Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 9. No 1. Mei 2025 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: : https://10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Revitalisasi Peran Mubaligh Dan Mubalighah Dalam Dakwah Inklusif Di Perkotaan: Studi Penguatan Kapasitas di YKBS Depok Aspriansyah1. Supriadi2. Surato 3. Tukijo4. Sobirin5* Program Studi Manajemen Dakwah. Fakultas Dakwah. IAI AL-AZIS. Indramyu. Indonesia E-mail: 45priansyah@gmail. com, supriadiajah175@gmail. com, surato4084@gmail. topikjojo60@gmail. *Korespondensi: sobirin@iai-alzaytun. ABSTRAK Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis peran mubaligh dan mubalighah dalam konteks dakwah inklusif di wilayah perkotaan, dengan fokus pada studi kasus di Yayasan Kreasi Bangun Semesta (YKBS) Limo. Kota Depok. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi Hasil tim pelaksanaan menunjukkan bahwa para dai di lingkungan YKBS menghadapi tantangan dakwah yang kompleks, terutama terkait keberagaman sosial, minimnya pelatihan dakwah kontekstual, dan keterbatasan pemanfaatan media digital. Dakwah yang dilakukan cenderung masih bersifat normatif dan kurang adaptif terhadap konteks urban. Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi peran mubaligh dan mubalighah melalui penguatan kapasitas dalam bidang komunikasi sosial, pemahaman multikultural, dan strategi dakwah berbasis Tim pelaksanaan ini merekomendasikan model dakwah inklusif yang integratif dan partisipatif sebagai solusi strategis dalam menghadapi dinamika dakwah di masyarakat perkotaan. Kata Kunci: Dakwah Inklusif. Mubaligh Dan Mubalighah. Masyarakat Urban. YKBS. Penguatan Kapasitas. Dakwah Kontekstual ABSTRACT This study aims to analyze the role of male and female preachers . ubaligh and mubaligha. in the context of inclusive Islamic preaching . within urban areas, focusing on a case study at the Kreasi Bangun Semesta Foundation (YKBS) in Limo. Depok City. The research employs a descriptive qualitative approach using in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. Findings indicate that preachers in the YKBS environment face complex challenges, particularly with social diversity, the lack of contextual dakwah training, and limited utilization of digital media. Preaching activities remain largely normative and lack contextual adaptation to the urban setting. Therefore, revitalizing the role of preachers requires capacity strengthening in social communication, multicultural understanding, and community-based preaching strategies. This study recommends an inclusive, integrative, and participatory dakwah model as a strategic solution to address the dynamic challenges of urban Islamic preaching. Keywords: Inclusive Dakwah. Mubaligh And Mubalighah. Urban Community. YKBS. Capacity Building. Contextual Preaching Submit: Mei 2025 Diterima: Mei 2025 Publish: Mei 2025 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Peran mubaligh dan mubalighah dalam masyarakat Indonesia telah menjadi salah satu tulang punggung pembinaan umat Islam, baik di perkotaan maupun pedesaan. Namun, dalam konteks masyarakat perkotaan yang semakin kompleks dan majemuk seperti di Depok, peran mereka dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Urbanisasi, modernisasi, serta derasnya arus informasi digital telah menggeser cara pandang masyarakat terhadap agama, otoritas keagamaan, dan praktik dakwah itu sendiri (Syamsuddin, 2. Para dai tidak hanya dituntut menguasai ilmu keislaman secara tekstual, tetapi juga perlu memiliki kapasitas kontekstual dalam memahami keragaman sosial, budaya, dan cara berpikir masyarakat urban kontemporer. Fenomena terkini menunjukkan pendekatan dakwah yang bersifat monolog, normatif, dan kurang mengakomodasi nilai-nilai inklusivitas. Hal ini menyebabkan kurangnya daya tarik dakwah di tengah generasi muda urban yang lebih kritis, digital-native, (MaAoarif. Akibatnya, peran strategis mubaligh dan mubalighah dalam membina moralitas dan spiritualitas masyarakat perkotaan menjadi tidak optimal. Padahal, jika dilakukan dengan pendekatan yang inklusif dan adaptif, dakwah Islam berpotensi besar menjadi instrumen transformasi sosial yang mencerahkan dan menyejukkan kehidupan kota yang sarat konflik nilai. Dalam konteks ini. Yayasan Kreasi Bangun Semesta (YKBS) yang berlokasi di Limo. Kota Depok, menjadi lokus penting untuk diteliti. YKBS merupakan lembaga sosial keagamaan Vol. 9 No. Mei 2025 yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat dan kegiatan dakwah, namun dihadapkan pula pada realitas sosial Perlu dilakukan penguatan kapasitas para mubaligh dan mubalighah yang bernaung atau terlibat dalam yayasan ini agar mampu mengembangkan model dakwah yang kontekstual, moderat, dan masyarakat urban. Secara teoritis, tim pelaksanaan komunikasi dakwah dan teori inklusivisme agama. Komunikasi memahami karakteristik audiens dan konteks sosial dalam penyampaian pesan keagamaan (Azra, 2. Sementara itu, pendekatan inklusivisme dalam dakwah menempatkan Islam sebagai rahmat bagi perbedaan dan mendorong partisipasi lintas identitas sosial (Madjid, 2. Keduanya menjadi landasan teoritis merancang model dakwah yang lebih adaptif di kawasan urban. Beberapa terdahulu telah mengkaji tema serupa, seperti studi Hidayat . mengenai tantangan dakwah digital di kota-kota besar, dan riset dari Sari & Hasanah . yang menyoroti minimnya pelatihan dakwah berbasis komunikasi sosial bagi para dai muda. Namun demikian, masih terdapat gap tim pelaksanaan yang secara spesifik menelaah penguatan kapasitas mubaligh dan mubalighah dari sisi strategi dakwah inklusif berbasis komunitas lokal di Tim pelaksanaan ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengangkat kasus konkret di YKBS Limo. Urgensi kegiatan ini semakin revitalisasi peran mubaligh dan Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) mubalighah dalam menjawab tantangan kontemporer dakwah Islam, sekaligus sebagai bentuk penguatan civil society berbasis nilai-nilai keislaman yang humanis dan pluralis. Dalam konteks negara Pancasila, pendekatan dakwah yang inklusif tidak hanya menjaga kerukunan antarumat beragama, tetapi juga membangun jembatan harmoni sosial yang kokoh di tengah masyarakat urban yang rawan polarisasi identitas (Syaefudin, 2. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menganalisis kondisi aktual peran mubaligh dan mubalighah YKBS Limo, mengidentifikasi tantangan dakwah di Hasil tim pelaksanaan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi program-program pelatihan dakwah serta kebijakan pembinaan dai di tingkat lokal maupun Vol. 9 No. Mei 2025 interaksi sosial, serta strategi yang mubalighah dalam menghadapi realitas Sebagaimana disampaikan oleh Creswell . , memperoleh kedalaman pemahaman terhadap nilai, pengalaman, dan pelaksanaan melalui interaksi langsung di lapangan. Lokasi dan Subjek Pelaksanaan Tim pelaksanaan ini dilaksanakan di YKBS Limo. Kota Depok, yang menjadi representasi lembaga dakwah komunitas di wilayah urban. Subjek tim pelaksanaan terdiri dari: Mubaligh dan mubalighah aktif yang menjadi binaan atau mitra YKBS. Pengurus dan pengelola program dakwah YKBS. Jamaah atau masyarakat penerima dakwah di lingkungan sekitar YKBS. Tokoh masyarakat lokal yang Teknik digunakan untuk memilih informan yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung terkait tema tim pelaksanaan (Sugiyono, 2. Kriteria pengalaman minimal dua tahun dalam kegiatan dakwah di lingkungan perkotaan, berperan aktif dalam kegiatan YKBS, dan bersedia diwawancarai secara mendalam. Teknik Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan melalui beberapa teknik berikut: Wawancara mendalam . n-depth intervie. : Dilakukan kepada para mubaligh, mubalighah, dan pengurus YKBS. Wawancara bersifat semiterstruktur agar tetap fleksibel dan memungkinkan eksplorasi informasi METODE PELAKSANAAN Kegiatan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali secara mendalam proses, tantangan, dan strategi penguatan peran mubaligh dan mubalighah dalam dakwah inklusif di kawasan perkotaan, khususnya di lingkungan Yayasan Kreasi Bangun Semesta (YKBS) Limo. Kota Depok. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk memahami fenomena sosial keagamaan yang kompleks dan kontekstual dari perspektif para pelaku dan komunitas terkait (Moleong, 2. Dalam pendekatan ini, tim pelaksana tidak bertujuan menguji hipotesis atau menggeneralisasi temuan, tetapi lebih pada memahami makna. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) secara luas (Afifuddin & Beni Ahmad Saebani, 2. Observasi Tim pelatihan, serta interaksi sosial antara mubaligh/mubalighah Observasi ini penting untuk menangkap aspek non-verbal, praktik sosial, dan dinamika lapangan yang mungkin tidak terungkap dalam wawancara. Dokumentasi: Mengumpulkan data sekunder berupa arsip program dakwah, modul pelatihan, catatan kegiatan, dan publikasi internal YKBS yang relevan dengan tema tim Teknik Analisis Data Data yang terkumpul . hematic analysi. Proses analisis dimulai dari transkripsi hasil wawancara dan catatan lapangan, kemudian dilakukan proses koding terbuka untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang Tahapan ini meliputi: Reduksi data . ata reductio. Penyajian data . ata displa. Penarikan kesimpulan . onclusion drawin. (Miles. Huberman & Saldaya, 2. Analisis dilakukan secara induktif, artinya temuan dan kesimpulan dibangun dari data empiris, bukan dari asumsi awal. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik, yakni membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi agar hasil tim pelaksanaan lebih kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Nasution, 2. Vol. 9 No. Mei 2025 untuk berpartisipasi secara sukarela. Identitas kerahasiaannya dengan menggunakan kode atau nama samaran sesuai standar etika tim pelaksanaan sosial (Zamroni. HASIL PELAKSANAAN Tim pelaksanaan ini menemukan sejumlah temuan penting yang berkaitan dengan kondisi aktual, tantangan, dan strategi penguatan kapasitas mubaligh dan mubalighah dalam melaksanakan dakwah inklusif di lingkungan urban, khususnya di YKBS Limo. Kota Depok. Hasil ini diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen internal lembaga. Kondisi Aktual Peran Mubaligh dan Mubalighah di YKBS Para mubaligh dan mubalighah yang terlibat di YKBS pada umumnya merupakan dai komunitas yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau perguruan tinggi keagamaan Islam. Mereka aktif menyampaikan materi dakwah melalui majelis taklim, khutbah Jumat, pelatihan rohani, serta kegiatan sosial keagamaan. Namun demikian, pendekatan dakwah yang digunakan masih dominan bersifat normatif dan tradisional, dengan sedikit inovasi dalam metode penyampaian maupun konten Meskipun demikian, terdapat kesadaran dari sebagian mubaligh untuk kontekstual dan tematik, seperti isu-isu pendidikan anak, toleransi, serta etika sosial dalam materi dakwah. Ini menunjukkan adanya potensi untuk transformasi dakwah yang lebih inklusif, meskipun belum sepenuhnya sistematis dan terstruktur. AuKami sadar bahwa masyarakat sekarang lebih beragam, jadi kadang saya sisipkan juga nilai-nilai toleransi Etika Tim pelaksanaan Tim pelaksana menjunjung tinggi prinsip etika dalam seluruh tahapan tim Setiap informan diberikan pelaksanaan dan dimintai persetujuan Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) dan kehidupan bertetangga, tapi memang belum ada pelatihan khusus untuk ituAy (Wawancara dengan Mubaligh, 16 Juni 2. Vol. 9 No. Mei 2025 keluarga, dan bantuan ekonomi Kolaborasi dengan Dai Muda: YKBS mubaligh dan mubalighah muda yang lebih melek teknologi dan Konsolidasi Internal: YKBS mengadakan forum internal untuk refleksi bersama antar dai mengenai pendekatan dakwah yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun demikian, upaya tersebut masih bersifat insidental dan belum menjadi sistem pembinaan yang berkelanjutan. Diperlukan program penguatan kapasitas secara terpadu dan sistematis yang berbasis pada nilai-nilai dakwah rahmatan lil alamin. Tantangan Dakwah di Lingkungan Urban YKBS Tim mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang dihadapi para mubaligh dan mubalighah di lingkungan urban Depok: Kompleksitas Sosial: Masyarakat sekitar YKBS terdiri dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan Perbedaan mempengaruhi cara dakwah diterima dan dipahami. Minimnya Pelatihan Penguatan Kapasitas: Tidak berkelanjutan yang membekali para dai dengan wawasan komunikasi sosial, pendekatan inklusif, atau isuisu kekinian. Keterbatasan Media Dakwah: Sebagian besar mubaligh belum memanfaatkan media digital secara optimal, padahal sebagian besar audiensnya merupakan masyarakat urban yang melek teknologi. Persepsi terhadap Inklusivitas: Masih ada anggapan bahwa dakwah inklusif terlalu AulunakAy atau mengurangi ketegasan ajaran Islam, sehingga memunculkan resistensi di kalangan dai yang lebih konservatif. Respons dan Adaptasi Strategis YKBS Sebagai sosialkeagamaan. YKBS menunjukkan upaya awal untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat urban melalui beberapa program berikut: Integrasi Program Dakwah dan Sosial: Dakwah tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga dikemas dalam kegiatan Model Dakwah Inklusif yang Diusulkan Berdasarkan lapangan, tim pelaksana merumuskan model dakwah inklusif yang dapat diimplementasikan oleh YKBS sebagai Pendekatan Humanistik: Materi menekankan aspek kasih sayang, keadilan sosial, dan etika Segmentasi Audiens: Dakwah belakang audiens, seperti anak muda, ibu rumah tangga, dan warga urban multikultur. Penguatan Kapasitas Dai: Melalui pelatihan komunikasi sosial, pemahaman lintas budaya, dan pemanfaatan media digital. Kemitraan Komunitas: Melibatkan tokoh masyarakat, pemerintah setempat untuk Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) memperluas jangkauan legitimasi dakwah. Vol. 9 No. Mei 2025 tidak hanya menyentuh aspek teks . , tetapi juga konteks . masyarakat yang menjadi objek Dengan demikian, para mubaligh dan mubalighah di YKBS dituntut untuk mengembangkan pendekatan yang kontekstual dan Artinya, mereka perlu memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat, isu-isu kekinian, dan kecenderungan nilai-nilai baru yang berkembang di kalangan urban, seperti inklusivitas, toleransi, dan keadilan sosial. Hal ini sesuai dengan teori komunikasi efektif menurut Jalaluddin Rakhmat . yang menyatakan bahwa keberhasilan kesesuaian pesan dengan kerangka berpikir, latar belakang, dan pengalaman komunikan. Kapasitas Mubaligh: Antara Kompetensi Tekstual Kontekstual. Temuan penguatan kapasitas dakwah secara sistematis menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi. Dalam teori kompetensi dakwah (DaAoi Competency Theor. dikembangkan oleh Tasmara . , seorang dai idealnya memiliki empat komponen utama: pemahaman . afaqquh al-di. , kecakapan komunikasi, pemahaman sosial, dan keterampilan teknologi Di YKBS, mayoritas mubaligh memiliki kompetensi keilmuan keislaman yang cukup baik, namun kurang pada dua aspek terakhir: pemahaman sosial dan teknologi dakwah. Maka, penguatan kapasitas mubaligh seharusnya tidak hanya berbasis pada penguasaan teks agama, tetapi juga pembinaan dalam hal soft skills dakwah kontemporer. Sebagaimana dikemukakan oleh Dalam hal ini dapat disimpilkan sementara bahwa tim pelaksanaan ini menegaskan bahwa revitalisasi peran mubaligh dan mubalighah dalam dakwah inklusif sangat penting di tengah kompleksitas masyarakat perkotaan. YKBS memiliki potensi strategis sebagai pusat pemberdayaan dai komunitas, tetapi diperlukan sistem pembinaan berkelanjutan dan inovatif. Dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah, tetapi perlu menjadi gerakan transformasi sosial yang menyentuh kebutuhan nyata umat secara relevan dan PEMBAHASAN Temuan menunjukkan bahwa peran mubaligh dan mubalighah di lingkungan urban Depok pendekatan konvensional yang normatif, dengan tantangan signifikan dalam menghadirkan dakwah yang responsif terhadap keragaman sosial. Hal ini sejalan dengan konsep dakwah inklusif, keberagaman sebagai kenyataan sosial yang harus direspons secara bijak oleh pelaku dakwah (Ansori, 2. Dakwah dalam Konteks Urban: Kompleksitas Adaptasi. Kehidupan perkotaan memiliki karakteristik tersendiri: mobilitas individualisme, dan akses luas terhadap teknologi informasi. Dalam konteks ini, pendekatan dakwah yang bersifat monolog dan seragam sulit menjangkau kebutuhan rohani masyarakat urban yang dinamis. Teori dikemukakan oleh Zuhdi . menyarankan agar pesan dakwah Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Nasrullah . , keberhasilan dakwah di era digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan dai dalam mengelola komunikasi lintas budaya dan memanfaatkan media modern sebagai sarana penyebaran Dakwah Inklusif sebagai Strategi Transformasi Sosial. Dakwah inklusif menekankan penerimaan terhadap keberagaman, penggunaan pendekatan yang ramah terhadap perbedaan, serta menjadikan dakwah Pendekatan ini senada dengan prinsip rahmatan lil Aoalamin dalam Islam yang menempatkan misi dakwah sebagai penebar rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi umat Islam semata (Madjid, 2. Lebih jauh, teori transformasi sosial religius sebagaimana dijelaskan oleh Alwi Shihab menggarisbawahi bahwa dakwah melainkan harus menjadi kekuatan penggerak perubahan sosial yang Dalam konteks YKBS, dakwah inklusif dapat menjadi jembatan untuk memberdayakan masyarakat urban melalui programprogram pendampingan keluarga, pembinaan remaja, dan pelatihan ekonomi umat. Implementasi terintegrasi dengan pelayanan sosial di YKBS merupakan bentuk aktualisasi dari integrated dakwah approach (IDA) Ai yaitu pendekatan dakwah yang tidak hanya berbasis ceramah, tetapi juga tindakan nyata dan partisipatif dalam kehidupan masyarakat (Aziz, 2. Ini terbukti lebih efektif dalam membangun Vol. 9 No. Mei 2025 masyarakat urban terhadap peran mubaligh dan mubalighah. Konstruksi Model Dakwah Inklusif Berbasis Komunitas. Tim pelaksanaan ini juga menemukan penyusunan model dakwah berbasis Model ini mengadopsi prinsip-prinsip sebagaimana dijelaskan dalam teori community-based (CBRE) menekankan pentingnya keterlibatan aktif komunitas dalam proses dakwah, bukan sekadar sebagai objek tetapi sebagai subjek yang turut berkontribusi dalam merancang agenda keagamaan (Fauzi, 2. Penerapan pendekatan ini akan meningkatkan efektivitas dakwah karena mampu menangkap aspirasi dan kebutuhan nyata masyarakat. Selain komunitas memperkuat daya tahan sosial . ocial resilienc. dalam menghadapi tantangan urbanisasi dan dehumanisasi masyarakat kota. Dengan menganalisis temuan melalui berbagai pendekatan teoretis, dapat disimpulkan bahwa revitalisasi peran mubaligh dan mubalighah dalam dakwah inklusif harus dilandasi oleh transformasi paradigma, peningkatan Perubahan tersebut tidak hanya menuntut kesadaran individu dai, tetapi juga dukungan sistemik dari lembaga seperti YKBS dalam membangun ekosistem dakwah yang kontekstual, inklusif, dan transformatif. KESIMPULAN Tim menyimpulkan bahwa peran mubaligh dan mubalighah dalam dakwah Islam di lingkungan perkotaan, khususnya di Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) YKBS Limo. Kota Depok, menghadapi tantangan yang kompleks di tengah masyarakat yang semakin majemuk, digital, dan dinamis. Para dai komunitas pendekatan dakwah konvensional yang bersifat normatif dan satu arah, sehingga belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang plural, kritis, dan terbuka terhadap Temuan menunjukkan bahwa sebagian dai telah memiliki kesadaran akan pentingnya pendekatan dakwah yang lebih inklusif dan kontekstual, namun belum didukung oleh sistem pelatihan atau penguatan kapasitas yang memadai. Minimnya pelatihan dalam aspek komunikasi sosial, pemahaman multikultural, dan menjadi hambatan utama dalam optimalisasi peran mereka. Dalam revitalisasi peran mubaligh mubalighah memerlukan penguatan kompetensi dakwah yang holistik, mencakup penguasaan teks agama, pemahaman konteks sosial, kemampuan komunikasi efektif, serta kecakapan adaptasi terhadap media dakwah digital. Model dakwah inklusif yang berbasis komunitas dan berorientasi pada transformasi sosial menjadi pendekatan yang relevan untuk diterapkan di lingkungan urban seperti Depok. YKBS memiliki potensi strategis untuk menjadi pusat penguatan dai komunitas, dengan catatan adanya dukungan sistematis berupa pelatihan berkelanjutan, integrasi program dakwah dengan pemberdayaan sosial, serta pengembangan kolaborasi lintas sektor. Dakwah yang dilakukan secara inklusif tidak hanya akan memperkuat posisi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, tetapi juga berkontribusi membangun kohesi sosial dan peradaban kota yang damai, adil, dan Vol. 9 No. Mei 2025 REFERENSI