Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Pleomorphic Adenoma of the Apocrine Gland in the Palpebra: A Case Report Mahdea Kasyiva*1. Nia Ariasti2. Dina Ayu Prameswari3. Ariva SyivaAoa4 Faculty of Medicine. Islamic University of Indonesia. Indonesia Department of Ophthalmology. Wonosari Regional General Hospital. Indonesia Faculty of Medicine. Sebelas Maret University. Indonesia Email: dr. kasyiva@uii. id, 2nia. ariasti@gmail. com, 3dinaayup28@gmail. arivasyivaa9@student. Abstrak Tumor kelopak mata merupakan temuan umum dalam oftalmologi, dengan sebagian besar bersifat jinak, meskipun ada yang ganas. Pleomorfik adenoma adalah tumor jinak yang umumnya ditemukan pada kelenjar parotis, dan sangat jarang terjadi pada kelenjar apokrin kelopak mata. Karena lokasinya yang tidak biasa, diagnosis pleomorfik adenoma pada kelopak mata bisa menjadi tantangan, karena dapat memiliki penampilan yang mirip dengan tumor kelopak mata lainnya. Tumor pleomorfik adenoma yang berasal dari kelenjar apokrin di kelopak mata jarang ditemukan, dan memiliki gejala yang sering mirip dengan tumor jinak lainnya. Hal ini dapat menyulitkan proses diagnosis dan menentukan jenis penanganan yang tepat. Jika tidak terdiagnosis dengan benar, tumor ini berisiko menyebabkan komplikasi seperti kekambuhan atau potensi keganasan. Melaporkan diagnosis, histologi, dan pendekatan manajemen pada kasus pleomorfik adenoma yang terjadi pada kelenjar apokrin kelopak mata. Laporan ini mengulas kasus seorang wanita berusia 51 tahun dengan pleomorfik adenoma pada kelopak matanya. Tumor tersebut diangkat melalui pembedahan karena menyebabkan gangguan penglihatan. Diagnosis dibuat berdasarkan evaluasi klinis, pencitraan, dan konfirmasi histologi setelah pengangkatan tumor. Hasil histologi menunjukkan tumor tersebut adalah pleomorfik adenoma yang berasal dari kelenjar apokrin kelopak mata. Tumor berhasil diangkat secara menyeluruh, dan pasien mengalami pemulihan yang baik tanpa komplikasi atau tanda-tanda Diagnosis pleomorfik adenoma pada kelenjar apokrin kelopak mata didasarkan pada gejala klinis, pencitraan, dan pemeriksaan histologi. Penanganan yang tepat meliputi pengangkatan tumor secara total. Prognosisnya umumnya baik, namun jika tumor tidak diangkat sepenuhnya, terdapat risiko kekambuhan dan potensi keganasan. Kata Kunci: Massa Kelopak Mata. Pleomorfik Adenoma. Tumor Campuran Jinak. Tumor Kelenjar Apokrin Abstract Eyelid tumors are common, mostly benign, but can sometimes be malignant. Pleomorphic adenoma (PA) is a benign tumor typically found in the parotid gland but is rarely seen in the apocrine glands of the eyelid. Due to its uncommon location, diagnosing PA in the eyelid can be challenging, as it may mimic other eyelid tumors. Pleomorphic adenoma originating from the apocrine glands in the eyelid is rare and often presents with symptoms similar to other benign tumors. This can complicate diagnosis and treatment decisions. If misdiagnosed, it may lead to complications like recurrence or malignancy. Objective:To report a case of PA in the apocrine glands of the eyelid, focusing on diagnosis, histology, and management. A 51-year-old woman with PA in her eyelid was treated with surgical excision due to visual impairment. Diagnosis was confirmed through clinical evaluation, imaging, and histological examination after tumor removal. Histological analysis confirmed the tumor as pleomorphic adenoma originating from the apocrine glands of the eyelid. The tumor was completely excised, and the patient recovered without complications or recurrence. Pleomorphic adenoma diagnosis in the eyelid requires clinical, imaging, and histological evaluation. Total excision is the recommended treatment, with a good Incomplete removal can lead to recurrence or malignancy. Keywords: Apocrine Gland Tumor. Benign Mixed Tumor. Eyelid Mass. Pleomorphic Adenoma Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 PENDAHULUAN Pleomorfik adenoma, yang juga dikenal sebagai syringoma kondroid, adalah tumor jinak yang terdiri dari sel epitel dan mioepitel, yang tersusun dalam berbagai pola struktur dan dikelilingi oleh kapsul fibrosa yang memisahkannya dari jaringan sekitarnya (Matsumiya-Matsumoto et al. , 2. Pleomorfik adenoma merupakan jenis tumor kelenjar ludah yang paling umum, mencakup hingga dua pertiga dari seluruh neoplasma kelenjar ludah (Kobakova et al. , 2. Insidensi penyakit ini sekitar dua hingga tiga setengah kasus per 100. 000 populasi setiap tahun. Tumor ini ditemukan pada individu dari segala usia, namun paling sering ditemukan pada usia 30 hingga 60 tahun. Insidensinya sedikit lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio 2:1 (Bokhari & Greene, 2. Pleomorfik adenoma jarang berkembang dari kelenjar ekrin dan apokrin pada kulit, kasus ini hanya berkisar 0,01% dari seluruh tumor primer kulit, dengan sebagian kecil di antaranya berasal dari area periorbital (Minj et al. Pleomorfik adenoma tidak memiliki karakteristik klinis yang jelas dan seringkali sulit dibedakan dari lesi subkutan kelopak mata lainnya jika hanya berdasarkan pemeriksaan klinis. Meskipun tidak spesifik, pencitraan radiologis dapat secara efektif menunjukkan luas dan lokasi lesi. Diagnosis definitif bergantung pada analisis histopatologi, yang sangat penting untuk mengidentifikasi pleomorfik adenoma kulit dan membedakannya dari pleomorfik adenoma kelenjar lakrimal (Ma et al. , 2. Pleomorfik adenoma dapat terjadi pada berbagai lokasi, termasuk kelenjar apokrin dan kelenjar lakrimal, namun terdapat perbedaan signifikan dalam hal lokasi, pencitraan, dan manifestasi klinis. Pleomorfik adenoma pada kelenjar apokrin sering ditemukan pada daerah kulit seperti aksila atau kelopak mata, dan biasanya terdeteksi sebagai benjolan subkutan yang tidak nyeri, sedangkan Pleomorfik adenoma pada kelenjar lakrimal terlokalisasi di sekitar mata, dapat menyebabkan pembengkakan orbital dan gangguan fungsi lakrimal. Pencitraan radiologis pada Pleomorfik adenoma kelenjar apokrin menunjukkan massa subkutan dengan batas jelas, sementara pada kelenjar lakrimal sering menunjukkan massa yang memengaruhi struktur mata. Meskipun kedua jenis Pleomorfik adenoma memiliki pola histopatologi yang serupa, yaitu diferensiasi seluler yang membentuk struktur mirip kelenjar, diagnosis definitif sangat bergantung pada analisis histopatologi untuk membedakan keduanya, terutama dalam hal lokasi dan pengaruh terhadap struktur sekitarnya (Horochoski et al. , 2022. Rasheed et al. , 2. Studi ini bertujuan untuk melaporkan kasus langka pleomorfik adenoma yang berasal dari kelenjar apokrin palpebra, dengan menekankan presentasi klinis, penegakan diagnosis, dan tatalaksananya. METODE PENELITIAN Laporan ini adalah laporan kasus yang mengulas seorang pasien perempuan berusia 51 tahun yang datang ke Departemen Oftalmologi Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari. Gunung Kidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia. Keluhan utama pasien adalah adanya nodul subkutan yang keras pada kelopak mata kanan atas. Dari anamnesis diketahui bahwa nodul tersebut tidak nyeri dan secara perlahan membesar selama satu tahun hingga mencapai ukuran saat ini. Tidak terdapat riwayat trauma sebelum munculnya lesi ini. Riwayat medis sebelumnya menunjukkan bahwa pasien tidak memiliki penyakit sistemik atau masalah okular sebelumnya. Pemeriksaan ekstraokular tidak menunjukkan adanya limfadenopati regional. HASIL DAN PEMBAHASAN Presentasi klinis pasien Pada pemeriksaan intraokular ditemukan tumor berbentuk elips tunggal berukuran 2x2 x1 cm yang terletak di sisi lateral kelopak mata kanan atas (Gambar . Mukosa yang menutupi area tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi atau pigmentasi abnormal. Pada palpasi, tumor teraba unilokular, tidak nyeri, tidak berdenyut, keras, dan terfiksasi dengan batas yang jelas. Mukosa di atas lesi tampak teregang dan tidak mudah dicubit. Tidak ditemukan keterbatasan gerakan mata. Pemeriksaan oftalmologis lainnya berada dalam batas normal. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Gambar 1. Pleomorfik adenoma, tampilan klinis. A) tumor soliter pada sisi lateral kelopak mata kanan B) teknik eversi untuk mengekspos bagian dalam palpebra superior. Pemeriksaan penunjang Mengingat sifat lesi yang tidak khas, prosedur biopsi dilakukan untuk mendapatkan gambaran histologis yang jelas. Biopsi ini mengkonfirmasi bahwa lesi tersebut adalah pleomorfik adenoma yang berasal dari kelenjar apokrin palpebra. Identifikasi histologis menunjukkan tumor ini mengandung berbagai jenis jaringan, termasuk jaringan miksomatosa, tubuler . , dan skuamosa. Spesimen diidentifikasi sebagai pleomorfik adenoma kelenjar apokrin . umor mixtu. Tidak ditemukan tandatanda keganasan. Intervensi bedah Pasien menjalani intervensi bedah berupa eksisi tumor palpebra dengan bantuan anestesi. Prosedur dilakukan dengan eksisi luas diikuti oleh rekonstruksi palpebra menggunakan Tenzel Flap (Gambar . Tenzel Flap dipilih untuk rekonstruksi palpebra karena kemampuannya untuk menutup defek besar dengan menggunakan jaringan lokal, yang mengurangi kebutuhan akan cangkok kulit dari area lain. Teknik ini memberikan hasil estetika yang baik, mempertahankan fungsi kelopak mata, dan memastikan aliran darah yang optimal untuk mencegah nekrosis flap. Dibandingkan dengan alternatif seperti cutaneous flap yang memerlukan jaringan dari bagian tubuh lain atau Hughes flap yang lebih kompleks. Tenzel Flap menawarkan keunggulan dalam hal kesederhanaan, waktu pemulihan yang lebih cepat, dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Prosedur tenzel flap dimulai dengan menandai garis insisi setengah lingkaran di regio temporal mata dengan menggunakan marker. Langkah berikutnya adalah melakukan kanthotomi lateral dan melepas tendon kantus superior, kemudian jaringan dilepaskan hingga ke lapisan otot orbikularis dengan bantuan forceps dan gunting Metzenbaum. Flap kemudian ditarik perlahan ke arah medial dengan bantuan retractor. Marginal palpebra disesuaikan dan diaproksimasi kembali, diikuti dengan penjajaran tarsus dan kulit kemudian dijahit dengan benang nilon 5-0. Jarak interkanthus diukur untuk memastikan penjajaran yang tepat, dan akhirnya flap dijahit dengan teknik continuous sembari memastikan tidak ada ketegangan berlebihan pada jaringan yang dijahit. Gambar 2. Pleomorfik adenoma, intraoperatif. A) paska eksisi tumor dengan margin luas. B) paska rekonstruksi dengan tenzel flap. C) spesimen dari palpebra. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 Tatalaksana post-operatif Pasien diberikan antibiotik amoksisilin dalam jangka pendek untuk mengatasi infeksi, disertai dengan asam mefenamat sebagai agen analgetik untuk pengelolaan nyeri. Dua minggu setelah intervensi pengangkatan tumor, pasien menjalani kontrol rutin dan menunjukkan bahwa situs bedah sembuh secara bertahap dengan resolusi lengkap edema kelopak mata atas (Gambar . Fungsi palpebra telah kembali normal sepenuhnya, dan pasien melaporkan tidak ada masalah fungsional pada kelopak mata. Gambar 3. Pleomorfik adenoma, dua minggu setelah intervensi bedah. Pleomorfik adenoma di area orbital adalah tumor jinak yang jarang terjadi. Sebagian besar tumor ini muncul di kelenjar lakrimal, sedangkan lokasi di kelopak mata sangat jarang ditemukan. Tumor ini biasanya berasal dari kelenjar keringat ekrin atau apokrin (Bergeron et al. , 2. Di sisi lain, kasus pleomorfik adenoma ini unik karena tumor menunjukkan karakteristik menyerupai kelenjar pineal. Tumor seperti ini sering kali salah didiagnosis sebagai kista dermoid, dakriops, kista sebasea, hematoma, lesi limfoid atau inflamasi, atau bahkan chalazion berukuran besar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengidentifikasi lokasi khas tumor yang berada di bagian anterior, di luar tepi orbital, ysang biasanya ditandai dengan ptosis mekanik tanpa pergeseran bola mata, remodelling tulang, atau kalsifikasi intramural (Mukherjee et al. , 2. Pemeriksaan histologis menunjukkan perbedaan karakteristik antara tumor jenis apokrin dan ekrin. Pada pleomorfik adenoma yang terlokalisir di kelenjar lakrimal, sering kali ditemukan pola pertumbuhan yang lebih kompleks, dengan kehadiran sel-sel yang menunjukkan diferensiasi lebih besar dibandingkan dengan PA di palpebra yang lebih sederhana. Tumor apokrin ditandai oleh tubulus bercabang dengan lumen berukuran bervariasi yang dilapisi oleh dua lapis sel. Sebaliknya, tumor jenis ekrin memiliki tubulus yang tidak bercabang dan dilapisi oleh satu lapis epitel (PCachta et al. , 2. Pengobatan pilihan untuk pleomorfik adenoma pada palpebra adalah pengangkatan bedah secara lengkap dengan menyisakan beberapa milimeter sebagai margin (Kado et al. , 2. Dalam literatur. PA memiliki risiko kekambuhan yang relatif tinggi jika tidak diangkat sepenuhnya. Kekambuhan lokal terjadi pada sekitar 10-15% kasus, dengan risiko transformasi malignan menjadi adenokarsinoma pleomorfik pada sekitar 1-2% pasien yang tidak mendapatkan pengobatan lengkap. Oleh karena itu, pemantauan jangka panjang setelah prosedur eksisi sangat penting. (OAoRourke et al. , 2. Pada kasus ini, flap Tenzel digunakan setelah prosedur eksisi luas untuk menangani defek berukuran sedang. Metode ini dinilai efektif karena hanya memerlukan satu prosedur sederhana dan dapat meminimalkan morbiditas pada area donor (Cha & Lee, 2. Kasus ini menambah literatur yang ada dengan menunjukkan bahwa pleomorfik adenoma yang berasal dari kelenjar apokrin kelopak mata dapat memiliki gambaran klinis yang sangat mirip dengan kondisi lain, seperti chalazion atau kista dermoid. Dengan demikian, penting bagi dokter untuk memasukkan pleomorfik adenoma dalam daftar diagnosis diferensial pada massa kelopak mata yang tidak biasa. Pada kasus ini tumor berhasil diangkat secara menyeluruh, dan pasien mengalami pemulihan yang baik tanpa komplikasi atau tanda-tanda kekambuhan. Jurnal Penelitian Inovatif (JUPIN) Vol. No. Februari 2025. Hal. https://jurnal-id. com/index. php/jupin DOI: https://doi. org/10. 54082/jupin. p-ISSN: 2808-148X e-ISSN: 2808-1366 KESIMPULAN Pleomorfik adenoma pada kelenjar apokrin palpebra merupakan kejadian yang sangat jarang. Tumor ini umumnya muncul sebagai massa yang tumbuh perlahan dan tidak menimbulkan rasa nyeri di bawah kulit kelopak mata. Diagnosis dapat ditegakkan melalui biopsi, yang sangat penting untuk memastikan jenis tumor dan membedakannya dari lesi lain yang mungkin memiliki gejala serupa. Pengobatan utama adalah pengangkatan tumor secara bedah. Salah satu pendekatan rekonstruktif yang signifikan untuk mempertimbangkan hasil estetika dan fungsional adalah penggunaan teknik Tenzel Flap. Teknik ini memungkinkan pemulihan bentuk kelopak mata secara optimal dengan minimal gangguan pada struktur fungsional. Meskipun kekambuhan tumor jarang terjadi, tetap penting untuk melakukan pemantauan jangka panjang terhadap pasien, karena kekambuhan dapat terjadi seiring berjalannya waktu. Kasus ini memberikan wawasan tentang pentingnya pengelolaan klinis terhadap pleomorfik adenoma pada kelenjar apokrin palpebra yang langka dan mendemonstrasikan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang tepat untuk mencapai hasil yang optimal. DAFTAR PUSTAKA