JURNAL Al-Manaj Volume 5. Nomor 1 Juni 2025 P-ISSN: 27752062 E-ISSN: 27758729 PERAN PESANTREN AL-ZAYTUN DALAM IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA Sobirin1. Budi Santoso2. Nurul Amanah3 1,2,3 Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) Indramayu Email: sobirinsp72@gmail. Kata kunci Abstrak Implementasi. Moderasi. Pesantren Al-Zaytun Dalam diri setiap individu memiliki keyakinan beragama yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan sudah seharusnya bagi setiap individu menghormati keyakinan pemeluk agama lain tanpa harus merendahkan atau mencaci maki. Sikap tersebut merupakan suatu bentuk moderasi beragama yang tak perlu dikhawatirkan dapat terjadi pendangkalan akidah. Praktek moderasi beragama bisa dilakukan oleh setiap individu, kelompok masyarakat bahkan sebuah lembaga Pada penelitian ini. Al-Zaytun merupakan sebuah lembaga pendidikan yang mempraktekkan moderasi beragama yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Model penelitian yang digunakan yakni studi kepustakaan dengan memanfaatkan data pustaka yang dipaparkan secara deskriptif untuk menganalisis suatu fenomena, kejadian pada suatu Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam dan menyeluruh tentang Peran Pesantren Al-Zaytun dalam Implementasi Moderasi Beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren AlZaytun senantiasa menanamkan kepada peserta didiknya untuk menghormati perbedaan dalam beragama serta rutin mengundang tokoh lintas agama dalam setiap event yang diadakan di pesantren AL-Zaytun seperti pada perayaan satu syuro. Pemahaman yang sempit dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang implementasi moderasi beragama di Al-Zaytun merupakan kendala saat mengimplementasikan moderasi beragama karena apa yang dilakukan oleh Al-Zaytun dianggap tidak lazim bahkan ada yang menganggap sesat. Namun dukungan juga muncul dari para tokoh lintas agama untuk implementasi moderasi beragama di Al-Zaytun. Keywords Implementation. Moderation. Al-Zaytun Islamic Boarding School Abstract In each individual, there are different religious beliefs from one another, and it is only right for each individual to respect the beliefs of other religious adherents without having to belittle or insult them. This attitude is a form of religious moderation that does not need to be worried about causing shallowing of faith. The practice of religious moderation can be carried out by every individual, community group and even an educational institution. In this study. Al-Zaytun is an educational institution that practices religious moderation in accordance with the values of Pancasila. The research model used is a literature study by utilizing library data that is presented descriptively to analyze a phenomenon, an event in an environment. This study aims to reveal in depth and comprehensively the Role of the Al-Zaytun Islamic Boarding School in the Implementation of Religious Moderation. The results of the Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 study show that the Al-Zaytun Islamic Boarding School always instills in its students to respect differences in religion and routinely invites interfaith figures to every event held at the AL-Zaytun Islamic Boarding School such as the celebration of one syuro. Narrow understanding and lack of public understanding of the implementation of religious moderation in Al-Zaytun is an obstacle when implementing religious moderation because what Al-Zaytun does is considered unusual and some even consider it heretical. However, support also emerged from interfaith figures for the implementation of religious moderation in Al-Zaytun. Pendahuluan Moderasi beragama merupakan suatu cara pandang, perilaku, dan sikap beragama yang telah di praktikan dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga saat ini. Bahkan, pemerintah telah memasukkan moderasi beragama sebagai salah satu program nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dalam konteks hubungan aqidah antar umat beragama, moderasi beragama (MB) diartikan sebagai keyakinan yang kuat terhadap kebenaran agama masing-masing, namun tetap menghargai dan menghormati penganut agama lain yang berbeda keyakinan, tanpa perlu membenarkan keyakinan mereka. Moderasi beragama tidak berarti melemahkan aqidah, seperti yang disalahpahami oleh sebagian masyarakat. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk atau multikultur dalam budaya, suku, bahasa dan agama. Dalam beragama, setiap warga berhak untuk menjalankan ritual ajarannya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Setiap umat beragama pula memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam memaknai dan menjalankan ajaran agamanya. Namun ironisnya dalam praktek kehidupan di masyarakat jangankan dengan kelompok agama yang berbeda, dengan yang memiliki keyakinan beragama yang samapun sering kita temui perbedaan dalam memahami ajarannya. Maka sering kita jumpai di masyarakat terjadi gesekan antar umat yang berbeda agama atau keyakinan. Moderasi beragama diperlukan untuk menjaga kerukunan hidup beragama dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing, sehingga tidak terjadinya konflik antar umat beragama di seluruh Indonesia. Tindak radikalisme di Indonesia belakangan ini cenderung mengalami peningkatan. Ironisnya, hal tersebut sering dikaitkan dengan kegagalan pendidikan agama dalam membentuk sikap dan perilaku moderat para peserta Dunia pendidikan Indonesia saat ini sedang mengalami sorotan tajam dari berbagai kalangan atas kegagalannya dalam menghasilkan peserta didik yang dapat meneruskan citacita perjuangan para pendahulunya yang sesuai dengan nilai-nilai dasar pancasila. Gonta ganti kurikulum sering dilakukan, berganti pejabat sering pula berganti kebijakan. Para pendidik juga yang mestinya bisa dijadikan contoh oleh para peserta didiknya masih banyak yang belum memahami tentang moderasi beragama. Bahkan dibeberapa kasus para pelaku tindakan terorisme dan radikalisme dilakukan oleh oknum guru yang semestinya mereka menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya (Al Faruq & Noviani, 2. Semestinya lembaga pendidikan merupakan sarana yang tepat bagi pemerintah guna mendidik dan mengenalkan moderasi beragama kepada para peserta didik sejak usia dini sehingga mereka sudah bisa memahami bahwasanya mereka hidup dalam pluralisme dengan prinsip dan keyakinan yang berbeda pada setiap individu sehingga tercipta suatu pemahaman untuk saling menghormati setiap perbedaan yang ada terutama dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Nabi Muhammad SAW merupakan contoh dari sosok yang sangat pluralis. Beliau sangat menghormati perbedaan yang ada di masyarakat Madinah saat itu. Hal tersebut tercantum dalam piagam Madinah yang salah satu isinya antara lain menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat serta tentang keselamatan harta-benda dan larangan orang melakukan kejahatan (Burhanuddin, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa Nabi muhammad merupakan sosok yang sangat menghormati perbedaan. Beliau lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas berbagai macam perbedaan keyakinan di masyarakatnya. Bila terdapat ancaman yang dapat membahayakan yang datangnya dari luar, maka setiap masyarakat Madinah berhak dan wajib untuk membela bangsanya tanpa peduli apakah mereka Islam maupun bukan Islam (Hendra & Hikmah, 2. Hal tersebut bisa dijadikan contoh oleh masyarakat serta para pemimpin negara dalam membuat kebijakan agar masyarakat dapat sepenuhnya memahami tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara yang di dalamnya terdapat berbagai macam ras, suku, agama yang berbeda namun dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis tanpa harus saling mencaci maki dan merasa dirinya yang paling benar. Keselamatan bangsa dan negara lebih utama atas segala macam bentuk ancaman yang dapat memecah belah persatuan serta mengancam kedaulatan negara. Maka lembaga pendidikan merupakan sarana yang tepat guna mensosialisasikan serta menanamkan nilai-nilai luhur dari setiap ajaran agama yang dianut oleh setiap individu . Pada tulisan ini penulis memberikan judul tentang AuPeran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi BeragamaAy. Penulis mengambil tema tentang moderasi beragama di Al-Zaytun atas dasar banyaknya kajian yang memuat praktek toleransi beragama dan bagaimana para pendidiknya menanamkan moderasi beragama kepada peserta didiknya. Hal yang perlu diketahui juga bahwa moderasi beragama berlawanan dengan politik identitas, karena praktik politik identitas berfokus pada identitas kelompok seperti: ras, agama, jenis kelamin dan orientasi seksual yang tentunya hal ini sangat berbahaya dalam konteks keberagaman di Indonesia. Salah satu bahaya politik identitas adalah terjadinya pemisahan antarkelompok dan fokus terhadap kepentingan kelompok atau agama tertentu dalam membuat kebijakan yang pada akhirnya dapat memperparah perpecahan di masyarakat. Dalam hubungan antar umat beragama, moderasi beragama tidak merubah atau menambahkan ajaran agama, melainkan mendorong adanya saling menghormati dan menghargai saat ada perbedaan, terutama di ruang publik, dengan tetap berlandaskan pada kaidah-kaidah ilmiah. Oleh karena itu, atas nama moderasi beragama, tidak semua orang bebas untuk berbicara dan berpendapat tanpa mematuhi kaidah-kaidah ilmiah serta memiliki latar belakang dan pengetahuan yang memadai (Amin, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai Peran Pesantren AlZaytun dalam Implementasi Moderasi Beragama sebagai solusi preventif terhadap adanya gangguan intoleransi beragama di Indonesia melalui pendekatan studi literatur. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk memahami dinamika hubungan pesantren dengan moderasi beragama serta memberikan rekomendasi bagi upaya toleransi beragama di era global. Untuk memahami lebih dalam mengenai dampak Peran Pesantren Al-Zaytun dalam Implementasi Moderasi Beragama, pendekatan studi literatur merupakan metode yang tepat dan efektif. Penelitian ini mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber antara lain buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan dokumen relevan lainnya dengan mengkaji berbagai literatur yang ada. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk membentuk Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 gambaran komprehensif mengenai fenomena yang diteliti dan mengidentifikasi pola-pola umum serta temuan-temuan penting dari berbagai penelitian sebelumnya (Febrianto, 2. Fokus utama pada penelitian ini adalah bagaimana peran para pendidik di Al-Zaytun dalam mengimplementasikan paham mengenai moderasi beragama dan bagaimana peran para pimpinan / pengurus dalam mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari baik itu di dalam kampus maupun di masyarakat. Di lembaga pendidikan inilah dapat kita jumpai bagaimana para pendidik beserta jajaran pimpinan pesantren Al-Zaytun mengajarkan peserta didiknya tentang moderasi beragama dengan senantiasa mengingatkan terus menerus yang salah satunya adalah mengenai makna dari nilai-nilai dasar bernegara karena dasar negara merupakan kunci utama dari memaknai moderasi beragama. Metode Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian studi pustaka atau literatur. Hasil dan pembahasan penelitian ini mencakup ulasan tentang metode penelitian studi pustaka atau studi literature (Darmalaksana, 2. , dengan memanfaatkan data pustaka yang dipaparkan secara deskriptif untuk menganalisis berbagai macam literatur pustaka, seperti buku, jurnal terkait Peran Pesantren Al-Zaytun dalam Implementasi Moderasi Beragama. Pengumpulan data diperoleh dengan menelaah hasil-hasil penelitian dan informasi-informasi tertulis, baik dari buku-buku, artikel-artikel jurnal, informasi forum post, dan dokumentasi yang bersumber dari gambar, maupun dokumen sekunder lain yang melengkapi data kajian artikel ini. Data yang diperoleh dianalisis secara induktif setelah terlebih dahulu dipilah dan dikategorisasikan sebagai proses display data, yang pada akhirnya disimpulkan dan disajikan secara deskriptif, yang oleh Musthafa dan Hermawan dijelaskan bahwa analisis induktif adalah mengambil benang merah dari gambaran konsep, beberapa kejadian atau peristiwa, maka dalam hal ini teknik analisis induktif berusaha menemukan kategori berdasarkan data yang terkumpul (Hermawan & Musthafa, 2. Hasil dan Pembahasan Profil Pesantren Al-Zaytun Ma'had Al-Zaytun adalah sebuah pesantren modern yang terletak di Indramayu. Jawa Barat. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang menggabungkan pendidikan agama dengan pendidikan umum dalam kurikulumnya. Pendidikan di MaAohad Al-Zaytun memiliki landasan pesantren spirit but modern system. Suatu kehidupan pondok pesantren yang tetap mempertahankan esensi dari nilai spirit keislaman, spirit kemandirian terhadap pesantren, dan spirit kebersamaan. Nilai-nilai tersebut mempunyai makna bahwa peserta didik dapat membentuk pribadinya yang mandiri,dan bersahabat dengan mengkaitkan suatu System Modern (Prawoto & Dewi, 2. Ma'had Al-Zaytun memiliki komunitas yang beragam, terdiri dari santri, dosen, guru, serta karyawan belakang budaya, dan daerah yang berbeda. Keberagaman atau pluralisme ini mencerminkan semangat inklusivitas dan persatuan dalam pendidikan di Ma'had Al-Zaytun, di mana nilainilai toleransi dan kebersamaan diajarkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari (Cipto et al. , 2. Sebagai pesantren modern. Ma'had Al-Zaytun juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung pembelajaran, serta mengedepankan metode pengajaran yang adaptif dengan perkembangan zaman, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan di pesantren tersebut. Ma'had Al-Zaytun memainkan peran yang signifikan dalam penerapan nilai-nilai pluralisme di Indonesia. Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Dengan menanamkan sikap toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan kerja sama antarbudaya, maka dalam menyapaikan pendapat atau gagasan, pesantren ini membantu menciptakan generasi yang lebih siap untuk hidup dalam masyarakat yang multikultural dan plural. Para santrinya juga diajarkan mengenai sejarah panjang bangsa Indonesia, agar mereka mengenal sejarah bangsanya yang merupakan hasil jerih payah para pendahulunya yang berasal dari berbagai kelompok yang ada pada masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bangsa serta agama. Perbedaan-perbedaan tersebut dikesampingkan dan kemudian disatukan demi mencapai suatu tujuan bersama yakni merdeka. Kemerdekaan yang telah diraih hingga kini terus dipertahankan oleh bangsa Indonesia hingga sekarang. Namun dalam upaya mempertahankan kemerdekaannya, muncul berbagai tantangan yang ada di dalam masyarakat yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan Diantara tantangan tersebut diantaranya adalah munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki cara pandang yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah dalam konteks beragama yang merasa bahwa hanya dirinya atau kelompoknya saja yang paling benar sedangkan kelompok yang lain dianggap tidak benar hingga dianggap sesat. Kelompok-kelompok tersebut memiliki cara yang berbeda-beda dalam mensyiarkan cara pandang atau pemahaman yang mereka yakini, baik dengan cara yang lemah lembut bahkan ada yang mencoba memaksakan pemahamannya dengan cara yang radikal. Cara-cara memaksakan pemahamannya ini kepada orang lain inilah yang kemudian menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat dan rawan menimbulkan perpecahan bangsa. Diantara mereka yang memiliki keyakinan beragama yang samapun, masih saja banyak yang memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai ajaran agamanya mulai dari tata cara peribadatan, pandangan tentang hukum dalam agamanya dan lain sebagainya. Sering kali muncul perdebatan-perdebatan baik dalam kehidupan sehari-hari bahkan sering juga kita jumpai perdebatan di media sosial, dimana satu sama lain saling menjatuhkan, menjelekjelekkan bahkan ada yang mengkafirkan satu dengan yang lainnya hingga tidak ada habisnya. Perdebatan-perdebatan tersebut hanya membuang waktu dan energi saja yang ujungnya hanya memunculkan bibit-bibit permusuhan bahkan perpecahan antara penganut agama yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu perlu terus menerus mengupayakan pentingnya moderasi beragama terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah memiliki peran serta tanggung jawab yang besar dalam mengkampanyekan moderasi beragama kepada Satu diantaranya peran yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengkampanyekan moderasi beragama melalui lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal. Pesantren Al-Zaytun merupakan salah satu dari sekian banyak lembaga pendidikan yang secara konsisten menyuarakan pentingnya moderasi beragama demi persatuan dan kesatuan Peran yang dilakukan oleh Al-Zaytun ini banyak didukung oleh banyak kalangan baik dari kalangan muslim sendiri dan banyak juga dari kalangan nonmuslim. Peran yang dilakukan oleh pesantren Al-Zaytun bukannya tidak mendapat tantangan. Banyak dikalangan masyarakat termasuk umat Islam sendiri yang masih sempit cara berfikirnya dalam melihat praktik moderasi beragama di Al-Zaytun. Berbagai pendapat masyarakat itu diantaranya bahwa apa yang dilakukan Al-Zaytun menyimpang, sesat bahkan dikhawatirkan dapat menimbulkan pendangkalan akidah. Istilah moderasi sendiri memiliki makna yang berarti ada di tengah, tidak terlalu ke kanan maupun terlalu ke kiri, bila dihubungkaitkan dengan permasalahan agama, maka moderasi itu merupakan cara pandang atau bersikap yang tidak mengikuti arus ke kanan Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 ataupun ke kiri (Muhibbin, 2. Pemerintah melalui Kementrian Agama berpandangan bahwa cara beragama mestinya memiliki orientasi pada praktek dari pemahaman agama melalui cara-cara kekinian, tidak ekstrem dan tidak berlebihan. Moderasi beragama perlu terus disosialisasikan kepada seluruh elemen masyarakat. Mengingat sering terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama. Agama yang hadir untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan justru disalahgunakan untuk merendahkan sesama manusia. Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Mengimplementasikan Moderasi Beragama Pada pembahasan ini penulis menyajikan bagaimana peran Al-Zaytun membantu program pemerintah dalam mengkampanyekan moderasi beragama melalui lembaga pendidikan berbasis agama berdasarkan kajian-kajian yang pernah ada. Al-Zaytun merupakan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren dimana para siswa dari tingkat PAUD sampai dengan perguruan tinggi yang datang dari berbagai penjuru pelosok tanah air bahkan ada pula yang datang dari luar negeri seperti Malaysia, yang tentunya mereka memiliki kultur yang berbeda satu dengan yang lainnya. Di lembaga ini ditanamkan kepada peserta didiknya untuk memahami konsep moderasi beragama dan menanamkan kecintaan terhadap tanah airnya. Bagi pesantren Al-zaytun, perbedaan latar belakang peserta didik baik agama, etnis, bahasa, dan budaya merupakan anugrah dari Tuhan yang patut disyukuri (Hanifa et al. Para peserta didik dari tingkat PAUD sampai dengan perguruan tinggi diajarkan untuk bersikap toleran tidak boleh berperilaku intoleran dan radikal, tapi justru sebaliknya, adanya perbedaan tersebut harus mampu dipahami dengan baik oleh mereka untuk dapat belajar mengenal satu dengan yang lainnya dan tidak mudah berpecah belah hanya karena perbedaan keyakinan dan latar belakang budaya (Muttaqin, 2. Berdasarkan kajian dari berbagai literature yang ada, pesantren ini merupakan sebuah lembaga pendidikan modern yang megah dengan luas mencapai 1200 hektar lebih serta memiliki berbagai macam fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran. Suasana lingkungan yang sangat asri serta sarana prasarana yang ditata dan dibangun dengan baik dan rapih dengan harapan para peserta didik dapat belajar dengan nyaman (Cipto et al. , 2. Peran pendidik di Al-Zaytun dalam moderasi beragama Pesantren Al-Zaytun dibawah asuhan Abdussalam Rasydi Panji Gumilang. Sos. atau yang biasa disebut Syaykh Al-Zaytun bersama para tenaga pendidiknya, memiliki tanggung jawab besar dalam mengajarkan nilai-nilai dalam moderasi beragama kepada para peserta didiknya. Praktek moderasi beragama dalam bentuk sikap toleransi yang diajarkan merupakan sikap menghormati perbedaan dan mengakui hak setiap individu untuk berbeda guna mewujudkan perdamaian sesuai dengan motto pesantren ini sebagai AuPusat Pendidikan Serta Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat. Cerdas dan ManusiawiAy. Para pendidik di Al-Zaytun memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan pandangan para peserta didik termasuk menanamkan nilai toleransi dan perdamaian. Peran yang dilakukan oleh para pendidik di Al-Zaytun itu Menanamkan pendidikan Islam moderat yang penuh dengan nilai toleran Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Islam yang moderat merupakan Islam yang bersifat humanis yang dapat mengayomi semua kalangan masyarakat dari berbagai lapisan baik etnis, suku maupun agama. Peserta didik atau santri Al-Zaytun mulai dari PAUD sampai dengan perguruan tinggi, yang datang dari berbagai macam kultur yang ada di tanah air. Meskipun para santri umumnya beragama Islam namun diantara penghuni pesantren terdapat guru yang beragama Kristen dan terdapat pula mitra kerja dalam membangun yang nonmuslim. Mereka yang nonmuslim tersebut tetap diperlakukan sama dan tidak ada diskriminasi. Terdapat beberapa kajian yang pernah ada mengenai peran pendidikan Islam dalam wacana penguatan moderasi beragama di Indonesia dan telah menjadi topik kajian yang cukup populer di kalangan akademisi dan peneliti di Indonesia. Namun sayangnya diantara kajian terdapat lembaga pendidikan yang belum berhasil misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Hendra Harmi 2022, yang menunjukkan bahwa sekolah/madrasah masih belum sepenuhnya siap untuk melaksanakan program moderasi beragama. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya indikator yang belum terpenuhi oleh beberapa sekolah/madrasah untuk mensukseskan program moderasi beragama yang dicanangkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama tersebut (Ikhwan et al. , 2. Para pendidik di pesantren Al-Zaytun senantiasa menanamkan pendidikan agama dengan memasukkan nilai-nilai moderasi mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Selain sebagai bekal untuk kehidupan di masyarakat yang plural sesungguhnya, menanamkan nilai moderasi dimaksudkan untuk mengurangi praktik-praktik tawuran, kekerasan, bulying ataupun tindak kejahatan yang masih sering di lembaga pendidikan sekarang ini. Peran yang dilakukan oleh pendidik atau guru di Al-Zaytun dilaksanakan dengan beberapa hal berikut: Mengajarkan pendidikan akhlak kepada peserta didik. Akhlak atau moral merupakan pemahaman dasar yang harus diberikan oleh pendidik agar para peserta didik dapat berperilaku yang baik, menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan meski berbeda latar belakang. Menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama peserta didik meskipun mereka datang dari latar belakang yang berbeda dengan menanamkan rasa persaudaraan yang kuat dan solidaritas yang tinggi seperti saudara yang tinggal dalam satu rumah meskipun rumah itu adalah lembaga pendidikan. Para pendidik tidak membeda-bedakan perlakuan antara kelas yang tertinggi dengan yang terendah ataupun asal daerah peserta didik. Memberikan sanksi yang tegas namun mendidik kepada peserta didik yang kedapatan berkelakuan tidak baik seperti berkelahi, membuli maupun tindakan kekerasan lainnya. Pemberian sanksi diberikan dengan maksud memberikan efek jera kepada peserta didik. Menanamkan rasa cinta kepada tanah air Menanamkan rasa cinta terhadap tanah air merupakan hal yang harus dilakukan oleh seorang pendidik agar kelak yang ada dalam benak peserta didik adalah bagaimana dirinya dapat berperan aktif dalam membangun bangsa dan negaranya serta dapat menjaga keutuhan bangsanya dari berbagai ancaman yang datangnya bisa dari luar maupun dari dalam,yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Kecintaan terhadap tanah air ditanamkan sejak usia dini agar terbentuk karakter yang dapat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensi dirinya. nilai-nilai cinta tanah air perlu ditanamkan sejak dini agar sebagai penerus bangsa dapat mewujudkan sikap dan tingkah laku yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsanya (Lestari et al. , 2. Terdapat beberapa hal yang ditanamkan oleh para pendidik di Pesantren Al-Zaytun kepada peserta didiknya dalam hal menanamkan kecintaan terhadap tanah air yakni: Mengajarkan lagu wajib nasional Indonesia Raya 3 stanza. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kita sebagai warga negara Indonesia bila pada hari senin ataupun hari-hari perayaan nasional mendengar alunan lagu Indonesia Raya dikumandangkan baik itu di sekolah maupun di lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat juang, membentuk karakter cinta tanah air, dan semangat belajar bagi peserta didik dan juga warga negara. Lagu nasional Indonesia Raya merupakan lagu yang diciptakan oleh W. Supratman yang merupakan pahlawan pejuang bangsa Indonesia. Di pesantren Al-Zaytun, menyanyikan lagu Indonesia raya tidak hanya dilakukan pada hari senin atau perayaan hari nasional saja namun dilaksanakan setiap hari sebelum dimulakan pembelajaran dan tidak hanya satu stanza saja akan tetapi dikumandangkan 3 stanza sekaligus. Lagu Indonesia Raya 3 stanza ini banyak sekali masyarakat yang tidak mengetahuinya serta merasa heran atas apa yang diajarkan oleh Al-Zaytun. Berikut adalah lagu Indonesia Raya 3 stanza ciptaan W. Supratman: Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu Hiduplah tanahku hiduplah negeriku Bangsaku rakyatku semuanya Bangunlah jiwanya bangunlah badannya Untuk Indonesia raya Indonesia raya meredeka merdeka Tanahku negeriku yang kucinta Indonesia raya meredeka merdeka Hiduplah Indonesia raya Indonesia tanah yang mulia tanah kita yang kaya Disanalah aku berdiri untuk selama-lamanya Indonesia tanah pusaka pusaka kita semuanya Marilah kita mendoa Indonesia bahagia Suburlah tanahnya suburlah jiwanya Bangsanya rakyatnya semuanya Sadarlah hatinya sadarlah budinya Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Untuk Indonesia raya Indonesia raya meredeka merdeka Tanahku negeriku yang kucinta Indonesia raya meredeka merdeka Hiduplah Indonesia raya Indonesia tanah yang suci tanah kita yang sakti Disanalah aku berdiri njaga ibu sejati Indonesia tanah berseri tanah yang aku sayangi Marilah kita berjanji Indonesia abadi Slametlah rakyatnya slametlah putranya Pulaunya lautnya semuanya Majulah negerinya majulah pandunya Untuk Indonesia raya Indonesia raya meredeka merdeka Tanahku negeriku yang kucinta Indonesia raya meredeka merdeka Hiduplah Indonesia raya Lagu Indonesia raya 3 stanza yang diajarkan serta dikumandangkan setiap harinya kepada peserta didik di Al-Zaytun dimaksudkan agar para peserta didik dapat mengenal sejarah bangsanya secara utuh serta memahami cita-cita didirikannya bangsa Indonesia termasuk kekayaan sumber daya alamnya. Lagu Indonesia raya 3 stanza ini juga dikumandangkan setiap harinya oleh peserta didik mulai dari PAUD hingga perguruan . Melakukan pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam yang mencantumkan moderasi beragama. Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam merupakan suatu langkah yang harus dilakukan oleh para pendidik guna memasukkan faham atau nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat bangsa Indonesia yang majemuk serta untuk menghadirkan gerakan Islam moderat dengan membangun toleransi dikalangan peserta didik yang berbeda latar belakang keagamaan, menebarkan perdamaian di lingkungan sosialnya, mengedepankan dialog antar agama, dan menanamkan sikap keterbukaan dengan pihak luar . , serta menolak ujaran kebencian. Perguruan tinggi di AlZaytun yakni Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-AZIS) sudah menambahkan mata kuliah AuPengembangan Budaya Toleransi dan PerdamaianAy pada setiap prodinya. Menanamkan nilai-nilai dasar negara Pancasila sejak usia dini Nilai-nilai pancasila dan moral sangat penting untuk diajarkan sejak dini. Sikap dan perilaku yang berlandaskan pancasila dan nilai-nilai moral dapat dikembangkan pada diri anak, sehingga anak dapat tumbuh dengan akhlak yang mulia yang sesuai dengan harapan bangsa. Pada kajian yang dilakukan oleh Pitaloka bahwasanya seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengajarkan nilai toleransi maupun Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 moderasi yang diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode yang berbeda seperti contoh, arahan, pembiasaan, mendongeng, kegiatan bermain dan penggunaan media. Di pesantren Al-Zaytun nilai dasar Pancasila yang dimiliki bangsa Indoneisa dimaknai sebagai ajaran ilahi yang bersifat universal. Para pendidik mengajarkan makna dari setiap butir dari lima nilai dasar Pancasila kepada peserta didik agar mereka memiliki kesadaran tentang bagaimana dan tujuan dari bangsa Indonesia ini didirikan. Syaykh Al-Zaytun dalam tausiyahnya pada dzikir jum`at memaknai lima nilai dasar tersebut sebagai berikut: pertama. Ketuhanan yang maha esa, yang bermakna bahwa bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai macam umat beragama seperti Islam. Kristen. Hindu. Budha memiliki keyakinan atas Tuhan yang sama yakni Tuhan Yang Maha Esa meskipun berbeda dalam menjalankan peribadatan dan keyakinan agamanya masing-masing. Para peserta didik diajarkan untuk tidak mencaci, merendahkan agama lain namun mereka ditunjukkan cara menghormati penganut agama lain yang berkunjung ke Al-Zaytun. Para peserta didik juga diikutsertakan mendampingi para tamu dari penganut agama lain yang berkunjung bahkan mempersilahkan bagi penganut agama lain menggunakan fasilitas yang ada untuk mereka melakukan kegiatan peribadatan. Kegiatan yang dilakukan oleh penganut agama lain tidak membuat segenap penghuni Al-Zaytun merasa khawatir terjadi pendangkalan aqidah. Kedua. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang bermakna bahwa sesama manusia harus saling memanusiakan manusia dengan memberikan kebebasan kepada setiap invidu untuk meyakini kepercayaannya masing-masing, menjalankan ajaran agamanya, menjunjung tinggi keyakinan dari umat lain dan bersikap adil terhadap penganut agama lain sehingga akan muncul sikap saling menghormati sesama manusia meski berbeda agama bahkan status Nilai kemanusiaan sepeti inilah yang terus diajarkan kepada peserta didik agar kelak mereka dapat hidup berdampingan secara damai dengan sesama anak bangsa meski berbeda dalam keyakinan beragama maupun cara berfikir. Ketiga, persatuan Indonesia. Setelah kita mengetahui bahwasanya bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keanekaragaman etnis, budaya serta agama dimana kita sebagai warga negara mesti hidup berdampingan secara damai, saling menghormati perbedaan beragama karena kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan tanpa harus saling mencela, mencaci maki satu dengan yang lainnya. Dengan demikian bila hal tersebut sudah tertanam dalam diri setiap individu bangsa Indonesia maka yang muncul adalah persatuan Indonesia. Syaykh Al-Zaytun selaku pendidik mengajarkan bahwasanya janganlah kamu berpecah belah atas nama agama. Tidak perlu ada persatuan-persatuan atas nama agama, yang ada hanyalah persatuan Indonesia. Sebab bila kita melihat realita kehidupan di masyarakat dengan banyak bermunculan organisasi kemasyarakatan yang berlandaskan agama yang berpotensi dapat menimbulkan gesekan antara kelompok satu dengan yang lainnya yang ujung-ujungnya dapat menimbulkan perpecahan sesama anak Dalam Islam juga diperintahkan untuk tidak saling berpecah belah antara satu Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 dengan yang lainnya sebagaimana terdapat dalam Al Qur`an surah Ali Imran:103 yang AO o aO e aE aA acEEa a aIOU aOaE a NCA AA aIA A NA AO a a e aE NA AacEEa aEa eO aE eI au e aEO a eIA a AO aO e aIA a a AaO eA a a eaI aOa e aIa a eN ua e a aOOU aO aEO a eI aEa aOA e a AA aOeNa CaEaOa aE eI a a a a eA as a cINa EONA a A a eae U aENA aOCaa aEI a cI eO aN aE aa aE aE OaaOac aN NA acEEa Ea aE eI a aOaa aN EaaEN aE eI a eNaaOIA Artinya: Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali Allah, dan jangan kamu berpisah-pisah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu, tatkala kamu bermusuhmusuhan, lalu la jinakkan antara hati-hati kamu, lantas dengan nikmat Allah, kamu jadi bersaudaraan, padahal, dahuluya, kamu di pinggir lobang dari neraka, tetapi la selamatkan kamu daripadanya. begitulah Allah terangkan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu dapat petunjuk (Mustafidah. Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini. AuSesungguhnya Allah TaAoala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jamaAoah . merupakan keselamata (Fatahillah, 2. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, memaknai persatuan tidak hanya diperuntukkan bagi umat agama tertentu saja. Bangsa Indonesia memiliki banyak umat beragama yang setiap agama memiliki perintah yang sama untuk menjaga persatuan dan tidak terpecah belah. Bila persatuan dan kesatuan dapat terus terjaga maka bangsa Indonesia akan menjadi kokoh, kuat tidak mudah dipecah belah tentunya akan semakin disegani oleh seluruh bangsa di dunia. Empat. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Dasar atau sila ini dimaknai bahwasanya rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi dengan memilih orang-orang yang terbaik serta memiliki kebijaksanaan dalam merumuskan peraturan perundang-undangan yang dapat membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Praktik memilih pemimpin seperti ini dilaksanakan oleh para peserta didik di Al-Zaytun dengan memilih siapa saja yang layak untuk menjadi pengurus organisasi pelajar santri Al-Zaytun dimana setiap calon pengurus yang awal mulanya berjumlah 100 orang harus mengkampanyekan dirinya, memperkenalkan visi misinya hingga kemudian terpilih 10 orang kandidat terbaik yang kemudian divotting kembali untuk memilih calon terbaik untuk menjadi presiden santri beserta wakilnya. Kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemimpin yang dihasilkan melalui proses permusyawaratan dan perwakilan diharapkan mampu menghadirkan rasa keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia karena seorang pemimpin bangsa bukan hanya milik suatu kelompok tertentu akan tetapi ia merupakan milik dari seluruh masyarakat Indonesia tanpa memandang suku atau agama ia berasal. Menjadi teladan bagi peserta didik Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Seorang pendidik di pesantren bertanggung jawab bukan hanya pengajar, tetapi juga menjadi tauladan serta menginspirasi bagi para peserta didiknya. Mereka dituntut untuk menjadi contoh nyata dalam menghargai setiap perbedaan yang ada disekitarnya, menunjukkan bahwa setiap individu, dengan segala latar belakang dan pandangan hidupnya, adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan mencontohkan sikap yang terbuka dan menghargai perbedaan, para pendidik pesantren mengajarkan nilai-nilai penting bukan hanya di dalam kelas tetapi juga di luar Sebagai contoh seorang pendidik yang mengajarkan moderasi beragama yakni Syaykh Al-Zaytun, senantiasa mengucapkan selamat atas perayaan hari-hari besar agama tertentu baik itu dalam bentuk kartu ucapan selamat, di atas mimbar dihadapan para peserta didiknya termasuk juga menghadiri undangan dari para tokoh lintas agama yang sedang merayakan hari besarnya. Syaykh Al-Zaytun dalam tausiyahnya pada dzikir jum`at pernah mendoakan tokoh umat Katolik di dunia yakni Paus Fransiskus sedang sakit agar diberikan kesembuhan oleh Allah sehingga dapat memimpin umat Katolik dan umat manusia yang ada di muka bumi ini agar selalu mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian demi ketertiban umat manusia hidup di muka bumi ini (Chairunnisa et al. , 2. Peran Pimpinan Dalam Implementasi Moderasi Beragama di Al-Zaytun Lembaga pendidikan semacam pesantren merupakan sarana yang tepat dalam rangka mendukung program pemerintah mengenai menanamkan nilai-nilai moderasi beragama karena pesantren merupakan miniatur dari masyarakat plural yang datang dari berbagai daerah serta adat istiadat yang berbeda meski secara umum mereka mayoritas beragama Islam bukan berarti tidak ada sama sekali perbedaan dalam cara pandang terhadap pribadi atau kelompokkelompok tertentu yang ada di sekitarnya. Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian disatukan oleh Syaykh Al-Zaytun bersama para pendidiknya bahwa ajaran ilahi adalah milik semua umat manusia dan setiap individu dapat menjadi rahmat bagi alam semesta (Rahmatan Lil A`lami. Dengan harapan agar kelak para peserta didiknya dapat hidup secara harmonis dalam lingkungan masyarakat bangsa dan negaranya bahkan dengan masyarakat antar negara. Hal tersebut bukan hanya diajarkan sebatas di dalam kelas namun juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik itu di dalam lingkungan pesantren maupun di luar pesantren. Implementasi moderasi beragama di Al-Zaytun bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana berikut: Menghadiri undangan kegiatan keagamaan dari penganut agama lain serta menyelenggarakan perayaan hari besar Islam dengan mengundang tokoh lintas agama dan Salah satu event perayaan hari besar yang rutin diselenggarakan oleh pesantren Al-Zaytun adalah perayaan 1 Muharam atau 1 Syuro. Pada perayaan 1 Muharom. Al-Zaytun senantiasa mengundang para tokoh lintas agama. Mereka diberikan ruang atau kesempatan untuk menyampaikan gagasannya kepada setiap tamu undangan. Kehadiran para tokoh lintas agama tersebut merupakan bukti nyata dukungan dari berbagai kelompok masyarakat atas praktek moderasi beragama yang dilakukan Al-Zaytun. Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 Dalam berbagai tausiyahnya di atas mimbar dihadapan para peserta didik. Syaykh AlZaytun senantiasa menceritakan sejarah para nabi beserta umatnya. Hal tersebut dimaknai bahwasanya ajaran-ajaran yang diajarkan oleh para nabi terdahulu kepada umatnya adalah ajaran tauhid atau mengesakan Tuhan. Adapun dalam tata cara menyembah kepada tuhannya, masing-masing memiliki cara sendiri. Namun poin utama setelah mengajarkan tauhid adalah bagaimana setiap individu senantiasa berbuat kebaikan kepada individu lainnya serta menjauhi semua larangan Tuhan. Oleh karena itu para peserta didik di AlZaytun senantiasa diajarkan saling menghormati perbedaan agama dan tidak mencela ajaran agama lainnya (Al-Zaytun Official, 2. Membuka pintu yang seluas-luasnya kepada mereka-mereka yang nonmuslim untuk datang berkunjung bahkan menyediakan tempat kepada mereka yang ingin merayakan atau menjalankan ibadahnya di dalam lingkungan kampus. Mungkin bagi sebagian besar orang muslim terasa aneh atau tidak lazim bila ada sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada warga yang nonmuslim untuk berkunjung bahkan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya di dalam lingkungan kampus. Namun bagi Al-Zaytun hal tersebut biasa saja, karena Nabi Muhammad pun dalam kitab Ulumul Qur`an pada saat beliau selesai menunaikan shalat ashar pernah mempersilahkan atau mengizinkan sekelompok pendeta yang sedang melakukan perjalanan meminta izin untuk singgah di dalam kompleks Masjid dan melakukan ibadah ritual agama mereka. Memfasilitasi umat agama lain untuk berkunjung bahkan menjalankan ibadahnya sudah beberapa kali dilakukan dan difasilitasi oleh pesantren Al-Zaytun. Mereka dapat menjalankan aktivitas keagamaannya dengan aman serta nyaman. Salah satu kegiatan keagamaan yang belum lama dilaksanakan adalah Milad Isa Al Masih pada tanggal 28 Januari 2025 di meeting room Wisma Tamu Al Ishlah Al-Zaytun yang diikuti lebih dari 150 orang jema`at Gereja. Bagi Al-Zaytun, memfasilitasi pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah merupakan bentuk penghormatan sebagai sesama warga negara agar terjalin rasa persaudaraan yang erat antar sesama umat beragama demi menjaga persatuan dan kesatuan. Mempersilahkan umat beragama lain yang sekedar singgah atau berkunjung untuk menjalankan ibadahnya dan keyakinan merupakan bentuk toleransi beragama dan hal tersebut tidak serta merta membuat mereka yang muslim dikatakan berbuat yang haram atau sesat, karena dalam Islam terdapat prinsip Lakum diinukum waliyadiin yang artinya untukmu agamamu dan untukku agamaku. Hal tersebut menunjukkan bahwa nabi Muhammad adalah sosok yang toleran. Bila kita meyakini apa yang menjadi keyakinan kita maka kita tidak perlu khawatir terbawa oleh keyakinan orang lain kecuali orang tersebut masih ragu atau belum terlalu mendalami atas apa yang ia yakini. Merekrut guru serta memiliki mitra membangun kampus yang merupakan dari kalangan Dalam mendidik dan membangun sebuah lembaga pendidikan Islam, kampus Al- Zaytun tidak serta merta hanya merekrut orang-orang yang memiliki satu keyakinan yakni Islam saja, tetapi ikut dilibatkan pula orang-orang nonmuslim yang memiliki kompetensi tertentu guna memajukan pendidikan. Sebagai contoh adalah adanya seorang guru beragama Kristen yang memiliki keahlian dibidang olahraga hockey. Berkat kemampuannya dalam melatih para peserta didiknya, banyak prestasi yang telah diraih tim Sobirin. Budi Santoso. Nurul Amanah Peran Pesantren Al-Zaytun Dalam Implementasi Moderasi Beragama Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 39-53 hockey Al-Zaytun. Bahkan team hockey Al-Zaytun merupakan salah satu team yang sangat disegani di tingkat nasional dan pernah mengikuti pertandingan antar negara di Thailand. Sedangkan dalam membangun. Al-Zaytun memiliki mitra yang berasal dari Memiliki mitra yang nonmuslim merupakan sesuatu yang tidak disengaja, karena pada saat Al Zaytun sedang giat membangun sarana pendidikan, muncullah sosok dari kalangan nonmuslim yang ingin bekerjasama dengan Al-Zaytun membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mendidik termasuk memberikan pelatihan atau kursus kepada segenap civitas kampus dalam berbagai hal. Kemitraan ini sudah berjalan selama beberapa tahun, dan menunjukkan ada hubungan yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya. Implementasi moderasi beragama sebagaimana telah disebutkan di atas terus menerus diingatkan serta dipraktekkan kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari baik itu di dalam kampus ataupun saat berada di masyarakat. Implementasi moderasi beragama yang dilakukan oleh Al-Zaytun bukannya tanpa tantangan. Banyak masyarakat terutama umat muslim yang menganggap apa dilakukan oleh Al-Zaytun merupakan suatu penyimpangan dan dapat mengakibatkan pendangkalan akidah. Namun bagi Al-Zaytun hal tersebut merupakan tantangan dalam memperjuangkan moderasi beragama dan siap dengan segala Kesimpulan Berdasarkan kajian-kajian dari berbagai literature atau pustaka yang ada maka penulis sudah bisa menyimpulkan bahwa apa yang telah dan sedang dilakukan oleh pesantren AlZaytun menunjukkan bahwa lembaga ini betul-betul mengimplementasikan dengan apa yang disebut moderasi beragama. Pimpinan pesantren Al-Zaytun mampu menyamakan cara pandangnya mengenai moderasi beragama yang kemudian diajarkan kepada para peserta didiknya kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Peran seorang pendidik sangatlah penting dalam mengimplementasikan moderasi beragama karena seorang pendidik bukan hanya sebatas memberikan keilmuan tapi juga menjadi contoh yang baik bagi seluruh peserta didiknya. Situasi yang aman dan damai sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia yang sedang giat membangun. Situasi yang aman dan damai itu bisa terwujud bila kita sesama anak bangsa yang berbeda prinsip atau keyakinan dapat bersatu menyingkirkan ego masing-masing demi menjaga persatuan bangsa tanpa harus mengklaim dirinya yang paling benar ataupun mencaci maki satu dengan yang lainnya. Referensi