Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Me. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/V9i1. Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Relevansinya terhadap Kesediaan untuk Menerimanya (Studi Kasus di RSUD dr. Hillers Maumer. Eugenius Koresy Bour1* Pilipus Benizi Jindung2 Karifansius Firman3 Yoseph Paulus de Rosari4 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere, 86152. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Eugenius Koresy Bour Surel : boureugene548@gmail. ManuscriptAos History Submit : Februari 2025 Revisi : Maret 2025 Diterima : April 2025 Terbit : Mei 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Kesediaan Kata kunci 2 Pemahaman Kata kunci 3 Sakramen perminyakan Copyright A 2025 STP- IPI Malang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menjelaskan, dan mengeksplorasi pemahaman pasien Katolik dan keluarganya di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hillers Maumere tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) dan relevansinya terhadap kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Kajian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi Hasil observasi dan wawancara menunjukkan para pasien Katolik dan keluarganya mempunyai pemahaman yang beragam tentang SPOS. Pemahaman yang beragam itu mempunyai relevansi terhadap kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Pemahaman yang baik tentang SPOS akan berpengaruh besar pada kesediaan untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien atau orang sakit yang mulai berada dalam bahaya maut. Sebuah langkah pastoral diperlukan untuk memperbaiki kesalahpahaman umat Katolik tentang SPOS. Langkah pastoral yang dapat diambil adalah pengajaran umat Katolik melalui katekese dan khotbah. Abstract Corresponding Author Name : Eugenius Koresy Bour E-mail : boureugene548@gmail. ManuscriptAos History Submit : February 2025 Revision : March 2025 Accepted : April 2025 Published : May 2025 Keywords: Keyword 1 Understanding Keyword 2 Sacrament of the Sick Keyword 3 Willingness Copyright A 2025 STP- IPI Malang This study aims to know, explain, and explore the understanding of the Catholic patients and their families at the Local Government Hospital (LGH) of dr. Hillers Maumere about the Sacrament of Anointing of the Sick (SAS) and its relevance to their willingness to receive the ministry of SAS for the patients. This study is a qualitative study with a case study approach. The data collection method uses observation, interview, and literature study techniques. The results of observation and interview show that Catholic patients and their families have a diverse understanding of SAS. These diverse understandings have relevance to their willingness to receive the ministry of SAS for patients. A good understanding of SAS will have a great effect on the willingness to receive the ministry of SAS for the patients or sick people who have begun to be in mortal danger. The pastoral step that can be taken is the teaching of the Catholics through catechesis and preaching. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit Pendahuluan Hakikat manusia sebagai makhluk yang rapuh . ragile bein. merupakan suatu fakta yang tidak dapat disangkal. Salah satu tanda kerapuhan manusia adalah manusia tidak bisa lari atau terluput dari sakit dan penyakit. Sakit menjadi salah satu pengalaman eksistensial Hal itu berarti bahwa sakit senantiasa melingkupi dan menandai kehidupan Maurice Merleau-Ponty bahkan menekankan sakit sebagai fakta yang tak tersangkal dalam hidup manusia. Sakit merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia karena ketubuhannya, sehingga dapat dipandang juga sebagai cara berada manusia itu sendiri (Hardiman, 2. Manusia kerap kali rentan merasa putus asa dan kehilangan harapan ketika jatuh Pada fase ini, manusia sungguh mengalami ketidakberdayaan, kehampaan, kefanaan, dan merasakan kerapuhan manusiawinya. Sakit dan penyakit menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa (Yanto, et al. , 2023. Dwiatmaja, 2. Dalam situasi sakit, manusia cenderung menutup diri dan memberontak terhadap Allah (KGK 1. Gereja sungguh menyadari kerapuhan manusiawi orang sakit. Oleh karena itu. Gereja sejak semula dipanggil dan diutus untuk hadir dan memberikan pendampingan, peneguhan, penguatan, dan penyembuhan bagi orang-orang sakit (Gepa, et al. , 2. Salah satu pelayanan yang diberikan Gereja bagi orang sakit adalah Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) atau Unctio Infirmorum. Dengan memberikan pelayanan SPOS. Gereja melaksanakan tugas pengudusan yang diamanatkan oleh Kristus, khususnya untuk orang beriman yang sakit (Benu & Senda, 2. Sakramen tersebut bertujuan untuk memberikan rahmat dan keselamatan kepada orang beriman yang sakit, yakni penghiburan iman, penyembuhan, ketenangan, kekuatan, dan ketabahan bagi orang sakit dalam menghadapi penderitaannya (Wibisono, 2. SPOS sesungguhnya merupakan hadiah khusus yang diberikan Allah melalui pelayanan Gereja bagi orang beriman yang sakit. SPOS kerap kali dianggap sebagai sakramen pengurapan terakhir yang dikhususkan hanya untuk orang sakit yang sekarat atau berada di ambang kematian (Moningka, et al. Frasa Aopengurapan terakhirAo . nction extrem. tampaknya berkonotasi negatif. Dengan frasa tersebut. SPOS seolah-olah dilihat sebagai sakramen yang mengantar orang sakit pada kematian atau sakramen yang mempersiapkan kematian orang sakit. Anggapan tersebut semakin diperkuat atau diafirmasi dengan kenyataan bahwa banyak orang sakit meninggal dengan cepat setelah menerima SPOS. Hal tersebut akhirnya membuat banyak orang Katolik tidak berani atau merasa takut untuk menerima pelayanan SPOS. Sesungguhnya, kematian orang sakit setelah menerima SPOS terjadi karena SPOS diberikan kepada orang sakit itu pada waktu-waktu kritis atau detik-detik terakhir menjelang Hal itu justru menimbulkan kesan bahwa penerimaan SPOS membuat orang sakit meninggal dengan cepat. Penerimaan SPOS bagi pasien Katolik yang sakit berat . ericulose aegrocante. merupakan pelayanan Gereja yang sangat penting bagi keselamatan orang beriman yang https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit sedang sakit itu. Namun, dalam praktiknya, banyak umat Katolik masih belum atau bahkan tidak memahami dengan baik dan benar hakikat, makna, manfaat, dan tujuan dari SPOS. Banyak umat Katolik pada era sekarang masih berpandangan bahwa SPOS merupakan sakramen yang membawa orang sakit kepada kematian atau menyebabkan orang sakit meninggal dengan cepat. Pemahaman demikian membuat umat Katolik sendiri merasa takut dan tidak bersedia untuk menerima pelayanan SPOS. Peneliti, dalam beberapa kesempatan ketika melaksanakan karya kerasulan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hillers Maumere, menemukan beberapa pasien Katolik meninggal tanpa mendapatkan pelayanan SPOS. padahal seorang imam Katolik ditempatkan di sana untuk memberikan pelayanan sakramen bagi pasien dan juga keluarga pasien. Para perawat juga biasanya menanyakan dan menawarkan pelayanan SPOS kepada setiap pasien atau keluarga pasien Katolik yang membutuhkan pelayanan tersebut. Peneliti berpikir bahwa kesediaan untuk menerima pelayanan SPOS juga berkaitan erat dengan pemahaman umat Katolik tentang sakramen tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan kajian tentang pemahaman pasien dan keluarga pasien Katolik yang dirawat di RSUD dr. Hillers Maumere tentang SPOS dan relevansinya terhadap kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Beberapa kajian terdahulu tentang SPOS telah dilakukan. Moningka. Dalia, dan Labuan . mengkaji pemahaman umat di Stasi St. Fransiskus Xaverius Klabat tentang SPOS. Hasil kajian mereka menunjukkan sebagian umat Katolik masih memiliki pemahaman yang terbatas dan keliru tentang SPOS. Kajian yang dilakukan oleh Yanto. Firmanto, dan Aluwesia . menyoroti makna teologis dari SPOS. Benu dan Senda . membuat kajian yuridis terhadap SPOS berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 1983 (Kanon 998-1. sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman umat Katolik terhadap SPOS. Krisdiana. Jelahu, dan Maria . membuat kajian terhadap ritual Sangiang yang ditinjau secara kritis dengan kacamata SPOS. Penelitian tersebut mengeksplorasi keserupaan tujuan antara ritual tradisional Sangiang dalam budaya Dayak Ngaju dengan SPOS dalam iman Katolik, yakni sebagai ritual penyembuhan orang sakit. Julianus. Devung, dan Samdirgawijaya . mengkaji perbandingan upacara Belian dengan SPOS. Kedua ritus tersebut mempunyai tujuan spiritual yang sama, yakni memberikan kekuatan dan penghiburan kepada orang yang sakit parah. Namun, keduanya memiliki landasan keyakinan yang berbeda. Kekuatan dan penghiburan dalam SPOS berasal dari Tuhan, sedangkan dalam ritus Belian bersumber dari roh leluhur. Semua kajian tersebut tidak membahas atau menjelaskan hubungan antara pemahaman umat Katolik tentang SPOS dan kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengeksplorasi sejauh mana pemahaman pasien dan keluarga pasien yang dirawat di RSUD dr. Hillers Maumere tentang SPOS. Hal lain yang akan disoroti dalam kajian ini adalah korelasi antara pemahaman pasien dan keluarga pasien tentang SPOS dengan kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Kajian ini sangat relevan dengan konteks lokal https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit RSUD dr. Hillers Maumere. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu rumah sakit rujukan di wilayah Kabupaten Sikka yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Metode Penelitian Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data terkait pemahaman pasien dan keluarga pasien di RSUD dr. Hillers Maumere tentang SPOS dan relevansinya dengan kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi Observasi dan wawancara dilakukan di tiga ruangan rawat inap RSUD dr. Hillers, yakni Ruangan Mawar. Ruangan Flamboyan, dan Ruangan Anggrek. Pendekatan kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan berbagai informasi atau data tambahan untuk menjelaskan topik tentang SPOS yang sedang dibahas dan mendukung hasil studi lapangan. Hasil observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif, yakni metode analisis dengan cara menjelaskan, menggambarkan, atau memberikan gambaran yang jelas, obyektif, dan sistematis tentang data atau informasi yang telah diperoleh. Hasil dan Pembahasan Konteks RSUD dr. Hillers Maumere. Kabupaten Sikka Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hillers Maumere merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Sikka yang didirikan pada tahun 1953 oleh Pemerintah Hindia Belada dan dinamakan Rumah Sakit Maumere. Nama rumah sakit itu kemudian mengalami perubahan pada 1983, yakni dari Rumah Sakit Maumere menjadi Rumah Sakit dr. Hillers Maumere. Penggunaan nama dr. Hillers dalam pergantian nama rumah sakit itu bertujuan untuk mengenang almahrum dr. Tjark Corneiles Hillers, direktur kedua yang bertugas sejak tahun 1973-1980. Beliau merupakan seorang dokter yang berasal dari Suriname dan mengabdikan diri di Kabupaten Sikka. RSUD dr. Hillers pada awalnya didirikan di Kelurahan Kota Baru. Namun, pada tahun 1999, rumah sakit tersebut dipindahkan Jln. Wairklau. Kelurahan Kota Uneng. Maumere, dengan menempati area 300 M2 dan mempunyai 37 gedung. Bangunan lama rumah sakit tersebut sudah rusak karena bencana gempa bumi dan tsunami pada tahun 1992. Bekas bangunannya direnovasi dan sekarang menjadi Puskesmas Beru dan kampus Universitas Nusa Nipa Maumere. Jln. Kesehatan No. 1 (RSUD dr. Hillers, 2. RS dr. C Hillers Maumere merupakan rumah sakit umum daerah Kabupaten Sikka. Mayoritas masyarakat Kabupaten Sikka sendiri beragama Katolik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi NTT 2023, persentase umat Katolik di Kabupaten Sikka berjumlah 86,13% (BPS Provinsi NTT, 2. Mayoritas pasien yang berobat dan menjalani perawatn di RSUD dr. Hillers menganut agama Katolik. Selain itu, sebagian besar para petugas kesehatan di rumah sakit tersebut juga beragama Katolik (Delo, 2. Situasi tersebut mendorong dr. Asep Purnama berinisiatif untuk menghadirkan pelayanan rohani bagi pasien dan para petugas medis Katolik di rumah sakit itu. Ketika menjadi direktur RSUD dr. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit Hillers . , dia pun menyampaikan keinginannya itu kepada alm. Mgr. Kherubim. Uskup Maumere. Setelah Ordo Kamilian masuk di Maumere pada tahun 2009, alm. Mgr. Kherubim memanggil dr. Asep dan memberitahu dirinya bahwa Ordo Kamilian yang akan melakukan pelayanan rohani di RSUD dr. Hillers Maumere (Purnama, 2. Para pastor dan frater Kamilian mulai menjalankan pelayanan dan karya kerasulan setiap hari Minggu sejak tahun 2010. Namun. Ordo Kamilian baru menerima secara resmi tugas pelayanan di RSUD dr. Hillers Maumere pada tahun 2011 ketika dr. Imaculata Veronika Djelulut menjabat sebagai direktur rumah sakit . Sejak saat itu, pelayanan di kapela rumah sakit diserahkan secara penuh kepada Ordo Kamilian. Kapela di RSUD dr. Hillers pun diberi nama Kapela St. Kamilus de Lellis (Andi, 2. Pelayanan tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Sejak 2018, seorang imam Kamilian kemudian ditugaskan sebagai pastor kapelan di RSUD dr. Hillers yang selalu siap untuk memberikan pelayanan selama 24 jam. Kajian Pemahaman Pasien dan Keluarga Pasien di RSUD dr. Hillers tentang SPOS Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) merupakan tanda dan sarana keselamatan yang dikhususkan bagi orang beriman yang sakit. Dengan menerima pelayanan SPOS, umat beriman yang sakit bisa memperoleh penguatan, kesembuhan, penghiburan, dan ketabahan dalam menghadapi penderitaan sakitnya. Namun, banyak umat beriman masih memiliki pandangan keliru tentang SPOS. Hasil wawancara secara acak terhadap 30 orang pasien dan 50 orang keluarga pasien Katolik di Ruangan Mawar. Ruangan Flamboyan, dan Ruangan Anggrek RSUD dr. Hillers menunjukkan pemahaman yang beragam dari umat Katolik tentang SPOS. Berdasarkan pemahaman responden tentang SPOS, para responden dikategorikan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang hanya memiliki pemahaman yang sangat dasar tentang SPOS. Beberapa responden yang masuk dalam kelompok ini hanya memiliki pemahaman dasar tentang SPOS. Mereka mengetahui SPOS sebagai salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik, hanya dikhususkan untuk orang sakit, dan bertujuan supaya orang sakit bisa memperoleh penyembuhan. Pemahaman mereka hanya sampai di situ. Pemahaman yang terbatas itu disebabkan karena mereka kurang mendapatkan pengajaran yang lengkap tentang SPOS, tidak memiliki pengalaman, atau belum pernah menyaksikan pelayanan SPOS kepada orang sakit secara langsung dan partisipatif. Kedua, kelompok yang memiliki pemahaman yang kurang lengkap dan bahkan keliru tentang SPOS. Para responden pada kelompok ini memiliki pemahaman yang cukup tentang SPOS, tetapi belum lengkap dan bahkan masih keliru. Para responden kategori ini masih memiliki pemahaman yang keliru tentang SPOS. Pemahaman mereka yang keliru tentang SPOS akan diuraikan berikut ini. Pertama. SPOS merupakan sakramen yang hanya dikhususkan bagi orang sakit yang sudah sekarat atau hendak meninggal. Responden dengan pemahaman ini berpikir bahwa SPOS baru boleh diterimakan kepada orang sakit pada waktu-waktu kritis hidupnya atau pada waktu-waktu terakhir menjelang kematiannya. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit Dengan kata lain. SPOS merupakan sakramen perminyakan terakhir. Kedua. SPOS adalah sakramen yang mempersiapkan kematian orang sakit. Pemahaman ini hampir sama dengan pemahaman responden pada poin sebelumnya. Menurut responden yang memiliki pemahaman ini, melalui penerimaan SPOS. Gereja mempersiapkan orang sakit untuk meninggal dengan tenang. Ketiga. SPOS adalah sakramen yang mempercepat kematian orang sakit. Pemahaman tersebut berangkat dari kenyataan dan keyakinan bahwa orang sakit pasti akan segera meninggal ketika sudah menerima SPOS. Keempat. SPOS merupakan sakramen yang hanya bisa diterima satu kali. Responden dengan pemahaman tersebut berpikir bahwa SPOS hanya bisa diterima satu kali dan orang yang pernah mendapatkan SPOS tidak bisa menerima SPOS ketika dia jatuh sakit lagi. Kelima. SPOS dapat diberikan oleh frater. Sebagian responden berpikir bahwa SPOS dapat diberikan tidak hanya oleh seorang imam atau pastor, tetapi juga oleh seorang frater. Responden tersebut berpikir bahwa SPOS, seperti Sakramen Pembaptisan, dapat diterimakan oleh seorang frater selain oleh seorang imam. Keenam, beberapa responden masih belum memahami dan mengetahui rahmat yang diperoleh melalui SPOS. Pemahaman yang keliru tentang SPOS dari beberapa responden tersebut membuat mereka tidak memahami dengan baik rahmat-rahmat dari SPOS. Ketiga, kelompok yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang SPOS. Para respon dalam kategori ini memahami SPOS dengan sangat baik dan benar. Mereka memahami dengan baik dan benar makna, tujuan, manfaat, dan praktik pelayanan SPOS. Sebagian besar responden dalam kelompok ini merupakan katekis, pengurus di lingkungan KUB dan Gereja, serta umat Allah yang sangat berpartisipasi aktif dalam kehidupan Relevansi Pemahaman Pasien dan Keluarga Pasien tentang SPOS terhadap Kesediaan Penerimaan SPOS bagi Pasien Pemahaman pasien dan keluarga pasien tentang SPOS mempunyai korelasi dengan kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Pertama, kelompok yang hanya memiliki pemahaman yang sangat dasar tentang SPOS. Meskipun hanya memiliki pemahaman yang sangat dasar tentang SPOS, para responden dalam kategori ini pada umumnya bersedia agar pasien atau orang sakit yang sudah mulai berada dalam bahaya maut menerima pelayanan SPOS. Dasar kesediaan mereka adalah hakikat dari sakramen itu Mereka yakin bahwa sakramen yang dilayani oleh Gereja mampu menyelamatkan umat beriman. Para responden tersebut berpendapat bahwa mereka akan bersedia agar pasien menerima pelayanan SPOS sejauh hal itu dilakukan oleh Gereja untuk keselamatan pasien. Namun, beberapa responden lain juga merasa bingung . idak ada jawaban yang past. , karena pemahaman mereka tentang SPOS tidak memadai atau sangat terbatas. Kedua, kelompok yang memiliki pemahaman yang kurang lengkap dan keliru tentang SPOS. Pemahaman yang kurang lengkap dan keliru menyebabkan sebagian besar para responden dalam kategori ini akan merasa takut dan tidak bersedia untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Beberapa responden menyatakan pelayanan SPOS baru boleh https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit diberikan kepada pasien atau orang sakit jika dia sudah sekarat dan hendak meninggal. Dalam situasi demikian. SPOS boleh diberikan sebagai pengurapan terakhir yang mempersiapakan kematiannya. Responden lain tidak setuju jika pasien diberikan pelayanan SPOS karena pemberian SPOS akan menyebabkan pasien meninggal dengan cepat. Responden lain juga berpendapat bahwa karena SPOS hanya bisa diterima satu kali, maka pasien atau orang sakit sebaiknya menerima pelayanan SPOS ketika dia sudah sungguh sekarat dan hendak meninggal. Ketiga, kelompok yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang SPOS. Para responden yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang SPOS akan sangat bersedia untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien yang sudah mulai berada dalam bahaya maut dan tidak menunggu orang sakit berada dalam kondisi sekarat dan hendak Bagi mereka. SPOS harus diberikan lebih awal. tidak boleh menunggu sampai kondisi pasien atau orang sakit sekarat dan hendak meninggal. Berdasarkan pengalaman dan keyakinan mereka sendiri serta kesaksian orang lain, mereka percaya bahwa pemberian SPOS bagi pasien akan mendatangkan rahmat peneguhan, penghiburan, kekuatan, dan kesembuhan bagi pasien dan juga bagi keluarga pasien. Para responden yang mempunyai pemahaman yang baik dan benar tentang SPOS dapat membantu untuk mempersiapkan dan meyakinkan pasien atau orang sakit untuk menerima pelayanan SPOS dengan penuh iman. Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Unctio Infirmoru. dalam Gereja Katolik Arti. Tujuan, dan Buah-buah SPOS Yesus Kristus senantiasa menggunakan suatu cara tertentu yang indrawi dalam menyatakan tindakan pengudusan-Nya terhadap manusia. Dengan cara tertentu. Yesus membuat karya penyelamatan Allah dalam diri-Nya menjadi nyata bagi manusia. Yesus menciptakan sarana untuk mengungkapkan rahmat keselamatan itu kepada manusia secara tampak atau dapat ditangkap oleh indra manusia. Karya penyelamatan Yesus di dalam Gereja tampak dalam perbuatan yang disebut sakramen (Yanto, et al. , 2023. Dwiatmaja, 2. Term AosakramenAo berasal dari kata bahasa Latin, yakni sacramentum yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau yang ilahi. Kata sacramentum berasal dari kata kerja sacrare yang berarti menguduskan, menyucikan, atau mengkhususkan sesuatu atau seseorang bagi bidang yang disebut suci atau khusus (Baker, 1993. Berangka, 2. Dalam bahasa Yunani, sakramen disebut mysterion atau mysterium yang berarti keselamatan yang tidak Kata mysterion dalam Alkitab digunakan untuk menggambarkan rencana keselamatan Allah yang tidak terlihat secara langsung, tetapi dinyatakan melalui diri Yesus Kristus. Sakramen adalah tanda-tanda yang terlihat . apat ditangkap oleh panca indr. untuk mengungkapkan rahmat Allah yang tak terlihat (Banjarnahor & Goa, 2023. Martasudjita. Sakramen merupakan tanda dan sarana keselamatan Allah bagi umat manusia. Sakramen adalah simbol yang kelihatan dari rahmat dan kehadiran Tuhan yang tidak Sakramen menunjukkan persatuan antara manusia dengan Allah melalui Yesus Kristus. Selain itu, sakramen merupakan sarana untuk menguduskan atau menghantar orang https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit kepada keselamatan yang ditawarkan oleh Allah, membawa orang pada persatuan dengan Kristus, serta memperkuat iman dan persekutuan dengan Gereja . KGK 1. Yesus Kristus merupakan Sakramen Dasar, karena seluruh hidupnya menghadirkan Allah dan tindakan penyelamatan Allah. Sakramen-sakramen ditetapkan oleh Kristus sendiri (KGK 1. dan dipercayakan kepada Gereja (KGK 1. Sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik meliputi tujuh sakramen yang dikategorikan menjadi tiga kelompok. Pertama, sakramen-sakramen inisiasi, yakni Sakramen Pembaptisan (Permandia. Sakramen Krisma (Penguata. , dan Sakramen Ekaristi (Komuni Pertam. Kedua, sakramen-sakramen penyembuhan, yakni Sakramen Rekonsiliasi atau Tobat (Pengakuan Dos. dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Ketiga, sakramen-sakramen panggilan, yakni Sakramen Imamat (Tahbisan Suc. dan Sakramen Perkawinan. Melalui ketujuh sakramen tersebut. Gereja terus melestarikan karya penyelamatan Allah di dunia dan menghadirkan misteri Salib Kristus yang menyelamatkan (Benu & Senda, 2. serta memperoleh rahmat keselamatan Allah (Sunarko, 2. Sakramen Minyak Suci atau SPOS merupakan sakramen yang dikhususkan untuk orang beriman yang sedang sakit. SPOS adalah sakramen yang dikhususkan oleh Gereja untuk menguatkan umat beriman yang dicobai oleh penderitaan sakit (KGK 1. sebab Allah membiarkan manusia diuji, termasuk dengan penderitaan sakit dan penyakit, untuk memurnikan imannya (Dewantara, 2. Melalui SPOS. Gereja menyerahkan umat beriman yang sakit kepada Tuhan untuk meringankan dan menyelamatkan orang sakit itu (KHK 998, 1. Orang beriman yang dibolehkan untuk menerima SPOS adalah orang beriman yang mulai berada dalam bahaya maut karena kondisi sakit dan usia lanjut (KHK KGK 1514. SC . SPOS dimaksudkan untuk memberikan penghiburan dan kekuatan iman bagi orang sakit agar dia mampu menanggung segala penderitaan sakitnya. Selain itu. SPOS juga dimaksudkan agar umat beriman yang sedang sakit segera disembuhkan, baik secara spiritual maupun secara fisik. Dengan demikian. SPOS dalam Gereja Katolik merupakan tindakan penyembuhan jasmani dan rohani (Krisdiana. Jelahu & Maria, 2. SPOS hanya dapat diberikan oleh seorang imam dan uskup (KHK 1003. KGK 1. dengan mengoleskan minyak . inyak zaitun atau minyak nabati lainny. yang telah diberkati secara khusus (Olieum Infirmoru. oleh uskup dalam Misa Krisma pada hari Kamis Putih (Setyorini, et al. , 2. Minyak tersebut merupakan tanda kehadiran Roh Kudus dan penyucian (Otta, 2021. Budiarjo, 2. Dengan menerima SPOS, orang sakit diharapkan untuk mampu menanggung dan menyatukan penderitaan atau segala rasa sakitnya dengan penderitaan Kristus. SPOS sama sekali tidak bertujuan untuk mempercepat kematian orang beriman yang sedang sakit. Oleh karena itu. SPOS sebisa mungkin diberikan secepatnya tanpa menunggu orang sakit berada dalam kondisi kritis atau hampir mati (KHK KGK 1514. SC . Pemberian SPOS, bila memungkinkan, disertai dengan Sakramen Tobat dan Ekaristi sebagai viatikum . ekal perjalana. bagi orang sakit itu (KGK 1517, 1. , sehingga ketika meninggal, orang sakit itu memperoleh jaminan keselamatan atau kebangkitan (Yoh. Selain itu. SPOS juga berdaya untuk memberikan pengampunan dosa bagi orang sakit. Jika orang sakit telah melakukan dosa dan menerima SPOS, maka https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit dosanya akan diampuni (KGK 1. Orang sakit yang meninggal setelah diurapi SPOS menjadi layak untuk menghadap hadirat Allah. SPOS bisa diberikan kepada orang sakit lebih dari satu kali. Orang sakit yang pernah menerima SPOS dan pulih kembali dapat menerima SPOS jika dia jatuh sakit lagi. Orang sakit yang pernah menerima SPOS dan kondisinya semakin parah dapat menerima ulang pelayanan SPOS. Orang sakit yang akan menghadapi operasi besar dianjurkan juga untuk menerima pelayanan SPOS. Hal serupa juga berlaku bagi para lansia yang kekuatannya mulai melemah (KGK 1. SPOS hanya dapat diberikan atau dilayani oleh seorang imam. Setiap imam dapat membawa minyak pengurapan yang sudah diberkati, agar dalam situasi mendesak, ia dapat memberikan pelayanan SPOS bagi orang beriman yang membutuhkannya (KHK 1. Dengan demikian. SPOS tidak dapat diberikan atau dilayani oleh seorang diakon, para frater, dan umat awam. SPOS memiliki buah-buah rahmat bagi umat beriman yang sedang sakit. Pertama, anugerah Roh Kudus. Rahmat pertama dari SPOS adalah kekuatan, ketenangan . , dan kebesaran hati . untuk menghadapi penderitaan sakit atau kelemahan karena usia lanjut. Anugerah Roh Kudus akan memampukan orang sakit untuk terus berharap dan beriman kepada Allah. Selain itu, rahmat kekuatan dan keberanian untuk melawan godaan musuh yang jahat dan melawan rasa takut akan kematian (KGK 1. Kedua, persatuan dengan sengsara Kristus. Dengan menerima SPOS, orang sakit menyatukan penderitaannya dengan sengsara Kristus sendiri. Dengan demikian, dia diikutsertakan dalam karya keselamatan Yesus (KGK 1. Ketiga, rahmat Gerejani. Orang sakit yang menggabungkan diri dalam sengsara Kristus melalui penerimaan SPOS akan menguduskan Gereja, mendatangkan kesejahteraan bagi umat Allah (LG . , dan menyerahkan Gereja kepada Allah Bapa melalui Kristus (KGK 1. Keempat, persiapan untuk perjalanan terakhir. SPOS yang diberikan kepada orang sakit berat atau para lansia yang berada pada saat terakhir hidup mereka menjadi sakramen yang mempersiapkan perjalanan terakhir mereka. Penerimaan SPOS dalam situasi tersebut membuat orang sakit secara definitif serupa dengan kematian dan kebangkitan Kristus. SPOS menjadi urapan terakhir sebelum masuk ke Rumah Bapa (KGK 1. Dengan menerima SPOS, umat beriman yang sakit dipersiapkan untuk perjalanan menuju Rumah Bapa dengan iman yang kuat dan kelayakan karena dosanya sudah Landasan Biblis SPOS Kebiasaan berdoa dan mengurapi orang sakit dengan minyak merupakan tradisi yang diwariskan dari Perjanjian Lama. Sakit atau penyakit dalam konteks Perjanjian Lama dihubungkan dengan dosa. Dosa . etidaktaatan dan ketidaksetiaa. manusia menyebabkan Allah murka dan mendatangkan malapetaka bagi manusia sendiri, termasuk sakit dan penyakit (Kej. 3:16-19. Yer. 2:19. Mzm. (Julianus, et al. , 2. Orang yang berdosa akan dihukum oleh Allah dengan berbagai macam penderitaan (Mzm. Orang sakit yang ingin menjadi sembuh harus diurapi dengan balsam (Yer. 8:22. Yes. sembari https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit berdoa untuk memohon penyembuhan dari Tuhan (Sir. karena penyembuhan sejati hanya berasal dari Tuhan sendiri (Kel. Yesus dalam perikop Yoh. 9:2-7 mengajarkan sakit merupakan pernyataan kuasa Allah dan penyembuhan merupakan karya keselamatan Allah. Perikop Mrk. 6:13 menyatakan para rasul yang diutus oleh Yesus mengusir banyak setan dan mengoles minyak kepada banyak orang sakit dan menyembuhkan mereka. Yesus pun memberikan kuasa penyembuhan kepada para murid-Nya (Mat. Setelah kebangkitan. Yesus kembali mengutus para murid-Nya untuk menyembuhkan orang sakit (Mrk. Dengan demikian, pengurapan minyak atas orang sakit dilanjutkan oleh umat beriman setelah Yesus naik ke Surga. Rasul Yakobus dalam suratnya . :11-. menulis demikian. AuKalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia. Dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanyaAy. Dengan demikian, praktik SPOS dalam Gereja Katolik merupakan praktik iman yang mempunyai dasar biblis yang jelas dan kuat Perubahan Nomenklatur SPOS pada masa sebelum Konsili Vatikan II kerap kali disebut sebagai Sakramen Perminyakan Terakhir. Hal itu berawal dari tradisi dan praktik dalam Gereja yang memberikan pelayanan SPOS hanya untuk umat beriman yang berada dalam sakratulmaut (KGK 1. Terminologi AuSakramen Perminyakan TerakhirAy tampaknya memiliki makna yang condong negatif. Penggunaan terminologi tersebut membuat banyak umat beriman kemudian sering kali memahami SPOS secara keliru. SPOS pun dipandang sebagai sakramen yang mempercepat atau menghantar orang sakit kepada kematian. Dalam praktiknya, banyak orang sakit yang sekarat segera meninggal setelah menerima SPOS. Hal itu justru mengamini pandangan yang keliru tentang SPOS. Banyak umat beriman kemudian menjadi takut untuk menerima pelayanan SPOS. Namun, setelah Konsili Vatikan II. Gereja membaharui ajarannya tentang SPOS. SPOS kemudian diberikan kepada setiap orang yang mulai berada dalam keadaan berbahaya karena sakit atau juga usia lanjut (KHK 1004. KGK SC . (Marasudjita, 20. Konsili Vatikan II mencoba untuk memaknai kembali sakramen ini secara lebih utuh dengan berdasar pada teks Yak. 5:14-15. Sakramen ini diberikan bukan sekadar untuk memohon rahmat pengampunan dosa, tetapi juga memohon kesembuhan fisik umat beriman yang sedang sakit. Gereja dalam perjalanan selanjut lebih memilih untuk menyebut sakramen ini sebagai Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk mengganti penggunaan istilah Sakramen perminyakan Terakhir. Dengan demikian. SPOS merupakan sakramen bagi orang sakit dan para lansia yang mesti diberikan ketika mereka sudah mulai dalam situasi bahaya dan tidak harus menunggu sampai dalam kondisi kritis atau detik-detik terakhir hidup mereka (Subarjdo, 2003. Menzies & Horton, 2003. Schneider, 2. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Eugenius Koresy Bour, dkk | Pemahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit Solusi Pastoral: Khotbah dan Katekese tentang SPOS Penelitian ini menunjukkan masih ada umat Katolik yang belum memahami SPOS dengan baik dan benar. Banyak orang Katolik yang masih memiliki pandangan keliru tentang SPOS. Pemahaman yang keliru itu menyebabkan mereka menjadi takut untuk menerima pelayanan SPOS ketika dalam kondisi sakit yang berat. Pemahaman yang keliru tersebut mesti diluruskan. Gereja mempunyai tanggung jawab dan tugas untuk meluruskan pemahaman keliru tersebut. Salah satu langkah pastoral yang dapat dilakukan adalah katekese umat, yakni satu usaha untuk memberikan pengajaran yang benar dan jelas. Para frater, suster, dan katekis hendaknya dilibatkan untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha Sesi katekese tentang SPOS dapat dilakukan melalui pelajaran Agama Katolik di sekolah dan pengajaran di lingkungan paroki atau juga di Kelompok Umat Basis (KUB). Dalam rangka melancarkan usaha ini, para katekis juga perlu dan mesti disiapkan dengan baik melalui pelatihan oleh pastor paroki atau imam yang memiliki ahli di bidang liturgi Gereja. Selain itu, pengajaran sederhana dapat dilakukan juga melalui khotbah-khotbah para pastor. Simpulan Pemahaman umat . asien dan keluarga pasie. Katolik terhadap SPOS mempunyai relevansi dengan kesediaan mereka untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Umat Katolik yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang SPOS senantiasa bersedia untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Sebaliknya, umat Katolik yang memiliki pemahaman yang keliru tentang SPOS pada umumnya cenderung merasa takut dan tidak bersedia untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien. Jadi, semakin baik pemahaman seseorang tentang SPOS, maka semakin besar pula kesediaannya untuk menerima pelayanan SPOS bagi pasien atau orang sakit yang sudah mulai berada dalam bahaya maut. Hasil penelitian ini juga menunjukkan masih ada umat Katolik yang memiliki pemahaman yang keliru tentang SPOS. Oleh karena itu, satu langkah pastoral diperlukan untuk meluruskan pemahaman umat yang keliru tentang SPOS. Langkah pastoral yang dapat dilakukan adalah pengajaran umat melalui katekese dan khotbah. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi saya masukan dalam proses penulisan artikel ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada team jurnal SAPA yang telah memberikan kesempatan untuk saya menulis karya saya di sini. Referensi