BIOLOVA Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro http://scholar. id/index. php/biolova/ DOI : History Article eISSN 2716-473X p ISSN 2716-4748 Received: November 2025 Approved: Maret 2026 Published: Maret 2026 KINETIKA REAKSI PERTUMBUHAN BAKTERI PSEUDOMONAS FLUORESCENS PADA PROSES FERMENTASI AIR LINDI 1,2,3 Ghany Firmansyah1 . Tuhu Agung Rachmanto 2. Rizka Novembrianto 3 Program Studi Teknik Lingkungan. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur. Surabaya. Indonesia, 60294 ghanyfirmansyah05@gmail. com ,2tuhu. tl@upnjatim. id,3rizka. tl@upnjatim. Abstrak: Air lindi merupakan limbah cair hasil dekomposisi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang berpotensi mencemari lingkungan karena kandungan bahan organik dan logam beratnya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinetika pertumbuhan bakteri Pseudomonas fluorescens serta karakteristik fisik hasil fermentasi air lindi. Proses fermentasi dilakukan secara aerob selama 8 hari dengan variasi volume inokulum bakteri 5 mL, 7 mL, dan 10 mL dalam 100 mL air lindi. Parameter yang diamati meliputi pH, suhu, konsentrasi C-organik, dan jumlah koloni Hasil menunjukkan peningkatan pertumbuhan bakteri secara signifikan pada fase logaritmik dengan pola linear hubungan antara ln(CA0/CA) dan ln(CC/CC. Nilai koefisien determinasi (RA) mendekati 1, yang mengindikasikan kesesuaian dengan model kinetika pertumbuhan. Selain itu, terjadi penurunan kandungan C-organik dan logam berat, serta perubahan karakteristik fisik air lindi yang menunjukkan peningkatan kualitas hasil fermentasi. Dengan demikian, fermentasi air lindi menggunakan Pseudomonas fluorescens berpotensi mengurangi dampak pencemaran dan meningkatkan nilai guna air lindi sebagai hasil olahan ramah lingkungan. Kata kunci: air lindi, bakteri. Pseudomonas fluorescens, fermentasi, kinetika pertumbuhan. Abstrack: Leachate is a liquid waste generated from the decomposition of solid waste in landfill sites, which has the potential to pollute the environment due to its high content of organic matter and heavy metals. This study aims to analyze the growth kinetics of Pseudomonas fluorescens and the physical characteristics of leachate after the fermentation process. The fermentation was carried out aerobically for 8 days with variations of bacterial inoculum volumes of 5 mL, 7 mL, and 10 mL in 100 mL of leachate. The observed parameters included pH, temperature. C-organic concentration, and bacterial colony count. The results showed a significant increase in bacterial growth during the logarithmic phase, following a linear relationship between ln(CA0/CA) and ln(CC/CC. The determination coefficient (RA) values were close to 1, indicating good conformity with the microbial growth kinetics model. In addition, there was a reduction in C-organic and heavy metal contents, as well as changes in the physical characteristics of the leachate, indicating improved quality of the fermentation product. Therefore, leachate fermentation using Pseudomonas fluorescens has the potential to reduce environmental pollution and enhance the usability of leachate as an environmentally friendly processed product. Key word: fermentation, growth kinetics, leachate, pseudomonas fluorescens bacteria. How to Cite Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika Reaksi Pertumbuhan Bakteri Pseudomonas fluorescens Pada Proses Fermentasi Air Lindi. Biolova 7. This is an open access article under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 Air lindi adalah jenis limbah cair yang terbentuk sebagai akibat dari proses perkolasi atau perembesan air hujan melalui tumpukan sampah yang ada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), di mana air tersebut membawa serta berbagai senyawa organik, senyawa anorganik, amonia, serta logam berat dalam konsentrasi yang sangat tinggi, sehingga berpotensi untuk mencemari tanah dan juga badan air di sekitar lokasi tersebut (Permono, 2. Komposisi dari air lindi ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti usia dari timbunan sampah tersebut, jenis bahan organik yang terkandung di dalamnya, tingkat curah hujan di pengelolaan yang diterapkan secara spesifik di TPA (Murtafaqoh, 2. Secara umum, air lindi ini memiliki nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang sangat tinggi, di samping kandungan nitrogen dan fosfor yang cukup signifikan, yang eutrofikasi apabila air lindi tersebut dibuang langsung ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan yang memadai (Kurniawan et al. , 2. Peningkatan volume sampah yang terjadi di daerah perkotaan tanpa adanya pengelolaan lindi yang cukup baik dan memadai dapat menimbulkan risiko pencemaran lingkungan yang sangat signifikan, serta berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar area tersebut (Sharma et al. , 2. Salah satu metode penanganan yang dianggap berpotensi ramah lingkungan adalah melalui proses Pseudomonas kemampuan untuk mendegradasi senyawa-senyawa kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana melalui serangkaian reaksi oksidasi dan juga reaksi enzimatik (Probowati et al. Asril et al. , 2. Bakteri Pseudomonas fluorescens ini juga dikenal luas sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), yang memiliki kemampuan metabolik yang tinggi, memproduksi enzim dehidrogenase dan oksidase, serta mampu beradaptasi dengan baik dalam kondisi limbah yang memiliki kadar organik tinggi (Kahli et al. Pemanfaatan Pseudomonas proses pengolahan air lindi dapat membantu mempercepat penurunan kadar polutan organik dan logam berat, sekaligus memperbaiki kualitas fisik dari leachate yang dihasilkan setelah proses fermentasi (Elita et al. Untuk dapat mengoptimalkan kinerja dari bakteri tersebut dalam pemahaman yang mendalam mengenai kinetika pertumbuhan bakteri, yang meliputi laju pertumbuhan spesifik (AA), waktu generasi yang dibutuhkan, dan fase-fase pertumbuhan sel secara (Levenspiel. Analisis kinetika mikroba memainkan peran penting dalam menentukan kondisi optimum untuk proses fermentasi, seperti volume inokulum yang digunakan, waktu fermentasi yang diperlukan, nilai pH yang ideal, dan suhu yang sesuai agar aktivitas degradasi substrat dapat berlangsung secara maksimal (Madigan et al. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pertumbuhan bakteri Pseudomonas fluorescens selama proses fermentasi air lindi, serta mengkaji secara detail perubahan karakteristik fisik yang terjadi pada hasil fermentasi sebagai upaya untuk pengembangan metode 75 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 biokonversi limbah cair menjadi bahan yang lebih stabil dan ramah METODE Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinetika pertumbuhan dari bakteri hasil fermentasi air lindi. Penelitian laboratorium air Teknik Lingkungan UPN Veteran Jawa Timur. Alat yang digunakan dalam proses penelitian ini ialah botol kaca ukuran 1-liter sebanyak 3 buah, kertas saring, oven, furnace, autoclave. Erlenmeyer, tabung reaksi, timbangan analitik, pipet volume, desikatot, alumunium foil, pompa vacuum. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, air lindi, suspense bakteri Pseudomonas fluorescens. Pengambilan Sampel Air Lindi Pengambilan sampel air lindi dilakukan satu kali. Pengambilan air lindi langsung dilakukan di PDU Jambangan. Pengambilan dilakukan satu kali dengan metode grab sampling sesuai SNI 6989-59:2008. Lindi tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam jerigen bervolume A 5 liter. Lindi penampungan lindi hasil pemadatan Uji Awal Karakteristik Air Lindi Uji awal ini dilakukan untuk mengetahui unsur yang terkandung di dalam air lindi. Selain itu, uji ini dimaksudkan untuk melihat kekuatan limbah pada lindi. Pada penelitian ini juga dilakukan uji logam berat air Serta melakukan pengujian COD secara berkala dengan metode Nilai COD digunakan untuk menjadi nilai Dilakukan juga pengujian pH pada lindi dan akan disesuaikan dengan pH dari bakteri yang akan dicampurkan yaitu 6,5 Ae 7,5. Jika pH terlalu rendah (<. tambahkan NaOH atau kapur pertanian (CaCOCE) sedikit demi sedikit sambil diaduk dan diukur Jika pH terlalu tinggi (>. tambahkan HCl 1N atau asam sitrat (C6H8O. Pretreatment Air Lindi Pretreatment air lindi dengan metode pemanasan bertujuan untuk fermentasi dapat berlangsung optimal oleh mikroba yang diinginkan seperti Pseudomonas fluorescens. Proses ini pre-filtrasi menggunakan saringan berukuran 1Ae2 mm dan dilanjutkan dengan saringan 100Ae200 AAm Selanjutnya, pH air lindi disesuaikan pada kisaran 6,8Ae7,2 agar sesuai bakteri target. Air lindi kemudian dipanaskan menggunakan panci tahan panas atau reaktor berpemanas hingga mencapai suhu inti 75Ae100AC, diaduk secara ringan untuk menjaga distribusi panas merata, dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 30 menit. Penghitungan waktu dilakukan setelah suhu inti tercapai. Setelah tahap pemanasan selesai, air lindi segera didinginkan secara cepat hingga suhu 30 A 2 AC menggunakan metode pendinginan tertutup seperti water bath atau heat exchanger sederhana, untuk mencegah pertumbuhan ulang mikroba kontaminan. Proses ini diikuti dengan transfer aseptik ke wadah fermentasi yang telah disterilkan dan pemasangan airlock atau septum, sehingga media siap diinokulasi dengan P. Dengan metode ini, diharapkan jumlah mikroba 76 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 signifikan (Ou2Ae3 log dari nilai awa. , namun kandungan nutrien dalam air lindi tetap terjaga untuk mendukung fermentasi yang efisien. Pembuatan Suspensi Cair Bakteri Prosedur pembuatan suspensi cair Pseudomonas fluorescens diawali dengan peremajaan kultur pada media padat Nutrient Agar (NA) yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 30 AC hingga koloni tunggal tumbuh Selanjutnya, satu hingga dua koloni murni diambil secara aseptik menggunakan ose steril, kemudian diinokulasikan ke dalam media cair Nutrient Broth (NB) sebanyak 50Ae100 mL dalam erlenmeyer steril. Kultur cair tersebut diinkubasi dengan pengocokan menggunakan shaker pada kecepatan 120Ae150 rpm selama homogenisasi dan pertumbuhan sel yang merata (Suresh et al. , 2. Setelah inkubasi, suspensi bakteri disesuaikan kerapatannya dengan menambahkan larutan buffer steril . isalnya PBS atau akuades steri. hingga mencapai standar kekeruhan tertentu, misalnya setara dengan McFarland 0,5 . ang setara dengan 1,5 y 108 CFU/mL). Suspensi cair bakteri yang telah disiapkan kemudian digunakan sebagai inokulum dalam tahap percobaan fermentasi atau pengolahan lanjutan. Penambahan Konsentrasi Bakteri Volume ditambahkan pada setiap botol yaitu 5 ml, 7 ml, 10 ml pada tiap botol. Volume air lindi yang digunakan untuk fermentasi sendiri sebanyak 100 Dari hasil fermentasi tersebut yang karakteristik untuk pupuk organik cair. Proses Fermentasi Lakukan menggunakan reactor selama 8 hari. Reaktor yang difermentasi berjumlah 3 buah. Selama 8 hari proses fermentasi dilakukan pengadukan sebanyak 2 kali pada hari ke-4 dan hari ke-8. Untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan dan aktivitas Melalui pengadukan, bakteri dapat tersebar merata dalam media, sehingga setiap bagian substrat dalam lindi dapat terakses secara efektif. Proses ini juga meningkatkan kontak antara bakteri dan bahan organik, nutrien dan pH, serta mencegah penggumpalan bahan di dasar wadah. Selain itu, pada fermentasi aerob, memaksimalkan transfer oksigen ke dalam larutan, yang sangat dibutuhkan oleh bakteri seperti Pseudomonas Dengan demikian, pengadukan mendukung kelancaran dan efisiensi proses fermentasi air lindi menjadi produk seperti pupuk organik cair. Perhitungan Konsentrasi Biomassa Penentuan biomassa mikroorganisme dalam proses fermentasi dilakukan melalui analisis MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid. Metode ini digunakan untuk memperkirakan jumlah padatan volatil yang berasal dari biomassa aktif dalam campuran cairan fermentasi. Sampel cairan hasil fermentasi diambil sebanyak 10 mL, kemudian disaring menggunakan kertas saring berpori halus . ,45 AA. yang telah diketahui massa awalnya. Kertas saring beserta padatan yang tertahan dikeringkan di oven pada suhu 105AC selama A1 jam, kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga diperoleh massa padatan tersuspensi total (MLSS). Selanjutnya, kertas saring yang sama 77 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 dibakar di dalam tanur pada suhu 550AC selama 15Ae20 menit untuk menghilangkan komponen volatil, didinginkan kembali dalam desikator, lalu ditimbang untuk memperoleh massa padatan non-volatil (MLSS anorgani. (Sabtanti, 2. Uji pH dan Suhu Parameter nilai pH dan suhu dianalisis pada awal dan akhir Nilai pH diuji dengan menggunakan pH meter, sedangkan pengukuran suhu sampel dilakukan menggunakan termometer. Uji ini dilakukan untuk mengetahui nilai pH dan suhu yang sesuai standart dari pupuk organik cair. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar volume inokulum yang digunakan, semakin tinggi aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasi penurunan C-organik menjadi lebih Dengan demikian, variasi khususnya dalam proses degradasi Corganik. HASIL Gambar 2. Hubungan Antara Waktu Fermentasi (Har. dengan Suhu Fermentasi (AC) pada Berbagai Volume Bakteri . Gambar 1. Hubungan Antara Waktu Fermentasi (Har. dengan Kadar COrganik . g/L) pada Berbagai Volume Bakteri . Grafik menunjukkan bahwa C-organik penurunan secara bertahap selama proses fermentasi hingga hari ke-8 pada semua perlakuan, yaitu A . mL). B . mL), dan C . mL). Pada awal fermentasi, kadar C-organik penurunan yang semakin jelas akibat pemanfaatan bahan organik oleh energi dan karbon. Penurunan paling signifikan terjadi pada perlakuan C . mL), diikuti oleh perlakuan B . mL), sedangkan perlakuan A . mL) menunjukkan penurunan paling kecil. Grafik menunjukkan bahwa perlakuan, yaitu A . mL). B . mL), dan C . mL), mengalami peningkatan pada fase awal hingga mencapai puncak sekitar hari ke-4 sampai ke-5, kemudian mengalami penurunan hingga hari ke-8. Pada awal fermentasi, suhu berada di sekitar 30AC dan meningkat seiring mikroorganisme yang semakin intens dalam menguraikan bahan organik. Perlakuan C . mL) menunjukkan suhu tertinggi, diikuti oleh B . mL), dan A . mL) dengan suhu terendah, yang mengindikasikan bahwa semakin besar volume inokulum, semakin Setelah mencapai puncak, suhu mulai mikroorganisme berkurang akibat berkurangnya substrat yang tersedia. 78 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 Dengan demikian, pola perubahan suhu ini mencerminkan dinamika Gambar 3. Hubungan Antara Waktu Fermentasi (Har. dengan pH Fermentasi (AC) pada Berbagai Volume Bakteri . Grafik menunjukkan bahwa nilai pH selama proses fermentasi pada semua perlakuan, yaitu A . mL). B . mL), dan C . mL), mengalami penurunan dari kondisi awal sekitar pH netral . hingga mencapai titik terendah pada hari ke-5 hingga ke-6, kemudian sedikit Penurunan pH pada fase awal mikroorganisme yang menghasilkan metabolisme selama proses degradasi bahan organik. Perlakuan C . mL) menunjukkan penurunan pH paling signifikan, diikuti oleh B . mL), dan A . mL) dengan penurunan paling kecil, yang mengindikasikan bahwa semakin besar volume inokulum, semakin tinggi aktivitas mikroba dalam menghasilkan asam. Setelah mencapai titik minimum, pH sedikit terbentuknya senyawa yang bersifat lebih netral atau basa, seperti amonia. Dengan demikian, perubahan pH ini mencerminkan dinamika Gambar 4. Hubungan Antara Waktu Fermentasi (Har. dengan Konsentrasi Biomassa . g/L) Grafik menunjukkan bahwa MLVSS fermentasi pada semua perlakuan, yaitu 5 mL, 7 mL, dan 10 mL, signifikan dari awal hingga sekitar hari ke-4 sampai ke-5, kemudian cenderung menurun hingga hari ke-8. Pada fase awal, peningkatan MLVSS mencerminkan pertumbuhan biomassa memanfaatkan substrat organik untuk Perlakuan 10 mL menunjukkan nilai MLVSS tertinggi, diikuti oleh 7 mL dan 5 mL, yang menandakan bahwa semakin besar volume inokulum, semakin tinggi jumlah mikroorganisme yang tumbuh. Setelah mencapai puncak, nilai MLVSS mikroorganisme ke fase stasioner hingga kematian, akibat berkurangnya ketersediaan nutrisi dan akumulasi produk metabolit. Dengan demikian. MLVSS pertumbuhan mikroorganisme selama proses fermentasi, mulai dari fase 79 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 Tabel 2. Parameter Fisik . ml Bakter. Parameter Hasil Warna Bau Gambar 5. Grafik Analisis Kinetika Pertumbuhan Bakteri Grafik menunjukkan hubungan linier antara nilai ln(CACA/CA) atau ln(CCA/C) terhadap waktu fermentasi . pada tiga variasi volume inokulum, yaitu 5 mL, 7 mL, dan 10 mL. Ketiga kurva memperlihatkan pola garis lurus dengan nilai koefisien determinasi (RA) yang sangat tinggi . , yang menandakan bahwa proses C-organik kinetika reaksi orde satu. Nilai kemiringan . dari masingmasing persamaan garis menunjukkan konstanta laju reaksi . , di mana perlakuan 5 mL memiliki nilai k terbesar, diikuti oleh 7 mL, dan 10 mL sebagai yang terkecil. Hal ini mengindikasikan bahwa laju degradasi relatif lebih cepat pada perlakuan dengan volume inokulum yang lebih kecil dalam konteks model ini. Meskipun menunjukkan kesesuaian yang baik terhadap model kinetika orde satu, sehingga dapat disimpulkan bahwa proses fermentasi berlangsung secara konsisten mengikuti mekanisme reaksi Tabel 1. Parameter Fisik . ml Bakter. Parameter Hasil Warna Bau Coklat pekat Bau asam Coklat pekat Bau asam menyengat dan seperti bau tanah Tabel 3. Parameter Fisik . ml Bakter. Parameter Hasil Warna Bau Coklat pekat Bau asam menyengat seperti telur busuk PEMBAHASAN Berdasarkan grafik kadar Corganik signifikan dari hari ke-0 hingga hari ke-8 pada semua variasi volume inokulum bakteri. Penurunan ini menunjukkan bahwa proses fermentasi berlangsung aktif, di mana senyawa karbon organik dimanfaatkan oleh bakteri Pseudomonas fluorescens sebagai sumber energi dan karbon untuk pertumbuhan sel. Pada awal fermentasi . ari ke-0 hingga ke-. , penurunan kadar C-organik terjadi metabolik bakteri berada pada fase eksponensial . og phas. Bakteri kompleks dalam air lindi seperti asam humat, lignin, dan senyawa fenolik sebagai substrat utama untuk respirasi Selanjutnya, pada hari ke-5 hingga ke8, laju penurunan C-organik mulai menurun seiring dengan berkurangnya meningkatnya produk metabolit yang dapat menghambat aktivitas enzim Kondisi ini menandakan bahwa sebagian besar bahan organik mudah terurai telah terdegradasi 80 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 menjadi senyawa sederhana seperti COCC dan HCCO. Perbedaan kadar Corganik antar variasi . mL, 7 mL, dan 10 mL) menunjukkan bahwa semakin besar volume inokulum bakteri, semakin cepat penurunan kadar Corganik terjadi. Hal ini dikarenakan jumlah biomassa yang lebih tinggi mempercepat proses degradasi bahan Dengan demikian, inokulum 10 mL menghasilkan nilai C-organik terendah . ,2 %) pada akhir fermentasi, menandakan efisiensi dekomposisi tertinggi. Analisis selanjutnya, terlihat bahwa suhu mengalami kenaikan dari hari ke-0 hingga hari ke-5, kemudian menurun kembali hingga hari ke-8 pada semua variasi volume bakteri. Kenaikan suhu pada awal fermentasi disebabkan oleh aktivitas metabolisme mikroorganisme, terutama bakteri Pseudomonas kompleks dalam air lindi menjadi bentuk yang lebih sederhana. Proses ini bersifat eksotermis, sehingga melepaskan panas dan meningkatkan suhu medium. Pada hari ke-5 hingga ke-6, suhu mencapai titik puncak, yang menunjukkan fase logaritmik pertumbuhan bakteri, di mana aktivitas enzimatik dan dekomposisi bahan organik berlangsung maksimal. Setelah fase ini, suhu mulai menurun secara bertahap. Penurunan suhu terjadi karena penurunan aktivitas mikroorganisme, yang disebabkan oleh berkurangnya substrat . dan peningkatan produk metabolit yang dapat bersifat toksik terhadap pertumbuhan bakteri (Nurhidayah & Pratiwi, 2. Selain itu, perbedaan suhu antar variasi . mL, 7 mL, dan 10 mL) menunjukkan bahwa semakin besar volume inokulum bakteri, semakin tinggi suhu yang dihasilkan. Hal ini karena jumlah sel mikroba yang lebih banyak mempercepat proses degradasi bahan organik, sehingga menghasilkan panas lebih besar selama fermentasi. Nilai penurunan seiring waktu fermentasi pada seluruh sampel. Pada awal fermentasi . ari ke-. , pH sebesar 7,4 menunjukkan kondisi netral, kemudian menurun hingga kisaran 6,2Ae6,6 pada hari ke-6 akibat aktivitas metabolisme Pseudomonas Selama senyawa kompleks menjadi senyawa berupa asam laktat dari aktivitas bakteri asam laktat pH menjadi turun. sam/renda. (Sudaryanti. Santoso. , & Sutanto. Setelah hari ke-6 hingga ke-8, pH sedikit meningkat kembali karena menurunnya aktivitas bakteri dan pemanfaatan kembali asam organik. Penurunan pH lebih cepat terjadi pada volume inokulum yang lebih besar . mL) akibat populasi bakteri yang lebih tinggi, yang menyatakan bahwa peningkatan aktivitas mikroorganisme selama fermentasi menurunkan pH melalui pembentukan asam organik. Semakin besar volume inokulum yang ditambahkan, maka jumlah sel bakteri dekomposisi juga semakin banyak, sehingga produksi asam organik akan Hal ini menyebabkan pH media fermentasi cenderung menurun lebih cepat pada sampel dengan volume bakteri lebih tinggi . dibandingkan dengan volume lebih kecil . ml dan 7 m. Pada konsentrasi biomassa menunjukkan peningkatan seiring fermentasi pada seluruh sampel. Peningkatan ini mengindikasikan adanya pertumbuhan biomassa akibat aktivitas metabolisme mikroorganisme selama proses fermentasi. Sampel dengan volume inokulum terbesar . memiliki konsentrasi bakteri 81 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 tertinggi pada akhir fermentasi, yaitu 630 mg/L, diikuti oleh sampel 7 ml dan 5 ml. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin besar volume inokulum yang digunakan, semakin tinggi populasi bakteri yang berkembang karena ketersediaan sel aktif awal yang lebih banyak. Pola kenaikan ini sesuai dengan fase pertumbuhan mikroorganisme pada proses fermentasi, di mana fase eksponensial berlangsung hingga hari Dalam pengukuran biomassa mikroorganisme dilakukan melalui parameter MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid. Prosedur MLVSS dilakukan dengan cara menyaring sampel fermentasi menggunakan kertas saring 0,45 AAm, dikeringkan dalam oven pada suhu 105AC selama A1 jam untuk menghilangkan kadar air. Setelah itu, residu yang tertinggal dibakar dalam furnace pada suhu 550AC selama 15Ae 20 menit untuk menghilangkan fraksi organik yang mudah menguap. Selisih antara berat sebelum dan sesudah menentukan nilai MLVSS, yang merepresentasikan massa padatan organik . el mikroba hidu. dalam sampel (Metcalf & Eddy, 2. Secara konsep. MLVSS dan MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid. memiliki perbedaan mendasar dalam hal komponen yang diukur. MLSS tersuspensi dalam campuran lumpur . aik organik maupun anorgani. , sedangkan MLVSS hanya mengukur bagian padatan organik yang mudah menguap yang mewakili jumlah biomassa aktif mikroorganisme. Oleh karena itu, nilai MLVSS biasanya lebih rendah dibandingkan MLSS, menggambarkan jumlah mikroba yang berperan dalam proses biologis seperti fermentasi dan penguraian bahan organik (Tchobanoglous et al. , 2003. Metcalf & Eddy, 2. Analisis paling penting dalam penelitian ini yaitu analisis kinetika. Dari grafik menunjukkan hubungan antara rasio ln(CA0/CA) terhadap ln(Cc/cA) Pseudomonas fluorescens sebesar 5 mL, 7 mL, dan 10 mL selama proses fermentasi air lindi. Setiap perlakuan menghasilkan garis linear dengan nilai koefisien determinasi (RA) yang tinggi, yaitu antara 0,9987 untuk 5 ml, 0,9928 untuk 7 ml, dan 0,9933 untuk 10 ml. Nilai RA yang mendekati 1 ini menunjukkan bahwa hubungan antara penurunan konsentrasi substrat (Corgani. biomassa (MLVSS) sangat kuat dan mengikuti pola kinetika reaksi orde Persamaan umum kinetika orde pertama dinyatakan dengan rumus ln(CA / CA. = Aekt, di mana CA merupakan konsentrasi substrat pada waktu tertentu. CA0 merupakan konsentrasi substrat awal, k adalah konstanta laju reaksi, dan t adalah waktu reaksi. Hubungan linear dengan kemiringan negatif . lope negati. pada grafik tersebut menandakan bahwa konsentrasi substrat menurun secara eksponensial seiring dengan bertambahnya waktu akibat digunakan sebagai sumber energi dan karbon oleh bakteri Pseudomonas fluorescens untuk proses metabolisme dan pertumbuhan sel. Pada perlakuan dengan volume inokulum yang lebih besar, yaitu 5 mL, nilai slope yang diperoleh sebesar 17,087, lebih tinggi dibandingkan dengan 7 mL . dan 10 mL . Hal ini mengindikasikan bahwa pada volume 5 ml, aktivitas spesifik bakteri terhadap degradasi substrat lebih optimal. Kondisi tersebut disebabkan oleh rasio inokulum dan substrat yang seimbang, 82 | Ghany. Rachmanto. Novembrianto. Kinetika ReaksiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1, 31 Maret 2026 sehingga tidak terjadi kompetisi atau akumulasi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Sebaliknya, pada perlakuan 7 ml dan 10 ml, aktivitas degradasi sedikit menurun, kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan substrat dan terjadinya kompetisi nutrien atau keterbatasan oksigen. Selain itu, peningkatan volume inokulum juga memperpendek fase adaptasi . ag phas. bakteri, sehingga populasi bakteri lebih cepat memasuki fase eksponensial atau fase pertumbuhan logaritmik yang ditandai dengan peningkatan signifikan pada nilai MLVSS. Sebaliknya, penambahan inokulum yang lebih sedikit, proses degradasi berlangsung lebih lambat karena jumlah mikroba yang aktif lebih sedikit sehingga pemanfaatan substrat tidak seefisien perlakuan dengan inokulum yang lebih besar. Ciri khas dari reaksi orde pertama adalah bahwa laju penurunan substrat berbanding lurus dengan konsentrasi substrat pada saat tertentu, dan ketika nilai ln(CA0/CA) diplot terhadap waktu, hasilnya berupa garis Linearitas yang tinggi serta nilai RA yang mendekati 1 mengindikasikan kesesuaian model orde pertama terhadap data percobaan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa proses C-organik fermentasi air lindi oleh Pseudomonas fluorescens mengikuti kinetika orde konsentrasi bahan organik dikontrol oleh jumlah substrat yang tersisa, bukan oleh waktu atau jumlah biomassa semata (Metcalf & Eddy. Selain itu, laju pertumbuhan substrat dalam proses fermentasi eksponensial yang konsisten dengan Dengan membuktikan bahwa peningkatan dosis inokulum berpengaruh terhadap percepatan kinetika degradasi Corganik, dan seluruh proses degradasi tersebut mengikuti pola kinetika reaksi orde pertama. KESIMPULAN Dengan demikian, fermentasi Pseudomonas fluorescens terbukti efektif dalam menurunkan kandungan bahan organik serta memperbaiki karakteristik fisik air lindi melalui proses biodegradasi yang efisien dan ramah lingkungan. SARAN