NILAI-NILAI FILOSOFIS UPACARA HARI KEMATIAN DALAM TRADISI JAWA DITINJAU DARI PERSPEKTIF SOSIAL Satimin UIN Fatmawati Sukarno. Bengkulu Co E-mail: satimin82@gmail. Ismail UIN Fatmawati Sukarno. Bengkulu Nelly Marhayati UIN Fatmawati Sukarno. Bengkulu Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari perspektif sosial. Motode pada penelitian ini berjenis penelitian lapangan menggunakan metode kualitatif yang sifat penelitiannya deskriptif. Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi dengan menggunakan teknik populasi dan sampling. Untuk mencapai penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode filsafat seperti metode: interprestasi, heuristik dan kesinambungan historis dan analisis yang mana metode tersebut digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan sebuah objek yang berhubungan dengan penelitian serta bertujuan untuk mencari dan menemukan proses dan nilai filosofi yang ada dalam tradisi mistik budaya Jawa dalam memperingati hari kematian. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek sosial yang ada di desa Air Banai kecamatan Hulu Palik kabupaten Bengkulu Utara merupakan tradisi nenek moyang terdahulu kemudian juga berasal dari kepercayaan Animisme . uatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiw. dan Dinamisme . epercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat gha. , yang sampai saat ini masih dipercaya dan dilakukan oleh sebagian masyarakat Air Banai. Kepercayaan ini sifatnya turun- temurun dan masih dilestarikan hingga sekarang. Proses dalam tradisi memperingati hari kematian sebagian masyarakat Air Banai menyiapkan sesajen berupa: bunga tujuh rupa, minuman, kemenyan/rokok, bubur merah dan putih, kemudian disajikan dikamar orang yang meninggal. Kata Kunci: Kematian. Filosofis. Budaya Jawa Jurnal Dawuh Vol. 2 | No. 2 | Juli 2021 | Hal. PENDAHULUAN Menurut Hasan Shadily, nilai adalah sifat-sifat, hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan, nilai juga berarti tujuan dari kehendak manusia yang benar, juga berarti tingkat dan derajat yang diinginkan manusia. Nilai juga diartikan sebagai harga dimana sesuatu mempunyai nilai, karena dia mempunyai harga atau sesuatu itu maka dia mempunyai nilai. Oleh karena itu sesuatu yang sama belum tentu mempunyai harga yang sama pula karena penilaian seseorang terhadap sesuatu yang sama itu biasanya berlainan, bahkan ada yang tidak memberikan nilai terhadap sesuatu itu karena ia tidak berharga baginya tetapi mungkin bagi orang lain adalah mempunyai nilai sangat tinggi karena itulah sangat berharga baginya. Nilai bukanlah fakta yang dapat ditangkap oleh indera. Tingkah laku perbuatan manusia atas sesuatu yang mempunyai nilai itulah yang ditangkap oleh indera karena ia bukan fakta dan Nilai bukan membahas persoalan kebenaran dan kesalahan tetapi nilai mempersoalkan baik dan buruk, senang atau tidak senang terhadap tingkah laku manusia. Sebagai seorang muslim yang berpegang pada al-QurAoan dan Hadits maka harus bisa mengambil hikmah yang ada pada kedua pedoman umat Islam tersebut, agar dimudahkan dalam segala hal dan diridhoi Allah. Manusia tidak bisa lepas dari pekerjaan. Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan hanya sebagai hiasan pekerjaan saja, tetapi juga makhluk yang harus bekerja dan berusaha, dengan kemampuan yang telah Tuhan berikan kepada pribadi setiap insan. Bukan hanya sekedar bekerja untuk mengabdi kepada Allah, namun juga bertujuan untuk mempertahankan hidup agar lebih baik. Secara umum, nilai-nilai filosofis kontemporer disebut kebatinan. Kata ini berasal dari Arab AubatinAy yang berarti AudalamAy, di dalam hati, tersembunyi dan penuh rahasia. Kebatinan bisa dipandang sebagai pengembangan rasa, tampaknya ada ketidak sepahaman mengenai makna tepatnya, lokasi dan potensi batin, bahkan banyak diantara mereka yang berlatih justru lebih suka menghindari kata kebatinan. Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu kebudayaan adalah manusia itu sendiri. Sekalipun mahluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Manusia dalam mengembang amanah kebudayaan, tidak dapat melepaskan diri dari komponen-komponen kehidupan yang juga merupakan unsur-unsur pembentukan kebudayaan yang bersifat universal, seperti: bahasa, sistem teknologi harian, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian. Budaya dapat dipahami atau dimaknai sebagai suatu hasil kreasi manusia. Artinya, budaya merupakan sesuatu yang diciptakan, hasil karsa dan hasil ijtihad manusia sebagai makhluk bermasyarakat. Setiap suku bangsa memiliki nilai budaya yang khas yang membedakan dengan suku bangsa Jawa adalah kelompok etnik terbesar di Asia Tenggara. Tradisi Jawa adalah tradisi yang amat kaya dan dihimpun dari kesusasteraan yang merentang, paling kurang, selama seribu tahun mulai dari sumber-sumber kuno Sansekerta hingga kisah-kisah babad dan legendalegenda kuno. Suku Jawa yang berada di daerah pulau Jawa merupakan suku yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual dan lain Masyarakat jawa adalah makhluk yang difinisi kepribadiannya selalu bersifat sosial, disamping transendensi dari nilai-nilai yang bersifat metafisis dan mistik. Berhubungan baik dengan Allah dan berhubungan baik dengan sesama manusia itu sangat penting, dalam hal ini juga terkait tentang pelaksanaan ritual dalam memperingati hari kematian. Kematian di dalam kebudayaan apapun hampir pasti disertai acara ritual. Ada berbagai alasan mengapa kematian harus disikapi dengan acara ritual. Masyarakat Jawa memandang kematian bukan sebagai peralihan status baru bagi orang yang mati. Segala status yang Nilai-Nilai Filosofis Upacara Hari Kematian Dalam Tradisi Jawa Ditinjau Dari Perspektif Sosial Satimin. Ismail. Nelly Marhayati disandang semasa hidup ditelanjangi digantikan dengan citra kehidupan luhur. Dalam hal ini makna kematian bagi orang Jawa mengacu kepada pengertian kembali ke asal mula keberadaan . angkan paraning dumad. Kematian dalam budaya Jawa selalu dilakukan acara ritual oleh yang ditinggal mati. Setelah orang meninggal biasanya dilakukan upacara doa, sesaji, selamatan, pembagian waris, pelunasan hutang dan sebagainya. Jika kita telusuri secara mendalam berdasarkan literatur perkembangan kebudayaan manusia, tradisi dalam upacara kematian ini ternyata merupakan tradisi yang timbul dari kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Dari latar belakang sejarah timbulnya tradisi-tradisi yang ada dalam upacara kematian seperti ini baik yang berasal dari kepercayaan Animisme. Dinamisme, agama Hindu dan Budha, oleh orang Islam tradisional yang masih ketat dengan keyakinan untuk mempertahankan budaya leluhurnya tradisi ini masih dipertahankan padahal di balik pelaksanaannya terkadang keyakinan dan kepercayaan yang sangat kuat terhadap nilai nilai filosofis yang terkandung dala ritual tersebut. Mereka meminta perlindungan dan jaminan keselamatan kepada para arwah dan makhluk halus, para jin, roh-roh yang mereka yakini akan murka jika tidak diberikan jatah berupa sesajen persembahan mereka. Telah kita ketahui bersama bahwa acara selamatan atau lebih dikenal dengan acara tahlilan merupakan upacara ritual . yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memperingati hari kematian. Secara bersama - sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al QurAoan, dzikir - dzikir, dan disertai doa - doa tertentu untuk dikirimkan kepada simayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang - ulang . atusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kal. , maka acara tersebut dikenal dengan istilah AuTahlilanAy. Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan . erkadang dilakukan sebelum penguburan mayi. , kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan tersendiri dengan keunikannya masingmasing yang masih tetap dipertahankan secara turun temurun walaupun zaman terus menerus berkembang dari masa ke masa. Hal ini dikarenakan kebudayaan tercipta dari masyarakat itu Dalam sudut pandang Islam sesungguhnya Allah swt adalah dzat yang menciptakan manusia yang memberikan kehidupan dengan dilahirkannya ke dunia, kemudian menjemputnya dengan kematian untuk mengahadap kembali kepada-Nya. Itulah garis yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluk-Nya, tidak ada yang dilahirkan ke dunia ini lantas hidup untuk selamanya. Roda dunia ini terus berputar dan silih berganti kehidupan dan kematian di muka bumi ini, hukum ini berlaku bagi siapapun tidak membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya, rakyat atau pejabat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor . ebagaimana yang dikutip oleh Moleon. , metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sementara itu. Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Jurnal Dawuh Vol. 2 | No. 2 | Juli 2021 | Hal. Penulis menggunakan metode kualitatif sebab . lebih mudah mengadakan penyesuaian dengan kenyataan yang berdimensi ganda, . lebih mudah menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan subyek penelitian, . memiliki kepekaan dan daya penyesuaian diri dengan banyak pengaruh yang timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam hidup dan kehidupan manusia selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan kehidupan, baik dalam kehidupan keluarga ataupun dalam masyarakat. Masing Aemasing semuanya menuntut penyelesaian yang baik, namun adakalanya problem yang harus diselesaikan berhubungan dengan masalah tradisi, masyarakat dan lain sebagainya. Kadangkala problem itu sulit untuk dipecahkan sehingga dengan berbagai cara dicari penyelesaiannya yang terkadang tidak masuk akal dan membawa kemudharatan asal tercapai pada tujuan yang diinginkan. Manusia berusaha mencari kebenaran melalui mistik, karena mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada, pasti ada yang menciptakan dan ada pula yang menjaga. Oleh karena itu, manusia mempercayai dengan hal- hal yang ghaib untuk membuat hidupnya bahagia, sejahtera dan damai. Menurut Mursal Esten, tradisi adalah kebiasaan-kebiasan turun- menurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Tradisi memperlihatkan bagaimana masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat ghaib atau Menurut ahli Hadits dan Ulama Salafi tradisi adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang dengan disengaja dan bukan terjadi secara kebetulan. Menurut Mbah Parni tradisi adalah suatu kebiasaan atau kepercayaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun- temurun. Tradisi merupakan suatu kepercayaan atau kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia secara terus menerus atau turun-temurun, tradisi merupakan warisan nenek moyang yang harus dijaga kelestariannya baik yang bersifat materi dan non materi seperti bahasa atau dialek, upacara adat dan norma. Di dalam tradisi manusia diajarkan bagaimana hubungan manusia dengan pencipta-Nya, bagaiamana cara sosialisasi dengan manusia yang lain atau satu kelompok manusia dengan kelompok yang lain, bagaimana peran manusia dalam menjaga lingkungan dan bagaimana prilaku manusia terhadap alam yang lain. Sesajen merupakan suatu perlengkapan yang digunakan sebagai sarana untuk hubungan antara manusia dengan para leluhur. Setiap kegiatan upacara tradisional dan selamatan biasanya melibatkan simbol-simbol atau lambang yang merupakan satu kesatuan. Pada umumnya sesajen-sesajen tersebut merupakan satu rangkaian perangkat atau lambang yang bisa berupa benda-benda atau materi dan bagian-bagian atau situasi tertentu dalam keseluruhan upacara. Simbol-simbol dalam upacara yang diselenggarakan berperan sebagai media untuk menunjukkan secara tidak langsung maksud dan tujuan upacara yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Air Banai. Dalam simbol- simbol tersebut terdapat petunjuk pesan dari leluhur bagi generasi berikutnya. Pesan dari makna simbol tersebut dapat dilihat dari rangkaian acara dan sesaji yang digunakan. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan,tradisi sesajen dilaksanakan sebelum tahlilan dan kenduren. Maka terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum melakukan ritual sesajen dalam memperingati hari kematian adalah sebagai berikut: Nampan sebagai tempat sesajen diletakkan Kembang tujuh rupa Minyak wangi Minuman . opi pahit, teh manis, air putih, susu putih dan susu cokla. Kinangan atau rokok Nilai-Nilai Filosofis Upacara Hari Kematian Dalam Tradisi Jawa Ditinjau Dari Perspektif Sosial Satimin. Ismail. Nelly Marhayati Bubur merah dan bubur putih. Setelah semuanya terkumpul, langkah selanjutnya adalah meletakkan sesajen di dalam kamar orang yang telah meninggal dan dibacakan doa oleh keluarga, dimaksudkan untuk dipersembahkan kepada nenek moyang dan roh orang yang meninggal, tujuannya agar roh nenek moyang dan roh orang yang meninggal dapat menikmati sesajen yang telah disediakan dan agar keluarga terhindar dari hal-hal buruk. Dari semua uraian di atas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa adanya sesajen yang disuguhkan pada nenek moyang merupakan satu Ae kesatuan yang utuh tidak boleh kurang satupun karena bisa berdampak buruk pada masyarakat dan keluarga yang ditinggalkannya. Setelah melaksanakan ritual sesajen kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tahlilan . elamatan kematia. , menurut bapak Jumaldi diawali oleh pihak keluarga yang meninggal dengan mengundang tetangga dan sanak keluarganya secara lisan untuk menghadiri acara itu yang akan diselenggarakan di rumah duka. Acara tahlilan baru dimulai apabila para undangan sudah banyak yang datang dan dianggap cukup. Yang perlu untuk diketahui adalah bahwa kadang-kadang orang yang tidak diundangpun turut menghadiri acara tahlilan, sebagai ekspresi penyampaian rasa ikut berduka. Acara tahlilan, sebagaimana acara-acara lain, dimulai dengan pembukaan dan diakhiri dengan pembagian makanan kepada para hadirin. Kaitannya dengan masalah makanan dalam acara tersebut, kadang-kadang pihak keluarga si mayat ada yang menyajikannya sampai dua kali, yaitu untuk disantap bersama di rumah tempat mereka berkumpul dan untuk dibawa pulang ke rumah masing- masing, yang disebut dengan istilah AuberkatAy . erasal dari bahasa Ara. Proses berjalannya acara yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, kalau bukan seorang ulama atau ustad yang sengaja disiapkan oleh tuan rumah. Dalam acara selamatan kematian masyarakat Jawa pada umumnya melakukan pembacaan tahlil dan Al- QurAoan serta pembacaan doAoa-doAoa bersama yang khusus ditujukan pada orang yang meninggal sesuai dengan hari waktu dan meninggal. Tidak hanya itu, karena ritual tahlilan ini juga diisi dengan tawasul-tawasul kepada Nabi, sahabat dan para wali serta juga keluarganya yang telah meninggal. Biasanya ritual yang dilakukan dimulai dengan pembacaan surat Yasin, pembacaan tahlil dan ditutup dengan pembacaan doAoa. Umumnya bacaan yang dibaca oleh mereka secara bersama- sama meliputi antara lain: Surat Yasin: dari ayat 1 sampai ayat 83 Tahlil di dalamnya mengandung bacaan: Surat al- Fatihah, sebanyak 5 kali Surat al- Ikhlas, sebanyak 3 kali Surat al-Falaq, sebanyak 3 kali Surat an- Nas, sebanyak 3 kali Surat al- Baqarah dari ayat 1 sampai ayat 5 Surat al-Baqarah ayat 163 Surat al-Baqarah ayat 255 . yat kurs. Surat al-Baqarah dari ayat 284 sampai ayat 286 Surat Hud ayat 73 Surat al-Ahzab ayat 33 Surat Ali Imran ayat 173 Surat al-Anfal ayat 40 Tahlil Istighfar Shalawat Nabi Takbir Tahmid Bacaan DoAoa terdiri atas: DoAoa tahlil DoAoa khusus bagi si mayat Jurnal Dawuh Vol. 2 | No. 2 | Juli 2021 | Hal. Dari uraian di atas merupakan satu kesatuan yang tidak bisa ditinggalkan ketika melakasanakan tahlilan dalam acara memperingati hari kematian. Karena telah dipandu oleh ustad Jumaldi dengan menggunakan pedoman buku tahlil yang biasa digunakan oleh masyarakat desa Air Banai dan bacaannya diikuti oleh seluruh jamaah yang hadir. Setelah melaksanakan acara tahlilan kemudian dilanjutkan dengan jamuan makanan dan memberikan berkat. Dalam setiap acara tahlilan, tuan rumah memberikan makanan dan berkat kepada orang-orang yang menghadiri tahlilan. Selain sebagai sedekah yang pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia, motivasi tuan rumah sebagai penghormatan kepada para tamu yang turut mendoakan keluarga yang meninggal dunia. Upacara tradisional merupakan salah satu bentuk tradisi masyarakat Indonesia yang sampai saat ini masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya. Peran upacara kenduri ialah untuk selalu mengingatkan manusia berkenaan dengan eksistensi dan hubungan dengan lingkungan masyarakat. Masyarakat Jawa melaksanakan kenduri dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan, masyarakat Jawa yang telah modern masih tetap melaksanakan kenduri, karena telah terpaku dihati orang Jawa bahwa kenduri merupakan ritual wajib dalam Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti diantaranya oleh Fadillah, dkk . bahwa pesan dakwah sosial pada tradisi kenduri kematian di Kampung Baru disampaikan melalui tiga cara. Pertama, melalui simbol makanan pesan yang disampaikan terkait dengan pesan untuk selalu mendoakan sesama manusia, alam, seluruh ciptaan Allah Swt. merendahkan diri, banyak bersalawat, mencintai tanah air, berbakti kepada kedua orangtua, dan selalu mengingat kematian. Kedua, melalui penyampaian verbal terkait dengan pesan agar manusia bertutur kata yang baik dan sopan. Ketiga, melalui nonverbal terkait dengan pesan agar manusia berbudi luhur, menjalankan syariat Islam, seperti berpakaian, tingkah laku dan tindakan . Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh dhewi . bahwa nilai budaya yang terkandung dalam mantra kenduri kematian ada 3, antara lain : nilai kepribadian, nilai religiusitas, dan nilai sosial. Fungsi mantra kenduri kematian terdiri atas komunikasi dengan Tuhan dan penghubung dalam sesaji. Hasil ini juga diperkuat dengan penelitian fauzi . menunjukkan hasil bahwa akulturasi budaya lokal dengan budaya islam penyelenggaraan kenduri kematianyang dilakukan oleh warga Pondok Beringin, terjadinya pembauran antara budaya lokal dengan budaya Islam dalam kehidupan sosialnya. Mereka bekerja sama dalam pelaksanaan penyelenggaraan kenduri kematian ini. Hasil penelitian oleh Damayanti. memperkuat aspek sosial yaitu dengan tradisi brobosan menunjukkan bahwa Prosesi dalam tradisi upacara kematian adat Jawa ada beberapa ragkaian yang harus dilakukan dari mulai perawatan jenazah, perlengkapan yang digunakan dalam upacara kematian adat Jawa, prosesi sebelum pemberangkatan jenazah ke pemakaman dan prosesi setelah penguburan jenazah. Prosesi Brobosan dilakukan oleh anak cucunya orang telah meninggal, dimulai dari anak tertua sampai dengan cucu-cucunya dengan cara merunduk dibawah keranda jenazah dan mengelilinya sebanyak 3 kali atau 7 kali searah jarum jam. Makna Eksplisit (Tersura. dari Tradisi Brobosan sebagai penghormatan terakhir dari keluarga yang masih hidup kepada jenazah yang dilakukan sebelum pemberangkatan jenazah ke Makna Implisit (Tersira. dari Tradisi Brobosan bahwa semua kebaikan yang ada di dalam diri jenazah semasa hidup akan menurun ke anak cucunya kelak jika melakukan tradisi Brobosan tersebut, dari mulai kepandaiannya, kejayaannya dan segala hal baik yang dilakukan jenazah semasa hidupnya. Ungkapan lain diterangkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh zulkarnain . mengungkapkan bahwa upacara kematian merupakan ritual yang telah dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa sebagai wujud dan penghormatan kepada para arwah, juga sebagai wujud bantuan dan keluarga yang hidup agar arwah tenang dan dapat diterima Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan terhadap ruh yang masih berada disekitar rumah dan akan datang kerumah pada bulan dan hari-hari tertentu melahirkan upacara seperti nelung dino, mitung dino, matang puluh dino, nyatus, pendhak siji, pendhak loco, nyewu dan nyadran. Penghormatan terhadap jenazah juga dilakukan sebelum jenazah Nilai-Nilai Filosofis Upacara Hari Kematian Dalam Tradisi Jawa Ditinjau Dari Perspektif Sosial Satimin. Ismail. Nelly Marhayati diberangkatkan kepemakaman yang melahirkan upacara seperti: brobosan, pecah piring, menyapu jalan dan ngesur tanah. Upacara kematian dapat bertahan ditengah-tengah masyarakat Jawa tidak terlepas dari faktor pemahaman keagamaan yang dianut sebagian besar masyarakat Jaw yaitu paham kaum tua. Keyakinan bahwa doa dan pahala yang disampaikan oleh orang yang masih hidup kepada yang sudah meninggal akan sampai kepada si mayit membuat tradisi upacara kematian tetap bertahan, meskipun dengan berbagai macam Paham kaum tua membuka din terhadap norma adat sehingga dalam pelaksanaan upacara sunatan, mengayunlcan dan perkawinan selalu diiringi tepung tawar. Meski demikian, tradisi upacara kematian sedikit banyak telah mengalami perubahan seiring dengan tingginya tingkat pemahaman agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat jawa dikelurahan Berohol. Ada beberapa ritual yang tidak selalu dilakukan lagi seperti pecah piring, membakar kemenyan dan memberikan sesajen. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek sosial yang ada di desa Air Banai kecamatan Hulu Palik kabupaten Bengkulu Utara merupakan tradisi nenek moyang terdahulu kemudian juga berasal dari kepercayaan Animisme . uatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiw. dan Dinamisme . epercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat gha. , yang sampai saat ini masih dipercaya dan dilakukan oleh sebagian masyarakat Air Banai. Kepercayaan ini sifatnya turuntemurun dan masih dilestarikan hingga sekarang. Proses dalam tradisi memperingati hari kematian sebagian masyarakat Air Banai menyiapkan sesajen berupa: bunga tujuh rupa, minuman, kemenyan/rokok, bubur merah dan putih, kemudian disajikan dikamar orang yang DAFTAR PUSTAKA