Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Penanaman Nilai-Nilai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek Di SMPN 54 Bandung Azizah Uswatun Hasanah1. Wahyu Hidayat2 Abstrak Tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia perlu dihadapi secara bersamasama terlebih adanya pandemic covid-19 yang menambah dampak signifikan terhadap lapangan pekerjaan khususnya di Indonesia. Salah satu solusinya dengan penanaman nilai-nilai kewirausahaan di kalangan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan alat pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Adapun teknik analisis datanya melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan dan penjualan jamu dapat menjadi metode yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kewirausahaan pada siswa. Kata Kunci: Nilai-Nilai. Kewirausahaan. Proyek Abstract The high unemployment rate in Indonesia needs to be faced together, especially with the Covid-19 pandemic which has had a significant impact on employment opportunities, especially in Indonesia. One solution is to instill entrepreneurial values among students. This research uses a qualitative approach using observation, interview and documentation study data collection tools. The data analysis techniques are through reduction, presentation and drawing conclusions. The results of this research indicatethat project-based learning through making and selling herbal medicine can be an effective method in instilling entrepreneurial values in students. Keywords: Values. Entrepreneurship. Projects PENDAHULUAN Tingginya tingkat pengangguran di suatu negara merupakan masalah yang terusmenerus terjadi, dengan jumlah pengangguran yang meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Situasi ini diperburuk oleh dampak Covid-19 yang berdampak signifikan terhadap tingkat lapangan kerja. Menurut Badan Pusat Statistik . Indonesia memiliki 9,1 juta pengangguran pada Agustus 2021, naik dari 8,7 juta, namun turun dari 9,8 juta pada tahun sebelumnya. Meskipun terjadi fluktuasi. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung azizahuswah03@gmail. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung wahyuhidayat@uinsgd. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Indeks Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Pengangguran Terbuka (IPT) menunjukkan adanya penurunan Per Agustus 2021. Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia tercatat sebesar 6,49%. Pandemi Covid-19 terus memberikan dampak negatif terhadap kondisi kerja di Indonesia, meskipun tidak separah tahun sebelumnya ketika negara ini pertama kali menghadapi ancaman virus corona. Sebanyak 21,32 juta penduduk usia kerja terdampak Covid-19, turun 7,8 juta orang dari 29,12 juta orang pada Agustus 2020. Jumlah pengangguran akibat Covid-19 turun 740 ribu orang, dari 2,56 juta orang pada Agustus 2020 menjadi 1,82 juta jiwa. Selain itu, jumlah pekerja yang dikurangi jam kerjanya turun sebanyak 6,62 juta orang, dari 24,03 juta orang pada Agustus 2020 menjadi 17,41 juta orang. Badan Pusat Statistik melaporkan 700 ribu orang bukan angkatan kerja, meningkat 60 ribu dari 760 ribu pada periode yang sama tahun sebelumnya. Terakhir, jumlah pengangguran sementara berkurang 3,80 juta menjadi 1,39 juta. (Abdul Rahman & Zulfa Riani, 2. Menurut Kamar Dagang dan Industri (KADIN), idealnya suatu negara memiliki 2,5% penduduknya yang berwirausaha, namun saat ini Indonesia hanya memiliki 2%. Hal ini menandakan bahwa Indonesia masih kekurangan wirausaha dan nilai kewirausahaan. Tingginya tingkat pengangguran dan rendahnya jumlah wirausaha menunjukkan bahwa peningkatan jumlah wirausaha dapat membantu mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja, sehingga memberikan manfaat bagi perekonomian. (Khamimah, 2. Tampaknya Indonesia pengembangan karakter dan perilaku kewirausahaan siswa, dan hanya fokuspada persiapan mereka memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, pembinaan danpenanaman nilai-nilai kewirausahaan pada siswa dapat menjadi solusi utamauntuk mengatasi permasalahan penting dalam menghasilkan sumber dayamanusia yang berkarakter kuat dan memiliki pola pikir kewirausahaan di tanah air. Penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada peserta didik dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain metode pembelajaran aktif dan praktiklangsung. Sebagaimana dikemukakan oleh Mulyani . , metode proyek yangmewujudkan konsep belajar sambil melakukan . earning by doin. Pendekatan ini menawarkan banyak manfaat, seperti menstimulasiperkembangan kognitif, sosial, dan emosional siswa, sekaligus pembelajaran menyenangkan dan bermakna. (Syifauzakia, 2. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Sehingga dari permasalahan tersebut terbentuk rumusan masalah yang menjadi fokus Bagaimana Perencanaan Penanaman Nilai-Nilai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek?, . Bagagaimana Proses Implementasi Penanaman Nilai-Nilai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek?. Bagaimana Hasil Yang Diperoleh Dari Penanaman Nilai-Milai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek? KAJIAN TEORI Menurut Zimmerer, kewirausahaan melibatkan pemanfaatan kreativitas dan inovasi untuk mengatasi tantangan dan mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan bisnis dan Hal ini menyiratkan bahwa kewirausahaan mencakup lebih dari sekedar mengelola bisnis. hal ini memerlukan pemanfaatan konsep-konsep baru dan imajinatif untuk mengatasi beragam masalah. Pada dasarnya, wirausahawan perlu berpikir inovatif dan kreatif untuk merancang pendekatan baru guna meningkatkan produk, layanan, atau prosedur yang ada, sehingga menghasilkan keuntungan bagi perusahaan mereka. (Sari & Hasanah, 2. Sedangkan Pendidikan kewirausahaan adalah inisiatif terstruktur yang bertujuan untuk menumbuhkan suasana kondusif untuk mengajar siswa tentang kewirausahaan. Perjalanan keterampilan, penerapan sikap, dan pemeliharaan sifat-sifat pribadi yang mendorong pendekatan metodis dalam tindakan kewirausahaan. Pembelajaran yang sukses dalam kerangka ini memerlukan pendekatan yang selaras dengan tujuan pendidikan (Iskandar, 2. Pendidikan formal dapat berkontribusi dalam pengajaran kewirausahaan di berbagai tingkatan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, melalui beragam metodologi pengajaran yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan memupuk kreativitas mereka. Biasanya, hal ini terjadi dalam berbagai mata pelajaran, khususnya IPS, atau melalui kursus khusus seperti kerajinan tangan dan kewirausahaan di tingkat sekolah menengah pertama dan atas. Selain itu, pendidikan ekstrakurikuler juga dapat menumbuhkan kewirausahaan pada anak dengan tidak hanya memberikan keterampilan tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan kreativitas. Tanpa menanamkan sifat-sifat tersebut, pendidikan ekstrakurikuler hanya akan mempersiapkan individu untuk bekerja dibandingkan berwirausaha. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Pendidikan kewirausahaan menggunakan beragam metode pendidikan dan pelatihan untuk mempengaruhi sikap, perilaku, nilai-nilai, dan aspirasi pribadi terkait dengan upaya mengejar usaha bisnis mandiri sebagai pilihan karir yang layak di masyarakat. Wirausahawan dibedakan berdasarkan kapasitasnya untuk mengubah konsep menjadi inisiatif nyata dengan menggunakan kreativitas, inovasi, manajemen risiko, serta perencanaan dan pelaksanaan proyek yang efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Memahami dan mewujudkan nilai-nilai kewirausahaan sangat penting untuk mempengaruhi perilaku kewirausahaan. Nilai-nilai ini mencakup sifat-sifat seperti kreativitas, kemauan mengambil risiko, inovasi, dorongan untuk mencapai prestasi, ambisi, dan kemandirian. Mereka sangat penting dalam mengembangkan konsep pribadi atau masyarakat menjadi usaha bisnis yang layak, lebih dari sekadar tindakan atau hasil. Nilai berfungsi sebagai landasan untuk memahami sikap dan mendorong motivasi, membentuk cara individu memandang dan terlibat dalam upaya bisnis. Oleh karena itu, menguasai nilai-nilai kewirausahaan sangat diperlukan untuk mengelola dinamika organisasi secara efisien. Boohene. Sheridan, & Kotey menguraikan bahwa prinsip-prinsip kewirausahaan mencakup kreativitas, penerimaan risiko, pemikiran inovatif, pola pikir yang berorientasi pada tujuan, ambisi, dan kemandirian, semuanya berkontribusi terhadap perilaku kewirausahaan yang kuat. Tingkat kreativitas dalam suatu perusahaan dapat berdampak signifikan terhadap cara usaha kecil berinovasi, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan kemakmuran bisnis. (Sukirman, 2. Pembelajaran mencakup pengorganisasian dan pengaturan lingkungan siswa untuk mendorong dan mendukung upaya belajar mereka. Ini juga melibatkan pemberian bimbingan dan dukungan kepada siswa sepanjang perjalanan belajar mereka. Peran guru sebagai fasilitator berbeda-beda tergantung pada tantangan unik yang dihadapi setiap Dalam lingkungan pembelajaran apa pun, terdapat variasi yang tidak dapat dihindari di kalangan siswa, termasuk siswa yang cepat memahami konsep dan siswa lainnya yang membutuhkan lebih banyak waktu dan dukungan. (Pane & Darwis Dasopang, 2. Perbedaan ini memerlukan pengembangan strategi pembelajaran yang disesuaikan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan spesifik setiap siswa. Oleh karena itu, jika inti Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. pembelajaran diartikan sebagai AuperubahanAy, maka esensinya juga dapat digambarkan sebagai AuorganisasiAy. Proses pendidikan ditentukan oleh interaksi yang didorong oleh tujuan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi tersebut bermula dari aktivitas pendidik . dan pedagogi yang melibatkan siswa, yang berlangsung secara berkala melalui tahapan desain, implementasi, dan evaluasi. Pembelajaran terjadi secara progresif, tidak serta merta, melalui fase-fase yang telah ditentukan ini. Dalam kerangka ini, pendidik membantu siswa untuk menjamin pembelajaran yang efektif. Akibatnya, interaksi ini menumbuhkan proses pembelajaran yang efisien seperti yang diharapkan. (Maesaroh. Pembelajaran berbasis proyek memanfaatkan proyek atau aktivitas sebagai alat pengajaran, mendorong eksplorasi, evaluasi, interpretasi, sintesis, dan pengumpulan data untuk mencapai beragam tujuan pembelajaran. Proyek mencakup tugas-tugas rumit yang berpusat pada pertanyaan dan permasalahan yang menantang, mengharuskan siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan pertanyaan, dan bekerja secara mandiri, denganmemikul tanggung jawab penuh atas tugas mereka. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman konten tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menerapkanwawasan teoritis yang diperoleh di kelas. Keterampilan ini mencakup komunikasi dan berbicara di depan umum, manajemen organisasi dan waktu, penelitian dan penyelidikan, penilaian diri dan introspeksi, kolaborasi tim dan kepemimpinan, serta berpikir kritis. (Bistari, et al. , 2. Umamah & Andi . menyoroti pembelajaran berbasis proyek sebagai pendekatan inovatif dan kaya konteks, menantang siswa dengan tugas-tugas kompleks yang mendorong pemahaman lebih dalam tentang konsep dan prinsip inti dalam berbagai disiplin ilmu. Metode ini mendorong pemecahan masalah dan memberdayakan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui produksi produk otentik. (Purnomo & Ilyas. Boss dan Kraus, sebagaimana dikutip dalam Abidin . , mengusulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek menumbuhkan keterlibatan siswa dengan melibatkan mereka dalam mengatasi beragam tantangan terbuka dan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. menggunakan pemahaman mereka untuk mengembangkan keluaran tertentu. Pendekatan ini mendorong siswa untuk menggunakan pemikiran kritis dan kreatif dalam mengatasi isu-isu otentik, memadukan pengetahuan yang mereka peroleh untuk menghasilkan hasil yang nyata dan bermanfaat. (Agus Umar, 2. METODE PENELITIAN Pada Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang berpusat pada pengamatan kejadian atau indikasi alam. Dengan menginterpretasikan hasil, pemahaman, dan kontekstualisasi proses penanaman nilai-nilai kewirausahaan di SMPN 54 Kota Bandung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Dengan informasi penelitiannya yakni Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Ibu Rohayati. Pd,. Adapun teknik analisis datanya dalam mentranskip wawancara, memadatkan data, serta menfasirkan temuan, yakni dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Penanaman Nilai-Nilai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek Kegiatan penanaman nilai-nilai kewirausahaan melalui pembelajaran berbasis proyek. SMPN 54 Kota Bandung terlebih dahulu seluruh pemangku kepentingan melakukan perencanaan yang sistematis dan bertahap untuk memastikan proses pembelajaran terfokus dan selaras dengan tujuan yang diinginkan. Sebelum diadakannya pembelajaran tentu perlu adanya perencanaan kegiatan, selain itu kita perlu mengetahui kondisi juga kemampuan peserta didik agar materi yang akan di kerjakan tidak memberatkan dan sesuai dengan jenjang kelasnya. (Hidayat. Jahari, & Nurul Shyfa, 2. Hal ini juga sejalan dengan temuan penelitian Hasanah tahun . yang menekankan pentingnya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang cermat dalam menanamkan nilai-nilai kewirausahaan pada siswa, seperti yang terlihat di TK Khalifah untuk membimbingmereka mencapai tujuan. SMPN 54 Kota Bandung menerapkan kurikulum merdeka dengan memasukkan profil siswa Pancasila yang memuat tema-tema seperti kewirausahaan. Hal ini merupakan faktor penting dalam memfasilitasi pelaksanaan proyek kewirausahaan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kewirausahaan melalui pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan ini selaras Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. dengan penelitian Hilmi. Djono, & Ediyono pada tahun . yang mengidentifikasi tujuh tema yang cocok untuk satuan pendidikan di tingkat SMP, dengan kewirausahaan menjadi salah satu dari tiga tema yang direkomendasikan berdasarkan pertimbangan budaya dan kedaerahan. Perencanaan pra-implementasi yang dilakukan guru untuk proyek di SMPN 54 Kota Bandung melibatkan pemilihan tema yang sesuai untuk pembelajaran berbasis proyek, dengan mempertimbangkan konteks budaya dan situasional di wilayah sekolah menengah Perencanaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil yang diinginkan tercapai secara efektif. Hal ini sejalan dengan temuan Rokhmawati. Mahmawati, & Yuswandari . yang menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran dalam keberhasilan mencapai arah, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan. Mengingat dampak pandemi Covid-19, para guru memilih tema yang berfokus pada kewirausahaan dan kearifan lokal, khususnya produksi dan perdagangan jamu di lingkungan sekolah. Sebelum memulai proyek, guru di SMPN 54 membiasakan siswa dengantujuan proyek dan spesifik terkait tema yang dipilih. Awalnya, tema ini dipilih untuk mempromosikan kesehatan, terutama karena banyak siswa dan guru yang terkena dampak pandemi ini, menyoroti pentingnya pengobatan herbal untuk menjaga kesehatan dan kehangatan. Pendekatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai- nilai kewirausahaan seperti kemandirian, kreativitas, ketekunan, inovasi, dan rasa ingin tahu. Selanjutnya, sesi orientasi guru meliputi diskusi teori tentang jamu, kandungan, manfaat, dan proses produksinya, memanfaatkan beragam teknologi informasi seperti YouTube. Google, dan TikTok untuk membantu pemahaman siswa. Fokus utama dari perencanaan ini adalah untuk memastikan siswa memahami setiap tahap pengembangan produk dan memahami relevansi praktis kewirausahaan dan kearifan lokal dalam skenario kehidupan nyata. Pendekatan ini selaras dengan penelitian Rachman . yang menekankan perlunya perencanaan untuk mengartikulasikan tujuan, hasil, dan strategi pembelajaran yang jelas untuk memudahkan pemahaman siswa tentang perjalanan belajar dan memungkinkan kelancaran pencapaian tujuan pembelajaran. Proses Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek Setelah adanya perencanaan maka proses implementasi dimulai dengan pelaksanaan proyek pembuatan jamu di rumah masing-masing siswa. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. dikarenakan pandemic covid-19. Sehingga guru memiliki kewirausahaan dan pembuatan jamu agar siswa dapat melakukan proyek ini secara mandiri di rumah. Implementasi proyek dilakukan beberapa tahap, diantaranya : Desain : Dimana guru menentukan tema proyek dan menyusun rencana kegiatan pembuatan dan penjualan jamu. Pelaksanaan : Dimana siswa membuat berbagai jenis jamu seperti beras kencur, bajigur, dan kunyit asem di rumah masing-masing dengan memilih salah satu dari jenis jamu tersebut. Setelah berhasil siswa membawa jamu tersebut untuk diberikan kepada guru, untuk melihat apakah jamu yang dibuat telah berhasil. Setelah secara mendiri berhasil. Langkah selanjutnya adalah siswa membuat jamu secara berkelompok. Proses inilah melibatkan kerjasama antar siswa, meskipun rumah antara satu siswa dengan yang lainnya memiliki jarak yang jauh, dengan adanya berkelompok membuat pembagian tugas yang jelas, siapa yang akan membeli bahan, siapa yang akan memasak, siapa yang akan mengupas bahan, dll. Dari sanalah terbentuk nilai kewirausahaan pada siswa seperti nilai kerjasama, gotong royong, kreatif, inovatif, tanggung jawab, komunikatif, dan kerja keras. Evaluasi : dimana produk jamu yang telah dibuat akan dijual di acara sekolah yang melibatkan SMPN 2 Kota Bandung yang mengundang secara langsung kepada SMPN 54 Kota Bandung untuk membuka stand jualan disana, dan siswa mempraktikkan komunikasi pemasaran serta teknik penjualan langsung kepada masyarakat, orang tua, dan dinas pendidikan. Melalui pendekatan kolaboratif dan individual ini, siswa memperoleh wawasan dalam merencanakan tindakan mereka, melaksanakan tugas secara efektif, dan menciptakan keluaran unik mereka. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Patton dalam (Maesaroh, 2. yang mendefinisikan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai melibatkan siswa dalam proses perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan proyek untuk mencapai hasil yang nyata. Adapun tantangan yang terjadi saat pelaksanaan adalah banyaknya siswa Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. yang terkena wabah covid-19, terbatasnya kendaraan saat siswa melakukan kerja kelompok di rumah temannya yang jauh. Solusi yang diberikan guru adalah memberikan panduan dan pengingat selalu kepada siswa untuk menjaga protocol kesehatan selama pandemic, seperti memakai masker dan menjaga kebersihan. Isrotun . menyarankan agar guru memberikan dukungan kepada siswa agar mereka dapat belajar secara efektif dan mencapai hasil pembelajaran berkualitas Hasil Yang Diperoleh Dari Penanaman Nilai-Nilai Kewirausahaan Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek Hasil proyek menunjukkan keberhasilan dalam beberapa dimensi. Misalnya, dalam hal pengembangan produk, siswa mencapai kemahiran dalam membuat obat herbal berkualitas tinggi yang cocok untuk dijual di pasar. Mereka memahami proses produksi yang terlibat dan manfaat kesehatan yang terkait dengan ramuan herbal ini. Selain itu, aspek kemahiran menjual melibatkan siswa mengasah bakat kewirausahaan dengan memasarkan produk herbal secara efektif, baik secara offline seperti acara sekolah maupun melalui platform online. Selain itu, penerapanpengetahuan teoretis yang diperoleh melalui sesi pembelajaran terbukti dalam skenario dunia nyata, sehingga memperkaya pengalaman belajar secara signifikan. Selain itu, proyek ini memupuk atribut seperti kemandirian dan kecerdikan, memberdayakan siswa untuk menavigasi tugas proyek secara mandiri dan meningkatkan kreativitas mereka dalam penciptaan produk dan promosi. Aspek kolaboratif juga patut diperhatikan karena siswa berkolaborasi secara harmonis dalam kelompok untuk menciptakan pengobatan herbal, mengatasi tantangan jarak dan mengoordinasikan tugas secara efisien. Aspek-aspek ini secara kolektif menanamkan nilai-nilai kewirausahaan pada siswa, menumbuhkan sifat-sifat seperti tanggung jawab, keterampilan komunikasi, ketekunan, rasa ingin tahu, dan kecenderungan mengambil Berbeda dengan temuan penelitian Handayani tahun . yang menguraikan 11 nilai kewirausahaan antara lain kemandirian, kreativitas, tanggung jawab, disiplin, rasa ingin tahu, komunikasi, kejujuran, inovasi, kepemimpinan, kerjasama, dan kerja keras, penelitian ini semakin menonjolkan pengembangan kreativitas, kemandirian, dan Disisi lain, penelitian Handayani terutama menggali penanaman kejujuran dan inovasi sebagai nilai-nilai kewirausahaan yang penting. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Keberhasilan ini juga didukung oleh kontribusi orang tua dan sekolah dalam memberikan dukungan finansial dan moral, serta mempromosikan produk jamu kepada Orang tua memainkan peran penting dalam membimbing siswa dan membantu memasarkan produk mereka. Rencana ke depan adalah untuk meningkatkan frekuensi proyek kewirausahaan agar nilai-nilai ini tertanam lebih kuat dalam diri siswa, serta memastikan sekolah lebih memfasilitasi kebutuhan siswa dalam menjalankan proyek-proyek kewirausahaan. KESIMPULAN Berdasarkan temuan dan pembahasan spesifik yang diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat merangkum hasil penelitian ke dalam beberapa poin penting, yang meliputi: Bahwa perencanaan penanaman nilai-nilai kewirausahaan melalui pembelajaran berbasis proyek di SMPN 54 Kota Bandung ini dimulai dari pemelihan tema serta alasan memilih tema tersebut. Dimana sekolah memilih tema kewirausahaan dan kearifan lokal alasan saat itu karena pada masa covid-19 dimana banyak siswa yang terkena wabah tersebut sehingga guru mengambil tema pembuatan jamu agar siswa dapat membuat jamu sendiri untuk kesehatannya di rumah. Pelaksanaan proyek tersebut tentunya memberikan dampak yang positif kepada siswa khususnya adalah menanamkan siswa nilai-nilai kewirausahaan seperti kerjasama, kreativitas, kemandirian, kerja keras, tanggung jawab, komunikatif, berani mengambil risiko, dan rasa ingin tahu. Nilai-nilai kewirausahaan tersebut tertanam dari pembelajaran berbasis proyek ini lebih tepatnya pembuatan jamu baik secara mandiri maupun berkelompok. Hasil dari proyek ini didapatkan cukup banyak aspek. Selain itu kunci keberhasilan penanaman nilai kewirausahaan juga karena adanya perencanaan yang sistematis, dukungan dari sekolah maupun orang tua, yang membuat proyek pembuatan dan penjualan jamu ini berhasil dan tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tetapi pengalaman praktis yang sangat berharga bagi siswa dalam mengembangkan keterampilan kewirausahaan dan membangun karakter atau jiwa yang mandiri, kreatif, serta kooperatif. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 170 - 181 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. SARAN Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini merupakan saran yang disesuaikan dengan kebutuhan yang dapat diajukan peneliti kepada pemangku kepentingan terkait, yang terdiri dari: Sekolah dapat meningkatkan dukungan mereka terhadap pembelajaran berbasis proyek dengan menyediakan lebih banyak sumber daya dan infrastruktur. Disarankan bagi kepala sekolah dan pengembang kurikulum untuk mengintegrasikan perencanaan program kewirausahaan untuk mendorong tumbuhnya kemampuan kewirausahaan siswa. DAFTAR PUSTAKA