Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo dalam Perspektif Pendidikan di Desa Menawan Kudus The Tradition of Buka Luwur at the Mangkubumi Joyo Kusumo Sacred Site from an Educational Perspective in Menawan Village Kudus Rudi Setyawan1 . Nusrotus SaAoidah2 1,2, Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara rdystywnn@gmail. Article history: Submitted: 28 Maret 2026 Accepted: 28 April 2026 Published: 12 Mei 2026 Abstrak: Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI) di Desa Menawan. Kudus. Tradisi ini merupakan warisan budaya lokal yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh leluhur sekaligus pelestarian situs bersejarah yang di dalamnya terdapat Candi Lingga dan Yoni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Buka Luwur memiliki makna sosial, budaya, dan religius. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus media mempererat solidaritas masyarakat melalui kegiatan doa bersama, tahlil, pengajian, dan gotong royong. Keberadaan Lingga dan Yoni dipahami masyarakat sebagai simbol sejarah dan budaya, bukan sebagai objek pemujaan. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, tradisi ini mengandung nilai aqidah, ibadah, akhlak, ukhuwah Islamiyah, dan moderasi beragama. Tradisi Buka Luwur juga berperan sebagai media internalisasi nilai-nilai Islam kepada generasi muda melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Kata Kunci: Tradisi Buka Luwur. Lingga Yoni. Pendidikan Agama Islam. Kearifan Lokal Abstract: The tradition of Buka Luwur at the Punden Mangkubumi Joyo Kusumo is examined from the perspective of Islamic Religious Education (PAI) in Menawan Village. Kudus. This tradition is a form of local cultural heritage conducted annually as a way of honoring ancestral figures while preserving a historical site containing the Lingga and Yoni temple relics. This study employed a qualitative approach using realist ethnography. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation involving religious leaders, traditional leaders, village officials, and local community members. The findings reveal that the Buka Luwur tradition contains social, cultural, and religious meanings. The tradition serves as a form of respect toward ancestors and also functions as a medium for strengthening social solidarity through collective prayers, tahlil. Islamic sermons, and mutual cooperation. The Lingga and Yoni are understood by the community as historical and cultural symbols rather than objects of worship. From the perspective of Islamic Religious Education, this tradition embodies the values of aqidah . , worship, morality. Islamic brotherhood . khuwah Islamiya. , and religious moderation. Furthermore, the Buka Luwur tradition plays an important role in internalizing Islamic values among the younger generation through their direct involvement in social and religious community Keywords: Buka Luwur Tradition. Lingga Yoni. Islamic Religious Education. Local Wisdom. P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2026 author. Published by FAB UIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: 10. 22515/isnad. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 PENDAHULUAN Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo merupakan warisan budaya yang masih dilesatarikan di Desa Menawan. Kecamatan Gebok. Kabupaten Kudus, yang dilakukan setiap satu tahun sekali sebagai bentuk kehormatan kepada tokoh spiritual Mangkubumi Joyokusumo. 1 Ritual ini dilakukan dengan pembukaan kain penutup (Luwu. pada punden atau situs suci yang dianggap sebagai makam tokoh tersebut yang mencerminkan perpaduan antara budaya jawa dengan unsur agama islam yang telah diakulturasikan secara turun menurun. Salah satu punden yang menjadi pusat ritualnya adalah candi lingga yoni dari tradisi Hindu-Budha. Candi Lingga dan Yoni yang terdapat dalam Punden Mangkubumi Joyo Kusumo secara filosofis merepresentasikan dualitas dan kesatuan, yang dalam konteks budaya Jawa sering dikaitkan dengan konsep kesuburan dan Candi Lingga dan Yoni merupakan simbol budaya yang telah lama dikenal dalam masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang masih memegang teguh nilai-nilai 3 Simbol ini secara historis melambangkan kesuburan, keseimbangan alam, dan harmoni antara laki-laki dan perempuan. 4 Di Desa Menawan. Kudus. Candi ini masih dijaga dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Namun, keberadaan simbol Lingga dan Yoni dalam perspektif Islam perlu dikaji ulang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau praktik yang bertentangan dengan ajaran agama dan tetap masih bisa dilestarikan oleh masyarakat 5 Hal ini menuntut adanya pendekatan pendidikan yang mampu menjembatani nilai-nilai budaya dan agama secara harmonis. Punden Mangkubumi Joyo Kusumo di Desa Menawan. Kudus, tidak hanya memiliki nilai budaya lokal, tetapi juga merepresentasikan jejak historis proses islamisasi masyarakat Jawa. Keberadaan Lingga dan Yoni sebagai peninggalan Hindu-Buddha menunjukkan bahwa wilayah AuMuludan Dan Buka Luwur: Tradisi Di Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Desa Menawan,Ay Pemerintah Desa Menawan, 2024, https://desa-menawan. id/artikel/2024/9/21/muludan-dan-buka-luwur-tradisi-dipunden-mangkubumi-joyo-kusumo-desa-menawan. Jhota Bangkit Andaka. AuKajian Terhadap Lingga-Yoni Berbentuk Unik di Jawa (Yoni Bundar Temanggung. Yoni Liyangan. Yoni Gambar, dan Lingga-Yoni Candi Suku. Sebagai Pembelajaran Sejarah,Ay Winaya: Jurnal Pendidikan Vol. No. : hlm. Untung Suhardi. AuEksistensi Lingga Sebagai Media Pemujaan Hindu di Desa Linggoasri. Kecamatan Kaje. Kabupaten Pekalongan-Jawa Tengah (Sebuah Tinjauan Perspektif Sejara. ,Ay Widya Aksara Jurnal Agama Hindu Vol. No. : hlm. 40Ae49, https://doi. org/https://doi. org/10. 54714/widyaaksara. Sunoto. AuLingga Yoni Jejak Peradaban Masyarakat (Jawa. Bal. dari Perspektif Positivistik,Ay Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa. Sastra. Seni dan Pengajarannya Vol. No. : hlm. 155Ae69, https://doi. org/10. 17977/um015v45i22017p155. Nur Kholis. AuMitoni dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam,Ay Islamida. Journal Islam Studies Vol. No. : hlm. 118Ae29. Muhammad Noor Falah. Jamali, and Iwan. AuInterkoneksi Agama . Budaya dan Peradaban dalam Pendidikan Islam : Perspektif Filosofis untuk Menghadapi Tantangan Global,Ay IJAR: Indonesia Journal of Action Research Vol. No. : hlm. 67, https://doi. org/https://doi. org/10. 14421/ijar. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah Menawan pernah berada dalam pengaruh peradaban pra-Islam yang berkembang di Nusantara. Namun, seiring masuknya Islam ke tanah Jawa, masyarakat tidak serta-merta menghilangkan simbol budaya lama, melainkan melakukan proses akulturasi dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi yang telah ada. Dalam sejarah peradaban Islam di Jawa, pendekatan dakwah yang dilakukan para ulama dan Walisongo lebih menekankan pada pendekatan persuasif dan adaptif terhadap budaya lokal masyarakat jawa. 7 Tradisi lokal dipertahankan sebagai media sosial dan budaya, sedangkan unsur ritualnya diarahkan agar sesuai dengan ajaran tauhid. Hal tersebut terlihat dalam Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo yang saat ini diisi dengan doa bersama, tahlil, pengajian, dan silaturahmi masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini menjadi bukti historis adanya proses islamisasi budaya secara damai dan adaptif. Secara historis, keberadaan punden juga mencerminkan pola masyarakat Jawa dalam menjaga memori kolektif terhadap tokoh yang dianggap berjasa bagi desa. Dalam perspektif sejarah peradaban Islam, penghormatan terhadap leluhur dipahami bukan sebagai bentuk pemujaan, tetapi sebagai penghargaan terhadap jasa dan sejarah masyarakat terdahulu. 8 Oleh karena itu. Punden Mangkubumi Joyo Kusumo dapat dipandang sebagai bagian dari warisan sejarah lokal yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Muslim Jawa membangun harmoni antara identitas keislaman dan tradisi budaya Nusantara. Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat terhadap tradisi lokal agar selaras dengan nilai-nilai Islam. 9 Dalam pendidikan agama islam. Integrasi nilai budaya lokal harus dilakukan secara bijaksana agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. 10 Oleh karena itu, kajian mengenai tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyokusumo dalam perspektif Pendidikan Agama Islam menjadi relevan untuk memahami bagaimana masyarakat Desa Menawan mengelola warisan budaya ini. Desa Menawan sebagai lokasi penelitian memiliki karakteristik masyarakat yang kuat dalam menjaga tradisi sekaligus menjalankan ajaran Islam secara konsisten, selain itu juga Achmad Wildan Khoerun Nahar et al. AuKonsep Kultural Dakwah Walisongo Memperkuat Moderasi Beragama,Ay Mu'asharah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol. No. : hlm. 85Ae92, https://doi. org/10. 18592/msr. Ahmad Rizqo. AuAnalysis of the Tradition of Visiting Buyut Suta Jaya in Pekandangan Village. Indramayu District. Indramayu Regency,Ay DIPLOMASI Jurnal Demokrasi. Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. : hlm. 157Ae64, https://doi. org/https://doi. org/10. 58355/dpl. Raisul Umam and Andi Musthafa Husain. AuPengintegrasian Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Kritikalitas dan Alternatif Solusi Berdasarkan Literatur,Ay Jurnal Islam Ulil Albab Vol. No. 1Ae12, https://doi. org/https://doi. org/10. 20885/abhats. Hamdan Adib. AuPotret Integrasi Islam dan Budaya Nusantara di Era Walisongo,Ay Risalah. Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam Vol. No. 239Ae51, https://doi. org/https://doi. org/10. 31943/jurnal_risalah. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 masyarakatnya masih sangat menjunjung tradisi seperti berdoAoa di prasasti lingga dan yoni. 11 Oleh karena itu, pentingnya peran tokoh agama dan pendidik dalam mengarahkan pemahaman masyarakatnya, agar tradisi Lingga dan Yoni tidak disalahartikan dan tetap sesuai dengan nilainilai Islam. Hal ini sangat penting, karena dapat menghindari konflik nilai yang mungkin muncul akibat perbedaan interpretasi. Kajian tentang tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyokusumo juga membuka ruang diskusi mengenai bagaimana simbol-simbol budaya dapat diinterpretasikan ulang agar sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan agama. Salah satu langkah startegis dalam menjaga relevansi budaya lokal dalam kehidupan umat islam yaitu dengan melakukan reinterpretasi Lebih jauh, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi peran tokoh agama, pendidik, dan masyarakat dalam proses internalisasi tradisi Buka Luwur Mangkubumi Joyokusumo. Harman Susandi menunjukkan bahwa kolaborasi antara tokoh agama dan masyarakat sangat menentukan keberhasilan pendidikan agama yang kontekstual dan berbudaya. 14 Selain aspek pendidikan formal, pendidikan non-formal dan informal juga berperan dalam membentuk pemahaman masyarakat terhadap tradisi ini. Hal ini menunjukkan akan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan keluarga dan komunitas dalam proses pendidikan agama agar nilai-nilai budaya dan agama dapat berjalan beriringan. 15 Dalam praktiknya, terdapat dinamika sosial yang mempengaruhi bagaimana tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyokusumo ini dipertahankan atau diubah. Rusydi Sulaiman mengungkapkan bahwa masyarakat sering melakukan adaptasi simbolik untuk menyesuaikan tradisi dengan norma agama yang berlaku, sehingga tradisi tersebut tetap hidup namun tidak bertentangan dengan Islam. Nur Aini Setyaningtyas and Noor Alwiyah. AuPeran Tokoh Agama dalam Menanamkan Nilai Pendidikan Islam pada Karyawan Sritex di Perum Sri Sejahtera Kenep Sukoharjo,Ay JURNAL HURRIAH: Jurnal Evaluasi Pendidikan Dan Penelitian Vol. No. : hlm. 59Ae70, https://doi. org/10. 56806/jh. Diaz Atya Larsen Wijaya and Wendi Parwanto. AuPeran Dan Pemikiran Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama dalam Melestarikan Harmonisasi Keagamaan di Kalimantan Barat,Ay Studia Sosia Religia Vol. No. 4Ae6, https://doi. org/https://doi. org/10. 51900/ssr. Zulfi Ida Syarifah. Fajar Syarif, and Saif Uddin Ahmed Khondoker. AuCulturally-Based Islamic Religious Education : Controversies. Changes, and Trends Toward Achieving the SDGs in the Modern Era,Ay Profetika Jurnal Studi Islam Vol. No. : hlm. 229Ae44, https://doi. org/https://doi. org/10. 23917/profetika. Harman Susandi et al. AuIntegrasi Tradisi Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas,Ay Jurnal Penelitian Dan Inovasi Pendidikan Vol. No. 1Ae14. Masrizal. AuPendekatan Holistik Dalam Pendidikan Agama Islam di Era Digital,Ay Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Keislaman Vol. No. : hlm. 34Ae50, http://dx. org/10. 30821/hijri. Rusydi Sulaiman et al. AuThe Symbol of Acculturation and Islamic Unity in Nganggung Tradition of Bangka: An Integration of MaqAid Asy-SyarAoah with Local Wisdom,Ay Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Vol. No. : hlm. 356Ae83, https://doi. org/10. 19105/al-lhkam. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah Secara keseluruhan, penelitian ini mengangkat pentingnya pemahaman kritis terhadap tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyokusumo dalam perspektif Pendidikan Agama Islam di Desa Menawan. Kudus. Melalui pendekatan yang holistik dan kontekstual, diharapkan dapat ditemukan keseimbangan antara pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai keagamaan yang mendasari kehidupan masyarakat. Penelitian mengenai tradisi budaya Jawa dan kaitannya dengan Pendidikan Agama Islam telah banyak dilakukan, terutama pada aspek akulturasi budaya Islam dengan tradisi lokal Namun, penelitian terdahulu umumnya hanya berfokus pada aspek historis, antropologis, dan simbolik dari Lingga dan Yoni sebagai peninggalan budaya Hindu-Buddha, serta kajian tradisi Buka Luwur dalam dimensi sosial budaya masyarakat Jawa. Kajian yang secara khusus membahas Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo dalam perspektif Pendidikan Agama Islam masih sangat terbatas, khususnya terkait proses internalisasi nilai aqidah, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan masyarakat Muslim Desa Menawan. Kudus. Selain itu, penelitian sebelumnya belum banyak mengkaji bagaimana keberadaan prasasti Lingga dan Yoni di tengah masyarakat Muslim dapat direinterpretasikan sebagai bagian dari warisan budaya yang tetap selaras dengan nilai-nilai Islam. Padahal. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo menunjukkan adanya proses islamisasi budaya yang berlangsung secara persuasif dan adaptif melalui kegiatan doa bersama, tahlil, pengajian, dan silaturahmi Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan kajian mengenai hubungan antara pelestarian budaya lokal dengan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana tradisi Buka Luwur Mangkubumi Joyokusumo dipahami, diinterpretasikan, dan diajarkan dalam Pendidikan Agama Islam di Desa Menawan, serta bagaimana pendekatan pendidikan dapat mengakomodasi keberagaman budaya tanpa mengorbankan prinsip-prinsip agama. METODE PENELITIAN Kajian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami fenomena sosial dan budaya secara mendalam berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan. 17 Desain penelitian yang digunakan adalah etnografi realis, yaitu pendekatan yang berfokus pada penggambaran kehidupan sosial masyarakat secara objektif berdasarkan fakta empiris . 18 Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan mengkaji tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo sebagai budaya lokal yang mengandung nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI). Fokus penelitian terletak pada Abdul Fattah Nasution. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Harfa Creative, 2. , hlm. Endah Marendah Ratnaningtyas et al. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2. , hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 pelaksanaan tradisi, makna yang dipahami masyarakat, serta nilai keagamaan yang tercermin dalam setiap rangkaian kegiatan. Penelitian dilaksanakan di Desa Menawan. Kecamatan Gebog. Kabupaten Kudus, dengan lokasi utama di Punden Mangkubumi Joyo Kusumo sebagai pusat pelaksanaan tradisi Buka Luwur. Lokasi tersebut dipilih karena tradisi masih dilaksanakan secara rutin dan tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat. Penelitian lapangan dilakukan pada tanggal 4Ae7 Maret 2026 bertepatan dengan pelaksanaan tradisi sehingga peneliti dapat memperoleh data secara langsung dalam situasi yang alami. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan Observasi partisipatif dilakukan dengan mengikuti secara langsung rangkaian kegiatan tradisi untuk memahami aktivitas masyarakat serta nilai-nilai keagamaan yang muncul dalam pelaksanaannya. Wawancara mendalam dilakukan kepada kepala desa, tokoh adat, dan masyarakat yang terlibat aktif dalam tradisi Buka Luwur. Pemilihan informan didasarkan pada tingkat keterlibatan dan pemahaman mereka terhadap tradisi yang diteliti. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan foto kegiatan, catatan lapangan, dan dokumen pendukung lainnya sebagai penguat data hasil observasi dan wawancara. Teknik validasi data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari kepala desa, tokoh adat, serta masyarakat Desa Menawan yang terlibat aktif dalam pelaksanaan tradisi Buka Luwur. Penerapan teknik ini bertujuan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh memiliki tingkat kredibilitas dan akurasi yang tinggi, serta mampu menggambarkan kondisi sosial dan kultural masyarakat secara menyeluruh. Data yang terkumpul dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan menyederhanakan data hasil observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penyajian data dilakukan dengan menyusun informasi ke dalam bentuk narasi deskriptif agar mudah dipahami 19. Tahap akhir dilakukan dengan menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi secara berkelanjutan untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai tradisi Buka Luwur sebagai warisan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan masyarakat Desa Menawan. Nasution. Metode Penelitian Kualitati, hlm. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Menawan Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Menawan. Kecamatan Gebog. Kabupaten Kudus. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud penghormatan kepada Mangkubumi Joyo Kusumo yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah desa. Pelaksanaan tradisi dilakukan dengan mengganti kain penutup . pada area punden sekaligus membersihkan lingkungan di Tradisi ini telah menjadi kegiatan tahunan yang dilaksanakan secara turun-temurun dan melibatkan partisipasi masyarakat secara gotong royong. Di kawasan punden terdapat peninggalan berupa Lingga dan Yoni yang dipandang masyarakat sebagai warisan budaya masa lampau. Lingga berbentuk batu tegak menyerupai tiang, sedangkan Yoni berbentuk alas batu persegi yang memiliki saluran air pada salah satu sisinya. Keberadaan kedua simbol tersebut menunjukkan adanya jejak budaya pra-Islam yang masih bertahan sebagai bagian dari sejarah lokal masyarakat Desa Menawan. Tradisi Buka Luwur dilaksanakan pada waktu tertentu yang telah disepakati oleh masyarakat, khususnya pada bulan yang dipandang baik menurut kepercayaan setempat. Pelaksanaan tradisi melibatkan perangkat desa, tokoh adat, tokoh agama, juru kunci punden, dan masyarakat umum. Rangkaian kegiatan dimulai dari kerja bakti membersihkan area punden, penggantian kain luwur, pembacaan doa bersama dan tahlil, hingga makan bersama. Kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan membangun rasa kebersamaan antarwarga. Dalam perspektif sosiologi budaya, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun berfungsi sebagai sarana mempertahankan identitas kolektif masyarakat. 20 Tradisi Buka Luwur dimaknai masyarakat Desa Menawan sebagai simbol hubungan antara generasi terdahulu dan generasi sekarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi menjaga keberlangsungan budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan rasa memiliki terhadap warisan sejarah desa. Keberadaan Lingga dan Yoni dalam tradisi Buka Luwur menunjukkan adanya proses akulturasi budaya dalam kehidupan masyarakat. Secara historis. Lingga dan Yoni merupakan Meisya Ulia Azra and Idea Alvira. AuMakna Simbolik Tradisi Tabuik Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Pariaman,Ay JIMPAR Jurnal Penelitian Mahasiswa Pariwisata Vol. No. : hlm. 445Ae54, https://jurnal. id/index. php/jimpar/article/view/2766/1116. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 simbol budaya Hindu-Buddha yang berkaitan dengan keseimbangan dan keberlangsungan 21 Namun, masyarakat Desa Menawan saat ini memaknainya sebagai peninggalan sejarah dan budaya, bukan sebagai objek ritual keagamaan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa simbol budaya dapat mengalami perubahan makna sesuai dengan perkembangan keyakinan Islam sebagai agama mayoritas masyarakat tidak menghilangkan keberadaan budaya lama, tetapi menyesuaikan pemaknaannya agar tetap selaras dengan nilai-nilai keislaman. Gambar 1. Prasasti Yoni Sumber: Dokumentasi penulis, 2026 Makna dan Nilai Tradisi Buka Luwur Hasil wawancara menunjukkan bahwa masyarakat Desa Menawan memaknai tradisi Buka Luwur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. , dan sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Menurut bapak Suhardi selaku tokoh adat di desa menawan, beliau menyatakan bahwa: AuTradisi Buka Luwur di desa menawan ini dimaknai sebagai warisan budaya dan sejarah leluhur yang harus dijaga dan tujuan utamanya yaitu untuk menghormati leluhur, menjaga tradisi desa, serta mempererat kebersamaan masyarakat. Masyarakat juga mengisi tradisi ini dengan tahlil dan doAoa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Ay Alfisyah Ajrin Saputro. AuAnalisis Relief Lingga Dan Yoni di Candi Sukuh Menurut Rosemarie Tong: Kajian Feminisme,Ay Sabdasastra : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa Vol. No. : hlm. 238Ae48, https://doi. org/https://doi. org/10. 20961/sabpbj. Retno Tyas Hapsari. Isna Maylani, and Lintang Nurlissya Putri. AuRelevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura Masyarakat Desa Loram Kulon. Kabupaten Kudus di Era Society 5. 0,Ay Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. : hlm. 49Ae66, https://doi. org/10. 22515/isnad. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah Masyarakat memahami bahwa tradisi tersebut bukan bentuk pemujaan terhadap tokoh atau benda bersejarah, melainkan bentuk penghargaan terhadap sejarah desa dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menunjukkan adanya proses akulturasi budaya dan islamisasi nilai dalam kehidupan masyarakat. Budaya lokal yang sebelumnya berkembang dari tradisi lama kemudian mengalami penyesuaian melalui masuknya unsur-unsur Islam seperti doa bersama, dzikir, tahlil, dan pengajian. Tradisi Buka Luwur dapat dipahami sebagai simbol budaya yang memiliki fungsi sosial dan spiritual sekaligus. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga menjadi media pendidikan sosial-keagamaan yang berkembang dan dijalankan dalam kehidupan 23 Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi gotong royong, solidaritas sosial, penghormatan terhadap sejarah, tanggung jawab sosial, dan kesadaran spiritual melalui doa bersama serta kegiatan keagamaan lainnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi ruang pertemuan antara budaya dan agama dalam kehidupan masyarakat. Nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun tetap dipertahankan, tetapi pelaksanaannya disesuaikan dengan nilai-nilai Islam sehingga tradisi tetap relevan dengan perkembangan masyarakat Muslim saat ini. 24 Selanjutnya, menurut Olga Yogantara selaku pemuda aktif didesa menawan menyatakan bahwa: AuTradisi Buka Luwur yang biasanya dilakukan di punden ini bisa menjadi media edukasi kepada pemuda-pemudi di desa menawan, karena terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan, baik bedzikir dan doAoa, serta gotong royong antar sesama warga demi kelancaran prosesi buka luwurAy Tradisi Buka Luwur tidak hanya mengandung nilai sosial dan spiritual, tetapi juga memiliki nilai edukatif yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Desa Menawan. Melalui keterlibatan dalam rangkaian kegiatan tradisi, masyarakat memperoleh pemahaman tentang pentingnya menjaga hubungan sosial, menghargai peninggalan leluhur, serta menerapkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat berfungsi sebagai sarana penanaman nilai-nilai Pendidikan Agama Islam yang berlangsung melalui Moh Rosyid and Lina Kushidayati. AuMakna Sego Berkat dalam Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Antara Syariat Dengan Sinkretis,Ay Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol. No. : hlm. 13Ae28, https://doi. org/https://doi. org/10. 14710/sabda. Rahmatun Ulfa. AuTransformasi Nilai Budaya dalam Tradisi Merariq di Era Modern,Ay KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. No. : hlm. 1057Ae65, https://doi. org/https://doi. org/10. 51878/knowledge. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 pengalaman langsung di lingkungan masyarakat. 25 Tradisi Buka Luwur juga mencerminkan kemampuan masyarakat Desa Menawan dalam menjaga warisan budaya lokal sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman. Hal tersebut terlihat dari adanya penyesuaian dalam pelaksanaan tradisi agar tetap sesuai dengan prinsip-prinsip aqidah Islam. Tradisi Buka Luwur dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam Islam sebagai agama yang mengandung nilai-nilai kehidupan memberikan pengaruh terhadap perkembangan budaya masyarakat. Namun, pengaruh tersebut tidak secara langsung menghilangkan tradisi lokal yang telah berkembang sebelumnya. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa budaya masyarakat banyak mengadopsi konsep serta simbol-simbol Islam sehingga Islam dipandang memiliki peran penting dalam pembentukan kebudayaan. 26 Nuansa keislaman juga tampak dalam berbagai tradisi dan upacara adat masyarakat, termasuk dalam tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), tradisi Buka Luwur dapat dipahami sebagai bentuk pendidikan sosial-keagamaan berbasis budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga menjadi media penanaman nilai tauhid, ukhuwah, gotong royong, penghormatan terhadap sejarah, serta moderasi Pendidikan Agama Islam dalam konteks ini tidak hanya berlangsung melalui lembaga formal, tetapi juga melalui pengalaman sosial masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini sejalan dengan konsep PAI yang menekankan pentingnya integrasi nilai agama dengan budaya lokal agar pembelajaran lebih relevan dan mudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Menurut bapak Suhardi selaku tokoh adat di desa menawan, beliau menyatakan bahwa: AuTradisi Buka Luwur ini kalau dilihat dari pandangan pendidikan agama islam tetap boleh dilestarikan jika tidak bertentangan dengan aqidah islam. Masyarakat disini mayoritas menganggap tradisi ini hanya sebagai warisan budaya dan sejarah yang harus dilestarikan dan bukan untuk disembah. Bahkan dalam pelaksanannya, tradisi ini sering diisi dengan tahlil, doAoa Syafa Dwi Kalam Syahdania and Pramesti Retno Suryaningtyas. AuIntegrasi Nilai Agama dan Budaya dalam Pendidikan Islam Multikultural,Ay Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. No. : hlm. 234Ae42, https://doi. org/https://doi. org/10. 33751/jmp. Subhanal Hanafi and Wahyu Sihab. AuPendekatan Psikologi Sosial Budaya dalam Memahami Proses Islamisasi di Tanah Jawa,Ay Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. No. : hlm. 117Ae28, https://doi. org/https://doi. org/10. 59059/al-tarbiyah. Syahdania and Suryaningtyas. AuIntegrasi Nilai Agama Dan Budaya Dalam Pendidikan Islam Multikultural. Ay Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah dan pengajian, sehingga dalam prakteknya lebih mengarah pada nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan juga rasa syukur kepada allah swt. Ay Pelaksanaan tradisi yang diisi dengan doa bersama, dzikir, tahlil, dan pengajian menunjukkan adanya penyesuaian makna budaya ke dalam nilai-nilai Islam. Tradisi yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai budaya lokal kemudian berkembang menjadi media dakwah dan pendidikan Nilai akhlak dalam tradisi Buka Luwur tercermin melalui sikap saling menghormati, tolong-menolong, menjaga persatuan, serta tanggung jawab dalam merawat warisan budaya. Pembentukan akhlak sebagai bagian penting dalam pendidikan Islam melalui pembiasaan perilaku baik dalam kehidupan sosial masyarakat. Sebagian masyarakat memandang bahwa tradisi Buka Luwur tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama niat dan pelaksanaannya tidak mengarah pada praktik syirik. Namun, sebagian masyarakat lainnya masih memiliki kekhawatiran apabila tradisi tersebut disalahartikan sebagai bentuk pemuliaan berlebihan terhadap benda bersejarah. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran tokoh agama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai batasan antara penghormatan budaya dan keyakinan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama berperan aktif dalam mengarahkan masyarakat agar tradisi tetap berjalan sesuai dengan prinsip aqidah Islam. Punden dipahami sebagai situs sejarah dan budaya, bukan tempat meminta berkah kepada selain Allah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi Buka Luwur merupakan bentuk integrasi antara budaya lokal dan Pendidikan Agama Islam yang berkembang secara adaptif dalam masyarakat. Tradisi ini menjadi contoh bahwa budaya lokal dapat tetap dilestarikan tanpa bertentangan dengan nilai-nilai Islam apabila disertai pemahaman keagamaan yang tepat. Internalisasi Nilai PAI kepada Generasi Muda Keterlibatan generasi muda dalam tradisi Buka Luwur menjadi bagian penting dalam proses pewarisan nilai budaya dan keagamaan. Generasi muda terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan seperti kerja bakti, persiapan acara, pengajian, dan doa bersama. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal. Novia Ramadhani and Musyarapah. AuTujuan Pendidikan Islam Dalam Membentuk Generasi Berakhlak Mulia,Ay Jurnal Pendidikan Nusantara Vol. No. 78Ae91, https://doi. org/https://doi. org/10. 55148/mrf64m53. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 tetapi juga melalui pengalaman sosial dalam kehidupan masyarakat. 29 Melalui partisipasi langsung dalam tradisi, generasi muda belajar mengenai pentingnya kebersamaan, tanggung jawab sosial, gotong royong, serta penghormatan terhadap sejarah dan budaya lokal. Selain itu, mereka juga memperoleh pemahaman mengenai batasan aqidah Islam melalui arahan tokoh agama selama pelaksanaan tradisi berlangsung. Proses tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi media pendidikan berbasis pengalaman sosial yang efektif dalam membentuk karakter dan kesadaran budaya generasi muda. Hal ini sejalan yang diutarakan oleh bapak Suhardi selaku tokoh adat di desa menawan, beliau menyatakan bahwa: AuKegiatan buka luwur ini sering melibatkan anak-anak muda, agar bisa menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda. Karena sejatinya pembelajaran tidak hanya dilakukan di kelas saja, tetapi bisa juga dilakukan di kehidupan bermasyarakat secara langsungAy Pelestarian ajaran Islam dapat dilakukan melalui proses internalisasi dalam pembelajaran agama, yaitu dengan memahami, menerima, dan menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini bertujuan agar nilai-nilai Islam tetap terjaga dan berkembang di tengah budaya lokal masyarakat. Dalam tradisi Buka Luwur, generasi muda mempelajari nilai keagamaan melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan tradisi, seperti pengajian, doa bersama, dan kerja sama sosial. Nilai-nilai agama Islam dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan atau proyek apapun dengan menjalankannya dengan niat yang bersih, yakni dijadikan bagian dari pengabdiannya kepada Allah. Dengan menerapkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan dapat membentuk masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai, norma, dan hukum yang berlaku dengan berdasarkan iman dan ilmu. Tokoh agama juga memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman mengenai ajaran Islam agar generasi muda mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi Buka Luwur tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga menjadi media Dimas Bagus Irsalulloh and Binti Maunah. AuPeran Lembaga Pendidikan Dalam Sistem Pendidikan Indonesia,Ay PENDIKDAS: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Vol. No. : hlm. 17Ae26, https://doi. org/https://doi. org/10. 56842/pendikdas. Butsainah Zahra. Ahmad Ghozi, and Nailul Fauziyah. AuIntegrasi Budaya Lokal dan Islam dalam Tradisi Mbabar Mbubur: Kajian Tentang Ritual Muharram di Malang,Ay Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Vol. No. : hlm. 61Ae74, https://doi. org/https://doi. org/10. 33367/ijhass. Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo. Rudi Setyawan. Nusrotus SaAoidah pembentukan karakter dan penguatan nilai keislaman bagi generasi muda. 31 Hasil penelitian juga menunjukkan adanya penurunan pemahaman sejarah pada sebagian generasi muda akibat pengaruh Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pendidikan formal maupun nonformal agar tradisi tidak hanya diwariskan sebagai kegiatan rutin, tetapi juga dipahami secara kritis dan memiliki nilai edukatif. Dampak Tradisi terhadap Kehidupan Keagamaan Masyarakat Tradisi Buka Luwur memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan sosial. Tradisi ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, menjalin silaturahmi, serta bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan Pelaksanaan doa bersama dalam tradisi tersebut juga turut memperkuat kesadaran religius masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memaknai tradisi Buka Luwur sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat identitas keagamaan. Islam dalam konteks ini tidak hadir sebagai ajaran yang menolak budaya lokal, melainkan sebagai sistem nilai yang mengarahkan budaya agar selaras dengan orientasi spiritual dan aqidah Islam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi Buka Luwur menjadi bentuk nyata moderasi beragama berbasis budaya, yaitu upaya mempertahankan budaya lokal dengan tetap menyesuaikannya pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Harmoni antara budaya lokal dan ajaran Islam terlihat dari adanya penyesuaian dalam pelaksanaan tradisi sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Unsur-unsur yang dianggap berpotensi bertentangan dengan aqidah secara perlahan mulai ditinggalkan, sedangkan nilai sosial dan edukatif yang terkandung di dalam tradisi tetap dipertahankan. Pelestarian tradisi secara Islami dilakukan melalui peran tokoh agama, kegiatan pengajian, serta pemberian pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga sejarah dan budaya lokal. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat berfungsi sebagai media pendidikan karakter berbasis Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan tradisi menjadikan nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan secara langsung dalam kehidupan sosial Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memberikan pengaruh terhadap kebudayaan, tetapi juga berinteraksi dengan budaya setempat sehingga membentuk hubungan yang selaras dalam kehidupan masyarakat. Aizzatin Nada. Eva Dwi Yanti, and Dany Miftah M Nur. AuInternalisasi Nilai Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Tradisi Kirab Budaya Ki Ageng Suryono Suryadi bagi Generasi Muda di Dukuh Bancak,Ay JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner Vol. No. : hlm. 2813Ae19. Zanuar Fitri Handayani et al. AuSinergi Islam Dan Kebudayaan : Analisis Persamaan dan Perbedaan dalam Konteks Global dan Lokal,Ay Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ) Vol. No. : hlm. 1767Ae71. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 85-102 Kontribusi penelitian ini terletak pada penegasan bahwa tradisi lokal dapat menjadi sarana dalam memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat apabila dikelola melalui pendekatan budaya yang selaras dengan ajaran Islam. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan dari tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah desa agar tradisi Buka Luwur tetap berfungsi sebagai media pendidikan agama, penguatan hubungan sosial, serta pelestarian budaya lokal. Tradisi ini dengan demikian dapat menjadi model integratif dalam membangun masyarakat religius yang tetap berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal. KESIMPULAN Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo merupakan warisan budaya lokal masyarakat Desa Menawan yang masih dilestarikan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan pelestarian sejarah desa. Tradisi ini memperlihatkan adanya proses akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam melalui kegiatan doa bersama, tahlil, pengajian, dan gotong royong yang dilakukan masyarakat. Keberadaan Lingga dan Yoni dimaknai sebagai simbol sejarah dan budaya masa lampau, bukan sebagai objek pemujaan, sehingga tradisi tetap dapat dipertahankan tanpa bertentangan dengan nilai aqidah Islam. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, tradisi Buka Luwur mengandung nilai aqidah, ibadah, akhlak, ukhuwah Islamiyah, dan moderasi beragama. Tradisi ini juga menjadi media pendidikan sosial-keagamaan yang berfungsi menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap sejarah, serta kesadaran spiritual masyarakat. Proses internalisasi nilai tersebut berlangsung melalui keterlibatan langsung masyarakat, khususnya generasi muda, dalam setiap rangkaian kegiatan tradisi. Peran tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan penguatan nilainilai Islam. Oleh karena itu. Tradisi Buka Luwur dapat dipahami sebagai bentuk harmonisasi budaya dan agama yang mencerminkan model pendidikan Islam berbasis kearifan lokal di masyarakat Jawa. REFERENSI