Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: DimaSTIKa e-ISSN: 3109-1148 Vol. No. Tahun 2025. Hal. 135Ae144 Peran Lazisnu Kecamatan Limpung dalam Pengumpulan dan Penyaluran Zakat. Infaq, dan Sedekah (ZIS) Misbahun Nidhom1*. Muhammad Muamar Assidiqi2. Rofif Amam3. Sofiatul Hasanah4. Sigit Dermawan5. Ardian Yega Safila6 1,2,3,4,5,6Sekolah Tinggi Islam Kendal Email Corespondensi: misbahunnidhom@stikkendal. *Corespondensi Author Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran, permasalahan, dan upaya penguatan Lembaga Amil Zakat. Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Limpung dalam mengelola dana umat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, partisipasi aktif, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa LAZISNU Limpung memiliki kontribusi signifikan melalui program Gerakan Koin NU, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan sosial. Namun, efektivitas program masih terhambat oleh kurangnya sosialisasi, rendahnya literasi zakat masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia, serta isu transparansi pengelolaan dana. Untuk mengatasi hal tersebut, strategi yang dapat dilakukan meliputi penguatan sosialisasi, peningkatan literasi zakat, transparansi laporan keuangan, pemanfaatan teknologi digital, dan kolaborasi dengan tokoh masyarakat. Dengan strategi tersebut. LAZISNU berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dan memperkuat pemberdayaan umat secara Kata kunci: LAZISNU, zakat, pemberdayaan umat. Abstract This research aims to analyze the role, challenges, and strengthening efforts of the Nahdlatul Ulama Zakat. Infak, and Sadaqah Institution (LAZISNU) in Limpung District in managing community funds. The study employed a descriptive qualitative approach using observation, active participation, interviews, and documentation during the Field Practice Program (PPL). The findings reveal that LAZISNU Limpung plays a significant role through programs such as the NU Coin Movement, educational scholarships, health services, and social assistance. However, the effectiveness of these This is an open access article under the CCAeBY-SA license http://creativecommons. org/licenses/bysa/4. Misbahun Nidhom, dkk programs is hindered by limited socialization, low zakat literacy among the community, lack of human resources, and transparency issues in fund management. address these challenges, several strategies are proposed: strengthening socialization, enhancing zakat literacy, ensuring transparent financial reporting, utilizing digital technology, and fostering collaboration with community leaders. These strategies are expected to increase community participation and strengthen sustainable community Keywords: LAZISNU, zakat, community empowerment. PENDAHULUAN Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) merupakan instrumen penting dalam sistem ekonomi Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana distribusi kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan. Dalam perspektif Al-QurAoan dan Hadis, zakat diwajibkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial umat Islam, sementara infak dan sedekah dianjurkan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama1. Dengan demikian. ZIS memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial-ekonomi yang saling berkaitan. Pengelolaan zakat dan dana sosial keagamaan memerlukan lembaga yang amanah, profesional, dan transparan 2. Di Indonesia, berbagai lembaga amil zakat telah hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut, salah satunya adalah Lembaga Amil Zakat. Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU). Sejak berdiri pada tahun 2004. LAZISNU berupaya menjadi lembaga filantropi Islam yang mampu menghimpun dan mendistribusikan dana umat secara efektif, dengan prinsip akuntabilitas dan pemberdayaan. Keberadaan LAZISNU di tingkat kecamatan, termasuk di Kecamatan Limpung. Kabupaten Batang, menjadi bagian penting dari jaringan nasional NU Care-LAZISNU. Lembaga ini tidak hanya berperan dalam menghimpun dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga dalam menyalurkan bantuan untuk bidang 1 Pusat Kajian Strategis BAZNAS (Puskas BAZNAS). Outlook zakat Indonesia 2022. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). 2 Ali. , & Abdullah. Community participation in zakat management: Building sense of belonging in Islamic philanthropy. Journal of Islamic Social Finance, 4. , 55Ae68. Peran Lazisnu Kecamatan Limpung dalam Pengumpulan dan PenyaluranA. pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan keagamaan 3 . Program-program unggulan, seperti Gerakan Koin NU, beasiswa pendidikan bagi siswa kurang mampu, serta layanan kesehatan gratis, menjadi bukti nyata kontribusi LAZISNU Limpung dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, potensi besar zakat di masyarakat belum sepenuhnya tergali secara Beberapa masalah utama muncul, antara lain kurangnya sosialisasi program, rendahnya pemahaman masyarakat tentang filantropi Islam, serta masih adanya keraguan terhadap transparansi pengelolaan dana. Permasalahan ini berimplikasi pada rendahnya partisipasi masyarakat, baik sebagai donatur . maupun sebagai mitra aktif dalam mendukung program. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Furqon yang menyatakan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar zakat sering kali dipicu oleh minimnya pemahaman tentang manfaat dan distribusi zakat4. Selain itu, kendala internal berupa keterbatasan sumber daya manusia, sarana publikasi, serta anggaran operasional, mempersempit jangkauan sosialisasi LAZISNU Limpung. Faktor eksternal, seperti kondisi geografis pedesaan dan rendahnya literasi zakat, turut memperkuat hambatan tersebut. Penelitian Nurhayati menegaskan bahwa masyarakat pedesaan sering sulit dijangkau oleh program zakat akibat infrastruktur komunikasi yang terbatas. Sementara itu, masalah kepercayaan publik juga menjadi perhatian penting 5 . Hasanah menunjukkan bahwa masyarakat lebih yakin menyalurkan zakat melalui lembaga apabila lembaga tersebut konsisten menjaga transparansi melalui laporan terbuka dan audit independen6. Melihat kondisi tersebut, perlu adanya strategi penguatan kelembagaan LAZISNU Limpung, baik melalui sosialisasi terpadu, edukasi literasi zakat, 3 Rachman. Peran sumber daya manusia dalam keberhasilan lembaga amil zakat. Jurnal Manajemen Dakwah, 9. , 77Ae90. 4 Furqon. Kesadaran masyarakat terhadap zakat: Faktor penyebab dan solusi Jurnal Ekonomi Islam, 10. , 45Ae58 5 Nurhayati. Tantangan distribusi zakat di pedesaan: Infrastruktur komunikasi dan literasi zakat. Jurnal Pemberdayaan Umat, 5. , 66Ae79. 6 Hasanah. Public trust terhadap lembaga zakat: Pengaruh transparansi dan Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam, 7. , 23Ae35 Misbahun Nidhom, dkk peningkatan transparansi pengelolaan dana, maupun pemanfaatan teknologi digital dalam publikasi dan fundraising. Strategi ini sejalan dengan temuan Azizah yang menunjukkan bahwa digitalisasi zakat efektif dalam meningkatkan kesadaran generasi muda dan memperluas partisipasi masyarakat 7. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dilakukan melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) untuk menganalisis peran LAZISNU Kecamatan Limpung dalam menghimpun dan menyalurkan dana ZIS, mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi, serta merumuskan strategi penguatan yang dapat meningkatkan efektivitas program lembaga dalam memberdayakan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam peran, kendala, dan upaya penguatan lembaga amil zakat infaq dan sedekah nahdlatul ulama (LAZISNU) kecamatan limpung dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengkaji fenomena sosial-keagamaan secara kontekstual, sehingga peneliti dapat menangkap makna, persepsi, dan pengalaman yang berkembang baik di kalangan pengurus, relawan, maupun masyarakat penerima manfaat. Penelitian ini dilaksanakan di kantor lazisnu mwc limpung, kabupaten batang, jawa tengah, yang menjadi pusat operasional penghimpunan dan penyaluran dana umat di tingkat kecamatan. Subjek penelitian mencakup pengurus inti lazisnu, relawan lapangan, serta masyarakat penerima bantuan, sehingga data yang diperoleh mampu merepresentasikan pandangan dari dua sisi: pihak pengelola dan pihak penerima manfaat. Pengumpulan data dilakukan dengan empat teknik utama. Pertama, observasi langsung dilakukan selama kegiatan praktik pengalaman lapangan (PPL) pada 28 juli hingga 28 agustus 2025, dengan mengamati aktivitas lembaga seperti pembuatan kotak infak, distribusi koin NU, pengambilan dana, serta pentasarufan 7 Azizah, . Digitalisasi zakat: Optimalisasi media sosial dalam meningkatkan kesadaran generasi muda. Jurnal Ekonomi Syariah, 13. , 211Ae225. Peran Lazisnu Kecamatan Limpung dalam Pengumpulan dan PenyaluranA. beasiswa pendidikan. Kedua, partisipasi aktif, di mana peneliti tidak hanya mengamati tetapi juga ikut serta dalam kegiatan, misalnya membantu persiapan media infak, mendampingi kegiatan sosial, hingga terlibat dalam administrasi Ketiga, wawancara mendalam dengan pengurus, termasuk direktur dan relawan, untuk menggali lebih jauh strategi penghimpunan, kendala yang dihadapi, dan pandangan mereka mengenai partisipasi masyarakat. Keempat, dokumentasi berupa arsip internal, laporan kegiatan, serta foto-foto lapangan yang digunakan sebagai data pendukung dan penguat hasil observasi serta wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi penting dari hasil lapangan sesuai fokus penelitian. Penyajian data dilakukan secara naratif untuk menggambarkan secara utuh peran lazisnu, hambatan yang dihadapi, dan peluang pengembangan. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara menghubungkan data lapangan dengan teori serta temuan penelitian sebelumnya, sehingga menghasilkan analisis yang komprehensif. Untuk menjaga keabsahan temuan, penelitian ini menggunakan triangulasi data dengan cara membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, agar interpretasi yang dihasilkan lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Secara umum, alur penelitian ini dapat dijelaskan melalui beberapa tahapan yang terintegrasi. Tahap pertama adalah perencanaan penelitian, yang mencakup penentuan lokasi, subjek, serta penyusunan instrumen observasi dan wawancara. Tahap kedua adalah pengumpulan data lapangan, yaitu pelaksanaan observasi, partisipasi aktif, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan PPL berlangsung. Tahap ketiga adalah analisis data, yang dilakukan dengan mengolah informasi melalui proses reduksi, penyajian, dan interpretasi. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan, di mana hasil temuan lapangan dibandingkan dengan teori dan penelitian terdahulu untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai peran lazisnu dalam pengelolaan zis. Misbahun Nidhom, dkk HASIL DAN PEMBAHASAN Selama kegiatan PPL, mahasiswa menemukan bahwa LAZISNU Limpung menjalankan berbagai program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu contoh konkret adalah kegiatan pentasarufan beasiswa pendidikan pada Rabu, 29 Juli 2025, yang disalurkan kepada siswa MANU Limpung dan SMK MaAoarif NU 01 Limpung. Beasiswa ini ditujukan bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, sehingga mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya Penyaluran beasiswa tersebut membuktikan bahwa dana infak dan zakat yang dikelola lembaga benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan akses pendidikan. Selain itu. LAZISNU Limpung rutin menyelenggarakan pengobatan gratis, bekerja sama dengan tenaga medis dan relawan dari Nahdlatul Ulama. Selama PPL, mahasiswa juga ikut mendampingi kegiatan ini, yang dihadiri warga dari berbagai Kegiatan tersebut tidak hanya membantu masyarakat kurang mampu dalam memperoleh layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik bahwa dana yang dihimpun disalurkan pada kebutuhan riil masyarakat. Program Gerakan Koin NU juga menjadi bagian penting dari pengelolaan ZIS 8 . Mahasiswa berpartisipasi langsung dalam pembuatan toples infak, menempelkan stiker identitas LAZISNU, serta membantu distribusinya ke warung, toko, dan sekolah-sekolah. Dari kegiatan ini terlihat bahwa meskipun nominal infak kecil, jika dikelola secara rutin dan kolektif, hasilnya cukup besar untuk membiayai berbagai program sosial. Hal ini membuktikan efektivitas konsep filantropi harian yang berbasis partisipasi masyarakat luas. Permasalahan di Lapangan Meski kegiatan berjalan baik, terdapat sejumlah masalah yang teridentifikasi selama PPL. Contohnya, saat mahasiswa mendistribusikan kotak infak ke beberapa warung, sebagian pemilik warung mengaku tidak sepenuhnya memahami tujuan program, selain sekadar Auwadah amal recehanAy. Minimnya sosialisasi ini membuat masyarakat tidak mengetahui bahwa uang receh yang terkumpul kelak digunakan 8 Yusuf. Konsistensi program pemberdayaan zakat dan akuntabilitas lembaga. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 14. , 119Ae133. Peran Lazisnu Kecamatan Limpung dalam Pengumpulan dan PenyaluranA. untuk membiayai beasiswa pendidikan, pengobatan gratis, maupun santunan sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara lembaga dan masyarakat, sehingga partisipasi publik belum maksimal. Mahasiswa menyalurkan zakat secara langsung kepada fakir miskin di lingkungan sekitar, karena merasa lebih yakin dibanding melalui lembaga. Hal ini mencerminkan adanya keraguan masyarakat terhadap transparansi lembaga. Isu kepercayaan ini sejalan dengan penelitian Hasanah yang menyebutkan bahwa kepercayaan publik akan meningkat bila lembaga zakat konsisten memberikan laporan terbuka dan Kendala Internal dan Eksternal Keterlibatan mahasiswa selama PPL memperlihatkan secara langsung keterbatasan SDM di LAZISNU Limpung. Misalnya, hanya ada beberapa relawan aktif yang mengelola ratusan kotak koin NU di berbagai desa. Keterbatasan tenaga ini membuat distribusi, penarikan, serta rekapitulasi dana berjalan lambat. Kondisi ini membuktikan bahwa kelebihan beban kerja menjadi kendala internal yang Dari sisi eksternal, mahasiswa menemukan bahwa wilayah pedesaan di Limpung yang relatif jauh dari pusat kota membuat informasi program sulit menjangkau masyarakat luas. Misalnya, saat mengadakan sosialisasi, peserta yang hadir lebih banyak dari desa-desa dekat kantor LAZISNU, sementara desa yang letaknya lebih jauh cenderung tidak ikut serta. Hal ini sejalan dengan temuan Nurhayati yang menyebutkan bahwa keterbatasan infrastruktur komunikasi di pedesaan menghambat distribusi zakat secara efektif10. Strategi Penguatan Dari pengalaman langsung selama PPL, beberapa strategi dapat diusulkan untuk memperkuat efektivitas LAZISNU Limpung, sejalan dengan penelitian Hafidh 9 Hasanah. Public trust terhadap lembaga zakat: Pengaruh transparansi dan Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam, 7. , 23Ae35. 10 Nurhayati. Tantangan distribusi zakat di pedesaan: Infrastruktur komunikasi dan literasi zakat. Jurnal Pemberdayaan Umat, 5. , 66Ae79. Misbahun Nidhom, dkk R tentang literasi zakat dan pengaruhnya terhadap partisipasi muzaki 11. Pertama, penguatan sosialisasi program tidak cukup hanya dengan brosur atau pengumuman, tetapi perlu melibatkan tokoh agama setempat yang lebih dipercaya masyarakat. Misalnya, pengurus dapat menyampaikan informasi program secara rutin melalui khutbah Jumat atau pengajian di musholla. Kedua, edukasi literasi zakat dapat dilakukan dengan pendekatan yang Mahasiswa menemukan bahwa saat diberikan penjelasan langsung, beberapa pemilik warung baru menyadari bahwa recehan yang mereka kumpulkan ternyata digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak dhuafa. Edukasi semacam ini akan membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap program. Ketiga, peningkatan transparansi bisa dilakukan dengan menempelkan laporan ringkas di papan pengumuman masjid atau menyebarkannya melalui grup WhatsApp desa. Dengan begitu, masyarakat tahu berapa dana yang terkumpul dan ke mana saja disalurkan. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Fauzi bahwa laporan yang terbuka akan meningkatkan legitimasi lembaga zakat 12. Keempat, pemanfaatan media digital menjadi sangat penting. Mahasiswa melihat potensi besar media sosial untuk menarik partisipasi generasi muda. Publikasi kegiatan beasiswa dan pengobatan gratis melalui Facebook atau Instagram akan lebih cepat tersebar dan memberi dampak positif terhadap citra Strategi ini sejalan dengan penelitian Azizah yang menegaskan efektivitas digitalisasi zakat dalam meningkatkan partisipasi public13. Implikasi Temuan PPL Temuan lapangan selama PPL memperlihatkan bahwa keberhasilan LAZISNU Limpung tidak hanya bergantung pada kemampuan menghimpun dana, tetapi juga pada strategi komunikasi dan transparansi 14. Kegiatan nyata seperti penyaluran 11 Hafidh. Literasi zakat dan pengaruhnya terhadap partisipasi muzaki. Jurnal Ekonomi Syariah, 11. , 134Ae147. 12 Fauzi. Transparansi dan akuntabilitas lembaga zakat: Studi kasus lembaga zakat nasional di Indonesia. Jurnal Akuntabilitas, 15. , 89Ae104. 13 Azizah. Digitalisasi zakat: Optimalisasi media sosial dalam meningkatkan kesadaran generasi muda. Jurnal Ekonomi Syariah, 13. , 211Ae225. 14 Amalia. , & Sari. Komunikasi organisasi dan partisipasi muzaki pada lembaga amil zakat. Jurnal Komunikasi Islam, 8. , 101Ae115. Peran Lazisnu Kecamatan Limpung dalam Pengumpulan dan PenyaluranA. beasiswa dan pengobatan gratis sudah mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat, namun perlu diperkuat dengan edukasi berkelanjutan. Dengan sosialisasi yang tepat, literasi zakat yang lebih baik, serta pemanfaatan teknologi digital. LAZISNU Limpung berpotensi menjadi lembaga filantropi lokal yang lebih profesional, kredibel, dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa LAZISNU Kecamatan Limpung memiliki peran penting dalam menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Keberadaan program seperti Gerakan Koin NU, beasiswa pendidikan, serta layanan kesehatan gratis membuktikan kontribusi nyata lembaga dalam meningkatkan kesejahteraan Namun, efektivitas program masih menghadapi sejumlah kendala, terutama kurangnya sosialisasi, rendahnya literasi zakat masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, serta adanya keraguan publik terkait transparansi pengelolaan dana. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan lembaga amil zakat tidak hanya ditentukan oleh penghimpunan dana, tetapi juga oleh kemampuan dalam membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat. Untuk menjawab tantangan tersebut. LAZISNU Limpung perlu memperkuat transparansi dan akuntabilitas laporan, optimalisasi pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan stakeholder terkait. Dengan penerapan strategi yang komprehensif dan konsisten. LAZISNU berpotensi besar dalam meningkatkan partisipasi muzaki, memperkuat legitimasi lembaga, dan mendorong pemberdayaan umat secara berkelanjutan. Daftar Pustaka