Vol. No. Oktober 2025. DOI: https://doi. org/10. 60011/jumpa. MEMBANGUN KOMUNITAS ORANG MUDA KATOLIK PAROKI MARIA DIANGKAT KE SURGA: MENJAWAB TANTANGAN GEN Z DAN ARUS MODERNISASI Theresia Dina PratiwiAA. Lorentius Goa Sekolah Tinggi Pastoral Institut Pastoral Indonesia Malang. Indonesia dinatheresia8@gmail. lorensgoa@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik unik Generasi Z (Gen Z) dan merumuskan strategi pastoral kategorial yang relevan dan inklusif bagi Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Maria Di Angkat Ke Surga dalam menghadapi tantangan individualisme dan arus modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dan refleksi pastoral, yang didasarkan pada observasi partisipatif dan data sekunder dari dokumen Gereja. Temuan utama menunjukkan bahwa strategi pastoral yang efektif memerlukan harmonisasi antara kegiatan tatap muka . eperti koor dan temu kange. dan pendampingan digital terstruktur. OMK rentan terhadap kedangkalan relasi personal dan penurunan partisipasi liturgi, sehingga komunitas yang autentik, berorientasi pada pemberdayaan, dan partisipatif . elaras dengan prinsip Christus Vivi. menjadi krusial. Model yang direkomendasikan menekankan pada pembentukan kelompok kecil untuk sharing mendalam dan mendelegasikan tanggung jawab kepada OMK sebagai subjek aktif, didukung oleh pendampingan personal dan adaptasi media digital sebagai pelengkap. Kata Kunci: Pastoral Kategorial. Orang Muda Katolik (OMK). Generasi Z. Inklusif. Modernisasi. Abstract: The purpose of this study is to understand the unique characteristics of Generation Z (Gen Z) and to formulate a relevant and inclusive categorical pastoral strategy for Catholic Youth (OMK) in Maria Di Angkat Ke Surga Parish, specifically addressing the challenges of individualism and massive modernization. This research employed a descriptive qualitative approach using literature review and pastoral reflection methods, grounded in participant observation and secondary data from Church documents. The key finding indicates that effective pastoral strategy requires harmonizing face-to-face activities . uch as choir and social gathering. with structured digital OMK is susceptible to shallow personal relationships and decreased liturgical participation. an authentic, empowerment-oriented, and participatory community . n line with the principles of Christus Vivi. is The recommended model emphasizes the formation of small groups for deep sharing and delegating real responsibilities to OMK as active subjects, supported by personal mentoring and the adaptation of digital media as a supplement. Keywords: Categorical Pastoral. Catholic Youth (OMK). Generation Z. Inclusive. Modernization. PENDAHULUAN Orang Muda Katolik (OMK) dipandang sebagai masa depan Gereja, tetapi peran mereka sesungguhnya jauh lebih dalam daripada hanya sekedar penerus. Mereka adalah pilar penting yang menopang keberlangsungan dan vitalitas Gereja masa kini. Kehadiran OMK membawa dinamisme, kreativitas dan energi baru yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman. Tanpa partisipasi aktif Orang Muda Katolik. Gereja beresiko menjadi stagnan dan kehilangan relevansinya bagi generasi yang lebih muda (Pranyoto, 2. Keterlibatan OMK dalam berbagai kegiatan pastoral, seperti pelayanan liturgi, karya sosial, dan pewartaan secara signifikan berkorelasi dengan pertumbuhan rohani dan keberlanjutan paroki. Page | 24 Mereka adalah agen perubahan yang membawa perspekif segar dan inovatif, memastikan bahwa Gereja tetap menjadi tempat yang relevan dan menarik bagi semua kalangan (Amal et al. , 2. Orang Muda Katolik lebih dari partisipan, mereka juga merupakan subjek evangelisasi yang paling efekif di lingkungan mereka sendiri. Dengan pemahaman mendalam tentang budaya popular, teknologi digital, dan isu-isu sosial kontemporer. OMK dapat menjembatani kesenjangan antara ajaran Gereja yang abadi dengan realitas kehidupan modern (Teresia Ipo & Teresia Noiman Derung, 2. Merekalah yang mampu mengkomunikasikan nilai-nilai iman dengan cara yang mudah dipahami dan relevan bagi temanteman sebaya mereka. Oleh karena itu, investasi dalam pemberdayaan dan pembinaan OMK bukan hanya sekedar tugas pastoral, melainkan strategi kunci untuk memastikan bahwa Gereja tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan terus menjangkau lebih banyak jiwa (Aguseda Meraiyoel Jaya et al. , 2. Generasi Z lahir antara pertengahan 1990an hingga awal 2010an, merupakan kelompok yang memiliki karakteristik unik dan kompleks. Karakteristik yang membedakan mereka dengan generasi-generasi sebelumnya adalah generasi Z, generasi yang mandiri dan kreatif dalam menciptakan apa saja sesuai minat Generasi Z lahir saat internet telah tersedia, sehingga mereka kerap kali disebut generassi internet atau Auinternet dalam sakuAy (Tetelepta & Gultom, 2. Selain itu generasi Z dikenal memiliki pemikiran yang kritis dan kreatif. Mereka cenderung mempertanyakan otoritas, mencari kebenaran otentik, dan tidak ragu untuk mengekspresikan pendapat mereka di platform digital. Hal ini menjadikan mereka agen perubahan sosial yang potensial dan yang peduli terhadap isu-isu keadilan, lingkungan, dan kesetaraan. Namun, di balik kecakapan digital dan kreativitasnya, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah kecenderungan individualis yang tinggi, yang bisa muncul dari interaksi yang lebih baik di dunia maya dari pada di dunia nyata (Arista et al. , 2. Sifat individualis ini menjadi tantangan besar, terutama dalam konteks komunitas seperti OMK. Meskipun generasi Z sangat terhubung secara global melalui media sosial, mereka terkadang kesulitan membangun ikatan interpersonal yang mendalam dan bermakna (Wilhemus, 2. Mereka mungkin lebih merasa nyaman jika berkomunikasi melalui chat daripada bertemu langsung, yang bisa menghambat pembentukan rasa kebersamaan yang kuat. Oleh karena itu membangun komunitas yang relevan memerlukan strategi yang adaptif. Komunitas perlu menggabungkan pendekatan digital yang mereka sukai dengan kegiatan-kegiatan tatap muka yang dirancang untuk menumbuhkan empati dan koneksi personal. Arus modernisasi telah membawa perubahan besar yang menciptakan peluang dan tantangan bagi kehidupan iman, terutama di kalangan Orang Muda Katolik. Di satu sisi, modernisasi memberikan peluang yang luar biasa melalui akses informasi yang tak terbatas dan media digital (Natalia & Tarihoran, 2. Berkat teknologi. Orang Muda Katolik dapat dengan mudah mengakses sumber-sumber teologi, artikel, dan konten rohani yang memperkaya pemahaman iman mereka. Ruang-ruang digital juga menjadi wadah baru untuk kreativitas dalam pewartaan, seperti melalui pembuatan podcast rohani, video inspiratif di YouTube, atau konten informatif di media sosial yang menjangkau audiens yang lebih luas (& Fredrikus Djelahu Maigahoaku, 2. Namun di sisi lain, modernisasi juga membawa tantangan serius, salah satunya adalah sekularisasi yang kuat. Kehidupan yang semakin berorientasi pada hal-hal yang duniawi sering kali mengkesampingkan peran iman. Sama halnya dengan paroki lainnya, paroki Maria Di Angkat Ke Surga juga dihadapkan pada sebuah keharusan pastoral yang memampukan mereka untuk membangun merangkul semua latar belakang dan Realitas orang muda saat ini sangat beragam, mulai dari mereka yang aktif berorganisasi, yang sibuk dengan studi dan karier, hingga mereka yang memiliki latar belakang keluarga yang tidak lagi utuh. Dalam konteks ini, inklusivitas menjadi kata kunci yang tidak bisa ditawar. Komunitas orang muda Katolik tidak boleh lagi menjadi eksklusif bagi segelintir kelompok, melainkan harus menjadi ruang aman dimana setiap orang muda merasa diterima apa adanya (Chiaralazzo & Krismiyanto, 2. Page | 25 Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memahami karakteristik unik Gen Z, yang merupakan langkah fundamental dalam upaya membangun komunitas Orang Muda Katolik yang inklusif dan relevan di Paroki Maria di Angkat Ke Surga. Selanjutnya membangun komunits dengan pendekatan yang otentik. Kerentanan Gen Z terhadap individualism menuntut paroki untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya online tetapi juga offline yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang otentik. Mereka cenderung lebih tertarik pada komunitas yang menawarkan otentisitas, dimana mereka merasa diterima apa adanya tanpa prasangka. KAJIAN PUSTAKA Konsep Patoral Kategorial OMK Konsep pastoral kategorial merupakan pendekatan strategis dan krusial dalam pelayanan Gereja modern, khususnya bagi Orang Muda Katolik. Berbeda dengan pastoral teritorial yang berfokus pada wilayah geografis. Pastoral kategorial adalah bentuk pelayanan yang secara khusus ditujukan kepada kelompok tertentu dalam Gereja, dalam hal ini Orang Muda Katolik dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia, konteks, sosial dan budaya mereka. Pendekatan ini mengakui bahwa Orang Muda Katolik memiliki kebutuhan dan tantangan spiritual yang unik, yang tidak dapat dijawab secara efektif oleh program-program yang dirancang untuk kelompok usia lain. Oleh karena itu, pastoral kategorial berupaya menciptakan ruang yang relevan, dinamis, dan menarik bagi Orang Muda Katolik agar mereka merasa menjadi bagian integral dari Gereja (Keuskupan et al. , 2. Dalam anjuran apostolik Christus Vivit (Fransiskus, 2. Paus Fransiskus menegaskan bahwa Orang Muda Katolik bukan hanya masa depan Gereja, tetapi Ausekarang GerejaAy. Penekanan ini menandai pergeseran penting dari pandangan-pandangan tradisional yang sering kali menempatkan Orang Muda Katolik sebagai penerus pasif, menjadi agen aktif yang memiliki peran krusial dalam kehidupan Gereja saat Dokumen ini secara eksplisit mendorong partisipasi penuh dan kreatif Orang Muda Katolik dalam berbagai aspek pelayanan dan misi Gereja. Paus Fransiskus mengajak Gereja untuk mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang bagi suara-suara muda. Hal ini sejalan dengan tema sinodal para uskup 2018 tentang kaum muda, iman, panggilan, yang berusaha memahami tantangan dan aspirasi generasi Oleh karena itu. Paus Fransiskus mendorong Orang Muda Katolik untuk mengambil inisiatif dalam evangelisasi digital, pelayanan sosial, dan karya-karya kreatif lainnya yang mencerminkan iman mereka (Moa, 2. Karakteristik Gen Z Memahami karakteristik Gen Z merupakan langkah fundamental dalam merumuskan strategi pendidikan yang relevan dan efektif, khususnya dalam konteks sekolah sebagai wadah pembentukan relasi Generasi ini tumbuh di era digital, yang secara signifikan membentuk nilai-nilai inti mereka, seperti otentisitas dan transparansi. Mereka memiliki kecenderungan untuk sangat menghargai kejujuran dan ketulusan, baik dalam interaksi personal maupun institusional. Sikap ini membuat mereka skeptis terhadap segala bentuk formalitas yang mereka anggap tidak relevan atau artifisial, termasuk dalam praktik-praktik sosial dan keagamaan. Alih-alih menerima tradisi secara buta, mereka menuntut pemahaman yang jelas tentang relevansi tradisi tersebut dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, pendekatan dalam membangun relasi sosial tidak bisa lagi didasarkan pada formalitas semata, melainkan harus menawarkan makna dan koneksi yang otentik. Karakteristik Gen Z yang menonjol adalah penghargaan yang tinggi terhadap keberagaman. Mereka mengakui dan merayakan perbedaan, baik dari segi budaya, etnis, maupun pandangan pribadi. Lingkungan sosial yang inklusif dan non-diskriminatif menjadi prasyarat bagi mereka untuk merasa nyaman dan terlibat. Namun, penghargaan terhadap keberagaman ini seringkali dibarengi dengan skeptisisme terhadap tradisi yang dianggap kaku atau tidak relevan. Mereka tidak serta-merta menolak tradisi, tetapi mereka Page | 26 membutuhkan alasan yang kuat dan relevan untuk mengikutinya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan dalam pendidikan dan pembinaan sosial harus mampu menjelaskan makna di balik setiap praktik, bukan hanya melaksanakannya secara mekanis. Peran guru menjadi krusial dalam menjembatani kesenjangan antara tradisi dan nilai-nilai modern yang dianut oleh Gen Z, dengan memfasilitasi diskusi yang terbuka dan kritis. Bagi Gen Z, pencarian makna personal dan pengalaman yang real menjadi inti dari pembentukan identitas mereka. Mereka tidak lagi memandang pengalaman iman atau relasi sosial sebagai sekadar pelaksanaan ritual atau aturan formal, melainkan sebagai pencarian makna personal yang nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka mencari koneksi yang otentik dan bermakna, baik dengan sesama maupun dengan keyakinan pribadi mereka. Iman yang otentik, misalnya, diharapkan mampu menjadi kekuatan batin yang menumbuhkan kesehatan mental dan membangun relasi yang sehat. Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah perlu menyediakan ruang yang aman dan suportif, di mana siswa dapat mengeksplorasi identitas dan makna hidup mereka tanpa tekanan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menavigasi kompleksitas ini dan menemukan cara-cara untuk membangun relasi yang sehat dan berkelanjutan. Berdasarkan karakteristik tersebut, peran guru dalam membangun relasi sosial di sekolah harus Guru tidak bisa lagi hanya menjadi figur otoritas, melainkan harus menjadi mentor dan fasilitator yang mampu berkomunikasi secara transparan dan otentik. Pendekatan yang efektif melibatkan penggunaan metode pengajaran yang interaktif dan kolaboratif, yang memungkinkan siswa untuk belajar dari pengalaman nyata dan dari satu sama lain. Guru juga harus mampu menciptakan lingkungan kelas yang menghargai setiap suara dan pandangan, mendorong empati, dan merayakan keberagaman. Dengan demikian, guru akan menjadi katalisator yang memfasilitasi terbentuknya relasi sosial yang sehat, inklusif, dan bermakna. Pada akhirnya, keberhasilan sekolah dalam mempersiapkan Gen Z untuk menghadapi tantangan masa depan akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan nilai-nilai dan kebutuhan intrinsik generasi ini. Komunitas inklusi dalam Gereja Gereja, sebagai sebuah institusi sosial dan spiritual, tidak hanya memiliki peran dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam membangun kohesi sosial. Secara konseptual. Gereja dapat dipandang sebagai komunitas inklusi yang mencerminkan prinsip-prinsip universal tentang kasih, penerimaan, dan Konsep inklusi di sini melampaui sekadar toleransi pasif, melainkan sebuah penerimaan aktif terhadap perbedaan individu, tanpa memandang latar belakang etnis, sosial, ekonomi, atau bahkan kondisi Dalam konteks teologis, inklusi berakar pada ajaran bahwa setiap individu diciptakan menurut gambar Allah (Imago De. , yang menempatkan nilai intrinsik dan martabat yang sama pada semua orang. Dengan demikian. Gereja dituntut untuk menjadi ruang di mana setiap orang merasa dihargai dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari komunitas. Realisasi konsep inklusi dalam praktik Gereja menuntut adanya komitmen nyata dari seluruh jemaat dan pimpinan. Hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai inisiatif programatis dan sikap pastoral. Misalnya. Gereja dapat menyelenggarakan program-program yang secara khusus dirancang untuk mengakomodasi individu dengan kebutuhan khusus, seperti ibadah yang ramah disabilitas, kelompok dukungan untuk jemaat dari latar belakang ekonomi yang kurang beruntung, atau pelayanan yang melibatkan jemaat dari berbagai kelompok usia dan etnis. Lebih dari itu, inklusi juga harus tercermin dalam narasi dan liturgi. Penggunaan bahasa yang netral, penghormatan terhadap tradisi budaya yang beragam, dan penyertaan suara-suara minoritas dalam pengambilan keputusan adalah langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa Gereja benar-benar menjadi komunitas inklusif. Page | 27 Pimpinan Gereja, termasuk Imam, diakon, dan Dewan Paroki, memegang peran sentral sebagai katalisator dalam membangun komunitas inklusi. Peran ini tidak hanya terbatas pada otoritas spiritual, melainkan juga mencakup kepemimpinan sosial dan edukasional. Pimpinan harus menjadi teladan dalam menunjukkan sikap terbuka dan menerima terhadap setiap individu. Selain itu, mereka bertanggung jawab untuk mengedukasi jemaat tentang pentingnya inklusi, melawan prasangka, dan mendorong dialog interkultural dan intergenerasi. Dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi percakapan terbuka dan saling belajar, pimpinan dapat membantu jemaat untuk melampaui sekat-sekat perbedaan dan melihat sesama sebagai saudara seiman. Meskipun prinsip inklusi memiliki landasan teologis yang kuat, implementasinya di Gereja tidak luput dari tantangan. Tantangan tersebut meliputi resistensi terhadap perubahan biasa yang sudah mengakar, dan kurangnya pemahaman tentang isu-isu keragaman. Oleh karena itu, membangun komunitas inklusi adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan menuntut refleksi diri yang konstan. Namun, relevansi Gereja sebagai komunitas inklusi sangatlah penting, terutama di tengah masyarakat yang cenderung fragmentatif dan penuh polarisasi. Gereja yang inklusif dapat menjadi model bagi masyarakat luas tentang bagaimana perbedaan dapat dirayakan dan bagaimana komunitas dapat dibangun di atas fondasi kasih dan saling Dengan demikian. Gereja dapat berkontribusi tidak hanya pada kesejahteraan spiritual jemaatnya, tetapi juga pada perdamaian dan keadilan sosial yang lebih luas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dan refleksi Pendekatan ini dipilih karena berfokus pada pemahaman mendalam terhadap realitas pastoral Orang Muda Katolik di Paroki Maria Diangkat ke Surga, bukan pada pengukuran statistik. Melalui studi literatur, penulis menelaah berbagai sumber seperti dokumen Gereja (Fransiskus, 2. , teori-teori tentang pastoral kategorial, karakteristik Generasi Z, serta penelitian-penelitian terkini yang relevan sebagai dasar teoretis penelitian. Selain itu, refleksi pastoral dilakukan berdasarkan pengalaman langsung penulis selama melaksanakan weekend pastoral dan observasi partisipatif di Paroki Maria Diangkat ke Surga. Keuskupan Malang. Dalam kegiatan tersebut, penulis mengamati secara langsung dinamika keterlibatan, partisipasi, serta tantangan yang dihadapi Orang Muda Katolik dalam kegiatan liturgi, sosial, dan komunitas. Data yang diperoleh dari literatur dan observasi kemudian dianalisis secara deskriptif reflektif dengan menghubungkan teori-teori pastoral kategorial dengan situasi nyata orang muda di paroki, sehingga hasil penelitian tidak hanya menggambarkan kondisi aktual, tetapi juga menawarkan arah pastoral yang aplikatif bagi pengembangan komunitas OMK yang inklusif dan relevan di tengah arus modernisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Modernisasi dan Digitalisasi terhadap Iman OMK Di tengah arus modernisasi dan berkembangnya teknologi digital, generasi muda katolik sering kali dihadapkan pada dualitas pengalaman iman: di satu sisi ada kemudahan akses ke konten rohani melalui media sosial dan internet, di sisi lain mulai memunculkan kebingungan nilai serta kurangnya kedalaman Studi seperti Peran dan Tatangan Orang Muda Katolik di Surabaya dalam Partisipasinya Pelayanan Hidup Menggereja di Era Digital menemukan bahwa teknologi digital meskipun membuka peluang partisipasi, juga membawa kemerosotan moral dan tantangan kesetiaan terhadap ajaran Gereja, jika tidak dibarengi pembinaan iman yang kuat (N. Sinaga & Fauzi, 2. Penelitian terdahulu juga menyoroti bahwa generasi ini rentan terhadap pengaruh budaya sekuler melalui media digital, sehingga Gereja harus menemukan cara agar Pendidikan agama tetap relevan dan kontekstual (Kurnia Saputra. Pengaruh modernisasi ini juga membawa para OMK untuk hidup individualism dan kurangnya relasi personal dalam komunitas. Individualisme menjadi tantangan nyata di lingkungan komunitas OMK. Banyak orang muda yang lebih memilih interaksi yang cepat dan tidak terlalu mendalam melalui media digital dibandingkan pertemuan tatap muka yang membangun relasi personal iman dan kerjasama Page | 28 komunitas. Penelitian yang dilakukan di Paroki Santo Yosef Kudangan menunjukkan bahwa sebagian orang muda lebih tertarik mengikuti gaya hidup duniawi dibandingan secara aktif menghayati kehidupan menggereja dan kehidupan rohani, karena ada jarak emosional dan kurangnya keakraban antar anggota komunitas (Deni Santesa et al. , 2. Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa ada usaha pastoral yang diberikan supaya orang muda mampu untuk meningkatkan keterlibatan mereka dengan adanya komunitas basis Gereja (KBG) yang memberikan wadah dan kesempatan bagi orang muda untuk aktif dalam komunitas (R. Sinaga, 2. Selain orang muda yang hidup individualistis, pengaruh modernisasi ini juga membuat rendahnya partisipasi liturgi atau kegiatan di Gereja. Rendahnya keterlibatan dalam liturgi dan kegiatan gereja merupakan manifestasi konkret dari tantangan modernisasi dan individualisme. Orang Muda Katolik memiliki potensi yang besar. Keterlibatan mereka dalam tugas-tugas liturgi masih terbatas oleh faktor kesibukan-kesibukan yang sedang mereka lakukan (Halawa & Tawa, 2. Di paroki Maria Di Angkat Ke Surga, banyak orang muda yang sudah mulai berpartisipasi dalam liturgi. Meskipun belum semuanya karena mereka di sibukkan dengan kegiatan mereka dan pekerjaan mereka. Berdasarkan tantangan digitalisasi, individualism, rendahnya partisipasi liturgi. Gereja Paroki dihadapkan pada kebutuhan strategi pastoral yang mampu merespon dengan konteks dengan konteks lokal. Pendidikan agama dan pembinaan spiritual harus diperbaharui agar tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga komunikatif, partisipatif, dan relevan dengan bahasa generasi muda yang hidup di era digital. (Kurnia Saputra, 2. menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dan penggunaan media digital sebagai pelengkap kegiatan komunitas agar bisa efektif. Selain itu, komunitas basis dan tugas liturgi yang melibatkan orang muda secara nyata terbukti menjadi ruang untuk memperkuat identitas iman, membangun ikatan emosional dalam komunitas, dan memunculkan rasa tanggung jawab sebagai bagian Gereja. Upaya Pastoral Kategorial Paroki Maria Di Angkat Ke Surga Upaya pastoral yang dilakukan oleh Paroki Maria Di Angkat Ke Surga adalah membangun komunitas OMK. Paroki Maria Diangkat ke Surga perlu menyelenggarakan rangkaian kegiatan konkret yang sistematis agar komunitas Orang Muda Katolik (OMK) tumbuh menjadi ruang iman yang hidup dan berkelanjutan (Agustiningtyas & Tarihoran, 2. Kegiatan tersebut meliputi pendampingan rutin dalam kelompok-kelompok kecil yang memadukan pembacaan kitab suci, sharing, pengalaman hidup, ngobrol santai, kegiatan olahraga, dan kegiatan sosial terpadu . akti sosial, aksi lingkungan, kunjungan kasi. yang menumbuhkan semangat solidaritas serta pelayanan digital yang terstruktur misalnya kanal paroki yang menayangkan konten katekese singkat, kalender kegiatan interaktif, dan platfom komunikasi antaragama untuk menjaga kesinambungan relasi Membangun komunitas bagi Orang Muda Katolik paroki Maria Diangkat ke Surga sudah dilaksanakan. Gereja sudah memberikan wadah bagi OMK untuk berekspresi dan bersosialisasi untuk saling mengenal dan saling terbuka sesama teman sejawat. Seperti yang sudah penulis teliti bahwa kegiatan-kegiatan kebersamaan sudah dilakukan oleh komunitas ini. Tetapi ada beberapa hal yang memang masih belum bisa untuk di kondisikan dalam hal ini adalah orang muda yang kerja di luar kota atau kesibukan yang lain, yang membuat Orang Muda Katolik tidak dapat bergabung dalam kegiatan yang dibuat untuk kebersamaan. Contoh kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam komunitas Orang Muda Katolik Paroki Maria Diangkat ke Surga adalah koor bersama, safari taman doa, visulisasi, mengadakan temu kangen dalam acara valetine. Saat momen-momen tertentu, misalnya saat libur natal atau paskah banyak orang muda yang bisa bergabung untuk acara ini maupun dalam liturgi. Tetapi setelah jarang adanya kegiatan berkumpul bersama. Orang Muda Katolik akhirnya nyaman dengan kesibukan mereka masing-masing dan jarang terlibat dalam kegiatan baik liturgi maupun pewartaan. Dalam menyikapi hal ini, peran katekis, pastor, dan pendamping muda bersifat komplementer. Katekis fokus pada formasi doktrinal dan metodologi pengajaran yang kontekstual. Pastor memberikan arahan pastoral, ruang pengambilan keputusan, serta legitimasi liturgis. Sedangkan pendamping muda bertindak sebagai perantara budaya yang memahami bahasa, gaya komunikasi, dan praktik digital generasi Z. Pendekatan efektif menegaskan prinsip mentoring personal . ne to one mentorin. , pemberdayaan . elegation of reseponsibilitie. , dan partisipasi kolektif dalam perencanaan program pastoralnya sendiri (Saputra, 2. Page | 29 Namun, dalam kenyataan yang terjadi yang diamati oleh peneliti, banyak orang muda yang sedang mencari jati dirinya juga menganggap bahwa bimbingan ini membosankan. Generasi Z yang identik dengan sesuatu yang bersifat have fun, dan bertentangan dengan harapan para kaum milenial atau para senior. Peran pendamping sangat penting dalam hal ini seperti menjadi jembatan dari cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi yang berbeda dan goals yang berbeda antara orang muda Katolik dan kaum milenial membuat adanya gap antara keduanya. Kaum milenial mengajak orang muda untuk tetap teratur dan taat pada aturan yang ada harus sesuai dengan yang tertulis hitam di atas putih. Sedangkan kaum muda yang ingin berinovasi sesuai dengan zamannya yang membuat perbedaan. Sehingga para senior melihat orang muda sebelah mata. Dan ini menjadi permasalahan yang sangat krusial di dalam komunitas itu sendiri. Evaluasi program pastoral menjadi sarana untuk Gereja melihat kembali apa yang efektif dan apa yang perlu diperbaiki. Evaluasi program pastoral di banyak konteks lokal mengindikasikan beberapa pola misalnya dengan melakukan kegiatan inovatif yaitu liturgi partisipasi, atau penggunaan multimedia yang secara cepat menaikkan antusiasme dan kehadiran OMK. Namun keberlanjutan pastiripasi sering terhambat oleh kurangnya kontinuitas pendampingan, keterbatasan sumber daya manusia yang banyak keluar kota untuk bekerja, dan lemahnya koordinasi antarunit pastoral. Selain itu, pelayanan digital efektif sebagai sarana jangkauan awal, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan pendalaman tatap muka yang membentuk relasi personal dan komitmen jangka Panjang. Oleh karena itu, paroki perlu memperkuat aspek kapasitas pendamping (Amal et al. , 2. Secara teoretis, upaya tersebut selaras dengan kerangka pastoral kategorial yang menuntut pendekatan spesifik terhadap kelompok usia dan konteks budaya. Pendekatan ini menuntut pembinaan yang khas, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Prinsip-prinsip Christus vivit menekankan keterlibatan nyata orang muda, pengalaman pribadi dengan Kristus, serta pemberian ruang kreatifitas dan tanggung jawab menguatkan konsepsi bahwa OMK bukan objek tetapi sebagai subjek pastoral. Oleh karena itu, model pastoral paroki harus memungkinkan OMK mengalami perjumpaan personal dengan Kristus melalui liturgi dan pelayanan, sekaligus diberi ruang menggunakan kemampuan digital mereka sebagai sarana pewartaan kontekstual (Andayanto, 2. Model Komunitas Inklusif bagi Gen Z Model komunitas inklusif yang ideal bagi Generasi Z di lingkungan Gereja harus mengharmonisasikan dimensi digital dan tatap muka sehingga menciptakan ruang iman yang otentik, terbuka, dan memperkuat identitas komunitas. Komunitas tersebut bukan hanya tempat berkumpul secara fisik, tetapi juga ruang virtual yang memungkinkan dialog, pembinaan iman, dan pendampingan secara konsisten melalui media digital . edia sosial, podcast, grup diskusi onlin. Ketika tatap muka terjadi, komunitas ideal ini menunjukan wajah yang autentik. Anggota antar Gen Z dan orang dewasa saling berbagi pengalaman hidup, terpanggil untuk mendengarkan dan membangun kepercayaan, serta merayakan liturgi dan pelayanan Keberlangsungan komunitas ditandai oleh partisipasi aktif OMK dalam pengambilan keputusan, baik dalam perencanaan acara maupun pelayanan sehingga rasa kepemilikan tumbuh. (Trisian & Moda, 2. menunjukan bahwa komunitas katolik yang memanfaatkan platform digital secara kreatif sambil menjaga hubungan tatap muka memperlihatkan tingkat keaktifan dan keterikatan jemaat muda yang lebih Praktik konkret implementasi pastoral komunitas inklusif. Dalam pelaksanaan pastoral kategorial, contoh konkret komunitas inklusif bisa berupa pembentukan kelompok kecil. Dimana OMK diberi ruang berbagi pengalaman iman dan tantangan hidup, pendampingan peer to peer yang diperkuat oleh orang muda yang sudah lebih dewasa iman dan punya wawasan teknologi. Penggunaan media digital untuk pelayanan katekese, konten refleksi dan pengumuman, serta sesi daring pra-pertemuan untuk mempersiapkan diskusi tatap muka serta kegiatan pelayanan sosial yang melibatkan pelayanan sosial OMK sebagai pelayanan aktif. (Razat Simarmata et al. , 2. menjelaskan bahwa gereja-gereja yang melibatkan Gen Z dalam kepemimpinan dan penggunaan teknologi digital . rup WhatsApp, streaming, konten visua. menghasilkan respons positif dan partisipasi yang lebih tinggi. Evaluasi efektivitas dan area yang perlu dikembangkan. Evaluasi empirikal terhadap model komunitas inklusif menunjukkan bahwa elemen digital memberikan keuntungan dalam memperluas jangkauan, mempermudah komunikasi, dan menjadikan perlibatan OMK lebih fleksibel terhadap jadwal mereka. Namun demikian, beberapa studi mencatat bahwa tanpa pendampingan tatap muka dan hubungan personal yang erat, keterkaitan iman mudah menjadi dangkal (Razat Simarmata et al. , 2. ditemukan bahwa Page | 30 meskipun teknologi memperkuat akses, generasi muda tetap merindukan mentor yang hadir secara fisik dalam komunitas riil dan virtual, ditekankan bahwa relasi riil . atap muk. diperlukan agar komunitas tidak kehilangan kedalaman rohani dan komitmen (Nole, 2. Gereja harus menerima semua orang dan memungkinkan semua anggota, terutama yang sering terabaikan atau kurang diperhatikan, untuk terlibat secara aktif. Ini membuat identitas Gereja sebagai Tubuh Kristus terlihat jelas dalam keragaman dan persatuan. Teori Willermark dan Islind menekankan hal ini. Prinsip Christus Vivit menyatakan bahwa Tuhan memanggil orang muda bukan untuk menjadi objek, tetapi subjek yang aktif dalam menyampaikan iman. Orang muda diberikan ruang untuk berkreativitas, berpartisipasi, dan menjalankan peran nyata dalam menyebarkan nilai Kerajaan Allah. Dalam komunitas yang inklusif, orang muda (OMK) diberikan kesempatan untuk menjadi agen evangelisasi. Mereka menggunakan media digital untuk berbagi konten iman, terlibat dalam liturgi dan pelayanan sosial, serta mampu menghubungkan budaya digital dengan iman tradisional. SIMPULAN Berdasarkan studi literatur dan refleksi pastoral yang dilakukan di Paroki Maria Di Angkat Ke Surga, penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya membangun komunitas Orang Muda Katolik (OMK) yang inklusif dan relevan harus secara fundamental menjawab tantangan utama Generasi Z (Gen Z), yaitu individualisme dan arus modernisasi yang masif. Temuan kunci menunjukkan bahwa strategi pastoral kategorial yang efektif memerlukan harmonisasi antara dimensi riil . atap muk. dan digital. Meskipun Gen Z sangat terhubung secara virtual dan mendapatkan banyak kemudahan akses konten rohani dari teknologi, mereka rentan terhadap kedangkalan relasi personal dan penurunan partisipasi liturgi yang disebabkan oleh gaya hidup individualistik dan sekuler. Oleh karena itu, paroki telah berupaya membangun komunitas melalui kegiatan kebersamaan seperti koor, safari taman doa, dan acara temu kangen, yang terbukti meningkatkan keterlibatan, terutama pada momen-momen tertentu. Namun, keberlanjutan partisipasi OMK yang sibuk dengan pekerjaan atau studi di luar kota masih menjadi kendala nyata. Upaya pastoral yang berhasil menuntut Gereja untuk bertransformasi dari sekedar figur otoritas menjadi mentor yang otentik dan fasilitator yang partisipatif. Model komunitas inklusif yang direkomendasikan dan selaras dengan prinsip Christus Vivit menekankan pada tiga pilar utama: otentisitas, pemberdayaan, dan adaptasi digital. Otentisitas diwujudkan melalui pembentukan kelompok kecil yang memfasilitasi sharing mendalam dan personal, di mana OMK merasa diterima tanpa prasangka. Pemberdayaan melibatkan delegasi tanggung jawab nyata, menjadikan OMK sebagai subjek aktif pastoral dan agen evangelisasi, bukan sekadar objek pelayanan. Sementara itu, adaptasi digital harus berfungsi sebagai pelengkap yang terstruktur-menyediakan konten katekese singkat, kalender interaktif, dan kanal komunikasi-bukan sebagai pengganti perjumpaan tatap muka yang menumbuhkan komitmen dan kedalaman rohani jangka panjang. Keterbatasan penelitian ini adalah fokusnya yang lebih bersifat refleksi pastoral dan studi literatur yang kuat, sehingga kurang didukung oleh data kuantitatif lapangan terkait tingkat retensi dan dampak jangka panjang program paroki yang sudah Sebagai rekomendasi. Paroki Maria Di Angkat Ke Surga disarankan untuk memperkuat kapasitas para pendamping muda agar mampu menjembatani gap komunikasi dan nilai antara Gen Z yang menyukai inovasi dan kaum milenial/senior yang cenderung teratur. Evaluasi program pastoral harus dilakukan secara berkala untuk memastikan kontinuitas pendampingan dan mengatasi hambatan seperti minimnya sumber daya manusia yang disebabkan oleh mobilitas kerja OMK. Untuk peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian berbasis aksi (Action Researc. dengan menerapkan model komunitas inklusif digital-riil yang telah direkomendasikan, disertai pengukuran partisipasi OMK yang bersifat kuantitatif dan kualitatif secara berkelanjutan, guna memperoleh data empiris yang lebih presisi mengenai efektifitas model pastoral ini dalam konteks paroki di era modernisasi. Bagian ini berisikan kesimpulan berupa temuan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan dan dapat disertai dengan saran atau rekomendasi yang Page | 31 DAFTAR PUSTAKA