PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Mei 2025, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA FASE B MELALUI MODEL PROBLEM-BASED LEARNING Adi Apriadi Adiansha*. Anita Nurgufrini STKIP Taman Siswa Bima. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa pada Fase B melalui penerapan model Problem-Based Learning. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SDN Inpres Kananga 1 dengan subjek penelitian sebanyak 60 Indikator kreativitas yang diukur dalam penelitian ini meliputi: kreativitas kelancaran, kreativitas keluwesan, dan kreativitas keaslian. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh melalui observasi, tes, dan dokumentasi, serta dianalisis secara deskriptif untuk menilai peningkatan kreativitas siswa pada setiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning mampu meningkatkan kreativitas siswa secara signifikan. Pada siklus pertama, persentase kreativitas kelancaran mencapai 65%, kreativitas keluwesan sebesar 60%, dan kreativitas keaslian 58%. Setelah penerapan pada siklus kedua, kreativitas kelancaran meningkat menjadi 80%, kreativitas keluwesan menjadi 78%, dan kreativitas keaslian menjadi 75%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model Problem-Based Learning efektif dalam meningkatkan kreativitas siswa Fase B pada aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Diterima: 09-08-2023 Direvisi: 09-04-2025 Diterbitkan: 31-05-2025 Kata-kata kunci: Kreativitas Kelancaran. Kreativitas Keluwesan. Kreativitas Keaslian. Problem-Based Learning This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Adi Apriadi Adiansha. STKIP Taman Siswa Bima. Indonesia Email: adiapriadiadiansha@tsb. PENDAHULUAN Pengembangan kreativitas di jenjang pendidikan dasar sangat penting, terutama dalam menghadapi tantangan abad ke-21 yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif. Kreativitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga mendukung keterampilan sosial dan emosional siswa, seperti keberanian dalam mengemukakan ide, empati, dan fleksibilitas berpikir. Menurut Adiansha et al. , kreativitas dapat dilihat dari tiga indikator utama, yaitu kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kreativitas siswa masih tergolong rendah. Siswa cenderung pasif dan hanya mengikuti arahan guru, belum mampu menghasilkan ide-ide yang orisinal dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas belum sepenuhnya mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan mandiri, sehingga diperlukan intervensi model pembelajaran yang dapat mengaktifkan potensi tersebut secara optimal. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di SDN Inpres Kananga 1 pada Fase B, ditemukan bahwa tingkat kreativitas siswa masih tergolong rendah. Dari 60 siswa yang diamati, hanya 45% yang menunjukkan indikator kelancaran berpikir dalam menghasilkan berbagai ide, 40% mampu menampilkan keluwesan berpikir dalam melihat masalah dari perspektif yang berbeda, dan hanya 35% yang menunjukkan keberanian dalam mengemukakan ide-ide orisinal. Rendahnya capaian pada aspek-aspek tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir divergen siswa belum berkembang secara optimal. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah dominannya pendekatan pembelajaran yang bersifat ekspositorik, yang menitikberatkan pada penyampaian materi secara satu arah dan kurang memberi ruang bagi siswa untuk terlibat aktif dalam Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 proses konstruksi pengetahuan. Selain itu, terbatasnya penerapan model pembelajaran yang berbasis pemecahan masalah turut menjadi kendala dalam menumbuhkan kreativitas, khususnya dalam mendorong siswa untuk mengembangkan ide secara mandiri dan kontekstual. Pemilihan Fase B di SDN Inpres Kananga 1 didasarkan pada karakteristik perkembangan siswa pada tahap ini yang berada dalam masa transisi dari berpikir konkret menuju berpikir yang lebih kompleks, sehingga sangat tepat untuk ditumbuhkan keterampilan berpikir Selain itu, sekolah ini juga merepresentasikan karakteristik umum satuan pendidikan dasar di wilayah tersebut, baik dari segi kurikulum yang digunakan, latar belakang sosial siswa, maupun pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru, sehingga menjadi lokasi yang relevan dan strategis untuk pelaksanaan intervensi berbasis model Problem-Based Learning. Gambar 1. Tingkat Kreativitas Awal pada Siswa di SDN Inpres Kananga 1 Kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh penerapan metode pembelajaran konvensional yang masih berfokus pada pengajaran langsung dan kurang memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi dan memecahkan masalah secara mandiri. Berdasarkan studi Adiansha et al. , . , pembelajaran yang terlalu berfokus pada guru cenderung menghambat perkembangan kreativitas siswa, karena siswa terbatas pada peran pasif dalam menerima informasi tanpa kesempatan untuk berinovasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas siswa secara menyeluruh, terutama pada aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Problem-Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang dinilai mampu mendorong Problem-Based Learning menekankan pada pemecahan masalah nyata sebagai pusat aktivitas belajar, di mana siswa diberi kesempatan untuk berpikir secara kritis dan kreatif dalam menemukan solusi. Menurut Anggraeni et al. , . Problem-Based Learning efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemandirian belajar, yang semuanya berperan penting dalam membentuk kreativitas siswa. Dengan Problem-Based Learning, siswa terlibat langsung dalam proses penemuan pengetahuan baru dan dilatih untuk menghasilkan ide-ide unik berdasarkan pemikiran mereka Penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. , . juga mendukung efektivitas Problem-Based Learning dalam meningkatkan kreativitas siswa pada aspek kelancaran berpikir, yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide. Di samping itu. Benytez-Chavira et al. , . menunjukkan bahwa Problem-Based Learning berkontribusi pada peningkatan keluwesan berpikir siswa, sehingga siswa dapat melihat masalah dari berbagai perspektif dan tidak terbatas pada satu cara pandang saja. Penelitian lain oleh Liu & Pysztor, . menyatakan bahwa Problem-Based Learning dapat meningkatkan keaslian berpikir, yaitu keberanian siswa untuk menghasilkan ide-ide yang berbeda dan orisinal. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penerapan Problem-Based Learning dalam konteks pendidikan dasar di SDN Inpres Kananga 1 dengan fokus pada Fase B, yang jarang menjadi subjek penelitian kreatif pada level awal. Selain itu, penelitian ini menggunakan tiga indikator utama kreativitas berdasarkan teori Guilford: kelancaran, keluwesan, dan keaslian, yang secara keseluruhan memberikan pandangan menyeluruh terhadap pengembangan kreativitas siswa melalui Problem-Based Learning. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang lebih komprehensif mengenai efektivitas Problem-Based Learning dalam meningkatkan kreativitas siswa sejak dini. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam dua siklus, dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi pada masing-masing siklus. Melalui desain penelitian ini, peneliti dapat mengamati secara langsung perkembangan kreativitas siswa dalam setiap siklus Adiansha et al. Peningkatan Kreativitas Siswa . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 pembelajaran serta melakukan perbaikan atau penyesuaian pada tahapan berikutnya berdasarkan hasil refleksi yang diperoleh. Melalui penelitian ini, diharapkan model Problem-Based Learning dapat membantu siswa Fase B di SDN Inpres Kananga 1 untuk lebih terlibat aktif dalam proses belajar, memiliki keberanian untuk mengemukakan ide-ide orisinal, serta mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang kreatif. Dengan peningkatan aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir, siswa diharapkan dapat lebih terbuka terhadap gagasan baru dan memiliki rasa percaya diri dalam menyampaikan hasil pemikirannya. Secara keseluruhan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam literatur pendidikan, khususnya terkait pengembangan kreativitas siswa melalui Problem-Based Learning pada pendidikan dasar. Penelitian ini juga berupaya menyediakan panduan yang aplikatif bagi guru dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran yang mendukung pembentukan kreativitas siswa di usia dini, terutama di sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum berbasis pengembangan keterampilan abad ke-21 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (Machali, 2022. Miaz et al. , 2. , yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa Fase B melalui penerapan model Problem-Based Learning di SDN Inpres Kananga 1. Subjek penelitian ini adalah 60 siswa yang berada pada tingkat sekolah dasar. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana pembelajaran berbasis ProblemBased Learning yang dirancang untuk mendorong kreativitas siswa pada aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Tahap pelaksanaan melibatkan penerapan rencana tersebut di dalam kelas, dengan peneliti berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan pemecahan masalah. Gambar 2. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara sistematis untuk mengamati peningkatan kreativitas siswa selama kegiatan pembelajaran Tes digunakan untuk mengukur kemampuan kreativitas siswa pada setiap siklus, yang mencakup tiga indikator utama, yaitu kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Selain itu, dokumentasi digunakan untuk merekam seluruh proses pembelajaran serta perkembangan siswa selama proses tindakan kelas. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar observasi dan tes kreativitas siswa. Lembar observasi digunakan untuk mencatat aktivitas siswa yang menunjukkan indikator-indikator kreativitas dalam proses pembelajaran, sedangkan tes kreativitas disusun berdasarkan teori Guilford yang mencakup tiga indikator utama, yaitu dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Tes Kreativitas Siswa Berdasarkan Teori Guilford Indikator Deskripsi Bentuk Soal Teknik Penilaian Kreativitas Kelancaran Kemampuan menghasilkan Soal terbuka yang meminta Jumlah ide yang (Fluenc. banyak ide atau solusi lebih dari 3 ide Jumlah Keluwesan Kemampuan menggunakan Soal terbuka dengan lebih kategori/perspektif (Flexibilit. berbagai pendekatan ide dari 1 alternatif PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Mei 2025: 172 - 178 PROGRES PENDIDIKAN Keaslian (Originalit. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Kemampuan menghasilkan ide unik dan tidak umum Soal eksploratif atau studi kasus kontekstual A Penilaian tingkat kebaruan ide HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus untuk mengkaji efektivitas model Problem-Based Learning dalam meningkatkan kreativitas siswa Fase B di SDN Inpres Kananga 1, yang mencakup tiga aspek utama, yaitu kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang bertujuan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap proses pembelajaran berdasarkan data empiris yang diperoleh. Indikator keberhasilan ditetapkan sebesar minimal 70% siswa mencapai kategori tinggi pada masing-masing aspek kreativitas. Batas ini dipilih berdasarkan standar ketuntasan klasikal yang lazim digunakan dalam penelitian tindakan kelas, yang mengasumsikan bahwa jika lebih dari dua pertiga jumlah siswa menunjukkan peningkatan kreativitas secara signifikan, maka pembelajaran yang diterapkan dapat dianggap efektif dan layak untuk direkomendasikan sebagai model pembelajaran alternatif yang mendukung pengembangan potensi siswa secara optimal. Siklus Pertama Pada siklus pertama, penelitian menunjukkan bahwa kreativitas siswa dalam aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian masih berada pada tingkat yang relatif rendah. Berdasarkan hasil observasi dan pengukuran, persentase kreativitas kelancaran siswa mencapai 65%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah mampu menghasilkan beberapa ide, meskipun belum banyak ide yang bervariasi. Sementara itu, persentase kreativitas keluwesan berada pada angka 60%, menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang masih kurang optimal. Pada indikator kreativitas keaslian, persentasenya sebesar 58%, yang berarti sebagian siswa masih ragu-ragu atau kurang berani untuk mengemukakan ide-ide yang unik atau orisinal. Gambar 3. Hasil Kreativitas Siklus 1 Secara keseluruhan, hasil pada siklus pertama menunjukkan bahwa meskipun sebagian siswa mulai menunjukkan potensi kreativitas, masih banyak yang cenderung pasif dalam proses pemecahan masalah. Mereka tampak masih terbatas pada panduan yang diberikan oleh guru dan belum sepenuhnya memanfaatkan ruang untuk berpikir kreatif. Berdasarkan refleksi dari siklus pertama, disusun rencana perbaikan yang berfokus pada pengoptimalan aktivitas pembelajaran, termasuk pemberian lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan ide-ide mereka secara bebas. Siklus Kedua Pada siklus kedua, dilakukan sejumlah perbaikan berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama, di antaranya dengan memberikan ruang partisipasi yang lebih luas kepada siswa, meningkatkan intensitas pertanyaan terbuka, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kebebasan berpikir. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh aspek kreativitas. Persentase kelancaran berpikir meningkat menjadi 80%, yang mencerminkan kemampuan siswa dalam menghasilkan beragam ide semakin berkembang. Siswa menunjukkan keberanian dalam mengemukakan pendapat dan variasi solusi atas permasalahan yang Peningkatan serupa terjadi pada aspek keluwesan berpikir yang mencapai 78%, menunjukkan bahwa siswa mulai mampu mempertimbangkan berbagai sudut pandang dalam memecahkan masalah, serta menunjukkan fleksibilitas kognitif dalam mengaitkan gagasan dari berbagai konteks. Sementara itu, indikator Adiansha et al. Peningkatan Kreativitas Siswa . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 keaslian berpikir meningkat menjadi 75%, yang menunjukkan bahwa siswa mulai mampu mengemukakan ideide orisinal tanpa takut berbeda dari teman sebayanya. Peningkatan kreativitas pada siklus kedua ini tidak hanya disebabkan oleh efektivitas pendekatan ProblemBased Learning secara umum, tetapi juga merupakan hasil dari proses adaptasi siswa terhadap model pembelajaran tersebut. Seiring waktu, siswa mulai terbiasa dengan pola pembelajaran yang menuntut eksplorasi ide, kerja kolaboratif, dan penyelesaian masalah secara mandiri. Selain itu, strategi yang diterapkan guru untuk mendorong rasa aman dalam berpendapat serta memberikan umpan balik yang konstruktif turut berperan dalam membentuk iklim kelas yang kondusif bagi pertumbuhan kreativitas. Dengan demikian, peningkatan pada siklus kedua merefleksikan bahwa keberhasilan pengembangan kreativitas tidak hanya ditentukan oleh model pembelajaran yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas implementasinya serta sejauh mana siswa diberi ruang untuk mengekspresikan dan mengembangkan potensi berpikir kreatifnya secara Hasil uraian tersebut dapat dilihat pada Gambar 3 sebagai berikut: Gambar 4. Hasil Kreativitas Siklus 2 Interpretasi Hasil Gambar 5. Perbandingan Hasil Kreativitas Siklus 1 dan Siklus 2 Berdasarkan perbandingan hasil siklus pertama dan kedua, terlihat peningkatan yang jelas pada setiap indikator kreativitas. Aspek kelancaran meningkat sebesar 15%, dari 65% pada siklus pertama menjadi 80% pada siklus kedua. Ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan Problem-Based Learning, siswa lebih terdorong untuk mengemukakan banyak ide dalam waktu singkat. Peningkatan sebesar 18% pada indikator keluwesan menunjukkan bahwa siswa semakin mampu berpikir fleksibel dan adaptif dalam menghadapi masalah, sehingga mereka tidak terpaku pada satu cara penyelesaian saja. Pada indikator keaslian, peningkatan sebesar 17% menunjukkan bahwa siswa semakin berani mengemukakan ide yang unik dan berbeda, yang sangat penting untuk pengembangan kreativitas di usia dini. Pembahasan Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning efektif dalam meningkatkan kreativitas siswa Fase B di SDN Inpres Kananga 1, yang terlihat dari peningkatan signifikan pada aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir pada setiap siklus. Pada siklus pertama, kreativitas siswa dalam kelancaran berpikir mencapai 65%, keluwesan 60%, dan keaslian 58%. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus kedua, hasil kreativitas meningkat dengan kelancaran berpikir mencapai 80%, keluwesan 78%, dan keaslian 75%. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan siswa dalam menghasilkan lebih banyak ide, melihat masalah dari berbagai perspektif, dan mengekspresikan ide-ide unik dan orisinal. PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Mei 2025: 172 - 178 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Prayudho, . yang menyatakan bahwa Problem-Based Learning dapat meningkatkan aspek kelancaran berpikir siswa dalam menghasilkan berbagai ide saat memecahkan masalah. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam eksplorasi dan berpikir kritis, sehingga mereka lebih leluasa mengemukakan gagasan-gagasan yang beragam. Selain itu. Putri et al. , . juga menemukan bahwa Problem-Based Learning berkontribusi dalam meningkatkan keluwesan berpikir, yakni kemampuan siswa untuk melihat masalah dari berbagai sudut Pada siklus kedua dalam penelitian ini, hasil keluwesan meningkat menjadi 78%, menunjukkan bahwa siswa lebih mampu menyesuaikan cara berpikir mereka dengan situasi yang berbeda. Mereka lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan berpikir adaptif yang juga tercermin dalam penelitian Fitriani. Selanjutnya, indikator keaslian berpikir yang meningkat menjadi 75% pada siklus kedua mengindikasikan bahwa siswa lebih berani mengemukakan ide-ide orisinal mereka. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Seibert, . , yang mengungkapkan bahwa Problem-Based Learning dapat meningkatkan keaslian berpikir, di mana siswa terdorong untuk mengeksplorasi solusi yang unik dan berbeda dari yang lain. Di lingkungan belajar berbasis Problem-Based Learning, siswa didorong untuk menyelesaikan masalah tanpa takut salah, yang memungkinkan mereka mengeksplorasi ide kreatif secara lebih mendalam. Secara keseluruhan, peningkatan pada ketiga indikator kreativitas ini menunjukkan bahwa model ProblemBased Learning tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa tetapi juga memperkuat karakteristik berpikir kreatif yang penting dalam menghadapi tuntutan keterampilan abad ke-21. Problem-Based Learning memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dalam proses pemecahan masalah, memberikan mereka ruang untuk mengembangkan kreativitas secara mandiri, sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivis (Darhim et al. , 2020. Gallagher, 2023. Hamzah et al. , 2022. Houghton, 2023. Sari et al. , 2021. Penerapan Problem-Based Learning yang berfokus pada penyelesaian masalah nyata juga menunjukkan bahwa metode ini mampu memperbaiki keterbatasan pada pendekatan konvensional yang cenderung kurang memberi ruang bagi siswa untuk berinovasi (Ghani et al. , 2021. Mustofa & Hidayah, 2020. Simanjuntak et al. Wiwik Ernawati et al. , 2. Dengan adanya refleksi pada setiap siklus, guru dapat menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan umpan balik yang diperoleh, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan relevan bagi siswa. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa Problem-Based Learning efektif dalam meningkatkan aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir siswa pada Fase B. Model ini dapat dijadikan strategi pembelajaran yang aplikatif bagi guru untuk mendukung pengembangan kreativitas siswa secara menyeluruh, yang akan berguna dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern ini. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai penerapan model Problem-Based Learning untuk meningkatkan kreativitas siswa Fase B di SDN Inpres Kananga 1, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kelancaran berpikir: Penerapan model Problem-Based Learning efektif dalam meningkatkan kelancaran berpikir siswa. Pada siklus pertama, kelancaran berpikir siswa tercatat sebesar 65%, dan meningkat menjadi 80% pada siklus kedua. Hal ini menunjukkan bahwa Problem-Based Learning membantu siswa dalam mengemukakan lebih banyak ide dan gagasan saat menghadapi masalah, sehingga meningkatkan kemampuan mereka dalam berpikir lancar dan Peningkatan Keluwesan Berpikir: Model Problem-Based Learning juga berperan signifikan dalam meningkatkan keluwesan berpikir siswa, dengan hasil 60% pada siklus pertama dan meningkat menjadi 78% pada siklus kedua. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan siswa dalam melihat masalah dari berbagai perspektif, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berbeda dalam proses pemecahan masalah. Peningkatan Keaslian Berpikir: Keaslian berpikir siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari 58% pada siklus pertama menjadi 75% pada siklus kedua. Ini menunjukkan bahwa model Problem-Based Learning mendorong siswa untuk mengekspresikan ide-ide unik dan orisinal dalam menyelesaikan masalah, mengembangkan rasa percaya diri mereka untuk menyampaikan solusi yang kreatif. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan model Problem-Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kreativitas siswa, khususnya pada aspek kelancaran, keluwesan, dan keaslian berpikir. Sebagai saran untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi penerapan Problem-Based Learning pada berbagai jenjang pendidikan atau mata pelajaran lain guna menguji efektivitasnya dalam konteks yang berbeda. Selain itu, peneliti berikutnya dapat menambahkan variasi strategi pendampingan dalam Problem-Based Learning untuk lebih merangsang kreativitas dan keterampilan berpikir kritis siswa. Secara implikatif, temuan ini merekomendasikan kepada para guru untuk mempertimbangkan Problem-Based Learning sebagai pendekatan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari guna mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad ke-21 yang menuntut keterampilan berpikir kreatif dan solutif Adiansha et al. Peningkatan Kreativitas Siswa . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 DAFTAR PUSTAKA