MAKNA ASPEKTUALITAS AFIKSASI DAN REDUPLIKASI PADA VERBA BAHASA BUGIS Bungatang Pendidikan Ekonomi. STKIP Pembangunan Indonesia Makassar Jl. Pettarani. Makassar Email: Bunga-az-zahra@yahoo. Abstract. Aspectuality meaning of affixation and reduplication in buginese verb. Aspectuality meaning can be exposed to Bugise language as a language that has the morphology. This research aims to disclose . the aspectuality meaning of affixation in Buginese verb, . the aspectuality meaning of reduplication in Buginese verb. The method of the research was descriptive Data sources of the research are both written and spoken text. The data were collected with observation, . documentation, . and note taking. The research reveals that . the aspectuality meaning derived from the behavior of affixation of Buginese verb, i. semelfactive meaning which its existence is characterized by prefix ta -D and tappa-D, . frequentative-intensive meaning which its existence is characterized by prefix si-D, and . habituative-intensive meaning which its exis tence is characterized by confiks pa-D-eng and . aspectuality meaning is derived from the behavior of reduplication of Buginese verb, i. habituative-intensive meaning which its existence is characterized by category ka -D R, pa-Deng R, dan pa-D R. Abstrak. Aspektualitas Makna Afiksasi dan Reduplikasi dalam Kata Kerja Bugis. Aspektualitas arti bisa terkena Bugise bahasa sebagai bahasa yang memiliki morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan . aspektualitas makna afiksasi di verba Bugis, . aspektualitas makna reduplikasi dalam kata kerja Bugis . Metode penelitian ini adalah deskriptif sumber data penelitian yang baik lisan maupun tulisan teks. Data dikumpulkan dengan observasi, . dokumentasi, . dan pencatatan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa . aspektualitas yang berarti berasal dari perilaku afiksasi verba Bugis, yaitu . makna semelfactive yang keberadaannya ditandai dengan awalan ta-D dan tappa-D, . makna yg berulang-intensif yang nya keberadaan ditandai dengan awalan si-D, dan . makna habituativeintensif yang keberadaannya ditandai dengan confiks pa-D-eng dan . aspektualitas makna berasal dari perilaku reduplikasi dari kata kerja Bugis, yaitu habituative -intensif makna yang keberadaannya ditandai dengan kategori ka-D R, pa-D-eng R. Dan pa-D R. Kata Kunci: aspektualitas makna, bahasa Morfologi Bugise. Verb Bahasa Bugis adalah bahasa daerah yang digunakan untuk berkomunikasi pada masyarakat di Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis memiliki dialek bahasa yang bervariasi. Namun, perbedaan dialek antardaerah tersebut tetap memiliki bahasa dengan sistem lambang yang sama yang digunakan dalam berkomunikasi. Dalam pengungkapan makna aspektualitas suatu bahasa terdapat perbedaan pemilihan sarana atau alat pengungkap makna aspektualitas. Se-hingga, setiap bahasa mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan makna aspek-tualitasnya. Pada bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah . ang diketahu. , makna aspektualitas dapat diungkapkan melalui tinjauan morfologi maupun melalui bidang yang lain yang mendasari pengetahuan linguistik. Dalam penelitian mengenai makna aspektualitas, bentuk kata dan maknanya merupakan suatu kesatuan yang utuh. Uhlenbeck . , mengungkapkan bahwa kegiatan berpikir dalam kata adalah makna Hal ini senada yang dikatakan oleh kalangan para pengamat bahasa yang dikenal dengan istilah Auprinsip berbeda Bungatang. Makna Aspektualitas Afiksasi dan Reduplikasi 9 bentuk berbeda maknaAy. Artinya, setiap bentuk bahasa memiliki maknanya masing-masing. Kalau bentuknya berbeda, maknanya pasti berbeda walaupun perbedaan itu hanya berupa nuansa, tidak melampau batas makna inti (Tadjuddin, 2. Konsep tentang kata tidak saja meliputi morfem bebas, tetapi juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dan morfem bebas dan berdasarkan bentuknya, dapat dibagi menjadi kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk (Sikki, 1. Senada yang telah diungkapkan oleh Robin dalam Putrayasa . , mengemukakan bahwa afiks dapat dibagi secara formal menjadi tiga kelas utama sesuai dengan posisi yang didudukinya dalam hubungan dengan morfem dasar, yaitu prefiks, infiks, dan sufiks. Dari segi penempatannya, jenis afiks meliputi prefiks, sufiks, kombinasi afiks, simul-fiks, dan konfiks. Peneliti telah mengetahui sebelumnya bahwa dalam pengungkapan makna aspektualitas, tidak semua bentuk subkelas verba berafiks baha-sa Bugis dapat mengungkap makna aspektualitas secara keseluruhan karena terdapat verba yang berafiks tersebut memiliki fungsi lain seperti pemarkah adjektiva, nomina, dan lain-lain. Pengungkapan dengan menggunakan kelas kata V berupa subkelas verba pada BB yang berafiks dapat menggambarkan situasi internal dalam suatu perbuatan, kejadian, dan keadaan yang dilakukan. Senada yang telah dikemukakan oleh Usman . , yang menga-takan bahwa morfologi verbal, pada umumnya, mencakupi jauh lebih banyak makna gramatikal daripada morfologi nomina. Aspektualitas merupakan bagian subkategori tata bahasa yang mempelajari sifat-sifat situasi berupa perbuatan, keadaan, perisitiwa yang merupakan gejala luar bahasa dan secara lingual dalam bentuk bahasa terkandung dalam semantik verba (Tadjuddin, 2. Tadjuddin . , mengatakan bahwa untuk menyebut unsur waktu internal itu digunakan istilah aspektualitas sebagai kategori semantik, yang pengung-kapannya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Penelitian terhadap bahasa Bugis sudah banyak dilakukan, terutama menyangkut masalah struktur dalam berbagai tataran, seperti kajian fonologi, morfologi, dan sintaksis dengan meng-gunakan teori strukturalisme maupun dengan teori yang mendukung penelitian bahasa. Alasan terkuat peneliti mengkaji makna aspektualitas karena sejauh pengamatan peneliti, ditemukan adanya makna aspektualitas yang lebih dari yang telah ditemukan pada penelitian Sehingga, peneliti tertarik mengkaji secara mendalam mengenai bahasa Bugis untuk menemukan dan mengklasifikasikan makna aspektualitas BB. Oleh karena itu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasikan subkelas verba berafiks bahasa Bugis dalam mengungkap makna aspektualitas. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Dalam hal ini, mendeskripsikan gejala-gejala lingual secara cermat dan teliti berdasarkan fakta-fakta kebahasaan. Gejala-gejala itu diklasifikasikan atas dasar pertimbangan tujuan penelitian yang hendak dicapai, kemudian dianalisis dalam rangka menemukan sistem dan pola-pola pengungkapan makna aspektualitas me-lalui subkelas verba berafiks. Populasi dan Sampel Adapun penentuan populasi dalam penelitian ini yakni semua bentuk afiksasi dalam membentuk verba yang diperoleh dari data pustaka maupun data lapangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampel purposif . usposive samplin. , dimaksudkan sebagai bentuk pengambilan sampel sesuai kebutuhan penelitian dengan cara mengumpulkan sebagian . idak semu. dari populasi yang berupa berupa kata yang mengalami proses morfologis berupa afiksasi dan reduplikasi pada verba yang mengungkap makna aspektualitas yang tentunya dapat mewakili keseluruhan data yang ada. Sumber Data Sumber data yang dimaksud adalah objek kajian yang diperoleh atau ditemukan. Adapun data pada penelitian ini ialah bahasa Bugis dialek Bone berupa data teks tertulis diperoleh dari kamus berbahasa Bugis, ceritacerita naskah seperti Sastra Bugis Klasik. Sastra Jurnal Retorika. Volume 10. Nomor 1. Februari 2017, hlm. 1Ai71 Lisan Bugis. Toloq Rumpaqna Bone, sedangkan data teks lisan diperoleh dari percakapan informan menggunakan bahasa Bugis dalam Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, penulis menggunakan teknik observasi artinya peneliti mengamati secara langsung objek penelitian dengan menggunakan teknik dan prosedur dalam penelitian. Kedua, penulis menggunakan teknik dokumentasi artinya peneliti menggunakan teknik rekam dan teknik catat untuk memudahkan peneliti nantinya menganalisis data yang telah ditemukan. Analisis Data Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan dengan tujuan dalam penelitian ini, maka metode dalam penelitian ini adalah metode distribusional. Cara kerja metode ini didasarkan atas perilaku atau tingkah laku satuan-satuan lingual tertentu yang dianalisis dalam hubungan-nya dengan satuan-satuan lingual lainnya (Djaja-sudarma dalam Sumarlam, 2. Selain metode distribusional, analisis dalam penelitian ini meng-gunakan metode Cara kerja metode ini adalah dengan mengkorelasikan antara ciri-ciri bentuk dengan ciri-ciri arti untuk meng-ungkapkan makna aspektualitas (Sumarlam, 2. Adapun teknik digunakan dalam penelitian ini meliputi: . mengklasifikasi subkelas verba bahasa Bugis berupa verba pungtual . , aktivitas, statis, dan statif . teknik penyulihan . , dan . teknik perluasan . HASIL PENELITIAN Pada hasil penelitian ini akan dideskripsikan dan diklasifikasikan makna aspektualitas pada bahasa Bugis yang dihasilkan dari bentuk subkelas verba berafiks dalam mengungkap makna aspektualitas. Afiksasi . adalah proses penambahan awalan . , akhiran . , sisipan . , dan gabungan antara awalan dan akhiran . pada kata dasar. Penelitian ini sangat mempertimbangkan potensi afiks-afiks serta bentuk kata yang bereduplikasi dengan melihat interaksi antara morfem-morfem terikat dengan subkelas verba seperti . ungtual, aktivitas, statis, dan stati. dalam membentuk makna tertentu. Pengungkapan sangat bergantung pada subkelas verba berupa verba pungtual . , aktivitas . , statis, dan statif . Seperti halnya pada bahasa Indonesia, pengungkapan makna aspektualitas bahasa Bugis juga mementingkan subkelas verba pungtual . , aktivitas . , statis, atau bagian dari subkelas verba statif . bersama dengan afiks-afiks mengalami afiksasi dan reduplikasi dalam membentuk makna gramatikal. Makna aspektualitas merupakan makna yang muncul dari sebuah bentuk yang gramatikal yang berurusan dengan berbagai macam sifat situasi yang muncul secara bervariasi karena adanya situasi yang tergambarkan pada perbuatan dan keadaan yang diungkapkan oleh Adapun makna aspektualitas subkelas verba berafiks pada bahasa Bugis yang dihasilkan pada penelitian ini dalam bentuk kategori afiks-afiks yang mampu melekat pada subkelas verba dalam mengungkap makna aspektualitas yakni kategori prefiks ta-D pada verba pungtualcontohnya talleppo Atiba-tiba tertabrakAo, tattump Atiba-tiba terbentur, dan taggappok Atiba-tiba terbenturA dan pada prefiks rangkap tappa-D verba pungtual dan verba aktivitas mengungkapkan makna semel-faktif yang artinya menggambarkan situasi yang berlangsung secara tiba-tiba atau sekejap dalam kurun waktu terbatas contohnya tappateri Atibatiba menangis, tappameddu Atiba-tiba jatuhA, dan tappaliweU Aotiba-tiba lewatA. Pada kategori prefiks tunggal si-D pada verba pungtual, aktivitas, statis, dan statif menggambarkan makna aspektualitas frekuentatif-intensif yang artinya situasi yang berlangsung secara intensif bernuansa makna sering . erap terjad. atau selalu dengan perulangan yang tidak tetap, sesuai kebutuhan atau kemauan dalam melakukan perbuatan tersebut. contohnya: sittettong Aselalu berdiriA, simakkobbi Aselalu mencolekA, simatytty Aselalu memukulA, dan simassuro Aselalu menyuruhA. Pada kategori pa-D-eng dibentuk dari prefiks pa- dan sufiks Aeeng yang muncul secara serentak pada verba dalam Bungatang. Makna Aspektualitas Afiksasi dan Reduplikasi 11 membentuk makna aspektualitas habituatifintesif yang artinya menggambarkan situasi yang bernuansa makna kebiasaan con-tohnya: pabelleng Aorang yang suka bohongA, pattinrong Aorang yang suka tidurA, dan parellaung Aorang yang suka memintaA. PEMBAHASAN Berdasarkan analisis secara keseluruhan, makna aspektualitas yang telah ditemukan pada penelitian ini yan diperoleh dari perilaku afiksasi pada verba BB yaitu makna aspektualitas fre-kuentatif-intensif, makna aspektualitas semelfaktif, dan makna aspektualitas habituatifinten-sif. Pengungkapan makna aspektualitas melalui kajian morfologi yang terungkap melalui afiks-afiks pembentuk verba bersama subkelas verba pada BB, sebelumnya telah dilakukan oleh Hanafie dan Darwis dengan menggunakan objek penelitian yang sama yaitu bahasa Bugis. Hanafie . , telah menemukan makna aspektualitas iteratif . , makna resiprokal . , makna simultan . , makna benefaktif, dan makna kausatif pada verba yang mengalami proses afiksasi, sedangkan pada V yang menga-lami proses reduplikasi telah diungkapkan makna simultan . , makna iteratif . , makna resiprokal, . makna sekedar . , makna intensitas yang sangat . nten-si. , dan makna diminutif . Selanjutnya, oleh Darwis . , yang meneliti mengenai keberadaan afiks-afiks rangkap pada Bugis berupa bentuk prefiks dan sufiks yang mampu melekat bersama afiks-afiks pronomina BB telah menemukan bentuk penggabungan afiks yang menggambarkan makna aspektualitas perfektif . ituasi yang telah berlangsun. , akan berlangsung . , yang berulang . , dan penegasan. Hanafie . , menyatakan bahwa aspek dapat dinyatakan dengan cara morfologik yaitu afiks pemarkah verba yang menjadi verba. Selain itu, makna aspektualitas dapat diungkapkan melalui keberadaan afiks-afiks pronominal dalam membentuk verba pada BB. Seperti yang telah dilakukan oleh Darwis . , menyatakan bahwa verba dalam bahasa Bugis dapat dibentuk dengan afiks-afiks pronominal. Selanjutnya. Darwis . , menyatakan bahwa peng-gunaan sufiks-sufiks pronomina tersebut memiliki kerumitan tersendiri karena dapat muncul bersama-sama dengan afiks lain sehingga mewu-jud sebagai afiks Dalam peng-gabungan afiks ini terdapat kaidah-kaidah penyesuaian bunyi, yang berlaku teratur. Peneliti membedakan antara makna intensif dan makna deintensif. Makna intensif dan makna deintensif merupakan makna situasi yang tergam-bar pada subkelas verba berafiks maupun reduplikasi yang memiliki perbedaan dari segi situasi internal yang terjadi pada suatu perbuatan atau tindakan yang terjadi. Pada makna intensif menggambarkan makna secara berlangsung secara serius dan bersungguh-sungguh sehingga dipero-leh hasil tertentu. Pada subkelas verba berafiks yang menggambarkan situasi sungguh-sungguh atau serius dalam durasi waktu tidak terbatas atau sekejap termasuk ke dalam makna aspektualitas frekuentatif, makna habituatif, dan makna kontinuatif. Sedangkan, makna deintensif meng-gambarkan situasi secara tidak serius dan tidah sungguh-sungguh dalam durasi waktu terbatas termasuk ke dalam makna aspektualitas atenuatif dan makna diminutif. Situasi yang diperoleh dari afiks-afiks yang melekat pada subkelas verba pungtual, aktivitas, statis, dan statis telah ditemukan makna aspek-tualitas semelfaktif, frekuentatifintensif, dan habituatif-intensif. Makna aspektualitas semel-faktif menggambarkan situasi secara tiba-tiba dan sekejap terjadi tanpa ada unsur sengaja, dike-hendaki, maupun diinginkan. Pada makna aspektualitas frekuentatifintensif dan habituatif-intensif merupakan situasi yang bernuansa makna perulangan yang secara intensif yang berbeda dari makna iteratif. Frekuentatif adalah situasi peru-langan yang memberikan tekanan pada kekerapan yang berirama tidak tetap, sesuai keinginan dan kebutuhan terlihat pada aspektualiser sering, sela-lu, acap kali dan makna aspektualitas habituatif adalah situasi perulangan yang memberikan tekanan pada kebiasaan yang berirama tidak tetap, sesuai keinginan atau kebutuhan terlihat pada aspektualiser biasanya, suka, dan gemar, sedang-kan makna aspektualitas iteratif adalah situasi perulangan yang bersifat sekali terjadi berirama tetap dan bersifat alami terlihat pada aspektualiser berkali-kali dan berulang kali. Jurnal Retorika. Volume 10. Nomor 1. Februari 2017, hlm. 1Ai71 KESIMPULAN Untuk makna aspektualitas yang diperoleh dari perilaku afiksasi terhadap verba pada bahasa Bugis digunakan berbagai kategori afiks berupa prefiks, sufiks, dan konfiks bersama dengan subkelas verba pungtual . , aktivitas . , statis, dan statif . dalam mengungkap makna aspektualitas. Penelitian ini telah menemukan makna aspektualitas dari afiksasi verba BB yang belum ditemukan pada peneliti sebelumnya, yaitu . makna semelfaktif yang menggambarkan situasi yang berlangsung secara sekejap atau tiba-tiba yang kemun-culannya ditandai oleh bentuk kategori ta-D dan tappa-D, . makna frekuentatif-intensif yang bernuansa makna Asering atau AselaluA yang kemunculannya ditandai oleh keberadaan prefiks si-D, dan . makna habituatif-intensif yang menggambarkan suatu kebiasaan yang berlang-sung dalam waktu tak terbatas yang kemun-culannya ditandai oleh keberadaan bentuk kon-fiks pa-D-eng. DAFTAR PUSTAKA