e-ISSN: 2746-6493 p-ISSN: 0852-7105 Vol. No. Oktober 2024. DOI: https://doi. org/10. 55122/mediastima. Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 . Abu Bakar, . Annisa Octaviani 1,. Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957 Email: . abubakar00012248@gmail. Abstrak Penelitian ini membandingkan kinerja dua perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman pada saat sebelum dan pada masa wabah covid 19 dengan pendekatan analisis interval. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penggunaan Alat ukur kinerja adalah Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (GPM), dan Net Profit Margin (NPM). Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan ROE rata-rata bobot skor untuk PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 untuk ROA sebesar 5 dan 1. ROE sebesar 5 dan 1. GPM sebesar 3 dan 3. NPM sebesar 3 dan 2. Sedangkan saat Covid-19 total rata-rata bobot skor untuk PT. Mayora Indah Tbk dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk untuk ROA sebesar 3 dan 1. ROE sebesar 3 dan 1. GPM sebesar 2. 5 dan 5. NPM sebesar 2 dan 5. Selisih antara PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 untuk ROA sebesar 2 dan 0. ROE sebesar 2 dan -0. GPM sebesar 5 dan -2. NPM sebesar 1 dan -2. Dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan sebelum dan saat Covid-19 dengan alat ukur ROA. ROE. GPM dan NPM. PT. MI Tbk lebih unggul dibandingkan PT. ISM Tbk. Penelitian ini menggunakan pendekatan interval dan skala pembobotan berjalan untuk dua Perusahaan yang dibandingkan satu sama lain sehingga tidak di gunakan uji ststistik. Implikasi model ini digunakan diketahui secara langsung manakah Perusahaan yang lebih baik didasarkan tas jumlah skor secara parsial maupun secara agregat. Kata Kunci: Return on Assets (ROA). Return on Equity (ROE). Gross Profit Margin (GPM). Net Profit Margin (NPM) Abstract This study compares the performance of two companies in the food and beverage sector before and during the COVID-19 pandemic using an interval analysis approach. The research employs a qualitative descriptive method. The performance measurement tools used are Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (GPM), and Net Profit Margin (NPM). The results of this study conclude that the average weighted score for ROE for PT. MI Tbk and PT. ISM Tbk before COVID-19 was 5 and 1, respectively, with ROA scores of 5 and 1. GPM scores of 3 and 3, and NPM scores of 3 and 2. During the COVID-19 pandemic, the total average weighted scores for PT. Mayora Indah Tbk and PT. Indofood Sukses Makmur Tbk for ROA were 3 and 1, for ROE were 3 and 1. 5, for GPM were 2. 5 and 5, and for NPM were 2 and 5. The differences between PT. MI Tbk and PT. ISM Tbk before and during COVID-19 for ROA were 2 and 0, for ROE were 2 and 0. 5, for GPM were 0. 5 and -2, and for NPM were 1 and -2. It can be concluded that the financial performance before and during COVID-19, using the measurement tools ROA. ROE. GPM, and NPM, indicates that PT. MI Tbk outperformed PT. ISM Tbk. This study utilizes an interval approach and a running weight scale for the two companies compared, thus statistical tests were not The implications of this model allow for direct identification of which company is better based on the total scores, both partially and aggregately. Keywords: Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (GPM). Net Profit Margin (NPM) . Abu Bakar, . Annisa Octaviani Pendahuluan Dua tahun lalu seluruh negara di dunia sedang menghadapi masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-. , virus tersebut ditemukan pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan Tiongkok. Virus Covid-19 tersebut cepat menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kasus Covid-19 di Indonesia pertama kali di umumkan oleh pemerintah di Istana Kepresidenan, pada hari Senin tanggal 2 Maret 2020 (Putri,S, 2. Statistik peningkatan kasus pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 terus menerus mengalami peningkatan dari hari ke hari dan menimbulkan dampak buruk pada semua sektor ekonomi di Indonesia. Ini terjadi karena banyak orang yang memilih untuk tinggal di rumah karena takut akan terkena Covid-19. Upaya pemerintah dalam mengatasi penyebaran Covid-19 yaitu dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Adanya kebijakan PSBB ini telah berdampak besar bagi kegiatan perekonomian masyarakat. Salah satunya berpengaruh pada perusahaan di bidang makanan dan minuman. Kebijakan PSBB membuat keterbatasan waktu tatap muka antara konsumen dengan produsen, memperoleh barang konsumsi yang dibutuhkan dan bisa jadi menurunkan biaya transportasi barang dan jasa. Pada akhirnya pandemi Covid-19 membuat masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, sehingga perputaran uang dimasa pandemi Covid-19 semakin melambat (Ramadhania et al. , 2. Perusahaan di bidang makanan dan minuman merupakan salah satu jenis industri paling tinggi mengalami pendapatan yang tergerus dan menyebabkan menurunkan kinerja Berdasarkan publikasi dari lembaga riset yang dilakukan oleh Indonesia World Panel Division mengenai Brand Footprint Indonesia 2022. Hqtt5rasil publikasi memperlihatkan Fast Moving Consumer Good 2021, masih didominasi oleh nama-nama besar yang memiliki aset terbesar, eksis dan memiliki nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Mayora Indah Tbk serta perusahaan-perusahaan yang lain. Consumer Reach Point (CRP) merupakan suatu matriks yang mengalkulasikan jumlah rumah tangga yang mengonsumsi produk dengan brand tertentu . Dalam kata lain, nilai CRP dapat menggambarkan seberapa dekat suatu brand pada konsumen. Hasil penelitian yang telah dipublikasikan memperlihatkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui brand Indomie sukses menjadi pemain utama dengan kategori Top 10 Most Chosen Brands in FMCG. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2021. PT ISM Tbk berhasil membukukan kenaikan penjualan bersih hingga 22% year on year . menjadi Rp 99,34 triliun. Sementara PT MI Tbk yang melalui brand Roma sukses menduduki peringkat ke-5 dalam Top 10 Most Chosen Brands in FMCG. Produk dari PT MI melalui brand Roma telah menjangkau sekitar 92% konsumen dan memiliki rata-rata pembelian produk sebanyak 20 kali dalam setahun atau diperoleh hasil 9 dari 10 rumah tangga di Indonesia menggunakan produk tersebut. Penggunaan produk bagai perusahaan akan terlihat sebagai pendapatan bagi perusahaan dan apabila dikurangkan dengan harga pokok penjualan akan menggambarkan laba kotor perusahaan dan laba kotor dikurangi biaya operasi akan menghasilkan laba usaha. Data riil laba bersih kedua perusahaan memperlihatkan pencapaian sebagaimana dibawa 96-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Tabel 1. Laba Bersih Setelah Pajak TAHUN PT ISM Tbk 4,961,851,000,000. 5,902,729,000,000. 8,752,066,000,000. 11,203,585,000,000. PT MI Tbk 1,760,434,280,304. 2,039,404,206,764. 2,098,168,514,645. 1,211,052,647,953. Sumber: Laporan keuangan tahunan . ata diola. Dari data tersebut terlihat bahwa laba usaha PT Indofood Sukses Makmur selalu mengalami kenaikan baik sebelum maupun saat pandemi Covid-19. Adanya pandemi tidak memberikan dampak dan pengaruh laba perusahaan. Dan yang perlu menjadi catatan adalah kenaikan laba setiap tahun semakin meningkat dari hampir 1 triliun rupiah pada tahun 2018 menjadi dua triliun lebih pada tahun 2021. Sementara kualitas laba bersih yang diperoleh Mayora dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 dimana laba bersih saat Covid-19 lebih rendah dari pada tiga tahun sebelumnya. Laba Bersih yang didapat pada tahun 2018 adalah sebesar Rp. 1,76 triliun, yang artinya lebih besar dari anggaran yang ditargetkan, yaitu Rp. 1,72 Laba Bersih yang didapat pada tahun 2019 adalah sebesar Rp. 2,04 triliun sementara jumlah yang ditargetkan hanya Rp. 1,93 triliun. Data keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk menunjukkan Laba tahun berjalan pada tahun 2018 tidak lebih Rp4,96 triliun, atau mengalami penurunan sebesar n 2,7% dari jumlah Rp5,10 triliun pada tahun 2017 karena disebabkan mengalami kerugian neto yang akibat selisih kurs dari aktivitas pendanaan. Kemudian pada tahun berjalan tahun 2019 mencapai Rp5,90 triliun, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 19,0% dari Rp4,96 triliun di tahun 2018. Kenaikan ini disebabkan membaiknya kinerja operasional perusahaan terutama laba neto selisih kurs dari aktivitas pendanaan korporasi Jumlah laba suatu perusahaan, riilnya bukan hanya dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 melainkan juga adanya faktor kinerja keuangan internal perusahaan. Total laba bersih PT Indofood Sukses Makmur selama 4 tahun besarnya 4,3 kali lipat daripada Pada PT Mayora. Besarnya laba tidak menjadi jaminan bahwa perusahaan dikategorikan Kurang sehat, begitu juga dengan laba yang kecil dikategorikan sebagai kurang sehat. Oleh karenanya dibutuhkan alat ukur lain yang bisa menjelaskan sehat atau sebaliknya suatu entitas bisnis. PT Indofood Sukses makmur laba 2,86 kali lebih baik atau memiliki selisih laba sebar 7,06 Apakah dengan besarnya selisih laba selalu dikategorikan lebih baik dari pada laba usaha yang kecil. Oleh karenanya dibutuhkan penilaian objektif dengan menggunakan alat ukur tertentu. Misalnya analisa rasio. Analisa ini penting dilakukan untuk menilai kinerja perusahaan sebelum dan saat pandemi Covid-19, misalnya dengan analisis rasio Rasio ini sering digunakan untuk mengetahui kemampuan entitas bisnis dalam menghasilkan laba (Munawir, 2. Pada penelitian ini rasio profitabilitas yang akan dihitung sebagai alat ukur adalah Return On Asset (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (GPM) dan Net Profit Margin (NPM). Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya dimana penelitian tersebut pada umumnya membandingkan kinerja keuangan menurut standar industri dengan pencapaian kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini membandingkan dua perusahaan secara langsung dengan menggunakan pendekatan skala linkerd, pembobotan dan ploting 97-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani Penelitian sebelumnya yang masih ada hubungannya dengan kinerja keuangan dan objek penelitian memperlihatkan bahwa, penelitian yang dilakukan oleh Nurhaliza dan Harmain yang memberi kesimpulan Net Profit Margin. Gross Profit Margin. Return On Investment, dan Return On Equity. Kesemuanya memiliki nilai rata-rata diatas standar rasio (Nurhaliza, 2. Penelitian kedua yang dilakukan oleh Aprialianti memberi kesimpulan bahwa PT. Indofood Sukses Makmur dalam hal likuiditas perusahaan (CR dan QR), dan tingkat keuntungan atau Profitabilitas (ROI. ROE dan NPM) dan Nilai Pasar (EPS) mengalami kenaikan. Ketiga, ppenelitian yang dilakukan oleh Bahtiar memberi kesimpulan bahwa kinerja keuangan PT Mayora Tbk apabila di lihat dari segi profitabilitas dan solvabilitas menunjukkan performa yang kurang baik dan masih berada di bawah standar (Rina et al. , 2019, p. Noordiatmoko memberi kesimpulan yang serupa untuk periode (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Dan menurut Bukhari dalam penelitian yang dilakukan memberikan kesimpulan untuk rasio profitabilitas bahwa perusahaan masih mampu mendapatkan profit. Penelitian dengan membandingkan kedua perusahaan yang dilakukan oleh Oxtaviani juga menunjukkan rasio aktivitas, dan profitabilitas PT Indofood Sukses Makmur Tbk lebih baik dari PT Mayora Indah Tbk (Oxtaviani et al. , 2022, p. Hasil penelitian Hidayatullah memberi kesimpulan khusus Current Ratio. Quick Ratio. Return on Investment, dan Return on Equity terdapat perbedaan secara signifikan antara PT. Mayora Indah Tbk dengan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (Hidayatullah, 2022, p. Penelitian yang dilakukan oleh Prianto dan Amboningtyas. tentang perbandingan kinerja keuangan menunjukkan bahwa berdasarkan ROE PT. Mayora Indah Tbk telah meningkat tiga kali di tahun 2012, 2013, dan Sedangkan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk nilai ROE hanya meningkat satu kali pada tahun 2013. (Prianto & Amboningtyas, 2. Penelitian ini boleh dikatakan kelanjutan dari penelitian yang dilakukan oleh Prasyella Danty Oxtaviani1. Rino Rinaldo dan Elvia Fardiana yang mengambil objek dan tema penelitian yang sama (Oxtaviani et al. , 2. dengan alat analisis yang berbeda. Tinjauan Pustaka Laporan Keuangan Laporan keuangan menurut Fajaryani . dianggap sebagai penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas dengan tujuan menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan dalam suatu periode tertentu. (Fajaryani, 2015, p. Laporan keuangan merupakan sarana utama bagi perusahaan untuk mengkomunikasikan informasi keuangannya kepada pihak luar (Gultom, 2015, p. Menurut Siagian Laporan keuangan merupakan olak ukur dalam menilai kesehatan perusahaan (Siagian & Pangemanan, 2016, p. Sementara Attatrie . menambahkan yang dikutip dari Kasmir . 8, . bahwa tujuan laporan keuangan memberikan tiga informasi keuangan tentang posisi, kinerja, dan arus kas entitas bisnis (Attarie, 2016, p. Dan Lubis dkk . menganggap laporan keuangan sebagai alat pengambilan keputusan (Lubis & Fujianti, 2018, p. Siagian memperjelas siapa pihak eksternal yaitu pihak kreditor dan pihak pemerintah (Siagian & Pangemanan, 2016, p. 98-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Kinerja Keuangan Prianto dkk . beranggapan laporan keuangan diperlukan untuk mengukur suatu gambaran kondisi perusahaan (Prianto & Amboningtyas, 2016, p. Pengertian kinerja keuangan adalah suatu analisis untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan melaksanakan dan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Putri dkk 92. menambahkan dengan istilah mendaya gunakan sumber keuangan yang tersedia. (Putriani et al. , 2022, p. Tujuan lain Oxtaviani . untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas Emtitas bisnis dalam menghasilkan laba dan dalam penyajian posisi kas (Oxtaviani et al. , 2022, p. Rasio Keuangan Analisa rasio keuangan sering digambarkan Ratnasari dkk . sebagai salah satu teknik dalam menganalisis keuangan dan menggambarkan perbandingan antara pos yang satu dengan pos lain yang memperlihatkan posisi keuangan suatu perusahaan (Ratnasari et al. 2013, . Secara singkat Ningtias memberikan kesimpulan bahwa analisis rasio keuangan sekedar alat yang membantu dalam menilai prestasi manajemen periode sebelumnya dan prospeknya di masa depan. (Ningtias et al. , 2014, p. Secara lebih sederhana diungkapkan oleh Peranginangin . yang dikutip dari Kasmir . 5, . bahwa rasio keuangan merupakan pembagian angka yang satu dengan angka yang lain yang ada dalam laporan. (Peranginangin, 2019, p. Rasio Profitabilitas Pengertian Rasio Profitabilitas menurut Nebut dkk . sebagai suatu cara untuk mengukur kesanggupan atau kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba atau keuntungan (Nabut et al. , 2019, p. Dan ditambahkan oleh Peranginangin . yaitu laba usaha yang berasal dari aktivitas normal kegiatan bisnisnya (Peranginangin, 2019, p. Pengertian rasio profitabilitas menurut Noerdiatmoko . yang dikutip dari Kasmir . bahwa rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menciptakan keuntungan yang didapat dari penjualan dan pendapatan investasi (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Sementara Nurhaliza . menambahkan sebagai alat untuk menilai kesanggupan perusahaan mengetahui dan mencari laba (Nurhaliza, 2022, p. Dan secara sederhana dapat dikatakan sebagai cara yang digunakan untuk menilai kemampuan profitabilitas perusahaan dalam mencari keuntungan (Hermanto et al. , n. , p. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian menujukan tahapan penelitian yang dilakukan penulis dimana menujukan sumber utama . ata prime. adalah laporan keuangan kedua perusahaan tahun 2018 sampai 2021 dimana dibedakan menjadi laporan keuangan sebelum . dan pada masa Covid-19 . pandemi Covid-19. Ala ukur yang digunakan untuk membandingkan kena keuangan adalah Net Profit Margin (NPM). 99-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani Metode. Data, dan Analisis Metode dan Objek Penelitian Metode yang digunakan adalah metode deskripsi sebagaimana dilakukan oleh (Bakar, 2. Reni,(Andriyanty, 2. , (Marsadi et al. , 2. , (Noveliza et al. , 2. (Misnan. , 2. , (Asrarudin & Dewi, 2. , (Mayasari & Ariani, 2. yang dilakukan pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang sudah listing dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu. PT. Mayora Indah Tbk dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Sumber data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sumber data Data sekunder berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang tersusun dalam arsip yang dipublikasikan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui situs resmi perusahaan dan situs w. idterdiri Data yang dimaksud adalah laporan keuangan PT. Mayora Indah Tbk dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebagai data time series. Alat Ukur Kinerja Keuangan Penelitian ini menggunakan alat ukur Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (ROE), dan Net Profit Margin (NPM). Return On Assets (ROA) ROA sangat penting bagi perusahaan dan Cara mencari ROA (Return On Asset. menurut Khikmawati . dengan melakukan perbandingan laba bersih setelah pajak dengan total aktiva dikali 100% (Khikmawati & Agustina, 2015, p. Pengertian ROA menurut Astutik . sebagai tingkat pengembalian atas total aset (Astutik, 2017, p. ROA sering digunakan sebagai alat untuk menilai kemampuan aset yang digunakan untuk memperoleh laba (Oxtaviani et al. , 2022, p. jika hasil yang diinginkan dalam bentuk rasio. Cara menghitung ROA sebagaimana dibawah ini: Return On Asset = (Laba setelah Pajak / Aset ) x 100% --------------------------------- . 100-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Return On Equity (ROE) Noordiatmoko . menjelaskan bahwa Return on equity, merupakan suatu kemampuan perusahaan dengan modalnya yang digunakan untuk menghasil keuntungan (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Sementara Menurut Nurhaliza . yang dikutip dari Sawir . bahwa Return on equity adalah upaya untuk mengukur besaran laba perusahaan dari besarnya investasi yang efektif (Siti Nurhaliza, 2022, p. Listiyani . menambahkan bahwa Return On Equity (ROE) memperlihatkan seberapa besar laba setelah pajak yang berhasil perusahaan dapat diperoleh (Listyani, 2022, p. Pendapat lain disampaikan oleh Oxtaviani . bahwa ROE untuk memperlihatkan sejauh mana perusahaan mengelola modal sendiri, dan melakukan pengukuran tingkat keuntungan yang diterima dari investasi yang telah dilakukan (Oxtaviani et al. , 2022, p. Return on Equity = . aba bersih setalah paja. /(Ekuita. ycu100% ----------------------- . A Gross Profit Margin (GPM) Menurut Bionda dkk . 7 GPM yang merupakan peningkatan tingkat pengembalian keuntungan kotor yang diperoleh entitas bisnis dari penjualan bersihnya (Bionda & Mahdar, 2017, p. Sementara Sukmawati dan Manaf berpendapat gross profit margin (GPM) adalah jumlah laba kotor atau laba sebelum dikurangi pajak penjualan (Sukmawati & Manaf, 2019, p. Pendapat tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Noordiatmoko dkk . yang berpendapatan GPM adalah kemampuan perusahaan menciptakan pendapatan dari penjualan (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Nurhaliza . menambahkan bahwa Hasil gross profit margin menunjukkan persentase keuntungan yang diterima suatu entitas bisnis yang dihasilkan dari penjualan. (Nurhaliza, 2022, p. Gross Profit Margin = (Laba Koto. / (Penjuala. x 100% -------------------------------- . A Net Profit Margin (NPM) Barus . memberikan pendapat bahwa Net Profit Margin Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada tingkat penjualan tertentu (Barus, 2017, p. Pendapat tersebut sejalan dengan Pendapat Noordiatmoko yang berpendapat Net profit margin untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari penjualan yang dilakukan perusahaan (Noordiatmoko et al. , 2020, p. Sementara Listiyani . melengkapi pendapat Noordiatmoko, bahwa Net Profit Margin menggambarkan tingkat keuntungan dalam operasi bisnis ( Listyani, 2022, p. Untuk mengetahui NPM suatu perusahaan adalah: NPM = (Laba Setelah Pajak / Penjuala. ----------------------------------------------------- . Analisis Interval Analisis interval menurut oleh Sappaile . adalah skala interval dengan ukuran bersifat numerik yang mana antar interval memiliki dua ukuran yang berbeda. (Sappaile, 2007, p. pendapat tersebut ditambahkan oleh Windiyani . bahwa Skala merupakan seperangkat nilai atau skor yang ditetapkan kepada suatu subjek, objek, atau tingkah (Windiyani, 2012, p. Menurut Dahri skala interval bukan hanya memiliki pengertian 101-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani bukan hanya memiliki nilai melainkan mempunyai jarak yang jelas diantara masing-masing data (Patra. Bustami, 2. Tahap analisis interval dalam penelitian ini adalah: Menentukan banyaknya interval, jumlah interval adalah 5 sebagaimana skala likert yang sering diaplikasikan dalam penelitian. Penentuan klasifikasi interval sesuai dengan jumlah interval penelitian menjadi rendah sekali, rendah, sedang dan tinggi serta tinggi sekali masing-masing mulai dari 1 hingga 5 sesuai dengan alat ukur yang digunakan yaitu Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (ROE), dan Net Profit Margin (NPM). Penghitungan kinerja perusahaan dan Penentuan bobot klasifikasi interval sesuai dengan kinerja perusahaan. Tahap ketiga adalah penghitungan kinerja keuangan dan penentuan bobot untuk setiap perusahaan yang menjadi objek penelitian yang dilakukan dengan cara: Bobot Klasifikasi = (( kinerja Ma. Ae . inerja Mi. )/Interval ------------------------------ . ploting klasifikasi interval. Tahap dilakukan dengan menggabungkan tahap 3 dan tahap 2 sesuai sehingga dihasilkan poin untuk setiap perusahaan. Hasil dan Pembahasan Kinerja keuangan kedua perusahaan tahun 2018-2022 untuk Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (ROE), dan Net Profit Margin (NPM) untuk dua perusahaan masing-masing pada saat sebelum dan saat terjadinya Covid-19 sebagaimana di bawah ini: Tabel 2. Kinerja ROA. ROE. GPM dan NPM PT Mayora Indah Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tahun 2018-2021 PT MI TBK PT ISM TBK TAHUN ROA ROE GPM NPM ROA ROE GPM NPM Catatan: data diolah dari laporan keuangan tahun 2018-2021 Dari tabel diatas terlihat PT MI Tbk mengalami penurunan dalam Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (ROE), dan Net Profit Margin (NPM) pada tahun 2021 sebagai efek Covid-19. Sebaliknya PT ISM Tbk mengalami kenaikan untuk pengukuran kinerja keuangan yang sama. Artinya PT ISM Tbk memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi Covid-19 ditahun 2021. Tahun 2020 saat Covid-19 memasuki tahun pertama PT MI Tbk mengalami tekanan yang tidak bisa dihindari terlihat kinerja keuangan mengalami penurunan mulai dari ROA hingga NPM. Ini berbeda dengan kinerja PT ISM Tbk yang selalu mengalami kenaikan yang mengindikasikan ada atau tidaknya Covid-19 bagi PT ISM Tbk tidak berpengaruh dalam kinerja keuangannya. Atau dengan kata lain PT ISM Tbk lebih mampu menghadapi tekanan eksternal yang disebabkan 102-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Tabel 3. Perbandingan Rasio Keuangan dalam ROA dan ROE Sebelum dan Saat Pandemi Covid19 Kinerja Keuangan SKOR KLASiFIKASI Alat TAHUN PT MI PT ISM PT MI PT ISM Ukur SELISIH PT MI Tbk PT ISM Tbk Tbk Tbk Tbk Tbk 10,00 5,01 Sangat Baik Sangat Tidak Baik 10,07 6,01 Sangat Baik Sangat Tidak baik Jumlah 20,07 11,02 Rata-Rata 10,035 5,51 ROA 10,06 Sangat Baik Sangat Tidak Baik Sangat Tidak Baik Sangat Tidak Baik Jumlah 16,16 Rata-Rata 8,08 20,06 Sangat Baik Sangat Tidak Baik 20,06 Sangat Baik Sangat Tidak Baik Jumlah 40,12 Rata-Rata 20,06 ROE 18,06 11,01 Sangat Baik Sangat Tidak Baik 10,07 12,09 Sangat Tidak Baik Tidak Baik Jumlah 28,13 Rata-Rata 14,065 11,55 Sumber: di olah dari laporan keuangan perusahaan Return On Assets (ROA) ROA adalah Return on assets yang dihitung dengan membandingkan keuntungan bersih dan semua harta suatu entitas bisnis sebagaimana dilakukan oleh Mayasari dan Kampono (Mayasari & Al-Musfiroh, 2. Noveliza menganggap ROA sebagai alat untuk mengukur dan menilai profitabilitas entitas bisnis (Noveliza et al. , 2. Secara sederhana ROA diukur untuk mengetahui laba bersih per aset (Harisman. Muhammad, 2022, p. Data ROA tahun 2018-2021 PT MI Tbk dan PT ISM Tbk dibawah ini memperlihatkan kinerja keuangan yang tidak sama pada saat sebelum dan saat terjadi pandemi Covid-19. Total ROA tahun 2018-2019 . ebelum pandemi Covid-. memperlihatkan PT MI Tbk hampir dua kali lipat dari pada PT ISM Tbk, disebabkan pencapaian ROA PT MI Tbk sebesar 10% dan 10,07% untuk tahun 2018 dan 2019 sehingga skor yang diperoleh masing-masing Ini berbeda dengan pencapaian ROA PT ISM Tbk yang hanya 5,01% dan 6,01% untuk tahun yang sama. Oleh karenanya skor yang diperoleh hanya masing-masing 1 atau total 2 untuk tahun 2018 dan 2019. Dengan selisih skor yang cukup tinggi menyebabkan PT MI Tbk diklasifikasikan sebagai perusahaan dengan ROA sangat baik untuk tahun 2018 dan Sementara PT ISM Tbk memperoleh kualifikasi ROA berturut turut sangat tidak baik untuk tahun yang sama. Saat pandemi Covid-19 memperlihatkan ROA PT MI Tbk mengalami masalah yang lebih berat dari pada PT ISM Tbk yang terlihat dari total ROA tahun 2020 dan 2021 lebih rendah Adaro ROA tahun-tahun sebelumnya. Sementara PT ISM Tbk tidak mengalami penurunan ROA yang menggambarkan perusahaan berhasil mengatasi kendala saat pandemik Covid19 sehingga tidak mengalami kinerja dalam ROA. Total ROA tahun 2020 dan 2021 PT MI Tbk sebesar 16,16% dan PT ISM Tbk sebesar 16,6%. Dengan pencapaian tersebut total skor yang diterima PT MI Tbk sebesar 6 yang berasal dari skor tahun 2020 sebanyak 5 dan 103-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani tahun 2021 sebesar 1. Ini berbeda dengan total skor PT ISM Tbk, walaupun mampu menaikkan ROA tetapi total skor yang diterima saat pandemi tidak lebih dari 2. Atas besarnya ROA dan skor pencapaian tersebut maka kualifikasi pencapaian tidak lebih Return On Equity (ROE). Menurut Hasibuan ROE biasa digunakan mengukur seberapa besar Equity digunakan untuk menghasilkan pendapatan bersih. (Hasibuan & Wahabsamad, 2. dan hasil tabel 3 memperlihatkan hasil PT MI Tbk memiliki nilai skor yang lebih baik dari pada PT ISM Tbk walaupun dari sisi jumlah laba usaha berada jauh dibawah PT ISM Tbk. Tahun 2018 dan 2018 jumlah skor interval sebesar 10 sementara PT ISM Tbk hanya 2 atau kata lain terdapat perbedaan skor yang cukup tajam yaitu sebesar 8. Skor rata-rata sebelum covid menunjukkan jumlah 5 untuk PT MI Tbk dan 1 untuk PT ISM atau terdapat selisih skor ratarata keduanya 4 point untuk periode sebelum Covid-19. Dengan skor tersebut PTMI Tbk diklasifikasikan sebagai perusahaan dengan ROA sangat baik tahun 2018 dan 2019 bila dibandingkan dengan PT ISM Tbk. Dan PT ISM memiliki klasifikasi sebagai perusahaan dengan ROA sangat tidak baik. Kinerja keuangan pada saat Covid-19 memperlihatkan keadaan yang berbeda di kedua perusahaan dimana PT MI Tbk mengalami penurunan laba yang cukup besar sementara PT ISM Tbk mengalami sebaliknya walaupun dalam jumlah yang kecil. Artinya jumlah kenaikan modal yang berasal laba pada tahun 2020 yang tidak mampu mengangkat laba ditahun berikutnya. Kedua PT ISM Tbk terlihat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menggunakan Equity walaupun pada saat Covid-19. Walaupun PT MI Tbk mengalami penurunan. Total ROE saat Covid-19, masih lebih tinggi dari pada PT ISM Tbk masingmasing 28,13% dan 23,1% dengan perbedaan keunggulan 5,03%. Pencapaian tersebut memperlihatkan skor yang tidak sama dimana total skor PT MI Tbk sebesar 6 dan PT ISM Tbk hanya sebesar 3 serta perbedaan keduanya sebesar 3 point. Perbedaan poin tersebut berdampak pada klasifikasi yang dimiliki perusahaan dimana PT MI Tbk diklasifikasikan sebagai perusahaan yang memiliki ROE sangat baik pada tahun 2020 dan sangat tidak baik pada tahun 2021. Sebaliknya PT ISM Tbk memiliki klasifikasi ROE sangat tidak baik untuk tahun 2020 dan tidak baik pada tahun 20201 Hasil di atas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Listiyani at al yang menemukan bahwa ROE PT ISM Tbk dari tahun 2018 hingga 2020 menghasilkan temuan yang sama. Juga sejalan dengan temuan yang dilakukan oleh Prianto at la yang menganggap terjadi fluktuatif atas ROE yang di miliki walaupun untuk periode yang berbeda. Nurhaliza memperjelas Danny fluktuasi dan penurunan tersebut tetapi secara rata-tata masih diatas standar industri Indonesia. Pendapat Nurhaliza dibantah oleh temuan Harisman yang memberi kesimpulan untuk kedua perusahaan yaitu return on equity pada perusahaan PT Mayora Indah Tbk kurang baik dikarenakan ROA kedua perusahaan berada di bawah standar industri sebesar 10,7% yang berarti perusahaan kurang baik. Gross Profit Margin (GPM) Menurut Ratnasari GPM perusahaan akan mengalami fluktuasi (Ratnasari et al. , 2013, p. sebagaimana di ungkap Nurhaliza . dilakukan dengan mencari selisih penjualan bersih dibandingkan dengan harga pokok penjualan berbanding penjualan bersih (Siti Nurhaliza, 2022, p. 104-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Tabel 4 memperlihatkan kinerja GPM sebelum pandemi covid 19 memperlihatkan pada tahun 2018 kedua perusahaan hampir tidak berbeda-beda yang berarti penjualan bersih dibanding harga pokok penjualan tidak mengalami perbedaan. Jika GPM PT MI Tbk sebesar 26,06% maka PT ISM Tbk sebesar 27,05%. Makna GPM tersebut adalah dari 100% penjualan, 73,4% terserap sebagai harga pokok penjualan untuk PT MI Tbk dan 72,95% untuk PT ISM Tbk. Artinya adalah harga pokok penjualan PT MI Tbk masih lebih besar dari pada harga pokok penjualan PT ISM Tbk. Tahun 2019 kondisi GPM berbanding terbalik dibanding tahun sebelumnya di mana Harga Pokok Penjualan PT ISM Tbk lebih besar dari pada harga pokok Penjualan PT MI Tbk yang terlihat dari laba kotor PT MI lebih tinggi dari pada PT ISM tetapi kedua perusahaan mampu menekan harga pokok penjualan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari rasio GPM kedua perusahaan lebih besar dari GPM Jumlah GPM masing-masing adalah 31,06% dan 29,07% untuk PT MI Tbk dan PT ISM Tbk. Tabel 4. Perbandingan Rasio Keuangan dalam GPM dan NPM Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 Kinerja Keuangan SKOR KLASiFIKASI Alat TAHUN PT MI PT ISM PT MI PT ISM Ukur SELISIH PT MI Tbk PT ISM Tbk Tbk Tbk Tbk Tbk 26,06 27,05 3 Cukup Tidak Baik 31,06 29,07 3 Cukup Cukup Jumlah 57,12 56,12 6 Rata-Rata 28,56 28,06 3 GPM 29,08 32,07 3 Cukup Sangat Baik 24,08 32,07 1 Sangat Tidak Baik Sangat Baik Jumlah 53,16 64,14 4 Rata-Rata 26,58 32,07 2 7,03 6,08 2 Tidak Baik Tidak Baik 8,01 7,07 4 Baik Baik Jumlah 15,04 13,15 6 Rata-Rata 7,52 6,575 3 NPM 8,06 10,07 4 Baik Sangat Baik 4,03 11,03 1 Sangat Tidak Baik Sangat Baik Jumlah 12,09 21,1 5 Rata-Rata 6,045 10,55 2,5 -2,5 Catatan: diolah dari laporan keuangan perusahaan Atas pencapaian tersebut skor kedua perusahaan juga tidak mengalami perbedaan yang jauh walaupun total skor untuk dua tahun masing-masing 6 dan 5 untuk PT MI Tbk dan PT ISM Tbk. Penyebab jumlah skor PT MI Tbk lebih tinggi disebabkan skor berturut-turut yang diperoleh masing-masing 3 untuk PT MI Tbk dan 2 dan 3 untuk PT ISM Tbk sehingga GPM perusahaan diklasifikasikan sebagai cukup sebanyak dua kali untuk PT MI Tbk dan tidak baik dan cukup untuk PT ISM Tbk. Pada saat pandemi Covid-19 harga pokok penjualan (Sho. PT ISM Tbk lebih rendah dibandingkan dengan HPP PT MI Tbk masing-masing 68,93% dan 70,92% untuk PT ISM Tbk dan PT MI Tbk sehingga GPM PT ISM Tbk lebih besar dari pada GPM PT MI Tbk masing-masing 32,06% dan 29,08 pada tahun 2020. Tahun berikutnya PT ISM Tbk tetap lebih mampu menekan harga pokok penjualan dibandingkan dengan PT MI Tbk. Jumlah GPM keduanya adalah 32,07% dan 29,08% untuk PT ISM Tbk dan PT MI Tbk. Atas 105-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani pencapaian GPM tersebut total skor yang diterima PT ISM Tbk sebesar 10 point sementara PT MI Tbk hanya 4 point. Pencapaian skor tersebut disebabkan skor yang diterima PT ISM Tbk 5 point sebanyak dua kali dan PT MI Tbk masing-masing 3 dan 1. Dengan pencapaian poin tersebut kedua perusahaan memiliki kualifikasi GPM PT ISM Tbk sangat baik sebanyak dua kali saat pandemi Covid-19 10 dan hanya kualifikasi cukup dan sangat tidak baik untuk PT MI Tbk. Rata-rata GPM kedua perusahaan memperlihatkan adanya keunggulan GPM sebanyak 6% untuk PT ISM Tbk. Hasil GPM yang diperoleh PT ISM Tbk sejalan dengan hasil temuan yang dilakukan oleh Nurhaliza untuk tahun buku 2017-2018 yang menemukan bahwa GPM perusahaan pada posisi yang bagus karena masih berada diatas rata-rata masing-masing 30,18% dan 24,90% untuk PT IFM Tbk dan Standar Industri dengan selisih 5,28%. Net Profit Margin (NPM) Aprilianti menganggap NPM merupakan kemampuan perusahaan dalam melakukan efisiensi (Bionda & Mahdar, 2017, p. Dan biasa digunakan untuk mengetahui tingkat laba bersih perusahaan yang dihitung dengan membandingkan penjualan bersih berbanding dengan biaya operasi perusahaan. Tabel 4 memperlihatkan jumlah NPM sebelum . dan saat . pandemi Covid-19. Sebelum pandemi Covid-19 memperlihatkan total NPM kedua perusahaan memiliki jumlah yang tidak sama. Total NPM kedua perusahaan sebelum Covid-19 dua tahun berturut-turut . 15,04% dan 13,15% untuk PT MI Tbk dan PT ISM Tbk. Penyebab NPM PT MI Tbk lebih besar dikarenakan NPM tahun 2018 sebesar 7,03% dan tahun 2019 sebesar 8,01% sementara NPM PT ISM Tbk pada tahun 2018 sebesar 6,08% dan tahun 2019 sebesar 7,07%. Dari data NPM tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa PT MI Tbk lebih efisien dari pada PT ISM Tbk yang terlihat dari jumlah NPM yang diperoleh lebih besar. Kedua, setiap perusahaan berusaha meningkatkan laba bersih dan PT MI Tbk lebih mampu meningkatkan rasio laba dibandingkan dengan PT ISM Tbk. Atas pencapaian tersebut kedua perusahaan memiliki total skor sebelum pandemi Covid-19 sebesar 6 yang masingmasing disumbangkan dari NPM tahun 2018 sebesar 2 point dan tahu 2019 sebesar 4 point. Kualifikasi NPM yang diterima perusahaan memperlihatkan kedau perusahaan berada dalam kategori NPM yang tidak baik dan dalam keadaan baik. NPM pada saat Covid-19 memperlihatkan terjadi penurunan yang cukup tajam pada PT MI Tbk dari total NPM dua Hun sebelumnya sebesar 15,5% menjadi 12,09%. Kenyataan tersebut berbeda dengan NPM yang dialami oleh PT ISM Tbk yang memperoleh total NPM Pada masa pandemi Covid-19 sebesar 21,1% atau terjadi kenaikan sebanyak 60. data tersebut dapat digambarkan bahwa PT ISM Tbk tidak memiliki kinerja dan tingkat efisiensi yang lebih baik dari pada PT MI Tbk dan tidak berpengaruh banyak terhadap Covid19 yang terjadi. Rata-rata NPM Pada saat pandemi Covid-19 10,55% untuk PT ISM Tbk dan 6,045% untuk PT MI Tbk. Akibat NPM PT MI Tbk lebih rendah maka skor yang diperolehnya juga setengah dari pada total NPM PT ISM Tbk yang artinya tingkat efisiensi PT ISM Tbk dua kali lipat dari pada PT MI Tbk. Bila total NPM PT ISM Tbk sebesar 10 point maka PT MI Tbk hanya memperoleh 5 point. Begitu juga dengan klasifikasi NPM di kedua perusahaan dimana PT ISM Tbk pada saat Covid-19 memperoleh kualifikasi sangat baik berturut-turut dua kali sementara PT MI Tbk memperoleh kualifikasi sebagai peringkat baik dan saat tidak baik. 106-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 Perbandingan Kinerja Keseluruhan Kinerja keseluruhan Return On Assets (ROA). Return On Equity (ROE). Gross Profit Margin (ROE), dan Net Profit Margin (NPM) pada saat sebelum dan saat pandemi Covid-19 memperlihatkan kinerja keuangan dan skor sebagaimana dibawah ini. Dari sisi ROA perusahaan terlihat PT ISM Tbk jauh lebih baik dari pada PT MI Tbk karena saat Covid-19 ROA rata-rata saat Covid-19 bukan terjadi penurunan tetapi malah Sebelum covid 19 posisi ROA rata-rata sebesar 5,51% dan saat pandemi covid 19 menjadi 5,8% dimana terjadi kenaikan sebesar 0,29%. Fakta tersebut berbeda dengan pencapaian di PT MI Tbk dimana saat Covid-19 perusahaan bekerja keras meningkatkan laba bersih perusahaan tetapi pada kenyataannya tidak berhasil. ROA rata-rata saat Covid19 sebesar 8,05% dan sebelumnya sebesar 10,3%a alias terjadi penurunan laba rata-rata sebesar 1,99%. Tabel tersebut juga mengungkap bahwa jumlah ROA yang lebih tinggi tidak menjamin perusahaan bisa bertahan menghadapi Covid-19. Selisih poin pencapaian terlihat sebesar 2 point untuk keunggulan PT MI Tbk disebabkan ROA rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 5 point dan saat Covid-19 2 point. Sementara selisih ROA kedua perusahaan sebelum pandemi memperlihatkan bahwa PT MI lebih baik 4,5% yang disebabkan ROA PT MI Tbk sebesar 10,03% dan PT ISM Tbk hanya 5,5% artinya adalah kemampuan PT MI Tbk dalam mencetak ROA lebih baik daripada PT ISM Tbk walaupun dari sisi jumlah laba usaha lebih kecil. Posisi jumlah rata-rata ROA saat Covid-19 menujukan keadaan yang sama dimana ROA PT MI Tbk lebih besar daripada ROA rata-rata saat Covid-19 masingmasing 8,08% dan 5,08% sehingga perbedaan rata-rata ROA pada saat Covid-19 kedua perusahaan menunjukkan jumlah 2,28% disebabkan ROA rata-rata PT MI Tbk sebesar 8,5% dan rata-rata ROA PT ISM Tbk sebesar 5,8%. Perbedaan Skor ROA memperlihatkan jumlah 2 point untuk PT MI Tbk Temuan yang dilakukan oleh Nurhaliza memberikan kesimpulan bahwa dari tahun 20182021 PT ISM Tbk terus mengalami peningkatan tiap tahunnya, sehingga nilai net profit margin sebesar 8,76%, sementara net profit margin rata-rata industri sebesar 3,92%. Tabel 5. Perbandingan Kinerja Rata-Raya PT MI Tbk dan PT ISM Tbk Sebelum dan Saat Covid-19 Kinerja Keuangan SKOR Alat Waktu Perbedaan Ukur PT MI Tbk PT ISM Tbk PT MI Tbk PT ISM Tbk SELISIH Sebelum Covid 19 10,035 5,51 4,525 ROA Saad Covid 19 rata-rata 8,08 2,28 Perbedaan 1,955 -0,29 2,245 Sebelum Covid 19 20,06 9,66 ROE Saad Covid 19 rata-rata 14,065 11,55 2,515 Perbedaan 5,995 -1,15 7,145 -0,5 Sebelum Covid 19 28,56 28,06 GPM Saad Covid 19 rata-rata 26,58 32,07 -5,49 Perbedaan 1,98 -4,01 5,99 -2,5 Sebelum Covid 19 7,52 6,575 0,945 NPM Saad Covid 19 rata-rata 6,045 10,55 -4,505 -2,5 Perbedaan 1,475 -3,975 5,45 Total Kinerja 130,875 105,065 25,81 Kinerja Rata-Rata 16,35938 13,13313 3,22625 3,9375 2,125 1,8125 Catatan: di olah dari laporan keuangan kedua perusahaan 107-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani Posisi ROE PT MI Tbk terjadi perbedaan sebesar 5,99% disebabkan ROA rata-rata sebelum pandemi Covid-19 sebesar 20,06% dan saat Covid-19 Rata-rata sebesar 14,06%. Sementara rata-rata ROE untuk PT ISM sebelum Covid-19 sebesar 10,4% dan saat covid 19 meningkat menjadi 11,54%. Pencapaian tersebut memperlihatkan . PT ISM Tbk memiliki kinerja ROE sangat baik karena walaupun dalam keadaan pandemi tidak mengalami penurunan . PT ISM Tbk tidak terpengaruh banyak walaupun komisi pasar dalam Covid-19. PT MI Tbk mengalami penurunan atau perbedaan ROE cukup tinggi . , 99%) sementara PT IMS mengalami perbedaan rata-rata dalam keadaan surplus. 1,15%. Perbedaan rata-rata ROE kedua perusahaan sebelum dan saat Covid-19 memperlihatkan 7,145% untuk PT MI Tbk. Posisi ROE PT MI Tbk terjadi perbedaan sebesar 5,99% disebabkan REA rata-rata sebelum pandemi Covid-19 sebesar 20,06% dan saat Covid-19 sebesar 14,06%. Perbedaan skor ROE memperlihatkan 2,5 point untuk PT MI Tbk GPM kedua perusahaan memperlihatkan PT ISM jauh lebih baik karena rata-rata GPM saat Covid-19 mengalami peningkatan sebesar 4,01% sementara PT MI Tbk mengalami hal yang sebaliknya (-1,98%). Faktor lain memperlihatkan PT ISM Tbk lebih mampu dalam melakukan efisiensi saat Covid-19 daripada PT MI Tbk. Laba kotor Rata-rata PT ISM Tbk lebih mengalami keningratan dari pada PT MI Tbk disebabkan GPM di PT MI Tbk terjadi penurunan sebesar 1. Perbedaan GPM memperlihatkan 5,45% untuk PT ISM Tbk Posisi jumlah rata-rata ROA saat Covid-19 menujukan keadaan yang sama dimana ratarata ROA PT MI Tbk lebih besar daripada ROA rata-rata saat Covid-19 masing-masing 8,08% dan 5,08% sehingga perbedaan rata-rata ROA pada saat Covid-19 kedua perusahaan menunjukkan jumlah 2,28% disebabkan ROA rata-rata PT MI Tbk sebesar 8,5% dan rata-rata ROA PT ISM Tbk sebesar 5,8%. Perbedaan rata-rata GPM kedua perusahaan sebesar 3,5 untuk PT MI Tbk Selisih NPM rata-rata kedua perusahaan menunjukkan PT ISM Tbk lebih baik karena performa saat Covid-19 lebih baik daripada sebelum Covid-19 dimana perusahaan mampu menaikkan selisih NPM sebesar 3,975% karena rata-rata NPM sebesar 6,575% dan saat Covid-19 sebesar 10,55%. Pencapaian tersebut berbeda dengan PT MI Tbk yang mengalami penurunan saat Covid-19 terjadi. Selisih pencapaian rata-rata NPM sebelum dan saat Covid-19 kedua perusahaan adalah 25,45% untuk keunggulan PT ISM Tbk sehingga selisih poin pencapaian sebesar 2,5. Yang disebabkan pencapaian PT MI Tbk hanya 2,5 poin dan pencapaian PT ISM Tbk sebesar minus 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan oleh penulis adalah: Nilai tertinggi rata-rata ROA pada PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk Tahun 2018-2021 yaitu 7 dan nilai terendah sebesar 5. Dan dari data pengukuran interval berdasarkan ROA pada tabel diatas PT. MI Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid19 sebesar 10. 35 dan saat Covid-19 sebesar 8. 35, sedangkan PT. ISM Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 5. 64 dan saat Covid-19 sebesar 5. Untuk rata-rata bobot skor yang dihasilkan oleh PT. MI Tbk sebelum Covid-19 sebesar 5 dan saat Covid-19 sebesar 3, sedangkan rata-rata bobot skor PT ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 masing-masing sebesar 1. Perbedaan skor rata- rata PT. Mayora Indah Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 dan saat Covid-19 adalah 4 dan 2. Artinya 108-112E E Vol. No. Oktober 2024 Analisis Interval untuk Mengukur Kinerja Perusahaan Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 yang Bergerak di Bidang Makanan dan Minuman Tahun 2018-2021 PT. MI Tbk pada tahun 2018-2019-2020 memiliki kualifikasi sangat baik walaupun tahun berikutnya sangat tidak baik. Dan skala pengukuran untuk PT. ISM TBK pada tahun 2018-2019-2020-2021 memiliki kualifikasi sangat tidak baik Pengukuran nilai tertinggi rata-rata ROE pada PT. MI Tbk dan PT. IMS Tbk Tahun 2018-2021 yaitu sebesar 20. 6 dan nilai terendah sebesar 9. Dari data pengukuran interval tersebut rata-rata ROE pada tabel diatas. PT. MI Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 20. 60 dan saat Covid-19 sebesar 14. 65, sedangkan PT. ISM Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 10. 40 dan saat Covid-19 Untuk rata-rata bobot skor yang dihasilkan oleh PT. MI Tbk sebelum Covid-19 sebesar 5 dan saat Covid-19 sebesar 3, sedangkan rata-rata bobot skor PT. ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 sebesar 1 dan saat Covid-19 sebesar 1. Perbedaan skor rata-rata PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 dan saat Covid-19 adalah 4 dan 1. Artinya skala PT. MI Tbk pada tahun 2018-2019-2020 sangat baik tetapi untuk tahun 2021 sangat tidak baik. Dan skala untuk PT. ISM TBK pada tahun 2018-2019-2020 sangat tidak baik dan untuk tahun 2021 tidak baik. Berdasarkan nilai tertinggi rata-rata GPM pada PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk Tahun 2018-2021 yaitu sebesar 32. 7 dan nilai terendah sebesar 24. 8 Dari data pengukuran Interval berdasarkan rata-rata ROE pada tabel diatas PT. MI Tbk memiliki nilai ratarata sebelum Covid-19 sebesar 29. 10 dan saat Covid-19 sebesar 27. 30, sedangkan PT. ISM Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 28. 60 dan saat Covid19 sebesar 32. Untuk rata-rata bobot skor yang dihasilkan oleh PT. MI Tbk sebelum Covid-19 sebesar 3 dan saat Covid-19 sebesar 2. 5, sedangkan rata-rata bobot skor PT. ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 sebesar 3 dan saat Covid-19 sebesar 5. Perbedaan skor rata-rata PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 dan saat Covid-19 adalah 0 dan -2. Artinya skala PT. MI Tbk pada tahun 2018 tidak baik, 2019-2020 baik tetapi untuk tahun 2021 sangat tidak baik. Dan skala untuk PT. ISM Tbk pada tahun 2018 tidak baik, 2019 baik,2020-2021 sangat baik. Berdasarkan nilai tertinggi NPM pada PT. Mayora Indah Tbk dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Tahun 2018-2021 yaitu sebesar 11. 3 dan nilai terendah sebesar 4. 3 Dari data pengukuran interval berdasarkan rata-rata ROE pada tabel diatas PT. MI Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 7. 70 dan saat Covid-19 sebesar 45, sedangkan PT. ISM Tbk memiliki nilai rata-rata sebelum Covid-19 sebesar 7. dan saat Covid-19 sebesar 11. Untuk rata-rata bobot skor yang dihasilkan oleh PT. Tbk sebelum Covid-19 sebesar 3 dan saat Covid-19 sebesar 2, sedangkan rata-rata bobot skor PT. ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 sebesar 2. 5 dan saat Covid-19 sebesar 5. Perbedaan skor rata-rata PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 dan saat Covid-19 adalah 0,5 dan -3. Artinya skala PT. MI Tbk pada tahun 2018-20192020 dengan kualifikasi cukup , 2021 sangat tidak baik. Dan Interval untuk PT. ISM Tbk pada tahun 2018 memiliki kualifikasi tidak baik, 2019 cukup, dan untuk 2020-2021 sangat baik. Berdasarkan tabel diatas total rata-rata bobot skor untuk PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum Covid-19 untuk ROA sebesar 5 dan 1. ROE sebesar 5 dan 1. GPM sebesar 3 dan 3. NPM sebesar 3 dan 2. Sedangkan saat Covid-19 total rata-rata bobot skor untuk PT. Mayora Indah Tbk dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk untuk ROA sebesar 3 dan 1. ROE sebesar 3 dan 1. GPM sebesar 2. 5 dan 5. NPM sebesar 2 Selisih antara PT. MI Tbk dan PT. ISM Tbk sebelum dan saat Covid-19 untuk 109-112E E Vol. No. Oktober 2024 Abu Bakar, . Annisa Octaviani ROA sebesar 2 dan 0. ROE sebesar 2 dan -0. GPM sebesar 0. 5 dan -2. NPM sebesar 1 dan -2. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan sebelum dan saat Covid-19 berdasarkan rasio profitabilitas yang diukur menggunakan ROA. ROE. GPM dan NPM. PT. MI Tbk lebih unggul dibandingkan PT. ISM Tbk. Referensi