Kelola Jur n al Ma naj e me n P e nd id ik a n Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Kristen Satya Wacana jurnalkelola@gmail. e-ISSN 2549-9661 Volume: 12. No. Juli-Desember 2025 Halaman: 257-265 Manajemen Museum Akademi Kepolisian Sebagai Sarana Pembelajaran Peningkatan Karakter Kebhayangkaraan Taruna Arianata Vira Testiani Universitas Negeri Semarang arianata@students. ABSTRACT This study aims to analyze the effectiveness of the Police Academy Museum (Akpo. management as a learning medium for improving the Kebhayangkaraan character of cadets. This research employed a descriptive-correlational method with a mixed-method approach. The subjects consisted of 168 first-year cadets of the Bhayangkara Dharma Battalion, 25 lecturers, and 20 museum managers. Data were collected through Likert-scale questionnaires, direct observation, and in-depth interviews. Quantitative data were analyzed using Pearson Product Moment correlation and multiple regression, while qualitative data were analyzed thematically. The results indicate that the perceptions of cadets, lecturers, and museum managers fall into the AugoodAy category regarding museum management as a learning medium. Furthermore, there is a positive and significant relationship between museum management and the improvement of cadetsAo Kebhayangkaraan character. A wellmanaged museum is proven to facilitate experiential learning through direct interaction with artifacts and reflection on Kebhayangkaraan values. The management of the Police Academy Museum plays an essential role in supporting the development of cadetsAo Kebhayangkaraan character, and the positive perceptions of all stakeholders serve as a foundation for optimizing character education within Akpol. Keywords: Museum Management. Kebhayangkaraan Character. Experiential Learning. Police Academy. Character Education Article Info Received date: 5 September 2025 Revised date: 21 Oktober 2025 PENDAHULUAN Pendidikan karakter menjadi pilar utama dalam pembentukan kepribadian Taruna Akademi Kepolisian (Akpo. Sebagai lembaga pendidikan yang mencetak calon perwira Bhayangkara. Akpol memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk membentuk kecerdasan intelektual dan fisik, tetapi juga karakter moral dan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Nilai ini meliputi keimanan, nasionalisme, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, profesionalitas, serta integritas. Accepted date: 12 Desember 2025 Museum Akademi Kepolisian merupakan salah satu aset pendidikan yang unik dan strategis. Di dalamnya tersimpan dokumentasi sejarah perjalanan Polri, simbolsimbol kebhayangkaraan, serta artefak yang menggambarkan perjuangan, dedikasi, dan integritas personel kepolisian. Dalam konteks pendidikan karakter, museum berpotensi besar menjadi sarana experiential learning yang mempertemukan peserta didik dengan nilainilai kebangsaan dan etos kebhayangkaraan secara nyata. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Namun, hasil studi awal menunjukkan museum Akpol belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Beberapa kendala yang muncul antara lain: Jarak museum yang relatif jauh dari asrama Taruna. Minimnya integrasi kegiatan museum dalam kurikulum, dan Keterbatasan program edukatif yang dirancang oleh pengelola. Kondisi tersebut menunjukkan adanya learning gap antara potensi museum sebagai media pendidikan karakter dan realisasi dalam praktik pembelajaran di Akpol. Padahal, menurut Kolb . , pengalaman langsung melalui interaksi dengan lingkungan belajar kontekstual merupakan inti dari experiential Sejalan dengan itu, hasil penelitian Marsakha. Hariri, dan Sowiyah . dalam Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada manajemen pembelajaran yang mampu menghubungkan pengalaman belajar di dalam kelas dengan kegiatan kontekstual di luar kelas. Pengelolaan pembelajaran berbasis pengalaman dinilai efektif dalam menumbuhkan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial peserta didik. Berdasarkan manajemen Museum Akpol dapat dipandang sebagai bentuk penerapan manajemen pendidikan karakter berbasis konteks yang mengintegrasikan dimensi historis, moral, dan pembelajaran kebhayangkaraan. Selain itu, kebijakan nasional seperti Permendikbud No. 53 Tahun 2023 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menegaskan pentingnya integrasi soft skills dan nilai karakter dalam proses pembelajaran. Dalam konteks Polri, arah kebijakan pendidikan juga diatur dalam Grand Design Pendidikan Polri 2045, yang menekankan pembentukan personel Bhayangkara unggul, berintegritas, dan adaptif terhadap perubahan Penelitian ini dilakukan untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis sejauh mana manajemen museum Akpol berperan kebhayangkaraan Taruna melalui pengelolaan pembelajaran berbasis pengalaman. KERANGKA TEORI Teori Persepsi Persepsi merupakan proses psikologis di mana individu mengorganisasi dan menafsirkan stimulus sensorik dari lingkungan untuk memberikan makna terhadap realitas (Robbins, 2. Persepsi yang positif terhadap museum akan mendorong keterlibatan aktif Taruna dalam kegiatan pembelajaran. Teori Media Pembelajaran Menurut Arsyad . , media pembelajaran berfungsi sebagai perantara antara sumber pesan dan penerima pesan dalam proses belajar. Museum termasuk media menumbuhkan pengalaman autentik dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai yang disampaikan. Teori Experiential Learning (Kolb, 1. Kolb pembelajaran pengalaman: Concrete Experience Ae individu mengalami secara langsung. Reflective Observation Ae merenungkan pengalaman tersebut. Abstract Conceptualization Ae menyusun konsep dan makna. Active Experimentation Ae menerapkan konsep ke dalam tindakan nyata. Tahapan ini selaras dengan pola pembelajaran di Akpol yang berbasis disiplin, praktik lapangan, dan refleksi Peran Kepala Sekolah Sebagai Manajer dalam Penguatan Enterprenuership A | A. Gunawan Teori Transformational Learning (Mezirow. Transformational learning menekankan refleksi kritis yang mengubah kerangka berpikir individu. Melalui museum. Taruna tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga mengalami perubahan paradigma moral Ai dari sekadar memahami nilai, menjadi menghayati dan menginternalisasi nilai. Pendidikan Karakter Lickona . membagi pendidikan karakter dalam tiga aspek: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Museum dapat pengalaman konkret, empati terhadap tokoh sejarah, dan aksi nyata dalam kehidupan Taruna sehari-hari. Teori Manajemen Pendidikan (POAC) Manajemen museum sebagai institusi pendidikan mencakup empat fungsi: planning, organizing, actuating, dan controlling. Keempat fungsi ini menjadi indikator penting dalam mengukur efektivitas pengelolaan museum. Prinsip POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. menjadi acuan dalam pengelolaan pendidikan karakter, sebagaimana ditegaskan oleh Marsakha et al. bahwa fungsi manajerial merupakan fondasi utama pendidikan yang berkarakter. Dalam konteks Museum Akpol, perencanaan program, pengorganisasian tenaga edukatif, pelaksanaan kegiatan, serta pengawasan mutu edukasi menjadi indikator keberhasilan manajemen berbasis nilai kebhayangkaraan. Akpol sebagai sarana pembelajaran. METODE PENELITIAN Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran . ixed method. dengan desain deskriptif-korelasional. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran empiris mengenai hubungan antara manajemen museum dengan peningkatan karakter Taruna, memberikan pemahaman mendalam terhadap konteks dan dinamika sosial di lingkungan Akademi Kepolisian (Akpo. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel melalui analisis statistik, sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mendalami temuan melalui observasi dan wawancara mendalam. Desain ini memungkinkan triangulasi data yang memperkuat validitas hasil penelitian. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Museum Akademi Kepolisian Semarang, yang terletak di kompleks utama pendidikan Taruna Akpol. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposif karena museum tersebut berfungsi sebagai sarana pembelajaran internalisasi nilai-nilai kebhayangkaraan dan sejarah Kepolisian Republik Indonesia. Kegiatan selama tiga bulan, yaitu dari April hingga Juni 2025, mencakup tahap observasi awal, penyebaran kuesioner, wawancara, serta validasi hasil melalui focus group discussion (FGD) dengan pihak pengelola museum dan dosen pembimbing Taruna. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh Taruna tingkat I Batalyon Bhayangkara Dharma yang berjumlah 327 orang, 25 dosen pembimbing akademik, dan 20 pengelola museum Akpol. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling untuk Taruna dan purposive sampling untuk dosen serta pengelola museum. Jumlah sampel akhir sebanyak 168 Taruna, 25 dosen, dan 20 pengelola museum, dianggap telah mewakili keseluruhan populasi dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ini terdiri atas dua variabel utama: Manajemen Museum Akpol sebagai variabel independen (X). Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Karakter Kebhayangkaraan Taruna sebagai variabel dependen (Y). Definisi operasional dan indikator kedua variabel dijabarkan dalam Tabel berikut: Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Penelitian Variabel Karakter Kebhayangkaraan (Y) Persepsi Dosen (XCA) Definisi Operasional Sikap Taruna mencerminkan nilai-nilai kebhayangkaraan seperti iman, disiplin, cinta tanah air, dan Penilaian dosen terhadap peran museum sebagai sarana pembelajaran karakter. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan berupa: A Angket tertutup dengan skala Likert 1Ae5 untuk mengukur persepsi Taruna, dosen, dan pengelola museum. A Pedoman observasi untuk mencatat keterlibatan peserta dalam kegiatan A Pedoman wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh data kualitatif mendalam pengalaman pembelajaran. A Dokumentasi kunjungan, dan laporan kegiatan museum. Instrumen kuantitatif diuji validitas dan Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi product moment Pearson dengan batas r Ou 0,30. Uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha, dengan hasil keseluruhan = 0,88, menunjukkan tingkat reliabilitas sangat tinggi. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui empat tahap utama: Observasi awal terhadap aktivitas dan tata kelola museum. Penyebaran kuesioner kepada responden Taruna, dosen, dan pengelola. Wawancara mendalam untuk menggali persepsi dan praktik pembelajaran berbasis Dokumentasi untuk mendukung hasil observasi dan wawancara. Indikator Bertakwa kepada Tuhan YME. Cinta tanah air. Demokrasi. Disiplin Skala Likert Perencanaan. Pengorganisasian. Pelaksanaan. Pengawasan Likert Proses ini dilakukan secara sistematis untuk menjamin keakuratan dan keterpaduan data dari berbagai sumber. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dalam dua tahap: kuantitatif dan kualitatif. Analisis Kuantitatif A Menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment untuk mengetahui hubungan antara kebhayangkaraan Taruna. A Dilanjutkan dengan analisis regresi berganda untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing aspek manajemen A Uji asumsi klasik . ormalitas, linearitas, memastikan validitas model regresi. Analisis Kualitatif A Menggunakan teknik analisis tematik . hematic analysi. dengan langkah: . transkripsi data wawancara, . pengkodean tematik, . kategorisasi, dan . interpretasi A Validasi dilakukan melalui member checking dan triangulasi sumber antara hasil wawancara dosen. Taruna, dan pengelola Peran Kepala Sekolah Sebagai Manajer dalam Penguatan Enterprenuership A | A. Gunawan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Umum Hasil Penelitian Penelitian ini menghasilkan gambaran umum bahwa manajemen Museum Akademi Kepolisian (Akpo. telah berfungsi dengan baik berkontribusi terhadap pembentukan karakter kebhayangkaraan Taruna. Secara keseluruhan, persepsi responden terhadap efektivitas manajemen museum berada pada kategori AubaikAy dengan skor rata-rata 4,18 pada skala Likert 1Ae5. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kegiatan kunjungan ke museum telah diintegrasikan secara terbatas dalam mata kuliah Sejarah Kepolisian dan Etika Profesi Kepolisian, namun belum dimanfaatkan secara sistematis untuk pembelajaran karakter. Dari hasil observasi, museum telah menjalankan fungsi utama dalam tiga aspek Sebagai pusat pembelajaran nilai sejarah dan etika kepolisian. Sebagai membangkitkan kebanggaan profesi. Sebagai wahana pembentukan karakter disiplin dan nasionalisme Taruna. Hasil Analisis Kuantitatif Hasil pengolahan data kuantitatif memperlihatkan hubungan yang kuat dan signifikan antara variabel manajemen museum (X) dan karakter kebhayangkaraan Taruna (Y). Analisis korelasi Pearson dan regresi berganda menunjukkan bahwa ketiga aspek persepsi Ai dosen. Taruna, dan pengelola museum Ai memiliki pengaruh yang berarti terhadap peningkatan karakter kebhayangkaraan. Tabel 2. Hasil Uji Korelasi Pearson Hubungan Variabel Persepsi Dosen (XCA) Ie Karakter Taruna (Y) Persepsi Taruna (XCC) Ie Karakter Taruna (Y) Persepsi Pengelola (XCE) Ie Karakter Taruna (Y) Nilai korelasi di atas 0,68 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki hubungan positif yang kuat dengan pembentukan karakter Taruna. Hal ini Nilai Korelasi . Sig. Interpretasi Signifikan Signifikan Signifikan menunjukkan bahwa semakin baik persepsi terhadap manajemen museum, semakin kuat pula internalisasi nilai-nilai kebhayangkaraan dalam diri Taruna. Model Sig. XCA. XCC. XCE Ie Y 0. Nilai RA = 0. 68 menunjukkan bahwa kebhayangkaraan dapat dijelaskan oleh faktor persepsi terhadap manajemen museum, sedangkan sisanya 32% dijelaskan oleh faktor lain seperti lingkungan asrama, gaya kepemimpinan pengasuh, dan aktivitas Hasil analisis Kualitatif Temuan kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dosen, pengelola museum, dan Taruna. Berdasarkan hasil analisis tematik, ditemukan tiga tema utama pengalaman para responden terhadap peran Museum Akpol dalam pembentukan karakter kebhayangkaraan, yaitu: Museum sebagai Media Pembelajaran Karakter Para dosen memandang museum sebagai media pembelajaran kontekstual yang penghayatan, dan apresiasi terhadap nilai-nilai Koleksi museum, yang Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 terdiri atas benda-benda bersejarah serta dokumentasi perjuangan tokoh-tokoh Polri, berfungsi sebagai sumber inspirasi dalam proses pembelajaran nilai dan sejarah Salah satu dosen menyatakan: peningkatan kapasitas bagi pemandu edukatif dan dosen agar kegiatan museum dapat berlangsung secara lebih interaktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran Salah satu pengelola menuturkan: AuSetiap kunjungan ke museum memberi pengalaman emosional yang kebangsaan Taruna. Mereka tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar menjadi Bhayangkara sejati. Ay AuKami masih perlu dukungan untuk mengembangkan tur edukatif dan digitalisasi koleksi agar pembelajaran lebih menarik bagi Taruna. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kunjungan museum tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memiliki nilai transformasional yang membantu Taruna profesionalisme Bhayangkara. Pengalaman Taruna dalam Kegiatan Museum Hasil wawancara dengan Taruna menunjukkan bahwa interaksi langsung di museum menumbuhkan kesadaran diri, semangat nasionalisme, dan rasa bangga terhadap identitas kepolisian. Museum berfungsi sebagai ruang reflektif di mana Taruna dapat mempelajari perjuangan para pendahulu dan menginternalisasi nilai-nilai luhur kebhayangkaraan melalui pengalaman Seorang Taruna mengungkapkan: AuKetika melihat artefak perjuangan polisi zaman kemerdekaan, kami merasa punya tanggung jawab untuk melanjutkan semangat pengabdian Ay Pernyataan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis museum memiliki efek emosional yang kuat, mendorong terbentuknya rasa tanggung jawab moral dan profesional dalam diri Taruna sebagai calon Bhayangkara. Tantangan dalam Pengelolaan Museum Pengelola museum mengemukakan bahwa keterbatasan sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan anggaran menjadi tantangan utama dalam upaya mengembangkan museum sebagai pusat pembelajaran yang Mereka juga menekankan pentingnya Pernyataan tersebut menggambarkan kelembagaan dan inovasi digital dalam edukatifnya dapat berjalan secara berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen Museum Akpol memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan karakter kebhayangkaraan Taruna. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Nababan . dalam Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan, yang menegaskan bahwa pendidikan karakter akan berjalan efektif apabila peserta didik terlibat secara langsung dalam pengalaman belajar kontekstual yang memungkinkan terjadinya refleksi serta pembiasaan nilai-nilai moral. Pendekatan tersebut sejalan dengan model pembelajaran di Museum Akpol yang berbasis pada pengalaman nyata. Melalui kegiatan di museum. Taruna tidak hanya mempelajari sejarah institusi, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai kebhayangkaraan melalui proses praktik, refleksi, dan pembiasaan perilaku. Temuan ini sekaligus memperkuat teori Kolb . tentang experiential learning, yang menekankan bahwa pengalaman langsung merupakan inti dari proses pembelajaran Dalam konteks Akpol, museum menjadi ruang pembelajaran konkret . oncrete experienc. yang mendorong Taruna untuk melakukan refleksi . eflective observatio. , menyusun makna nilai kebhayangkaraan . bstract menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari Peran Kepala Sekolah Sebagai Manajer dalam Penguatan Enterprenuership A | A. Gunawan . ctive Selain itu, hasil ini juga selaras dengan teori Lickona . yang menekankan tiga komponen utama pendidikan karakter, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral Melalui pembelajaran di museum, ketiga aspek tersebut terintegrasi secara utuh: Taruna memahami nilai . , merasakan makna sejarah dan moral . , serta meneladani semangat kebhayangkaraan dalam tindakan nyata . Dari perspektif manajemen pendidikan, keberhasilan museum sebagai lembaga edukatif ditentukan oleh penerapan prinsip POAC (Planning. Organizing. Actuating. Controllin. secara konsisten, yaitu: A Perencanaan (Plannin. : dilakukan melalui penyusunan program tahunan dan agenda pameran tematik yang disesuaikan dengan kalender akademik Akpol. A Pengorganisasian (Organizin. : melibatkan kolaborasi aktif antara pengelola museum, dosen, dan pengasuh Taruna. A Pelaksanaan (Actuatin. kegiatan kunjungan edukatif, diskusi reflektif, serta penerapan museum-based project learning. A Pengawasan (Controllin. : dilaksanakan melalui evaluasi rutin terhadap efektivitas kegiatan serta dampaknya terhadap pembentukan karakter Taruna. Secara empiris, hasil penelitian ini juga mengonfirmasi temuan Feliu-Torruella . dan Gonzylez-Sanz . yang menegaskan pendidikan dan museum dalam membangun kesadaran nilai serta identitas moral peserta Dalam konteks nasional, hasil ini juga konsisten dengan arah kebijakan Grand Design Pendidikan Polri 2045, yang menempatkan pendidikan karakter sebagai inti dari proses pembentukan perwira Bhayangkara yang unggul, berintegritas, dan berjiwa nasionalis. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: Manajemen Museum Akademi Kepolisian (Akpo. berperan penting sebagai sarana pembelajaran karakter kebhayangkaraan Taruna. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar yang mempertemukan nilai, pengalaman, dan refleksi moral. Persepsi dosen. Taruna, dan pengelola museum terhadap fungsi edukatif museum berada pada kategori baik dan signifikan berpengaruh terhadap pembentukan karakter Hasil museum sebesar 68% terhadap peningkatan karakter Taruna. Museum Akpol mendukung pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. ransformational learnin. melalui interaksi langsung dengan artefak sejarah dan nilainilai kebhayangkaraan. Pengalaman tersebut memfasilitasi proses refleksi, internalisasi nilai, dan penerapan dalam kehidupan akademik maupun kedinasan. Penerapan prinsip manajemen pendidikan (POAC) dalam pengelolaan museum Ai meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan Ai terbukti meningkatkan efektivitas fungsi museum sebagai sarana pendidikan karakter. Optimalisasi manajemen museum Akpol menjadi strategi kunci dalam mendukung implementasi Grand Design Pendidikan Polri 2045 yang menekankan pembentukan Bhayangkara berkarakter, dan berjiwa nasionalis. Saran Bagi Pengelola Museum: Perlu melakukan modernisasi pengelolaan museum melalui pemanfaatan teknologi Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. Juli-Desember 2025 digital, tur virtual, dan sistem informasi pembelajaran Taruna. Bagi Akademi Kepolisian: Integrasikan kegiatan museum ke dalam kurikulum pendidikan karakter secara sistematis agar menjadi bagian wajib dari proses pembelajaran formal dan nonformal Taruna. Bagi Dosen dan Pengasuh: Terapkan museum-based experiential learning yang menekankan refleksi, diskusi nilai, dan proyek sosial berbasis sejarah kebhayangkaraan. Bagi Peneliti Selanjutnya: Disarankan untuk meneliti faktor-faktor eksternal seperti budaya akademik, kepemimpinan pengasuh, dan lingkungan sosial yang mungkin memperkuat atau melemahkan dampak museum terhadap pembentukan karakter Taruna. Implikasi Penelitian Secara memperkaya kajian tentang penerapan teori experiential learning dalam pendidikan karakter berbasis lembaga kepolisian. Secara praktis, hasilnya dapat menjadi acuan bagi Akademi Kepolisian dan lembaga pendidikan serupa untuk mengoptimalkan fungsi museum sebagai media pembelajaran nilai, sejarah, dan moral kebangsaan. DAFTAR PUSTAKA