Jurnal Reka Agroindustri. Vol. No. Juni 2025 JURNAL REKA AGROINDUSTRI Journal Hompage: https://journalng. id/rekaagro P-ISSN 2338-7505 E-ISSN x-x Perencanaan Pengolahan Pasca Panen Pembangan Usaha Frozen Food Sayuran AuHIJAUBEKUAy Berbasis Sistem Informasi Muhammad Iqbal Kafabihi1* Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Surabaya E-mail:1kafabihiiqbal@gmail. *Penulis Koresponden ABSTRAK Sayuran merupakan bahan pangan bergizi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, karakteristik sayuran yang mudah rusak dan cepat layu menjadi tantangan serius dalam distribusi pasca panen. Proses distribusi yang lambat atau terhambat dapat mengakibatkan penurunan mutu, kehilangan kesegaran, serta meningkatnya angka kerusakan sebelum produk sampai ke konsumen. Kondisi ini berdampak langsung pada kerugian ekonomi bagi petani dan pelaku agribisnis. Salah satu solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pengolahan pasca panen melalui metode pengawetan, salah satunya dalam bentuk produk frozen food. Sayuran beku terbukti dapat memperpanjang masa simpan tanpa mengurangi kandungan gizi secara signifikan. Selain menjawab kebutuhan konsumen modern akan makanan praktis dan sehat, frozen food sayuran juga dapat meminimalkan pemborosan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis model bisnis frozen food sayuran yang terintegrasi dengan sistem informasi agribisnis. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan perancangan sistem menggunakan pendekatan Data Flow Diagram (DFD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sistem informasi mampu meningkatkan efisiensi dalam manajemen produksi, distribusi, dan pelaporan keuangan. Konsep ini dinilai layak diterapkan untuk memperkuat daya saing agribisnis digital yang Kata Kunci: distribusi, frozen food, karakteristik sayuran, sayuran beku, sistem informasi ABSTRACT VegeTabels are highly nutritious food ingredients that are essential to human diets. However, their perishable nature and tendency to wilt quickly pose serious challenges in post-harvest distribution. Delays or disruptions in the distribution process lead to a decline in quality, loss of freshness, and an increased rate of spoilage before reaching consumers. This condition results in economic losses for both farmers and agribusiness actors. One innovative solution to address this issue is post-harvest preservation through the processing of vegeTabels into frozen food products. Frozen vegeTabels have been proven to extend shelf life without significantly reducing nutritional value. In addition to meeting modern consumers' demands for healthy and practical food, frozen vegeTabels can minimize post-harvest waste. This study aims to design and analyze a frozen vegeTabel business model integrated with an agribusiness information system. The research uses a qualitative approach through literature review and system design employing a Data Flow Diagram (DFD). The results indicate that the integration of information systems improves efficiency in production management, distribution, and financial reporting. This concept is considered feasible to enhance the competitiveness of sustainable digital agribusiness. Keywords: distribution, frozen food, frozen vegeTabels, information system, vegeTabel characteristics Copyright . 2025 Jurnal Reka Agroindustri. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Internasional License. Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri PENDAHULUAN Hortikultura merupakan salah satu komoditas yang mempunyai peran yang penting dalam sektor pertanian, baik dari sisi sumbangan ekonomi nasional, pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja maupun berbagai segi kehidupan masyarakat. Komoditas hortikultura dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan biofarmaka . anaman obat-obata. Kebutuhan masyarakat terhadap sayuran akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Sayuran hampir tidak dapat dilepaskan dari berbagai hidangan kuliner yang ada di Indonesia . Hasil pertanian setelah di panen akan mengalami kerusakan karena waktu. Kerusakan akan berjalan cepat seperti pada sayuran dan buah-buahan . Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan hasil pertanian yakni: . pertumbuhan mikroba yang menggunakan hasil pertanian sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan. Terjadinya katabolisme dan pelayuan . yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim . reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan. kerusakan fisik oleh faktor lingkungan . ondisi proses maupun penyimpana. Kontaminasi serangga, parasit dan tikus . Sayuran segar yang telah dipanen dan tidak dibeli oleh pedagang sayur atau tengkulak cepat layu sehingga mengurangi nilai jual. Sayuran segar yang melimpah pada saat musim panen menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar. Namun, pengolahan dan pengemasan sayuran yang belum optimal mengakibatkan harga sayur jatuh pada masa panen tersebut. Adapun terjadi masalah lain seperti sayuran yang rusak atau tidak segar selama proses pengangkutan. Hal ini mengakibatkan distribusi hasil pertanian masih belum optimal, terutama karena sayuran rentan terhadap kerusakan saat mengalami keterlambatan dalam pengiriman . Perkembangan teknologi yang semakin maju mendorong keinginan untuk menemukan hal praktis dalam pengembangan sumber pangan, menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup konsumtif dan variatif termasuk didalamnya pergeseran pola penyediaan bahan baku etalase pangan modern. Perubahan ini dapat menyebabkan persediaan bahan pangan ditingkat rumah tangga juga bergeser dari semula menggunakan bahan pangan segar beralih sebagian ke produk pangan beku . rozen foo. Produk pangan beku . rozen foo. merupakan olahan makanan instan beku yang tahan lama dan mudah serta praktis dalam penyajiannya. Frozen food umumnya hanya berbahan dasar daging dan ikan dan sangat sedikit atau bahkan tidak ada pangan beku berbahan dasar sayuran khususnya di Indonesia. Pada sisi lain produksi pertanian khususnya sayuran yang sudah dipanen atau yang dibeli dari pasar cenderung cepat layu disertai penurunan mutu sehingga harus segera Untuk mengatasi kerusakan sayuran harus dibuat kondisi yang dapat menghambat terjadinya kerusakan tersebut. Diantaranya melakukan pengolahan dan pengawetan dengan pengaturan suhu. Salah satu alternatif memperpanjang masa simpan sayuran adalah membuat sayuran tertentu dengan perlakuan blanching menjadi sayuran beku . rozen foo. agar lebih awet disimpan. Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan. Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit di bawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan output dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah . Dengan penggunaan Sistem Informasi Manajemen dapat mengatasi permasalahan dalam manajemen bisnis dan efisiensi proses bisnis, terutama pada bisnis frozen food ini. METODE Denzin & Lincoln . mengatakan Penelitian kualitatif pertama kali digunakan oleh para antropolog dan sosiolog sebagai metode penyelidikan pada dekade awal abad ke-20. Selama periode ini, analisis data kualitatif kurang lebih bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena sosial dalam masyarakat atau budaya lain secara objektif. Metode penelitian kualitatif biasanya mencakup wawancara dan observasi, tetapi juga dapat mencakup studi kasus, survei, dan analisis historis dan dokumen. Penelitian kualitatif adalah istilah umum yang digunakan untuk merujuk pada desain perspektif teoritis seperti penelitian naratif, fenomenologi, penelitian tindakan, studi kasus, etnografi, penelitian historis, dan analisis konten. Meskipun kualitatif deskriptif termasuk dalam penelitian kualitatif dasar, bukan berarti penelitian kualitatif deskriptif diartikan sebagai penelitian rendahan. Penelitian deskriptif adalah penelitian untuk menemukan fakta dengan Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri interpretasi yang tepat. Peneliti dapat melibatkan kombinasi data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk membuat analisis. Tabel 1 menunjukkan Data Flow Diagram. Data Flow Diagram (DFD) pertama kali diusulkan oleh Larry Constantine pengembang asli desain terstruktur pada tahun 1970-an. DFD adalah artefak utama dan harus dibuat untuk setiap sistem dalam pendekatan terstruktur. DFD memiliki struktur hirarkis, yang menyediakan tingkat abstraksi yang berbeda, berguna dalam perancangan sistem. Selain itu. DFD adalah artefak fundamental yang jelas menunjukkan struktur dari sebuah sistem. Artefak lain menggunakan informasi yang disediakan oleh DFD untuk merepresentasikan aspek dinamis dari dinamis dari sistem. Diagram aliran data adalah representasi grafis representasi grafis dari aliran data melalui sebuah sistem informasi. Ini menunjukkan aliran data dari eksternal ke dalam sistem dan menunjukkan bagaimana data berpindah dari satu proses ke proses lainnya. Diagram aliran data menggambarkan proses, penyimpanan data, dan entitas eksternal dalam bisnis atau sistem lain dan menghubungkan aliran data. Hanya ada empat simbol untuk sebuah diagram aliran data: Kotak atau Oval mewakili eksternal entitas: itu adalah seseorang atau sekelompok orang di luar kendali sistem yang sedang dimodelkan. Ini mewakili dari mana informasi informasi berasal dan ke mana informasi itu pergi. Tabel 1. DFD Notasi Entitas Proses Fungsi adalah seseorang atau sekelompok orang di luar sistem yang berperan dalam satu atau lebih interaksi dengan sistem Anda, ini mewakili tempat informasi berasal dari dan kemana perginya Ini menunjukkan semua fungsi sistem Bentuk Proses Aliran data menunjukkan arah untuk menunjukkan apakah data atau item bergerak keluar atau ke dalam suatu proses Penyimpan an data Di mana data sistem telah disimpan Lingkaran atau Bulat: mewakili proses di dalam sistem. Mereka menunjukkan bagian dari sistem yang mengubah input menjadi output. Panah: mewakili aliran data. Mereka dapat berupa data elektronik atau item fisik atau keduanya. Nama anak panah mewakili arti dari paket . ata atau ite. yang mengalir bersama. Selain itu, panah dalam diagram aliran data menunjukkan arah untuk menunjukkan apakah data atau item bergerak keluar atau masuk proses. Persegi Panjang Terbuka: mewakili penyimpanan data, termasuk toko elektronik dan toko fisik. Penyimpanan data dapat digunakan untuk mengumpulkan data dalam jangka waktu yang panjang atau pendek HASIL DAN PEMBAHASAN HIJAUBEKU adalah usaha pengolahan dan distribusi sayuran beku . rozen foo. dengan bahan baku langsung dari petani hortikultura lokal. Produk difokuskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, restoran sehat, dan katering. Sistem informasi digunakan untuk mendukung pengelolaan rantai pasok, produksi, distribusi, dan keuangan secara efisien dan real-time. Sistem informasi INPUT ditunjukkan pada Tabel 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8, sedangkan OUTPUT ditunjukkan pada Tabel 9. INPUT (Dat. USER Tabel 2. User Posisi Direktur Utama Manajer Operasional Manajer Pemasaran Manajer Keuangan Tugas Utama Pengambilan keputusan strategis, pengawasan umum Produksi, pengadaan bahan baku, gudang Branding, promosi digital, jaringan distribusi Pengelolaan arus kas, pembukuan, pelaporan Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Staf IT Sistem Informasi Quality Control Pemeliharaan sistem dan integrasi data Standar mutu produk, keamanan pangan Input Data Petani dan Bahan Baku Tabel 3. Input Bahan Baku Kolom Tipe Data Keterangan ID Petani Nama Petani Lokasi Lahan Jenis Sayuran Tanggal Panen Berat . Status Penerimaan Nomor/Auto Text Text Dropdown Date Numeric Dropdown Unik, otomatis Nama lengkap Desa/Kecamatan/Kabupaten Bayam, wortel, buncis, brokoli, dll Tanggal pengiriman ke gudang Jumlah hasil panen Diterima. Ditolak. Menunggu QC Input Data Produksi Tabel 4. Input Data Produksi Kolom Tipe Data Keterangan ID Batch Produksi Tanggal Produksi Nama Produk Jumlah Kemasan Berat Total . Operator Produksi Status Produksi Nomor/Auto Date Text Numeric Numeric Text Dropdown Kode unik per hari produksi Tanggal proses blanching dan freezing AuNama Sayuran Beku 250gAy Banyaknya output kemasan Berat hasil produksi total Nama staf produksi Selesai. Menunggu. Gagal QC Input Data Inventori/Stok Tabel 5. Input Stock Kolom Tipe Data Keterangan ID Produk Nama Produk Tanggal Masuk Stok Jumlah Stok Masuk Stok Tersisa Tanggal Kedaluwarsa Nomor/Auto Text ID unik produk beku AuNama Sayuran Frozen 500gAy Date Tanggal masuk cold storage Numeric Formula Satuan kemasan Otomatis terhitung dari penjualan keluar Maksimal 6Ae12 bulan ke depan . ergantung Date Input Penjualan dan Distribusi Tabel 6. Input Penjualan Kolom Tipe Data Keterangan ID Transaksi Tanggal Transaksi Nama Konsumen Produk yang Dipesan Total Harga Status Pengiriman Nomor/Auto Date Text Kode otomatis penjualan Hari pemesanan/pengiriman Reseller, katering, pelanggan pribadi Bayam 250g . Wortel 500g . Otomatis dari harga satuan x jumlah Dikirim. Selesai. Batal Text/List Numeric Dropdown Input Keuangan & Pengeluaran Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Tabel 7. Data Keuangan Kolom Tipe Data Keterangan Tanggal Transaksi Jenis Transaksi Kategori Deskripsi Jumlah (R. Bukti (Opsiona. Date Dropdown Dropdown Text Numeric File Upload/Link Waktu transaksi Pemasukan / Pengeluaran Gaji. Bahan Baku. Listrik. Penjualan, dll Misal: AuPembayaran bahan baku ke petani XAy Nominal pemasukan/pengeluaran Foto nota, invoice, atau transfer Input Feedback Pelanggan Tabel 8. Pelanggan Kolom Tipe Data Keterangan ID Konsumen Nama Konsumen Produk yang Dinilai Skor Kepuasan . Ae. Komentar/Pesan Nomor Text Text Numeric Text Unik dari database konsumen Opsional anonim Produk yang dibeli Rating Masukan kualitas, kemasan, pengiriman, dll Tabel 9. Output utama yaitu Produksi Produk Frozen Food sayuran Nama Produk (Kemasa. Bayam Beku Wortel Iris Beku Buncis Potong Beku Brokoli Beku Jagung Pipil Beku Kacang Polong Beku Sawi Putih Beku Daun Singkong Beku Labu Siam Potong Terong Iris Beku Kangkung Beku Kacang Panjang Potong Paprika Merah Iris Paprika Hijau Iris Jenis Pemotongan Daun utuh Iris bulat Potongan 3 cm Floret Dipipil Utuh Potongan kasar Rajang kasar Korek panjang Iris bulat Daun & batang Potong 3Ae4 cm Iris panjang Iris panjang Bentuk Produk Daun Irisan Potongan Kuntum Biji Biji Daun Potong Daun Rajang Potongan Irisan Potongan Potongan Irisan Irisan Zucchini Iris Beku Okra Potong Beku Iris bulat tipis Potong 2 cm Irisan Potongan Daun Melinjo Beku Rebung Iris Beku Utuh Iris memanjang Daun Irisan Daun Kelor Beku Kol Iris Beku Daun lepas Iris tipis Daun Irisan Berat Output data: Data penjualan Frozen Food Sayuran per produk, per tanggal, per pelanggan Total pendapatan harian/mingguan/bulanan Produk terlaris dan tren pembelian Laporan keuangan perusahaan Rating rata-rata produk Masukan pelanggan berdasarkan produk Rekap keluhan atau testimoni positif Keterangan Produksi blanching 1 menit Blanching 2 menit blanching ringan Blanching 90 detik Tanpa bonggol, blanching Blanching cepat untuk sop/tumis Untuk sayur khas daerah Cocok untuk tumisan Langsung goreng/panggang Blanch cepat,untuk tumis Tanpa ujung, blanching ringan Cocok untuk pizza/tumis Blanching ringan, warna tetap Untuk stir-fry dan grilling Blanching cepat, cocok untuk tanpa tangkai Blanching panjang untuk hilangkan bau untuk herbal food Untuk capcay, sup, dan salad Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Diagram Alir Proses Produksi Diagram alir proses produksi dapat dilihat pada Gambar 1. Diagram alir tersebut menggambarkan proses produksi frozen food sayuran yang terdiri dari empat tahapan utama, yaitu: Gudang. Produksi. Pengecekan Kualitas, dan Pemasaran. Setiap tahapan memiliki peran penting dalam menjamin kualitas dan keamanan produk akhir. Proses diawali dari penerimaan sayuran dari supplier. Sayuran kemudian disortir untuk dua keperluan: bahan baku produksi dan stok cadangan. Tujuannya untuk memastikan hanya bahan segar dan layak yang masuk ke proses produksi utama. Sayuran yang telah disortir masuk ke proses pencucian untuk menghilangkan kotoran, pestisida, atau residu tanah. Setelah bersih, dilakukan pemotongan sesuai jenis produk . isalnya iris, potong korek, atau potong dad. Sisa kulit, bonggol, dan akar dibuang pada tahap ini. Proses selanjutnya adalah blanching, yaitu perebusan sayuran dalam air panas selama 30Ae120 detik. Proses ini penting untuk menghentikan enzim perusak, membunuh mikroorganisme, dan menjaga warna Setelah blanching, dilakukan cek kualitas hasil blanching. Jika tidak sesuai . erlalu matang, tekstur rusa. , sayuran tidak dilanjutkan. Jika sesuai, dilanjutkan ke proses berikutnya. Sayuran kemudian didinginkan cepat . endinginan cepa. untuk menghentikan proses pemanasan. Setelah itu dilakukan penirisan untuk menghilangkan kelebihan air. Produk yang telah kering kemudian masuk ke proses pengemasan, menggunakan sistem vakum, label produk, dan barcode. Produk yang telah dikemas akan mengalami pembekuan cepat dengan suhu -18AC. Terakhir, produk disimpan dalam cold storage agar kualitasnya tetap terjaga hingga waktu distribusi. Produk yang telah dikemas akan melewati pengecekan akhir meliputi: Kesegaran: apakah masih dalam standar visual dan warna. Kerusakan fisik: seperti pecah, busuk, atau layu. Kualitas kemasan: apakah vakum sempurna dan label sesuai. Jika sesuai, produk langsung masuk ke tahap pemasaran. Jika tidak sesuai, dilakukan klasifikasi: Kurang segar Ie dijual ke pengolah fermentasi sayuran. Kerusakan berat Ie dibuang. Kualitas menengah Ie dapat dilakukan proses ulang. Produk yang telah lolos semua tahapan akan didistribusikan ke konsumen, baik retail, reseller, maupun marketplace online. Proses produksi dianggap selesai setelah produk diterima pasar dalam kondisi optimal. Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Gambar 1. Diagram Alir Proses Produksi Diagram Alir Proses Bisnis Perusahaan mengeluarkan output berupa Frozen Food Sayuran. Produk tersebut di distribusikan dengan langsung, online, sistem pre order, dan juga sebagai supplier horeca. Dari proses produksi, lalu pengolahan dan sampai pemasaran hasil produksi menggunakan proses manual dan mesin dalam produksinya dan sistem komputerisasi untuk database dan catatan pemasukan, pengeluaran, jumlah produksi, jumlah penyusutan, dan keuangan perusahaan. Diagram alir proses bisnis dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Diagram Alir Proses Bisnis Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Diagram Alir Proses Digital Diagram alir proses digital dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Diagram Alir Proses Digital Hasil data flow diagram level 0 Sistem Informasi Penjualan Frozen food sayuran berfungsi untuk mengelola seluruh proses bisnis, mulai dari produksi, pesanan konsumen, pembayaran, hingga pelaporan keuangan. Data flow diagram level 0 dapat dilihat pada Gambar 4. Bidang produksi Pemilik Perusahaan Data Keuangan Data Hasil Produksi Tracking Data Pembayaran Status Data Pemesanan Data Sortir Data Produk Data Data Permintaan Stock sistem informasi penjualan frozen food sayuran Data Pesanan Data Verifikasi Pesanan Bukti Transaksi Data Pembayaran Admin Gerbang Pembayaran Gambar 4. Data Flow Diagram Level 0 Ada empat entitas utama, yaitu: Produksi: Mengirim data produksi dan penyortiran ke 23embal, serta menerima informasi permintaan produk dan stok dari 23embal untuk menyesuaikan kapasitas produksi. Pemilik Usaha: Menerima data terkait produk, pesanan, pembayaran, dan laporan keuangan dari 23embal untuk mendukung pengambilan 23embali23n strategis bisnis. Pelanggan: Berinteraksi dengan 23embal untuk melakukan pesanan dan menerima informasi mengenai status pesanan, pengiriman, dan pelacakan . rack orde. Admin: Memantau dan mengelola seluruh aktivitas 23embal, termasuk input data dari bidang produksi, validasi pemesanan, verifikasi pembayaran manual, serta menghasilkan laporan operasional Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri Admin juga bertanggung jawab menjaga keamanan dan kelancaran alur informasi di dalam Gerbang Pembayaran: Menerima data pembayaran dari 24embal dan mengirimkan 24embali bukti transaksi sebagai validasi pembayaran pelanggan. Hasil data flow diagram level 1 Data flow diagram level 1 dapat dilihat pada Gambar 5. Pengelolaan Pesanan Proses Mengolah Keuangan Rekapitulasi Laporan Keuangan Pemilik Perusahaan Data Pembayaran Admin Pemrosesan Pembayaran Memasukkan Data Pembayaran Data Pesanan Data Produksi Verifikasi Pembayaran Menerima Bukti Pembayaran Konfirmasi Pesanan Dan Status Proses Pembayaran Menginput Data Stock Prosuksi Gerbang Pembayaran Permintaan Produksi Berdasakan Pesanan Manajemen Produksi Bidang Gambar 1. DFD level 1 Pada Level 1, sistem informasi dirinci menjadi lima proses utama yang merepresentasikan alur kerja fungsional dalam pengelolaan pemesanan, pembayaran, produksi, dan pelaporan keuangan. Setiap proses memiliki keterkaitan langsung dengan entitas eksternal seperti konsumen, admin, bidang produksi, pemilik perusahaan, serta gerbang pembayaran. DFD Level 1 disusun untuk memberikan gambaran lebih terstruktur mengenai bagaimana data mengalir di dalam sistem, dimulai dari pemesanan hingga pelaporan akhir kepada pemilik perusahaan. Pada Level 1, proses utama sistem meliputi: 0: Pengelolaan Pesanan, termasuk pemrosesan, verifikasi, dan konfirmasi pesanan. 0: Proses Pemesanan, yang menjadi dasar pengolahan permintaan produksi. 0: Proses Pembayaran, mencakup penerimaan bukti pembayaran dan pencatatan transaksi. 0: Manajemen Produksi, di mana bidang produksi menerima permintaan dan menginput data stok. 0: Pengolahan Keuangan, yang menghasilkan rekapitulasi pesanan dan laporan keuangan untuk pemilik KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan usaha frozen food sayuran HIJAUBEKU berbasis sistem informasi agribisnis terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi operasional dan manajerial. Sistem ini mampu mengintegrasikan seluruh proses bisnis mulai dari penerimaan bahan baku, produksi, pengendalian kualitas, pengemasan, distribusi, hingga pelaporan keuangan secara terpusat dan real-time. Penerapan Data Flow Diagram (DFD) pada sistem informasi memberikan struktur proses yang jelas dan membantu dalam pengambilan keputusan berbasis data. Model bisnis frozen food yang dikembangkan mampu mengurangi pemborosan hasil pertanian, memperpanjang umur simpan sayuran, serta menjawab kebutuhan pasar akan makanan praktis dan sehat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dalam agribisnis tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas melalui pemasaran daring dan sistem pre-order. Oleh karena itu, konsep dan sistem ini berpotensi direplikasi oleh pelaku agribisnis lainnya. Kafabihi Jurnal Reka Agroindustri DAFTAR PUSTAKA