CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional https://doi. org/10. 25008/caraka. RIRI DWI LESTARI NURMAYA PRAHATMAJA JIMI NAROTAMA MAHAMERUAJI Universitas Padjadjaran Ae Indonesia ABSTRACT The documentary film AuBreaking Boundaries: Ruang Yang SamaAy is a documentary that discusses how disabled athletes deal with negative views from society. The views that are often attached to their physical condition do not dampen their spirits, but instead become a motivation to prove themselves through various achievements. In the process of making it, this documentary applies scriptwriting that combines expository narrative and observational style. The purpose of applying this expository narrative is to convey information clearly, systematically, and in-depth about a topic based on facts. so that it not only builds understanding, but also encourages the audience to reflect on the issues raised more broadly and deeply. Meanwhile, the observational style is used to capture real moments from the training activities of disabled athletes without direct intervention from the The scriptwriting in this film also refers to the documentary storytelling structure which consists of three main parts: opening, development, and closing. All of this writing is designed to ensure that the documentary film AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy is not only a means of conveying facts, but is also able to arouse empathy and social awareness of the audience towards disability issues. Keywords: Disabled athletes. Documentary Film. Scriptwriter. Expository Narrative. Observational ABSTRAK Karya film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy merupakan film dokumenter yang membahas bagaimana para atlet disabilitas dalam menghadapi pandangan negatif dari masyarakat. Pandangan yang kerap melekat pada kondisi fisik itu tidak melemahkan semangat, tetapi justru menjadi sebuah motivasi untuk membuktikan diri melalui berbagai prestasi. Dalam proses pembuatannya, film dokumenter ini menerapkan penulisan naskah yang menggabungkan narasi ekspositoris dan gaya observasional. Tujuan penerapan narasi ekspositoris ini untuk menyampaikan informasi secara jelas, sistematis, dan mendalam mengenai suatu topik yang berlandaskan pada fakta-fakta, sehingga tidak hanya membangun pemahaman, tetapi juga mendorong audiens untuk merefleksikan isu yang diangkat secara lebih luas dan mendalam. Sementara, gaya observasional dimanfaatkan untuk menangkap momen-momen nyata dari kegiatan latihan para atlet disabilitas tanpa intervensi langsung dari kamera. Penulisan naskah dalam film ini juga mengacu pada struktur penceritaan dokumenter yang terdiri dari tiga bagian utama: pembukaan, pengembangan, dan Keseluruhan penulisan ini dirancang untuk memastikan bahwa film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy tidak hanya menjadi sarana penyampaian fakta, tetapi juga mampu menggugah empati dan kesadaran sosial audiens terhadap isu disabilitas. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Kata Kunci: Atlet disabilitas. Film Dokumenter. Penulis Naskah. Narasi Ekspositoris. Observasional AuthorAos email correspondent: riri21001@mail. The author declares that she/he has no conflict of interest in the research and publication of this manuscript Copyright A 2025: Riri Dwi Lestari Licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 (CC BY-SA 4. Available at http://caraka. Submitted: May 30, 2025. Revised: July 31, 2025. Accepted: December 15, 2025 PENDAHULUAN Setiap manusia yang lahir ke dunia ini dianugerahi kelebihan, kekurangan, serta keunikan yang membedakannya satu sama lain. Keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan baik dari segi fisik, mental, maupun sensorik menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap individu. Namun, dalam perjalanan hidupnya, seseorang dapat menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Hambatan tersebut terkadang menyebabkan keterbatasan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, yang dikenal sebagai disabilitas. Sedangkan individu yang mengalami keterbatasan ini disebut sebagai penyandang disabilitas. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Penyandang disabilitas dikategorikan menjadi empat: penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual, penyandang disabilitas mental, dan penyandang disabilitas sensorik. Mengutip laporan dari WHO (World Health Organizatio. pada tahun 2021, sekitar 1,3 miliar orang di seluruh dunia atau sekitar 16% dari total populasi global, hidup dengan Sekitar 82% penyandang disabilitas berada di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data disabilitas menurut Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan di Indonesia terdapat 22,97 juta orang atau 8,5% penyandang disabilitas di tahun 2023. Dari keterbatasan tersebut, penyandang disabilitas kerap mendapatkan pandangan yang berbeda di kalangan masyarakat. Pandangan masyarakat yang cenderung mengutamakan kesempurnaan fisik sering kali menciptakan lingkungan yang menantang dan penuh tekanan bagi penyandang disabilitas dalam menjalani kehidupan mereka. Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas biasanya terjadi karena kurangnya pemahaman yang benar tentang apa itu disabilitas dan siapa mereka yang mengalaminya. Banyak orang masih berpikir bahwa segala sesuatu harus sesuai dengan standar normal yang ada di masyarakat. Sejak dulu, orang-orang yang terlihat berbeda dari kebanyakan dianggap pihak yang lemah, tidak berdaya, pasif, bergantung pada orang lain, dan dipandang sebagai objek simpati. Memberi label negatif kepada seseorang karena dianggap berbeda dari standar yang dianggap "normal" adalah bentuk stigma. Jika stigma ini terus berlanjut, maka bisa muncul perlakuan diskriminatif. Pemerintah mengambil langkah dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 pada pasal 5 untuk mewujudkan kesamaan hak dan kesempatan bagi penyandang disabilitas menuju kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan tanpa diskriminasi. Disahkannya UndangUndang Nomor 8 Tahun 2016 membawa perubahan positif bagi penyandang disabilitas dengan membuka peluang yang lebih luas dan setara bagi mereka dalam berbagai aspek kehidupan demi mencapai kesejahteraan. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Keterbatasan yang dimiliki penyandang disabilitas tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mereka untuk terus berkembang dan meraih prestasi. Dalam dunia olahraga, misalnya, penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi. Upaya untuk mewujudkannya dapat dilakukan melalui pembinaan, pelatihan, pemberian kesempatan, serta evaluasi program bagi atlet disabilitas agar mereka dapat terus berkembang (Utomo, 2. Bagi penyandang disabilitas, olahraga menjadi sarana untuk mengasah potensi dan bakat yang mereka miliki. Mengingat setiap individu, meskipun memiliki keterbatasan, juga dibekali dengan kelebihan, kemampuan, dan keunikannya tersendiri. Menjadi seorang atlet dan meraih prestasi dapat menjadi bukti bahwa individu dengan disabilitas memiliki kemampuan yang luar biasa. Hal ini tidak hanya membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri pada diri mereka sendiri. Pembinaan olahraga penyandang disabilitas di Indonesia saat ini ditangani oleh Komite Paralimpik Nasional Indonesia atau Nasional Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Organisasi ini secara berjenjang berada di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia. NPCI menjadi organisasi olahraga satusatunya yang membawahi atlet disabilitas di Indonesia yang berperan untuk membina dan mengkoordinasikan setiap kegiatan olahraga penyandang disabilitas di Indonesia maupun ajang internasional. Awal berdirinya organisasi ini bernama Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) yang kemudian berganti menjadi NPCI. Program pembinaan olahraga yang dijalankan oleh NPCI pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan program pembinaan olahraga prestasi secara umum. Namun, perbedaannya terletak pada individunya yang merupakan penyandang disabilitas, sehingga diperlukan penyesuaian sesuai dengan kondisi dan kebutuhan khusus masing-masing atlet. NPCI Kabupaten Bandung merupakan salah satu yang aktif dalam pembinaan atlet Oleh karena itu, untuk mengetahui perspektif atlet disabilitas, khususnya bagaimana para atlet disabilitas menghadapi pandangan negatif masyarakat kemudian dapat menorehkan prestasi serta kondisi psikologis atlet disabilitas terhadap pandangan yang mereka terima, penulis bersama tim produksi membuat sebuah film dokumenter yang berjudul AuBreaking BoundariesAy. Dalam produksi karya film dokumenter, naskah memegang peran penting sebagai dasar utama dalam pembentukannya. Film dokumenter yang berkualitas tidak lepas dari peran penulis naskah . , yang bertugas merumuskan ide hingga akhirnya diwujudkan dalam bentuk visual (Swain & Swain, 1. Dalam upaya menciptakan naskah film dokumenter yang berkualitas, proses riset mendalam menjadi elemen yang tidak dapat diabaikan. Salah satu pendekatan yang dinilai paling efektif dalam penyampaian informasi adalah penggunaan narasi ekspositoris. Gaya narasi ini dipilih karena mampu menyampaikan pesan secara informatif, objektif, dan Narasi ekspositoris sendiri merupakan bentuk penceritaan yang berfokus pada penyajian fakta dan informasi secara logis serta kronologis, dengan tujuan utama memberikan pemahaman mendalam kepada audiens mengenai suatu isu tertentu. Film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy dibuat oleh penulis dengan tujuan untuk memperlihatkan bagaimana atlet disabilitas terhadap pandangan negatif dari masyarakat untuk mereka. Selain itu, film dokumenter ini juga menyoroti bagaimana para atlet disabilitas mampu meraih prestasi, membuktikan ketangguhan mental mereka, serta menunjukkan bahwa pandangan negatif dari lingkungan sekitar tidak menghalangi mereka untuk terus berjuang dan mencapai kesuksesan di dunia olahraga. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Dalam proses pembuatan film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy, penulis berperan sebagai script writer. Peran penulis naskah atau script writer pada film dokumenter ini adalah bertanggung jawab dalam menyusun keseluruhan naskah. Penulis merancang struktur narasi yang sistematis agar informasi dapat tersampaikan dengan jelas dan efektif. Dengan naskah yang terarah, film dokumenter ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai atlet disabilitas dan apa yang mereka hadapi. Dengan demikian, penulis naskah memegang peran yang esensial dalam merangkai narasi yang kuat dan informatif pada penulisan film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy. Film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy menggabungkan antara narasi ekspositoris dengan gaya observasional untuk menyajikan informasi secara jelas dan sistematis, sehingga lebih mudah dipahami oleh audiens. Pendekatan ini memungkinkan penyampaian cerita yang terstruktur dengan baik, di mana alurnya disusun secara kronologis berdasarkan pengalaman nyata yang dialami oleh atlet disabilitas. Dengan demikian, film ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam, tetapi juga membantu audiens memahami perjalanan yang dihadapi oleh para atlet. Selain itu, film dokumenter ini mengandung struktur yang terorganisir dalam tiga bagian utama diantaranya pendahuluan, perkembangan, dan penutup sehingga dapat memudahkan audiens dalam memahami alur cerita yang disampaikan. KERANGKA TEORI Landasan utama dalam penulisan naskah film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy, mengenai teori film dokumenter yang mencakup definisi, serta beragam jenis atau modenya. Selain itu, mengenai gaya naratif ekspositoris, pendekatan observasional, struktur tiga babak, dan peran penulis naskah. Fokus utamanya terletak pada penerapan dua pendekatan naratif yang digunakan, yaitu ekspositoris dan observasional. Film Dokumenter Film dokumenter adalah produksi audiovisual yang mendokumentasikan dan menyampaikan realitas berdasarkan peristiwa, orang, atau fenomena yang sebenarnya. Menurut Effendy . , film dokumenter pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari peran utamanya sebagai media informasi, pendidikan, dan bahkan propaganda, meskipun bentuk dan tujuannya beragam. Fachruddin . menambahkan, teknik-teknik penceritaan yang spesifik, seperti narasi, wawancara, dan gambar visual, digunakan dalam film dokumenter untuk menyampaikan pesan. Pembuat film dokumenter harus sangat peka terhadap apa yang mereka lihat, dengar, dan alami dalam kehidupan nyata. Sastra, realitas sosial, atau pengalaman langsung dapat menjadi inspirasi cerita. Film dokumenter mengutamakan penyajian fakta dan tidak dibatasi oleh pola narasi tertentu, berbeda dengan film fiksi yang mengikuti struktur narasi konvensional. Narasi Ekspositoris dalam Film Dokumenter Narasi ekspositoris adalah gaya penceritaan dokumenter yang sering digunakan karena efektif dalam menyampaikan fakta dan informasi secara teratur. Pendekatan ini umumnya melibatkan suara latar yang bersifat informatif dan netral, disertai dengan visualisasi data serta wawancara dengan figur yang relevan. Dalman . dalam Tantikasari et al. menyebutkan, narasi ekspositoris dimanfaatkan untuk memberikan Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 penjelasan mengenai suatu peristiwa atau proses, dengan tujuan utama membantu pembaca memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap informasi yang disampaikan. Menurut Keraf . , narasi ekspositoris memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu: . Informasi yang disajikan pada narasi ekspositoris harus berdasarkan fakta dan . Narasi ekspositoris menyampaikan informasi tanpa interpretasi subjektif. Narasi ekspositoris disusun secara berurutan berdasarkan waktu atau hubungan sebab-akibat. Bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pembaca atau penonton tentang suatu topik Narasi ekspositoris dalam film dokumenter umumnya menyampaikan informasi melalui beberapa teknik utama, salah satunya adalah penggunaan narator yang tidak tampil di layar namun memiliki peran otoritatif dalam membimbing pemahaman penonton. Selain itu, wawancara dengan narasumber dan penggunaan elemen visual seperti grafik serta data visual turut mendukung penyampaian informasi, terutama untuk menjelaskan hal-hal kompleks secara lebih jelas dan ringkas. Pendekatan Observasional dalam Film Dokumenter Gaya observasional dalam film dokumenter menitikberatkan pada penyajian peristiwa secara alami dan tanpa rekayasa. Kamera berfungsi sebagai pengamat yang tidak mengganggu jalannya aktivitas subjek, sehingga mampu menangkap momen secara spontan dan autentik. Pendekatan ini memungkinkan audiens menyaksikan realitas sebagaimana adanya dan membentuk interpretasinya sendiri berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas atau interaksi yang terekam. Putra . menjelaskan, pendekatan observasional dalam film dokumenter cenderung menjauhi tindakan mengarahkan, mengatur, atau memberikan penilaian terhadap subjek maupun peristiwa yang terekam. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah menampilkan realitas secara alami, sehingga penonton diberi kebebasan untuk menafsirkan sendiri makna dari peristiwa atau perilaku yang mereka amati secara langsung. Penulisan Naskah Dokumenter Penulisan naskah adalah proses kreatif yang terstruktur untuk mengembangkan ide menjadi cerita dengan karakter, alur, dialog, dan struktur yang baik. Naskah menjadi panduan utama dalam produksi film, drama, televisi, radio, dan media audiovisual Proses ini melibatkan beberapa tahapan penting untuk menciptakan cerita yang menarik dan efektif. Dalam kasus ini, penulis menyusun naskah berdasarkan hasil riset, wawancara, dan observasi, serta merancang urutan penyampaian yang disesuaikan dengan tujuan dokumenter: menggambarkan kenyataan yang dihadapi atlet disabilitas serta membongkar stigma sosial yang berkembang. METODOLOGI Metodologi penelitian dalam studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi . ontent analysi. Data utama penelitian adalah naskah film dokumenter "Breaking Boundaries: Ruang yang Sama". Proses analisis difokuskan pada identifikasi dan interpretasi bagaimana elemen-elemen narasi ekspositoris dan gaya observasional diimplementasikan dalam struktur naskah. Ini meliputi analisis, deskripsi visual, catatan adegan, serta petunjuk yang mengindikasikan penerapan gaya observasional. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Selain itu, penelitian ini juga akan melakukan analisis deskriptif terhadap representasi konsep "Ruang yang Sama" dalam naskah, mengidentifikasi tema-tema yang muncul dan bagaimana isu tersebut dikonstruksi melalui penggunaan kedua pendekatan naratif. Untuk memperkuat analisis, studi literatur terhadap teori film dokumenter, khususnya mengenai narasi ekspositoris, gaya observasional, dan penulisan naskah dokumenter. Fokus utama dalam metode ini adalah mendokumentasikan serta menjelaskan tahapan dan strategi penulisan naskah dokumenter dengan penerapan gaya narasi ekspositoris dan observasional dalam merepresentasikan konsep "Ruang yang Sama". Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan berikut: . Observasi Lapangan. Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas latihan atlet disabilitas di bawah naungan NPCI Kabupaten Bandung. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dokumenter observasional, yaitu menangkap realitas tanpa rekayasa atau intervensi . Wawancara. Penulis melakukan wawancara dengan berbagai narasumber, antara lain atlet disabilitas, pelatih, ketua NPCI Kabupaten Bandung, serta seorang psikolog Wawancara ini bertujuan untuk memperkuat sudut pandang dan memperdalam pemahaman terkait kondisi sosial dan psikologis yang dialami para atlet. Studi Pustaka dan Analisis Referensi Audio-Visual. Penulis juga melakukan studi pustaka terhadap jurnal, artikel, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 sebagai dasar hukum dalam pembahasan disabilitas. Selain itu, penulis menganalisis beberapa video referensi seperti WeThe15. Breaking Barriers (Vice Indonesi. HASIL DAN PEMBAHASAN Film dokumenter "Breaking Boundaries: Ruang yang Sama" merupakan sebuah karya visual yang bertujuan untuk menyoroti perjuangan dan pencapaian para atlet disabilitas di Kabupaten Bandung. Film ini tidak hanya menampilkan sisi prestasi olahraga semata, melainkan juga berupaya menggugah kesadaran publik terhadap adanya stigma negatif yang kerap melekat pada penyandang disabilitas, khususnya dalam dunia olahraga. Para atlet yang tergabung dalam film ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih keberhasilan, dan justru menjadi dorongan kuat untuk menunjukkan kemampuan yang luar biasa kepada masyarakat luas. Dalam proses produksinya, dokumenter ini melibatkan peran penting dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung, sebuah organisasi yang menjadi naungan dan pendukung utama bagi para atlet disabilitas dalam mengembangkan potensi mereka secara profesional. NPCI tidak hanya memberikan wadah kompetisi, tetapi juga menjadi sumber motivasi dan fasilitas pelatihan yang inklusif bagi para atlet. Selain itu, kehadiran seorang psikolog olahraga dalam film ini menjadi elemen penting dalam memberikan perspektif mendalam mengenai kekuatan mental yang dimiliki para Psikolog tersebut memberikan analisis serta penjelasan mengenai bagaimana mereka membentuk ketahanan diri dan mengelola tekanan sosial yang muncul akibat stereotip atau prasangka yang masih berkembang di tengah masyarakat. Film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy mengadopsi pendekatan gaya narasi ekspositoris dan observasional dalam proses penulisan naskah. Narasi ekspositoris merupakan salah satu bentuk film dokumenter dimana alur cerita diperkuat dengan kehadiran voice over yang berfungsi sebagai voice of god yaitu narasi yang memberikan penjelasan langsung kepada audiens. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Dalam penyajiannya, film dokumenter ini tidak hanya mengandalkan kekuatan narasi verbal, tetapi juga memanfaatkan elemen visual seperti motion graphic yang berfungsi untuk memperkaya data dan informasi. Motion graphic ini berfungsi untuk mengilustrasikan informasi secara visual, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh audiens. Selain narasi ekspositoris, film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy juga menggabungkan pendekatan observasional. Gaya ini ditandai dengan perekaman aktivitas atlet disabilitas secara alami tanpa intervensi langsung dari eksternal, sehingga penonton dapat melihat latihan atlet disabilitas dengan lebih autentik. Ditambah dengan jawab narasumber yang menjawab wawancara secara langsung dan spontan tanpa script. Kombinasi dua pendekatan ini menjadikan AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy sebagai dokumenter yang tidak hanya menyajikan informasi terstruktur dan sistematis, tetapi juga mampu menghadirkan nuansa emosional dan kedekatan dengan subjek. Dengan visual yang didukung oleh motion graphic yang berisi data-data informatif dan penyusunan cerita secara kronologis, film ini mampu menggugah kesadaran sekaligus mengedukasi publik mengenai pentingnya pengakuan terhadap individu dengan disabilitas. Untuk menghasilkan karya film dokumenter yang baik dan informatif, penulis sebagai script writer terlibat langsung pada setiap tahapnya dari pra produksi, produksi, hingga pasca produksi. Setelah menentukan tema dan pembagian tugas, penulis melakukan riset lebih dalam untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari topik yang diangkat dan juga menentukan narasumber yang sesuai dengan topik. Hal penting yang perlu dilakukan penulis yaitu menentukan alur cerita secara keseluruhan. Tiga Struktur Narasi pada Film Dokumenter Dalam pembuatan film dokumenter, pengelolaan struktur penceritaan menjadi komponen fundamental yang berpengaruh besar pada efektivitas penyampaian pesan kepada audiens. Sebuah narasi yang terstruktur dengan baik tidak hanya membantu penonton memahami alur cerita, tetapi juga membangun keterikatan emosional terhadap Pada film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy, struktur penceritaan dirancang secara cermat, yaitu membagi cerita ke dalam tiga bagian utama: pendahuluan, perkembangan, dan penutup. Setiap segmen memiliki fungsi spesifik dalam mendukung kesinambungan cerita. pendahuluan berfungsi memperkenalkan latar belakang isu, perkembangan menggambarkan dinamika cerita melalui peristiwa-peristiwa nyata, sedangkan penutup menghadirkan resolusi atau solusi atas permasalahan yang diangkat. Penerapan struktur ini memberikan alur yang runtut, memperjelas fokus utama film, dan memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan dapat diterima secara efektif oleh penonton dari awal hingga akhir tayangan. Tiga struktur bagian tersebut diimplementasikan pada film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy sebagai berikut: Babak 1 (Set-u. Pada bagian awal film AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy, narasi difokuskan untuk membangun konteks serta memperkenalkan tema utama kepada audiens. Pendahuluan ini diawali dengan suara-suara dari pandangan khalayak umum kepada penyandang disabilitas. Kemudian, narasi dengan penggunaan teknik ekspositoris, yaitu melalui narasi voice-over yang memperkenalkan isu tentang perjuangan atlet disabilitas dalam melawan stigma sosial. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Narasi ini mengangkat fakta, olahraga menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap diskriminasi dan stereotip yang melekat pada atlet disabilitas. Kemudian juga untuk menonjolkan pendekatan ekspositoris, film dokumenter ini menggunakan motion graphic dalam menyajikan data penyandang disabilitas. Selanjutnya, menceritakan awal mula para atlet disabilitas memutuskan untuk menjadi seorang atlet. Tabel 1. Babak 1 Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Scene Scene 1 Visual Menampilkan fokus utama film dokumenter yaitu atlet disabilitas. Pada bagian ini menunjukkan terhadap atlet disabilitas. Naskah Voice Over a aku nggak tahu kalau mereka a a a a bisa ikut pertandingan Kayaknya mereka pasti sulit Emang ada atlet disabilitas yang bisa juara? Kayaknya mereka cuma dijadiin bahan inspirasi, deh. Apa mereka nggak takut cedera? Voice Over: Dalam olahraga, setiap langkah adalah perjuangan. Namun,bagi mereka, setiap langkah adalah bentuk perlawanan melawan batasan, melawan stigma, dan membuktikan bahwa semangat tidak ditentukan oleh kondisi fisik. Ini bukan sekadar tentang melampaui keterbatasan, tetapi juga menghadapi pandangan yang Mereka sering dianggap tak mampu, dipandang berbeda, dan terjebak dalam stigma yang melekat. Scene 2 Motion graphic dari jumlah penduduk di Indonesia kemudian diperkecil menjadi data jumlah populasi penyandang disabilitas banyak ditemukan di negara Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia, atau sekitar 8,5% dari total populasi. Namun, hanya sedikit dari mereka yang berhasil menembus dunia olahraga. Banyak yang masih beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bersaing di arena Terdapat wawancara narasumber olahraga. yaitu Ketua Umum NPCI Kab. Bandung mengenai visi misi dari NPCI Kab. Bandung. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Scene 3 Memperkenalkan motivasi mereka menjadi seorang Selain wawancara kepada pelatih. Wawancara narasumber atlet para renang AuYang membuat saya mendorong menjadi atlet itu karena keluarga, terus dorongan keluarga juga, hobi juga kan alhamdulillah bisa ke atletAy Wawancara narasumbe atlet para atletik AuAwalnya dari hobi lari terus ikut event bupati cup di NPCI Kabupaten BandungAy Wawancara narasumber atlet para atletik AuPertama-tama mengikut ajang Bupati Cup yang di selenggarakan di Kabupaten Bandung. Di mana setelah itu, alhamdulillah saya diambil oleh coach dari Kabupaten Bandung yaitu Coach Rini dan bisa masuk ke tim Jawa Barat juga atas rekomendasi Kabupaten Bandung untuk bertanding di Jawa Barat dan alhamdulillah saya bisa pentas di ajang nasionalAy. Wawancara narasumber pelatih atletik AuTantangan terbesar untuk melatih atlet yang disabilitas ini yang satu itu atlet yang Tunarungu atau yang tidak bisa bicara, tunawicara itu susah untuk Awalnya sih susah untuk komunikasi sama mereka cuma lama- Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 kelamaan saya belajar dari mereka. Saya ngeliatin mereka cara ngomong, cara Jadi alhamdulillah bisa. Yang kedua atlet yang tunagrahita itu sangat susah. Tunagrahita itu yang IQ nya kurang, yang berlebih juga kadang-kadang hiper, yang tahutahu nangis, tahu-tahu berontak sendiri itu paling susah. Satu lagi yang tunanetra itu butuh pendamping. Paling itu yang paling susah tuh, cuma kaya saya tuh ya senang aja. Jadi melihat mereka semangat kuat, motivasi Karena mereka semangatnya tinggi, luar biasaAy. Babak 2 (Confrontatio. Pada bagian perkembangan di film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy menunjukkan stigma sosial dan pandangan merendahkan dari masyarakat untuk para disabilitas, terutama seorang atlet. Selain itu juga memberikan informasi mengenai faktor yang menimbulkan stigma masyarakat terhadap atlet disabilitas di Indonesia yaitu karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang perbedaan dan kemampuan para penyandang disabilitas. Melalui wawancara dengan para atlet, ditampilkan bagaimana mereka harus berhadapan dengan komentar negatif, stigma sosial, dan pandangan merendahkan dari Dengan semua yang dihadapi tersebut, para atlet disabilitas menjadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan mereka lewat Babak ini juga menampilkan pandangan dari seorang psikolog olahraga, yang menekankan bahwa mental kuat para atlet tidak hadir secara instan. Ketangguhan mereka dibentuk oleh tekanan hidup, motivasi internal, serta dukungan sosial yang Penjelasan ini memperkaya pemahaman penonton bahwa perjuangan atlet disabilitas tidak semata soal fisik, tetapi juga soal daya juang mental yang luar biasa. Tabel 2. Babak 2 Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Scene Visual Naskah Scene 4 Menampilkan berita-berita yang disabilitas dan persepsi negatif Voice Over: Di Indonesia, atlet disabilitas masih menghadapi tantangan yang lebih besar dari sekadar kompetisi. Bukan hanya lawan di lapangan, tapi juga stigma di Pandangan Terhadap penyandang disabilitas tidak hanya berbeda, melainkan mereka juga dilihat sebagai sosok yang perlu Padahal, jika dilihat dari definisi mengenai disabilitas yang dinyatakan oleh WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia yaitu keadaan dimana penyandang memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas yang dianggap Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Scene 5 Masyarakat tidak hanya melihat penyandang disabilitas sebagai sosok yang berbeda, tetapi juga sebagai individu yang harus dikasihani. Padahal, menurut WHO, disabilitas hanyalah keterbatasan dalam aktivitas tertentu bukan ketidakmampuan. Namun, stigma yang melekat sering kali lebih membatasi mereka daripada kondisi fisik itu sendiri. Mereka tidak kurang. Mereka tidak Yang kurang adalah pengakuanA yang lemah adalah pandangan kita terhadap mereka. Atlet Wawancara narasumber atlet para pandangan atau stigma negatif dari AuKalau dari saya untuk menghadapi orang-orang yang begitu mungkin saya akan menunjukkan untuk lebih baik untuk bisa membuktikan kepada mereka bahwasanya bisa dan itu juga sebagai motivasi saya untuk bisa berkembang lebih baikAy. Wawancara narasumber atlet renang AuSaya akan menunjukkan bahwa saya Meskipun butuh waktu juga kan. Jadi mungkin mulai sekarang sampai nanti saya di para games, saya akan tunjukkan bahwa saya bisaAy. Menampilkan psikolog olahraga mengenai mental atlet disabilitas terhadap pandangan masyarakat untuk mereka. Wawancara narasumber psikolog AuPada dasarnya itu terbentuk dari perjalanan hidup mereka gitu. Seperti yang kita ketahui mereka merasa itu kan hal yang Aosaya kok berbeda ya dengan kebanyakan orangAo. Nah dari kecil pun, karena perbedaan itu mungkin itu yang membentuk mereka tuh terbiasa dengan pandangan orang, pertanyaan orang, atau mungkin olok-olok yaa. Karena ada beberapa juga yang melihat itu adalah kekurangan gitu. Itu yang membuat mereka itu bisa bertahan dan survive. Itu menjadi mereka motivasi untuk bisa bertahan dan malah itu menjadi sumber kekuatan mereka untuk membuktikan diri. Penerimaan keluarga terhadap kondisi Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Scene 6 Peran psikolog untuk membantu mental atlet disabilitas. fisik mereka, itu membuat mereka juga Mental kuat ini tidak terbentuk dalam semalam. Setiap atlet telah melewati perjalanan panjang, menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Mereka bukan hanya berlatih untuk menang, tetapi juga untuk membuktikan bahwa Bahwa keterbatasan yang orang lihat, ada ketangguhan yang tidak bisa diremehkan. Bukan stigma yang menentukan langkah mereka, melainkan keyakinan bahwa mereka mampu. Ay Wawancara narasumber psikolog AuPada saat mereka tanding itu kekuatan terbesar itu adalah mental psikologis. Jadi mereka udah ga mikir lagi Aowah saya harus gimana ya, tekniknya seperti apaAo engga, lebih ke mental. Kalau saya sih biasanya mengingatkan mereka bahwa kita adalah kebiasaan kita. Kalau mereka terbiasa berlatih dengan baik, maka hasilnya juga akan baik gitu. Pencapaianpencapaian selama latihan itu akan membuat mereka lebih percaya diri dan mereka merasa mereka juga mampu Membuat mereka nyaman, sehingga mereka tidak meragukan diri sendiri tapi mereka fokus terhadap apa sih yang sebenarnya saat itu sedang dihadapi. Here and now. Ay Babak 3 (Resolutio. Babak ketiga dari film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy merupakan sebuah resolusi berupa pembuktian diri para atlet disabilitas lewat prestasi nyata yang berhasil mereka capai, di tengah bayang-bayang stigma yang selama ini mengiringi langkah mereka. Momentum ini diperkuat dengan penyajian motion graphic mengenai perolehan medali dari berbagai daerah, di mana Jawa Barat berhasil menempati posisi kedua dalam klasemen lima besar. Data ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan, tetapi juga menjadi penegasan bahwa atlet disabilitas mampu bersaing dan menorehkan kebanggaan yang setara dengan atlet lain. Babak ini juga memberikan ruang bagi para atlet untuk menyuarakan harapan dan cita-cita mereka sebagai bagian dari masa depan dunia olahraga. Penutupan film diiringi dengan voice over bahwa para atlet disabilitas di Indonesia masih terus menghadapi berbagai batasan. Pesan ini memperkuat makna bahwa dunia olahraga mengingatkan bahwa olahraga merupakan ruang yang sama untuk semua orang. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Tabel 3. Babak 3 Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Scene Scene 7 Visual Menampilkan prestasi atlet Naskah Wawancara narasumber atlet para AuKemarin alhamdulillah dari Perpanas mungkin mendapatkan dua medali, medali perak dari sprint dan estafet dan mendapatkan perunggu dari lompat jauhAy Memperlihat data perolahan medali dari peringkat lima provinsi di Perpanas 2024 Scene 8 Wawancara narasumber pelatih renang AuMakin banyak atlet disabilitas untuk meraih prestasi di ajang internasional baik di Sea Games. Asian Games, maupun OlympicAy. Voice Over: Perjalanan para atlet disabilitas di Indonesia mencerminkan upaya nyata dalam melampaui keterbatasan sistem dan sosial. Dengan pembinaan yang tepat, akses yang setara, serta perubahan cara pandang, mereka dapat terus berkarya dan berprestasi. Olahraga adalah ruang yang sama untuk semua, tanpa kecuali. Penggabungan Narasi Ekspositoris Dengan Gaya Observasional Dalam karya dokumenter berjudul "Breaking Boundaries", penulis menerapkan kombinasi antara narasi ekspositoris dan observasional. Narasi ekspositoris dapat ditandai dengan penggunaan narator sebagai elemen kunci yang berfungsi untuk menyampaikan informasi secara sistematis, jelas, dan terstruktur kepada audiens. Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Gaya ini bersifat argumentatif dan informatif, serta seringkali menggunakan voice over yang tidak terlihat dalam visual, sehingga narator tampil sebagai sosok Auserba tahuAy . mniscient narrato. Narasi ekspositoris bertujuan untuk membangun pemahaman penonton terhadap isu yang diangkat. Di sisi lain, unsur observasional diterapkan melalui pengambilan gambar aktivitas nyata para atlet disabilitas dalam kesehariannya tanpa banyak intervensi, sehingga menghasilkan visual yang lebih otentik dan alami. Kombinasi kedua ini dipilih untuk menciptakan keseimbangan antara penyampaian fakta yang informatif dan penyajian emosi yang mampu membangun kedekatan antara audiens dan subjek film. Tabel 4. Penggunaan Narasi Ekspositoris pada Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Scene Scene 1 Scene 2 Footage Atlet disabilitas yang sedang berlatih di kolam renang dan lintasan atletik pajajaran Motion graphic data penyandang disabilitas di Indonesia. Audio Voice over dari khalayak umum tentang atlet Contoh: C aku nggak tahu kalau mereka bisa ikut pertandingan C Kayaknya mereka pasti sulit menang. C Emang ada atlet disabilitas yang bisa C Bukannya lebih baik fokus di bidang lain aja? C Kayaknya mereka cuma dijadiin bahan inspirasi, deh. C Apa mereka nggak takut cedera? Voicer Over Narator: AuDalam dunia olahraga, setiap langkah adalah perjuangan. Namun, bagi mereka, setiap langkah adalah bentuk perlawanan, melawan batasan, melawan stigma, dan membuktikan bahwa semangat tidak ditentukan oleh kondisi fisik. Ini bukan sekadar tentang melampaui keterbatasan, tetapi juga menghadapi pandangan yang Mereka sering dianggap tak mampu, dipandang berbeda, dan terjebak dalam stigma yang melekatAy Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia, atau sekitar 8,5% dari total populasi. Namun, hanya sedikit dari mereka yang berhasil menembus dunia olahraga. Banyak yang masih beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bersaing di arena Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 Dalam produksi film dokumenter "Breaking Boundaries: Ruang Yang Sama", penulis menerapkan pendekatan gabungan antara ekspositoris dan observasional untuk membangun narasi yang informatif sekaligus autentik. Pada saat wawancara dengan subjek, dalam hal ini atlet disabilitas. Penulis membiarkan percakapan mengalir secara alami untuk menangkap ekspresi emosional, perasaan, dan pandangan pribadi yang lebih autentik, tanpa adanya intervensi berlebihan dari script yang telah disusun. Meskipun demikian, jalannya wawancara tetap diarahkan secara halus agar tetap berada dalam kerangka alur dan konsep besar yang telah dirancang sebelumnya. Penggunaan gaya observasional bertujuan untuk menciptakan kesan realistis bahwa subjek film tidak sedang berada dalam agenda atau kegiatan khusus yang dibuat untuk keperluan dokumentasi, melainkan benar-benar menunjukkan realitas hidup mereka. Dengan demikian, film dapat menyampaikan kejujuran emosional serta mempererat hubungan antara penonton dan cerita yang dihadirkan. Tabel 5. Penggunaan Gaya Observasional pada Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Scene Footage Audio Scene 3 Menampilkan wawancara atlet disabilitas dan pelatih di selingi dengan atlet disabilitas yang sedang berlatih dan berinteraksi dengan pelatihnya Pertanyaan untuk atlet disabilitas: Apa yang mendorong menjadi seorang atlet? Scene 5 Menampilkan wawancara atlet disabilitas dan psikolog olahraga. Kemudian sesi latihan para atlet Pertanyaan untuk pelatih: Apa tantangan terbesar dalam melatih seorang atlet disabilitas? Pertanyaan untuk atlet: Bagaimana cara Anda menghadapi komentar atau perlakuan yang kurang mendukung? Pertanyaan untuk psikolog olahraga: Mengapa atlet disabilitas dapat memiliki mental yang kuat meskipun menghadapi stigma negatif dari masyarakat? Voice Over: Mental kuat ini tidak terbentuk dalam Setiap atlet telah melewati perjalanan panjang, menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Mereka bukan hanya berlatih untuk menang, tetapi juga untuk membuktikan bahwa mereka layak dihargai, layak diperhitungkan. Bahwa di balik keterbatasan yang orang lihat, ada ketangguhan yang tidak bisa diremehkan. Bukan stigma yang menentukan langkah mereka, melainkan keyakinan bahwa mereka KESIMPULAN Selama menjalani proses pembuatan film dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy dari tahap pra produksi, produksi, hingga pasca produksi, penulis mendapatkan Penulisan Naskah Film Dokumenter AuBreaking Boundaries: Ruang yang SamaAy Dengan Penerapan Narasi Ekspositoris dan Gaya Observasional CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 238-254 pengalaman berharga dan pembelajaran baru. Dari keseluruhan proses, penulis menyadari bahwa kepekaan terhadap data dan penyusunan alur yang sistematis adalah elemen kunci dalam menghasilkan naskah dokumenter yang berkualitas. Berdasarkan seluruh pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa poin utama sebagai berikut: Penerapan gaya narasi ekspositoris dalam film dokumenter "Breaking Boundaries: Ruang yang Sama" disusun secara runtut dan sistematis. Pada tahap pembukaan terdapat awal cerita, perkenalan NPCI Kabupaten Bandung dan menyajikan data yang dikemas dengan motion graphic terkait jumlah penyandang disabilitas di Indonesia. Selain itu, pada bagian penutup juga memperlihatkan bagaimana prestasi dan ketangguhan para atlet disabilitas Kabupaten Bandung menjadi jawaban atas stigma Selain itu, menegaskan pesan film bahwa kemampuan, keberanian, dan tekad tidak dibatasi oleh disabilitas. Narasi voice-over berperan penting dalam menyampaikan latar belakang, tantangan, hingga pencapaian para atlet disabilitas secara jelas dan informatif, sehingga memudahkan audiens memahami konteks cerita. Gabungan antara narasi ekspositoris dan gaya observasional membuat film ini tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga mampu membangun keterhubungan emosional dengan penonton melalui visual yang jujur dan narasi yang menggugah. Pada bagian kedua atau tahap perkembangan, dimana terdapat observasional yaitu saat latihan para atlet disabilitas dan menampilkan wawancara dengan atlet, pelatih, dan psikolog olahraga mengenai tantangan fisik, mental, dan sosial yang dihadapi DAFTAR PUSTAKA