IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT JERUK GUNUNG OMEH (Citrus nobilis lou. TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus PADA KULIT TESTING THE ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF OMEH MOUNTAIN ORANGE PEEL EXTRACT (Citrus nobilis lou. AGAINST BACTERIAL GROWTH Staphylococcus aureus ON THE SKIN Niken*1. Rahmi Novita Yusuf2 Program Studi Teknologi Laboratorium Medik. Universitas Syedza Saintika Email : niken@syedzasaintika. ABSTRAK Staphylococcus aureus (S. merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit infeksi paling sering terjadi. aureus menginfeksi jaringan ataupun alat tubuh dan dapat menimbulkan penyakit yang mempunyai tanda khas berupa peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses pada kulit. Umumnya menangani infeksi bakteri Staphylococcus aureus ini dengan pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek negatif bagi tubuh. Salah satu upaya dalam pengendalian infeksi bakteri S. aureus yaitu dengan pemanfaatan bahan herbal. Jeruk merupakan buah yang diminati oleh masyarakat, karena aromanya menyegarkan, dapat menjadi sumber vitamin C, harga relatif murah, rasanya manis, segar, mudah didapatkan. Banyaknya masyarakat yang mengkonsusmsi jeruk mengakibatkan tingginya jumlah limbah kulit jeruk. Kulit buah jeruk biasanya hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan, serta menjadi sampah yang tidak ada Selama ini pemanfaatan kulit jeruk belum dilakukan secara intensif. Kulit jeruk mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid yang diketahui berfungsi sebagai Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi cakram kertas (Kirby-baue. Sampel yang digunakan adalah bakteri Staphylococcus aureus. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 10%, 15% ,60%, 20% dan kontrol positif Amoxicilin dan kontrol negatif DMSO. Analisa data dilakukan secara statistik dengan uji One-WayAnalysis of Variance (ANOVA). Data berdistribusi normal dan homogeny. Hasil penelitian didapatkan bahwa aktifitas antibakteri ekstrak kulit jeruk gunung omeh ditunjukkan adanya daya hambat terhadap bakteri aureus dengan rata-rata konsentrasi 20% dengan diameter 12,3 mm . , 40% diameter 13,6 mm . , 60% diameter 15,2 mm . , 80% diameter 16,9 mm . , 100% diameter 21,4 mm . angat kua. , kontrol positif amoxicilin 11,8 mm dan kontrol negatif 0 mm. Didapatkan hasil uji ANOVA menunjukkan nilai p= 0,000 . <0,. bahwa terdapat perbedaan signifikansi antar semua perlakuan dengan kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit jeruk gunung omeh efektif menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, hal tersebut dikarenakan diameter zona hambat ekstrak kulit jeruk gunung omeh lebih besar dari kontrol positif. Kata kunci : Infeksi kulit. Citrus nobilis lour. Staphylococcus aureus. Antibakteri ABSTRACT Staphylococcus aureus (S. is a bacterium that causes the most common infectious disease. aureus infects tissues or organs and can cause disease which has characteristic signs of inflammation, necrosis, and the formation of abscesses on the skin. Generally treat this Staphylococcus aureus bacterial infection by administering antibiotics. Long-term administration of antibiotics can cause negative effects on the body. One of the efforts to control S. aureus bacterial JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. infection is by using herbal ingredients. Orange is a fruit that people are interested in, because it has a refreshing aroma, can be a source of vitamin C, the price is relatively cheap, tastes sweet, fresh, easy to get. The large number of people who consume oranges results in a high amount of orange peel Citrus peels are usually just thrown away and not used, and become waste that is of no use. far, the utilization of orange peel has not been carried out intensively. Orange peel contains secondary metabolites such as flavonoids which are known to function as antibacterials. This research is a laboratory experiment using the paper disc diffusion method (Kirby-baue. The sample used is Staphylococcus aureus bacteria. The concentrations used in this study were 10%, 15%, 60%, 20% and Amoxicillin positive control and DMSO negative control. Data analysis was performed statistically with the One-Way Analysis of Variance (ANOVA) test. Data is normally distributed and The results showed that the antibacterial activity of the Gunung Omeh orange peel extract was shown to have inhibition against S. aureus bacteria with an average concentration of 20% with a diameter of 12. 3 mm . , 40% with a diameter of 13. 6 mm . , 60% diameter 15. , 80% diameter 16. 9 mm . , 100% diameter 21. 4 mm . ery stron. , amoxicillin positive control 11. 8 mm and negative control 0 mm. The results of the ANOVA test showed a value of p = 0. <0. that there was a significant difference between all treatments with a positive It can be concluded that the mountain omeh orange peel extract is effective in inhibiting the growth of S. aureus bacteria, this is because the diameter of the inhibition zone of the mountain omeh orange peel extract is larger than the positive control. Keywords: Skin infection. Citrus nobilis lour. Staphylococcus aureus. Antibacterial PENDAHULUAN Infeksi kulit superfisial merupakan infeksi tersering yang terjadi akibat adannya kontak langsung antara benda luar yang terkontaminasi bakteri dengan kulit. Mayoritas infeksi kulit superfisial tersebut disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, yang merupakan bakteri komensal sekaligus patogen oportunistik yang dapat ditemukan pada kulit manusia. Sekitar 30% dari populasi manusia dikolonisasi oleh S. aureus menginfeksi jaringan ataupun alat tubuh dan dapat menimbulkan penyakit yang mempunyai tanda khas berupa peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses (Maizar, 2. Cara pengendalian infeksi akibat bakteri S. aureus ini yaitu dengan pemberian Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme terutama oleh fungi atau hasil dari sintetik yang dapat menghambat atau membunuh perkembangan bakteri dan organisme lain (Utami, 2. Namun penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan kuman kebal terhadap antibiotik, sehingga mengurangi manfaat dari Resistensi kuman, terlebih lagi multi drug resistance menjadi suatu permasalahan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 yang susah diatasi dalam pengobatan pasien. Masalah tersebut diakibatkan dari penggunaan antibiotik dengan dosis yang kurang tepat, jenis, menyebabkan kuman menjadi resisten. Salah satu upaya dalam pengendalian infeksi bakteri S. aureus yaitu dengan pemanfaatan bahan herbal (Sharma, 2. Jeruk merupakan salah satu buah yang diminati oleh masyarakat, karena aromanya menyegarkan, dapat menjadi sumber vitamin C, harga relatif murah, rasanya manis, segar, mudah Produksi buah jeruk di Indonesia menempati peringkat ketiga dari total produksi buah-buahan (Devy. Banyaknya permintaan jeruk ini mengakibatkan tingginya jumlah limbah kulit jeruk. Kulit buah jeruk biasanya hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan, serta menjadi sampah yang tidak ada Selama ini pemanfaatan kulit jeruk belum dilakukan secara intensif. Kulit jeruk mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, phenolik, saponin, dan flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antibakteri. Antibakteri merupakan zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba5. Ekstrak metanol kulit jeruk dari metode maserasi dapat digunakan sebagai antibakteri pada bakteri gram positif Bacillus cereus, bakteri gram negatif Shigella Klebsiella Ekstrak etanol kulit jeruk manis dari metode maserasi dapat digunakan sebagai antibakteri gram positif dan gram negatif (Madhuri, 2. Ekstrak etanol 50% kulit jeruk manis yang didapat dari metode maserasi, setelah dibuat ekstrak etanol 50% selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri dengan metode dilusi padat dan didapatkan hasil bahwa kadar bunuh minimum (KBM) pada bakteri Staphylococcus aureus yaitu 6% dan pada bakteri Escherichia coli kadar bunuh minimum (KBM) yaitu 8% (Wijiastuti, 2. Ekstrak kulit jeruk dilaporkan memiliki aktivitas yang baik sebagai antibakteri pada bakteri gram positif dan negatif. Sudah banyak dilakukan penelitian mengenai aktifitas kulit jeruk sebagai antibakteri, namun aktifitas kulit jeruk gunung omeh sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus belum ada Oleh sebab itu, dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan kemampuan aktifitas senyawa-senyawa yang terdapat dalam ekstrak kulit jeruk gunung omeh tersebut mampu menghambat dan membunuh bakteri S. lebih tinggi dan dapat mengatasi penyakit infeksi Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana aktivitas Antibakteri ekstrak kulit jeruk gunung omeh Terhadap Bakteri S. BAHAN DAN METODE Sampel isolat bakteri S. aureus diisolasi dari luka ulkus penderita Diabetes. Kemudian di tanam pada media Manitol Salt Agar (MSA). Ekstrak kulit jeruk dibuat dengan cara maserasi. Sebanyak 500 gram kulit jeruk kering dimasukkan ke dalam botol larutan, kemudian direndam dengan larutan etanol 96%, kemudian JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 diaduk hingga merata lalu dibiarkan selama 72 jam dengan pengadukan berkala setiap 24 jam sekali dengan menggunakan batang pengaduk Setelah 72 jam ekstrak disaring dengan menggunakan kertas saring, lalu dilakukan satu kali remaserasi pada ampas sisa ekstraksi dengan etanol 96%. Hasil filtrat lalu dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 60AC, sehingga diperoleh ekstrak kental daun menggunakan Dimetil sulfoksida (DMSO) untuk mendapat konsentrasi serta kontrol positif berupa cakram antibiotik amoxcillin, dan kontrol negatif menggunakan (Sharma, 2. Metode pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode Kirby Bauer. Bakteri yang diencerkan dengan mencampurkan 1 ose suspensi bakteri Staphylococcus aureus ke dalam tabung reaksi yang telah di isi larutan NaCl 0,9%, kekeruhannya di standarisasi dengan konsentrasi 0,5 Mc Farland sehingga jumlah bakteri untuk uji kepekaan yaitu : /ml. Kemudian bakteri yang sudah terstandarisasi tersebut di oleskan ke dalam media MHA. Biarkan olesan bakteri kering sekitar 1-2 menit. Ambil cakram uji yang sudah di rendam selama 15 menit di dalam masing-masing konsentrasi dan letakkan di atas permukaan media secara higienis. Lalu media yang telah dibuat tadi, diinkubasi ke dalam inkubator dengan suhu 37 selama 24 Pengamatan dilakukan setelah 1x24 jam masa inkubasi. Daerah bening atau clear zone merupakan petunjuk kepekaan bakteri terhadap antibiotik atau bahan antibakteri lainnya yang digunakan sebagai bahan uji yang dinyatakan dengan lebar diameter zona hambat. Diameter zona hambat diukur dalam satuan milimeter . menggunakan jangka sorong. Kemudian diameter zona hambat tersebut dikategorikan berdasarkan penggolongan kekuatan daya antibakterinya (Sharma, 2. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA dengan syarat data homogen dan terdistribusi normal. Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A HASIL Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. dilakukan menggunakan metode difusi cakram. Metode ini menggunakan kertas cakram yang sudah direndam dalam ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, amoxicilin . AAg/50m. dan DMSO. Kertas cakram diletakkan di atas permukaan media MHA yang telah dinokulasikan suspensi bakteri Berikut didapatkan hasil zona hambat yang terbentuk dengan diameter yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini Tabel : Hasil Pengujian Zona Hambat Ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. Terhadap Pertumbuhan Bakteri S. Konsentrasi Diameter Zona Hambat Rata-rata Kategori Kuat Kuat Kuat Kuat Sangat Kuat Amoxicilin ( ) Kuat DMSO (-) Tidak Ada Keterangan :K- : DMSO. K : Amoxicilin Gambar : Diameter Zona Hambat Citrus nobilis lour dua kali pengulangan Gambar di atas menunjukkan bahwa rata-rata diameter zona hambat variasi konsentrasi konsentrasi 20% dengan diameter 12,3 mm . , 40% diameter 13,6 mm . , 60% diameter 15,2 mm . , 80% diameter 16,9 mm . , 100% diameter 21,4 mm . angat kua. , kontrol positif amoxicilin 11,8 JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 mm dan kontrol negatif 0 mm. Data tersebut memperlihatkan bahwa zona hambat terbesar pada konsentrasi 100% yaitu 21,4 mm . angat kua. ada table . Data penelitian yang didapat dilakukan uji statistic berupa uji One Way Anova, sebelum dilakukan uji tersebut maka IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I Jurnal Kesehatan Medika Saintika NT I K A e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. harus dilakukan uji normalitas untuk memastikan data berdistribusi normal dan uji varians karena data harus homogen. Uji saphiro-wilk Zona hambatan oleh Ekstrak Kulit Jeruk Gunung Omeh Sig 0,162 Tabel di atas merupakan hasil uji normalitas saphiro-wilk yang menunjukkan bahwa data memiliki nilai p> 0,05 berarti data tersebut terdistribusi normal. Data yang berdistribusi normal merupakan syarat dari data parametrik sehingga dapat dilakukan analisis homogenitas dan One Way Anova. Uji One Way Anova Kelompok perlakuan Ekstrak Kulit Jeruk Gunung Omeh Sig 0,000 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil uji One Way Anova terhadap kelompok perlakuan Ekstrak Kulit Jeruk Gunung Omeh memiliki nilai p = 0,000. Karena nilai p < 0,05, maka nilai rata-rata antar kelompok perlakuan Ekstrak Kulit Jeruk Gunung Omeh adalah berbeda PEMBAHASAN Berdasarkan kategori zona hambat dapat diketahui bahwa esktrak kulit jeruk mampu menghambat pertumbuhan bakteri Kontrol positif amoxicilin memiliki diameter zona hambat yaitu 11,8 mm . lebih rendah dibandingkan dengan zona hambat pada konsentrasi 20% yaitu 12,3 mm . Artinya dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit jeruk efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dibandingkan control positif. Selain itu, pada konsentrasi terendah 20% ekstrak kulit jeruk juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan kategori JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Amoxicilin merupakan antibiotik kelas penicilin antibiotik beta-lakta. yang bekerja secara bakterisidal dan mempunyai aktivitas yang kuat terhadap bakteri gram negatif. Amoxicillin bekerja dengan cara menghambat protein pembentuk dinding sel bakteri, sehingga dinding sel tidak terbentuk, pertumbuhan bakteri terhenti, dan akhirnya bakteri akan mati (CLSI, 2. Sampel untuk uji aktivitas antibakteri dilarutkan dengan menggunakan DMSO. Penggunaan DMSO sebegai pelarut. DMSO (Dimethyl sulfoxid. merupakan pelarut aprotik yang dapat melarutkan berbagai macam molekul polar dan non polar yang sukar larut. Selain itu. DMSO juga tidak memiliki efek terhadap pertumbuhan bakteri baik gram positif ataupun gram negatif (Saputri, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit jeruk, maka semakin besar rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan. Konsentrasi ekstrak kulit jeruk yang berbeda akan menghasilkan zoha hambat yang juga berbeda. Aktivitas antibakteri ekstrak kulit jeruk mampu menhambat pertumbuhan bakteri S. aureus karena adanya kandungan senyawa flavonoid dalam ekstrak kulit jeruk yang berfungsi sebagai antibakteri (Fitrianti, 2. Berdasarkan kajian literatur diketahui bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder kulit jeruk yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, glikosida, steroid, karbohidrat, pektin, senyawa fenolik, kumarin, glikosida, saponin, dan Diketahui aktivitas farmakologis pada kulit jeruk yaitu sebagai antibakteri . enyawa 1,8-cineole, d-limonene, 5- Cglycosyl flavones (Alfianur, 2. Antibakteri merupakan zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan. Mikroorganisme dapat menimbulkan penyakit pada makhluk hidup lain karena memiliki kemampuan menginfeksi, mulai dari infeksi ringan sampai infeksi berat bahkan kematian. Oleh karena itu, pengendalian yang tepat perlu dilakukan agar mikroorganisme IN AT A N S EKO L SY E GI ILM D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. tidak menimbulkan kerugian13. Antibakteri yang ideal harus memiliki kualitas yaitu membunuh atau menghambat pertumbuhan patogen, tidak menyebabkan kerusakan pada inang, tidak menyebabkan reaksi alergi pada inang, tetap stabil saat disimpan baik dalam bentuk padatan maupun cair, dan mampu bertahan pada jaringan khusus pada tubuh dalam waktu yang cukup lama sehingga menjadi efektif, serta membunuh patogen sebelum mengalami mutasi dan menjadi resisten (Gultom, 2. Uji aktivitas Ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. pertumbuhan bakteri S. aureus dianalisa menggunakan uji Analisa data dilakukan secara statistik dengan uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dengan syarat data homogen dan terdistribusi normal. Uji normalitas bertujuan untuk memperlihatkan bahwa data yang dilakukan memiliki distribusi normal atau tidak. Sedangkan uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui varian dari beberapa populasi menunjukkan sama atau tidak. Jika distribusi data tidak normal maka menggunakan Uji Nonparametrik yakni Uji Kruskall-Wallis. Analisis statistik meggunakan program SPSS versi 25 dengan tingkat kepercayaan 95% atau c=0,05(Sugiyono, 2. Pada uji homogenitas didapatkan hasil bahwa data homogen dibuktikan dengan nilai p=0,071 dan hasil uji normalitas bahwa data terdistribusi normal dibuktikan dengan nilai p=0,062. sedangkan nilai ANOVA didapatkan nilai p=0,000 artinya nilai p<0,005. Dapat disimpulkan bahwa Ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. memiliki aktivitas antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan Hasil penelitian didapatkan bahwa aktifitas antibakteri Ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. ditunjukkan adanya daya hambat terhadap bakteri S. didapatkan bahwa aktifitas antibakteri ekstrak kulit jeruk gunung omeh ditunjukkan adanya JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 daya hambat terhadap bakteri S. aureus dengan rata-rata konsentrasi 20% dengan diameter 12,3 mm . , 40% diameter 13,6 mm . , 60% diameter 15,2 mm . , 80% diameter 16,9 mm . , 100% diameter 21,4 mm . angat kua. , kontrol positif amoxicilin 11,8 mm dan kontrol negatif 0 mm. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai p= 0,000 . <0,. bahwa terdapat perbedaan signifikansi antar semua perlakuan dengan kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian diketahui Ekstrak kulit jeruk gunung omeh (Citrus nobilis lou. pada konsentrasi 20% sudah mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. dengan kategori kuat yaitu 12,3 mm. Pada konsentrasi 20% juga efektif karena rata-rata diameter zona hambat 12,3 mm . melebihi kontrol positif amoxicilin . Saran Saran penelitian ini diharapkan menggunakan ekstrak kombinasi bahan alami yang berbeda untuk mengatasi infeksi bakteri S. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kami ucapkan kepada pihak Laboratorium mikrobiologi Stikes Syedza Saintika yang telah memfasilitasi untuk dilakukannya penelitian ini berlangsung. DAFTAR PUSTAKA