Jurnal Magistra Volume. 3 Nomor. 3 September 2025 e-ISSN: 3026-6572. p-ISSN: 3026-6580. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62200/magistra. Tersedia: https://ejurnal. id/index. php/magistra Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Paulinus Kanisius Ndoa1*. Sitepanus Zebua2. Anna Silfan Gulo3 1,2,3 STP Dian Mandala Gunungsitoli. Indonesia *Korespondensi penulis: nusndoa@stpdianmandala. Abstract. This paper aims to examine in depth the application of the behaviorist learning theory proposed by Edward Lee Thorndike in the learning process of Catholic Religious Education. Thorndike emphasized that the learning process occurs through the relationship between stimuli and responses, which are strengthened through repeated practice and reinforcement. This reinforcement can be in the form of awards such as praise and prizes, or punishments that function to strengthen or weaken certain responses. In this study, the author also describes in detail the basic laws in Thorndike's theory which are the foundation for implementing the behaviorist approach in teaching and learning activities. Furthermore, this theory can be applied practically in Catholic Religious Education learning by providing appropriate stimulus and reinforcement to students through directed learning The stimulus and reinforcement have the potential to encourage changes in attitudes and behavior in a more positive direction, in accordance with the values of the Catholic faith. Therefore, teachers as learning facilitators need to develop learning strategies that are planned, structured, and able to shape students' character and faith comprehensively and continuously. Keywords: Catholic Learning. Learning theory. Reinforcement of the response. Religious Education. Student Abstrak. Penulisan skiripsi ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam penerapan teori belajar behavioristik yang dikemukakan oleh Edward Lee Thorndike dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Thorndike menekankan bahwa proses belajar terjadi melalui keterkaitan antara rangsangan . dan tanggapan . , yang diperkuat melalui latihan yang dilakukan secara berulang serta pemberian penguatan. Penguatan tersebut bisa berupa penghargaan seperti pujian dan hadiah, maupun hukuman yang berfungsi untuk memperkuat atau melemahkan respons tertentu. Dalam kajian ini, penulis juga menguraikan secara rinci hukumhukum dasar dalam teori Thorndike yang menjadi fondasi dalam penerapan pendekatan behavioristik dalam kegiatan belajar mengajar. Lebih lanjut, teori ini dapat diterapkan secara praktis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dengan memberikan stimulus dan penguatan yang tepat kepada siswa melalui kegiatan belajar yang terarah. Stimulus dan penguatan tersebut berpotensi mendorong perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih positif, sesuai dengan nilai-nilai iman Katolik. Oleh karena itu, guru sebagai fasilitator pembelajaran perlu menyusun strategi pembelajaran yang terencana, terstruktur, serta mampu membentuk karakter dan keimanan siswa secara menyeluruh dan berkesinambungan. Kata kunci: Karakter siswa. Pembelajaran Katolik. Pendidikan Agama. Penguatan respons. Teori belajar. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan sarana utama dalam membentuk kemampuan peserta didik baik secara akademik maupun non-akademik. Melalui pendidikan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami proses pembentukan perilaku yang lebih baik. Proses belajar yang terjadi di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membantu peserta didik mengembangkan kepribadian serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai sosial yang berlaku. Oleh karena itu, pendidikan diharapkan mampu menghasilkan perubahan perilaku yang positif pada diri anak (Djollong et al. , 2023, hlm. Dalam prakteknya, guru sebagai pendidik berperan penting dalam mengarahkan peserta didik menuju perubahan perilaku melalui berbagai metode dan pendekatan pembelajaran. Naskah Masuk: Juli 21, 2025. Revisi: Agustus 30, 2025. Diterima: September 15, 2025. Tersedia: September 25, 2025. Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Salah satu pendekatan yang relevan adalah teori belajar behavioristik yang menekankan pada hubungan stimulus dan respons sebagai dasar terbentuknya perilaku. Teori ini beranggapan bahwa perubahan perilaku dapat diamati, diukur, dan dibentuk melalui pengalaman belajar yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan (Abdurahman et al. , 2024, hlm. Edward Lee Thorndike sebagai salah satu tokoh utama dalam aliran behavioristik mengemukakan bahwa belajar adalah proses pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons yang diperkuat melalui hukum-hukum belajar. Pemikiran Thorndike menekankan bahwa perilaku peserta didik dapat dibentuk secara sistematis melalui penguatan positif dan latihan yang berulang. Pandangan ini relevan dengan tujuan pendidikan yang menekankan pada pembentukan karakter dan perilaku peserta didik (Semiun, 2020, hlm. Pendidikan Agama Katolik sebagai salah satu mata pelajaran yang berperan dalam membentuk kepribadian dan karakter siswa, memiliki kontribusi besar dalam menanamkan nilai moral, spiritual, serta sikap toleransi terhadap perbedaan. Namun, pada kenyataannya masih ditemukan berbagai permasalahan perilaku peserta didik di lingkungan sekolah dan masyarakat, seperti kurangnya sopan santun, tindakan perundungan, serta rendahnya kepedulian terhadap sesama. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran agama belum sepenuhnya berhasil dalam membentuk perilaku siswa secara optimal (Dewi et al. , 2020, hlm. Melihat urgensi pembentukan karakter melalui pendidikan, khususnya dalam konteks Pendidikan Agama Katolik, pendekatan behavioristik menurut Edward Lee Thorndike menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis penerapan teori belajar behavioristik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik, serta relevansinya dalam membantu peserta didik mengalami perubahan perilaku yang lebih baik. KAJIAN TEORITIS Konsep Teori Belajar Behavioristik Salah satu teori belajar yang menekankan pada terbentuknya perubahan perilaku peserta didik sebagai indikator keberhasilan pemeblajaran adalah teori belajar behavioristik. Teori belajar behavioristik merupakan salah satu pendekatan dalam psikologi yang menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati secara langsung sebagai indikator utama dalam memahami proses belajar. Pendekatan ini bertumpu pada keyakinan bahwa segala bentuk perilaku manusia dapat dijelaskan melalui interaksi yang terjadi antara individu dengan Dalam pandangan ini, pembelajaran tidak dipandanag sebagai proses internal JURNAL MAGISTRA Ae VOLUME 3. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3026-6572. p-ISSN: 3026-6580. Hal. yang kompleks, melainkan sebagai hasil dari asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon (Jelita et al. , 2023, hlm. Teori ini berorientasi pada pencapaian hasil-hasil yang bersifat konkret, dapat diamati secara langsung, serta memungkinkan untuk dianalisis dan dievaluasi secara objektif. Fokus utama dari teori ini adalah pada aspek-aspek perilaku yang tampak, bukan pada proses mental yang bersifat internal dan sulit diukur. Melalui penerapan prinsip-prinsip behavioristik, pembelajaran diarahkan untuk membentuk respons-respons tertentu melalui penguatan, sehingga individu mengalami perubahan nyata dalam cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Dengan demikian, teori ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk transformasi perilaku dan sikap individu melalui pengaruh lingkungan secara sistematis (Suputra, 2023, hlm. Teori belajar behavioristik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dinilai efektif untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pendekatan ini dianggap mampu berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran serta mendukung siswa dalam mengembangkan keterampilan belajar yang positif. Hal ini dimungkinkan melalui peran motivasi yang diberikan oleh pendidik, yang dapat memperkuat respons siswa terhadap materi pelajaran. Teori ini memiliki karakteristik khas yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal, sesuai dengan arah dan target yang telah Oleh sebab itu, pendekatan ini sering digunakan dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah, guna memperlancar dan mempermudah berlangsungnya aktivitas belajar mengajar secara sistematis (Telaumbanua, 2024, hlm. Salah seorang ahli psikologi khususnya teori belajar behavioristik, yaitu Edward Lee Thorndike menawarkan pemikiran yang memberi pengaruh besar terhadap perubahan tingkah laku peserta. Edward Lee Thorndike sebagai salah satu tokoh behavioristik menawarkan metode pembelajaran untuk diterapkan dalam dunia pendidikan dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran khususnya pada pendidikan dasar, dengan menekankan pada stimulus dan respon yang akan membantu para peserta didik dalam mengalami perubahan perilaku menjadi lebih baik seiring dengan berjalannya proses pembelajaran yang diterimanya dalam dunia pendidikan (Semiun, 2020, hlm. Ciri-ciri Teori Belajar Behavioristik Ciri-ciri utama dari teori belajar behavioristik mencakup beberapa aspek penting. Pertama, pendekatan ini menitikberatkan pada pengaruh lingkungan sebagai faktor utama dalam membentuk perilaku individu. Perubahan sikap dan perilaku siswa diyakini terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan sekitarnya, seperti suasana belajar di sekolah. Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik lingkungan tempat tinggal, maupun kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan siswa secara Lingkungan yang kondusif tersebut sangat berperan dalam mengarahkan peserta didik menuju perilaku yang sesuai dengan harapan pembelajaran (Telaumbanua, 2023, hlm. Kedua, hasil belajar yang diharapkan dari penerapan teori ini berfokus pada munculnya perilaku yang dapat diamati dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan secara langsung terhadap perubahan yang tampak dalam tindakan maupun kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari sebagai indikator keberhasilan pembelajaran (Harefa, 2023, hlm. Ketiga, perilaku yang diharapkan terbentuk melalui proses latihan yang konsisten dan pengulangan secara terus-menerus. Dengan menerapkan metode ini, perilaku yang telah diajarkan akan lebih mudah melekat pada diri siswa, sehingga tidak mudah dilupakan dan cenderung menjadi bagian dari kebiasaan mereka dalam jangka panjang. Proses ini akan memperkuat pola perilaku yang diinginkan (Suputra, 2023, hlm. Keempat, teori ini memandang perilaku manusia sebagai sesuatu yang bersifat mekanis atau otomatis. Artinya, perilaku yang ditampilkan merupakan hasil dari stimulus yang diberikan secara berulang, dan respons yang dihasilkan dari stimulus tersebut terjadi secara spontan. Setelah melalui proses pembiasaan, perilaku yang sebelumnya dipelajari tidak lagi membutuhkan pemikiran sadar untuk muncul kembali, melainkan muncul secara refleks karena sudah terbentuk melalui kebiasaan. Kelima, teori ini menempatkan pembentukan respons sebagai aspek yang paling esensial. Fokus utama dalam proses pembelajaran behavioristik adalah bagaimana peserta didik memberikan respons terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, perhatian utama diarahkan pada jenis dan kualitas respons yang ditampilkan siswa, sebagai indikator sejauh mana proses belajar berlangsung secara efektif (Sulaswari & Faidin, 2021, hlm. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Behavioristik . Kelebihan Salah satu keunggulan dari teori belajar yang dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike adalah penekanannya pada pentingnya pengulangan dalam proses pemecahan Melalui pengulangan ini, peserta didik berkesempatan untuk memperoleh beragam pengalaman belajar yang bernilai, yang secara tidak langsung memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka. Di samping itu, penerapan prinsip pemberian penghargaan dan penguatan turut berperan dalam meningkatkan motivasi siswa, sehingga mereka terdorong untuk lebih aktif dalam menghadapi berbagai tantangan dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi (Fatirul & Winarto, 2018, hlm. JURNAL MAGISTRA Ae VOLUME 3. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3026-6572. p-ISSN: 3026-6580. Hal. Selain itu, teori ini turut mendorong anak untuk berpikir secara terstruktur dan logis, mengikuti tahapan-tahapan berpikir yang runtut dalam mencapai kesimpulan. Siswa juga dilatih untuk fokus dalam menemukan solusi yang paling tepat di antara berbagai alternatif jawaban yang tersedia. Hal ini sangat membantu guru dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai indikator pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan yang telah dirancang. Dengan terciptanya hubungan yang sinergis antara guru dan siswa dalam proses belajar, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal (Fatirul & Winarto, 2018, hlm. Kekurangan Terdapat beberapa kelemahan dalam teori belajar behavioristik. Pertama, teori ini sering kali tidak memadai dalam menjelaskan proses belajar yang kompleks, karena dalam praktiknya terdapat banyak faktor yang memengaruhi pembelajaran yang tidak dapat disederhanakan hanya sebagai hubungan antara stimulus dan respons. Kedua, teori ini tidak mampu menjelaskan secara memadai berbagai alasan yang menyebabkan ketidaksesuaian antara stimulus dan respons, serta gagal menguraikan penyebab terjadinya penyimpangan dalam hubungan tersebut. Ketiga, teori ini cenderung memandang manusia secara mekanis dan otomatis, seolah-olah setara dengan hewan. Padahal, meskipun sebagian perilaku manusia bersifat otomatis, tidak semua perilaku dapat dijelaskan atau dipengaruhi hanya melalui pendekatan coba-coba . rial and erro. , karena manusia memiliki aspek kognitif dan emosional yang lebih kompleks (Abduh et al. , 2023, hlm. Keempat, teori behavioristik memandang belajar hanya sebagai hasil dari pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons. Oleh karena itu, proses belajar lebih difokuskan pada penguatan hubungan tersebut melalui latihan berulang-ulang atau ulangan terus-menerus. Dalam pendekatan ini, keberhasilan belajar diukur dari seberapa kuat asosiasi itu terbentuk, bukan dari pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Kelima, karena teori ini menekankan aspek mekanistik dalam proses belajar, unsur pemahaman tidak dianggap sebagai komponen yang penting. Belajar diperlakukan seperti proses otomatis tanpa melibatkan pemikiran mendalam. Akibatnya, peran pengertian dan kemampuan kognitif dalam membangun makna pembelajaran cenderung diabaikan, padahal hal tersebut sangat penting dalam pendidikan yang bertujuan mengembangkan potensi berpikir dan nalar peserta didik (Abduh et al. , 2023, hlm. Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik METODE PENELITIAN Dalam penyusunan artikel ini, penulis menerapkan metode studi pustaka dilakukan dengan menghimpun berbagai sumber literatur yang memiliki keterkaitan dengan topik pembahasan mengenai teori belajar behavioristik. Setelah buku-buku tersebut dikaji, penulis kemudian mengolah dan merangkumnya menjadi sebuah karya ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Agama Katolik dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Pendidikan Agama Katolik merupakan bagian integral dari pendidikan holistik yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya, baik secara rohani maupun jasmani. Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada pengembangan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan iman yang kontekstual, peserta didik diajak untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, yaitu dengan mengamalkan nilai kasih, keadilan, toleransi, dan pengampunan dalam relasi dengan sesama (Bhoki, 2025, hlm. Selain sebagai sarana pendalaman iman. Pendidikan Agama Katolik juga menanamkan nilai-nilai universal yang relevan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti sikap menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karakter peserta didik dibentuk melalui pemahaman bahwa mereka diciptakan segambar dan serupa dengan Allah . Kej. , sehingga memiliki martabat luhur yang perlu dijaga dan dikembangkan (Dewi et al. , 2020, hlm. Pembelajaran agama ini tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan menjadi bagian dari keseluruhan proses pendidikan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik dalam memahami ajaran Gereja dan mengintegrasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini. Pendidikan Agama Katolik menjadi fondasi penting dalam menciptakan pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan spiritual (Pranata et al. , 2020, hlm. Tujuan Pendidikan Agama Katolik Tujuan utama dari Pendidikan Agama Katolik adalah membimbing peserta didik agar mampu memahami, menghayati, dan mengaktualisasikan ajaran iman Katolik dalam hidupnya. Peserta didik diharapkan tidak hanya memahami secara kognitif tentang doktrin dan ajaran Gereja, tetapi juga menerapkannya secara konkret melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan kasih Kristus. Sikap adil, kasih kepada sesama, hormat terhadap orang tua, dan toleransi terhadap perbedaan merupakan wujud nyata dari iman yang dihidupi (Bhoki, 2025. Pendidikan ini juga bertujuan memperteguh iman, membentuk moralitas yang baik. JURNAL MAGISTRA Ae VOLUME 3. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3026-6572. p-ISSN: 3026-6580. Hal. serta menumbuhkan kesetiaan dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup. Landasan biblisnya tercermin dalam Kitab Ulangan 6:6-7 yang menegaskan pentingnya mewariskan ajaran Tuhan kepada generasi muda melalui keteladanan dan pembiasaan (Waruwu & Panjaitan, 2023, hlm. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Teori belajar behavioristik, khususnya yang dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike, diterapkan secara efektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik melalui pendekatan stimulus dan respons. Proses pembelajaran diawali dengan pemberian motivasi untuk membangkitkan minat belajar peserta didik. Guru memberikan stimulus berupa materi, pertanyaan, atau tayangan visual, kemudian mengarahkan peserta didik untuk meresponsnya melalui diskusi, refleksi, maupun tindakan konkret (Wulandari et al. , 2023, hlm. Penerapan teori ini dimulai dengan memastikan kesiapan peserta didik dalam belajar. Guru memberikan stimulus berupa materi pelajaran, pertanyaan reflektif, atau tayangan visual. Respons dari siswa diamati dan diberi penguatan berupa pujian, penghargaan, atau hukuman Melalui metode ini, peserta didik dilatih untuk merespons secara positif terhadap nilai-nilai iman Katolik, seperti sikap peduli terhadap lingkungan, hidup bersih, serta kepedulian terhadap sesama (IstiAoadah, 2020, hlm. Sebagai contoh, dalam materi kepedulian terhadap lingkungan, guru menggunakan video tentang kerusakan alam akibat ulah manusia sebagai stimulus. Peserta didik diminta merespons dengan memberikan pendapat, melakukan kegiatan nyata seperti membersihkan lingkungan, atau membuat komitmen menjaga kebersihan (Paus Fransiskus, 2016. Nomor 209-. Contoh lainnya ialah guru mengajak siswa untuk berperilaku baik dan sesuai dengan ajaran agama katolik bisa dengan mengajak siswa mengamati ataupun mengajak untuk meniru perbuatan orang-orang yang menjadi teladan bagi umat katolik. Dengan demikian siswa akan semakin tahu bagaimana ajaran agama katolik ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Abong, 2023, hlm. Respons yang sesuai diberi penguatan berupa pujian atau hadiah kecil, sedangkan perilaku yang tidak sesuai diberi sanksi edukatif. Proses ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat terjadi melalui penguatan positif dan pengalaman belajar yang berulang, sebagaimana prinsip "law of effect" dan "law of exercise" dari Thorndike (Hizbullah et al. , 2023, hlm. Peran Guru dan Peserta Didik dalam Penerapan Teori Belajar Behavioristik Guru memegang peran sentral dalam implementasi teori behavioristik. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang memotivasi, memfasilitasi stimulus yang efektif, serta memberikan penguatan yang sesuai. Penguatan bisa berbentuk verbal . ujian, ucapan terima Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik kasi. atau non-verbal . enyuman, hadiah simboli. Penerapan teknik ini membantu membentuk respons positif yang berulang dan konsisten dari peserta didik (Hanafiah et al. 2021, hlm. Di sisi lain, peserta didik berperan sebagai individu yang aktif dalam merespons stimulus yang diberikan. Mereka didorong untuk bertanggung jawab terhadap tugasnya, berani mengemukakan ide, dan aktif dalam pembelajaran. Dengan melibatkan peserta didik secara aktif, maka proses pembelajaran menjadi bermakna dan berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka (Sipayung & Sihotang, 2022, hlm. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan berperan penting dalam membentuk kemampuan akademik dan non- akademik peserta didik, termasuk dalam pengembangan perilaku dan karakter. Pendidikan Agama Katolik, sebagai bagian dari pendidikan holistik, memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai moral dan spiritual yang berakar pada ajaran iman Kristiani. Namun, berbagai permasalahan perilaku yang masih ditemukan menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif. Teori belajar behavioristik, khususnya pemikiran Edward Lee Thorndike, menawarkan pendekatan yang relevan dalam membentuk perilaku melalui prinsip stimulus dan respons. Thorndike menekankan pentingnya penguatan positif, latihan berulang, kesiapan belajar, dan pengalaman sebagai dasar pembentukan perilaku. Dalam konteks Pendidikan Agama Katolik, pendekatan ini dapat diterapkan dengan memberikan stimulus berupa materi atau situasi kontekstual, mengamati respons peserta didik, serta memberikan penguatan yang sesuai. Penerapan teori ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku peserta didik dapat dicapai secara sistematis dan bertahap. Guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membimbing peserta didik melalui pengalaman belajar yang konkret dan bermakna. Dengan demikian, penerapan teori belajar behavioristik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik berpotensi meningkatkan efektivitas pembentukan karakter, moral, dan spiritual peserta didik secara lebih optimal. DAFTAR REFERENSI Abduh. Oktaria. Suryana. , & Abdurrahmansyah. Implikasi teori belajar behavioristik Thorndike dalam pembelajaran PAI. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6. https://doi. org/10. 54371/jiip. Abdurahman. Nelly. Suharto, & Retnoningsih. Teori pembelajaran. Sonpedia Publishing Indonesia. JURNAL MAGISTRA Ae VOLUME 3. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3026-6572. p-ISSN: 3026-6580. Hal. Abong. Penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran agama Katolik untuk membentuk karakter siswa di lingkungan sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Katolik, 3. https://doi. org/10. 52075/vctjpk. Bhoki. Psikologi pendidikan: Perspektif pendidikan agama Katolik. Ruang Tentor. Dewi. Wahyuningrum. , & Adinuhgra. Pendidikan agama Katolik sebagai media dalam membentuk kepribadian peserta didik Katolik SMA Negeri 1 Parenggean. Jurnal Pastoral Kateketik, 6. https://doi. org/10. 58374/sepakat. Djollong. Sari. Junizar, & Pramanik. Konsep dasar pendidikan anak usia dini. Sonpedia Publishing Indonesia. Fatirul. , & Winarto. Teori belajar dan konsep mengajar. Jakad Media Publishing. Hanafiah. Masduki. Setiawan. , & Ichsan. (Ed. Aku bangga menjadi guru: Peran guru dalam penguatan nilai karakter peserta didik. AUD Press. Harefa. Teori belajar dan pembelajaran. Jejak. Hizbullah. Muchtar, & Mahanani. Keterampilan memberi penguatan dalam pembelajaran kelas V SD. Jurnal Pembelajaran. Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, 3. https://doi. org/10. 17977/um065v3i12023p1-11 Isti'adah. Teori-teori belajar dalam pendidikan. Edu Publisher. Jelita. Ramadhan. Pratama. Yusri. , & Yarni. Teori belajar Jurnal Pendidikan dan Konseling, 5. Paus Fransiskus. Ensiklik Paus Fransiskus tentang Terpujilah Engkau (Laudato S. (M. Harun. Trans. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Pranata. Wahyuningrum. , & Jalahu. Penanaman karakter melalui pendidikan agama Katolik di sekolah dasar. Jurnal Pastoral Kateketik, 6. https://doi. org/10. 58374/sepakat. Semiun. Teori-teori kepribadian behavioristik. Kanisius. Sipayung. , & Sihotang. Peranan belajar behaviorisme dalam hubungannya dengan teknologi pendidikan serta implikasinya dalam pembelajaran. Jurnal Ilmu Pendidikan, 4. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Sulaswari. , & Faidin. Teori belajar behavioristik: Teori dan praktiknya dalam pembelajaran IPS. Journal of Education, 2. https://doi. org/10. 54168/ahje. Suputra. Teori belajar behavioristik dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan. Sains dan Teknologi, 2. Telaumbanua. Analysis of behavioristic learning theory based on John 4:1-42 and its application in Christian religious education. Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 3. https://doi. org/10. 52489/jupak. Teori Belajar Behavioristik Edward Lee Thorndike dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Telaumbanua. Teori-teori belajar dan penerapannya dalam pendidikan agama Kristen. PBMR ANDI. Waruwu. , & Panjaitan. Pembentukan karakter pada anak usia dini: Kajian Kitab Ulangan 6:7. Jurnal Pendidikan Kristen, 2. https://doi. org/10. 55967/manthano. Wulandari. Sekarsari. Mulyati. , & Ramadhani. Media pembelajaran pendidikan Pancasila kreatif dan inovatif. Cahya Ghani Recover. JURNAL MAGISTRA Ae VOLUME 3. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025