Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index PANCASILA DI ERA ALGORITMA: URGENSI STRATEGI GURU SD MEMBANGUN 'IMUNITAS DIGITAL' DAN KARAKTER MODERAT PADA GENERASI ALPHA Sandy Despian Permana 1 *. Siti Sarah Harahap2 . Jopani Ramadhani3. Amalia Nazlah Hutabarat4. Christine Nathalia Simatupang5. Johana Sitorus6. 1,2,3,4,5,6 Universitas Negeri Medan ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 15 Maret 2026 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Generasi Alpha, yang lahir sepenuhnya di era digital, menghadapi tantangan unik berupa paparan algoritma media sosial yang berpotensi mengikis nilainilai nasional. Artikel ini mengkaji urgensi strategi guru sekolah dasar dalam membangun 'imunitas digital' dan karakter moderat berdasarkan Pancasila Kata Kunci: untuk Generasi Alpha. Imunitas digital didefinisikan sebagai kapasitas kritis Pancasila. Generasi Alpha. dan moral siswa dalam menyaring konten daring berdasarkan nilai Pancasila. Imunitas Digital. Karakter Studi ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan Moderat. Guru SD protokol PRISMA, mengacu pada teori kewarganegaraan digital, literatur Keywords: terbaru tentang perilaku Generasi Alpha, dan temuan penelitian empiris dari Pancasila. Generation Alpha. tahun 2023Ae2024. Temuan menunjukkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai Digital Immunity. Moderate Pancasila ke dalam literasi digital dapat memperkuat filter moral siswa Character. Elementary Teachers terhadap konten radikal dan hoaks. Namun, hambatan seperti kesenjangan kompetensi digital guru, kurangnya materi pengajaran kontekstual, dan dominasi algoritma komersial tetap menjadi tantangan utama. Studi ini mengajukan sebuah kerangka konseptual strategi pedagogis berbasis kewarganegaraan digital yang relevan untuk menerapkan Profil Siswa Pancasila di kelas sekolah dasar. ABSTRACT Generation Alpha, born entirely in the digital era, faces unique challenges regarding social media algorithm exposure that potentially erodes national values. This article examines the urgency of Elementary School (SD) teachers' strategies in building 'digital immunity' and Pancasila-based moderate character for Generation Alpha. Digital immunity is defined as the students' critical and moral capacity to filter online content based on Pancasila values. This study uses a Systematic Literature Review (SLR) method with PRISMA protocols, drawing on digital citizenship theory, recent literature on Generation Alpha behavior, and empirical research from 2023Ae2024. Findings indicate that integrating Pancasila values into digital literacy strengthens students' moral filters against radical content and hoaxes. However, obstacles such as gaps in teachers' digital competence, lack of contextual teaching materials, and the dominance of commercial algorithms remain major challenges. This study proposes a conceptual framework for pedagogical strategies based on digital citizenship relevant to implementing the Pancasila Student Profile in elementary classrooms. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. Pendahuluan Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 dan 2024, adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya terbenam dalam ekosistem digital. Bagi mereka, teknologi bukan hanya alat, tetapi lingkungan hidup yang membentuk cara mereka berpikir dan berinteraksi. Dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia, fenomena ini menghadirkan urgensi baru bagi guru sekolah dasar * Corresponding author. E-mail addresses: sandypermana2124@gmail. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. untuk tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis tetapi juga literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Algoritma media sosial, yang cenderung menciptakan ruang gema . cho chambe. , berpotensi mempolarisasi pandangan siswa sejak usia dini, mengancam karakter moderat yang mendasari keberagaman Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan Pancasila tidak dapat lagi disampaikan secara konvensional tetapi harus menjadi "imunitas digital" yang melindungi siswa dari disinformasi dan radikalisme daring. Secara operasional dalam studi ini, 'Imunitas Digital' didefinisikan sebagai kemampuan resilien siswa dalam ekosistem digital yang mencakup tiga dimensi: . Literasi Teknis . emampuan menggunakan ala. , . Literasi Kritis . emampuan memverifikasi kebenara. , dan . Literasi Etis . emampuan bertindak berdasarkan nilai moral Pancasil. Konsep ini berbeda dengan literasi digital biasa karena menekankan pada aspek "kekebalan" atau resistensi terhadap manipulasi algoritma yang bertentangan dengan nilai kebangsaan. Secara teoritis, konsep kewarganegaraan digital menekankan bahwa kompetensi teknologi harus disertai dengan etika dan tanggung jawab sosial. Ribble . menegaskan bahwa literasi digital tanpa landasan nilai-nilai nasional hanya akan menghasilkan pengguna teknologi yang mahir secara teknis tetapi rapuh secara moral. Bagi siswa sekolah dasar, pendekatan ini perlu diterjemahkan ke dalam penanaman nilai-nilai Pancasila dalam interaksi daring, seperti menghormati perbedaan pendapat di kolom komentar dan memverifikasi informasi sebelum Demikian pula. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi . , melalui Kurikulum Merdeka, menekankan Profil Siswa Pancasila sebagai kompas moral di era yang penuh gejolak ini. Dimensi keragaman global dan berpikir kritis sangat relevan untuk melindungi siswa dari algoritma yang memanipulasi emosi. Urgensi strategi guru sekolah dasar semakin terlihat jelas ketika data menunjukkan peningkatan akses terhadap perangkat di kalangan anak-anak sekolah dasar. Berdasarkan Survei Literasi Digital Indonesia tahun 2023 yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, tercatat bahwa 65% anak berusia 8-12 tahun memiliki akses internet secara mandiri tanpa pengawasan ketat. Mereka rentan terhadap paparan konten kekerasan, ujaran kebencian, dan budaya instan yang bertentangan dengan nilai-nilai kerja sama timbal balik. Oleh karena itu, guru sekolah dasar dituntut untuk menjadi fasilitator yang mampu menerjemahkan nilai-nilai abstrak Pancasila ke dalam perilaku digital yang konkret. Menerapkan pendidikan karakter berbasis Pancasila di era algoritmik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kohesi sosial bangsa di masa depan. Namun, penerapan strategi ini menghadapi beberapa tantangan. Guru seringkali kurang mahir teknologi dibandingkan siswa mereka, sehingga sulit untuk membimbing mereka dalam penggunaan media sosial yang bijak. Kurikulum yang padat juga sering mengabaikan integrasi nilai-nilai Pancasila ke dalam pembelajaran digital. Lebih jauh lagi, kurangnya infrastruktur digital di daerah terpencil menciptakan kesenjangan dalam penerapan literasi digital yang merata. Hambatan struktural ini menghambat pengembangan karakter moderat yang efektif pada Generasi Alpha. Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa strategi dapat diterapkan. Pembelajaran berbasis proyek yang membahas isu-isu digital lokal dapat digunakan untuk membantu siswa memahami dampak nyata teknologi terhadap lingkungan mereka. Pendekatan pembelajaran campuran yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam setiap aktivitas daring juga sangat penting. Penguatan kompetensi guru melalui pelatihan literasi digital berbasis nilai-nilai nasional merupakan kunci. Lebih lanjut, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan platform teknologi diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan mendidik. Dukungan kebijakan dari pemerintah daerah juga harus diperkuat melalui penyediaan infrastruktur dan bahan ajar yang relevan. Metode Penelitian ini menggunakan metode Tinjauan Pustaka Sistematis (Systematic Literature Review - SLR) yang dikombinasikan dengan analisis tematik mendalam. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan gambaran komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentang perkembangan penelitian terkait pendidikan Pancasila dan literasi digital dalam konteks GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Generasi Alpha. Proses review mengikuti standar PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk memastikan transparansi dan sistematika. Tahap 1: Identifikasi dan Pencarian Data Pengumpulan data melibatkan pencarian artikel ilmiah dari basis data akademik kredibel, termasuk Scopus. ERIC. SINTA 2Ae4. Google Scholar, dan repositori Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Pencarian dilakukan pada periode Januari 2023 hingga Desember 2024 untuk memastikan kebaruan data. Kata kunci pencarian . earch string. yang digunakan adalah: ("Pancasila Education" OR "Civic Education") AND ("Digital Literacy" OR "Digital Immunity") AND ("Elementary School" OR "Generation Alpha"). Tahap 2: Seleksi dan Skrining Dari total 62 artikel yang ditemukan secara awal, proses seleksi dilakukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat: Kriteria Inklusi: Artikel membahas Pancasila atau pendidikan karakter untuk siswa sekolah dasar. meneliti dampak literasi digital. diterbitkan dalam jurnal peer-reviewed atau laporan resmi tersedia dalam teks lengkap . ull tex. bahasa Indonesia atau Inggris. Kriteria Eksklusi: Penelitian berfokus pada pendidikan tinggi. artikel opini tanpa metodologi jelas. duplikasi data. tidak tersedia akses penuh. Berdasarkan kriteria tersebut, 30 artikel memenuhi syarat relevansi dan kualitas untuk dianalisis lebih lanjut. Tahap 3: Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, & Saldaya . , yang terdiri dari tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data direduksi ke dalam tema utama: aspek kognitif digital, aspek afektif nasional, dan aspek pedagogis Untuk menjaga validitas, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dengan membandingkan temuan dari berbagai jenis penelitian . uantitatif, kualitatif, dan campura. serta melakukan diskusi rekan sejawat . eer debriefin. Keterbatasan Studi: Penelitian ini memiliki keterbatasan pada akses artikel berbayar internasional dan fokus waktu 2023Ae2024 yang mungkin mengecualikan studi foundational Namun, fokus ini dipilih untuk menangkap tren terkini pasca-implementasi Kurikulum Merdeka. Hasil dan Pembahasan 1 Imunitas Digital dan Literasi Informasi Pembelajaran berbasis Pancasila telah terbukti memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan kekebalan digital siswa sekolah dasar. Peningkatan terlihat jelas dalam keterampilan berpikir kritis mereka dalam menyaring informasi. Merujuk pada Laporan Monitoring Evaluasi Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2. , siswa yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam literasi digital mereka hingga 45% lebih baik dalam mengidentifikasi hoaks daripada mereka yang tidak. Hal ini memperkuat landasan moral mereka dibandingkan dengan siswa yang hanya mengandalkan keterampilan teknis. Kemampuan mereka untuk memverifikasi informasi juga meningkat, karena kebiasaan menghubungkan konten daring dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam Pancasila menumbuhkan pola pikir yang lebih skeptis terhadap klaim yang tidak berdasar. 2 Kerangka Konseptual Strategi Guru Berdasarkan sintesis literatur, studi ini mengajukan sebuah kerangka konseptual untuk membangun imunitas digital. Sandy Despian Permana / Pancasila Di Era Algoritma: Urgensi Strategi Guru Sd Membangun 'Imunitas Digital' Dan Karakter Moderat Pada Generasi Alpha Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Gambar 1. Kerangka Konseptual Pembangunan Imunitas Digital Berbasis Pancasila pada Generasi Alpha Seperti terlihat pada Gambar 1, kerangka konseptual ini menggambarkan alur transformasi nilai Pancasila menjadi imunitas digital melalui tiga tahap utama. Pada tahap Input, nilai-nilai fundamental Pancasila . eperti Gotong Royong dan Berkebinekaan Globa. dipadukan dengan kompetensi digital guru sebagai fondasi strategis. Tahap Proses mengoperasionalkan fondasi tersebut melalui tiga strategi pedagogis: . pembelajaran berbasis proyek digital yang kontekstual, . simulasi keamanan dan etika digital, serta . diskusi kritis yang mengaitkan konten daring dengan nilai Pancasila. Tahap Output menghasilkan dua capaian utama: imunitas digital . emampuan siswa memfilter hoaks, memverifikasi informasi, dan beretika dalam berkomenta. serta karakter moderat . oleransi, nasionalisme digital, dan tanggung jawab sosia. Loop umpan balik dari Output ke Proses menekankan pentingnya evaluasi dan refleksi berkelanjutan untuk penyempurnaan strategi. Maka dari itu kerangka ini menunjukkan bahwa nilai Pancasila berfungsi sebagai filter Dari perspektif kognitif, literasi digital berbasis karakter memiliki dampak signifikan pada fleksibilitas berpikir. UNESCO . menekankan bahwa pendidikan teknologi harus memperkuat aspek etika dan keamanan. Siswa sekolah dasar yang dibimbing oleh strategi ini lebih terampil dalam menyaring informasi yang tidak relevan, lebih mudah mengubah perspektif ketika menghadapi perbedaan budaya daring, dan memiliki kapasitas memori kerja yang lebih baik karena mereka terbiasa memproses informasi melalui filter nilai. Penelitian oleh Priyatna . mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa siswa lebih kreatif dalam menciptakan konten positif dan lebih cepat memahami risiko privasi data. 3 Aspek Afektif dan Tantangan Psikologis Selain aspek akademis dan kognitif, faktor afektif juga memainkan peran penting. Siswa sekolah dasar yang menerima pendekatan pendidikan karakter digital cenderung memiliki motivasi tinggi karena merasa lebih siap menjadi warga digital yang bertanggung jawab. Namun, pembelajaran ini juga menimbulkan tantangan berupa kecemasan teknologi. Berdasarkan riset McCrindle . tentang Generasi Alpha, tercatat bahwa 55% merasa tertekan oleh ekspektasi media sosial, 40% takut akan perundungan siber, dan 25% enggan berpartisipasi dalam diskusi daring karena takut melakukan kesalahan. Namun, strategi seperti bimbingan orang tua, simulasi keamanan digital, dan diskusi kelas terbuka telah terbukti mengurangi kecemasan hingga 35%. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. 4 Kompetensi Pedagogis Guru Dampak positif dari strategi guru juga terlihat dalam kompetensi pedagogis mereka dalam mengelola kelas digital. Guru sekolah dasar yang menerapkan integrasi Pancasila lebih siap untuk mengajar materi dari perspektif global dan terampil menggunakan aplikasi digital yang aman. Namun, implementasi menghadapi tantangan nyata. Mengutip studi Rahmawati . dalam Indonesian Journal of Teacher Training, ditemukan bahwa sekitar 60% guru sekolah dasar di Indonesia kurang memiliki literasi digital yang memadai untuk membimbing siswa. Data kuantitatif ini menegaskan bahwa keterbatasan kompetensi guru merupakan masalah utama yang harus diatasi melalui pelatihan intensif. Selain itu, beban kognitif siswa meningkat karena materi karakter abstrak menjadi semakin sulit ketika dikaitkan dengan dinamika digital yang Simpulan dan saran Pembelajaran berbasis Pancasila di era algoritmik memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap pengembangan karakter Generasi Alpha, yang mencakup aspek kognitif digital, kewarganegaraan afektif, dan keterampilan pedagogis guru. Secara akademis, siswa yang terbiasa dengan pendekatan terintegrasi nilai menunjukkan literasi informasi yang lebih kuat. Imunitas digital, sebagai konsep inti dalam studi ini, terbukti memperkuat fungsi eksekutif siswa sehingga mereka lebih fleksibel dalam berpikir dan memiliki fokus yang lebih stabil saat menganalisis teks digital yang kompleks. Dari perspektif afektif, siswa memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi karena menyadari bahwa menjadi warga digital yang baik merupakan keunggulan kompetitif di masa depan. Namun, kecemasan teknologi tetap menjadi tantangan yang memerlukan pendampingan intensif. Dampak positif juga terlihat pada kesiapan pedagogis guru, meskipun kesenjangan kompetensi . ebagaimana ditunjukkan data 60% guru belum sia. tetap menjadi hambatan struktural utama bersama dengan keterbatasan infrastruktur. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi yang tepat. Pelatihan guru yang intensif adalah langkah pertama untuk memastikan mereka mampu secara konsisten mendukung pendidikan karakter digital. Kampus dan sekolah juga perlu menciptakan lingkungan akademik yang kondusif. Model pembelajaran seperti Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kewarganegaraan Digital dapat diimplementasikan untuk memaksimalkan potensi karakter. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji coba kerangka konseptual yang ditawarkan dalam studi ini melalui penelitian tindakan kelas (PTK) untuk mengukur efektivitasnya secara empiris. UCAPAN TERIMAKASIH