Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Volume 04 Nomor 02 Tahun 2025 Hal : 15-31 https://ojs. id/index. php/jabi ISSN Online : 2828-1411 The Impact of Work From Anywhere (WFA) on Employee Productivity: A Literature Review Pani Apriani Azizah1 Shabilla Rossinda2 1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja. Subang. Indonesia 2 Universitas Brawijaya Malang. Indonesia apriani2022@stiesa. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : Tgl. Masuk: 11-02-2025 Tgl. Diterima : 13-04-2025 Tersedia Online : 31-05-2025 Keywords: This study aims to analyze the impact of Work From Anywhere (WFA) implementation on employee productivity through a systematic literature review using bibliometric analysis. The research employed a qualitative descriptive approach, utilizing secondary data from 1,146 journals collected through Publish or Perish from Scopus and Google Scholar databases. After systematic screening using Covidence following PRISMA guidelines, 67 relevant journals published between 2023-2025 were analyzed. The study utilized VOSviewer for bibliometric visualization to identify research clusters and keyword relationships. The findings reveal that flexibility emerges as the most dominant factor in enhancing employee productivity in WFA settings, including freedom to manage time, work location, and job Other productivity-enhancing factors include cost and time savings, improved work-life balance, work organizational/technological Conversely, productivity decline is primarily caused by home distractions and social isolation. The bibliometric analysis identified four main research clusters: remote work structure and flexibility . ed cluste. , work model impact on performance . reen cluste. , human resource management and productivity . lue cluste. , and pandemic impact on employee well-being . ellow The recommendations for organizations to optimize WFA implementation through technological infrastructure investment, time management training, balanced work policies, and comprehensive employee support systems. Work From Anywhere. Employee Productivity. Remote Work. Bibliometric Analysis. Literature Review PENDAHULUAN Perkembangan teknologi yang pesat, terutama selama pandemi COVID-19, mendorong transformasi model kerja Pembatasan memunculkan Work From Home (WFH) yang berevolusi menjadi Work From Anywhere (WFA), karyawan bekerja fleksibel dari lokasi mana pun dengan dukungan teknologi (Dian Az et al. , 2. Transformasi ini Gambar 1 Data Survei Jakpat pada Februari 2024 Volume 04. No. fleksibilitas dan kolaborasi digital. Survei Jakpat . mengungkapkan WFA sebagai model kerja paling disukai Generasi Z . %), mengalahkan hybrid . %) dan kerja kantor . %) karena fleksibilitas dan kenyamanannya. Namun, seiring penerapan WFA pascapandemi, muncul pertanyaan tentang efektivitasnya dalam kondisi normal atau tidak pandemi. Keberadaan teknologi komunikasi seluler di Indonesia juga menunjukkan tren yang mengesankan. GSMA Intelligence melaporkan Pada awal tahun 2025. Indonesia memiliki 356 juta sambungan seluler, setara 125% dari total populasi, hal ini menunjukkan bahwa banyak individu memiliki lebih dari satu koneksi. Sekitar 96,4% menggunakan jaringan 3G, 4G, atau 5G, mencerminkan kualitas konektivitas yang terus meningkat. Pada awal tahun 2025. Indonesia mencatat sebanyak 356 juta sambungan seluler, setara dengan 125% dari total populasi, yang mencerminkan bahwa sebagian besar individu memiliki lebih dari satu koneksi untuk keperluan pribadi maupun profesional. Dari jumlah tersebut, 96,4% menggunakan jaringan 3G, 4G, atau 5G, dalam kualitas konektivitas nasional. Selain itu, jumlah pengguna internet mencapai 212 juta orang atau 74,6% dari populasi, meningkat sebesar 8,7% dibandingkan awal tahun 2024. Namun demikian, masih terdapat sekitar 72,2 juta penduduk . ,4%) yang belum terhubung kesenjangan digital masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah Kondisi ini menjadi konteks penting dalam memahami dinamika produktivitas kerja karyawan, khususnya dalam sistem kerja Work From Anywhere (WFA) yang sangat bergantung pada akses teknologi dan konektivitas internet. WFA, yang berkembang sebagai evolusi dari sistem Work From Home (WFH) sejak pandemi COVID-19, memungkinkan karyawan untuk bekerja secara fleksibel dari lokasi mana pun. Sistem ini menawarkan berbagai keuntungan, seperti fleksibilitas waktu, penghematan biaya transportasi, dan peningkatan waktu bersama keluarga. Namun di sisi lain. WFA juga menghadirkan tantangan, antara lain keterbatasan komunikasi tim, serta profesional dan personal. Produktivitas kerja merupakan salah Ketika produktivitas menurun, perusahaan dapat menghadapi dampak negatif baik dari segi operasional maupun Oleh karena itu, menjadi penting untuk memahami secara menyeluruh bagaimana kebijakan WFA memengaruhi produktivitas kerja karyawan, serta faktorfaktor apa saja yang memperkuat atau justru menghambat hubungan tersebut. Melalui komprehensif, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis temuan-temuan ilmiah terkini mengenai dampak WFA terhadap pendukung/penghambat, memberikan rekomendasi strategis. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Work From Anywhere (WFA) Work From Anywhere (WFA) merupakan sistem kerja fleksibel yang memungkinkan karyawan untuk bekerja dari lokasi mana pun selama didukung oleh koneksi internet dan perangkat teknologi yang memadai (Dian Az et al. Konsep ini merupakan evolusi dari Work From Home (WFH) yang awalnya diterapkan secara luas saat pandemi COVID-19. Seiring dengan perkembangan teknologi dan normalisasi kerja jarak jauh, banyak perusahaan menyadari bahwa Journal of Accounting and Business Issues (JABI) pekerjaan tidak harus terikat pada lokasi fisik tertentu. Menurut Robert Half . , sebanyak 62% karyawan menyatakan lebih memilih sistem kerja hybrid atau WFA, dan 50% di antaranya bersedia mencari pekerjaan baru jika diwajibkan kembali bekerja penuh waktu di kantor. Hal ini menunjukkan bahwa fleksibilitas lokasi kerja telah menjadi salah satu faktor penting dalam kepuasan dan retensi Penerapan WFA juga semakin diakui secara formal oleh pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023 yang memperbolehkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bekerja dari lokasi mana pun, selama memenuhi ketentuan jam kerja sebesar 37 jam 30 menit per minggu . idak termasuk waktu Ini menandakan bahwa sistem kerja fleksibel tidak hanya relevan di sektor swasta, tetapi juga mulai diadopsi dalam lingkungan birokrasi pemerintahan. Efektivitas WFA bergantung pada kesiapan organisasi dalam menyesuaikan struktur manajemen, sistem evaluasi kinerja berbasis hasil . utput-based performanc. , serta budaya kerja yang mendorong kolaborasi lintas lokasi (Azmi & Susanto, 2. Dengan kata lain. WFA bukan hanya perubahan teknis dalam pola kerja, tetapi juga transformasi struktural yang menuntut kesiapan teknologi, kepemimpinan yang adaptif, dan kebijakan organisasi yang Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep WFA sangat penting dalam mengkaji dampaknya terhadap produktivitas karyawan. Produktivitas Kerja Karyawan Produktivitas merupakan salah satu indikator kunci dalam mengukur keberhasilan dan efisiensi suatu organisasi. Secara umum, perbandingan antara input . umber day. dan output . dalam proses kerja. Adapun produktivitas kerja karyawan secara khusus merujuk pada sejauh mana karyawan dapat menghasilkan output yang berkualitas dan kuantitatif dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan standar yang ditetapkan organisasi (Nevira et al. , 2. Karyawan yang produktif adalah mereka yang mampu memanfaatkan waktu secara optimal, mengelola keterampilan dan kompetensi dengan baik, serta menyelesaikan pekerjaan sesuai target dan mutu yang Produktivitas berkontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi, tetapi juga mencerminkan efisiensi sistem kerja dan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia. Dalam konteks kerja fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA), penting bagi organisasi untuk dapat mengidentifikasi dan mengukur produktivitas karyawan secara objektif, mengingat tidak adanya pengawasan fisik secara langsung. Oleh karena itu, pengukuran produktivitas memerlukan indikator yang jelas dan Menurut Syarif Ali dalam buku Mewujudkan SDM Unggul dan Kompetitif (Laan et al. , 2. , indikator produktivitas kerja karyawan meliputi: . jumlah produksi atau penjualan yang dihasilkan dalam waktu yang telah ditentukan. jumlah tugas yang berhasil diselesaikan tepat waktu. efisiensi dalam penggunaan waktu dan sumber daya. Indikator-indikator organisasi dalam mengevaluasi kinerja karyawan secara menyeluruh, termasuk dalam pengaturan kerja jarak jauh atau Kerangka Pemikiran Menurut Sugiyono . , kerangka pemikiran merupakan alur berpikir atau alur peneltian yang dijadikan pola atau landasan berpikir peneliti dalam mengadakan penelitian terhadap objek yang dituju. Jadi kerangka berpkir merpakan alur yang dijadikan pola berpikir peneliti dalam mengadakan penelitian terhadap suatu objek yang Volume 04. No. dapat menyelesaikan arah rumusan masalah dan tujuan penelitian. dari berbagai sumber tertulis yang relevan untuk menjawab fokus penelitian Berdasarkan tinjauan literatur yang komprehensif, kerangka pemikiran teoretis penelitian ini disusun untuk menggambarkan hubungan antara Work From Anywhere (WFA) dan produktivitas Teknik pengumpulan data menjadi langkah strategis dalam proses penelitian karena berfungsi untuk memperoleh data yang valid dan relevan dengan rumusan Tanpa pemahaman yang tepat mengenai teknik ini, data yang diperoleh dapat menyimpang dari kebutuhan penelitian (Sugiyono, 2014:. Dalam studi ini, teknik pengumpulan data dilakukan melalui tahapan yang pertama adalah proses pengumpulan dan Work From Anywhere Produktivitas Karyawan METODOLOGI PENELITIAN Menurut Sugiyono . , metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan Penelitian pemahaman mendalam terhadap objek penelitian dalam kondisi alami. Peneliti berperan sebagai instrumen utama, dan proses analisis dilakukan secara induktif untuk menangkap makna di balik data, bukan untuk menghasilkan generalisasi (Sugiyono, 2018:. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka, seperti jurnal ilmiah, buku referensi, laporan survei, artikel daring, dan dokumen resmi yang relevan. Penelitian ini menggunakan metode studi . ibrary pendekatan utama. Menurut Surwono . 0:34Ae. , studi literatur adalah metode pengumpulan data dengan cara mengkaji teori, konsep, dan pandangan penyaringan literatur, berbagai alat bantu digunakan untuk memastikan sistematisasi dan objektivitas. Publish or Perish (POP) digunakan untuk mengumpulkan literatur yang relevan dari database akademik. Yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Google Scholar. Selanjutnya data disimpan dan disaring kembali di Covidence dengan mengikuti pendekatan Prisma. Data hasil Covidence akan di masukan Mendeley, keywords dan di export dalam format RIS. Pada tahap terahkir penggolahan data adalah dengan menggunakan VOSviewer versi 1. 0 untuk menganalisis hubungan antar artikel dan relevansinya dengan topik Aplikasi bibliometrik, mengidentifikasi klaster tematik, dan memetakan hubungan antar kata kunci, penulis, dan konsep Tahapan dalam proses penelitian ini dituangkan dalam kerangka pemikiran atau flowchart sebagai Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Start Pengumpulan data (POP) Penyaringan dan Pemetaan Data (Covidanc. Sintesis Temuan (Report dan Prism. Memasukan data dan export dari Mendeley Screening dan Interprstasi data (Vosviewe. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan data dilakukan penulis dalan applikasi Publish or Perish Dimana didapatkan 1146 Jurnal yang berasal dari scopus dan google scholar. Dengan menuloskan keywords Work from Anywhere. Amployee Productivity. The Impact of Work From Anywhere, dan Produktivitas Karyawan. Data tersebut di export dalam format RI\ Data dari POP dimasukan pada Covidence. Dimana data di sreening dan terdapat 243 data duplicate. Dilakukan screening secara manual dengan kriteria: Terjadi di tahun 2023-2025 Terjadi setelah pandemi selesai Mengenai Work From Anywhere atau sejenisnya seperti WFA dan Remote Berdampak terhadap produktivitas Sehingga dari hasil screening tersebut terdapat 67 jurnal yang memiliki kriteria Alur dalam covidence ini dijelaskan dalam Pisma dibawah ini: Volume 04. No. Data hasil Covidence sebanyak 67 tersebut dinalisis secara masnual dan didapatkan bahwa fleksibilitas merupakan faktor paling dominan dalam meningkatkan produktivitas karyawan saat bekerja dari rumah (WFH). Fleksibilitas ini mencakup kebebasan mengatur waktu, lokasi kerja, hingga prioritas pekerjaan, yang memungkinkan karyawan bekerja sesuai ritme pribadi. Selain itu, produktivitas juga meningkat berkat penghematan waktu dan biaya perjalanan, peningkatan work-life balance, otonomi kerja, lingkungan kerja yang tenang, serta dukungan organisasi dan teknologi. Sebaliknya, penurunan produktivitas paling sering disebabkan oleh distraksi di rumah seperti gangguan dari keluarga atau pekerjaan domestik, serta isolasi sosial akibat minimnya interaksi langsung dengan rekan kerja. Tantangan lain yang turut memperburuk Journal of Accounting and Business Issues (JABI) produktivitas mencakup kaburnya batas kerja dan kehidupan pribadi, masalah konektivitas dan teknologi, hambatan komunikasi tim, kelelahan digital, serta kurangnya pengawasan Analisis ini juga menemukan bahwa konteks seperti gender, usia, status orang tua, dan jenis industri mempengaruhi pengalaman WFH. Perempuan dan karyawan dengan anak cenderung menghadapi lebih banyak tantangan, sedangkan sektor seperti IT lebih mudah beradaptasi dibanding sektor Produktivitas dalam jangka pendek cenderung meningkat karena berkurangnya distraksi kantor, namun dalam jangka panjang bisa menurun tanpa manajemen yang baik. Model kerja hybrid terbukti menghasilkan performa optimal di sejumlah studi. Dukungan organisasi dan kesiapan teknologi menjadi faktor mediasi yang krusial dalam memastikan keberhasilan WFH. Oleh karena itu, direkomendasikan agar organisasi berinvestasi pada infrastruktur teknologi, memberikan pelatihan manajemen waktu, menetapkan kebijakan kerja yang seimbang, serta menyediakan dukungan kesehatan mental dan fisik bagi Kesimpulannya, keberhasilan WFH sangat bergantung pada pendekatan holistik yang mencakup teknologi, manajemen, dan kesejahteraan karyawan secara menyeluruh. Selanjutanya data tersebut dimasukan kedalam Mendeley dan emasukan keywords per jurnal dan di eksport ke dalam bentuk RIS. Dan terakhir, data tersebut dimasukan kedalam Vosviewer dan didapatkanlah hasil: Volume 04. No. Gambar ini menggambarkan visualisasi clustering berdasarkan hubungan ko-eksistensi kata kunci, yang dikelompokkan menjadi beberapa klaster berwarna berbeda. Setiap warna menunjukkan klaster topik yang memiliki keterkaitan erat. Klaster merah, misalnya, mengelompokkan kata kunci seperti Auremote workAy. AuteleworkAy. AuflexibilityAy, dan Auhome officeAy, yang mengindikasikan fokus penelitian pada struktur kerja jarak jauh dan fleksibilitas tempat kerja. Klaster hijau berisi kata kunci seperti Auwork from homeAy. Aujob performanceAy, dan Auhybrid workAy, yang lebih menekankan pada pengaruh model kerja terhadap performa Klaster biru memuat istilah seperti Auemployee productivityAy. Auhuman resource managementAy, dan Auorganizational supportAy, yang menandakan kajian dalam manajemen sumber daya manusia dan produktivitas karyawan. Sedangkan klaster kuning berisi kata kunci seperti Aucovid-19Ay. Auemployee well-beingAy, dan Aujob satisfactionAy, menunjukkan munculnya minat terhadap dampak pandemi terhadap kondisi psikologis Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Gambar diatas menunjukkan visualisasi berdasarkan average publication year . arna sesuai tahun Warna kuning menandakan kata kunci yang muncul lebih baru . atarata tahun publikasi lebih tingg. , sedangkan warna biru menandakan kata kunci yang telah lama muncul. Dalam visualisasi ini, terlihat bahwa kata kunci seperti Auemployee well-beingAy. Aucovid-19Ay, dan Auwork-from-homeAy didominasi oleh warna kuning, mengindikasikan bahwa penelitian dengan fokus ini relatif baru dan berkembang setelah tahun 2023. Sebaliknya, istilah seperti AuteleworkAy. Auorganizational supportAy, dan AuflexibilityAy didominasi warna biru, yang berarti istilah ini lebih dahulu muncul dalam penelitianpenelitian sebelumnya. Hal ini menunjukkan pergeseran fokus penelitian dari aspek fleksibilitas dan dukungan organisasi menuju isu-isu terkait kesejahteraan karyawan dan pengaruh pandemi terhadap sistem kerja Volume 04. No. Dan Gambar terakhir berdasarkan hasil analisis bibliometrik menggunakan perangkat lunak VOSviewer, diperoleh tiga visualisasi utama terkait topik Auremote workAy atau Aukerja jarak jauhAy yang menunjukkan peta pengetahuan . nowledge ma. dalam bidang ini. Gambar ini menampilkan visualisasi density . , yang menggambarkan tingkat kepadatan atau frekuensi kemunculan kata kunci dalam Warna kuning menandakan area dengan kepadatan tinggi, sedangkan hijau hingga biru menandakan area dengan kepadatan lebih rendah. Kata kunci Auremote workAy. Auemployee productivityAy. Auwork from homeAy, dan Auemployee performanceAy muncul sebagai istilah dengan kepadatan tinggi, menandakan bahwa istilah-istilah ini paling sering muncul dan menjadi fokus dalam studi terkait kerja jarak jauh. Ini menunjukkan bahwa aspek produktivitas dan kinerja karyawan masih menjadi topik utama dalam penelitian tentang kerja jarak jauh, khususnya sejak munculnya fenomena global seperti pandemi COVID19. KESIMPULAN Berdasarkan terhadap 67 jurnal yang dipublikasikan 2023-2025, mengidentifikasi bahwa implementasi Work From Anywhere (WFA) memberikan Fleksibilitas muncul sebagai faktor dominan yang meningkatkan produktivitas, mencakup kebebasan mengatur waktu, lokasi kerja, memungkinkan karyawan bekerja sesuai ritme personal optimal. Faktor-faktor pendukung produktivitas lainnya meliputi penghematan waktu dan biaya perjalanan, peningkatan work-life balance, otonomi kerja yang lebih besar. Journal of Accounting and Business Issues (JABI) lingkungan kerja yang tenang, serta dukungan organisasi dan teknologi yang Sebaliknya, produktivitas paling signifikan disebabkan oleh distraksi di lingkungan rumah dan isolasi sosial akibat minimnya interaksi langsung dengan rekan kerja. Analisis bibliometrik mengungkapkan empat klaster penelitian utama: struktur kerja jarak jauh dan fleksibilitas . laster mera. , dampak model kerja terhadap performa . laster hija. , manajemen sumber daya manusia dan produktivitas . laster bir. , serta dampak pandemi terhadap kesejahteraan karyawan . laster Visualisasi menunjukkan pergeseran fokus penelitian dari aspek fleksibilitas dan dukungan organisasi menuju isu kesejahteraan terhadap sistem kerja. Konteks demografis seperti gender, usia, status orang tua, dan jenis industri terbukti mempengaruhi pengalaman WFA, dimana perempuan dan karyawan dengan anak menghadapi tantangan lebih besar, sementara sektor IT menunjukkan adaptasi yang lebih baik dibandingkan sektor publik. Model kerja hybrid terbukti menghasilkan performa optimal dalam sejumlah studi yang dianalisis. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Temuan penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi organisasi dalam mengoptimalkan implementasi WFA. Organisasi perlu berinvestasi pada infrastruktur teknologi yang robust, memberikan pelatihan manajemen waktu kebijakan kerja yang seimbang, serta menyediakan dukungan kesehatan mental dan fisik yang berkelanjutan. Dukungan organisasi dan kesiapan teknologi menjadi faktor mediasi krusial dalam memastikan keberhasilan WFA jangka panjang. Bagi praktisi manajemen sumber daya manusia, penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan holistik yang mencakup aspek teknologi, manajemen, dan kesejahteraan karyawan secara Implementasi WFA yang efektif memerlukan perubahan paradigma dari pengawasan berbasis kehadiran menuju evaluasi berbasis output dan hasil Keterbatasan penelitian ini meliputi fokus pada literatur yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2023-2025, yang mungkin belum mencakup dampak jangka panjang dari implementasi WFA. Analisis bibliometrik yang dilakukan juga terbatas pada database Scopus dan Google Scholar, sehingga kemungkinan terdapat literatur relevan dari sumber lain yang tidak teranalisis. Selain itu, mayoritas studi yang dianalisis berasal dari konteks negara-negara teknologi yang sudah mapan, sehingga generalisasi temuan untuk konteks negara berkembang memerlukan kehati-hatian. REFERENCES