Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalam meningkatkan Neuronal Plasticity Pasien Stroke dengan Diabetes Militus: Literatur Review Task-Oriented Training and Virtual Reality in Improving Neuronal Plasticityin Stroke Patients with Diabetes Mellitus: A Literature Review Citra Dewi Loh Budi Pratiwi1, *Umi Budi Rahayu2. Rivan Danuaji 3 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia1,2 Bagian Neurologi RSUD Dr Moewardi Surakarta. Indonesia3 *Email Korespondensi : ubr155@ums. Diterima : 23 Okt 2025 Ditinjau: 21 Nov 2025 Disetujui: 5 Mar 2026 Publikasi Online: 22 Apr 2026 ABSTRAK Stroke pada pasien Diabetes Melitus (DM) sering menimbulkan gangguan fungsi motorik yang lebih berat akibat penurunan kapasitas neuronal plasticity. Hiperglikemia kronis menghambat proses neuroregenerasi dan memperlambat pemulihan neurologis. Pendekatan fisioterapi modern seperti Task-Oriented Training (TOT) dan Virtual Reality (VR) terbukti mampu meningkatkan reorganisasi neuronal melalui stimulasi sensorimotor berulang. Literatur review ini bertujuan menganalisis pengaruh fisioterapi Task-Oriented Training dan Virtual Reality terhadap neuronal plasticity pada pasien stroke dengan DM berdasarkan bukti ilmiah terkini periode tahun 2020Ae2025. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed. ScienceDirect. SpringerLink, dan Garuda (SINTA) menggunakan kata kunci Task-Oriented Training. Virtual Reality. Neuronal Plasticity. Stroke, dan Diabetes Mellitus. Artikel yang diinklusi adalah penelitian eksperimental, quasi-eksperimental, dan randomized controlled trial (RCT) yang menilai efek TOT dan VR terhadap fungsi motorik dan biomarker neuroplastisitas. Sepuluh artikel memenuhi kriteria inklusi. TOT meningkatkan aktivasi korteks motorik melalui latihan berbasis tugas yang berulang, sedangkan VR menstimulasi area premotor dan cerebellum melalui umpan balik visual-interaktif. Kombinasi keduanya meningkatkan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), aktivasi kortikal pada fMRI, serta skor Fugl-Meyer Assessment. Fisioterapi berbasis Task-Oriented Training dan Virtual Reality berpengaruh positif terhadap peningkatan neuronal plasticity pada pasien stroke dengan Diabetes Melitus, sehingga keduanya dapat dijadikan pendekatan rehabilitasi efektif dan berbasis bukti. Kata Kunci: Task-Oriented Training. Virtual Reality. Neuronal Plasticity. Stroke. Diabetes Melitus ABSTRACT Stroke in patients with Diabetes Mellitus (DM) often results in more severe motor dysfunction due to decreased neuronal plasticity. Chronic hyperglycemia impairs neuroregeneration and delays neurological recovery. Modern physiotherapy approaches such as Task-Oriented Training (TOT) and Virtual Reality (VR) have been shown to enhance neuronal reorganization through repetitive sensorimotor stimulation. This literature review aims to analyze the effects of physiotherapy-based Task-Oriented Training and Virtual Reality on neuronal plasticity in stroke patients with Diabetes Mellitus based on the latest evidence from 2020Ae2025. Articles were searched from PubMed. ScienceDirect. SpringerLink, and Garuda (SINTA) using the keywords Task-Oriented Training. Virtual Reality. Neuronal Plasticity. Stroke, and Diabetes Mellitus. Included studies were experimental, quasi-experimental, and randomized controlled trials (RCT. assessing the effects of TOT and VR on motor function and neuroplasticity Ten studies met the inclusion criteria. TOT enhanced motor cortex activation through repetitive, goaldirected functional training, while VR stimulated premotor and cerebellar regions via interactive visual feedback. The combination of TOT and VR increased Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) levels, cortical activation on fMRI, and improved Fugl-Meyer Assessment scores. Physiotherapy using Task-Oriented Training and Virtual Reality positively influences neuronal plasticity in stroke patients with Diabetes Mellitus, making both approaches effective and evidence-based rehabilitation strategies for functional recovery. Keywords: Task-Oriented Training. Virtual Reality. Neuronal Plasticity. Stroke. Diabetes Mellitus PENDAHULUAN Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan global yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang di dunia. Diperkirakan sekitar 15 juta orang di dunia mengalami stroke setiap tahunnya, dan lebih dari 5 juta di antaranya meninggal, sementara 5 juta lainnya mengalami kecacatan permanen yang memerlukan perawatan jangka panjang . Di Indonesia, prevalensi stroke berdasarkan Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalamA | Citra Dewi Loh Budi Pratiwi dkk 160 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 mencapai 10,9 per 1. 000 penduduk, dan angka ini terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup serta meningkatnya faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes mellitus . Stroke menyebabkan gangguan fungsi motorik, sensorik, dan kognitif akibat kerusakan jaringan Salah satu proses penting yang memengaruhi pemulihan pasca stroke adalah neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk melakukan reorganisasi dan membentuk koneksi saraf baru sebagai respons terhadap cedera atau pembelajaran motorik baru . Neuronal plasticity memungkinkan area otak yang tidak rusak untuk mengambil alih fungsi yang terganggu melalui mekanisme seperti synaptogenesis, axonal sprouting, dan peningkatan ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) . Namun, pada pasien stroke dengan komorbid Diabetes Mellitus (DM), proses neuroplastisitas sering kali terganggu. Kondisi hiperglikemia kronis pada DM menyebabkan stres oksidatif, disfungsi endotel, dan peradangan sistemik yang berpengaruh pada vaskularisasi otak dan metabolisme neuron . Hal ini menghambat proses neurogenesis serta memperburuk kerusakan neuron di area iskemik . Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa DM dapat mengganggu integritas jaringan saraf dan menghambat pembentukan sinaps baru pasca stroke . Secara klinis, pasien stroke dengan DM memiliki pemulihan motorik yang lebih lambat dan tingkat kecacatan lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa DM . Dalam konteks rehabilitasi fisioterapi. Task-Oriented Training (TOT) telah menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan fungsi motorik dan menstimulasi plasticity saraf. TOT berfokus pada latihan aktivitas fungsional yang relevan dengan kehidupan sehari-hari pasien, seperti menjangkau objek, berjalan, atau berpindah posisi, yang dilakukan secara repetitif dan intensif . Pendekatan ini memanfaatkan prinsip motor learning dan experience-dependent plasticity, di mana latihan berbasis tugas dapat memperkuat koneksi saraf baru melalui pengulangan gerakan yang bermakna . Studi neurofisiologis menunjukkan bahwa TOT dapat meningkatkan aktivitas di area motor primer (M. , premotor, dan cerebellum pada pasien stroke kronis . Selain TOT, perkembangan teknologi rehabilitasi memperkenalkan penggunaan Virtual Reality (VR) sebagai media latihan inovatif. VR menyediakan lingkungan imersif yang interaktif, memfasilitasi latihan sensorimotor secara intensif, serta memberikan real-time feedback terhadap performa gerakan . Intervensi VR telah terbukti mampu meningkatkan cortical excitability, memperluas area aktivasi kortikal motorik, dan meningkatkan kadar BDNF sebagai indikator plasticity saraf . Penggunaan VR juga meningkatkan motivasi dan keterlibatan pasien, yang berdampak pada peningkatan kepatuhan terapi serta hasil fungsional . Namun, meskipun TOT dan VR masing-masing menunjukkan efek positif terhadap plasticity dan pemulihan fungsi motorik, penelitian mengenai kombinasi kedua metode ini pada pasien stroke dengan Diabetes Mellitus masih sangat terbatas. Diabetes diketahui dapat menurunkan respons adaptif otak terhadap latihan rehabilitatif, sehingga pendekatan yang mampu meningkatkan stimulasi multisensorik dan task-specific seperti kombinasi TOT dan VR berpotensi menjadi strategi rehabilitasi yang lebih efektif . Dengan demikian, penting untuk mengkaji secara mendalam pengaruh Task-Oriented Training dan Virtual Reality terhadap neuronal plasticity pada pasien stroke dengan Diabetes Mellitus. Kajian literatur ini diharapkan memberikan pemahaman komprehensif tentang mekanisme fisiologis, efek klinis, serta peluang pengembangan intervensi fisioterapi berbasis teknologi yang mendukung pemulihan fungsional METODE PENELITIAN Strategi pencarian artikel-artikel yang relevan awalnya diidentifikasi menggunakan database ilmiah PubMed. Scopus, dan ScienceDirect, dengan menggunakan kata kunci: AuTask-Oriented TrainingAy. AuVirtual RealityAy. AuNeuronal PlasticityAy. AuStrokeAy, dan AuDiabetes MellitusAy beserta kombinasinya menggunakan operator logika (AND. OR). Untuk mengoptimalkan jumlah dan kualitas artikel yang dipilih pada tema Task-Oriented Training and Virtual Reality in Stroke with Diabetes Mellitus, pencarian tambahan juga dilakukan menggunakan kombinasi dua hingga tiga kata kunci seperti: AuTask-oriented Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalamA | Citra Dewi Loh Budi Pratiwi dkk 161 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 trainingAy AND AustrokeAy. AuVirtual RealityAy OR AuneuroplasticityAy, dan AuDiabetes MellitusAy OR Aumotor recoveryAy. Artikel yang dipertimbangkan harus memenuhi sejumlah kriteria agar dapat dimasukkan dalam tinjauan ini. Hanya artikel penelitian dengan desain AuRandomized Controlled Trial (RCT)Ay. Auclinical trialAy. Ausystematic reviewAy, atau Auliterature reviewAy yang melibatkan manusia yang dipertimbangkan untuk Selain itu, studi juga dianggap memenuhi syarat apabila diterbitkan dalam bahasa Inggris atau Indonesia dan memiliki akses teks penuh . ull text availabl. Artikel yang memenuhi kriteria kelayakan kemudian dikumpulkan dan duplikat dihapus. Seleksi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: Identifikasi awal melalui pencarian di database, penyaringan berdasarkan judul dan abstrak untuk memastikan bahwa studi meneliti efek Task-Oriented Training dan/atau Virtual Reality pada pasien stroke, khususnya yang memiliki komorbiditas Diabetes Mellitus, dan Evaluasi kelayakan penuh, dengan membaca keseluruhan teks untuk memastikan kesesuaian fokus penelitian pada topik neuronal plasticity dan motor recovery. Setelah proses seleksi, artikel yang relevan dimasukkan dalam tabel sintesis data. Artikel yang terpilih kemudian ditinjau untuk menilai intervensi yang digunakan, durasi terapi, metode pengukuran plasticity, serta hasil utama yang berkaitan dengan fungsi motorik, konektivitas saraf, kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF), dan aktivitas kortikal. Proses seleksi literatur disusun menggunakan prinsip PRISMA Flow Diagram untuk memastikan transparansi dan sistematika dalam pemilihan artikel. Figure 1. Flowchart for literature search on Physiotherapy using Task-Oriented Training and Virtual Reality positively influences neuronal plasticity in stroke patients with Diabetes Mellitus HASIL Proses pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed. Scopus, dan ScienceDirect,. Dari total 218 artikel yang ditemukan, sebanyak 56 artikel duplikat dihapus, dan 162 artikel disaring berdasarkan judul dan abstrak. Sebanyak 43 artikel dibaca secara penuh . ull-text revie. dan 30 artikel dinilai Setelah penilaian mendalam, diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dijadikan dasar analisis dalam literatur review ini. Proses seleksi artikel divisualisasikan melalui PRISMA Flow Diagram . ihat figure . Artikel yang terpilih meliputi penelitian dengan desain Randomized Controlled Trial (RCT), clinical study, serta systematic review yang mengevaluasi pengaruh Task-Oriented Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalamA | Citra Dewi Loh Budi Pratiwi dkk 162 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 Training (TOT). Virtual Reality (VR), dan kombinasinya terhadap neuronal plasticity dan fungsi motorik pada pasien stroke, termasuk beberapa studi dengan komorbiditas Diabetes Mellitus (DM). Table 1. Review artikel Author (Yea. Liu et al. Design RCT Population / Intervention Sample 40 stroke Taskpatients Oriented Training Outcome Measurement fMRI. BDNF Hao et al. Systematic Review 12 studies Virtual Reality Neuroimaging . MRI. EEG) Lang et al. RCT 32 stroke TMS. FuglMeyer Assessment Srikanth et , 2020 Prospective Stroke TaskOriented Motor Training Conventional Pan et al. Experimental 24 rats . troke DM mode. Motor Histology. Nishimura et al. , 2020 fMRI study 25 stroke Task-Specific Training Laver et , 2020 Cochrane Review 33 RCTs Lin et al. Pilot Study 20 stroke Winstein et , 2019 Review 15 clinical TaskOriented Exercise ADL Index, cortical maps Sweetnam et al. , 2016 Observational Stroke Standard DTI imaging BDNF serum, motor function Brain Virtual Functional Reality Independence Rehabilitation Measure (FIM) TOT VR . BBS. FMA, fNIRS Main Findings Kombinasi TOT dan VR dibandingkan TOT saja. VR meningkatkan plasticity peningkatan kadar BDNF. TOT meningkatkan cortical excitability dan fungsi motorik ekstremitas atas. Diabetes menurunkan kadar BDNF dan memperlambat pemulihan plasticity saraf. menghambat pembentukan sinaps baru. Aktivasi meningkat di M1 dan cerebellum setelah TOT VR meningkatkan upper limb function dan motor relearning pasca stroke. Kombinasi TOT & VR meningkatkan oksigenasi keseimbangan lebih besar dibanding TOT tunggal. TOT efektif memperkuat melalui latihan berbasis tugas fungsional. DM mengganggu integritas PEMBAHASAN Pemulihan fungsional pasca stroke bergantung pada kapasitas neuronal plasticity, yaitu kemampuan otak untuk melakukan reorganisasi struktural dan fungsional setelah cedera . Plasticity mencakup mekanisme synaptic remodeling, dendritic branching, serta rekrutmen area otak yang tidak rusak untuk mengambil alih fungsi yang hilang . Stimulasi melalui latihan fisioterapi berperan sebagai pemicu Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalamA | Citra Dewi Loh Budi Pratiwi dkk 163 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 utama experience-dependent plasticity, di mana aktivitas berulang dan bermakna menimbulkan long-term potentiation (LTP) sebagai penguatan sinaps jangka panjang . Namun pada pasien stroke dengan DM, proses ini sering terhambat akibat gangguan metabolik dan vaskular . Hiperglikemia kronis dan inflamasi sistemik menurunkan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), mengganggu mikrosirkulasi otak, dan menurunkan efisiensi transmisi saraf . Oleh sebab itu, pendekatan fisioterapi yang mampu menstimulasi otak secara berulang dan multisensorik seperti TaskOriented Training (TOT) dan Virtual Reality (VR) menjadi sangat penting. TOT berakar pada teori motor learning dan prinsip Hebbian plasticity. Prinsip utama TOT adalah latihan berbasis aktivitas fungsional yang relevan dengan kehidupan pasien, misalnya latihan meraih objek, berjalan, atau berpindah posisi . Latihan ini menstimulasi area motorik dan sensorik secara simultan, memperkuat jalur corticospinal tract dan meningkatkan cortical excitability . TOT juga mampu memperluas representasi area kortikal di hemisfer yang rusak melalui mekanisme kompensasi interhemisfer . Selain itu. TOT menormalkan kembali feedback loop sensorimotor melalui peningkatan propriosepsi dan integrasi sensorik. Dalam konteks pasien dengan DM, gangguan konduksi saraf perifer akibat neuropati diabetik sering memperlambat umpan balik sensorik. TOT membantu memperbaiki komunikasi sensorimotor dengan menstimulasi jalur aferen secara terstruktur. Studi menunjukkan bahwa TOT intensif meningkatkan functional reorganization dan memperbaiki performa aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) . VR menawarkan lingkungan interaktif yang memungkinkan pasien berlatih dalam dunia simulasi menyerupai aktivitas nyata . VR menimbulkan aktivasi korteks motorik, visual, dan cerebellum secara bersamaan melalui real-time feedback . Stimulasi visual dan auditif meningkatkan sensorimotor integration dan mempercepat reorganisasi otak. VR juga meningkatkan motivasi, fokus, dan keterlibatan pasien dalam rehabilitasi . Kombinasi TOT dan VR memberikan efek sinergis melalui aktivasi dua jalur utama plasticity: mekanisme top-down melalui latihan bermakna dan mekanisme bottom-up melalui stimulasi sensorik . Kombinasi ini meningkatkan oksigenasi kortikal, memperluas area aktivasi otak (M1. SMA, cerebellu. , serta meningkatkan interhemispheric connectivity . Pada pasien dengan DM, pendekatan ini membantu mengatasi hambatan plasticity akibat hiperglikemia dengan memaksimalkan stimulasi sensorimotor dan memperkuat kompensasi hemisfer sehat . Secara klinis, hasil literatur ini memperkuat bahwa fisioterapi berbasis Task-Oriented Training dengan dukungan Virtual Reality dapat menjadi strategi efektif dalam rehabilitasi pasien stroke dengan DM. TOT dapat dilakukan di klinik maupun rumah dengan bimbingan fisioterapis, sedangkan VR menyediakan lingkungan latihan yang aman, menarik, dan adaptif. Pendekatan ini mendukung prinsip experience-dependent neuroplasticity, motor learning, dan enriched environment dalam neurorehabilitasi modern . Dengan demikian. TOT dan VR tidak hanya bersifat terapeutik, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran adaptif otak yang berkelanjutan. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan kesimpulan dari hasil sepuluh artikel penelitian yang dianalisis, dapat disimpulkan bahwa kombinasi Task-Oriented Training (TOT) dan Virtual Reality (VR) memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan neuronal plasticity dan fungsi motorik pada pasien stroke dengan Diabetes Mellitus (DM) selanjutnya Task-Oriented Training (TOT) terbukti mampu menstimulasi experience-dependent neuroplasticity melalui latihan berbasis aktivitas fungsional yang dilakukan secara berulang dan bermakna. TOT meningkatkan eksitabilitas kortikal, reorganisasi sinaptik, serta fungsi motorik ekstremitas atas dan bawah. Virtual Reality (VR) berkontribusi dalam memperkuat multisensory stimulation dan motor relearning melalui umpan balik visual, auditori, dan kinestetik. VR meningkatkan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dan memperluas area aktivasi kortikal yang berperan dalam pemulihan saraf. Kombinasi TOT dan VR memberikan efek sinergis yang lebih besar dibandingkan intervensi tunggal. Pendekatan ini mampu memperkuat functional connectivity, menyeimbangkan aktivitas interhemisfer, serta meningkatkan kecepatan adaptasi motorik bahkan pada pasien dengan gangguan metabolik akibat DM, dan Pada pasien stroke dengan DM, kombinasi terapi ini dapat mengatasi hambatan plasticity yang disebabkan oleh hiperglikemia dan disfungsi vaskular dengan meningkatkan suplai oksigen kortikal serta merangsang sekresi faktor neurotropik yang menunjang regenerasi saraf. Task-Oriented Training dan Virtual Reality dalamA | Citra Dewi Loh Budi Pratiwi dkk 164 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 2 Juli 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 166 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/650 Secara keseluruhan, kombinasi Task-Oriented Training dan Virtual Reality merupakan strategi rehabilitasi fisioterapi yang efektif, inovatif, dan berbasis bukti . vidence-based practic. untuk meningkatkan neuronal plasticity dan pemulihan motorik pasien stroke, termasuk yang memiliki komorbiditas Diabetes Mellitus. Saran dalam kombinasi fisioterapi Task-Oriented Training dan Virtual Reality Reality terhadap neuronal plasticity pada pasien stroke dengan Diabetes Mellitus Untuk Praktik Klinik: o Fisioterapis diharapkan mengintegrasi TOT dan VR dalam program rehabilitasi pasien stroke, terutama yang disertai DM, guna meningkatkan efisiensi latihan dan motivasi pasien. o Penggunaan perangkat VR low-cost seperti mobile-based VR atau motion tracking system (Kinect. Leap Motio. dapat diterapkan di klinik maupun di rumah. o Latihan berbasis tugas fungsional perlu disesuaikan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari pasien agar hasil rehabilitasi lebih bermakna dan berkelanjutan. Untuk Penelitian Selanjutnya: o Diperlukan penelitian eksperimental acak terkontrol (RCT) dengan ukuran sampel besar untuk mengkonfirmasi efek kombinasi TOT dan VR terhadap neuronal plasticity. o Disarankan penggunaan alat ukur objektif seperti functional MRI . MRI). EEG, fNIRS, serta pengukuran biomarker biologis seperti BDNF serum. o Perlu dikembangkan prototipe Virtual Reality berbasis budaya lokal Indonesia yang mencerminkan aktivitas fungsional masyarakat setempat. o Analisis jangka panjang (>3 bula. direkomendasikan untuk melihat keberlanjutan efek plasticity dan perbaikan kualitas hidup pasien stroke dengan DM. Untuk Pengembangan Pendidikan dan Kebijakan: o Institusi pendidikan fisioterapi perlu memperluas kurikulum mengenai neuroplasticity-based rehabilitation dan penggunaan teknologi VR. o Pemerintah dan lembaga kesehatan disarankan mendukung penelitian serta penyediaan perangkat VR rehabilitatif di pusat-pusat layanan fisioterapi komunitas. DAFTAR PUSTAKA