. Frontiers in Education, 7. https://doi.org/10.3389/feduc.2022.983332 Schneps, M., Thomson, J., Sonnert, G., Pomplun, M., Chen, C., & Heffner-Wong, A. (2013). Shorter lines facilitate reading in those who struggle. Plos One, 8(8), e71161. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0071161 Setyowati, W., Moscato, J., & Embre, C. (2023). Strategi pendidikan dasar untuk menghadapi tantangan era kurikulum digital dengan studi empiris. Jurnal Mentari Manajemen Pendidikan Dan Teknologi Informasi, 2(1), 43-53. https://doi.org/10.33050/mentari.v2i1.379 Shamir, A., Korat, O., & Fellah, R. (2010). Promoting vocabulary, phonological awareness and concept about print among children at risk for learning disability: can e-books help?. Reading and Writing, 25(1), 45-69. https://doi.org/10.1007/s11145-010-9247-x 13 Shaul, S., Lipka, O., Tal-Cohen, D., Bufman, A., & Dotan, S. (2024). The impact of school closures during the covid-19 pandemic on reading fluency among second grade students: socioeconomic and gender perspectives. Frontiers in Psychology, 15. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1289145 Sidabutar, M., Sayed, B., Ismail, S., Quispe, J., Vicente, J., Wekke, I., … & Nourabadi, S. (2022). Reading digital texts vs. reading printed texts: which one is more effective in iranian efl context?. Education Research International, 2022, 1-9. https://doi.org/10.1155/2022/7188266 Sugianto, N., Sutri, S., & Suprihatin, D. (2024). Pengaruh model pq4r (preview, question, read, reflect, recite, review) berbasis media koran digital dalam kemampuan membaca pemahaman. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Indonesia (Jppi), 4(3), 876-887. https://doi.org/10.53299/jppi.v4i3.575 Suk, N. (2016). The effects of extensive reading on reading comprehension, reading rate, and vocabulary acquisition. Reading Research Quarterly, 52(1), 73-89. https://doi.org/10.1002/rrq.152 Susilawati, E. (2020). Penerapan model pembelajaran inovatif yang memanfaatkan portal rumah belajar di smp pesat bogor. Jurnal Teknodik, 41-54. https://doi.org/10.32550/teknodik.v0i0.367 Wijayanti, S., Baskoro, J., Manalu, M., & Rachel, C. (2023). Optimalisasi gerakan literasi sekolah melalui kreativitas guru sekolah dasar. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(5), 5099. https://doi.org/10.31764/jmm.v7i5.17463 Wityastuti, E., Masrofah, S., Haqqi, T., & Salsabila, U. (2022). Implementasi penggunaan media pembelajaran digital di masa pandemi covid-19. Jurnal Penelitian Inovatif, 2(1), 39-46. https://doi.org/10.54082/jupin.39 Yamin, M. (2022). Blended learning model pembelajaran pasca pandemi. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan, 5(2), 285-289. https://doi.org/10.32923/kjmp.v5i2.2762 Yustian, A. (2021). Perancangan aplikasi mobile learning untuk membantu proses pembelajaran di sdn lemahireng 03. Jatisi (Jurnal Teknik Informatika Dan Sistem Informasi), 8(2), 534-546. https://doi.org/10.35957/jatisi.v8i2.769 14