JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA PERENCANAAN KEBUTUHAN ANGKUTAN ANTAR JEMPUT DALAM PROVINSI DI PROVISI JAWA BARAT Sopiandy. , dan K. Mahardika. Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia. Jalan Dipati Ukur No. 102-116 Bandung 40132 1, . email: anugrahputrasopiady1@gmail. , kani. mahardhika@email. ABSTRAK Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan pergerakan yang sangat padat di Indonesia, dalam hal tersebut mempengaruhi kebutuhan angkutan yang tersedia sebagai moda transportasi yang dibutuhkan oleh manusia. Provinsi Jawa barat terdapat 18 kabupaten dan dan 9 kota, dengan pola pergerakan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pengguna moda transportasi. Angkutan tidak dalam trayek merupakan angkutan yang tidak terikat dalam trayek, yang melakukan pelayanan dengan penjemputan pada lokasi yang masih dalam jalur yang dilalui oleh kendaraan Angkutan ini bekerja berdasarkan kebutuhan penumpang dengan pelayanan antar kota atau kabupaten. Keberadaan angkutan ini sangat penting, di saat masyarakat membutuhkan kendaraan dalam kapasitas besar yang tidak dapat terlayani oleh kendaraan pribadi atau kendaraan umum tetap dalam trayek. Pelayanan Angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP) ini berbasis pelayanan angkutan umum dengan rute pelayanan dari suatu titik asal ke titik tujuan point to point service. Kata Kunci : Angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP). Kapasitas. Mobilitas. Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA PENDAHULUAN oda angkutan darat merupakan salah satu moda transportasi yang tidak dapat dipungkiri sebagai moda yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat, khususnya perjalanan jarak jauh agar lebih cepat. Kebutuhan angkutan darat pun akan meningkat sesuai dengan pertumbuhan tingkat penduduk dan ekonomi. Angkutan tidak dalam trayek merupakan angkutan yang tidak terikat dalam trayek, yang melakukan pelayanan dengan penjemputan pada lokasi yang masih dalam jalur yang dilalui oleh kendaraan tersebut. Angkutan ini bekerja berdasarkan kebutuhan penumpang dengan pelayanan antar kota atau kabupaten. Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya angkutan antar jemput dalam provinsi (AJDP) sebagai bagian sistem transportasi, tidak dalam trayek merupakan suatu kebutuhan masyarakat yang berfungsi melengkapi kebutuhan bertransportasi. Keberadaan angkutan ini sangat penting, di saat masyarakat membutuhkan kendaraan dalam kapasitas besar yang tidak dapat terlayani oleh kendaraan pribadi atau kendaraan umum tetap dalam trayek. Studi yang dilakukan secara makro adalah kondisi sosial ekonomi pada saat ini dan kecenderungan yang akan datang yang meliputi potensi serta masalah yang terjadi, terutama pada sarana pendukung sebagai alat pergerakan orang atau barang. Merujuk kepada peraturan sistem perhubungan darat yang mempengaruhi terhadap tinjauan kebijakan angkutan darat diluar trayek dalam provinsi. Studi mikro yang dilakukan adalah menentukan moda transportasi yang digunakan sebagai pergerakan baik angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP) yang melayani angkutan orang di dalam provinsi. Hal-hal yang mempengaruhi seberapa lama waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan, jumlah pergerakan dalam satu hari, dan kegiatan yang mempengaruhi banyaknya pelayanan transportasi darat. Studi mikro dilakukan untuk mencapai hasil analisis detail terhadap perencanaan kebutuhan angkutan tidak dalam Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan beberapa hasil yang dildalamnya terdapat: Analisis dan evaluasi terhadap pengadaan transportasi darat tidak dalam tratek sejak tahun 2000 hingga 25 tahun yang akan datang. Kebutuhan angkutan tidak dalam trayek dan penilaian terhadap kinerja angkutan tidak dalam trayek. II. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis kualitatif, analisis deskriptif, analisis pola sebaran, dan analisis kesesuaian secara normatif. Metode yang dilakukan untuk memampilkan hasil dari analisis. Metode Kuantitatif Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan sebagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitiannya berupa angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. Berdasarkan teknik pengumpulan data penelitian kuantitatif dapat dilakukan dengan cara: Interview . digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan masalah yang Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit/kecil. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Serta merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Kuesioner juga cocok digunakan jika jumlah responden cukup besar dan terssebar diwilayah yang luas. Observasi dalam Sugiyono . mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Metode Pengumpulan Data Kualitatif Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru. Karena popularitasnya belum lama, danamakan metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni . urang terpol. , dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitiannya lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Teknik pengumpulan data kualitatif secara umum terdapat 4 macam yaitu observasi, wawancara, dokumen, dan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kebijakan RTRW Provinsi Jawa Barat, memiliki hirarki sebagai pusat kegiatan nasional provinsi, pusat kegiatan wilayah, dan pusat kegiatan lokal yang berfungsi sebagai pusat pelayanan utama di Provinsi Jawa Barat, letak wilayah Provinsi Jawa Barat berdekatan dengan Ibukota Negara Republik Indonesia yang berfungsi sebagai pusat dari keseluruhan kegiatan yang ada. Karena memiliki tingkat orde pelayanan yang beragam dalam sistem hirarki pusat pelayanan, maka Provinsi Jawa Barat cenderung dapat difungsikan sebagai pelaksana pembangunan nasional. Rencana struktur ruang wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi pusat-pusat kegiatan, sistem jaringan prasarana utama, dan sistem jaringan prasarana lainnya. Pusat-pusat kegiatan yang ada di Provinsi Jawa Barat terdiri atas PKN. PKNp. PKW. PKWp. PKL Perkotaan, dan PKL Pedesaan. Pelayanan angkutan tidak dalam trayek terdapat beberapa jenis angkutan sesuai dengan fungsi dan pemanfaatannya. Dalam peraturan menteri perhubungan no. 26 tahun 2017 tentang penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek terdapat beberapa pembagian yang menyangkut angkutan orang, salah satu angkutan yang disebutkan yaitu angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP). Angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP) Pelayanan Angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP) ini berbasis pelayanan angkutan umum dengan rute pelayanan dari suatu titik asal ke titik tujuan point to point Sehingga diharapkan, dengan layanan AJDP ini dapat memberikan pelayanan angkutan umum yang lebih efisien dan tepat waktu. Hal tersebut dapat diwujudkan, karena dalam pelayanan AJDP dilakukan antar 2 titik lokasi, tanpa pemberhentian dan turun-naik penumpang kecuali di dalam pool . ota asa. dan di dalam bandara. Tabel berikut ini menjelaskan jumlah AJDP dan penumpang AJDP di Provinsi Jawa Barat: TABEL 1 JUMLAH AJDP DAN PENUMPANG AJDP DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2017 Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA No. Kabupaten/Kota Bandung Kab. Bandung Kab. Bandung Barat Cimahi Kab. Sumedang Kab. Garut Tasikmalaya Kab. Tasikmlaya Kab. Ciamis Banjar Kab. Pangandaran Cirebon Kab. Cirebon Kab. Indramayu Kab. Majalengka Antar Jemput AJDP Pnp No. Antar Jemput AJDP Pnp Kabupaten/Kota Kab. Kuningan Kab. Purwakarta Kab. Karawang Kab. Subang Bekasi Kab. Bekasi Bogor Kab. Bogor Depok Sukabumi Kab. Sukabumi Kab. Cianjur Total Jumlah AJDP terbanyak saat ini adalah di Kota Bandung yaitu 107 unit dengan jumlah penumpang 1. Di Provinsi Jawa Barat belum hanya sebagian kabupaten kota saja yang memiliki AJDP yaitu di kabupaten kota yang relatif memiliki jumlah penduduk besar dan pola aktivitas tinggi, yaitu: Kota Bandung Kabupaten Majalengka Kabupaten Bandung Kabupaten Kuningan Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Bekasi Kabupaten Ciamis Kota Depok Kota Cirebon Standard yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel di bawah ini yang dikutip dari Proccedings of Eastern Asia Society for Transportation Studies,Vol. AyA Review Of Bus Performance In Bandar LampungAy dan dari buku Manajemen Transportasi karangan H. M Nasution,2003: TABEL 2 STANDAR PELAYANAN ANGKUTAN UMUM Parameter Waktu antara (Headwa. Waktu menunggu C Rata-rata C Faktor muatan . oad facto. Jarak perjalanan Kapasitas operasi (Availabilit. Waktu perjalanan C Rata-rata C Kecepatan perjalanan C Daerah padat Daerah jalur khusus . Daerah kurang padat Standar 1 Ae 12 menit* C 5 Ae 10 menit* C 10 Ae 20 menit* 230 Ae 260 km/kend/hari* 80 Ae 90 %* C 1 Ae 1,5 jam** 2 Ae 3 jam ** C 10 Ae 12 km/jam** 15 Ae 18 km/jam** 25 km/jam** *World Bank **Direktorat Jendral Perhubungan Darat Hasil Survey Lapangan Pengolahan data yang dilakukan dengan data primer dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak pergerakan angkutan tidak dalam trayek yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat. Pada hal tersebut dilakukan dengan mengambil sampel lapangan berupa pendataan angkutan trayek apa saja yang melakukan operasi dan kuesioner kepada Berikut hasil kuisioner yang telah dilakukan: Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Persentase Jenis Kelamin Persentase Usia Laki-laki Perempuan Gambar 1 Rasio Jenis Kelamin Pengguna AJDP >65 Gambar 2 Rasio Usia Pengguna AJDP Rasio jenis kelamin Berdasarkan diagram tersebut responden yang dilakukan oleh surveyor ditemukan bahwa mayoritas adalah jenis kelamin perempuan dengan persentase sebesat 46% dan lakilaki sebesar 54%. Hal tersebut dapat ditinjau bahwa penumpang lebih mengutamakan keselamatan dan keamanan yang diberkan oleh pelayanan angkutan yang beroperasi. Rasio Usia Usia pengguna angkutan antar jemput dalam provinsi (AJDP) cenderung pada usia 18 - 25 tahun yaitu pada usia angkatan muda dengan persentase 33% penumpang. Untuk usia meningkat yaitu 26 Ae 35 tahun dengan persentase sebesar 31% disusul oleh usia 36 Ae 45 tahun sebesar 19%. Jika diperhatikan maka usia yang menggunakan angkutan AJDP cenderung kepada usia muda. Untuk usia muda jarnag menggunakan angkutan ini hanya terdapat jumlah yang lebih kecil dari usia muda. Persentase Pendidikan Terakhir Persentase Pekerjaan SMP SMA Diploma Sarjana Magister Doktor Gambar 3 Rasio Pendidikan Terakhir Pengguna AJDP Pelajar/Mahasiswa Karyawan Wiraswasta PNS/BUMN/Polisi/TNI lainnya Gambar 4 Persentase Pekerjaan Pengguna AJDP Rasio Pendidikan Terakhir Pada jenjang pendidikan terakhir penumpang angkutan AJDP tidak terlalu mempengaruhi latar belakang tersebut. Hal tersebut dikarenakan penumpang dengan latar belakang pendidikan terakhir pada jenjang SMA lebih banyak yaitu sebanyak 41%, kemudian sarjana 28%, diploma 25%, magister 4%, dan SMP 2%. Maka hal ini tidak terlalu mempengaruhi peningkatan dan penurunan penumpang di wilayah tersebut. Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Rasio Pekerjaan Pada pengguna angkutan AJDP cenderung pada pekerjaan karyawan yang berada diluar kota atau kabupaten tempat shuttle pool travel yaaitu dengan persentase 33%, kemudian disusul oleh wiraswasta dengan pelajar/mahasiswa dengan persentase 21% dikarenakan memudahkan perlajanan untuk melakukan pendidikan dan penelitian dengan mengefesiensikan waktu. Kemudian disusul oleh pekerjaan wiraswasta dengan persentase 20%. PNS/BUMN/Polisi/TNI dengan persentase 15%, dan penumpang paling sedikit dengan jenis pekerjaan lainnya yang tidak disebutkan oleh responden. Persentase Pendapatan 2%4% Persentase Domisili Dalam Kota 4500001-6000000 6000001-6500000 >6500000 Luar Kota Gambar 5 Persentase Pendapatan Pengguna AJDP Gambar 6 Persentase Domisili Pengguna AJDP Persentase Banyaknya Penggunaan Angkutan Persentase Tujuan Perjalanan 5% 3% Gambar 7 Persentase Banyaknya Pengguna Angkutan AJDP Liburan Perjalanan Bisinis Belajar/Penelitian Lainnya Bekerja Gambar 8 Persentase Tujuan Perjalanan AJDP Rasio Pendapatan dalam satu bulan Pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana memilih angkutan kendaraan yang akan digunakan sebagai moda transportasi menunjang pergerakannya. Pada hal ini AJDP cenderung digunakan oleh penumpang dengan pendapatan antara 1. 000 Ae 000 rupiah dengan pendapatan 3. 001 Ae 4. 000 rupiah dalam satu bulan Maka pengguna AJDP cenderung dengan penumpang yang memiliki pemasukan cukup tinggi. Dibanding dengan rasio pendapatan yang lebih tinggi memang berbeda jauh, tetapi hal tersebut bukan mengartikan bahwa pendapatan > 4. 000 rupiah tidak menggunakan angkutan tersebut, hanya saja tidak sebanyak dengan pendapatan dibawah nominal tersebut. Rasio Domisili Para pengguna angkutan AJDP cenderung masyarakat yang berada dengan lokasi pemberangkatan tersebut untuk melakukan perjalanan ke luar kota atau kabupaten, dengan Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA persentase sangat tinggi yaitu 93%. Dan untuk yang berada di luar domisili dengan persetase sebesar 7%. Rasio Pengunaan Angkutan Untuk banyaknya pengguna angkutan AJDP yaitu sebanyak 1-3 kali dalam satu bulan Kemudian 4-5 kali. Hal tersebut dipengaruhi oleh tujuan pergerakan yang dilakukan oleh penumpang itu sendiri. Rasio Tujuan Perjalanan Berdasarkan banyaknya pergerakan, maka hal tersebut dipengaruhi oleh tujuan perjalanan penumpang itu sendiri. Pada hal tersebut didapatan bahwa tujuan utama menggunakan angkutan AJDP adalah untuk bekerja dengan persentase 37%,untuk liburan sebanyak 19%, lainnya 16%, dan untuk belajar/penelitian dan perjalanan bisnis dengan persentase yang sama, yaitu 14%. Persentase Lama Menuggu Persentase Membeli Tiket < 2 jam 2-4 jam > 4 jam Gambar 9 Persentase Lama Menunggu AJDP Online SMS/Tlp Loket pemesanan tiket Calo Tiket Gambar 10 Persentase Membeli Tiket AJDP Rasio Lama Menunggu Penumpang yang melakukan perjalanan menggunakan angkutan AJDP mayoritas secara keseluruhan menunggu dalam waktu singkat, yaitu beberapa menit sebelum pemberangkatan angkutan. Sangat jarang ditemukan penumpang yang menunggu lebih dari 2 jam untuk menunggu keberangkatan kendaraan tersebut. Rasio Membeli Tiket Pemesanan tiket angkutan AJDP yang dilakukan oleh penumpang yait dilakukan dengan cara yang berbeda, diantaranya via online. SMS/Tlp, datang langsung ke loket tiket, calo tiket, dan lainnya. Wilayah Jawa Barat para penumpang melakukan pemesanan tiket dengan cara pemesanan via online ke Shuttle Travel yang berada di wilayahnya dengan persentase sebanyak 49%, via SMS/Tlp sebanyak 35%, dan langsung ke loket pemesanan tiket sebanyak 16%. Maka dapat diketahui bahwa penumpang menggunakan angkutan AJDP lebih mendapatkan fasilitas pemesanan tiket yang mudah dipesan oleh masyarakat untuk mengefesiensi waktu. Perubahan Atribut Angkutan Untuk penilaian perubahan atribut terdapat beberapa hal yang menjadi titik fokus pembahasan berdasarkan persepsi pengunjung terhadap pelayanan AJDP. Pada penilaian ini diantaranya: biaya perjalanan . , waktu perjalanan . , tunggu kendaraan . , waktu/lama perjalanan . cces tim. , dan kenyamanan pelayanan . Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Value Perubahan Atribut Service 1,35 1,30 1,25 1,20 1,15 Cost Time TABEL 3 PERUBAHAN ATRIBUT ANGKUTAN Perubahan atribut Value Cost Time Headway Acces Time Service 1,31 1,23 1,25 1,26 1,33 Pada penilaian tersebut masih berada pada angka 1 menuju 2, artinya Acces Time Headway AJDP dibanding angkutan AKDP baik pada cost, time, headway, access time, dan Gambar 11 Value Perubahan Atribut Angkutan Selama pelayanan yang dilakukan oleh armada AJDP dalam keadaan baik maka terdapat kebutuhan angkutan yang akan datang semakin meningkat pelayanan dan ditambah armada pada lokasi-lokasi yang memang kekurangan angkutan. Gambar 12 Hasil Survey Lapangan Perencanaan Kebutuhan Angkutan Antar Jemput dalam Provinsi di Provisi Jawa Barat JURNAL VOL 05 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA IV. KESIMPULAN Pelayanan Angkutan Antar Jemput Dalam Provinsi (AJDP) ini berbasis pelayanan angkutan umum dengan rute pelayanan dari suatu titik asal ke titik tujuan point to point Sehingga diharapkan, dengan layanan AJDP ini dapat memberikan pelayanan angkutan umum yang lebih efisien dan tepat waktu. Jumlah AJDP terbanyak saat ini adalah di Kota Bandung yaitu 107 unit dengan jumlah penumpang 1. Berdasarkan hasil survey lapangan didapatkan surveyor ditemukan bahwa mayoritas adalah jenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 46% dan laki-laki sebesar 54%. Usia pengguna angkutan antar jemput dalam provinsi (AJDP) cenderung pada usia 18 - 25 tahun yaitu pada usia angkatan muda dengan persentase 33% penumpang. Pada pengguna angkutan AJDP cenderung pada pekerjaan karyawan yang berada diluar kota atau kabupaten, kemudian disusul oleh wiraswasta dengan pelajar/mahasiswa dengan mengefesiensikan waktu. Para pengguna angkutan AJDP cenderung masyarakat yang berada dengan lokasi pemberangkatan tersebut untuk melakukan perjalanan ke luar kota atau kabupaten. Untuk banyaknya pengguna angkutan AJDP yaitu sebanyak 1-3 kali dalam satu bulan sekali, kemudian 4-5 kali. Berdasarkan banyaknya pergerakan, tujuan utama menggunakan angkutan AJDP adalah untuk liburan, belajar/penelitian dan perjalanan bisnis. Pemesanan tiket angkutan AJDP yang dilakukan oleh penumpang via online. SMS/Tlp, datang langsung ke loket tiket, calo tiket, dan lainnya. Pada penilaian baik pada cost, time, headway, access time, dan service. Selama pelayanan yang dilakukan oleh armada AJDP dalam keadaan baik maka terdapat kebutuhan angkutan yang akan datang semakin meningkat pelayanan dan ditambah armada pada lokasi-lokasi yang memang kekurangan angkutan. DAFTAR PUSTAKA