Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Konflik Antar Perguruan Pencak Silat PSHT dan Pencak Silat IKSPI-Kera Sakti di Kabupaten Jombang Siska Dwi Pratiwi1* dan Agus Machfud Fauzi2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISH-Unesa Siska. 19103@mhs. Abstract This study further discusses the conflict that occurred between PSHT silat schools and IKSPI-Kera Sakti that occurred in the district, in Plosogeneng Village. The occurrence of this resulted in a lot of losses both from the perpetrator and the victim in particular. The loss that the victim experienced when this case occurred was material damage which included damage to the vehicle, damage to the cellphone, the victim also suffered a stab wound to the back. The purpose of this research is to identify why the conflict between the PSHT and IKSPI-Kera Sakti silat schools occurs with the conflict theory by Ralf Dahrendorf. By conducting this research using a qualitative approach, case study method, observation, literature study. The results of the study indicate that there is hostility or conflict. This occurs because old problems have not been resolved or have not found a point of peace from both sides, pencak silat martial arts is a physical sport as well as spirituality in which the components cannot be separated from each other Penelitian ini membahas lebih lanjut mengenai konflik yang terjadi antar perguruan silat PSHT dan IKSPI-Kera Sakti terjadi di Kabupaten yang tepatnya di Desa Plosogeneng. Adanya permusuhan dan juga kekuasaan adalah awal mula yang mengakibatkan konflik ini terjadi Terjadinya hal ini mengakibatkan banyak kerugian entah dari pelaku maupun korban terutama. Kerugian yang dialami korban pada saat kasus ini terjadi ialah adanya kerusakan secara materi yang meliputi kerusakan di kendaraan, kerusakan handphone, korban juga mengalami luka bacokan di punggung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi mengapa konflik antar perguruan silat PSHT dan IKSPIKera Sakti ini terjadi dengan teori konflik oleh Ralf Dahrendrof. Dengan melakukan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode studi kasus, observasi, studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya permusuhan atau konflik ini terjadi karena masalah lama yang belum selesai atau belum menemukan titik perdamaian dari kedua belah pihak pencak silat seni bela diri merupakan olahraga fisik sekaligus kerohanian yang dimana komponen satu dengan yang lainnya tidak bisa di pisahkan. Keywords: Conflict. PSHT. IKSPI-Kera Sakti. Pendahuluan Pencak silat merupakan seni bela diri tradisonal dari Indonesia. Pada tiap-tiap daerah memilik beragam ciri khas aliran bela diri pencak silat. Pencak silat di Indonesia ini sudah tumbuh sejak zaman penjajahan dan sudah turun temurun memlalui proses yang panjang tentunya dan bisa sampai mengalami perkembangan di zaman yang modern ini. Menurut Orchid . Fenomena pembacokan yang terjadi antar beberapa anak laki-laki di Desa Plosogeneng yang terjadi dikarenakan adanya konflik pada malam 1 muharram yang dimana para perguruan silat ini memang gencargencarnya mencari mangsa guna kepentingan individu dari perguruan silat tersebut. Adanya perbedaan latar belakang setiap perguruan pencak silat juga bisa memicu adanya konflik. Factor lainnya yaitu mereka saling adu pamer kekuatan ketika ada yang terpicu maka mereka akan beramairamai untuk menantang lawan. Pembacokan yang terjadi di Desa ini singkatnya karena terdapat tiga Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 anak perguruan PSHT yang sedang dalam perjalanan pulang dini hari dengan memakai baju kaos logo PSHT lalu dengan tiba-tiba anak ini merasa ada yang mengejar dari belakang dengan jumlah orang cukup banyak ke tiga anak yang di kejar ini tiba-tiba diserang secara brutal dengan di tendang pada waktu di jalan sehingga ambruk dan di hantam habis-habis sampai ke pembacokan itu terjadi. Pembacokan ini terjadi pada saat malam 1 Muharram tepatnya dini hari. Kasus serupa yang dialami perguruan pencak silat memang sering terjadi dan menurut laporan dinas sosial Kota Jombang memnag sering terjadi kasus antar perguruan pencak silat yang mengalami perkelahian bahkan tawuran dan rata-rata kasus ini terjadi pada anak-anak remaja yang masih di bawah umur tujuh belas tahun yang dimana pihak dinas sosial turut mendampingi perkara-perkara criminal yang bersangkut pautan dengan anak yang masih di bawah umur legal. Tidak hanya tawuran antar sekolah saja yang terjadi nyatanya tawuran di luar sekolah juga perlu di perhatikan lagi karena menyangkut dengan nyawa, keamanan, dan juga kenyamanan lingkungan. Perguruan silat adalah seni bela diri tradisonal dari negara kita Indonesia. Pada tiap-tiap daerah memilik beragam ciri khas aliran bela diri perguruan pencak silat. Pencak silat di negara kita ini sudah tumbuh sejak zaman penjajahan dan sudah turun temurun memlalui proses yang panjang tentunya dan bisa sampai mengalami perkembangan di zaman yang modern ini. Termasuk di daerah Jombang perguruan silat PSHT dan IKSPI Kera Sakti cukup terkanal disini. Dua perguruan silat ini sempat mengalami konflik sehingga menimbulkan kerugian materiil dan juga korban jiwa. Pencak silat ini memngalami perkembangan yang cukup pesat dengan dibuktikan semakin urutbanyaknya perguruan dengan banyaknya anak muda yang turut melestarikan. Namun terjadi pro-kontra ditengah pesatnya dan juga banyaknya perguruan pencak silat yang ada di Indonesia yaitu dengan timbulnya konflik antara berbagai perguruan lainnya. Kesenjangan yang terjadi pada setiap perguruan pencak silat yaitu terjadinya konflik kekerasan yang memicu perkelahian antar kelompok. Terjadinya suatu masalah pada dasarnya yaitu karena sesuatu yang memang tidak bisa dihindari dalam kehidupan. Suatu konflik yang terjadi pada perguran pencak silat yaitu dinamakan konflik antar kelompok yang dimana banyak sekali pemicunya salah satunya adalah adanya persaingan antar kelompok, prasangaka yang tidak baik, baik bersifat pribadi, politik, maupun ideologis yang melatarbelakanginnya. Seni bela diri seperti PSHT dan IKSPI-Kera Sakti memang sangat terkenal terlebih di daerah Jombang. Kedua perguruan silat ini di Desa Plosegeneng Jombang memang sempat terjadi konflik sehingga menimbulkan beberapa konflik yang berakhir di kepolisian setempat. Konflik antar perguruan pencak silat memamng sudah menjadi hal yang lumrah dikarenakan control diri dari para remaja yang masih rendah dengan factor yang mempengaruhi banyak. Control diri sangatlah penting terlebih kebanyakan yang mengikuti perguruan PSHT dan IKSPI-Kera Sakti ini di dominasi dengan kebanyakan anak muda yang kebanyakan masih memiliki pemikiran labil. Adanya kasus tersebut mengakibatkan banyak sekali kerugian entah dari pelaku maupun korban terutama. Kerugian korban pada saat kasus ini terjadi yaitu adanya kerusakan secara materi adanya kerusakan di kendaraan, kerusakan handphone, korban juga mengalami luka bacokan di punggung. Kejadian yang terjadi perguruan silat seperti ini menimbulkan spekulasi yang negative bagi sebagian warga masyarakat yang awal mulanya dinilai sebagai budaya yang harus di jaga dengan tidak menyalah gunakan tetapi timbul kejadian seperti ini membuat banyak hal yang memang harus diperbaiki lagi agar tidak disalah Berdasarkan latar belakang dan focus peneliti adalah AuKonflik Antar Komunitas Perguruan Silat PSHT dan IKSPI-Kera Sakti Kabupaten JombangAy. Pada penelitian ini bertujuan guna memahami Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 dinamika-dinamika konflik antar dua perguruan pencak silat PSHT dan IKSPI Kera Sakti di Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu penilitian Subyek pada penelitian ini di pusatkan kepada ranting perguruan silat setia hati terate dan Kera Sakti terkait. Pada saat melakukan pengumpulan data dilakukan dengan cara bobservasi, wawancara , dan juga studi kepustakaan. Berdasarkan dengan hasil dari penelitian menyebutkan bahwa suatu konflik yang terjadi ini disebabkan adanya oknum yang ini balas dendam juga adanya sifat kompetitif dan juga adanya sifat saling eksistensi yang dimiliki antar anggota perguruan silat ini sehingga menimbukan konflik atau masalah antar dua perguruan pencak silat ini. Berbagai macam bentuk pencak silat di Indonesia bukan hanya sebagai teknik pembelaan diri tetapi juga sebagai ajang pelestarian budaya dan bisa juga dikatakan sebagai kekayaan budaya yang harus dikembangkan sampai seterusnya. Pada gerakan dalam seni bela diri memiliki kesakralan yang luar biasa dan bersifat turun temurun tentunya tidak ada campur tangan dari budaya asing, sehingga pencak silat merupakan budaya khas dari Indonesia. Bisa disimpulkan bahwa pencak silat merupakan budaya khas negara kita dan harus kita banggakan juga kita lestarikan karena dari segi gerakan yang memiliki makna dan sulit untuk dicontoh oleh budaya asing. Kajian Pustaka Peneletian terdahulu di sebuah jurnal milik Muhammad Zakaria/ 2020 Studi tentang konflik antar perguruan silat PSHT dan IKSPI Kera Sakti di Desa Sumurangung Kab. Bojonegoro. Kualitatif / dinamika konflik Fisher. Bedasarkan dari hasil dari penelitian diketahui bahwa adanya suatu konflik antar perguruan silat PSHT dan IKSPI Kera Sakti di Desa Sumuragung dikarenakan adanya tindakan dari oknum-oknum anggota perguruan silat yang mengatasnamakan perguruan dan melibatkan kelompok perguruan silat. Sehingga munculah suatu konflik yang di landasi dengan latar belakang masalah yang membuat tercorengnya nama perguruan silat ini sehingga para murid perguruan pencak silat harus memperbaiki nama baik mereka yang telah dirusak. Yang membedakan penelitian saya dengan penelitian ini adalah latar belakang lokasi dan juga latar belakang masalah yang terjadi, teori yang digunakan juga turut berbeda di sini menggunakan teori konflik dari fisher sedangkan saya mengambil teori milik Ralf Dahrendoff. Menurut Hamida. Siti . menuturkan bahwa masalahyang terjadi antar perguruan silat sering sekali terjadi dan tentunya ada pihak-pihak yang dirugikan sehingga tidak dinilai positif lagi bagi masyrakat disii perlunya adanya pemahaman tentang toleransi yang mengajarkan untuk menghargai individu dengan menunjukan sikap toleransi maka hubungan antar semua kelompok akan terjalin baik baik saja. Yang menjadi beda pada penelitian saya adalah latar belakang masalah perbedaan konflik, teori yang digunakan juga berbeda. Metode yang dipakai di penelitian ini adalah mix method dengan teori dampak sosial. Kajian Pustaka Tentang Konflik Konflik merupakan suatu gejala gejala sosial yang dimana ada di kehidupan kita, dengan begini konflik bisa di sebut inheren yang dimana bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Dengan adanya ketidakpastian terjadinya konflik maka perlu adanya strategi dalam menyelesaikannya. Konflik memiliki karakter yang dimana ada konflik yang bisa diselesaikan dan ada konflik yang tidak bisa diselesaikan yang berujung pada tindak kekerasan. Bentuk tindak kekerasan yang terjadi karena adanya konflik yang tidak teratasi, bentuk kekerasan yang terjadi juga banyak dari kekerasan verbal dan non verbal, kekerasan berat maupun ringan, kekerasan kecil hingga menjadi peperangan. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Menurut Soerjono Soekamto . konflik yang memiliki arti percekcokan, pertentangan dan Banyak sekali factor-faktor yang mempengaruhi suatu konflik terjadi yaitu adanya perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok, perbedaan latar belakang kebudayaan, kurangnya keharmonisan dan masih banyak lagi bentuk-bentuk perbedaan yang bisa menjadikan suatu konflik. Konflik juga memiliki banyak sekali jenis-jenisnya yaitu ada konflik anatar individu, konflik ras yang dimana terjadi anatara dua rasa tau lebih, konflik agama, konflik anatar kelas sosial, konflik politik, konflik sosial, dan juga ada konflik internasional yang terjadi antar negara di dunia. Konflik merupakan sifat dan sikap yang bisa merusak dan juga menghancurkan sebuah persatuan maka dari itu menghindari konflik sangat diperlukan dengan mengontrol diri dari konflik yang menyebabkan banyak kerugian bagi individu maupun kelompok bahkan negara. Teori Konflik Ralf Dahrendroft Konflik-konflik yang terjadi karena adanya satu kelompok yang memnadang bahwa kelompoklain hanya sebagai penghambat suatu kepentingannya. Menurut Pruitt dan Rubin . yang mendefinisikan konflik sebagai persepsi perbedaan suatu kepentingan yang dimana aspirasi dari pihak yang bermasalah tidak bisa mengambil jalan tengah untuk meyelesaikan konflik yang terjadi. dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa konflik merupakan suatu bentuk interaksi pihak satu dengan pihal lain dalam suatu masyarakat lain yang di tandai dengan bentuk kekerasan, ancaman, penekanan dan juga saling menhancurkan. Fakta kehidupan sosial ini yang mengarahkan Dahrendorf kepada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi AotoritasAy atau kekuasaan selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis. Hubungan Otoritas dan Konflik Sosial Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa posisi yang ada dalam masyarakat memiliki otoritas atau kekuasaan dengan intensitas yang berbeda-beda. Otoritas tidak terletak dalam diri individu, tetapi dalam posisi, sehingga tidak bersifat statis. Jadi, seseorang bisa saja berkuasa atau memiliki otoritas dalam lingkungan tertentu dan tidak mempunyai kuasa atau otoritas tertentu pada lingkungan lainnya. Dahrendorf menganggap bahwa bentuk konflik terjadi karena adanya kelompok yang berkuasa atau dominasi . dan yang dikuasai . , maka jelas ada dua sistem kelas sosial yaitu mereka yang berperan serta dalam struktur kekuasaan melalui penguasaan dan mereka yang tidak berpartisipasi melalui penundukan. (Wahid,2. Sedangkan Marx berasumsi bahwa satu-satunya konflik adalah konflik kelas yang terjadi karena adanya pertentangan antara kaum pemilik sarana produksi dengan kaum buruh. Metode Penelitian Bagian Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti saat mengrejakan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan ini dipilih guna bisa memahami dan juga meinterprestasi fakta dalam suatu fenomena dalam masyarakat. Penelitian dengan metode ini menggunakan pendekatan induktif yang dimana teori akan diuji setelah keseluruhan data telah diperoleh. Penelitian kualitatif dilakukan berawal dari data yang ada di lapangan. Dan data yang sudah dikumpulkan akan mendapat perlakuan selanjutnya oleh peneliti. Dari mulai pemikiran hingga penafsiran, logika induktif yang digunakan akan membuat peneliti mampu memahami hingga memberikan pemamparan terkait hasil Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Desain dari penelitian kualitatif adalah menggunakan instrument penelitian yakni peneliti itu sendiri. Masalah maupun tujuan yang ada dari penelitian kualitatif ini juga beragam dan memiliki keterkaitan antar kasus sehingga sulit mengidentifikasi persamaan dengan penelitian yang sifatnya lebih umum. Dalam penelitian kali ini terkait komunitas perguruan pencak silat di Desa Plosogeneng Kabupate Jombang peneliti ingin melihat lebih dalam lagi terkait kasus dan juga konflik yang terjadi. penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkan suatu balas dendam permusuhan diperguruan silat ini terjadi sehingga menimbulkan suatu permusuhan dan menyababkan adanya korban dan tersangngka yang berakhir ke ranah hukum. Sekaligus menganalisis temuan-temuan data serta keterkaitannya dengan teori sosiologi yang relevan. Lokasi penelitian tempat dimana seorang peneliti melakukan suatu peneltian dan juga tempat mencari data yang relevan. Pemilihan lokasi penelitian juga termasuk komponen yang penting dalam suatu penelitian dalam memilih lokasi penelitian diperlukan berbagai pertimbangan yang bisa diharapkan dapat menemukan berbagai hal-hal yang bermakna. Pertimbangan ini juga diupayakan atas dasar adanya keterbatasan dari aspek keterjangkauan lokasi, biaya, tenaga dan juga waktu. Desa Plosogeneng tepatnya tempat kejadian perkara adanya suatu konflik antar komunitas ini terjadi tepatnya di lapangan Desa Plosogeneng yang dimana daerah ini termasuk masih berada di kota yang sama dengan peneliti. Pemilihan lokasi ini juga perlu adanya pertimbangan dengan menyesuaikan judul penelitian yang di teleti oleh peneliti. Waktu penelitian merupakan rentan atau masa periode lamanya pengumpulan sebuah data penelitian. Waktu penelitian dilakukan dengan rentang waktu tertentu yang merujuk pada kebutuhan data penelitian. Dari usia penduduk yang rata-rata memiliki usia 0-4 tahun dengan jumlah jiwa 545 jiwa lalu di usia 5-9 tahun dengan 555 jiwa di usia 10-14 tahun dengan 497 jiwa di usia 15-19 tahun dengan 424 jiwa di usia 20-24 tahun terdapat 462 jiwa di usia 25-29 tahun 531 jiwa dilanjut di usia 30-34 terdapat 495 jiwa lalu di usia 35-39 terdapat 500 jiwa dan di usia 40-44 tahun terdapat 470 jiwa. (BPS Jombang,2. Hasil dan Pembahasan Di dalam penelitian ini teknik triangulasi dipilih peneliti sebagai metode penjamin kredibilitas Triangulasi yang digunakan yakni triangulasi informan selingkung subjek penelitian, triangulasi peneliti, dan triangulasi sumber data. Triangulasi informan selingkung subjek dilakukan sepanjang proses pengumpulan data untuk bisa mengkonfirmasi bahwa data dari subjek benar Terjadinya kasus atau konflik antar kelompok perguruan silat PSHTdan IKSPI-Kera Sakti yang seharusnya menjadi olahraga bela diri untuk ketahanan dan juga bisa dipercaya sebagai olahraga bela negara dikarenakan adanya konflik ini. Masyarakat akan meiliki stigma sendiri dengan kejadian maka dari itu butuh adanya kerja sama dan juga saling support agar tidak ada lagi kejadian konflik yang semacam ini terlebih buat perguruan yang berbeda kelompok. Adanya perdamaian dan juga perjanjian tidak akan mengulang kejadian yang sama sudah memang harus dilakukan agar tidak menjadi contoh oleh pihak lain. Peninjauan dari masing-masing guru dari perguruan PSHT dan IKSPI Kera Sakti juga nasih dilakukan dan juga lebih memperkuat pembelajaran di ilmu kerohanian karena olah bela diri jika tidak di barengi dengan ilmu spiritual maka akan terjadi ketidak sinkronisasi fisik dan hati. Sehingga perlu adanya ke stabilan antara olahraga fisik dan juga ilmu kerohanian atau spiritual yang di dapat di masing-masing perguruan silat. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Adanya konflik yang menyebabkan pertengkaran dan perselisihan ini karena adanya permusuhan atau masalah di masa lampau yang memang belum selesai dan tidak ada tindak lanjut sehingga menjadi dendam yang terpendam dan ketika menemukan mangsa seperti Alvin ini maka akan langsung di hajar tanpa membicarakan terlebih dahulu. Menggunakan seni bela diri untuk hal-hal yang merugikan orang lain atau kelompok lain juga akan memberikan pandangan yang buruk. Faktor lain yang menyebabkan konflik ini terjadi yaitu adanya rasa ingin bersaing atau menginginkan posisi yang lebih dikarenakan perguruan silat dari PSHT merupakan perguruan silt yang paling tua dan juga perguruan pencak silat terbesar namun perguruan IKSPI-Kera Sakti juga memiliki jurus yang berbeda dari perguruan silat yang lain. IKSPI-Kera Sakti yang menganut jurus kung-fu atau kera, dan ini juga membuat perguruan IKSPI-Kera Sakti merasa lebih unggul untuk mengadu kemampuan dengan perguruan pencak silat PSHT. Unsur yang pertama yang mengetahui kejadian ini hanya lima orang yang namun empat orang warga asli Jombang tempat terjadinya konflik dan satu orang warga Ngajuk yang merupakan asli orang Jombang adalah Alvin. Orang Tua Alvin. Mas Digit dan Mbak Livia selaku staff Dinas Sosial Kota Jombang, dan yang terakhir adalah Pak Kaslan selaku warga asli Desa Plosogeneng tempat terjadinya konflik dan yang menemukan Alvin tergeletak jalan depan di lapangan Desa Plosogeneng dan yang satu berasal dari Nganjuk karena pelatih dari perguruan Silat IKSPI-Kera Sakti. Konflik yang menyebabkan permusuhan antar kelompok persilatan ini karena dipicu adanya rasa ingin berkuasa dan memiliki power yang lebih baik dengan pihak lain. Informasi dari Mas Wawan yang sebagai guru atau pengajar di perguruan silat IKSPI-Kera Sakti menjelaskan mengapa konflik ini terjadi jika dilihat dari sudut pandang dari IKSPI-Kera Sakti beliau selaku guru dan pelatih juga merasa kecewa karena adanya kekerasan yang dilakukan oleh anak didiknya yang dilakukan secara fatal. Menurutnya karena adanya permasalahan atau konflik yang sudah lama pernah terjadi dan juga ada faktor lainnya yaitu adanya rasa ingin berkuasa. Perguruan silat yang seharusnya memiliki rasa persaudaraan dan juga sebagai teman untuk sharing informasi dan juga saling mendukung satu sama lain maka kemungkinan akan terhindar dari suatu masalah. Alvin memaparkan juga kerugian yang ia alami tidak main-main diantaranya adanya luka bacok yang memiliki kedalaman yang cukup dalam yang di setiap hari-nya pada waktu di sekolah dengan keadaan luka yang belum kering. Hal ini sangat mengganggu aktivitas sekolah karena dengan luka yang masih basah dan suka ngerembes darahnya ke baju sekolah yang mengakibatkan Alvin harus pulang sekolah lebih awal. Alvin harus tetap ke sekolah walaupun dengan kondisi fisik yang seperti itu dikarenakan Alvin merupakan anak kelas didik di bangku tiga SMP yang sebentar lagi akan ada banyak ujian-ujian kelulusan pada waktu itu. Hal ini juga mengganggu aktivitas Alvin lainnya ia tidak bisa berlatih lagi seperti biasa dan hanya bisa melihat saja apabila ia kangen dengan latihanlatihannya. Selain itu juga kerugian yang dialami Alvin tidak hanya fisik adapun non fisik seperti kerusakan handphone,kendaraan sehari-hari, dan biaya pengobatan yang tidak sedikit dengan kondisi perekonomian pihak Alvin yang saat itu kurang memadai. Suatu konflik yang terjadi pada dasarnya yaitu sesuatu yang memang tidak bisa terhindarkan dalam kehidupan. Konflik yang terjadi pada perguran pencak silat yaitu dinamakan konflik antar kelompok yang dimana banyak sekali pemicunya salah satunya adalah adanya persaingan antar kelompok, prasangaka yang tidak baik, baik bersifat pribadi, politik, maupun ideologis yang melatar belakanginnya. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Dalam pencak silat PSHT terdapat lima panca dasar yaitu persaudaraan, olahraga, bela diri, kesenian, kerohanian, dan ke-Setia Hati-an. Seperti yang tercantum pada panca dasar PSHT yang dimana ada persaudaraan didalamnya yang seharusnya persaudaraan yang tidak hanya di dalam perguruannya saja tetapi juga persaudaraan di luar perguruan silat yang lainnya juga. Makna dari persaudaran sendiri yakni artinya persaudaran merupakan bentuk kasih sayang terhadap sesama, saling menghormati agar terbentuknya persaudaraan yang kekal abadi. Makna yang terdapat pada panca Setia Hati ini memiliki keindahan dan juga kententraman sehingga apabila setiap anak didik yang berada dalam perguruan silat ini mempelajari betul makna-makna yang terdapat pada perguruan ini juga visi-misi nya maka akan terhindar dari konflik yang datang dari dalam maupun dari luar perguruan silat ini. banyak sekali ilmu dan pelajaran yang diambil baiknya jika kita mau menerapkan dan juga menyerap dengan baik sehingga konflik semacam ini akan terhindarkan Perguruan IKSPI-Kera Sakti memiliki tujuan dari perguruan ini ajaran-ajarannya adalah untuk mendidik siswa-siswanya menjadi pendekar sekaligus kader bangsa yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur dan berguna bagi nusa dan bangsa. Seni bela diri mempelajari ilmu kerohanian, dari banyak guru seperti pendekar. Kyai atau ulama, maupun paranormal dari macam-macam aliran lainnya, seperti silat jawa, kung-fu, ilmu qontak, yoga. Adapun panca Prasetia perguruan silat IKSPI-Kera Sakti yang didalamya terdapat . Setia pada pancasila dan Undang-undang 1945. Menjunjung tinggi dan menjaga nama baik perguruan di dalam maupun di luar latihan. Hormat dan patuh kepada Guru serta menjalin rasa persaudaraan sesam saudara Bertindak jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Sanggup dengan penuh kesadaran menjalankan semua peraturan yang berlaku dalam perguruan silat. Konflik akan selalu ada dimanapun kita berada namun penyelesaian konflik merupakan pilihan setiap individu maupun kelompok ada yang cara penyelesaiannya menggunakan kekerasan atau balas dendan pun ada yang memilih dengan cara kekeluargaan. Dengan memilih kekerasan juga akan menimbulkan masalah baru yang terjadi sehingga masalah sebelumnya tidak akan terselesaikan jika memilih jalur ini atau masalah ini akan di tindak lanjuti secara hukum. Konflik yang menyebabkan permusuhan antar kelompok persilatan PSHT dan IKSPI-Kera Sakti ini terjadi karena dipicu adanya rasa ingin berkuasa dan memiliki power yang lebih baik dengan pihak lain. Adanya rasa ingin berkuasa dan menyebabkan kerugian material dan non materiil adalah perbuatan yang sangat di larang kembali lagi ke konteks terbentuknya adanya perguruan silat adalah untuk benteng pertahanan antar individu maupun kelompok dengan saling menjaga solidaritas. Terjadinya konflik antar komunitas perguruan silat IKSPI-Kera Sakti dan PSHT ini harus ada banyak yang perlu di evaluasi lagi atas apa yang terjadi agar tidak terulang kembali hal2 yang semacam ini. Melihat latar belakang yang terjadi yakni konflik identitas yang mana keduanya saling mengklaim kebenaran masing-masing Adanya penilaian tersebut juga didukung oleh anggapan atau lebeling masyarakat setempat dan didukung oleh idiologi masyarakat dengan pencak silat sebagai budaya kejawen yang sangat familiar dengan kehidupan sehari-hari. Dilihat dari terjadinya konflik ini yang di paparkan oleh Mas Digit. Mas Wawan, dan juga Alvin bahwa secara garis besarnya konflik ini terjadi karena adanya masalah-masalah yang belum selalu dan membuat kres atau perselisihan. Konflik ini terjadi dengan keadaan yang begitu cepat karena jika dilihat PSHT ini sudah tersebar di seluruh Indonesia dengan kelompok dan orang yang berbedabeda tentunya. Dengan penjelasan Alvin yang merasa kelompok latihannya perguruan PSHT tidak sedang berkonflik dengan siapapun dan kelompok silat manapun dan pihak dari Alvin di buat Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 kebingungan tersendiri atas penyerangan yang menimpanya. Mas Wawan dan Mas Digit juga memaparkan alasan yang sama mengenai konflik ini terjadi, dengan hanya Alvin memakai baju PSHT pada malam itu, juga bisa memunculkan rasa ingin balas dendam dari masalah yang belum terselelesaikan dan tanpa melihat asal atau kelompok manakah yang pada saat itu berkonflik. Mereka IKSPI-Kera Sakti menganggap bahwa kalau memiliki musuh dari PSHT di kelompok lain maka semua kelompok dari darah manapun juga akan terkena imbasnya. Dan Alvin lah yang pada saat melintas dengan atribut PSHT dan di tambah pada malam 1 assyura itu yang dimana semua perguruan silat sedang Aundue gaweAy. Dua pesilat yang diyakini bisa menjadi suri tauladan dari segi ilmu kerohanian dan juga bela diri lalu mengalami konflik yang semacam ini maka akan merubah cara pandang masyarakat juga, dan bentuk dukungan masyarakat akan mengalami perubahan sebagai bentuk perlakuan yang menyimpang dan juga meresahkan. Maka diperlukan adanya suatu edukasi dalam setiap diri para anak didik pesilat agar selalu terjaga dari hal-hal yang membahayakan dan juga bisa merugikan karena dengan membuat suatu konflik akan membuat tercorengnya nama suatu komunitas pesilat yang terlibat sehingga harus menjaga nama baik almamater pesilat agar mendapatkan dukungan dari pihak manapun dan akan selalu di hargai keberadaannya sehingga terjalinnya relasi yang baik antar masyarakat dan juga organisi pesilat ini peran masyarakat juga sangat diperlukan dalam mempertahankan adanya organisasi pesilat ini agar selalu berkembang dan tidak terkikis dengan zaman sehingga tetap ada generasi penerus yang meneruskan warisan budaya ini. IKSPI Kera Sakti dan PSHT juga akan meninjau lagi guna mebalikan nama baik pesilat sebagai ajang olahraga bela diri karena dilihat minat dari generasi bangsa juga sangat berpengaruh dalam perkembangan organisasi ini sehingga perlu adanya penanganan yang serius agar tidak terjadi hal-hal yang lebih parah untuk kedepannya Analisis Teori Konflik dalam contoh kasus dari Konflik antar Komunitas Perguruan Silat PSHT dan IKSPI-Kera Sakti Dahrendorf membedakan golongan yang terlibat konflik itu menjadi dua tipe yaitu kelompok kepentingan dan kelompok yang ingin berkuasa yang dimana kelompok kepentingan ini yang menyebabkan konflik ini terjadi karena dari perguruan silat IKSPI-Kera Sakti yang menyerang secara tiba-tiba terhadap perguruan silat PSHT ini terjadi karena adanya kepentingan balas dendam yang telah ada dari tempo dahulu sehingga menimbulkan dampak yang berkelanjutan antar dua perguruan silat ini. Lalu untuk tipe kelompok yang kedua sebagai kelompok ingin berkuasa yang dimana Adanya kekuasaan yang di maksud disini karena perguruan pencak silat PSHT termasuk perguruan silat terbesar di Indonesia dan juga termasuk perguruan silat yang tertua sehingga menimbulkan rasa ingin bersaing dan juga adu skill atau kekuatan dalam mempelajari ilmu bela diri yang di miliki. Karena perguruan pencak silat IKSPI-Kera Sakti juga memiliki jurus kera atau kungfu yang tidak dimiliki kebanyakan perguruan silat manapun termasuk perguruan silat PSHT Adanya rasa perebutan posisi juga menjadi hal yang melatarbelakangi adanya suatu konflik ini Karena perguruan IKSPI-Kera Sakti ini tidak mau terlihat lemah apabila berlawanan dengan perguruan silat PSHT melihat lebelling yang ada di perguruan silat PSHT Jika dilihat dari informan Mas Wawan dan Mas Digit yang memberikan pemaparan bahwa masalah ini timbul sebenarnya karena adanya masalah yang belum tuntas dengan perguruan silat PSHT seperti yang dipaparkan dua anak IKSPI -Kera Sakti yang terlibat kasus ini yang saat ini diamankan pihak kepolisian menjelaskan karena dulu dari kelompok PSHT ada yang mengejek atau mengolok sehingga menimbulkan konflik ini terjadi. Sebenarnya dua anak IKSPI-Kera Sakti ini tidak mengetahui pasti dari daerah kelompok PSHT manakah yang mengolok dan mengejeknya yang Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 membuat perguruan IKSPI-Kera Sakti ini tidak terima karena posisinya pada saat kejadian itu juga pada saat malam satu syuro jadi pas ramai-ramainya perguruan silat itu memiliki acara tertentu. Jadi disaat malam itulah saudara Alvin ini melintas dengan pakaian atau atribut PSHT dan menjadi sasaran empuk buat perguruan silat IKSPI-Kera Sakti ini. Kesimpulan Konflik antar komunitas perguruan silat memang sering terjadi di Indonesia. Konflik ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti persaingan dalam ajang kejuaraan, perbedaan pandangan mengenai ajaran silat tertentu, atau bahkan konflik personal antara anggota dari kedua komunitas Dalam situasi konflik seperti ini, sebaiknya kita mencari cara damai untuk menyelesaikan masalah tersebut. Banyak kasus konflik antar perguruan pencak silat yang berakhir dengan tindakan kekerasan dan saling menjatuhkan nama baik satu sama lain. Hal ini tentunya merugikan semua pihak dan tidak akanmemberikan solusi jangka panjan bagi masalah yang ada. Sebaliknya, para pemimpin dari kedua belah pihak harus duduk bersama dan mencari jalan keluar yang baik untuk kebaikan bersama. Dengan dilakukan pertemuan perdamaian atau dialog terbuka dimana masing-masing pihak dapat menyampaikan pendapat mereka secara objektif tanpa emosi yang saling mempengaruhi. Selain itu, penting juga bagi setiap anggota dari kedua komunitas untuk tetap menjaga sikap profesionalisme dalam bertanding maupun berkomentar tentang lawan utama ataupun lawan mereka, di media sosial atau tempat umum lainnya. Tidak hanya itu saja, namun sebagai penggemar seni beladiri kita harus bergandengan tangan untuk mengatasi warisan budaya ini. Akhirnya, semua pihak harus menghindari tindakan yang merugikan orang-orang di sekitar masyarakat mereka dan masyarakat luas. Daftar Pustaka