A 2024 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 22 Issue 4 . : 1100-1107 ISSN 1829-8907 Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon pada Mangrove di Muara Sungai Cipunegara Desa Patimban. Kecamatan Pusaka Nagara. Subang. Jawa Barat Sodikin1. Rahmat Hidayat2. Florentina Ratih Wulandari3, dan Fauzi Fahmi4 1Progran Studi Magister Studi Lingkungan Sekolah Pascasarjana. Universitas Terbuka. e-mail: sodikinn@ecampus. 2Program Studi Magister Administrasi Publik Sekolah Pascasarjana. Universitas Terbuka 3Program Studi Doktor Administrasi Publik Sekolah Pascasarjana. Universitas Terbuka 4PT Geo Alam Teknika Indonesia ABSTRAK Muara Sungai Cipunagara berada di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Di kawasan ini terdapat mangrove yang tumbuh secara alami maupun hasil penanaman. Keberadaan kawasan mangrove mampu menyerap dan menyimpan emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi ketersediaan dan menganalisis daya serap karbon pada mangrove di muara Sungai Cipunagara. Data mangrove diperoleh dengan melakukan interpretasi citra dan melakukan ground check lapangan, identifikasi jenis mangrove dan pengukuran diameter dilakukan dengan metode transek line. Parameter lingkungan dilakukan dengan pengambilan sampel pada plot yang telah ditentukan. Analisis biomassa menggunakan persamaan allometrik, setelah ditemukan hasil biomassa kemudian dilakukan perhitungan untuk mengetahui ketersediaan karbon dan kemampuan serapan karbon. Hasil penelitian menunjukan bahwa mangrove di wilayah muara Sungai Cipungara tahun 2011 sampai tahun 2023 terus mengalami peningkatan, pada tahun 2023 memiliki luas sebesar 696 ha. Jenis mangrove dominan adalah jenis Avicenna spp. Rhizophora spp dan Sonneratia, nilai biomassa yang dihasilkan oleh mangrove yang dihasilkan sebesar 390,70 ton/ha/hari, rata-rata ketersediaan karbon sebesar 19,53 ton/ha/hari dan rata-rata kemampuan serapan karbon perharinya adalah sebesar 71,69 ton/ha. Kata kunci: Cipunagara, ketersediaan karbon, mangrove, serapan karbon. ABSTRACT The mouth of the Cipunagara River is in Patimban Village. Pusakanagara District. Subang Regency. In this area there are mangroves that grow naturally and are planted. The existence of mangrove areas is able to absorb and store carbon emissions produced by human activities. This research aims to estimate the availability and analyze the carbon absorption capacity of mangroves at the mouth of the Cipunagara River. Mangrove data was obtained by interpreting images and conducting field ground checks, identifying mangrove types and measuring diameters using the transect line method. Environmental parameters are carried out by taking samples in predetermined plots. Biomass analysis uses allometric equations, after finding the biomass results, calculations are then carried out to determine carbon availability and carbon absorption capacity. The research results show that mangroves in the Cipungara River estuary area from 2011 to 2023 continue to increase, in 2023 they will have an area of 696 ha. The dominant mangrove types are Avicenna spp. Rhizophora spp and Sonneratia, the biomass value produced by mangroves is 390. tonnes/ha/day, the average carbon availability is 19. 53 tonnes/ha/day and the average capacity The daily carbon uptake is 71. 69 tonnes/ha. Keywords: Cipunagara, carbon availability, carbon uptake, and mangrove. Citation: Sodikin. Hidayat. Wulandari. Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon Pada Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Desa Patimban. Kecamatan Pusaka Nagara. Subang. Jawa Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1100-1107, doi:10. 14710/jil. PENDAHULUAN Perubahan iklim saat ini menjadi ancaman besar bagi kehidupan manusia di Bumi. Salah satu dampak pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata tahunan yang stabil. Meluasnya penggunaan kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil berkontribusi signifikan terhadap tingkat karbon dioksida di atmosfer. Selain itu, banyak polusi industri yang juga berkontribusi terhadap krisis pemanasan global saat ini. Emisi karbon dioksida (CO. , adalah Sodikin. Hidayat. Wulandari. Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon Pada Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Desa Patimban. Kecamatan Pusaka Nagara. Subang. Jawa Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1100-1107, doi:10. 14710/jil. salah satu gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global. Lima sumber utama emisi karbon dioksida adalah konsumsi energi, proses industri dan penggunaan produk. PKPL . ahan, hutan, dan penggunaan laha. , dan limbah (Rypdal et ,2. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang mampu menyerap dan menyimpan Mangrove adalah penyerap karbon dioksida yang paling efektif dibandingkan ekosistem pesisir lainnya (Azzahra et al. , 2. , dan juga menawarkan banyak potensi manfaat bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk memitigasi dampak pemanasan gas rumah kaca, pohon mangrove dapat menyimpan karbon (Hairiah et al. , 2. Dibandingkan hutan tropis di darat, mangrove merupakan penyerap karbon yang lebih efektif (Donato et al. , 2. Mengurangi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer adalah strategi utama dalam memerangi pemanasan global, dan ekosistem mangrove berperan penting dalam upaya ini (Tsani et , 2. Oleh karena itu, meningkatkan jumlah vegetasi mangrove di suatu wilayah dapat menjadi cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, karena karbon mampu diserap lebih efektif oleh ekosistem mangrove dibandingkan pohon terrestrial . (Kauffman et al. , 2. Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah pesisir Utara Provinsi Jawa Barat. Luas wilayah Kabupaten Subang 166 kilometer persegi. Kecamatan Blanakan. Sukasari. Legon Kulon, dan Pusakanagara merupakan kecamatan yang terletak di sepanjang pantai dan berbatasan langsung dengan laut Jawa. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat tahun 2020 Kabupaten Subang memiliki hutan mangrove 346 hektar pada tahun 2020. Mangrove di Kabupaten Subang dapat ditemukan di sebagian besar wilayah pesisir salah satunya adalah di muara Sungai Cipunagara. Sungai Cipunagara merupakan salah satu dari beberapa sungai besar di Kabupaten Subang. Sungai Cipunagara memiliki hulu di kaki Gunung Tangkuban Prahu di Kabupaten Bandung. Penelitian yang dilakukan Munibah et al. , . menunjukkan bahwa Delta Cipunagara merupakan salah satu yang paling dinamis di dunia. Sejak tahun 1972, yang luasnya hanya 138,9 ha. Delta Sungai Cipunagara bertambah 757,3 ha, 623 ha, dan 623 ha lagi. Mangrove di sepanjang muara Sungai Cipunagara merupakan salah satu ekosistem mangrove yang pertumbuhannya paling pesat diantara wilayah lainnya di Kabupaten Subang. Saat ini disekitar muara Sungai Cipunagara terdapat pembangunan sebuah Pelabuhan yaitu Pelabuhan Patimban, keberaadan pelabuhan tersebut tentunya akan berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi, mata pencaharian dan mobilitas penduduk di sekitar pelabuhan (Iryana. Semakin meningkatnya aktivitas penduduk di wilayah tersebut, tentunya akan meningkatkan A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP jumlah emisi karbon yang dihasilkan. Keberadaan mangrove di muara Sungai Cipunagara diharapkan mampu menjadi penyerap dan penyimpan emisi karbon yang ada, sehingga mampu mengurangi konsentrasi karbon dioksida di udara. Oleh karena itu Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi ketersediaan dan serapan karbon pada mangrove di Muara Sungai Cipunagara Desa Patimban Kecamatan Pusaka Nagara Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni tahun 2023 di Desa Patimban di Kecamatan Pusaka Nagara Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat, lokasi penelitian tepatnya di daerah muara Sungai Cipunagara. Gambar 1 menunjukkan peta lokasi Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain GPS, pita pengukur, meteran, dan kamera. Data yang digunakan adalah citra satelit dari Google Earth dengan tahun akuisi 2011, 2017, dan 2023. Metode pengumpulan data mangrove dilakukan dengan interpretasi citra untuk mengetahui sebaran mangrove di sekitar muara Sungai Cipunagara, selanjutnya dilakukan inspeksi (Ground Chec. lapangan untuk mengkonfirmasi hasil interpretasi, dan selanjutnya tahap terakhir mendigitalkan (Digitas. data kawasan mangrove menggunakan fitur yang ada pada Google Earth. Karakteristik lingkungan seperti salinitas, pH tanah, substrat, dan suhu air diukur dengan mengumpulkan sampel di lokasi yang telah direncanakan. Analisis substrat dilakukan dengan mengambil sampel tanah dengan bor tanah, pengukuran salinitas diukur dengan menggunakan refraktometer, pH tanah ditentukan dengan ph meter, dan suhu air diukur dengan menggunakan Termometer. Ground check dilakukan untuk mengukur diameter pohon terutama DBH . iameter at breast height/diameter diatas dad. , pancang dan semai serta mengindentifikasi jenis dan kerapatan Sehingga dihasilkan data kerapatan dan jenis mangrove yang terdapat di kawasan tersebut. Ground check dilakukan dengan membuat peta ukur . ransek lin. 10 x10 m, seperti terlihat pada Gambar Gambar 1. Transek Line Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1100-1107. ISSN 1829-8907 Gambar 2. Lokasi Penelitian Perhitungan Biomassa mangrove Persamaan alometrik yang digunakan untuk menentukan biomassa pohon mangrove disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Persamaan Allometrik Beberapa Jenis Mangrove Jenis Mangrove Persamaan Allgoritma Avicennia alba W = 0. 079211 x DBH 2. 470895 (Sutaryo, 2. Avicennia W = 0. 1848 x DBH2. 3524 (Dharmawan et. Rhizophora W = 0. 128 x DBH2. 6 (Fromrard et. al, 1. Sonneratia W = 0. 0825 x DBH0. 89 (Kauffman et. al, 2. Keterangan: W = Biomassa . DBH = Diameter Breast Hight . Perhitungan Ketersediaan Karbon Untuk menggunakan formulasi berikut: ya = 0. 5 y ycO Dimana: C : Kandungan karbon (Kg/m. W : Biomassa (K. Perhitungan Karbon Total per Hektar pada Batang Pohon Untuk menghitung karbon total per hektar pada batang pohon menggunakan formulasi berikut: yaycu = yaycu 1000 yco ycyycoycuyc Dimana: : kandungan karbon per hektar di setiap sumber karbon pada setiap plot (Ton/h. : kandungan karbon pada setiap sumber karbon di setiap plot (K. l Plot : luas plot tiap masing-masing plot . Tingkat Serapan Karbon dioksida pada Mangrove Untuk menghitung serapan karbon mangrove, cadangan karbon diubah menjadi total CO2 menggunakan rasio massa atom relatif. C, yang dapat dirumuskan sebagai berikut. yaycC2 = yaycu y 3. Dimana: Cn : Stok Carbon 3,67 : Angka ekuivalen atau konversi unsur C ke CO 2 . assa atom C = 12 dan O = 16. CO2 = . = 44. = 3,. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit google earth, mangrove di kawasan muara Sungai Cipunagara sejak tahun 2011 mengalami peningkatan hingga Peningkatan luasan mangrove dikawasan disebabkan oleh adanya beberapa program rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh pemerintah maupun kelompok masyarakat, selain itu juga ditunjang oleh karakteristik lahan yang sesuai untuk perkembangan mangrove yaitu adanya sedimentasi yang tinggi dari Sungai cipunagara menyebabkan banyaknya lumpur yan ada di kawasan Lebih detail gambaran sebaran mangrove di Muara Sungai Cipunagara tahun 2011, 2017 dan 2023, seperti terlihat pada Gambar 3. A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Sodikin. Hidayat. Wulandari. Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon Pada Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Desa Patimban. Kecamatan Pusaka Nagara. Subang. Jawa Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1100-1107, doi:10. 14710/jil. Berdasarkan hasil pantauan dari citra satelit Google Earth tahun 2011 luas mangrove di muara Sungai Cipunagara adalah 175,61 ha, pada tahun 2017 luas mangrove meningkat menjadi 215,1 ha, dan pada tahun 2023 meningkat kembali menjadi 696,00 ha. Peningkatan besar terjadi pada rentang tahun 20172023 yaitu sebesar 480,9 ha. Peningkatan tersebut program-program penanaman mangrove yang telah dilakukan oleh Masyarakat maupun pemerintah. Misalnya program penanaman mangrove yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. CSR Perusahaan dan program dari Kementerian. Selain itu disebabkan faktor lingkungan yang mendukung terhadap optimalnya pertumbuhan mangrove secara alami di kawasan ini, salah satunya adalah sedimen, sedimen di muara Sungai cipunagara tergolong sangat tinggi sehingga menjadi penyebab optimalnya pertumbuhan mangrove, karena Karakteristik sedimen yang baik menentukan pertumbuhan mangrove (Aini et al. Sedimen yang tinggi di Sungai Cipunagara menyebabkan luasan muara Sungai cipunagara semakin tahun semakin luas, seperti hasil penelitian Nur et al. , 2020 menyatkan bahwa pertambahan lahan baru di muara Sungai Cipunagara dari tahun 1978 sampai dengan tahun 2020 sebesar 208 ha. Lebih detail luasan mangrove tahun 2011, 2017 dan 2023 seperti terlihat pada Gambar 4. Sumber: Goolge Earth dan hasil analisis tahun 2023 Gambar 3. Perkembangan Mangrove di Muara Sungai Cipunagara LUAS (HA) 175,61 Luas (H. Mangrove Tahun 2011 Mangrove Tahun 2017 Mangrove Tahun 2023 175,61 Gambar 4. Luasan Mangrove Muara Cipunagara Tahun 2011,2017 dan 2023 A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1100-1107. ISSN 1829-8907 Hasil Observasi lapangan dan identifikasi yang telah dilakukan jenis Avicennia sp. Sonneratia sp. , dan Rhizophora sp, adalah tiga jenis mangrove yang terdapat di kawasan muara Sungai Cipunagara. Jenis yang paling domianan adalah jenis Avicennia lanata dan Avicennia marina. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Rikardi et al. , . yang menemukan bahwa ada tiga jenis mangrove yang mendominasi wilayah pesisir Kabupaten Subang. Hal ini terjadi karena tanah di muara sungai Cipunagara sebagian besar merupakan tanah timbul yang terbentuk dari endapan sedimen yang terbawa aliran sungai Cipunagara. Mangrove jenis Avicennia marina dikenal karena kemampuan adaptasinya terhadap kondisi tanah yang berbeda-beda dan melimpah di daerah dengan substrat berpasir dan endapan lumpur sungai (Sari et al. , 2. Temuan Masruroh et al. juga menunjukkan pentingnya jenis benih dalam menentukan kepadatan vegetasi Avicennia. Terdapat korelasi positif antara persentase lumpur dan kepadatan Avicennia marina, yang menunjukkan bahwa persentase lumpur yang lebih tinggi akan menghasilkan kepadatan Avicennia marina yang lebih Diameter dan Kerapatan Mangrove Berdasarkan hasil pengukuran lapangan diameter pohon dan kerapatan mangrove di Kawasan Muara Sungai Cipunagara, rata-rata diameter pohon tertinggi adalah pada plot 2 yaitu 84,33 pada plot 2 di dominasi oleh Avicennia dan Rhizopora yang memiliki umur yang sudah cukup tua dan memiliki ukuran ukuran batang yang besar. Kerapatan tertinggi berdasarkan hasil pengukuran terletak pada plot 2 dan 4, pada plot 4 jenis mangrove yang mendominasi adalah jenis Avicennia dan berbatasan langsung dengan bibir pantai sehingga terkena pasang surut langsung. Gambaran terkait rata-rata diameter dan kerapatan mangrove di Sungai Cipunagara seperti terlihat pada Gambar 5. Parameter Lingkungan sekitar Mangrove Beberapa parameter yang diukur pada kawasan mangrove antara lain suhu air, ph air, salinitas air dan jenis substrat. Nilai masing-masing parameter seperti disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Kondisi parameter lingkungan di lokasi penelitian Plot Lumpur Lumpur Lumpur Lumpur Lumpur Parameter Suhu air (AC) Salinitas . Ph air Jenis Substrat Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa suhu air ratarata berada di antara 30-32AC hal ini terjadi karena saat pengambilan sampel dilakukan pada konsisi siang hari, dimana pada saat itu kondisi sinar matahari sedang sangat panas. Salinitas tertinggi ada pada plot 1 dan 3, salinitas pada 2 plot ini adalah 47 ppt dan 40ppt apabila diklasifikan berdasarkan penggolongan kelas salinitas menurut (Poedjirahajoe, 2. , maka plot 1,3 dan 6 merupakan kategori salinitas tinggi, sedangka plot lain yaitu plot 2,4 dan 5 memiliki nilai salinitas 30ppt atau masuk kategori Adapun jenis substrat hampir disemua plot adalah substrat jenis lumpur. Seberapa baik pertumbuhan mangrove sangat bergantung pada substrat pantai. Kemampuan lumpur dalam menyerap benih mangrove bergantung pada jenis substrat lanau . dan tanah liat . (Masruroh et al. , 2. Jenis mangrove Avicennia tumbuh subur pada kondisi berlumpur (Fadli et al. , 2. Berbeda dengan Rhizophora mucronata, merupakan jenis mangrove yang dapat tumbuh pada substrat pasir berlumpur yang halus (Lewerissa et al. , 2. Diameter Kerapatan 22,69 20,39 19,92 14,24 7,91 Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Diameter (C. Plot 5 Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot 5 Kerapatan . ohon/h. Gambar 5. Rata-Rata Diameter Pohon dan Kerapatan Vegetasi Mangrove Sungai Cipunagara A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Sodikin. Hidayat. Wulandari. Estimasi Ketersediaan dan Serapan Karbon Pada Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Desa Patimban. Kecamatan Pusaka Nagara. Subang. Jawa Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1100-1107, doi:10. 14710/jil. Stok Karbon pada Mangrove Muara Sungai Cipunagara A Biomasa mangrove dan Stok Karbon Biomassa mangrove sepanjang muara Sungai Cipunagara terbesar terdapat pada plot 2 dan 4 dengan nilai masing-masing sebesar 130,07 ton per hektar dan 170,33 ton per hektar per hari. Hal ini dikarenakan rata-rata diameter pohon pada plot 2 dan 4 sangat besar, hal ini sejalan dengan temuan Rahman et al. , . yang menemukan bahwa biomassa, simpanan karbon, dan asupan karbon semuanya berhubungan dengan diameter dan kepadatan Selain itu. Hakim et al. , . menegaskan kembali bahwa nilai karbon pohon meningkat seiring dengan bertambahnya diameternya. Oleh karena itu, nilai karbon yang tersimpan dalam tegakan meningkat seiring dengan bertambahnya diameter Lebih Gambar menggambarkan biomassa mangrove di muara sungai Cipunagara. A Kemampuan serapan karbon mangrove di Muara Cipunagara Bachmid et al. , . menemukan bahwa mangrove tidak hanya berperan sebagai penyimpan karbon yang sangat baik, namun juga sebagai penyerap karbon. Karbon yang dikumpulkan oleh mangrove disimpan dalam biomassa tanaman, termasuk batang, daun, dan sedimen. Efisiensi penyerapan karbon maksimumnya adalah 77,9%. Rasio tutupan daun terhadap total luas lahan menjadi penentu utama penyerapan karbon tanaman (Sari et , 2. Penyerapan karbon pada mangrove di Muara Sungai Cipunagara paling besar terdapat pada plot 4 dengan nilai 312,22 ton/ha/hari. Sebaliknya. Plot 3 memiliki serapan karbon terendah . ,29 ton/ha/har. Gambar 7 memberikan informasi lebih lanjut mengenai serapan karbon di muara Sungai Cipunagara. Biomasa . on/ha/har. Stok Karbon . on/ha/har. 170,33 130,07 65,03 85,16 37,32 29,04 23,89 18,65 14,52 11,94 Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot 5 Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot 5 Gambar 6. Biomasa Pada Mangrove di Muara Sungai Cipunagara Serapan Karbon . on/ha/har. 68,51 43,84 312,22 53,29 Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot 5 Gambar 7. Kemampuan Serapan Karbon Mangrove di Maura Sungai Cipunagara A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1100-1107. ISSN 1829-8907 Tabel 3. Stok Karbon dan Serapan Karbon Pada Mangrove Cipunagara Plot Jenis Avicenia Marina Avicenia Marina Rhizphora Mucronata Avicenia Marina Avicena Alba Rhizphora Mucronata Avicenia Marina Avicenia Alba Avicenia Marina Soneratia Alba Total Diameter . 7,91 6,79 13,60 7,20 7,04 15,09 7,60 9,87 6,37 3,68 Lebih detail terkait Biomassa, stok karbon dan serapan karbon pada setiap jenis mangrove di muara Sungai Cipunagara, seperti terlihat pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa total biomassa pada mangrove di Muara Sungai Cipunagara adalah rata-rata sebesar 390,70 ton/ha/hari, total ketersediaan karbon rata-rata sebesar 19,53 ton/ha/hari. Selain itu total kemampuan penyerapan karbon perhari rata-rata sebesar 71,69 ton/ha. Hal ini mengindifkasikan bahwa keberadaan mangrove di Muara Sungai Cipunagara dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon yang ada di sekitar wilayah Apabila dilihat dari sebaran plot nya, nilai ketersediaan dan serapan karbon tertinggi ada pada plot 4 yaitu pada jenis Rhizphora Mucronata. Apabila sudah mengetahui jumlah karbon yang tersimpan di suatu hutan, maka kita bisa mengetahui besarnya peran kawasan tersebut dalam mitigasi perubahan iklim (Yaqin et al. , 2. Sehingga bagi pemerintah setempat dan kelompok Masyarakat perlu adanya kegiatan-kegiatan meningkatkan kelestarian mangrove. Terutama kegiatan penaman pada beberapa lokasi yang telah mengalami kerusakan. Selain itu perlu adanya penguatan kebijakan terkait program-program rehabilitasi mangrove serta adanya pengendalian terhadap alih fungi lahan mangrove menjadi peruntukan lain. KESIMPULAN Penelitian menunjukkan bahwa luas mangrove di Muara Sungai Cipunagara terus bertambah antara tahun 2011 hingga 2023. Total luas mangrove di kawasan ini akan meningkat menjadi 696,00 hektar pada tahun 2023. Spesies Avicennia. Sonneratia, dan Rhizophora mendominasi mangrove di kawasan Rata-rata ketersediaan karbon harian sebesar 19,53 ton/ha, sedangkan rata-rata produksi biomassa harian sebesar 390,70 ton/ha. Mangrove di Muara Sungai Cipunagara mampu menyerap tambahan karbon sebesar 71,69 ton/ha per hari. Total biomassa, stok karbon, dan serapan karbon di wilayah tersebut dipengaruhi oleh besarnya diameter dan kepadatan vegetasi mangrove. Penelitian telah memperoleh gambaran kemampuan mangrove di Sungai cipunagara dalam menyimpan dan menyerap karbon, dan diharapkan kepada peneliti lain agar dapat menganalisis sebarapa besar emisi karbon yang Biomassa on/ha/har. 23,89 16,73 113,34 19,20 9,84 148,52 21,81 22,67 14,39 0,26 390,70 Carbon on/ha/har. 11,94 8,36 56,67 9,60 4,92 74,26 10,90 11,33 7,19 0,13 19,53 WCO on/ha/har. 43,84 30,70 207,99 35,24 18,05 272,54 40,02 41,61 26,42 0,48 71,69 dihasilkan oleh aktivitas penduduk di wilayah tersebut dan dikaitkan dengan kebutuhan mangrove untuk menyerap emisi karbon yang ada. DAFTAR PUSTAKA