SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Kelompok Bidang: Ekowisata dan Jasa Lingkungan, Sosek Kehutanan, Pemanfaatan SIG & Remote Sensing, Hasil Hutan Bukan Kayu dan Teknologi Kehutanan Karakteristik dan Produksi Walet Sarang Putih (Collocalia fuciphaga) dari Hasil Budidaya Walet di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang Oleh M. Daud *1, Hikmah 2, Alamsyah3 Program Studi Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Makassar muhdaud@unismuh.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan produksi sarang walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) dari hasil budidaya di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Jenis data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui teknik oberservasi, wawancara, survey, dan dokumentasi. Data sekundar diperoleh dari literature, buku , dan laporan penelitian. Penelitian ini dilakukan selama satu musim produksi pada dua unit penangkaran/budidaya walet dengan umur penangkaran 3 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik dan produksi sarang pada kedua penangkar berbeda. Pada penangkar pertama diperoleh bentuk sarang walet pada umumnya seperti mangkok dibelah dua, ukuran panjang 7 – 9.5 cm, lebar 2.8 – 3.8 cm, tinggi 1.2 – 2.1 cm dan berat 5 – 10 gram,warna putih, bening, kristal dan kondisi utuh, tidak retak, dan tidak cacat sehingga termasuk kualitas 1, produksi sarang 0,46-0,62 kg dengan frekuensi panen 3-4 kali per tahun,. Penangkar kedua diperoleh bentuk sarang walet 62,5% seperti mangkok dibelah dua dan 37,5% berbentuk menyudut (segitiga), ukuran panjang sarang bentuk mangkok dibelah dua 6 – 9 cm, lebar 2.9 – 4.0 cm, tinggi 1.4 – 3,0 cm dan berat 5 – 11 gram, warna putih, bening, kristal dan putih kekuningan, kondisi utuh, tidak retak, dan tidak cacat, sehingga termasuk Kualitas 1-2, produksi sarang 0,55-0,77 kg dengan frekuensi panen 4-5 kali per tahun. Kata Kunci: Collocalia fuciphaga, karakteristik, sarang walet ABSTRACT This study aims to determine the characteristics and production of white-nest swiftlet nest (Collocalia fuciphaga) from cultivation in Binanga Karaeng Village, Lembang District, Pinrang Regency. The types of data collected are primary data and secondary data. Primary data were collected through observation, interview, survey, and documentation techniques. Secondary data obtained from literature, books, and research reports. This study was conducted during one production season in two breeding units with a captive age of 3 years. The results showed that the characteristics and production of nests in the two breeders were different. In the first breeder, the shape of the swiftlet's nest is generally like a bowl cut in half, the length is 7 – 9.5 cm, the width is 2.8 – 3.8 cm, the height is 1.2 – 2.1 cm and the weight is 5 – 10 grams, the color is white, clear, crystal and intact condition, no cracked, and not defective so that it includes quality 1, nest production 0.460.62 kg with a harvest frequency of 3-4 times per year. The second breeder obtained the shape of a swiftlet 's nest 62.5% like a bowl halved and 37.5% angular (triangular), the length of the bowl-shaped nest is halved 69 cm, Width 2.9 - 4.0 cm, height 1.4 - 3.0 cm and weight 5 – 11 grams, white, clear, crystalline and yellowish white, intact condition, not cracked, and not deformed, so that it includes 1-2 quality, nest production 0.550.77 kg with harvest frequency 4-5 times per year Keywords: Collocalia fuciphaga, characteristic, swiftlet nest 185 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 PENDAHULUAN Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidayanya kecuali kayu yang berasal dari hutan. HHBK menjadi salah satu komponen yang penting bagi kehidupan sebagian besar masyarakat karena menjadi salah satu sumber daya yang penting dibandingkan dengan kayu. Salah hasil hutan bukan kayu hewani yang memiliki nilai komersial yang tinggi adalah burung walet. Walet adalah burung penghasil sarang yang memiliki harga sangat mahal. Sarang tersebut terbentuk dari air liur burung walet. Burung walet terdiri atas 24 spesies yang terdapat diseluruh dunia. Terdapat tiga spesies burung walet yang dalam hal ini dapat dikonsumsi sebagai makanan dan memiliki nilai ekonomi tinggi yaitu: Collocalia fuciphaga, Collocalia esculenta dan Collocalia maxima (Budiman, 2002). Sarang wurung walet merupan salah satu makan terkenal dan termahal di dunia (Syahrantau, dan Yandrizal (2018). Sarang walet digunakan sebagai obat tradisional sejak Dinasti Tang (618-907 M) dan Dinasti Sung (960-1279 M) di Cina. Selain itu sarang walet merupakan simbol kekuasaan, kewibawaan dan kekayaan (Koon dan Cranbook, 2002). Permintaan sarang burung sangat tinggi sehingga menyebabkan harga sarang burung walet mahal. Sarang burung walet dipercaya sebagai obat kuat, obat awet muda dan obat berbagai penyakit (Saepudin, 2006) Mayoritas dari spesies burung walet yang diburu dan dibudidayakan untuk menhasilkan sarang burung walet adalah spesies Collocalia fuciphaga sebagai penghasil sarang putih (Suriya et al., 2004). Collocalia fuciphaga adalah salah satu spesies dari burung walet yang banyak dicari dan banyak dibudidayakan karena spesies ini bersarang putih dan memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Collocalia fuciphaga merupakan spesies yang ditemukan di Cina Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dimana Indonesia merupakan salah satu negara dengan penghasil sarang burung walet terbesar di dunia. Usaha budidaya sarang walet di Indonesia sudah dilakukan sejak abad ke-18. Kemudian budidaya ini telah banyak dikembangkan di luar habitat aslinya, seperti dilakukan pada rumah burung walet. Salah satu daerah di Indonesia yang banyak melakukan usaha budidaya (penangkaran) walet sarang putih di dalam gedung adalah di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Daerah ini terletak di dekat pantai, serta dikelilingi oleh pegunungan dan hamparan persawahan sehingga menjadi daerah yang cocok untuk burung walet dalam beraktivitas mencari pakan. Tempat penangkaran walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) di daerah tersebut telah memproduksi sarang burung walet dan telah dikomersilkan. Meskipun demikian, karakteristik dan produksi sarang burung walet sarang putih di daerah tersebut belum perna dikaji. Padahal, harga sarang burung walet di pasar sangat tergantung pada karakteristik sarang burung walet yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu penelitian tentang karakteristik dan produksi walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) dari hasil budidaya walet di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. 186 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital, jangka sorong (califfer), pita meter, kompas, GPS, kalkulator dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan dalam Metode Pengumpulan Data Observasi Metode observasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui secara langsung keseluruhan kegiatan masyarakat yang bekerja di sektor usaha budidaya burung walet di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Observasi digunakan dalam rangka mencari data awal tentang daerah penelitian yang mendukung untuk mendapatkan gambaran awal dari lokasi yang dimaksud. Observsi juga dilakukan guna memperoleh data tentang kondisi fisik daerah penelitian. Wawancara Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara Tanya jawab yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstuktur, yaitu dilakukan dengan pedoman wawancara untuk mendapakan data informasi secara lengkap dan akurat sesuai tujuan penelitian. Dokumentasi Dokumentasi adalah metode untuk mencari data yang diperoleh berupa dokumen peta di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. sehingga dapat diketahui kondisi fisik daerah penelitian, jumlah pengusaha budidaya burung walet, serta data-data lain yang berhubungan dengan penelitian. Survey Survey dilakukan dengan pencatatan karakteristik sarang walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) yang meliputi bentuk sarang, berat sarang, warna sarang, tebal sarang, tinggi sarang, dan lebar sarang serta produksi sarang walet sarang putih di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan langkah-langkah melakukan representasi objekif tentang gejala-gejala yang terdapat dalam masalah yang diselidiki. Seluruh data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan, diolah dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Tabel frekuensi disusun khusus untuk membandingkan variabel satu dengan yang lain, terutama untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan. Pembuatan tabel frekuensi 187 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 dilakukan dengan cara tabulasi langsung. Data-data tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di lapangan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteritik Sarang Walet Sarang walet sarang putih dihasilkan oleh walet Collocalia fuciphaga yang berasal dari rumah (gedung) walet Penangkar 1 (Pak Ullah Said) dan Penangkar 2 (Pak Muh. Nur Mullu) di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Sarang walet ini merupakan sarang yang seluruhnya terbuat dari air liur (saliva) walet meskipun kadang terdapat sedikit campuran bulu-bulu halus. Karakteristik sarang walet sarang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Sarang Burung Walet No. Karakteristik 1 Bentuk 2 Ukuran Panjang Lebar Tinggi Berat 3 Warna Putih, bening, kristal 4 Kondisi Utuh, tidak retak, dan tidak cacat Nama Penangkar Penangkar 1 Seperti mangkok dibelah dua : 7 – 9.5 cm : 2.8 – 3.8 cm : 1.2 – 2.1 cm : 5 – 10 gram Penangkar 2 - Sudut (berbentuk segitiga) - Seperti mangkok dibelah dua - Sudut (berbentuk segitiga) Panjang : 6 – 9 cm Lebar : 2.9 – 4 cm Tinggi : 1.4 – 3 cm Berat : 5 – 11 gram - Seperti mangkok dibelah dua Panjang : 7.2 – 9.3 cm Lebar : 2.6 – 3.4 cm Tinggi : 1.3 – 2.3 cm Berat : 4 – 14 gram - Putih sedikit kekuningan (bentuk sudut) - Putih, bening, kristal (bentuk mangkok dibelah dua) Utuh, tidak retak, dan tidak cacat Bentuk Sarang Walet Berdasarkan hasil pengamatan pada Penangkar 1, bentuk sarang yang dihasilkan adalah berbentuk seperti mangkok dibelah dua. Hal ini disebabkan oleh sistem pemasangan sirip yang membujur atau melintang dengan jarak pasang antarsirip sekitar > 20 cm sehingga menghasilkan bentuk sarang normal, yaitu seperti mangkok dibelah dua sehingga sarang yang dihasilkan adalah sangat berkualitas. Sedangkan hasil pengamatan pada Penangkar 2 terdapat dua bentuk sarang yang dihasilkan yaitu bentuk sarang sudut (berbentuk segitiga) dan seperti mangkok dibelah dua. Hal ini disebabkan oleh pemasangan sirip sistem kotak-kotak dan lokasi sarang yang terletak disudut sirip sehingga menghasilkan bentuk sarang sudut (berbentuk segitiga) dan sarang yang dihasilkan ini adalah kurang berkualitas. Serta sistem pemasangan sirip yang melintang dengan jarak pasang antarsirip sekitar 30 cm sehingga menghasilkan bentuk sarang seperti mangkok dibelah dua dan sarang yang dihasilkan adalah sangat berkualitas. 188 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Ukuran Sarang Walet Hasil pengukuran dan pengamatan terhadap sarang walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) dengan bentuk sarang seperti mangkok dibelah dua pada Penangkar 1 diperoleh rata-rata, yaitu panjang sarang 7 – 9,5 cm, lebar sarang 2,8 – 3,8 cm, tinggi sarang 1,2 – 2,1 cm, dan berat sarang 5 – 10 gram. Sedangkan hasil pengukuran dan pengamatan sarang pada Penangkar 2, diperoleh panjang sarang 7,2 – 9,3 cm, lebar sarang 2,6 – 3,4 cm, tinggi sarang 1,3 – 2,3 cm, dan berat sarang 4 – 14 gram. Warna Sarang Walet Berdasarkan hasil pengamatan terhadap warna sarang pada Penangkar 1 diperoleh hasil bahwa sarang berwarna putih, bening, kristal dengan terdapat sedikit campuran bulu-bulu halus. Hal ini disebabkan oleh cara pengelolaannya di gedung walet dilakukan dengan baik sehingga sarang yang dihasilkan menjadi berwarna putih, bening, kristal. Sedangkan hasil pengamatan terhadap warna sarang pada Penangkar 2 diperoleh hasil bahwa sarang berwarna putih sedikit kekuningan dengan terdapat sedikit campuran bulu-bulu halus. Hal ini sebabkan oleh pengaruh cuaca panas dan kondisi sarang yang lembab. Kondisi Sarang Walet Berdasarkan hasil pengamatan pada kedua penangkar dapat diketahui bahwa kondisi sarang yang dihasilkan adalah bentuknya utuh, tidak retak, dan tidak cacat. Kondisi sarang yang utuh dan tidak retak sangat dipengaruhi oleh teknik pengambilan dan keterampilan yang dimiliki oleh penangkar. Walet sarang putih menghasilkan sarang berwarna putih, berbentuk cawan, yang terbuat dari cairan air liur yang mengeras. Sarang ini merupakan sarang yang paling mahal dibandingkan dengan sarang dari jenis lainnya. Meskipun sarang pada dasarnya berwarna putih, warna sarang dapat bervariasi dari putih, kuning, merah jambu hingga merah. Kondisi iklim mikro di dalam gua dan rumah walet diduga berperan penting dalam pewarnaan sarang Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan walet dan karakteristik sarang walet adalah suhu, kelembaban, cahaya, dan keamanan (Budiman, 2002). Walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) merupakan burung yang menggunakan air liurnya untuk membuat sarang. Karakteristik sarang yang dihasilkan bervariasi. Sarang tersebut merupakan sarang yang dapat dimakan. Komposisi utama sarang walet genus Collocalia Indonesia dan Malaysia antara lain protein (62-63%), karbohidrat (25,62-27,26), lemak (0,141,28%) dan abu (2,1%) (Marcone, 2005). Produksi Sarang Walet Produksi sarang walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) pada kedua penangkar di Desa Binanga Karaeng Kecamatan Lembang Kabupaten Prinrang diperoleh data langsung dari tempat penangkaran walet sarang putih, diuraikan pada Tabel 2. 189 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Tabel 2. Produksi Sarang Walet No. 1 Produksi Sarang Walet Sarang Putih (Collocalia Fuciphaga) Jumlah sarang satu kali panen Nama Penangkar Penangkar 1 55-110 sarang 2 Produksi sarang walet ratarata Satu Kali panen 0,55 kg 3 Pemasaran 4 Frekuensi Panen Dijual langsung ke pengepul sarang walet 4-5 kali per Tahun Penangkar 2 - Bentuk sudut 26-58 sarang - Bentuk mangkok 34-120 sarang 0,77 kg Dijual langsung ke pengepul sarang walet 4-5 kali per Tahun Jumlah Sarang Walet Jumlah sarang yang dipanen dalam satu kali panen pada Penangkar 1 adalah 55-110 sarang. Sedangkan pada Penangkar 2 adalah 26-58 sarang (bentuk sudut) dan 34-120 sarang (bentuk mangkok). Produksi sarang walet satu kali panen pda Penangkar 1 adalah 0,55 kg sedangkan pada Penangkar 2 adal 0,77 kg. Produktivitas sarang Burung Walet dipengaruhi oleh habitat mikro. Produksi sarang burung walet berkisar antara 18,311 22,647 gram / m2 per periode (Ayuti, et.al., 2016). Dalam usaha budidaya walet pola pemanenan haruslah diperhatikan, pemanenan sarang walet sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat. Frekuensi panen sarang burung walet pada pada kedua penangkar adalah 4-5 kali dalam setahun. Frekuensi pemanenan juga ada batasnya dan disesuaikan dengan kondisi walet dan musim. Ada beberapa waktu frekuensi panen sarang walet yaitu panen 4 kali dalam setahun, panen 3 kali dalam setahun dan panen 2 kali dalam setahun (William, 2011). Pemasaran Sarang Walet Sistem pemasaran yang dilakukan oleh kedua relative sama adalah dengan menjual langsung kepada pengepul sarang walet. Pengepul tersebut yang mendatangi langsung tempat budidaya sehingga pemilik tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk mengantarnya langsung kepada pengepul tersebut. Harga sarang walet milik penangkar dihargai dengan sangat mahal karena sarang walet yang dihasilkan sangat berkualitas yaitu bentuk seperti mangkok dibelah dua. Tabel 3. Harga Sarang Walet Berdasarkan Kualitas Bentuk Sarang No. Jenis Kualitas Bentuk Sarang Harga (Kg) 1. Kualitas 1 Seperti mangkok dibelah dua Rp. 13.000.000,00 2. Kualitas 2 Sudut (berbentuk segitiga) Rp. 9.000.000,00 Harga sarang walet ditentukan oleh kualitas sarang burung walet harga sarang burung walet kualitas satu (bentuk seperti mangkok dibelah dua) adalah Rp.13.000.000,-/kg sedangkan kualitas dua (bentuk menyudut) adalah Rp.9.000.000,-/kg. Harga tersebut sewaktu-waktu dapat berubah. Hal tersebut tergantung pada banyak sedikitnya jumlah permintaan dengan jumlah produksi sarang walet. Apabila jumlah permintaaan 190 SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 banyak sedangkan jumlah produksi sarang walet sedikit, maka harga sarang walet menjadi naik. Begitupun sebaliknya, apabila jumlah permintaan sedikit sedangkan jumlah produksi sarang walet banyak, maka hal ini menyebabkan harga sarang walet menjadi turun. KESIMPULAN Karakteristik dan produksi walet sarang putih (Collocalia fuciphaga) dari hasil budidaya walet di Desa Binanga Karaeng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang pada dua penangkar yang diteliti relatif berbeda. Pada Penangkar 1 diperoleh bentuk sarang walet pada umumnya seperti mangkok dibelah dua, ukuran panjang 7 – 9.5 cm, lebar 2.8 – 3.8 cm, tinggi 1.2 – 2.1 cm dan berat 5 – 10 gram, warna putih, bening, kristal dan kondisi utuh, tidak retak, dan tidak cacat sehingga termasuk kualitas 1, produksi sarang 0,46-0,62 kg dengan frekuensi panen 3-4 kali per tahun. Penangkar 2diperoleh bentuk sarang walet 62,5% seperti mangkok dibelah dua dan 37,5% berbentuk menyudut (segitiga), ukuran panjang sarang bentuk mangkok dibelah dua 6 – 9 cm, lebar 2.9 – 4.0 cm, tinggi 1.4 – 3,0 cm dan berat 5 – 11 gram, warna putih, bening, kristal dan putih kekuningan, kondisi utuh, tidak retak, dan tidak cacat, sehingga termasuk kualitas 1-2, produksi sarang 0,55-0,77 kg dengan frekuensi panen 4-5 kali per tahun DAFTAR PUSTAKA Ayuti, T., D.Garnida, I. Y. Asmara. 2016. Identifikasi Habitat Dan Produksi Sarang Burung Walet (Collocalia fuciphaga) Di Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Peternakan Unpad. 5 (4) : 1-13. Budiman. A. 2002. Pedoman Membangun Gedung Walet. Jakarta: Agro Media Pustaka. Koon, L.C. dan Cranbrook. 2002. Swiftlets of Borneo – Builders of Edible Nests.). Natural History Publication (Borneo) SDN. B.H.D. Sabah, Malaysia. 1-171 Marcone, M.F. 2005. Characterization of the Edible Bird’s Nest the ‘‘Caviar of the East’’. Food Research International. 38: 1125-1134 Saepudin, R. 2006. Studi Habitat Makro Burung Walet (Collocalia sp.) di Kota Bengkulu. Jurnal Sain Peternakan Indonesia 1 (1): 8-16 Suriya, R., Zunita, Z., Rosnina, Y., Fadzillah, A., dan Hassan, L., 2004, Preliminary in-vitro Study on Antibacterial Activity of Swiftlet Bird’s Nests, The Association Of Institutions For Tropical Veterinary Medicine, 1 (1) : 334-335 Syahrantau, G. dan M. Yandrizal. 2018. Analisis Usaha Sarang Burung Walet Dikelurahan Tembilahan Kota (Studi Kasus Usaha Sarang Burung Walet Pak Sutrisno). Jurnal Agribisnis Unisi. 7(1) : 74-85. William, D. 2011. Studi Komparasi Budidaya Burung Walet Di Kecamatan Singkawang Tengah Dan Kecamatan Singkawang Selatan. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. 191