Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menganyam Pada Kelompok B Di TK Pelita Hati Nabila Safitri1. Yenda Puspita2*. Amin Yusi Nur SaAoida3. Musnar Indra Daulay4. Moh. Fauziddin5 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini,FKIP, . Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai *Email: yenda. puspita@universitaspahlawan. 1,2,3,4,5 Received 07/08/2025 . Revised 30/08/2025 . Accepted 31/08/2025 . Published 31/08/2025 Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterampilan motorik halus anak yang belum berkembang dengan optimal. Sehingga perlu dilakukan peningkatan dengan kegiatan menganyam menggunakan berbagai media. Masalah dalam penelitian ini adalah mewarnai masih kaku seperti menggerakkan jari jemari tangan sehingga hasil pewarnaannya cenderung tidak rapi, kegiatan menggunting anak belum mampu menggunting sesuai dengan pola dalam pelaksanaan pembelajaran motorik halus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan motorik halus anak kelompok B TK Pelita Hati Pulau Payung melalui kegiatan menganyam. Jumlah anak yang menjadi subjek berjumlah 6 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan dan langkah selanjutnya dalam penelitian adalah menganalisis Hasil penelitian menunjukkan persentase keterampilan motorik halus anak dari kondisi awal sebesar 33%. Pada siklus I meningkat menjadi 51% dan pada siklus II meningkat menjadi 79,8%. Pada siklus I dan siklus II anak mulai mandiri dan mampu menyelesaikan kegiatan pembelajaran yang diberikan dengan baik. Kesesuaian antara teori yang diberikan dengan hasil penelitian menunjukkan peningkatan terhadap kemampuan motorik halus anak Kemampuan motorik halus anak akan meningkat apabila dilatih secara terus-menerus, dengan demikian membuktikan bahwa dengan kegiatan menganyam efektif untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B TK Pelita Hati Pulau Payung. Kata Kunci: Meningkatkan Keterampilan. Motorik Halus. Kegiatan Menganyam Abstract This research is motivated by the fact that children's fine motor skills have not developed optimally. So it needs to be improved by weaving activities using various media. The problem in this study is that coloring is still stiff, such as moving the fingers so that the coloring results tend to be untidy, children's cutting activities have not been able to cut according to the pattern in the implementation of fine motor learning. This study aims to determine the fine motor skills of children in group B of Pelita Hati Pulau Payung Kindergarten through weaving The number of children who became subjects was 6 boys and 9 girls. This study used the Classroom Action Research (CAR) method. Data collection techniques used were observation and documentation. The data analysis technique that will be used in this study is to use qualitative descriptive techniques. The data that has been obtained is then collected and the next step in the study is to analyze the data. The results showed that the percentage of children's fine motor skills from the initial condition was 33%, in cycle I increased to 51% and in cycle II increased to 79. In cycle I and cycle II, children began to be independent and were able to complete the learning activities given well. The suitability between the theory given and the research results showed an increase in children's fine motor skills. Children's fine motor skills will increase if they are trained continuously, thus proving that weaving activities are effective in improving the fine motor skills of children in group B of Pelita Hati Kindergarten. Pulau Payung. Keywords: Improve Skills. Fine Motor Skills. Weaving activities PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini adalah mendidik anak yang berusia dini yang berumur 0-6 tahun dengan tujuan agar mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya (Hikmat, 2. Menurut UU No. 20 Tahun 2003. Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya atau usaha This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 178 pembinaan yang diberikan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian stimulasi atau rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan pada jenjang berikutnya atau Sekolah Dasar (Fauziddin & Mufarizuddin. Masa usia taman kanak-kanak merupakan masa, dimana perkembangan fisik dan kemampuan anak berlangsung dengan sangat cepat (Gunawan & Najicha, 2. Salah satu perkembangan yang sedang berlangsung pada diri anak TK adalah perkembangan motoriknya (Salamah, 2. Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak, banyak ahli mengatakan bahwa perkembangan kemampuan motorik anak berhubungan dengan perkembangan kemampuan anak lainnya seperti perkembangan kognitif dan sosial emosional anak (Fauzi, 2. Oleh sebab itu, guru perlu mengembangkan kemampuan motorik anak tersebut agar anak dapat tumbuh dengan baik. Proses tumbuh kembang kemampuan motorik anak berhubungan dengan proses tumbuh kembang kemampuan gerak anak (Suryana, 2. Perkembangan kemampuan motorik anak akan dapat dilihat secara jelas melalui berbagai gerakan dan permainan yang dapat mereka Peningkatan keterampilan fisik anak juga berhubungan erat dengan kegiatan bermain yang merupakan aktivitas utama anak usia TK (Masrurah & Khulusinniyah, 2. Kesenangan anak dalam bereksplorasi dan bahkan seperti tak mengenal rasa takut. Maka semua yang diajarkan pada anak akan dianggap sebagai permainan yang menyenangkan baginya (Suyanto, 2. Perkembangan yang cepat yang dialami oleh fisik anak menjadi penanda bahwa anak merupakan individu aktif yang seharusnya kita sebagai pendidik ataupun orang tua harus tahu bagaimana mengarahkan keaktifan motorik anak tersebut (Wahyuni & Delfia, 2. Motorik halus sebagai sebuah gerakan yang membutuhkan kontrol otot-otot ukuran kecil untuk mencapai tujuan tertentu yang meliputi koordinasi antara mata dan tangan, dan gerakan yang membutuhkan gerakan tangan atau jari untuk pekerjaan dengan ketelitian tinggi (Kurniasih, 2. Perkembangan motorik halus melalui kegiatan bermain lebih cepat diserap oleh anak dan hasilnya lebih maksimal. Karena melalui bermain anak mendapat stimulus yang dapat memungkinkan terjadinya koneksi sel syaraf . yang mana bila koneksi tersebut semakin banyak dan komplek akan menentukan kecerdasan anak. Salah satu kegiatan yang dapat merangsang perkembangan motorik halus anak yaitu dengan kegiatan menganyam yang dapat melatih koordinasi antara mata dan tangan hingga keterampilan tangannya bisa berkembang secara baik (Hasna & Kartini, 2. Kegiatan menganyam merupakan suatu keterampilan yang dirangsang pada anak usia dini dengan cara kertas yang telah digunting maupun dibuat pola anyaman dibuat saling menyusupkan bagian anyaman secara bergantian sehingga menghasilkan suatu karya. Anak pun dilatih cermat dan terampil dalam hal sabar, ulet, dan tekun. Bukan hanya ia duduk tenang tetapi melalui bermain menganyam anak berkreasi. Pada bermain menganyam anak juga dilatih pada keselarasan warna kertas yang akan dianyam hingga mendapat harmoni warna yang bagus (Masrurah & Khulusinniyah, 2. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh peneliti di TK Pelita Hati Pulau Payung Desa Pulau Payung. Kecamatan Rumbio Jaya. Kabupaten Kampar pada tanggal 17 Februari 2025 di kelompok B yaitu dari 15 anak yang terdiri dari 6 anak laki-laki dan 9 anak Perempuan kemampuan motorik halus anak masih dikatakan belum berkembang dengan maksimal. Terlihat pada saat kegiatan menggambar terdapat beberapa anak yang cara mewarnainya masih kaku seperti menggerakkan jari jemari tangan sehingga hasil pewarnaannya cenderung tidak rapi, serta pada saat kegiatan menjiplak hasil jiplakan anak masih terlihat kurang rapi karena hasil jiplakan berbeda dengan jiplakan aslinya dan cenderung anak selalu mengulangThis Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 179 ulang dalam membuat jiplakan, selain itu ketika di berikan kegiatan menggunting anak belum mampu menggunting sesuai dengan pola. Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya minat anak terhadap pembelajaran keterampilan motorik halus yang guru berikan, selain itu karena penggunaan media pembelajaran yang kurang tepat dan kurang bervariasi, kurangnya sarana dan prasarana. Hal ini dikarenakan juga gurunya yang kurang kreatif dalam menggunakan bahan-bahan alam yang ada disekitar sekolah jadi dalam pengembangan motorik halus anak guru lebih sering memberikan kegiatan menulis di papan tulis. Tabel 1. Penilaian Survey Awal Perkembangan Motorik Halus Anak 10 anak 4 anak Kriteria BSH 1 anak 66,6 % 9 anak 5 anak 6,6 % 1 anak 0 anak Presentase mampu mengekspresikan diri melalui berkarya seni dengan berbagai media. 8 anak 6 anak 6,6 % 1 anak 0 anak Persentase Rata-rata 59,8 % 6,6 % 6,6 % Indikator Mampu menggunting sesuai dengan pola garis lurus Presentase Mengkoordinasikan mata dan tangan melakukan gerakan yang rumit. BSB 0 anak Dari hasil obsevasi tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan motorik halus anak pada kelompok B di TK Pelita Hati Pulau Payung Desa Pulau Payung. Kecamatan Rumbio Jaya. Kabupaten Kampar belum berkembang. Menunjukkan masih banyak yang belum terampil dalam melakukan aktivitas pembelajaran terutama yang berkaitan dengan keterampilan motorik halus. Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya minat anak terhadap pembelajaran keterampilan motorik halus yang guru berikan, selain itu karena penggunaan media pembelajaran yang kurang tepat dan kurang bervariasi, kurangnya sarana dan prasarana. Hal ini dikarenakan juga gurunya yang kurang kreatif dalam menggunakan bahan-bahan alam yang ada disekitar sekolah jadi dalam pengembangan motorik halus anak guru lebih sering memberikan kegiatan menulis di papan tulis. Untuk itu peneliti menerapkan suatu pembelajaran menganyam. Menganyam untuk anak usia dini tidak dilakukan dengan teknik yang rumit, tetapi masih dalam tahap teknik dasar menganyam sederhana. Menganyam diajarkan dengan sangat sederhana kepada anak-anak. Kemampuan menganyam dapat mengasah motorik halus anak karena menggunakan tangan dan jari dengan koordinasi mata, manfaat dari menganyam ini ialah untuk melatih motorik halus anak, melatih sikap emosi anak dengan baik, dapat terbina ekspresinya yang tumbuh dari pribadinya sendiri, bukan karena pengaruh dari orang lain, dapat mengungkapkan perasaannya yang selama ini masih mengendap, dapat membangkitkan minat anak dan anak menjadi terampil dan kreatif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kegiatan menganyam memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan motorik halus anak usia dini. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada metode atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan motorik halus anak (Fidiya & Angraeny, 2. dan efektif diterapkan pada anak usia dini, perbedaan penelitian ini adalah pada media yang digunakan berbeda (Khoiriyah et al. , 2. Berdasarkan masalah di atas, maka peneliti akan melakukan This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 180 penelitian yang berjudul meningkatkan keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan menganyam pada kelompok B di TK Pelita Hati Pulau Payung. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berdasarkan model siklus dari Arikunto dkk. Dimana model ini terdiri dari dua siklus dan dari setiap siklus terdiri dari perencanaan . , pelaksanaan tindakan. , pengamatan . , dan refleksi . yang menekankan pada upaya perbaikan praktik pembelajaran melalui proses berulang dan sistematis. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu TK swasta di Kecamatan Rumbio Jaya. Kabupaten Kampar. Provinsi Riau, selama semester genap tahun ajaran 2024/2025. Penelitian berlangsung selama dua bulan, meliputi dua siklus Subjek penelitian terdiri dari 15 anak kelompok B, yang telah disamarkan namanya demi menjaga kerahasiaan identitas. Subjek terbagi atas 6 anak laki-laki dan 9 anak perempuan dengan rentang usia 5Ae6 tahun. Kriteria pemilihan subjek didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan adanya hambatan dalam keterampilan motorik halus, seperti kesulitan menggunting pola, kurangnya koordinasi mata dan tangan, serta keterbatasan dalam mengekspresikan diri melalui karya seni. Data utama yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah capaian keterampilan motorik halus anak yang diperoleh melalui observasi langsung saat kegiatan pembelajaran menganyam berlangsung. Instrumen observasi dikembangkan dalam bentuk lembar penilaian berbasis rubrik dengan empat tingkatan capaian perkembangan yaitu Belum Berkembang (BB) Mulai Berkembang (MB) Berkembang Sesuai Harapan (BSH) Berkembang Sangat Baik (BSB) berdasarkan indikator yang merujuk pada Standar PAUD dalam Permendikbud No. 137 Tahun Keunikan dalam penelitian ini terletak pada modifikasi instrumen observasi aktivitas anak yang dikembangkan lebih kontekstual dengan memasukkan penilaian terhadap aspek ketekunan, kerapian susunan anyaman, serta keberanian anak dalam memilih warna kombinasi bahan anyaman. Selain itu, peneliti juga menggunakan dokumentasi foto hasil karya dan aktivitas anak untuk memperkuat temuan observasi secara kualitatif. Kegiatan observasi dilakukan oleh peneliti dengan bantuan satu guru kolaborator yang telah diberikan pelatihan teknis sebelum kegiatan dimulai. Teknik dalam memberikan instrumen dilakukan melalui pendekatan langsung dan natural di dalam kelas, di mana guru/peneliti berperan aktif sebagai fasilitator kegiatan. Instrumen diberikan dalam konteks pembelajaran sehari-hari agar anak tidak merasa dinilai secara Penilaian dilakukan dua kali dalam setiap siklus . ua pertemua. , dengan catatan harian yang mencerminkan perkembangan tiap anak secara individual. Dalam pelaksanaannya, alat bantu seperti lembar observasi guru juga disiapkan untuk mencatat konsistensi guru dalam memberikan motivasi, arahan, dan umpan balik kepada anak. Dengan demikian, kualitas pembelajaran tidak hanya diukur dari hasil anak, tetapi juga dari proses yang berlangsung di kelas. Teknik analisis data adalah data yang diperoleh dari hasil observati aktivitas guru dan kemampuan motorik halus anak. Setelah seluruhnya data terkumpul, maka tahap berikutnya pengelolaan data untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif Data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan dan langkah selanjutnya dalam penelitian adalah menganalisis data. Analisis dengan menggunakan statistik deskriptif sederhana dengan rumus (Arikunto, 2. sebagai berikut: This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 181 ycE= ycA y 100% Keterangan: : angka persentase : Frekuensi yang sedang dicari : Jumlah individu 100 : bilangan genap Dalam menentukan kriteria penilaian tentang hasil observasi aktivitas anak, maka dilakukan pengelompokan atas 4 kriteria penilaian pada tabel 1 berikut: Tabel 1. Kriteria Penilaian Rentang Skor Kategori 40% kebawah 41%-51% 56%- 75% BSH 76%-!00% BSB Sumber: Arikunto . Keterangan: Belum Berkembang (BB) Mulai Berkembang (MB) Berkembang Sesuai Harapan (BSH) Berkembang Sangat Baik (BSB) HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan motorik halus dengan kegiatan menganyam pada kelompok B di TK Terpadu Pelita Hati pulau payung, dapat dilihat dari perkembangan anak pada prasiklus sebelum diberikan tindakan, kemampuan motorik halus anak sangat rendah tingkat perkembangannya. Hal tersebut terlihat pada hasil sebelum diberi tindakan tidak ada anak yang motorik halusnya Berkembang Sangat Baik (BSB). Hanya ada 6,6% yang Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 33% Mulai Berkembang (MB) dan 59,8% Belum Berkembang (BB). Hal ini dapat dilihat pada saat proses pembelajaran yang sedang berlangsung pada prasiklus. Masih banyak anak yang hanya diam saja saat guru bertanya, anak masih sibuk dengan permainan yang lain dan mengobrol dengan teman di sampingnya, hanya satu dua anak yang aktif dan bisa melaksanakan perintah dari guru dengan baik. Maka dari itu, peneliti memberikan penerapan menganyam untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B TK Pelita Hati pulau payung. Selanjutnya, pada siklus I pertemuan pertama anak-anak masih terlihat kebingungan dan tidak fokus dengan kegiatan yang dilakukan, disebabkan kegiatan ini masih baru bagi anak dan belum terbiasa. Banyak anak yang masih asik main sendiri, ada anak yang diam melihat gambar kegiatan, ada anak yang mengganggu teman dan ada juga yang asik mengobrol dengan teman disampingnya. Namun saat pertemuan terakhir siklus I anak-anak sudah terbiasa dengan media anyaman, anak sudah mulai fokus dan mendengarkan arahan guru dengan baik. Pada siklus I meskipun belum ada anak yang Berkembang Sangat Baik (BSB) akan tetapi kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan menjadi 51% Berkembang Sesuai Harapan (BSH), 30% Mulai Berkembang (MB) dan ada 17,6% yang Belum Berkembang (BB). Hal ini konsisten dengan penelitian oleh Fidiya & Angraeny . yang menemukan bahwa intervensi dengan menggunakan media yang menarik dan interaktif secara bertahap dapat meningkatkan koordinasi motorik halus pada anak usia dini. Pada siklus II anak diberikan kebebasan lebih dalam kegiatan belajar melalui kegiatan This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 182 menganyam. Guru tidak lagi banyak memberi arahan kepada anak, namun tetap memberi motivasi agar anak semakin bersemangat saat proses pembelajaran. Anak-anak sudah mampu mengkoordinasi mata dan tangan. mampu mengontrol gerakan tanga menggunakan otot-otot halus, anak mampu menyilangkan dan menyusupkan bagian-bagian anyaman secara bergantian. Pada siklus ke II ini kemampuan motorik halus anak meningkat sebesar 79,8% Berkembang Sangat Baik (BSB) 10,8% Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 6,63% Mulai Berkembang (MB) dan 2,2% Belum Berkembang (BB). Pada pertemuan setiap siklus, anak-anak mempunyai semangat yang tinggi dan sangat antusias dalam belajar kegiatan menganyam sehingga peningkatan terjadi pada setiap Walapun pada awal pertemuan anak masih binggung dengan pembelajaran yang dilakukan, namun pada pertemuan berikutnya anak-anak mampu mengikutinya dengan Sehingga pada siklus ke II tindakan dihentikan karena sudah mencapai kriteria penilaian yang sudah ditetapkan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian ini dihentikan pada siklus ini. Guna memperjelas pembahasan, berikut disajikan pada tabel 2 Tabel 2. Perbandingan Hasil Pra Siklus, siklus I dan siklus II No Kemampuan Motorik Halus Prasiklus Siklus I Siklus II Anak mampu menggunting sesuai dengan 26% pola garis lurus Mampu mengkoordinasikan mata dan 33% tangan melakukan gerakan yang rumit Mampu mengekspresikan diri melalui 40% 86,6% berkarya seni dengan berbagai media. Rata-rata 79,8% Dari data diatas dapat disimpulkan terlihat pada prasiklus nilai kemampuan motorik halus anak sangatlah rendah dengan rata-rata hanya 33%. Setelah dilakukanya siklus II berubah menjadi 51% dan meningkat lagi setelah dilakukan siklus II menjadi 79,9%. Berikut grafik rekapitulasi kriteria berkembang sangat baik dari kondisi awal hingga siklus II: Prasiklus Siklus I BSH Siklus II BSB Gambar 1. Grafik Rekapitulasi kriteria Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 1 dapat dilihat bahwa kemampuan motorik halus anak pada kriteria BB (Belum Berkemban. mengalami pengurangan dari prasiklus 59, 8% menjadi 17,6% This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 183 pada siklus I dan pada siklus II berkurang menjadi 2,2%. Sedangkan pada kriteria MB (Mulai Berkemban. pada prasiklus ada 33% menjadi 30% pada siklus I dan pada siklus ke II berkurang menjadi 6,63%. Kriteria BSH (Berkembang Sesuai Harapa. dari 6,6% meningkat menjadi 51% pada siklus I dan pada siklus II mengalami penurunan menjadi 10,8%. Kriteria BSB (Berkembang Sangat Bai. pada pratindakan dan dilakukannya siklus I belum ada anak yang berkembang sangat baik akan tetapi pada siklus II meningkat menjadi 79,8%. Kemampuan motorik halus anak dapat dikatakan telah mencapai kriteria berhasil yang dikarenakan perkembangan anak sudah mencapai Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) sehingga penelitian ini dikatakan berhasil. Kegiatan menganyam ini dapat meningkatkan kemampuan motorik halus. Keterampilan ini bermotif timbul karena tekniknya berselang satu dan satu lainya membuat pita sehingga menyatu dengan kuat. Salah satu kunci untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak adalah dengan melatihnya untuk melakukan sesuatu secara rutin dan terus menerus (Rahmawati & Suryana, 2. Menganyam adalah salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan perkembangan anak, salah satunya adalah meningkatkan kretivitas anak. Dengan menganyam anak dapat menciptakan berbagai bentuk hasil karya yang indah, menganyam dengan kertas origami mempunyai banyak warna, termasuk warna dasar yaitu merah, kuning, hijau yang tentu saja membuat anak lebih tertarik dalam mengerjakannya. Tidak hanya itu warna-warna origami tersebut juga akan merangsang indera penglihatan mereka (Sari & Nofriyanti, 2. Setelah melakukan kegiatan pembelajaran Menganyam, kemampuan motorik halus anak kelompok B PAUD Terpadu Pelita Hati pulau payung mengalami peningkatan yang signifikan. Anak-anak yang sebelumnya kemampuan motorik halus rendah sekarang meningkat. Anak mulai mandiri dan mampu menyelesaikan kegiatan pembelajaran yang diberikan dengan baik. Kesesuaian antara teori yang diberikan dengan hasil penelitian menunjukkan peningkatan terhadap kemampuan motorik halus anak Kemampuan motorik halus anak akan meningkat apabila dilatih secara terus-menerus, dengan demikian membuktikan bahwa dengan kegiatan menganyam efektif untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B TK Pelita Hati Pulau Payung. Hasil ini mendukung pendapat Rahmawati & Suryana . bahwa salah satu kunci pengembangan motorik halus adalah dengan melatih anak melakukan aktivitas berulang yang melibatkan koordinasi tangan dan pengamatan visual secara simultan, seperti kegiatan Selain meningkatkan kontrol gerak halus, kegiatan menganyam juga melatih kesabaran dan ketekunan anak. Sari & Nofriyanti . juga menambahkan bahwa menganyam dengan menggunakan kertas origami berwarna menarik dapat meningkatkan minat anak serta merangsang sensor visual, yang berkontribusi terhadap kreativitas. Setelah dilakukan tindakan melalui pembelajaran menganyam, anak-anak tidak hanya menunjukkan peningkatan hasil kerja yang rapi dan terstruktur, tetapi juga mulai mandiri, percaya diri, dan antusias menyelesaikan tugas tanpa banyak bantuan guru. Penelitian ini sejalan dengan temuan Widiatmika . yang menunjukkan peningkatan signifikan keterampilan motorik halus anak setelah penerapan kegiatan menganyam di TK PKK 1 Yosomulyo. Demikian pula. Wulansari & Khotimah . membuktikan bahwa kegiatan menganyam pita secara bertahap mampu meningkatkan motorik halus anak kelompok A. Kedua penelitian tersebut mengonfirmasi bahwa aktivitas yang menuntut koordinasi halus dan pengulangan pola, seperti menganyam, sangat efektif dalam meningkatkan aspek keterampilan motorik anak usia dini. Maka, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kegiatan menganyam yang dilakukan secara terstruktur, kreatif, dan menyenangkan terbukti mampu meningkatkan keterampilan motorik halus anak secara This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 184 KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menganyam secara signifikan meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 56 tahun di TK Pelita Hati Pulau Payung. Kecamatan Rumbio Jaya. Kabupaten Kampar. Peningkatan motorik halus anak melalui kegiatan menganyam disebabkan karena anak sudah bisa menggunting sesuai pola garis lurus, anak sudah bisa mengkoordinasikan mata dan tangan, dan anak sudah bisa melakukan kegiatan menganyam sesuai dengan pola. Ketika melakukan kegiatan menganyam anak sudah mampu mengkoordinasikan mata dan tangan sehingga mampu melatih konsentrasi anak dan sudah menunjukkan gerakan motorik pada siklus I dengan nilai presentase 51%, pada siklus ke II mengalami peningkatan mencapai nilai presentase 79,8% peningkatan motorik halus anak. Setelah dilakukan tindakan anak-anak TK Pelita Hati Pulau Payung sudah lebih mudah untuk diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan menganyam, melakukan apa yang di perintahkan oleh guru, mampu mengkombinasikan warna, kepercayaan diri anak meningkat. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa kegiatan menganyam dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun di TK Pelita Hati Pulau Payung Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar. DAFTAR PUSTAKA