JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. PENGUJIAN MUTU FISIK FORMULASI SEDIAAN SABUN PADAT BERBAHAN SUSU KEDELAI Ni Made Sukma Sanjiwani a,*. Ni Nyoman Yudianti Mendra b. Agus Sudharmayasac a,b,c Universitas Mahasaraswati Denpasar *Pos-el: sukmasanjiwani93@gmail. Tanggal Diterima: 28-12-2023 Tanggal revisi: 28-3-2024 Tanggal Terbit: 31-03-2024 Abstrak. Sabun merupakan produk yang terbentuk melalui reaksi antara asam lemak dan basa kuat, yang memiliki fungsi sebagai pembersih kotoran. Sabun mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang dapat menyebabkan iritasi bagi pengguna dengan tipe kulit Penggunaan bahan alami sangat dipertimbangkan untuk meminimalisir efek samping dari penggunaan sintetis. Kedelai merupakan salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan karena mengandung senyawa antioksidan yang bermanfaat menangkal radikal bebas pada kulit. Susu kedelai juga mengandung senyawa saponin, bahan alami yang digunakan sebagai bahan pembusa sabun yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu fisik pada formulasi sediaan sabun padat susu kedelai. Pada penelitian ini dibuat empat formula sabun dengan variasi konsentrasi susu kedelai 11, 15, dan 19%. Parameter uji mutu fisik yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, dan uji ketinggian busa. Data penelitian dianalisis dengan SPSS versi 25 dengan uji Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh sabun padat susu kedelai dengan mutu fisik yang baik meliputi organoleptis, homogenitas, dan tinggi busa. Namun nilai pH sabun padat susu kedelai tidak sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan untuk produk sabun. Kata kunci: sabun padat, susu kedelai, mutu fisik PENDAHULUAN Kulit yang berminyak dan berkeringat dikarenakan iklim tropis yang terdapat di negara Indonesia, iklim ini juga menyebabkan kita mudah sekali terkena debu dan asap (Agung et al. , 2. Masalah kulit yang umum terjadi di Indonesia yaitu kulit kering, ketika kulit mengalami kekeringan dapat menyebabkan penurunan kemampuan pertahanan tubuh terhadap infeksi dan efek radikal bebas sehingga mempercepat penuaan dini (Afandi et al. Sabun adalah salah satu produk yang sangat penting serta diperlukan pada kehidupan sehari-hari. Sabun yang baik tidak hanya membersihkan kulit dari kotoran, tetapi juga melindungi kulit contohnya melindungi kulit dari efek radikal bebas (Agustini & Winarni. Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Reaksi pembuatan sabun adalah reaksi saponifikasi yaitu reaksi hidrolisis asam lemak atau minyak oleh basa kuat (NaOH) yang menghasilkan sabun dan gliserol merupakan produk samping (Sukeksi et al. , 2. Saponifikasi adalah proses yang bertujuan untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak untuk direaksikan dengan basa sehingga terbentuk sabun (Murtadho & Suryandari, 2. Sabun mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang dapat menyebabkan iritasi bagi pengguna dengan tipe kulit sensitif. Penggunaan bahan alami sangat dipertimbangkan untuk meminimalisir efek samping dari penggunaan sintetis (Sulastri & Rizikiyan, 2. Salah satu contoh bahan alami yaitu kedelai yang memiliki beberapa manfaat dalam menjaga kesehatan kulit seperti mencegah penuaan dini, melindungi kerusakan kulit dari sinar ultraviolet, serta mencegah terbentuknya jerawat (Asnani et al. , 2. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk mengambil manfaat dari susu kedelai untuk diformulasikan ke dalam sediaan sabun sehingga mudah digunakan. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan formulasi sabun susu kedelai dan uji mutu fisik Adapun hipotesis dari penelitian ini yaitu diduga susu kedelai yang diformulasikan menjadi sabun padat memiliki mutu fisik sesuai dengan SNI No 3532-2016 dan diduga terdapat perbedaan mutu fisik sabun padat yang ditambahkan susu kedelai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah susu kedelai yang diformulasikan menjadi sabun padat memiliki mutu fisik sesuai dengan SNI No 3532-2016 dan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mutu fisik sabun padat yang ditambahkan susu kedelai dengan konsentrasi METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium yang bersifat developmental . yakni dengan menambahkan susu kedelai ke dalam formulasi sediaan sabun padat. Penelitian eksperimental merupakan kegiatan suatu percobaan yang memiliki tujuan untuk mengetahui suatu gejala yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran seperti uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, dan uji ketinggian busa. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kedelai yang dibeli di area rumah. NaOH, minyak zaitun, minyak sawit dan aquadest. Alat Penelitian Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital, gelas ukur, beaker gelas, mortir, stemper, thermometer, pipet tetes, cetakan sabun, sendok stainless steel, batang pengaduk, pH meter, penggaris, kaca objek, serbet dan kertas saring. Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Pembuatan Sediaan Sabun Padat Metode Cold Process Alat dan bahan disiapkan, kemudian semua bahan ditimbang. Dilanjutkan dengan membuat larutan alkali dengan cara dimasukkan 18 g NaOH ke dalam 46, 41 dan 36 mL aquadest untuk FI. FII dan Fi diaduk sampai larut secara pelan-pelan, lalu dinginkan sampai suhu 45oC. Kemudian campur semua minyak yang sudah ditimbang ke dalam mortir lalu digerus sampai homogen. Ditambahkan larutan NaOH ke dalam campuran minyak, kemudian digerus hingga tercampur merata, susu kedelai ditambahkan ke dalam mortir, kemudian gerus kembali sampai tercampur hingga membentuk adonan yang mengental. Setelah mengental adonan sabun dituang ke dalam cetakan yang telah disiapkan, kemudian permukaan cetakan ditutup dengan aluminium foil agar tidak terkena udara luar dimaksudkan untuk menghindari timbulnya kerak putih. Sabun dibungkus menggunakan kain, lalu diamkan pada suhu ruang yang tidak terkena angin secara langsung. Proses saponifikasi dibiarkan selama 24 jam sampai proses sempurna, setelah 24 jam sabun dikeluarkan dari cetakan lalu diamkan di tempat kering pada suhu 15-25oC selama 2-4 minggu, bertujuan untuk menghilangkan air dan pembentukan gliserin alami. Lalu dilakukan uji mutu fisik sabun padat susu kedelai. Uji Organoleptis Uji organoleptis dilakukan untuk mengamati bau, bentuk dan warna pada sediaan sabun Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan cara meletakkan sedikit sampel sabun pada sekeping kaca, sediaan yang diuji harus tidak terlihat adanya butiran kasar. Uji pH Uji pH dilakukan dengan menimbang sabun padat 1 g. Kemudian direndam sabun dalam 50 mL aquadest, kemudian mencuci pH meter dengan aquadest sebagai fungsi pH meter dimasukkan ke dalam larutan sabun dan pH yang terbaca dicatat. Diamati pH aquadest sebelum dan sesudah direndam sabun padat, apabila pH sabun berada pada rentang 9-11 maka sabun memenuhi standar pH sabun. Pengujian pH bertujuan untuk mengetahui sediaan sabun padat yang dibuat sesuai dengan standar pH yaitu 9-11. Uji Tinggi Busa Uji tinggi busa dilakukan dengan melihat daya busa yang dihasilkan sabun padat yang baik yaitu 1,3-22 cm. Uji tinggi busa dilakukan dengan cara ditimbang 2 gram sabun padat kemudian dimasukkan ke tabung reaksi yang berisi 10 mL aquades, dihomogenkan selama 1 Busa yang terbentuk diukur tingginya menggunakan penggaris. Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan SPSS. Data yang dihasilkan di uji dengan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas dengan ketentuan nilai p > 0. Dilanjutkan dengan Uji Kruskal-Wallis untuk membandingkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Jika hasil Uji Kruskal-Wallis < 0. 05 maka dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitnay dengan nilai p > 0. idak terdapat perbedaan yang signifika. dan nilai p < 0. erdapat perbedaan yang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Organoleptis Pengamatan sediaan sabun dilakukan dengan cara mengamati tekstur, warna dan bau Tabel 1. Hasil Uji Organoleptis Formula Parameter Uji Hasil Pengamatan Tekstur Padat Formula 0 Warna Putih Bau Tanpa aroma Tekstur Padat Formula I Warna Putih Bau Aroma khas kedelai Tekstur Padat Formula II Warna Putih Bau Aroma khas kedelai Tekstur Padat Formula i Warna Putih Bau Aroma khas kedelai kuat Hasil uji organoleptis pada Tabel 1 di atas, dapat dilihat sediaan sabun padat susu kedelai pada formula 0. II dan i memiliki tekstur, warna dan bau yang sama. Hasil tersebut menunjukkan bahwa F0. FI. FII dan Fi memiliki warna yang sama, karena pada dasarnya Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. susu kedelai berwarna putih jadi tidak mempengaruhi warna pada sabun. Pembuatan sabun dengan penambahan susu kedelai tersebut dapat memberikan aroma khas kedelai pada sabun yang dihasilkan. Hasil Uji Homogenitas Pengamatan sediaan sabun dilakukan untuk melihat homogenitas sediaan dengan cara mengoleskan pada kaca preparat. Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Hasil Pengamatan Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Formula 0 Homogen Homogen Homogen Formula I Homogen Homogen Homogen Formula II Homogen Homogen Homogen Formula i Homogen Homogen Homogen Hasil uji homogenitas pada tabel 2 di atas, dapat dilihat sediaan sabun padat susu kedelai pada formula 0. II dan i pada keempat replikasi pengujian terlihat homogen yaitu ditandai dengan warna yang merata dan tidak adanya partikel-partikel kasar atau gumpalan di atas kaca objek. Perbedaan dalam penambahan jumlah susu kedelai pada formula tidak memiliki pengaruh terhadap hasil uji homogenitas pada sediaan sabun padat susu kedelai. Formula Hasil Uji pH Pengamatan sediaan sabun dilakukan untuk melihat tingkat keasaman agar sediaan tidak mengiritasi kulit. Standar pH sediaan sabun padat adalah 9-11. Tabel 3. Hasil Uji pH Formula Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Rata-rata A SD Formula 0 A 0. Hasil Pengamatan Formula I Formula II A 0. A 0. Formula i A 0. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata nilai pH pada formula 0 adalah 12,38 pada formula 1 adalah 12,35 pada formula 2 adalah 12,35 dan pada formula 3 adalah 12,33 dari hasil tersebut perbedaan dalam penambahan jumlah susu kedelai pada formula tidak terlalu mempengaruhi nilai pH pada sediaan sabun padat susu kedelai. Nilai pH 12 menunjukkan Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. bahwa sabun susu kedelai tersebut bersifat basa, karena nilai pH yang dihasilkan lebih besar dari 7 yang menunjukan nilai pH normal. Nilai pH sabun dipengaruhi oleh kandungan alkali yang terdapat di dalamnya. Semakin tinggi jumlah alkali yang terdapat dalam sabun, semakin tinggi pula nilai pH sabun tersebut (Salatin. Sukmaningsih, dan Evadewi, 2. Semakin besar konsentrasi NaOH maka semakin besar pH. Formulasi sabun yang baik dan mendekati standar adalah sediaan sabun yang menggunakan konsentrasi NaOH 30% (Fatimah et al. Tabel 4. Hasil Uji Kruskal-Wallis Formula Formula 0 Formula I Formula II Formula i Kruskal-Wallis Test Sig. Berdasarkan hasil uji Kruskall-Wallis, diketahui uji pH pada keempat formula tidak terdapat perbedaan signifikan . -value 0,. yang memperlihatkan variasi konsentrasi susu kedelai tidak menyebabkan perubahan pH pada sediaan sabun. Hasil Uji Tinggi Busa Pengamatan sediaan sabun dilakukan untuk melihat ketinggian busa sesuai persyaratan tinggi busa sabun yaitu 1,3-22 cm. Tabel 5. Hasil Uji Tinggi Busa Formula Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Rata-rata A SD Formula 0 5 cm 9 cm 5 cm 6 cm A 0. Hasil Uji Formula I Formula II 6 cm 2 cm 7 cm 4 cm 6 cm 4 cm 7 cm 3 cm A 0. A 0. Formula i 7 cm 8 cm 8 cm 8 cm A 0. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penambahan jumlah susu kedelai memiliki pengaruh terhadap tinggi busa yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan susu kedelai mengandung senyawa saponin. struktur senyawa saponin menyebabkan saponin bersifat seperti sabun, sehingga saponin sering disebut sebagai surfaktan alami. Penggunaan Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume 13 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2024 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 59672/emasains. saponin alami sebagai bahan pembusa sabun memiliki manfaat untuk lingkungan, karena saponin merupakan bahan alami yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan kimia sintetis yang sering digunakan dalam pembuatan sabun (Chairunnisa et al. , 2. Tabel 6. Hasil Uji Mann Whitney Mann Whitney Test Sig. Formula Formula 0 dan Formula I Formula 0 dan Formula II Formula 0 dan Formula i Formula I dan Formula II Formula I dan Formula i Formula II dan Formula i Berdasarkan hasil uji Mann Whitney pada tabel 6 di atas, dapat dilihat bahwa formula yang memperlihatkan adanya perbedaan pada formula 0 dan formula II, formula 0 dan formula i, formula I dan formula II serta pada formula II dan formula i dengan hasil nilai significancy . < 0,05. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa susu kedelai yang diformulasikan menjadi sabun padat memiliki mutu fisik yang baik, dibuktikan melalui uji homogenitas dan uji tinggi busa pada keempat formula sesuai dengan SNI No 3532-2016, namun nilai pH sabun padat susu kedelai belum sesuai dengan SNI No 35322016 yaitu pH 9-11 dikarenakan nilai pH dari keempat formula mendapatkan hasil pH 12. Tidak terdapat perbedaan signifikan mutu fisik sabun padat yang ditambahkan susu kedelai dengan konsentrasi 0, 11, 15 dan 19% khususnya pada pH. Sedangkan untuk tinggi busa terdapat perbedaan signifikan antara formula pada konsentrasi 0% dengan 15%, konsentrasi 0% dengan 19%, konsentrasi 11% dengan 15% serta pada konsentrasi 15% dengan 19%. UCAPAN TERIMAKASIH