Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . Analisis Risiko Postur Kerja Dan Ergonomi Mesin Gerinda Ulir Pipa OCTG Menggunakan Metode REBA Nurul Ulfah. Ari Wibowo. Nugroho Pratomo Ariyanto. Roza Puspita. Nurul Laili Arifin. Nikolas Sembiring. Yosef Adicita. Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan. Politeknik Negeri Batam 2,3,4,5,6,. Teknologi Rekayasa Pengelasan dan Fabrikasi. Politeknik Negeri Batam . nurululfah@polibatam. id, . ariwibowo@polibatam. id, . nugroho@polibatam. roza@polibatam. id, . laili@polibatam. id, . adicita@polibatam. Abstrak Postur kerja yang tidak sesuai bisa menjadi pemicu timbulnya keluhan fisik pada pekerja, terutama jika dilakukan dalam waktu lama dan berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja operator dalam proses penggerindaan ulir pada pipa OCTG dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), serta perbaikan ergonomi yang dibutuhkan untuk mengurangi potensi risiko. Penilaian dilakukan menggunakan metode REBA dengan pendekatan deskriptif semi-kuantitatif. Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan, dokumentasi foto, pengukuran sudut tubuh menggunakan AutoCAD, dan wawancara dengan dua orang operator. Hasil awal menunjukkan bahwa posisi kerja operator termasuk dalam kategori risiko sedang, dengan skor REBA Untuk mengurangi risiko tersebut, dudukan gerinda dibuat yang disesuaikan dengan tinggi badan Setelah perbaikan dilakukan, skor REBA menurun menjadi 2, yang menunjukkan risiko rendah. Perubahan terlihat jelas terutama pada posisi punggung, leher, dan kaki yang menjadi lebih tegak dan seimbang. Hasil ini menunjukkan bahwa perbaikan sederhana yang memperhatikan kenyamanan postur kerja dapat berdampak besar terhadap kesehatan dan kenyamanan pekerja, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Kata kunci : Ergonomi. REBA. Postur kerja. Gerinda. Pipa OCTG PENDAHULUAN Pipa Oil Country Tubular Goods (OCTG) merupakan jenis pipa yang umum digunakan dalam proses pengeboran minyak, gas, dan panas bumi, baik di wilayah darat maupun lepas pantai. Salah satu tahapan penting dalam produksi pipa OCTG adalah proses inspeksi ulir, yang bertujuan untuk memastikan ulir berada dalam kondisi baik, rapi, dan bebas dari sisa Namun, pada proses ini keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu mendapatkan perhatian. Salah ditemukan dalam proses penggerindaan ulir pipa adalah postur kerja operator yang tidak Sebagai contoh, di PT XYZ, perusahaan manufaktur pipa OCTG di Kota Batam ditemukan bahwa posisi mesin gerinda tidak sesuai dengan tinggi tubuh 1 | Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI BanyuwangI operator, sehingga operator harus bekerja dengan posisi menunduk dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini termasuk dalam kategori bahaya ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja, dan berisiko menimbulkan keluhan pada sistem muskuloskeletal, yang pada akhirnya dapat memengaruhi tingkat kenyamanan dan produktivitas pekerja . , . , . Postur kerja yang kurang ergonomis merupakan salah satu faktor utama yang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan kerja, terutama yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal. Gangguan ini dikenal sebagai Musculoskeletal Disorders (MSD. , yang mencakup keluhan pada otot, tendon, kartilago, ligamen, rangka, sistem vaskular, hingga saraf . MSD umumnya terjadi akibat akumulasi cedera mikro yang disebabkan oleh beban kerja berlebih, postur tubuh yang statis dan tidak tepat, gerakan berulang, durasi kerja Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . yang panjang, serta tekanan mekanik Faktor lingkungan seperti suhu, getaran, tekanan, dan pencahayaan yang tidak memadai turut memperburuk risiko tersebut . , . Selain MSD, postur tubuh yang tidak ergonomis juga dapat memicu gangguan lain yang tidak kalah serius. Salah satunya adalah carpal tunnel syndrome, yaitu kondisi yang disebabkan oleh tekanan berulang pada saraf median yang membentang dari bahu hingga pergelangan tangan, biasanya akibat aktivitas tangan yang berulang dan posisi pergelangan yang tidak netral . , . Gangguan lainnya adalah lower back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah, yang sering terjadi akibat kebiasaan duduk dalam waktu lama dengan posisi yang tidak tepat, kebiasaan mengangkat beban dengan teknik yang salah, atau postur membungkuk dalam durasi lama. Keseluruhan kondisi ini menunjukkan bahwa postur kerja yang buruk tidak hanya berdampak pada kenyamanan kerja, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kecacatan kerja jangka Penelitian menganalisis postur kerja operator pada proses penggerindaan ulir pipa OCTG menggunakan metode REBA, serta mengidentifikasi perbaikan ergonomi yang diperlukan untuk mengurangi potensi risiko kerja dan meningkatkan kenyamanan kerja penelitian ini difokuskan pada analisis risiko ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan perbaikan ergonomi sesuai dengan nilai akhir REBA yang diperoleh. Metode REBA dipilih karena mampu mengevaluasi postur tubuh secara menyeluruh, mencakup bagian kepala, punggung, lengan, pergelangan tangan, hingga tungkai bawah. Selain itu. REBA merupakan metode yang efisien dan keterampilan khusus maupun peralatan yang kompleks . , . , . Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan formulir 2 | Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI BanyuwangI REBA (Gambar . dan alat tulis sederhana untuk mencatat posisi tubuh dan sistematis. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif semi-kuantitatif, yang bertujuan untuk menilai risiko postur kerja pada operator mesin gerinda ulir pipa OCTG di PT XYZ. Diagram alir untuk penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram alir penelitian Metode REBA (Rapid Entire Body Assessmen. digunakan untuk mengevaluasi postur tubuh operator secara menyeluruh, mulai dari leher, punggung, lengan. Pengumpulan data dilakukan melalui Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . observasi langsung di lokasi kerja dengan menilai seluruh operator gerinda yang berjumlah 2 orang. Observasi dan mendapatkan persetujuan dari pihak Aktivitas operator saat melakukan penggerindaan didokumentasikan dalam bentuk foto, yang kemudian dianalisis untuk menilai postur tubuh. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, gambar-gambar menggunakan software AutoCAD 2020 sehingga sudut-sudut tubuh dapat diukur secara lebih presisi dan objektif. Gambar 1. Formulir REBA Selain itu, dilakukan wawancara secara spontan kepada operator bertujuan untuk mencari tahu keluhan atau rasa tidak nyaman yang dirasakan selama bekerja, yang sering kali tidak terlihat hanya dari observasi visual saja. Informasi dari wawancara ini kemudian dijadikan pelengkap dalam analisis dan menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun rekomendasi perbaikan postur kerja, dengan harapan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan yang mungkin muncul akibat postur kerja yang tidak ergonomis. Setelah skor REBA diperoleh, hasilnya dievaluasi untuk menentukan tingkat risiko yang ditimbulkan. Evaluasi ini mengacu pada Tabel 1, yang memuat klasifikasi tingkat tindakan, nilai akhir, tingkat risiko, serta rekomendasi perbaikan. Nilai akhir yang menunjukkan perlunya tindakan 3 | Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI BanyuwangI merumuskan solusi untuk memperbaiki kondisi kerja pada area penggerindaan ulir Sebagai bentuk tindak lanjut, dilakukan perancangan dan pembuatan dudukan gerinda guna memperbaiki postur kerja operator. Perancangan dilakukan menggunakan solidwork student version. Setelah modifikasi dilakukan, penilaian postur kerja diulang untuk memperoleh perbandingan tingkat risiko sebelum dan sesudah perbaikan. Tabel 1. Tingkatan tindakan Tingkat Nilai Tingkat Sangat Rendah Rendah Sedang 8 - 10 Tinggi 11 - 15 Sangat Tindakan Tidak pelu Mungkin perlu Diperlukan Diperlukan Diperlukan HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2 memperlihatkan postur kerja operator sebelum dilakukan perbaikan. Pada kondisi ini, proses penggerindaan ulir dilakukan di atas meja yang tingginya tidak sesuai dengan tinggi badan operator, membungkuk selama bekerja. Aktivitas ini berlangsung sekitar 30 menit, yang berarti operator berada dalam posisi tersebut cukup lama tanpa perubahan postur yang Hasil penilaian postur kerja untuk kedua operator menggunakan REBA sebelum dilakukan tindakan perbaikan dapat dilihat pada Tabel 2. Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . Tabel 2. Penilaian postur kerja sebelum dilakukan perbaikan Faktor Tubuh Gambar 2. Postur kerja operator gerinda ulir pipa di PT. XYZ sebelum dilakukan Berdasarkan hasil penilaian postur kerja yang dapat dilihat pada Tabel 2, diperoleh nilai akhir REBA sebesar 7 untuk kedua Nilai tersebut termasuk dalam mengindikasikan bahwa tindakan perbaikan diperlukan untuk mengurangi potensi risiko pada postur kerja. Hasil penilaian menunjukkan bahwa nilai REBA sebelum dilakukan perbaikan adalah 7, yang termasuk dalam kategori risiko sedang. Nilai ini sebagian besar disebabkan oleh postur tubuh operator yang tidak ideal saat Misalnya, posisi punggung operator terlihat membungkuk cukup tajam, leher juga cenderung menunduk, dan kaki tidak berada dalam posisi yang stabil. Kondisi ini muncul karena tinggi meja kerja tidak sesuai dengan tinggi badan operator, sehingga mereka terpaksa menyesuaikan tubuhnya agar dapat menjangkau area kerja. Selain itu, posisi bahu dan pergelangan tangan juga berada di luar posisi yang nyaman, terutama karena operator harus memegang gerinda tangan dalam waktu cukup lama. Jika dibiarkan terus-menerus, posisi seperti ini berpotensi menimbulkan keluhan seperti nyeri punggung, pegal di leher, atau bahkan gangguan pada pergelangan tangan. Hal inilah yang membuat perbaikan postur menjadi penting, agar aktivitas kerja bisa lebih nyaman dan aman dalam jangka panjang. 4 | Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI BanyuwangI Posisi Posisi Perpindah an postur Nilai Perubahan sudut 28,27A miring ke Membentuk sudut 52,3A ke depan Posisi kaki 137,48A dan posisi kaki Posisi kaki tidak stabil Membentuk Posisi Sudut Bahu 51,88A Membentuk Posisi siku Sudut 84,61A Posisi Membentuk pergelangan sudut >15A tangan Genggaman Nilai Berdasarkan perbaikan melalui perancangan dan menyesuaikan ketinggian alat dengan postur tubuh operator. Postur operator dengan menggunakan dudukan gerinda dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Postur kerja operator gerinda ulir pipa di PT. XYZ setelah dilakukan Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . Hasil penilaian postur kerja untuk kedua operator menggunakan REBA sebelum dilakukan tindakan perbaikan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Penilaian postur kerja setelah dilakukan perbaikan Faktor Tubuh Posisi Posisi Posisi kaki Posisi Bahu Posisi siku Perpindah an postur 10,97A miring ke Membentu k sudut 10,80A ke Posisi kaki Membentuk Sudut 18,88A Membentuk Sudut 91,15A Posisi pergelangan Membentuk sudut >15A Nilai Perubahan Nilai Berdasarkan hasil penilaian postur kerja yang disajikan pada Tabel 3, diperoleh nilai akhir REBA sebesar 2, yang termasuk dalam kategori risiko rendah. Pada tingkat risiko ini, tindakan perbaikan bersifat opsional dan hanya diperlukan jika terdapat aspek-aspek yang masih berpotensi memengaruhi kenyamanan kerja, meskipun tidak berdampak signifikan terhadap perubahan lingkungan kerja secara Contoh perbaikan yang dapat dilakukan meliputi pengaturan durasi kerja operator, memastikan posisi kerja tetap tegak sesuai dengan tinggi meja gerinda, serta penyesuaian minor lainnya. Setelah dilakukan perbaikan berupa penambahan dudukan gerinda yang disesuaikan dengan tinggi badan operator, postur kerja mengalami perubahan yang cukup signifikan. Perubahan paling terlihat adalah posisi punggung yang kini lebih tegak, leher tidak lagi terlalu menunduk, 5 | Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI BanyuwangI dan posisi kaki menjadi lebih seimbang karena operator bisa berdiri dengan Gerakan bahu dan siku juga menjadi lebih alami, karena operator tidak perlu lagi menyesuaikan tubuhnya secara berlebihan saat bekerja. Hasil ini membuktikan bahwa perbaikan sederhana seperti menyesuaikan tinggi meja dengan tinggi badan pekerja dapat memberikan dampak positif yang besar. Postur kerja menjadi lebih nyaman, dan risiko gangguan kesehatan akibat posisi tubuh yang tidak ideal pun dapat diminimalkan. Hasil yang serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan di PT. ABC menggunakan metode REBA. FTA, dan CBA untuk mengetahui risiko postur tubuh pekerja gerinda tangan, yang menunjukkan bahwa sebelum dilakukan perbaikan menggunakan meja kerja adjustable, diperoleh skor REBA sebesar 10 atau Setelah perbaikan, nilai skor REBA turun menjadi 5 . Selain itu, penelitian juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh istirahat pendek sebagai bentuk perbaikan postur tubuh mahasiswa di Politeknik Negeri Bali yang berdiri saat gerinda. Sebelum dilakukan perbaikan, dilakukan pengukuran menggunakan Nordic Body Map dan hasil menunjukkan bahwa terdapat risiko perbaikan . Penelitian lain juga menunjukan bahwa 65% pekerja memiliki risiko sedang pada bahu, lengan, tangan dan punggung sehingga perlu dilakukan perbaikan stasiun kerja karena posisi statis yang membungkuk, mesin tidak ergonomis seperti yang dirasakan oleh operator gerinda pada penelitian ini sebelum dilakukan perbaikan . , . KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, postur kerja operator mesin gerinda ulir pipa OCTG sebelum dilakukan perbaikan berada pada tingkat risiko sedang, sehingga disarankan untuk dilakukan tindakan Setelah dilakukan modifikasi Jurnal V-Mac. Vol. 10 No. 2: 1-7, 2025. ISSN 2528-0112 . berupa penambahan meja dudukan gerinda yang disesuaikan dengan tinggi operator, postur kerja menunjukkan perbaikan signifikan, dengan tingkat risiko ergonomi menurun menjadi rendah. Penerapan prinsip ergonomi tidak hanya berdampak pada kenyamanan dan kesehatan tenaga kerja, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan pengurangan risiko cedera jangka panjang. Temuan ini dapat diimplementasikan pada industri sejenis dengan memastikan penyesuaian meja kerja sesuai tinggi operator dan penerapan evaluasi ergonomi rutin untuk mencegah risiko cedera serta meningkatkan kenyamanan kerja. Referensi