Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi Z untuk Berpikir Kritis dan Bijak Franciscus Xaverius Wartoyo*. Bambang Priyatna Kusuma Fakultas Hukum. Universitas Pelita Harapan. Tanggerang. Indonesia *Coresponding Author: franciscus. wartoyo@UPH. Dikirim: 13-10-2025. Direvisi: 21-10-2025. Diterima: 24-10-2025 Abstrak: Program edukasi debat yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan Lippo Karawaci, yang diadakan di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot adalah kegiatan pengajaran dengan upaya membekali siswa dengan kompetensi berdebat dan berargumen. Kegiatan ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman penulis dalam edukasi debat pada siswa kelas 11 dengan fokus pada keterampilan membedakan fakta, opini, dan hoaks serta memberikan solusi untuk menyelesaikan kendala yang ada. Kemampuan menelaah informasi ini, menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki pelajar, terutama dalam menghadapi arus informasi digital yang seringkali bercampur antara data valid, pandangan subjektif, dan disinformasi. Melalui metode pembelajaran berbasis debat, siswa dilatih untuk mengidentifikasi karakteristik fakta yang dapat diverifikasi, opini yang bersifat argumentatif, serta hoaks yang menyesatkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-reflektif dengan teknik observasi kelas, analisis tugas, dan refleksi guru. Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa siswa kelas 11 lebih mampu mengenali kredibilitas sumber, menyusun argumen berdasarkan data, serta memberikan sanggahan yang kritis terhadap klaim yang tidak valid. Namun dalam pelaksanaannya, masih ditemukan kesulitan dalam membedakan opini dengan fakta terselubung, sehingga perlu adanya pendampingan lebih lanjut dan latihan fact-checking menggunakan sumber resmi. Temuan ini menegaskan bahwa dalam edukasi debat tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kemampuan retorika, tetapi juga membentuk literasi informasi yang kuat. Dengan demikian, integrasi latihan membedakan fakta, opini, dan hoaks dalam edukasi debat dapat menjadi strategi efektif dalam membekali siswa menghadapi tantangan di era digital. Kata Kunci: Berpikir Kritis. Edukasi. Fakta. Opini, dan Hoax Abstract: The debate education program organized by Universitas Pelita Harapan Lippo Karawaci, which was held at Dian Harapan School. Daan Mogot, is a teaching activity with an effort to equip students with the competence to debate and argue. This activity aims to describe the author's experience in debate education in grade 11 students with a focus on the skills of distinguishing facts, opinions, and hoaxes and providing solutions to solve existing The ability to analyze this information is one of the important competencies that students must have, especially in dealing with the flow of digital information that is often mixed between valid data, subjective views, and disinformation. Through the debate-based learning method, students are trained to identify the characteristics of verifiable facts, argumentative opinions, and misleading hoaxes. This study uses a descriptive-reflective approach with classroom observation techniques, task analysis, and teacher reflection. The learning results showed that grade 11 students were better able to recognize the credibility of sources, formulate arguments based on data, and provide critical rebuttals to invalid claims. However, in its implementation, difficulties are still found in distinguishing opinions from hidden facts, so there is a need for further assistance and fact-checking exercises using official sources. These findings confirm that debate education not only serves to improve rhetorical skills, but also forms strong information literacy. Thus, the integration of the @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA practice of distinguishing facts, opinions, and hoaxes in debate education can be an effective strategy in equipping students to face challenges in the digital era. Keywords: Critical Thinking. Debate. Education. Facts. Opinions, and Hoaxes PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi saat ini membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda yang setiap hari mengakses informasi digital. Siswa sekolah menengah atas tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan sebagai pengolah dan penyebar informasi. Tantangan muncul ketika fakta, opini, dan hoaks seringkali bercampur, sehingga kemampuan menyaring informasi menjadi keterampilan yang sangat penting (Rusdiyanti et al. Membedakan fakta, opini, dan hoaks merupakan kompetensi dasar yang diperlukan siswa untuk berpikir kritis dan rasional dalam merespons berbagai Kegagalan dalam memilah informasi dapat menimbulkan dampak negatif, mulai dari penyebaran mis-informasi hingga pengambilan keputusan yang keliru (Putra et al. , 2. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika . aat ini dikenal Komdig. mencatat bahwa hingga Agustus 2020 terdapat lebih dari 1. berita hoax terkait Covid-19 yang beredar luas di masyarakat, termasuk di kalangan Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa semakin tinggi literasi digital siswa, semakin rendah kecenderungan mereka untuk menyebarkan hoax (Rusdy. Maryani & Wulandari, 2. Hal ini mempertegas pentingnya peran pendidikan dalam membangun keterampilan literasi informasi sejak usia sekolah. Edukasi dalam debat di kelas 11 memberikan ruang yang ideal untuk melatih siswa mengidentifikasi kebenaran informasi sekaligus mengasah kemampuan Debat bukan hanya sarana retorika dan berargumen semata-mata, melainkan juga metode pembelajaran yang menuntut siswa menyusun argumen berbasis data, membedakan opini dari fakta, serta mengenali dan membantah hoaks. Penelitian di SMP Negeri 1 Nanga Ketungau misalnya, menunjukkan bahwa integrasi literasi digital ke dalam pembelajaran kelas membantu remaja menjadi lebih kritis saat menghadapi informasi yang beredar di media sosial (Oktavian & Sulistyowati, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pengajaran debat dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran literasi informasi bagi siswa kelas 11, khususnya dalam membedakan fakta, opini, dan Dengan demikian, diharapkan model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan kemampuan retorika, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan literasi digital yang diperlukan untuk menghadapi tantangan era digital. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang berfokus pada keterlibatan langsung siswa kelas 11 dalam mengidentifikasi dan membedakan fakta, opini, dan hoaks. Pada tahap awal, guru memberikan penjelasan mengenai definisi masing-masing kategori informasi beserta ciri-ciri utamanya. Penjelasan ini diperkuat dan disertai dengan contoh aktual dari berita, artikel, serta media sosial agar siswa lebih mudah memahami perbedaan di antara ketiganya. Setelah itu, siswa diminta untuk membuat contoh nyata berupa satu fakta, satu opini, dan satu hoaks yang mereka temukan dari sumber yang jelas dan kredibel. Fakta @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA harus berasal dari data resmi atau lembaga terpercaya, opini dapat diambil dari artikel atau pernyataan tokoh, sedangkan hoaks diperoleh dari konten yang sudah terbukti salah melalui klarifikasi atau cek fakta. Setiap siswa kemudian menyerahkan hasil tugas mereka beserta sumber rujukan. Guru melakukan evaluasi dengan menilai ketepatan identifikasi, kredibilitas sumber, dan kejelasan penjelasan yang diberikan Dengan metode ini, siswa berlatih secara langsung untuk membedakan kategori informasi dan mengembangkan keterampilan literasi digital yang menjadi dasar bagi mereka untuk menelaah serta memastikan keterampilan untuk memaparkan argumen yang benar. IMPLEMENTASI KEGIATAN Program edukasi debat yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot dilaksanakan dengan pembelajaran aktif Guru terlebih dahulu memberikan pemahaman dasar tentang fakta, opini, dan hoaks, termasuk ciri-ciri yang membedakan masing-masing. Penjelasan diperkuat dengan contoh aktual dari berita daring, artikel opini, serta konten media sosial yang telah terverifikasi sebagai hoaks. Setelah itu, siswa kelas 11 diberi tugas individu untuk mencari satu contoh fakta, satu opini, dan satu hoaks dari sumber yang jelas dan kredibel. Fakta yang dikumpulkan biasanya berupa data resmi dari lembaga negara maupun pengetahuan umum yang menarik, opini berasal dari pernyataan tokoh publik atau keterangan ahli, sementara hoaks banyak diambil dari isu populer yang sudah diklarifikasi, seperti klaim palsu tentang vaksin Covid-19. Dalam pelaksanaannya, siswa juga diminta menuliskan penjelasan singkat mengenai alasan kategorisasi yang mereka buat. Guru kemudian mengevaluasi hasil tugas dengan menilai ketepatan klasifikasi, kredibilitas sumber, serta kejelasan argumen siswa. Hasil observasi menunjukkan sebagian besar siswa dapat mengidentifikasi informasi dengan benar, meskipun masih ada yang keliru menganggap opini bernuansa data sebagai fakta. Gambar 1. Kegiatan Edukasi untuk Membedakan Fakta. Opini, dan Hoax Pembahasan Kegiatan edukasi debat yang berfokus pada edukasi fakta, opini, dan hoaks menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan dapat berperan dalam membangun daya kritis dan etika digital generasi muda di tengah perkembangan zaman dan penyebaran arus informasi yang signifikan. Generasi Z, yang tumbuh dalam @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA lingkungan digital sejak usia dini, hidup dalam era baru yang berbeda secara fundamental dari generasi sebelumnya. Mereka terpapar oleh informasi dalam jumlah sangat besar setiap hari, dari berbagai platform seperti media sosial, portal berita, hingga aplikasi berbasis algoritma. Kondisi ini menciptakan fenomena yang oleh UNESCO disebut sebagai information disorder, yaitu keadaan di mana masyarakat tidak lagi mudah membedakan antara informasi yang valid, pandangan subjektif, dan disinformasi yang sengaja disebarkan. Dalam situasi ini, kemampuan berpikir kritis menjadi bukan hanya keunggulan akademik, tetapi kebutuhan utama bagi peserta didik agar mampu bertahan dan berjalan dalam dunia digital dengan tanggung jawab dan nalar. Pembelajaran berbasis debat di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot yang difasilitasi oleh Universitas Pelita Harapan menunjukkan bahwa metode pedagogis yang berorientasi pada partisipasi aktif siswa dapat menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis secara alami. Debat tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga menuntut proses berpikir logis, riset data, dan penilaian terhadap kredibilitas sumber. Dalam konteks ini, debat berperan sebagai laboratorium mini bagi siswa untuk mengalami secara langsung proses intelektual yang kompleks: mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis informasi, membangun argumen, serta mempertahankan pandangan berdasarkan bukti yang valid. Setiap pernyataan dalam debat harus dapat dipertanggungjawabkan dan diuji kebenarannya, sehingga siswa tidak hanya berlatih berbicara tetapi juga berlatih berpikir dengan struktur ilmiah. Transformasi cara berpikir siswa terlihat jelas sepanjang pelaksanaan kegiatan. Pada tahap awal, banyak siswa yang masih menilai kebenaran informasi berdasarkan popularitas sumber, seperti jumlah likes, pengikut, atau citra tokoh publik yang menyampaikan pesan. Informasi yang dikemas menarik atau emosional sering dianggap lebih meyakinkan dibanding data faktual yang disampaikan secara formal. Namun setelah mendapat pengajaran sistematis mengenai perbedaan antara fakta, opini, dan hoaks, serta latihan klasifikasi terhadap berbagai jenis konten digital, pola pikir mereka mulai bergeser. Siswa mulai terbiasa mempertanyakan keabsahan data, menelusuri asal-usul sumber, dan membandingkan informasi sebelum mengambil Sikap kritis ini menunjukkan bahwa pembelajaran debat bukan sekadar aktivitas retoris, tetapi juga berfungsi sebagai proses pembentukan watak intelektual yang reflektif dan skeptis terhadap informasi yang meragukan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil menyentuh tiga dimensi utama dalam pendidikan modern, yakni dimensi kognitif, afektif, dan moral. Secara kognitif, siswa belajar mengenali dan menilai informasi secara logis. Secara afektif, mereka mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap sumber data dan konteks informasi. Sementara secara moral, siswa mulai menyadari bahwa menyebarkan informasi palsu merupakan bentuk pelanggaran etika publik dan dapat menimbulkan dampak sosial yang luas. Kesadaran ini sangat penting dalam membentuk generasi digital yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas secara moral. Mereka tidak lagi melihat kebenaran sebagai hal yang relatif, tetapi sebagai sesuatu yang harus dicari dengan bukti dan tanggung jawab. Dalam konteks inilah, kegiatan edukasi debat menjadi ruang edukatif yang mempertemukan antara rasionalitas ilmiah dan etika sosial. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya alat untuk mentransfer @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA pengetahuan, melainkan proses membangkitkan kesadaran kritis peserta didik terhadap realitas sosial. Dalam kegiatan debat, siswa tidak hanya belajar tentang konsep AufaktaAy atau AuopiniAy, tetapi juga belajar untuk menafsirkan bagaimana kekuasaan, media, dan narasi membentuk persepsi masyarakat terhadap kebenaran. Misalnya, ketika mereka menganalisis hoaks yang tersebar di media sosial tentang isu vaksin atau politik, mereka belajar memahami bahwa setiap informasi memiliki tujuan komunikatif tertentu: untuk meyakinkan, memengaruhi, atau bahkan Dengan demikian, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran reflektif terhadap bagaimana informasi digunakan untuk membentuk opini publik. Kesadaran ini sangat penting agar generasi muda tidak menjadi korban pasif dari manipulasi informasi, tetapi mampu menjadi penilai dan penengah yang rasional. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa literasi digital tidak dapat dipisahkan dari literasi moral. Dalam banyak kasus, siswa yang memahami perbedaan antara fakta dan opini masih bisa tergoda untuk membagikan informasi provokatif demi mendapatkan perhatian atau validasi sosial. Melalui pembelajaran berbasis debat, mereka diingatkan bahwa kemampuan berpikir kritis harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etis. Wartoyo menekankan dalam penelitiannya tentang etika komunikasi di era Revolusi 4. 0 bahwa komunikasi akademik tidak boleh hanya berfokus pada efektivitas penyampaian pesan, tetapi juga pada integritas moral dan niat baik di baliknya. Debat memberikan ruang aman bagi siswa untuk menguji pendapat, sekaligus belajar menghormati perbedaan dan menjaga kesantunan Dengan demikian, kegiatan ini berfungsi sebagai latihan karakter di samping latihan kognitif. Selain berdampak pada individu, kegiatan ini juga memperkuat budaya akademik di lingkungan sekolah. Siswa dan guru terlibat dalam dialog terbuka, saling menghargai argumen, dan bersama-sama menegakkan nilai kebenaran. Budaya seperti ini menciptakan iklim belajar yang demokratis, di mana pendapat berbeda tidak dianggap ancaman, tetapi peluang untuk memperluas wawasan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan mitra dialog yang membantu siswa menemukan kebenaran melalui diskusi dan refleksi. Ini sejalan dengan paradigma student-centered learning, di mana peserta didik aktif mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman, sementara guru bertindak sebagai fasilitator. Melalui pendekatan ini, proses belajar menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat langsung dalam pencarian makna dan nilai. Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah meningkatnya kemampuan analisis siswa terhadap struktur informasi. Mereka mulai mampu mengenali teknik manipulasi dalam teks atau media, seperti penggunaan judul sensasional, data tanpa konteks, atau kutipan yang dipelintir. Dalam sesi diskusi kelas, siswa juga diajak membedah berita yang viral untuk menemukan unsur bias, framing, dan logika yang Aktivitas ini tidak hanya melatih kemampuan membaca kritis, tetapi juga mengajarkan cara berpikir reflektif terhadap media. Siswa belajar bahwa media tidak selalu netral, dan setiap teks mengandung perspektif tertentu. Kemampuan semacam ini menjadi sangat penting di era pascakebenaran . ost-truth er. , di mana opini emosional sering kali lebih dominan daripada fakta objektif. Kegiatan ini juga relevan dengan agenda nasional literasi digital yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdig. Komdigi dalam berbagai laporan menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA dan masyarakat untuk meningkatkan kecakapan digital warga negara. Program debat yang menekankan pada pembedaan fakta, opini, dan hoaks secara langsung menjawab tujuan tersebut. Melalui program seperti ini, siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif, tetapi juga warga digital yang aktif, kritis, dan Mereka belajar bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan kebenaran dan tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia. Dengan demikian, pendidikan digital bukan hanya tentang penguasaan perangkat, tetapi tentang pembentukan karakter dan nalar. Selain memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis, kegiatan ini juga memberikan pengalaman sosial yang berharga bagi siswa. Dalam debat, mereka belajar bekerja sama dengan rekan satu tim, membagi peran, menyusun strategi, dan menyesuaikan argumen sesuai situasi. Mereka juga belajar menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan berani mengakui jika argumen mereka kurang kuat. Semua ini merupakan bagian dari proses pembelajaran sosial yang membentuk kerendahan hati intelektual. Dalam konteks masyarakat yang sering kali terpolarisasi karena perbedaan pandangan, kemampuan untuk mendengar dan menghargai pendapat orang lain adalah bekal penting bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa yang demokratis. Dari hasil refleksi guru, ditemukan bahwa sebagian siswa masih kesulitan membedakan antara opini berbasis data dan fakta empiris yang objektif. Hal ini menunjukkan perlunya pelatihan lanjutan yang lebih terstruktur dalam melakukan verifikasi informasi. Guru kemudian merancang kegiatan tambahan berupa simulasi cek fakta menggunakan situs-situs resmi seperti CekFakta Tempo dan TurnBackHoax. Dalam kegiatan tersebut, siswa diminta untuk menelusuri berita viral, menemukan sumber aslinya, membandingkan dengan laporan dari media arus utama, dan menarik kesimpulan mengenai validitas informasi. Aktivitas ini memperkuat keterampilan teknis mereka dalam verifikasi, sekaligus menanamkan kebiasaan ilmiah untuk tidak mudah percaya tanpa bukti. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa proses mencari kebenaran membutuhkan ketekunan, bukan sekadar kecepatan atau keviralan. Dampak lain yang tak kalah penting adalah terbentuknya kesadaran kolektif bahwa literasi informasi adalah tanggung jawab bersama. Siswa mulai memahami bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga kebersihan ruang digital. Mereka tidak lagi melihat media sosial sebagai ruang pribadi semata, tetapi sebagai ruang publik yang memerlukan etika dan tanggung jawab sosial. Kesadaran ini menjadikan kegiatan debat sebagai proses pembelajaran yang melampaui dinding kelas, karena nilai-nilai yang dipelajari dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa belajar menolak hoaks dan menyebarkan informasi yang benar, mereka sebenarnya sedang menjalankan fungsi kewarganegaraan digital yang aktif dan produktif. Dalam jangka panjang, kegiatan seperti ini dapat menjadi model pembelajaran nasional yang efektif untuk memperkuat karakter dan literasi informasi di kalangan Model ini dapat diadaptasi oleh sekolah lain dengan menyesuaikan konteks dan kebutuhan. Guru dapat berkolaborasi dengan lembaga literasi digital, media massa, atau universitas untuk memperkaya bahan ajar. Selain itu, evaluasi hasil pembelajaran dapat dikembangkan melalui proyek berbasis riset, di mana siswa diminta untuk menganalisis tren hoaks di masyarakat, memetakan pola @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wartoyo & Kusuma. Edukasi Fakta. Opini, dan Hoax. Bagi Generasi ZA penyebarannya, dan menyusun rekomendasi solutif bagi edukasi masyarakat. Dengan pendekatan seperti ini, sekolah tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademis, tetapi juga berperan aktif dalam membangun ketahanan sosial terhadap Secara keseluruhan, kegiatan edukasi debat tentang fakta, opini, dan hoaks ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi krisis kebenaran di era digital. Siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep teoretis, tetapi juga mengalami langsung proses pencarian kebenaran melalui praktik berpikir kritis, komunikasi etis, dan refleksi moral. Mereka tumbuh menjadi individu yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga bijak menimbang, berhati-hati menilai, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan, jika dirancang dengan pendekatan yang relevan, mampu melahirkan generasi muda yang cerdas secara digital, kuat secara intelektual, dan berkarakter secara moral. Dengan demikian, edukasi debat tidak hanya berfungsi sebagai alat pedagogis, tetapi juga sebagai sarana pembentukan manusia yang utuh, yang mampu berpikir, berempati, dan berkontribusi secara nyata bagi masyarakat. KESIMPULAN Program edukasi debat yang dilaksanakan di Sekolah Dian Harapan Daan Mogot bagi siswa kelas 11 menunjukkan bahwa latihan sederhana berupa klasifikasi fakta, opini, dan hoaks efektif meningkatkan kesadaran literasi informasi sekaligus melatih keterampilan berpikir kritis. Siswa menjadi lebih mampu mengenali kredibilitas sumber, menyusun argumen berbasis data, serta lebih waspada terhadap disinformasi, meskipun sebagian masih menghadapi kesulitan membedakan opini yang disertai data dengan fakta murni. Temuan ini menegaskan bahwa debat tidak hanya berfungsi sebagai sarana retorika, tetapi juga sebagai strategi pembelajaran yang membentuk sikap kritis, etis, dan literat terhadap arus informasi digital, sejalan dengan pandangan Fauzi . Oktavian & Sulistyowati . , serta Wartoyo . yang menekankan pentingnya literasi digital dan etika komunikasi di era Revolusi 4. DAFTAR PUSTAKA