PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Eksistensi Diri Perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger Melisa Mukaromah 1. Aan Supian 2. Rahmat Ramdhani 3. Ismail 4 Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu mukaromahmelisa@gmail. com, supian@mail. rahmatramdhani@mail. id, ismail@mail. Abstract: existence, in this case the author focuses the research on the perspective of Ibn Thufail and Martin Heidegger. The research objectives are: . Examining the concept of self-existence in the thinking of Ibn Thufail and Martin Heidegger. Describe and examine the factors that influenced the emergence of Ibn Thufail and Martin Heidegger's concept of self-existence. Examining, analyzing and interpreting the implementation of Ibn Thufail and Martin Heidegger's thoughts about self-existence towards the meaning and purpose of human life. This research uses library research methods using a philosophical approach. The results of this research include: . The concept of self-existence in Ibn Thufail's view is the ability to think about his existence, how he can be in this world and have divine consciousness and unity with nature as a form of selfexistence. Martin Heidegger stated that Dasein is self-existence. The meaning of Ada can have meaning only for those who question their own existence. Dasein is therefore Being-in-the-World, the existence-to-death as being towards an end and anxiety as Dasein's typical way of expression. The emergence of Ibn Thufail's concept of self-existence was due to the wave of Hellenism that entered the Islamic world, while Hidegger, namely Dehumination or Depersonalization. Ibn Thufail's thoughts on self-existence encourage humans to seek knowledge, find a balance between reason and revelation, increase self-awareness and live in harmony with nature. The implementation of Heidegger's thought involves a deep awareness of our position in the world, understanding the value of time and death, building sincere relationships with other people and remaining open to life's experiences. Keywords: Self-existence. Ibn Thufail. Martin Heidegger. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat menunjukkan eksistensi dirinya, dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Adapun tujuan penelitiannya adalah: . Mengkaji konsep eksistensi diri dalam pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Mendeskripsikan dan mengkaji faktor yang mempengaruhi munculnya pemikiran konsep eksitensi diri Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Menelaah, menganalisa serta memaknai implementasi pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger tentang eksitensi diri terhadap makna dan tujuan hidup manusia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasil penelitian ini meliputi: . Konsep eksistensi diri dalam pandangan Ibn Thufail adalah kemampuan dalam memikirkan keberadaanya, bagaimana ia bisa berada di dunia ini serta memiliki kesadaran ilahi serta kesatuan dengan alam sebagai wujud dari eksitensi diri. Martin Heidegger menyatakan bahwa Dasein sebagai eksistensi diri. Makna Ada bisa memiliki arti hanya bagi mereka yang mempertanyakan tentang keberadaannya sendiri. Karenanya Dasein merupakan Ada-di-dalam-Dunia, eksitensi keberadaan-untuk-kematian sebagai wujud menuju akhir dan kecemasan sebagai cara khas pengungkapan Dasein. Munculnya konsep eksitensi diri Ibn Thufail dikarenkan gelombang Hellenisme yang masuk ke dunia Islam. Sedangkan Hidegger. Yaitu Dehuminasi atau Depersonalisasi. Pemikiran Ibn Thufail tentang eksistensi diri mendorong manusia untuk mencari pengetahuan, menemukan keseimbangan antara akal dan wahyu, meningkatkan kesadaran diri dan hidup harmonis dengan alam. Adapun Implementasi pemikiran Heidegger melibatkan kesadaran mendalam tentang posisi kita di dunia, memahami nilai waktu dan kematian, membangun hubungan tulus dengan orang lain dan tetap terbuka terhadap pengalaman hidup. Kata kunci: Eksitensi diri. Ibn Thufail. Martin Heidegger. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Setelah Perang Dunia II, eksistensialisme berkembang di Perancis sebagai filsafat yang muncul. Pemikiran ini memiliki peran sebagai jalan keluar bagi korban perang yang terlihat. Eksistensialisme adalah cabang humanisme yang mulai menghilang sebagai akibat dari berakhirnya dunia kedua. Jika demikian, pemikiran eksistensialis adalah salah satu prinsip dasar perkembangan manusia sesuai dengan keadaan kehidupan yang sebenarnya. Pada intinya, kepercayaan ini menghantam orang di tempat yang menyakitkan: dalam diri mereka sendiri. Individualisme Secara umum, ia lahir sebagai ancaman bagi masyarakat yang telah menghancurkan individualitasnya. Hakikat pemikiran eksistensialis adalah penentuan nasib sendiri atas kehendak dan tindakan. Tujuan pemikiran eksistensialis adalah mengalihkan fokus materialisme dari manusia ke dunia di sekitarnya. Manusia dipandang sebagai benda . yang tidak memiliki Ia hanya memerintah manusia dari substratum . Sebab, ternyata manusia tidak hanya terbuat dari material halus. ia juga memiliki ruh atau jiwa dan akal, yang dapat dibedakan dari jenis benda lainnya. Landasan teori eksistensialis adalah gagasan bahwa setiap orang termasuk dalam populasi umum. Setiap orang benarbenar bertanggung jawab atas keberadaannya sendiri, baik itu mendefinisikannya atau sekadar mengakuinya. Dalam kerangka ini, setiap manusia . pada hakikatnya bertanggung jawab atas pengetahuan yang dimilikinya dan sejauh mana pengetahuan tersebut meresap ke dalam dirinya sendiri, yaitu bukti yang diandalkan oleh setiap Pada awalnya, manusia menyatakan keberadaannya di dalam dirinya sendiri dan kaitannya dengan keberadaan lainnya. Eksistensi sendiri berasal dari bahasa latin AuExistoAy yang terdiri dari AuexAy dan AusistoAy yang dalam bahasa Indonesia menjadi eksistensi . kata ex . dan sistence . ang berasal dari kata kerja sist. berdiri, menempatkan diri. 3 Peristiwa aktual yang terjadi dalam ruang dan waktu itulah yang kita maksud ketika kita berbicara tentang Eksistensi suatu benda yang ada di sini dan sekarang adalah apa yang ditunjuk oleh eksistensi. Eksistensi berarti bahwa seseorang terlihat ada atau hidup. Pada saat yang sama, hakikatnya adalah kebalikannya, yaitu sesuatu yang membedakan satu benda dari benda lain. Sebagai hakikat adalah esensi yang menjadikan apa adanya. Menempatkan diri pada posisi seorang hamba dapat dilihat dari dua sisi. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahaminya dengan melihat ke dalam. Hal ini ditemukan, misalnya, dalam rumpun Yunani Kuno. Filsuf Aristoteles mengatakan bahwa manusia hanyalah makhluk yang berpikir. Oleh karena itu, kecerdasan manusia dipandang sebagai sesuatu yang terkandung dalam kapasitas inherennya sebagai suatu petunjuk. Untuk mencapai aktualisasi diri, manusia harus mengembangkan kapasitas primer ini. Jadi, ketika seseorang menjadi mata yang curiga, maka ia telah mencapai aktualisasi diri dan pada akhirnya akan menjadi dirinya sendiri. Hal ini dapat dioptimalkan jika ada substansi Mengenal diri sendiri sebagai suatu substansi berarti Anda juga dikenal sebagai suatu potensi yang akan terwujud dalam realitas ketika dipadukan dengan potensi-potensi lainnya. Atau apa yang akan dilakukan bila kita Ghiyats. Pemikiran Martin Heidegger Tentang Eksistensialis Medan Pengejawantahan Metodologinya Dalam Pendidikan Islam, (Jurnal Teknologi Pendidikan. Vol. 11 No. 2, 2. , h. Ghiyats. Pemikiran Martin Heidegger Tentang Eksistensialis Medan Pengejawantahan Metodologinya Dalam Pendidikan Islam, h. Muzairi. Filsafat Eksistensialisme dan Lima Filosof, (Yogyakarta: FA PRESS, 2. , h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 meningkatkan substansi tersebut, seperti optimalisasi rasio. Prinsip utama teori eksistensialis adalah gagasan bahwa manusia adalah bagian dari spesies yang homogen. Di sisi lain, setiap eksistensi dipandang unik dan tidak dapat Manusia, menurut kepercayaan ini, adalah individu unik yang harus memeriksa dan memilih makna mereka sendiri dalam Hubungan lebih lanjut antara eksistensi individu dan konsep Dasein Heidegger adalah bahwa konsep ini menunjukkan bahwa manusia selalu ada di dunia bersama orang lain, tetapi mereka juga memiliki karakteristik yang unik. Terkait dengan keberadaan manusia, kita mungkin dituntun pada jalan hidup yang menyediakan sarana untuk memahami makna dan tujuan hidup individu. Bagaimana manusia dapat mencapai makna di dunia yang kompleks dan seringkali tidak dapat diprediksi? Eksistensialisme melalui individualisme, kebebasan, dan tanggung jawab. Eksistensialisme mendorong individu untuk berpikir, dapat memilih kesadaran dan secara aktivi menciptakan keterbatasan dan wawasan dengan keberanian dan kebebasan mutlak. Di antara para pemikir eksistensialis aliran Barat adalah Martin Heidegger. dianggap sebagai seorang eksistensialis yang mencakup semua fenomena hakikat manusia yang terjadi dalam hidupnya. Bagi kebanyakan orang, filsafat eksistensialis Heidegger lebih Hal ini terkait dengan keberadaan manusia di dunia, yang berarti bahwa mereka bertanggung jawab untuk memastikan keberadaan segala sesuatu di sekitar mereka. Bagi Heidegger, penjelasan dasar tentang Wujud adalah Sein und Zeit (Being and Tim. 5 Berikut ini adalah karakter utamanya Ivan Kristiono . Pemahaman Kierkegaard Tentang AoDiri'. Dalam Buku The Sickness Unto Death. VERBUM CHRISTI. Vol. No. 1, 2017, h. Bertens. Filsafat Barat Kontemporer , (Jakarta: Gramedia, 2. , h. yang mewujudkan konsep Dasein-nya. Dalam dan dari dirinya sendiri. Ada tidak bertepatan dengan waktu, menurut Heidegger. Tidak ada satu pun eksistensi yang dapat dipahami atau dimengerti terlepas dari kehadiran manusia. Karena itu, hermeneutika tidak lebih dari sekadar pengorbanan diri dari manusia itu Fakta di sini menunjukkan bahwa selalu ada waktu dan ruang. Apa yang dikenal sebagai Dasein oleh Martin Heidegger ini. Menurutnya, sama saja sekarang, dan pada saat sekarang, setiap orang berada dalam keadaan ketidakpastian tentang kemungkinan menjadikannya alternatif bagi manusia untuk tetap terjebak. Manusia menjadi penentu akan ada dalam konteks ruang dan waktu, dan ada senantiasa dimaksudkan dengan itu. Dalam karyanya. Martin Heidegger berfokus pada eksistensi sebagai dasein atau kehadiran individu yang selalu hadir di dunia bersama-sama. Dengan mengangkat kritik eksistensialis ke tingkat ontologis. Heidegger mempertanyakan hakikat kemanusiaan dan tujuan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas. Selain pemikiran eksistensialisme yang diungkapkan dari kalangan filosof Barat, maka dalam khazanah pemikiran filsafat dunia Islam juga mengungkapkan mengenai eksistensi dari manusia dan apa yang ada disekitarnya. Ibn Thufail sebagai salah satu filsuf muslim yang banyak menuangkan pemikiran filsafat dalam bukunya yang berjudul Hayy bin Yaqdzon. Dalam hal ini Ibn Thufail menyatakan bahwa diri manusia dapat bereksistensi dengan menggunakan potensi terbesar yang dimiliki yaitu akal rasional. Dalam sejarah literatur filosofis Islam, kisah Hayy ibn Yaqzan karya Ibnu Tufail telah menarik perhatian para pemikir dan peneliti. Kisah ini, yang mengisahkan perjalanan seorang anak yang tumbuh dan mengembangkan pemahaman dunia tanpa bimbingan agama atau pengaruh eksternal, menyentuh pada inti pertanyaan eksistensial yang mendasar. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi dan menganalisis elemen-elemen eksistensi diri PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 yang muncul dalam perjalanan hidup karakter utama. Hayy ibn Yaqzan. Dalam keyakinan Ibnu Thufail yang ditelusuri Hayy bin Yaqzhan, dijelaskan bahwa di bawah permukaan terdapat puncak dan lembah, serta materi padat, gelap, dan tak kasat mata. Ia mengatakan demikian karena yang pertama adalah terciptanya dunia. Kemudian ia melekatkan diri kepada orang atau benda yang digunakan untuk menimba Selanjutnya, arah penulisan menjadi tantangan bagi dirinya sendiri. Akhirnya, ia unsur-unsur substansi pertama, serta sumber-sumbernya, individu pula harus memiliki satu sumber yang serupa, beliau berkata dengan mencermati gerakan air serta membersihkan sumbernya pada sumber air Eksistensialisme kebebasan, dan tanggung jawab pribadi, memberikan kerangka kerja yang relevan untuk memahami perjalanan Hayy dalam mencari makna dan tujuan hidupnya. Dengan latar belakang ini, tesis ini akan menyelidiki bagaimana Hayy ibn Yaqzan mengeksplorasi konsep eksistensialisme melalui pengalaman hidupnya di pulau terpencil yang terisolasi. Manfaat bagi kehidupan seseorang dapat diperoleh dari aktualisasi diri, yang merupakan sifat yang dimiliki setiap manusia. Ada banyak penafsiran tentang perilaku Manusia memiliki kemampuan untuk membentuk dirinya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Manusia harus terus-menerus terlibat dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kaitannya dengan kehidupannya sendiri. Oleh karena itu, manusia perlu mengakui bahwa kematian dapat mengakhiri hidupnya. Situasi seperti ini Abdul Fatah. Fajar Gemilang Filsafat Islam, (Malang: Misykat, 2. , h. pun dapat mengakui bahwa kemampuan manusia tidak ada. Persoalan pokok yang hendak dijawab dalam riset ini melibatkan pemahaman Hayy menghadapi kesendirian, mencari kebenaran tanpa panduan eksternal, dan mengembangkan pemahaman eksistensial yang khas melalui pengalaman hidupnya. Analisis terhadap adegan-adegan kunci dalam kisah ini akan diarahkan untuk mengidentifikasi elemenelemen eksistensialisme, seperti kebebasan individu, tanggung jawab pribadi, pencarian makna dan tujuan hidup. Selain itu juga untuk menjawab bagaimana eksistensi diri perspektif Martin Heidegger melalui karya terbesarnya yang mengulas konsep keberadaan manusia atau dasein. Perbedaan antara pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger mengenai eksitensi diri terlihat dari konteks budaya dan juga historis mereka yang berbeda dimana mereka berkembang. Namunn Ibn Thufail dan Martin Heidegger juga memiliki beberapa persamaan dalam pemikiran mengenai eksitensi diri, diantaranya adalah sama-sama menekankan pada pengalaman pribadi untuk menunjukkan eksitensi individu seseorang. Ibn Tufail menggunakan agama sebagai bagian dari pencarian eksistensial Hayy untuk mencapai pemahaman tentang Tuhan dan makna hidup melalui refleksi filosofis dan spiritual. Sedangkan Martin Heidegger membahas eksistensi diri dari perspektif ontologis, dengan fokus pada pencarian makna dalam konteks temporer dan keterbatasan. Agama tidak menjadi pusat pembahasan, tetapi dapat dilihat sebagai salah satu respons terhadap kecemasan eksistensial yang dijelaskan Heidegger. Bertens. Fenomenologi Eksistensial, (Jakarta: Gramedia, 1. , h. Gutas. Dimitri. The Intellectual Context of Ibn TufaylAos Hayy ibn Yaqzan, (Philosophical Studies 37. No. 1, 2. , h. Caputo. John D. Heidegger and the Language of Theology, (The Journal of Religion 75. No. 1, 1. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dan menganalisa lebih jauh serta menggali lebih jauh guna mendapatkan gambaran utuh tentang keberadaan diri dari sudut pandang filsafat barat Martin Hedegger dan dari sudut pandang filsafat Islam Ibnu Thufail dalam karyanya yang berjudul Hayy bin Yaqdzan. Rumusan Masalah Bagaimana Eksistensi Diri Perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger?. Tujuan Penelitian Untuk mendeskripsikan Eksistensi Diri Perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Metode penelitian Penelitian ini memanfaatkan penelitian (Library Researc. , penelitian yang bertujuan untuk mengungkap materi yang relevan dari buku-buku, jurnal, atau tulisan lain yang berkaitan dengan topik yang sedang dibahas. Dalam menggunakan pendekatan penelitian filosofis. Kata filsuf berasal dari kata Yunani filsafat, philoshopia, yang terdiri dari dua kata, yaitu philos . atau philia . ersahabatan, mina. , dan shopia . ebijaksanaan, kehatihatian, pengalaman praktis, kecerdasa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, yaitu metode untuk menarik kesimpulan yang akurat dari suatu data berdasarkan konteksnya. Setelah mengumpulkan semua data, penulis akan menganalisis informasi untuk mencapai suatu Disini peneliti menggunakan strategi membaca, pengumpulan data, dan inventarisasi sebelum melakukan analisis teks untuk memperoleh temuan yang akurat dan Pembahasan Deskripsi Biografi Ibn Thufail dan Martin Heidegger Riwayat Hidup Ibn Thufail Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad Abdul Malik Muhammad bin Thufail al-Qaisi alAndalusi, dan ia dikenal dengan nama Ibnu Thufail. Tahun kelahirannya adalah 506 H/1110 M, dan ia lahir di Cadix, provinsi Granada. Spanyol. Salah satu anggota Qais, orang-orang Arab terpelajar, adalah Ibnu Thufail. Dalam bahasa Latin. Ibnu Thufail dikenal sebagai Abu Bacer. Sebagai seorang ulama terkemuka. Ibnu Thufail dikenal karena menyampaikan ajaran Islam dalam bentuk khotbah yang sangat instruktif. Sebagai seorang ulama Qais. Ibnu Thufail memiliki akses mudah ke fasilitas pendidikan yang sangat baik. Selain itu, ia senang belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, yang dapat ia terapkan di banyak bidang. Karena kedudukannya yang tinggi di pemerintahan. Ibnu Thufail tidak terlalu produktif dalam dunia sastra. Akan tetapi. Berdasarkan karya Ibnu Rusyd, yang menjadi murid Ibnu Thufail setelah pensiun pada tahun 1882. Beberapa karya yang disusun Ibnu Thufail antara lain Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy bin Yaqdzo. Biqa' al-maskunnah wa Al-Ghair al-Maskunnah, dan Rasail fi anNafs. Namun karangan tersebut tidaklah sampai pada generasi selanjutnya, hanya satu karya yang sampai kepada generasi selanjutnya yakni tulisah yang diberi judul Hayy bin Yaqdzon. Dudung Abdur Rahman. Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, 2. , h. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2. , h. Sirajuddin Zar. Filsafat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2. , h. Nisa Shofiyatul Relevansi Epistemologi. Jiwa dan Akal dalam Perspektif Ibn Thufail (Al-Ibrah. Vol 5. No. 1, 2. , h. MasAoudi. Pemikiran Filsafat Ibn Thufail: Khazanah Pemikiran Filsafat dari Timur Asrar al- PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Riwayat Hidup Martin Heidegger Martin Heidegger adalah seorang filsuf modern yang sangat menarik, ia adalah seorang yang tenang dan senang dengan kesunyian, akan tetapi tetap dinamis dan secara aktif berdialog dengan lingkungan sekitarnya. Martin Heidegger eksistensialisasi sebagai bukti kepedulian dan keprihatinannya yang sangat mendalam kemanusiaan yang sedang terjadi serta berlangsung dalam kehidupan. Martin Heidegger lahir pada tanggal 26 September 1889 di sebuah kota kecil di Baden. Jerman. Di Pulau Santo Mortinus. Heidegger lahir dari seorang pendeta. Ada sejumlah pengikut di Eropa dan Amerika Serikat yang menganggap Martin Heidegger sendiri memiliki pengaruh yang signifikan. menjadi asisten Edmund Husserl . okoh penggagas fenomenolog. setelah meraih gelar doktor dalam studi agama dari Universitas Freiburg. Sebelum melanjutkan studinya di Fakultas Filsafat selama delapan semester, ia terdaftar dalam program sarjana fakultas tersebut di bawah asuhan Heinrich Ricket, seorang Neo-Kantianis yang memiliki banyak pengaruh positif Martin Heidegger memiliki karya yang sagat terkenal yaitu buku dengan judul Being andTime . da dan wakt. , buku ini dianggap sebagai salah satu karya filosofis yang sangat penting pada abad ke-20. Heidegger mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Husserl dan secara langsung mapun tidak langsung Heidegger terpengaruh secara mendalam oleh Husserl. Husserl dalam tulisannya In My Way to Phenomenologi (Dalam Perjalanan Saya Menuju Fenomenolog. , mengatakan bahwa Hikmat al-Maysriqiyyah, (Jurnal Ilmu Aqidah dan Ilmu Keagamaan, 2. Vol. No. 2, h. Zubaedi. Filsafat Barat, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , h. ia sebenarnya diarahkan menuju ada (Bein. Terdapat banyak sekali artikal atau tulisan yang dipublikasikan diberbagai macam buku, dimana semua itu sangatlah penting dalam filsafat eksistensialisme Heidegger, antara lain adalah sebagai berikut: Heraklit . Die Frage nach der Technik Was das-die Philosophiae? . Identitat Differenz . , dan Der Weg Zur Sprache . Eksistensi Diri Perspektif Ibn Tufail dan Martin Heidegger Eksistensi Diri Perspektif Ibn Tufail Dalam Kisah Hayy bin Yaqdzon Pengetahuan Diri dan Alam Tema pertama yang diangkat Ibnu Thufail adalah tentang asal usul Hayy bin Yaqdzon. Ibnu Thufail menyatakan bahwa dua teori pertama menyatakan bahwa Hayy ada karena ia dilahirkan dari pasangan manusia dan teori kedua menyatakan bahwa Hayy muncul dari pengendapan tanah di pulau tempat tinggalnya. Hayy memperoleh pemahaman tentang dirinya dan alam di sekitarnya melalui introspeksi sistematis dan pengamatan terhadap lingkungan. Ini pemahaman mendalam tentang diri dan dunia berasal dari refleksi dan pengalaman langsung. Seiring berjalannya waktu. Hayy mulai menyadari keberadaan aslinya. merasa tangan memiliki kegunaan lebih dari tangan hewan di pulau itu. dia bisa menutupi auratnya dan menggunakan tongkat dengan menggunakan kedua Karena tangannya. Hayy tidak lagi merasa membutuhkan ekor atau senjata yang menempel di Muhammad Exsistence, h. Muhibbuddin. Being PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Melalui Hayy Yaqdzon. Ibnu Thufail memberitahu bahwa manusia tanpa ilmu bisa sampai hingga suatu kebenaran, mengetahui tujuan hidup serta mengenai hakikat dirinya, bahkan hakikat Tuhan, yang tetap tidak bertentangan dengan metafisika. Pencarian Kebenaran Hayy memiliki keinginan kuat dalam dirinya untuk mengungkap kebenaran di balik fenomena alam. menemukan makna sebenarnya dari keberadaannya, ia harus melampaui pengamatan fisik dan mengembangkan Dengan memiliki kemampuan guna mengetahui semua hal yang benar secara logistik, merupakan kebenaran yang bisa dirasionalisasikan serta bisa diterima oleh akal manusia itu sendiri. Dalam pemikirannya. Ibnu Thufail juga menggunakan akal. Hal ini terlihat saat Hayy mulai membedah tubuh ibunya dan mencari tahu apa penyebab kematian ibunya. Tubuh yang tidak dilengkapi ruh dapat menyebabkan aktivitas anggota tubuh terhenti. Ibarat alat yang sudah terpakai dan tidak bisa digunakan lagi. Ketika meninggalkan jasad hewan secara utuh, maka jasad tersebut akan terhenti sama sekali dan menjadi rusak, dimana segala aktivitas terhenti. Pada saat ruh telah meninggalkan jasad maka tubuh seseorang akan berpindah pada fase yang selanjutnya. Fase itu biasa dikenal dengan fase dari hidup menuju pada fase kematian. Penelitian, penyebab tubuh seorang ibu tidak bisa bergerak lagi. Karena itu, ia mampu mengungkap rahasia kematian ibunya Dalam kehidupan manusia tidak bisa untuk menghindar dari tegangantegangan paradoksal. Contohnya antara harapan dan kenyataan, anata nasib dan takdir, penderitaan dan cinta, bergulat dengan keputusasaan dan ketidakberdayaan dan jugaberbagai kategori pengalaman dasar manusia. Dalam pengalamanpengalaman eksistensial terus membuat manusia sebagai makhluk yang terus menjadi . becoming bein. hingga akhir hayat. Dari pengalaman yang terjadi dari berbagai peistiwa itulah Kesadaran Ilahi Dalam perjalanan pencariannya. Hayy sampai pada kesimpulan bahwa keberadaan diri yang sejati hanya dapat dipahami melalui pemahaman terhadap Sang Pencipta. Hayy mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta untuk Ia mulai mengamati dengan cermat beberapa syura . dari benda yang ditelitinya. Dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Segala bentuk objek adalah baru dan setiap Kemudian Hayy melanjutkan penelitiannya dengan mengamati sifat benda dan bentuk yang tidak melebihi kekuatan benda tersebut untuk menghasilkan suatu tindakan. Pemimpin keberadaan atau eksistensinya membutuhkan pencipta dalam semuanya. Berdasarkan argumen Ibn Thufail. Hayy bin Yaqdzon, h. Abd. Aziz. Filsafat Pendidikan Islam Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan Islam, (Yokyakarta: Teras, 2. , h. Hadi Masruri. Ibn Thufail: Jalan Pencerahan Menuju Tuhan, h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah adalah pencipta teks suci Allah ialah zat yang sangat berkuasa dan bebas memilih, bukan awal dan sekarang akhir. Bagi yang paham bahwa dunia ini adalah qadim, maka peran pena adalah memindahkan makna dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Pada saat yang sama, pencipta mempunyai fungsi untuk menciptakan alam dari ketiadaan menjadi ada bagi orang yang percaya bahwa alam ini baharu. Dalam peran Allah sebagai Pencipta, dua unsur pembentuk alam semesta adalah terang . dan gelap . a'lul, atau akiba. Allah maha kaya, maha kekal, dan alam berkesudahan berkehendak adalah perbedaan yang sangat tajam dan tidak dapat diampukan dalam aspeknya. Kesatuan dengan Alam Usai mengamati benda langit. Hayy melanjutkan pengamatannya terhadap semua ragam binatang. mengamati bahwa pada semua jenis binatang itu mempunyai bagian tubuh yang berbagai macam bentuk. Hayy memperhatikan hewanhewan menggunakan anggota tubuhnya dengan baik, teratur dan tidak ada hambatan maupun kendala yang bisa menghalangi pentunjuk atau arahan dari dzat yang menciptakan. Karena itu, hewan dapat hidup, tumbuh tinggi, dan bahkan muncul di dada ibu. Dari sini. Hayy dapat memahami bahwa Allah adalah Al-Fail, atau dzat yang Maha penyayang dan Maha mulia. Manusia tidak bisa bekerja mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki untuk dapat sampai pada kedudukan pembawa amanah. Setiap manusia dilahirkan dengan seperangkat keyakinan yang telah ditentukan Kasmuri Selamat. Filsafat Ketuhanan, (Pekan Baru: Cahaya Fierdaus, 2. , h. pemahaman mereka tentang dunia dan Perkembangan psikologis dan fisiologis seseorang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas-tugas duniawi. Eksistensi Diri Perspektif Martin Heidegger Dasein Sebagai Eksistensi Diri Oleh Martin Heidegger bereksistensi disebut Dasein, dari kata Da . i san. dan sein . sehingga kata Dasein in mempunyai arti berada Menusia menenmpatkan diri ditengah-tengah dunia sekelilingnya, hingga ia terlibat didalam alam ketitar kemudian bersatu Akan tetapi manusia tidak sama dengan duni disekelilingnya, tidak juga sama dengan benda-benda karena manusia sadar tentang keberadaannya Jelaslah dari uraian di atas bahwa salah satu hal yang hadir adalah kehadiran manusia. Kehadiran manusia memiliki peran yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Dasein, atau hadir di masa kini, mengacu pada kehadiran seseorang di dunia. Oleh karena itu, setiap orang harus terlebih dahulu menjauh dari dirinya sendiri dan kemudian menyatu dengan semua orang lain. Ketika seseorang hidup di dunia, mereka memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan segala sesuatu di sekitar mereka, termasuk orang lain, hewan, dan tumbuhan, serta Ima Frima Fatimah. Nurwadjah Ahmad EQ. Konsep tujuan Hidup Manusia: Tinjauan Teologis Dalam Pendidikan Islam, (Jurnal Penelitian Pendidikan Islam: Vol. No. 1, 2. , h. Gatot Wibowo. Pragmatisme Dan Eksistensialisme, (Jurnal Jawa Dwipa: Vol. 4 No. , 57 PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan semua orang. Keberadaan-Ada-Di-Dunia (Being-in-the-Worl. Dari sudut pandang filsafat. Dasein memiliki apa yang dikenal sebagai keberadaan di dunia yang merujuk pada realitas manusia sebagai spesies yang ada dan memiliki keturunan di dunia. Dikatakan bahwa bentuk manusia sempurna dalam kebijaksanaan dan kesederhanaan, kesadaran diri, dan juga kerendahan Pada saat yang sama. Heidegger menawarkan nasihat penting untuk merangkul filsafat sebagai sarana untuk mendapatkan makanan dari alam Heidegger juga mengkritik representasi objektif dan mengusulkan gagasan bahwa kebenaran sebagai pengalaman subjektif adalah jenis kekuatan dasar. Dalam dunia manusia, tidak ada yang namanya kehidupan diri, menurut tesis Heidegger. Memiliki kehadiran dengan orang lain (Mitsei. , hadir di dalam diri sendiri (Selbstei. , dan memiliki kehadiran dengan objek (Seinbe. adalah semua aspeknya. Dalam pandangan Heidegger, ini adalah satusatunya cara untuk mendasarkan manusia pada krisis eksistensialnya. Ini berarti bahwa seseorang dan atribut fisiknya dapat memengaruhi kondisi Karena itu, orang perlu mampu memisahkan diri dari apa pun yang dapat mengancam keberadaan Keberadaan-Untuk-Kematian (Being-toward-Deat. Pandangan Heidegger ketika bahwa cepat atau lambat manusia akan mengakhiri hidup dengan kematian. Bagi Heidegger, kematian bukanlah tentang sesuatu atau kapan manusia akan mengalaminya, melainkan sebuah fakta dan keterbatasan hidup manusia di dunia. Dalam arti bahwa kematian adalah bagian dari keberadaan manusia yang otentik, kaum primitif dibuang begitu saja ke dunia dan akan mengakhiri hidupnya dengan ketiadaan atau kematian. Inilah ciri mendasar Dasein yang tidak dapat digantikan oleh siapapun dan siapapun. Ada menuju kematian adalah sebuah kata yang tidak masuk akal, namun kenyataannya, seperti yang dikatakan Heidegger, manusia akan mengalami hal tersebut. Ada (Sei. datang ke dunia melalui pelemparannya (Geworfonhei. dan berakhir sebagai Lantas apa yang terjadi pada manusia ketika mengalami kematian, adakah harapan di balik kematian itu? Namun Hidegger dalam penelitiannya tidak mengungkapkan hal tersebut, bahwa ketika manusia mati maka pengembaraannya di dunia akan Heidegger mengalami kematian. Sebab hal ini termasuk dalam ranah keyakinan agama, sedangkan Heidegger hanya mengkajinya dalam ranah filosofis. Jika Lalu Abdurrahman Wahid. Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger Dan Pendidikan Perspektif Eksistensialisme, (Jurnal Pandawa: Vol. No. 1, 2. , h. Febe Liana. Harsawibawa Albertus. Building Dan Dwelling Dalam Arsitektur Kontemporer: Interpretasi Pemikiran Martin Heidegger, (Jurnal Ilmiah Global Education: 4 . , 2. , h. Masduri. Telaah Kritis Konstruksi Eksistensialisme Dalam Teologi Antroposentris Hasan Hanafi, h. Eric Yohanis Tatap. Menyingkap Kematian Dalam Gagasan Sein-Zum-Tode Ada-Menuju-Kematian Menurut Martin Heidegger, (Agiornamento: Vol. No. 2, 2. , h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 manusia ingin menggali harapan setelah kematian maka ia tidak lagi autentik atau dalam artian melarikan diri dari Wujudnya sebagai Dasein. Bagi Heidegger, ketika manusia menerima kematian apa adanya, itulah yang sebenarnya disebut Dasein dalam Manusia hakikat aslinya sebagai Dasein yang ada dan akan menuju pada ketiadaan atau Kecemasan (Anxiet. Hidup (Angs. , bagi Heidegger merupakan cara bagi manusia atau Dasein untuk berada di dunia (In-der-Weltsei. Berada di dunia mengandaikan bahwa manusia terlebih dahulu mengalami pengalaman terlempar (Geworfenhei. atau memasuki suatu dunia dan diakhiri dengan pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk meninggalkannya. Kecemasan memperlihatkan dirinya sebagai suatu yang dihadapinya yakni kegelisahan berada di dalam dunia. Kecemasan terhadap berbagai macam hal-hal yang hingga melebar pada kecemasan itu Sebab sebagai sebuah keadaan pikiran, kecemasan merupakan jenis dari keberadaan di dunia. Interpretasi Dasein sehati-hari menunjukkan bukti bahwa kecemasan adalah keadaan pikiran dasar yang memiliki sifat terbuka, dan keadaan pikiran seseorang menggambarkan bagaimana kondisi orang tersebut. Dasein adalah kecemasan, yaitu menahan diri, kebebasan lepas dari jebakan manusia, hingga tingkatan tertinggi, rasa khawatir atau cemas bisa Dasein. Eric Yohanis Tatap. Menyingkap KematianA, mengingat begitu penyingkapan Dasein sebagai solus ipse atau eksistensial. Dengan tujuan membuat Dasein keseluruhan, sehingga dunia bersaing dengannya sebagai seorang individu. Faktor Yang Mempengaruhi Munculnya Konsep Eksistensi Diri Ibn Thufail Dan Martin Heidegger Ibn Thufail Dunia keislaman yang juga Hellenisme memberikan bekas yang sangat nyata berupa aktivitas pemikiran filosofis umat Islam. Namun, para filsuf Muslim tidak begitu saja mengadopsi pemikiran filsafat Yunani sebagaimana adanya. Para filosof muslim menyadari bahwa filsafat Yunani lahir dari keyakinan dan kebudayaan yang tidak sama dengan Islam, oleh karena itu filsafat Islam berusaha untuk mengadopsi pemikirannya dengan cara menetralisirnya terlebih dahulu. Hal ini menjadi tema penting semua sentral filosofis dimana hal itu mempunyai keterkaitan dengan dunia Islam. Para filosof Bagdad dan Andalusia (Muslim Spanyo. memberikan kontribusi besar Abad Pertengahan mengembangkan sistem pemikiran yang menyeimbangkan pertemuan filsafat Yunani dan Islam. Ada dengan ajaran Islam pada abad ke-12. Tradisi sastra Helenistik, khususnya dalam bentuk alegori, memberikan pengaruh terhadap gaya penulisan Ibnu Thufail. Alegori biasa digunakan dalam Yunani penyampaian pemikiran filosofis yang dianut oleh Hayy bin Yaqdzon guna Yeremias Jena. Martin Heidegger Mengenai Mengada Secara Otentik Dan Relevansinya Bagi Pelayanan Kesehatan, (Melintas: Vol. No. 2, 2. Ahmad Zainul Hamdi. Tujuh Filsuf Muslim, (Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang, 2. , h. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 menyampaikan konsep-konsep kompleks secara naratif. Dalam konteks ini. Ibnu Thufail menjembatani pemikiran filosofis dan teologis serta menjawab tantangan intelektual yang ada saat itu. Pengaruh Hellenisme dalam kisah Hayy bin Yaqdzon pemikiran filsafat baku Yunani yang dipadukan dengan pandangan Islam Ibnu Thufail dan juga menggunakan alegori sebagai alat untuk menggali dan menyampaikan berbagai konsep filsafat secara keseluruhan. Martin Heidegger Husserl memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ajaran Heidegger. Heidegger memiliki hubungan dengan melangkahkan kaki di yayasan Exitivist. Heidegger juga menggunakan metode Husserl karena metode ini dianggap penting untuk mengevaluasi data kinerja secara Ketika menyangkut pertanyaan tentang manusia. Heidegger memiliki pemahaman yang kuat, karena diyakini sebagai masalah yang sudah ada. Pertanyaan tentang berada dalam tesis Heidegger hanya dapat dijawab melalui Ada dua hal yang mendorong lahirnya eksistensialisme Heidegger, yaitu Dehuminasi atau Depersonalisasi dimana setelah masa renaisans dan pencerahan atau revolusi industri manusia dijadikan alat-alat industri, alatalat mekanik, zaman mesin hingga manusia menjadi robot . Fenomena ini terlihat jelas baik pada materialisme maupun idealisme yang menempatkan manusia sebagai subjek karena berhadapan dengan objek. Manusia hanya menjadi manusia karena terintegrasi dengan realitas yang ada Implementasi Pemikiran Ibn Thufail Martin Heidegger Tentang Eksistensi Diri Terhadap Makna dan Tujuan Hidup Manusia. Ibnu Tufail menggunakan agama sebagai bagian dari perjalanan eksistensial Hayy untuk menemukan makna dan pengetahuan tentang Tuhan. Dalam Hayy bin Yaqdzon, agama dihadirkan bukan sebagai wahyu langsung melainkan sebagai hasil pencarian rasional dan introspeksi. Hayy mencapai pemahaman spiritual dan metafisik melalui pengalaman pribadi dan refleksi filosofis yang dapat menunjukkan integrasi filsafat dan agama. Secara lebih singkat pemikiran Ibnu Thufail mengenai eksistensi diri mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan, meningkatkan kesadaran diri dan hidup selaras dengan alam serta mencapai keseimbangan antara akal dan wahyu. Implementasi pemikiran Ibnu Thufail dapat membantu manusia menemukan makna dan tujuan hidup secara mendalam dan bermakna serta mencapai pengetahuan yang utuh tentang dirinya dan alam semesta. Selain perspektif eksistensi diri Ibnu Thufail, terdapat juga implementasi yang Martin Heidegger tentang eksistensi diri mengenai makna dan tujuan hidup manusia. Heidegger membahas eksistensi diri dari sudut pandang ontologis, yaitu dengan fokus penelitian pada konsep Dasein, pencarian makna dalam konteks waktu dan Dalam Being and Time, agama bukanlah sesuatu yang menjadi fokus utama, namun tema spiritual dan metafisik dapat dihubungkan dengan pencarian makna yang ditekankan oleh Heidegger. Gutas. Dimitri. The Intellectual Context of Ibn TufaylAos Hayy ibn Yaqzan, (Philosophical Studies Vol. No. 1, 2. , h. Caputo. John D. Heidegger and the Language of Theology, (The Journal of Religion 75. No. 1, 1. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pemikiran Martin Heidegger mengenai eksistensi diri, khususnya yang diungkapkan dalam AuBeing and TimeAy mempunyai makna mendalam mengenai makna dan tujuan hidup Adapun yang dapat dilakukan manusia untuk melihat makna dan tujuan hidupnya yaitu dari aspek kesadaran dan eksistensi (Dasei. Heidegger secara harafiah Heidegger memperkenalkan Dasein dengan arti Auberada di duniaAy. Dasein adalah cara unik manusia berada di dunia yang mencakup keterlibatan dan kesadaran terhadap dunia. Penerapan perspektif eksistensi diri Martin Heidegger melibatkan kesadaran mendalam akan keberadaan kita di dunia, memahami nilai waktu dan kematian, membangun hubungan yang tulus dengan orang lain dan juga terbuka terhadap pengalaman hidup. Dengan menerapkan dasar yang bisa dijadikan sebagai pegangan oleh manusia maka dapat membuat manusia tersebut menemukan apa makna serta tujuan dari hidupnya yang lebih komprehensip serta menjalani kehidupan yang lebih utuh dan Kesimpulan Eksistensi diri dalam pandangan Ibnu Thufail adalah kemampuan berpikir tentang keberadaan dirinya, bagaimana ia bisa berada di dunia ini dan mempunyai kesadaran ketuhanan sebagai wujud keberadaan diri. Martin Heidegger menyatakan bahwa Dasein adalah eksistensi diri. Makna Eksistensi hanya dapat mempunyai makna bagi mereka yang mengeksplorasi keberadaannya sendiri. Oleh karena itu Dasein adalah Berada di Dunia. Heidegger juga mengungkapkan bahwa manusia mempunyai eksistensi menuju kematian . eing to deat. sebagai makhluk menuju akhir. Kemudian mengungkapkan rasa cemas seperti cara khas Dasein dalam Faktor yang mempengaruhi munculnya konsep eksistensi diri Ibnu Thufail adalah munculnya gelombang Hellenisme yang masuk ke dunia Islam. Dengan karya monumentalnya. Ibnu Thufail ingin menyelaraskan pemikiran yang dibawa Hellenisme dengan ajaran Islam. Tercetusnya pemikiran Heidegger mengenai eksistensialisme setelah masa Renaisance didasari oleh adanya Depersonalisasi atau Dehuminas. Dimana manusia telah menjadi alat-alat industri, alat-alat mekanik, zaman mesin, sehingga justru menjadikan manusia menjadi robot . Pemikiran Ibnu Thufail tentang eksistensi diri mendorong manusia untuk mencari ilmu, mencari keseimbangan antara akal dan wahyu, meningkatkan kesadaran diri dan hidup selaras dengan alam. Implementasi pemikiran Heidegger meliputi kesadaran yang mendalam akan posisi kita di dunia, pemahaman akan nilai waktu dan kematian, membangun hubungan yang tulus dengan orang lain dan tetap terbuka terhadap pengalaman hidup. Daftar Pustaka