Prophetic : Professional. Empathy. Islamic Counseling Journal Vol. No. Desember 2024, hlm. e-ISSN : 2685-0702, p-ISSN : 2654-3958 Tersedia Online di http://syekhnurjati. id/jurnal/index. php/prophetic Email: prophetic@syekhnurjati. Imitation Learning dalam Seting Bimbingan Kelompok untuk Mereduksi Perilaku Agresif Anak Hananda Fitra Pranatha1. Adif Jawadi Saputra2. Muhammad Ubaidillah3 Bimbingan dan Konseling. FKIP. Universitas Bengkulu. Indonesia Bimbingan dan Konseling. FKIP. Universitas Lampung. Indonesia Correspondent Email: hfpranatha@unib. Abstract This research addresses the growing concern of aggressive behavior in children, recognizing it as a pressing issue that needs attention. Our focus is on exploring effective methods to mitigate this behavior through group guidance services that incorporate imitation learning techniques. This study aims to provide empirical evidence on the effectiveness of these techniques in reducing aggression within a group context. Following the implementation of our services for the experimental group, we conducted thorough statistical analyses using the Mann-Whitney test. The outcome presented an Asymptotic Significance value . -taile. 501, indicating that there was no statistically significant change in behavior following the intervention. Nevertheless, when we analyze the observations and the individual post-test scores of each participant in the experimental group, it becomes evident that imitation learning techniques hold promise in decreasing aggressive behavior among children. With further refinement and application, this approach could serve as a valuable tool in fostering a more positive behavioral trajectory for children facing these challenges. Keywords: Aggressive Behavior. Group Guidance. Imitation Learning Technique. PENDAHULUAN Anak usia sekolah dasar berada pada rentangan masa perkembangan kanak-kanak yang berada pada rentang usia 6 hingga 12 tahun. Masa ini ditandai dengan kondisi untuk menyesuaikan diri maupun sosial terhadap lingkungan, anak mulai belajar mengenal emosi yang ada pada dirinya dalam menghadapi situasi sosial. Di sekolah dasar anak-anak dididik oleh guru untuk menjadi pribadi yang baik dengan mengenal norma-norma, bersikap sopan, jujur, serta diajarkan memberikan emosi yang tepat dalam menanggapi suatu situasi baik mengenai hal-hal yang menyenangkan maupun yang dirasa menggangu atau kurang berkenan bagi anak. Namun pada proses belajar dalam menyelesaikan tugas perkembangan tidak semua anak dapat langsung menjadi pribadi yang ideal sebagaimana diharapkan oleh orang tua maupun guru yang mengajar di sekolah, karena masa ini merupakan masa dimana anak mengalami perubahan diri yang dimanifestasikan dalam bentuk sifat trotzalter atau keras Sikap ini secara umum ditunjukkan oleh anak usia sekolah dasar yang terjadi akibat beberapa sebab seperti kesadaran fisik, sifat, dan merasa fikiran lebih maju daripada orang lain serta memiliki keyakinan yang dianggapnya benar (Desmita, 2012, hlm. Terdapat 108 | Pranatha. Saputra. Ubaidillah Ae Imitation Learning dalam . beberapa label yang biasa digunakan untuk anak usia sekolah. Label yang sering dipergunakan orangtua, yaitu usia yang menyulitkan, usia tidak rapi, dan usia bertengkar, karena pada fase ini kanak-kanak sedang mengalami tahap perkembangan emosi, sebagai contoh kanak-kanak belajar bagaimana mengendalikan ekspresi perasaan takut, marah, cemburu, atau bahkan kesedihan yang nyata (Hurlock, 1980, hlm. Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka (Hurlock, 1980 hlm . Frekuensi dan intensitas kemarahan yang anak alami setiap anak berbeda-beda. Sebagian anak dapat melawan rangsangan yang menimbulkan kemarahan secara lebih baik dibandingkan dengan anak lainnya. Marah merupakan emosi yang disebabkan karena individu menganggap orang lain bersalah terhadap dirinya (Goleman, 2002, hlm. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Jika hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresif. Hurlock . alam Anantasari, 2006, hlm. mendefinisikan agresif sebagai reaksi kemarahan yang implusif . , bisa secara fisik maupun verbal. Perilaku agresif merupakan salah satu bentuk prilaku negatif yang sering dialami individu pada masa anakanak. Prilaku agresif memiliki berbagai bentuk. Tin Suharmini . 2, hlm. , menyatakan bahwa bentuk perilaku agresif ada dua, yaitu agresif verbal . enyerang dengan kata-kata, memak. dan agresif non-verbal . enyerang dengan perbuata. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Winstok . anak laki-laki lebih sering menunjukkan prilaku agresif dibandingkan anak perempuan. Maraknya tindakan kekerasan pada anak menggambarkan bahwa Indonesia menjadi negeri yang rawan bahkan darurat kekerasan pada anak. Jumlah tindakan kekerasan pada anak setiap tahun semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari data yang dilansir oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesi. bahwa dari tahun 2010 hingga 2014 tercatat sebanyak 797 kasus pelanggaran hak anak, yang tersebar di 34 provinsi, dan 179 kabupaten dan Sebesar 42-58% dari pelanggaran hak anak itu merupakan kejahatan seksual terhadap anak, selebihnya adalah kasus kekerasan fisik, dan penelantaran anak. Pertemuan yang dilakukan KPAI dengan berbagai komunitas guru, terungkap cukup banyak guru yang berpandangan kekerasan adalah cara tepat dalam mendisiplinkan anak, terutama mereka yang Berdasarkan hasil monitor dan evaluasi terhadap 1. 026 responden anak pada sembilan daerah di Indonesia. KPAI juga menemukan bahwa 87,6% anak pernah mengalami kekerasan di sekolah dalam berbagai bentuk. Kekerasan yang paling banyak dilakukan adalah oleh teman sekelas . %), guru . ,9%), dan teman lain kelas . %) (Agustin et al. , 2. Penelitian berkaitan hal ini seperti B. Muthe'n . alam Schaeffer dkk. , 2003, hlm 1. menggunakan teknik imitation learning yang hasilnya secara empiris dapat menggambarkan perbedaan perilaku individu termasuk perilaku agresif. Meskipun sudah ada penelitian berkait namun dalam bidang bimbingan dan konseling upaya menemukan cara atau pendekatan yang tepat dan efisien harus tetap dikembangkan agar dalam melaksanakan konseling pada perilaku agresif dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan perkembangan zaman. Terkhusus dalam penelitian ini penelitian difokuskan pada cara mereduksi bahkan menghilangkan Prophetic : Professional. Empathy. Islamic Counseling Journal Ae Vol. No. Desember 2024 | 109 perilaku tersebut pada siswa disekolah dasar dengan melihat berbagai ciri perilaku dengan bantuan instrumen yang telah dikembangan, dengan harapan perilaku tersebut tidak berkelanjutan karena dampak negatif dari perilaku tersebut sengatlah buruk bagi pemilik perilaku maupun orang lain yang terkena dampak perilaku tersebut. maka peneliti memilih desain intervensi berupa imitation learning dalam setting bimbingan kelompok yang dirancang untuk membantu siswa mereduksi prilaku agresif. Upaya menemukan solusi dalam bentuk konseling pada perilaku agresif ini diharapakan dapat menjadi panduan atau literasi tambahan bagi para guru SD, guru BK, konselor, maupun psikolog anak. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent pretest-postest control group design . retest-postest dua kelompo. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan mix methods, yaitu pendekatan yang mengkombinasikan antara pendekatan kualitatif dengan penelitian kuantitatif (Creswell, 2010, hlm. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu secara purposive sampling sebanyak 9 siswa dari tiap kelas, masing-masing 3 orang pada kategori perilku agresif tinggi, sedang, dan rendah yang didapatkan setelah siswa mengikuti pre-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan gambaran perilaku agresif siswa SD X mayoritas berada pada ketegori rendah yaitu dengan persentase sebesar 54,8% atau dengan jumlah siswa sebanyak 23 orang berada pada kategori tersebut. Kemudian beranjak pada satu tingkat dibawahnya. Pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 26,2% atau dengan jumlah siswa sebanyak 11 orang pada kategori tinggi. Pada ketegori sedang diperoleh 7 orang atau dengan persentase sebesar 16,7%, sedangkan pada kategori tidak agresif hanya diperoleh persentase sebesar 2,3 % saja atau berdasarkan jumlah siswa yaitu 1 orang. Adapun gambaran perilaku agresif siswa berdasarkan aspek yaitu, aspek pertama perilaku agresif fisik, dalam aspek perilaku agresif fisik siswa yang berada pada ketegori tinggi yaitu sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 16,67%. Pada kategori sedang persentase yang diperoleh sebesar 33,33 % atau dengan jumlah siswa sebanyak 14 orang, sedangkan pada ketegori rendah diperoleh persentase sebesar 50% atau dengan jumlah siswa sebanyak 21 orang. aspek yang kedua yaitu agresif verbal, dalam aspek perilaku agresif verbal siswa yang berada pada ketegori tinggi yaitu sebanyak 9 orang atau dengan jumlah persentase sebesar 21,43%. Pada kategori sedang persentase yang diperoleh yaitu sebesar 35,71% atau dengan jumlah siswa sebanyak 15 orang, sedangkan pada kategori rendah diperoleh persentase sebesar 42,86% atau dengan jumlah siswa sebanyak 18 orang. Berdasarkan perhitungan statistik menunjukkan bahwa teknik imitation learning tidak efektif untuk mereduksi perilaku agresif siswa SD, hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan statistik yaitu Asymp. Sig. -taile. = 0,501 > 0,05. Namun apabila dilihat dari hasil observasi dan perubahan skor post-test tiap-tiap siswa pada kelompok eksperimen, maka dapat diasumsikan bahwa teknik imitation learning dapat mereduksi perilaku agresif anak. Hal tersebut dapat terlihat dari grafik berikut. 110 | Pranatha. Saputra. Ubaidillah Ae Imitation Learning dalam . Pre-test Post-test ANG BIM CHA FAR FAT HIL MLA MIK RRA Grafik 1. Perubahan Skor Perilaku Agresif Berdasarkan Hasil Pre-Test dan Post-Test Siswa pada Kelompok Eksperimen Pada grafik 1 di atas merupakan tabel hasil perhitungan yang menunjukkan adanya perubahan, baik meningkat, menurun, ataupun tetap pada tiap kategori perilaku agresif. berdasarkan hasil post-test dari 9 subjek yang diteliti pada kelompok eksperimen didapatkan data bahwa 6 orang siswa mengalami penurunan tingkat perilaku agresif, sedangkan 3 lainnya tetap pada skor pada saat pre-test, yaitu 2 orang tetap pada kategori agresif rendah dan 1 orang tetap pada agresif sedang. Berdasarkan hasil temuan penelitian, secara umum 41 siswa kelas IV SD X memiliki perilaku agresif yaitu dengan persantase sebesar 97,7% yang terbagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pada kategori tinggi sebesar 26,2%, kategori sedang 16,7%, dan pada kategori rendah 54,8%, sedangkan siswa dengan perilaku tidak agresif hanya sebesar 2,3% atau sebanyak 1 orang. Berdasarkan paparan perolehan kategori tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa kelas IV SD X mayoritas memiliki perilaku agresif. Berdasarkan temuan ini dapat dipahami bahwa siswa kelas IV SD yang berada pada usia kanak-kanak mulai belajar mengenal emosi yang ada pada dirinya dalam menghadapi situasi sosial, dan berdasarkan tugas perkembangkan, siswa pada usia SD mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku (Nurihsan, 2011, hlm. Namun kebanyakan siswa belum mempunyai pemahaman yang baik dalam memilih sikap sehingga masih banyak siswa yang melakukan perilaku kurang tepat berdasarkan nilai-nilai dan norma yaitu dengan melakukan perilaku agresif, baik dalam bentuk stimulus ataupun respon kepada orang lain. Secara umum hal ini terjadi akibat beberapa sebab seperti kesadaran fisik dan sifat yang masih rendah, dan merasa fikiran lebih maju daripada orang lain serta memiliki keyakinan yang dianggapnya benar (Desmita, 2012, hlm. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Jika pikiran tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresif, hal tersebut juga dapat terjadi dikarenakan pada usia anak-anak, mereka mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka (Hurlock, 1980 hlm . Apabila dilihat dari jenis kelamin subjek yang diteliti, terdapat perbedaan dari tiap-tiap tingkatan perilaku agresif baik dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol, untuk tingkat perilaku agresif tinggi mayoritas dialami oleh siswa berjenis kelamin laki-laki Prophetic : Professional. Empathy. Islamic Counseling Journal Ae Vol. No. Desember 2024 | 111 sedangkan tingkat agresif rendah adalah siswa perempuan. Asumsi bahwa laki-laki secara umum lebih agresif dari pada perempuan telah dikuatkan oleh pengamatan sehari-hari, catatatn kriminalitas, maupun konsep mengenai gender (Krahe, 2001, hlm. Penelitian mengenai perkembangan mengungkapkan bahwa perbedaan gender dalam perilaku agresif muncul sejak awal kehidupan, yaitu sejak sekita umur tiga tahun (Coie dan Dogde, 1998. Maccoby, 1. Selain itu Loeber . juga menyebutkan bahwa perbedaan gender dalam agresif terlihat sejak usia pra-sekolah, perbedaan tersebut menunjukkan tingkat perilaku agresif anak laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan. Pada penelitian ini pelaksanaan program bimbingan dengan teknik imitation learning diimplementasikan untuk mereduksi perilaku agresif. Program bimbingan dengan teknik imitation learning dikembangkan berdasarkan studi pendahuluan tentang perilaku agresif siswa kelas IV SD X. Secara umum, pelaksanaan proses intervensi dengan menggunakan teknik imitation learning untuk mereduksi perilaku agresif berjalanan sesuai dengan rancangan program. Intervensi yang diberikan dikatakan berhasil apabila terjadi penurunan skor perilaku agresif siswa dari hasil pre-test dan post-test, selain itu analisis kualitatif selama proses intervensi juga mendukung data kuantitatif dalam menilai keberhasilan teknik yang Berdasarkan hasil analisis data penelitian, didapatkan perubahan tingkat perilaku agresif pada tiap-tiap kelas, hal tersebut dapat terlihat dari perbandingan skor pre-test sebelum pemberian intervensi dan skor post-test setelah pemberian intervensi. Pada kelompok kontrol terdapat perubahan dari skor total 45 menjadi 34, hal ini mengindikasikan terjadi penurunan sebanyak 9 angka pada kelompok kontrol, yaitu dari 9 subjek yang diteliti pada kelompok kontrol didapatkan data bahwa 5 orang siswa mengalami perubahan tingkat perilaku agresif, sedangkan 4 lainnya tetap pada skor pada saat pre-test, yaitu 2 orang tetap pada kategori agresif sedang dan 2 orang tetap pada agresif rendah. Pada kelompok eksperimen terjadi penurunan total skor dari 48 menjadi 28, hal ini mengindikasikan terjadi penurunan sebanyak 20 angka pada kelompok eksperimen, yaitu dari 9 subjek yang diteliti pada kelompok eksperimen didapatkan data bahwa 6 orang siswa mengalami penurunan tingkat perilaku agresif, sedangkan 3 lainnya tetap pada skor pada saat pre-test, yaitu 2 orang tetap pada kategori agresif rendah dan 1 orang tetap pada agresif sedang. SIMPULAN Secara umum, siswa kelas IV di Sekolah dasar X mempunyai kecenderungan perilaku agresif yakni sebanyak 11 siswa atau 26% berada pada tingkat perilaku agresif tinggi, 7 siswa atau 16,7% berada pada tingkat perilaku agresif sedang, dan 23 siswa atau 54% berada pada tingkat perilaku agresif rendah. Program imitation learning dalam setting bimbingan kelompok disusun berdasarkan diskripsi kebutuhan siswa yang mempunyai kecenderungan perilaku agresif. Pelaksanaan layanan ini dilakukan pada siswa kelompok eksperimen sebanyak 9 anak yang terdiri dari tiap-tiap kategori perilaku agresif, yaitu masing-masing 3 orang anak dari tingkat agresif tinggi, sedang, dan rendah. Pelaksanaan layanan terdiri dari 5 sesi pertemuan dan menggunakan dua jenis teknik imitation learning, yaitu live imitation learning dan simbolic imitation learning. Berdasarkan perhitungan statistik menunjukkan bahwa teknik imitation learning tidak efektif untuk mereduksi perilaku agresif siswa SD, hal ini ditunjukkan dengan hasil 112 | Pranatha. Saputra. Ubaidillah Ae Imitation Learning dalam . perhitungan statistik yaitu Asymp. Sig. -taile. = 0,501 > 0,05. Namun apabila dilihat dari hasil observasi dan perubahan skor post-test tiap-tiap siswa pada kelompok eksperimen, maka dapat diasumsikan bahwa teknik imitation learning dapat mereduksi perilaku agresif anak. DAFTAR PUSTAKA