Pentagon : Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Volume. No. Desember 2024 e-ISSN : 3062-8652, dan p-ISSN : 3048-1732. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/pentagon. Available online at: https://journal. id/index. php/Pentagon Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika. Muhammad Lorna Maulia1*. Fatimatus Zahro2. Redita Putri Ermawan3. Ulil Nurul Imanah4. Reny Widyastutik5 Universitas Islam Majapahit. Mojokerto SMA Negeri 1 Mojosari. Mojokerto Korespondensi penulis lornareal44@gmail. Abstract: This study uses a descriptive method with a quantitative approach to analyze the numeracy literacy ability of grade XII IPS-6 students at SMAN 1 Mojosari. The sample consisted of 34 students who were selected using the purposive sampling technique. This research began with the identification of the problem of low numeracy literacy in mathematics. A numeracy test in the form of 8 story questions related to statistics is given as a pretest to measure students' abilities. The data was analyzed using statistical tests with the help of SPSS to test the validity, reliability, and results of the pretest. The results showed that 73. 53% of students were in the advanced category, and 26. 47% of students were in the capable category. Students are able to do histogramshaped problems well, but have difficulty in presenting data in polygon form. These findings support previous research that states that students often have difficulty processing information from graphs and tables. Other factors that affect students' ability to flip Keywords: Numeracy literacy, mathematics, ability analysis. Abstrak : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis kemampuan literasi numerasi siswa kelas XII IPS-6 di SMAN 1 Mojosari. Sampel terdiri dari 34 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini dimulai dengan identifikasi masalah rendahnya literasi numerasi dalam matematika. Tes numerasi berupa 8 soal cerita terkait statistika diberikan sebagai pretest untuk mengukur kemampuan siswa. Data dianalisis menggunakan uji statistik dengan bantuan SPSS untuk menguji validitas, reliabilitas, dan hasil pretest. Hasil menunjukkan bahwa 73,53% siswa berada pada kategori mahir, dan 26,47% siswa masuk dalam kategori cakap. Siswa mampu mengerjakan soal berbentuk histogram dengan baik, namun mengalami kesulitan dalam menyajikan data dalam bentuk poligon. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa siswa kerap kesulitan dalam mengolah informasi dari grafik dan Faktor lain yang memengaruhi kemampuan siswa meliputi kurangnya kebiasaan dalam perhitungan dan kesalahan dalam memilih langkah penyelesaian masalah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas siswa memiliki kemampuan literasi numerasi yang baik, namun peningkatan kualitas pembelajaran dan penerapan strategi metakognitif diperlukan untuk mengatasi kendala yang ditemukan. Kata Kunci: Literasi numerasi, matematika, analisis kemampuan. PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam berbagai aspek , dan salah satu fondasi utamanya adalah pengetahuan matematika. Matematika tidak hanya menjadi alat yang esensial dalam berbagai disiplin ilmu, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis manusia. Selain itu, konsepkonsep matematika mendasari banyak inovasi dan perkembangan teknologi saat ini, mulai dari rekayasa perangkat lunak hingga analisis data. Dengan demikian, pemahaman yang kuat tentang matematika sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan di era modern dan berperan dalam kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi (Sufri, 2. Tujuan dari pembelajaran matematika yaitu untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar siswa. Matematika memiliki hubungan yang erat dengan penalaran dan logika. Received: Agustus 19, 2024. Revised: September 20, 2024. Accepted: Oktober 31, 2024. Online Available: November 04, 2024. Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika sehingga dapat meningkatkan keterampilan dalam memecahkan masalah, menyampaikan informasi, dan mengungkapkan ide-ide melalui berbagai bentuk, seperti lisan, tulisan, atau Hal ini pada gilirannya membantu siswa dalam proses penarikan kesimpulan (Sumartini, 2. Kemampuan numerasi sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan rumah maupun di masyarakat. Dalam aktivitas sehari-hari, seperti berbelanja, merencanakan liburan, memulai usaha, membangun rumah, hingga memahami informasi kesehatan, semuanya memerlukan keterampilan numerasi. Informasi-informasi ini sering disajikan dalam bentuk angka atau grafik, yang penting untuk dipahami agar dapat membuat keputusan yang tepat, dalam hal tersebut maka peserta didik perlu menguasai numerasi. Numerasi mencakup kemampuan, rasa percaya diri, dan kemauan untuk menggunakan informasi kuantitatif atau spasial dalam pengambilan keputusan di berbagai situasi kehidupan sehari-hari (Mahmud & Pratiwi, 2. Selain kemampuan numerasi, literasi juga merupakan elemen penting dalam proses pendidikan karena menjadi salah satu syarat utama untuk mencapai keterampilan abad ke-21. Berdasarkan laporan Forum Ekonomi Dunia tahun 2015, terdapat enam literasi dasar yang harus dikuasai oleh setiap individu di dunia, termasuk Indonesia, untuk menghadapi tantangan abad ke-21, yaitu literasi bahasa, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan Literasi numerasi adalah pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan berbagai angka serta simbol terkait matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Literasi ini juga mencakup kemampuan untuk menganalisis informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk serta menafsirkan hasil analisis tersebut untuk membuat prediksi dan keputusan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. ecara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan menerapkan konsep bilangan dan operasi hitung dalam aktivitas sehari-hari, seperti di rumah, pekerjaan, dan masyarakat. Ini juga mencakup pemahaman informasi kuantitatif serta kenyamanan menggunakan matematika secara praktis, termasuk dalam membaca grafik, bagan, dan tabel. Menurut Zulkarnain, seperti yang dikutip oleh Khunaeni . terdapat masalah signifikan dalam pendidikan matematika di Indonesia. Permasalahan ini terletak pada rendahnya kemampuan peserta didik dalam menerapkan literasi numerasi pada soal-soal Numerasi memiliki peran penting dalam membantu seseorang menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan berbagai konsep dalam numerasi dapat digunakan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi. Namun, pentingnya literasi numerasi ini belum PENTAGON - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 E-ISSN : 3062-8652. P-ISSN : 3048-1732. HAL. sejalan dengan kualitas pembelajaran di Indonesia, yang terlihat dari hasil berbagai tes internasional yang diikuti oleh negara ini (Khunaeni et al. , 2. Kemampuan literasi numerasi matematika siswa perlu dilatih melalui pemberian latihan soal secara rutin yang berkaitan dengan literasi numerasi. Kelemahan dalam literasi numerasi disebabkan oleh beberapa faktor: . Siswa belum mampu mengoptimalkan kemampuan berpikir mereka dalam mata pelajaran matematika. Proses pembelajaran matematika belum mendorong siswa untuk terbiasa membaca sambil berpikir kritis, sehingga mereka kesulitan dalam memahami informasi penting dan strategis saat menyelesaikan soal. Penyelesaian soal-soal masih didominasi oleh pendekatan mekanistik, sementara penalaran siswa masih . Pelajaran matematika belum berfungsi sebagai "sekolah berpikir" bagi siswa, yang cenderung hanya "menerima" informasi tanpa mengolahnya lebih lanjut. Akibatnya, matematika belum berhasil menjadikan siswa cerdas, cerdik, dan cekatan. Adapun penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Syadran dkk (Syadran et al. , 2. dengan judul artikel Analisis Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMAN 5 BATAM metode yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui dari subjek penelitian siswa kelas XI IPS SMAN 5 Batam, berjumlah 41 orang dan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan literasi numerasi tinggi mampu menuliskan dan memahami makna angka serta simbol matematika, serta dengan mudah mengambil keputusan. Siswa dengan kemampuan sedang sering melakukan kesalahan dalam penggunaan angka dan simbol, dan tidak semua dapat menyampaikan informasi dari gambar atau tabel dengan lengkap, meskipun dapat mengambil keputusan dengan kurang optimal. Siswa dengan kemampuan rendah sering melakukan kesalahan dan umumnya tidak dapat memperoleh informasi secara lengkap dari gambar dan tabel, serta tidak mampu menentukan keputusan atau kesimpulan (Syadran et al. , 2. Penelitian serupa yang kedua juga dilakukan oleh Sartianis dkk (Sartianis et al. , 2. dengan judul artikel Kemampuan Literasi Numerasi Siswa Sma Kelas Xi Mipa Dalam Mata Pelajaran Fisika. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri Kabupaten Kerinci. Provinsi Jambi, mempunyai kemampuan literasi numerasi yang bervariasi, dengan rata-rata 60,9% menjawab benar dari 11 soal pilihan ganda. Dari total 31 siswa, satu siswa membutuhkan intervensi khusus, enam siswa berada dalam kategori dasar, 18 siswa tergolong cakap, dan enam siswa mahir. Kemampuan siswa cukup baik pada indikator seperti melakukan estimasi, perhitungan, dan penggunaan pecahan, desimal, persentase, serta penalaran, dengan persentase jawaban benar antara 59,68% hingga 72,58%. Namun, pada indikator menginterpretasi informasi, siswa masih berada pada kategori dasar dengan Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika persentase 49,46%. Secara keseluruhan, meskipun kemampuan literasi numerasi siswa tergolong baik, masih diperlukan upaya tambahan untuk meningkatkannya, terutama dalam konteks pembelajaran fisika (Sartianis et al. , 2. Penelitian ketiga yang serupa juga dilakukan oleh Dhana & Yohanie (Dhana & Yohanie, 2. dengan artikel yang berjudul Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Literasi Numerasi terhadap Hasil Belajar Siswa SMA Kelas XII. Hasil penelitian menunjukkan jika ada perbedaan signifikan dalam hasil belajar matematika antara siswa yang menggunakan metode literasi numerasi dan siswa yang menerima pembelajaran konvensional. Dengan nilai t. = 6,89 dan p < 0,05, dapat disimpulkan bahwa pendekatan literasi numerasi efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas XII dalam pelajaran matematika (Dhana & Yohanie. Permasalahan yang diteliti pada penelitian ini yaitu terkait bagaimana meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas XII IPS-6 dalam mata pelajaran matematika, supaya siswa bisa memahami dan menerapkan berbagai konsep matematika yang lebih baik. Literasi dan numerasi adalah keterampilan penting yang berdampak pada kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan akademis serta situasi yang terjadi dalam aktivitas sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperbaiki kemampuan literasi dan numerasi siswa, mencakup pemahaman informasi kuantitatif serta kemampuan berpikir logis dan kritis. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti menerapkan metode pengajaran interaktif yang mendorong siswa untuk aktif berkolaborasi dan berdiskusi. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengolah informasi matematis, sehingga kemampuan literasi dan numerasi mereka meningkat, dan pemahaman konsep matematika yang diajarkan menjadi lebih mendalam. Berdasarkan latar belakang serta permasalahan yang telah diuraikan dalam penelitian ini, diperlukan analisis mendalam terkait kemampuan literasi numerasi peserta didik. Analisis ini penting untuk memahami sejauh mana siswa mampu mengaplikasikan konsep numerasi dalam konteks akademik maupun kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, peneliti akan melaksanakan studi berjudul AuAnalisis Kemampuan Literasi Numerasi pada Kelas XII IPS-6 dalam Mata Pelajaran Matematika. Ay Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai tingkat kemampuan literasi numerasi siswa kelas XII IPS-6 dalam pelajaran matematika, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi pencapaian kemampuan tersebut. PENTAGON - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 E-ISSN : 3062-8652. P-ISSN : 3048-1732. HAL. METODE Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Jayusman & Shavab . mengemukakan bahwa penelitian deskriptif dilakukan dengan cara mencari informasi terkait gejala yang muncul, menjelaskan secara rinci tujuan yang ingin dicapai, merancang metode pendekatan yang akan diterapkan, serta mengumpulkan data sebagai dasar untuk menyusun laporan. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini karena melibatkan penggunaan angka, baik dalam proses pengumpulan data, penafsiran data, maupun penyajian hasilnya. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Mojosari yang berjumlah 34 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, di mana dipilih kelas XII IPS-6. Kelas XII IPS-6 dipilih karena dianggap dapat mewakili populasi secara keseluruhan. dibandingkan dengan kelas XII IPS-1 hingga XII IPS-6 lainnya, siswa di kelas XII IPS-6 menunjukkan tingkat variasi yang lebih luas dalam kemampuan belajar matematika. Penelitian diawali dengan mengidentifikasi masalah rendahnya kemampuan literasi numerasi siswa SMA kelas XII IPS-6 pada mata pelajaran matematika. Peneliti mengamati bahwa siswa mengalami kesulitan dengan menerapkan konsep numerasi pada soal-soal Dirumuskan masalah utama yang ingin dipecahkan, yaitu bagaimana kemampuan literasi numerasi siswa kelas XII IPS-6 dalam matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis kemampuan literasi numerasi siswa serta mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhinya. Teori tentang literasi numerasi dan kaitannya dengan mata pelajaran matematika disusun untuk membangun kerangka konseptual penelitian. Peneliti juga membahas bagaimana literasi numerasi dikembangkan dalam kurikulum dan pembelajaran matematika di jenjang SMA. Tes numerasi diberikan kepada siswa untuk mengukur kemampuan numerasi mereka. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal literasi numerasi dalam bentuk soal matematika berbasis cerita. Soal-soal ini disusun sesuai dengan indikator-indikator literasi numerasi menurut (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Selanjutnya, uji empiris dilakukan kepada 36 siswa di SMAN 1 Mojosari sebagai sampel yang mewakili Soal yang diujikan pada penelitian kemampuan literasi dan numerasi sebanyak 8 soal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pretest kepada siswa yang belum menerima pembelajaran terkait materi statistika, dengan tujuan untuk mengukur pemahaman mereka terkait literasi numerasi. Data dianalisis menggunakan uji statistik dengan bantuan software SPSS untuk menguji validitas, reliabilitas, serta melakukan analisis hasil pretest. Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika Tabel 1. Indikator literasi numerasi Indikator literasi numerasi Mampu Indikator soal Nomor butir soal menggunakan Siswa mampu menerapkan konsep berbagai jenis angka dan dasar matematika seperti mean dan simbol yang berkaitan dengan median untuk menyelesaikan masalah untuk dalam kehidupan sehari-hari. menyelesaikan masalah dalam Siswa mampu menggunakan simbol berbagai konteks kehidupan dan rumus matematika dasar untuk sehari-hari. impangan bak. Siswa matematika dasar untuk menghitung pengurangan penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari. Mampu menganalisis Siswa mampu menganalisis informasi disajikan yang disajikan dalam tabel distribusi dalam berbagai format, seperti frekuensi dan mengubahnya menjadi diagram, tabel, grafik, atau bentuk grafik histogram dan poligon. Mampu hasil Siswa mampu menginterpretasikan untuk hasil analisis data guna mengambil mengambil keputusan. dan keputusan. Siswa mampu menginterpretasikan untuk membuat kesimpulan. Tingkat kemampuan literasi numerasi dalam menyelesaikan soal didasarkan pada tingkat kompetensi literasi numerasi yang dikembangkan oleh (Pusmenjar Kemendikbud, 2. yaitu: perlu intervensi khusus, dasar, cakap, dan mahir. Tingkat kemampuan literasi numerasi ini disajikan dalam tabel berikut: PENTAGON - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 E-ISSN : 3062-8652. P-ISSN : 3048-1732. HAL. Tabel 2. Tingkat Kemampuan Literasi Numerasi Kelompok Detail tingkat kompetensi Perlu intervensi Siswa hanya memiliki pengetahuan matematika yang terbatas, menunjukkan pemahaman konsep yang parsial serta keterampilan komputasi yang belum memadai. Dasar Siswa memiliki keterampilan dasar dalam matematika, termasuk komputasi dasar melalui persamaan langsung, pemahaman konsep dasar dalam geometri dan statistika, serta kemampuan menyelesaikan masalah matematika sederhana dan rutin. Cakap Siswa mampu menerapkan matematika dalam berbagai konteks yang lebih Mahir Siswa mampu menggunakan kemampuan berpikir kritis menyelesaikan masalah yang kompleks dan nonrutin berdasarkan konsep matematika yang mereka kuasai. HASIL Penelitian ini dimulai dengan memberikan tes berupa 8 soal cerita mengenai materi statistika, yang berbentuk uraian, pada tanggal 22 Oktober 2024. Setelah itu, hasil tes dikoreksi menggunakan rubrik penilaian. Skor yang diperoleh kemudian dikonversi menjadi nilai. Selanjutnya, berdasarkan nilai yang didapat, siswa dikelompokkan ke dalam tingkatan kemampuan literasi numerasi. Hasil analisis kemampuan literasi numerasi siswa kelas XII IPS6 SMAN 1 Mojosari dalam menyelesaikan soal cerita materi statistika disajikan dalam tabel Tabel. 3 Rekapitulasi Capaian Kompetensi Literasi Numerasi Peserta Didik Tingkat kemampuan literasi Jumlah siswa Persentase . %) Perlu intervensi khusus Dasar Cakap 26,47% Mahir 73,53% Tabel 3 di atas merupakan rekapitulasi hasil yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada tingkatan mahir dalam literasi numerasi, yaitu sebanyak 25 siswa dengan Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika persentase 73,53%. Selain itu, terdapat 9 siswa yang masuk dalam kategori cakap, dengan persentase 26,47%. Diagram Persebaran Jawaban Siswa Per Soal soal 1a soal 1b soal 1c soal 1d soal 2a soal 2b soal 2c soal 2d Gambar 1. Persebaran Jawaban Siswa Per Soal Berdasarkan diagram di atas, dapat dilihat bahwa persentase jawaban benar pada setiap soal hampir seragam untuk seluruh soal. Soal yang memiliki jawaban benar terbanyak adalah soal no. 1b, di mana 34 siswa menjawab dengan benar, sedangkan soal dengan jawaban salah terbanyak adalah soal no. 2b, dengan 34 siswa menjawab salah dari total 34 siswa. Soal-soal tersebut mencerminkan indikator-indikator kemampuan literasi numerasi. Gambar 2. Contoh soal nomor 1 PENTAGON - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 E-ISSN : 3062-8652. P-ISSN : 3048-1732. HAL. Soal nomor 1b adalah soal dengan jumlah siswa yang menjawab benar terbanyak, yaitu sebanyak 34 siswa atau 100% dari total siswa. Soal ini merupakan contoh penerapan dari menyajikan data dalam bentuk histogram, siswa diminta untuk menggambar histogram berdasarkan data yang sudah diberikan. Jawaban peserta didik ditunjjukan dalam gambar Gambar 3. Hasil jawaban peserta didik Berdasarkan Gambar 3 di atas, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa subjek sudah mampu menganalisis informasi yang diberikan melalui soal yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, serta menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan masalah dengan menyajikan data dalam format tabel distribusi frekuensi kedalam bentuk grafik Kemampuan Literasi Numerasi Siswa SMA Kelas XII IPS - 6 dalam Mata Pelajaran Matematika Gambar 3. Contoh Soal nomor 2 Soal nomor 2b adalah soal dengan jumlah siswa yang menjawab salah terbanyak, yaitu sebanyak 34 siswa atau 100% dari total siswa. Soal ini merupakan contoh pengaplikasian menyajikan data dalam bentuk poligon, siswa diminta untuk menggambar poligon berdasarkan data yang sudah diberikan. Jawaban peserta didik ditunjukan dalam gambar berikut: Gambar 4. Hasil jawaban peserta didik PENTAGON - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 E-ISSN : 3062-8652. P-ISSN : 3048-1732. HAL. Berdasarkan Gambar 4 di atas, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa subjek telah mampu menganalisis informasi yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan permasalahan, tetapi subjek belum terlalu faham dengan bagaimana cara mengubah bentuk dari tabel distribusi frekuensi kedalam grafik poligon, sehingga subjek tidak sempurna dalam mengerjakan dan menghasilkan jawaban yang salah. DISKUSI