RUNGKAT : Ruang Kata Jurnal Inovasi Pembelajaran. Bahasa, dan Sastra Vol. No. September 2024, pp. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat || KLASIFIKASI EMOSI DAN NILAI KARAKTER TOKOH PADA FILM MANGKUJIWO KARYA DIRMAWAN HATTA DAN ERWANTO APHADULLAH (Kajian Psikologi Sastr. Rani Nuraini1. Bisarul Ihsan2. Laila Tri Lestari3 *1FKIP PBSI Unisda - Indonesia 2Universitas Islam Darul Ulum - Indonesia 3Universitas Islam Darul AoUlum - Indonesia 1raniaini07@gmail. com, 2bisarulihsan@unisda. id, 3lailatri@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 07-07-2024 Revised: 14-08-2024 Accepted: 01-09-2024 ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi emosi serta nilai karakter pada tokoh dalam film Mangkujiwo karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah dengan menggunakan kajian psikologi sastra. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan yaitu teknik pengamatan dan teknik catat dengan mengumpulkan datadata yang berhubungan dengan emosi dan nilai karakter. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu mencermati data, membaca dan memahami kembali dengan teliti hasil catatan yang telah diperoleh pada film, menyusun data berdasarkan klasifikasi data yang telah diperoleh, menginterpretasikan atau menafsirkan data yang telah diklasifikasikan sebelumnya, menarik kesimpulan yangmerupakan jawaban dari analisis. Penelitian ini mendapat dua temuan yang terdiri dari klasifikasi emosi dan nilai karakter tokoh. Dari data yang ditemukan terdapat 25 data yang terdiri atas 14 klasifikasi emosi dan 11 data nilai karakter tokoh dalam film Mangkujiwo. Dengan adanya hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan untuk belajar dalam mengenal dan peka terhadap emosi serta memupuk nilai karakter baik. Kata Kunci: Klasifikasi Emosi. Nilai Karakter. Mangkujiwo ABSTRACT The aim of this research is to determine the emotional classification and character values of the characters in the film Mangkujiwo by Dirmawan Hatta and Erwanto Aphadullah using literary psychology studies. The method used is a qualitative descriptive method. The techniques used are observation techniques and note-taking techniques by collecting data related to emotions and character values. The data analysis techniques used are looking at the data, carefully reading and re-understanding the results of the notes that have been obtained on the film, compiling the data based on the classification of the data that has been obtained, interpreting or interpreting the data that has been previously classified, drawing conclusions that are the answers to the This research obtained two findings consisting of the classification of emotions and character values of the characters. From the data found, there were 25 data consisting of 14 emotional classifications and 11 character value data for the characters in the film Mangkujiwo. The results of this research can provide insight into learning to recognize and be sensitive to emotions and foster good character values. Keywords: Shopee. Products. Language This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/rungkat rungkat@unisda. Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. Pendahuluan Keberadaan karya sastra juga tidak hanya sebatas penghibur bagi pembacanya, melainkan sebagai wadah untuk meluapkan segala perasaan, emosi atau jiwa pengarangnya. Ungkapan emosi sedih, bahagia, marah, kecewa yang ditampilkan pengarangnya. Sehingga karya sastra juga sangat erat berkaitan dengan aspek psikologi. Psikologi dan sastra memiliki hubungan erat karena membahas mengenai manusia dan kehidupannya (Endraswara, 2011:. Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sastra sebagai aktifitas Adapun teori psikologi sastra yang dikemukakan oleh David Krech tentang klasifikasi emosi yakni penggolongan bentuk emosi yang ditampilkan para tokoh didalam karya sastra. Teori David Krech yang menekankan pada kondisi emosi pada tokoh karya sastra yang diklasifikasikan menjadi enam yakni konsep rasa bersalah, rasa bersalah yang dipendam, menghukum diri sendiri, rasa malu, kesedihan, kebencian, cinta. Kajian psikologi sastra dapat dilihat melalui aspek-aspek kejiwaan para tokoh yang ada di dalam karya sasra Hal ini sesuai dengan pendapat Endraswara, . Salah satu karya sastra yang mengajarkan pentingnya nilai karakter dan mengenal aspek emosi manusia adalah film Mangkujiwo. Film ini termasuk kedalam genre horror yang menceritakan asal-usul Kuntilanak yang dibalut dengan budaya mistis yang kental. Meskipun begitu cerita ini tetap memberikan nilai-nilai positif bagi para penikmat film. Salah satunya pesan moral yang ditunjukkan oleh karakter tokoh Brotoseno adalah ketamakan manusia terhadap dunia dapat mengubah mereka menjadi sosok yang kejam. Pengkajian cerpen ini diharapkan mampu menghasilkan kajian yang didasari oleh penghayatan terhadap karya sastra dengan kaitannya dalam berbagai kejadian yang terdapat di dalamnya dan mampu memperkaya perspektif penulis khususnya dalam memasuki dunia sastra dan kajian tokoh pada karya sastra. Perlu diketahui bahwa film AuMangkujiwoAy belum banyak diteliti dan meskipun pada penelitan terdahulu ada beberapa yang sudah meneliti objek lain dengan menggunakan kajian psikologi sastra klasifikasi emosi teori David Krech namun pada penelitian ini memiliki kebaruan dengan menambahkan penelitian terhadap karakter tokoh sehingga hal tersebut yang menjadi pembeda dengan penelitian terdahulu. Metode Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan sebuah penelitian yang menjabarkan hasil penelitiannya dengan sebuah kata atau kalimat bukan Sumber data yang digunakan adalah film Mangkujiwo. Terkait teknik pengumpulan data ialah dengan menerapkan teknik pencatatan. Langkah-langkahnya meliputi, mengamati atau melihat secara keseluruhan film Mangkujiwo karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah, secara berulang-ulang, mengidentifikasi data-data yang berhubungan dengan masalah yang dikaji dalam hal ini ialah mengklasifikasikan emosi. Mencatat datadata yang berhubungan dengan masalah yang ingin dikaji, mengklarifikasikan ungkapanungkapan sesuai masalah yang dikaji. Hasil dan Pembahasan Klasifikasi Emosi Tokoh Film Mangkujiwo Konsep Rasa Bersalah Klasifikasi emosi konsep rasa bersalah ini ditunjukkan di awal scene oleh Ki Lurah yang mengurus Kanti yang dipasung karena Tjokrokusumo yang malu mengakui bahwa Kanti hamil darah dagingnya sendiri sehingga dibuang di desa tersebut. Klasifikasi emosi berdasarkan konsep rasa bersalah ditunjukkan dalam kutipan berikut ini: AuKi Lurah membuka pintu kandang sapi dengan membawa sepiring makanan. Kanti yang hampir setengah gila itu saat melihat wajah Ki Lurah pun amarahnya memuncak. Ki Lurah (Klasifikasi Emosi dan Nilai Karakter Tokoh pada Film Mangkujiwo Karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah (Kajian Psikologi Sastr. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. dengan sabar meletakkan sepiring makanan itu diatas kayu pasung yang terpakai pada kaki Kanti. Au Oh Kanti, apa dosaku sampai kamu menjalani hidupmu di desaku ini. Sabar bukan aku juga yang menyebabkan kamu terpenjara di tempat ini. Sekarang makanlah agar badanmu tetap kuatAy. (Mangkujiwo, 00:00:19 Ae 00:01:. Berdasarkan kutipan di atas dijelaskan bahwa Ki Lurah merasa bersalah karena melihat Kanti yang setiap harinya harus menjalani hidupnya di kandang sapi dengan kaki yang Hingga ia pun takut dicap sebagai pelaku atas nasib Kanti. Padahal Tjokrokusumo lah yang membuang Kanti di desa itu serta menyuruh Ki Lurah untuk tetap memenjarakannya di kandang sapi hingga membuat Kanti gila. Rasa Bersalah yang Dipendam Klasifikasi emosi berdasarkan rasa bersalah yang dipendam dalam film Mangkujiwo karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah dialami oleh tokoh Tjokrokusumo. Tjokrokusumo yang tak pernah memperlihatkan secara langsung bahwa ia merasa bersalah telah membuang Kanti ternyata selalu membekas diingatannya bahkan muncul dalam mimpinya. Berikut ini bukti kutipan : AuTjokrokusumo bermimpi kejadian awal mula dia dan Kanti bertemu. Saat acara perayaan Tjokro disuguhi hiburan oleh penari-penari cantik. Namun ada satu penari yang memikat hatinya hingga ia tidak pernah puas melihat aksi tarian dari gadis itu. Penari itu bernama Kanti. Kanti yang sadar bahwa Tjokro terpikat olehnya. Dia memberanikan diri untuk mendekati Tjokro dan menawarkan untuk menari bersamanya. Tjokro mengiyakan tawaran tersebut hingga pada akhirnya saat perayaan selesai Tjokro menggoda Kanti untuk berhubungan suami istri. Namun tiba-tiba mimpi tersebut menjadi mimpi buruk dimana muncul sosok kuntilanak merah dengan wajah yang menyeramkan namun Tjokro tetap dapat mengenali wajah itu yaitu Kanti. Tjokro kemudian bangun dengan wajah yang ketakutan dan segera memutuskan mengasingkan dirinya sesaat ke Sendang Kidul. Ay (Mangkujiwo, 01:19:09 Ae 01:22:. Berdasarkan kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Tjokrokusumo memiliki rasa bersalah namun ia enggan untuk menghapus kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dia memendam rasa bersalah itu namun tak memungkiri bahwa dipikirannya selalu teringat oleh Kanti. Kesedihan Klasifikasi emosi berdasarkan kesedihan dialami oleh beberapa tokoh dalam film Mangkujiwo karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah. Salah satu tokoh yang mengalami adalah tokoh Umma saat dia telah mengecewakan romonya akibat ulahnya yang tidak sengaja membunuh anak Tjokrokusumo bernama Pulung. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan berikut ini: AuSaat Kolonel Herman pergi dari rumahnya. Umma dengan menahan air matanya menemui Brotoseno yang mengetahui sebab kepulangan Umma. AuRomo tahu kan sekarang, aku hanyalah pembawa masalahAy Umma yang tak mampu menahan kesedihannya pun hanya bisa menangis dan Brotoseno menenangkan Umma dengan memeluknya. Ay (Mangkujiwo, 00:49:19 Ae 00:49:. Berdasarkan bukti kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa kesedihan yang dialami umma saling berkaitan dengan rasa bersalahnya yang membuat romonya kecewa. Umma yang memang sudah lama tidak pulang malah kembali dengan membawa masalah untuk romonya. Kebencian Klasifikasi emosi berdasarkan kebencian dialami oleh tokoh Kanti, yang mana Kanti sangat membenci Tjokrokusumo yang telah menghancurkan seluruh hidupnya dan membuat dia harus (Klasifikasi Emosi dan Nilai Karakter Tokoh pada Film Mangkujiwo Karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah (Kajian Psikologi Sastr. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. hidup dipasung di kandang sapi. Begitupun kebenciannya terhadap Ki Lurah yang menuruti kemauan Tjokro agar Kanti disekap di desa tersebut. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan dibawah ini: AuKetika Ki Lurah meletakkan piring itu. Kanti segera merebutnya dan membuang nasi-nasi itu tepat diwajah Ki Lurah. Ki Lurah yang kaget itu menyuruh Kanti untuk istighfar AuIsistighfar nak, istighfar nyebut. nyebutAy Kanti yang tersulut amarahnya pun memaki Ki Lurah AuKOWE KOYO KEBO!! AKU ORA EDAN. KOWE SING EDAN!! RA WARAS!! TJOKRO SING EDAN LEPASKAN KI LEPASKAN!!Ay (Mangkujiwo, 00:01:11 Ae 00:01:. Berdasarkan kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa Kanti sangat membenci Tjokro dan Ki Lurah karena sebab mereka yang telah mengurung Kanti dan menyiksanya. Kanti hampir setengah gila akibat harus hidup dalam kandang sapi di kegelapan dengan kaki yang dipasung membuat Kanti semakin marah dan dendam pada Tjokrokusumo. Cinta Klasifikasi emosi berdasarkan cinta dialami oleh dua tokoh yaitu Tjokrokusumo dan tokoh Umma. Emosi cinta yang dialami Tjokro kusumo setelah bertemu dengan Kanti seorang penari yang sempat menghiburnya di acara perayaan. Kecantikan Kanti yang berhasil menaklukkan Tjokrokusumo. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan di bawah ini: AuPada malam perayaan. Tjokro kusumo disuguhi dengan berbagai hiburan dan salah satunya adalah aksi tarian. Tjokro menikmati hiburan tersebut hingga pada akhirnya matanya hanya tertuju pada salah satu penali cantik bernama Kanti. Tjokro meminta Ki Lurah untuk memanggil Kanti agar mau menari bersamanya. Momen tersebut yang menumbuhkan ketertarikan Tjokro pada Kanti hingga pada akhirnya setelah acara perayaan itu selesai. Tjokro menggoda Kanti agar mau menemaninya malam itu. Kanti yang statusnya hanya seorang penghibur tak bisa menolak keinginan Tjokro. Ay (Mangkujiwo, 01:19:12 Ae 01:20:. Berdasarkan kutipan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Tjokro mulai jatuh cinta kepada Kanti disaat dia bertemu pada perayaan di malam itu. Paras Kanti yang cantik berhasil mengambil hati Tjokrokusumo. Ketertarikan Tjokrokusumo pada Kanti membuatnya berani meminta Ki Lurah untuk segera memanggil Kanti agar lebih dekat dengannya. Nilai Karakter Tokoh Aspek Nilai Tanggung Jawab Ki Lurah Ki Lurah merupakan tokoh yang berperan sebagai kepala desa atau lurah. Ki Lurah juga merupakan orang kepercayaan dari Tjokrokusumo. Oleh karena itu. Tjokrokusumo memilih Ki Lurah untuk menyingkirkan Kanti dari dirinya karena dianggap sebagai pembawa sial bagi Tjokro. Tjokro meminta agar Kanti harus selalu ada dalam pengawasannya sehingga Ki Lurah memasung Kanti di kandang sapi miliknya. Disamping itu, melihat keadaan Kanti membuat Ki Lurah harus tetap berkewajiban untuk memberi makan Kanti setiap harinya. Hal itu merupakan bentuk tanggung jawab dari Ki Lurah kepada Tjokrokusumo. Adapun bukti aspek tanggung jawab pada tokoh Ki Lurah dapat dilihat dari kutipan di bawah ini: AuKi Lurah membuka pintu kandang sapi dengan membawa sepiring makanan. Kanti yang hampir setengah gila itu saat melihat wajah Ki Lurah pun amarahnya memuncak. Ki Lurah dengan sabar meletakkan sepiring makanan itu diatas kayu pasung yang terpakai pada kaki Kanti. Au Oh Kanti, apa dosaku sampai kamu menjalani hidupmu di desaku ini. Sabar bukan aku juga yang menyebabkan kamu terpenjara di tempat ini. Sekarang makanlah agar badanmu tetap kuatAy. (Mangkujiwo, 00:00:19 Ae 00:01:. Berdasarkan kutipan di atas dapat menggambarkan karakter Ki Lurah yang tanggung jawab. Dia menjalankan tugasnya sebagai bawahan Tjokrokusumo yang ditugaskan untuk tetap (Klasifikasi Emosi dan Nilai Karakter Tokoh pada Film Mangkujiwo Karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah (Kajian Psikologi Sastr. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. mengawasi Kanti dan setiap hari dia yang akan menyiapkan makanan untuk Kanti. Dari kutipan di atas, sifat tanggung jawab yang dimiliki Ki Lurah adalah menyangkut tanggung jawab sebagai seorang bawahan kepada atasannya. Tanggung jawab adalah kesadaran pada diri sendiri untuk melaksanakan tugas dan kewajiban. Aspek Nilai Kerja Keras Karmila Karmila merupakan tokoh dari film Mangkujiwo yang diceritakan memiliki kontrak kerja sama dalam sebuah bisnis penjualan pusaka-pusaka dengan Tjokrokusumo. Karmila benarbenar bekerja keras agar bisnis yang dijalaninya menghasilkan kekayaan. Meskipun adanya rintangan yang berpengaruh pada bisnisnya. Karmila dengan sangat teliti mecari tahu Aspek kerja keras dari tokoh Karmila dapat dilihat dari kutipan di bawah ini: AuKarmila memperbincangkan kerja sama bisnis antara dia dengan Tjokrokusumo. Namun bisnis tersebut sedang mengalami kerugian karena adanya pengaruh dari kematian Pulung Kusumo yakni putra dari Tjokrokusumo. Karmila tidak ingin kerja keerasnya tak membuahkan hasil yang memuaskan AuTuan Tjokro anak tuan sendiri sudah meninggal dengan cara tak wajar dan urusan kita itu terkait dengan kematian Pulung dan kematian Pulung sudah mengancam bisnis kita tuan. Saya pun tidak ingin semua ini berlarut-larut Ay (Mangkujiwo, 01:01:05 - 01:03:. Berdasarkan kutipan di atas dapat menggambarkan karakter tokoh Karmila adalah kerja Karmila bekerja sama dengan Tjokrokusumo dalam memperjualbelikan pusaka-pusaka. Perilaku Karmila menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi hambatan yang merugikan bisnisnya. Kerja keras yang ditunjukkan oleh Karmila membuktikan bahwa dia memiliki dedikasi yang tinggi terhadap bidang yang sedang digelutinya. Aspek Nilai Tolong Menolong Brotoseno Brotoseno juga dianggap sudah menolong desa itu agar terbebas dari musibah karena kepergian Kanti. Adapun bukti kutipan lain yang menunjukkan bahwa tokoh Brotoseno menunjukkan nilai karakter tolong-menolong dapat dilihat dari kutipan di bawah ini: AuKanti yang tidak sanggup menjalani siksaan yang diterima, membuatnya ingin mati tanpa peduli dengan bayi yang di dalam kandungannya. Brotoseno sontak kaget ketika melihat Kanti sudah tergantung tak bernyawa. Brotoseno mulai mengkhawatirkan bayi yang masih terperangkap didalam perut segera mengambil pisau untuk merobek perut Kanti dan menyelamatkan bayi itu agar dapat hidup. Ay (Mangkujiwo, 01:27:58 Ae 01:29:. Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan karakter tolong menolong dari tokoh Brotoseno. Hal itu dapat dibuktikan saat Brotoseno yang dengan cepat mengambil sebilah pisau untuk merobek perut Kanti demi menyelamatkan bayi yang ada diperut Kanti. Dia tidak ingin jika nantinya bayi yang dikandung oleh Kanti juga tidak dapat diselamatkan. Hingga pada akhirnya Brotoseno berhasil menyelamatkan bayi yang ada dikandungan Kanti. Brotoseno juga yang merawat bayi itu dan memberinya nama Hanumma. Aspek Nilai Kritis Kolonel Herman Kolonel Herman merupakan salah satu tokoh dari film Mangkujiwo yang berperan sebagai seorang militer dan bawahan dari Karmila. Sejak bisnis mereka mulai terganggu. Karmila dan Kolonel Herman benar-benar menyelidiki seseorang yang harus bertanggung jawab. Dilihat dari bukti penyelidikan Kolonel Herman berani bersuara bahwa ada seseorang dibalik masalah yang sedang terjadi. Aspek nilai kritis dari tokoh Kolonel Herman dapat dilihat dari kutipan di bawah (Klasifikasi Emosi dan Nilai Karakter Tokoh pada Film Mangkujiwo Karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah (Kajian Psikologi Sastr. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. AuMaaf tuan, tuan Tjokro tentu tahu siapa orang yang patut dicurigai, dari hasil penyelidikan sementara kami, ada satu nama yang muncul. Raden Kanjeng Brotoseno. Itu latar belakang yang kuat tuan, saya merasa ada pihak-pihak tertentu yang ingin mencuri loji pusaka milik tuan Tjokro. Ay (Mangkujiwo, 00:38:35 Ae 00:39:. Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan karakter Kritis. Hal itu dapat dibuktikan dari cara berpikir Kolonel Herman tentang siapa yang perlu curigai disaat mrosotnya bisnis Karmila dan Tjokrokusumo. Namun meskipun Kolonel Herman berani untuk mencurigai Brotoseno hal itu tetap didukung dengan penyelidikannya membuat dia sangat mempertimbangkan informasi yang dimilikinya. Aspek Nilai Integritas Nyi Kenanga Nyi Kenanga yang sudah mengabdi berpuluh-puluh tahun untuk Loji Pusaka tidak ingin lepas begitu saja. Sejak mengetahui bahwa akan adanya tragedi besar yang bersangkutan dengan Brotoseno dan Tjokrokusumo untuk mengambil alih Loji Pusaka membuat Nyi Kenanga harus benar-benar berada dipihak yang paling kuat yaitu Brotoseno. Oleh karena itu. Nyi Kenanga akan berusaha untuk mengambil kepercayaan dari Brotoseno. Aspek nilai integritas tokoh Nyi Kenanga dapat dilihat dari kutipan di bawah ini: AuApa ndoro Broto masih tidak percayaAy tanya Nyi Kenanga meyakinkan Brotoseno bahwa dia ada dipihaknya. AuKamu ingin kita bersekutu Nyi?Ay tanya Broto. Nyi Kenanga meyakinkan Broto dengan memberinya informasi mengenai Tjokrokusumo AuTjokrokusumo ketakutan dan menyingkir ke Sendang Kidul sebelum Umma datang. Tapi ndor, ia akan kembali ke rumahnyaAy Brotoseno mulai percaya pada Nyi Kenanga dan memberitahunya rahasia yang selama ini dia tutupi mengenai Umma dan Kanti. AuNdoro, tidak disangka pengilon kembar ini akan bersatu. Ay (Mangkujiwo, 01:26:01 Ae 01:27:. Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan karakter integritas yang mana diartikan sebagai upaya menjadikan seseorang sebagai orang yang dapat dipercaya dalam tindakan, perkataan, dan pekerjaannya baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Terlihat dari kutipan di atas bahwa Nyi Kenanga mencoba meyakinkan Brotokusumo jika Nyi Kenanga ada di pihaknya. Sebagai bukti. Nyi Kenanga memberikan informasi mengenai keberadaan Tjokrokusumo. Aspek Nilai Pendirian Teguh Tjokrokusumo Tjokrokusumo adalah salah satu tokoh di film Mangkujiwo yang berperan sebagai petinggi di keraton Loji Pusaka setelah menggantikan lengsernya Brotoseno. Perbedaan pendapat membuat Tjokrokusumo dan Brotoseno menjadi musuh bebuyutan. Meskipun hal tersebut dapat membahayakan dirinya dan jabatannya Tjokrokusumo tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak ingin memiliki urusan lagi dengan Brotoseno. Aspek nilai pendirian teguh dari tokoh Tjokrokusumo dapat dilihat dari kutipan di bawah ini: AuKamu masih menginginkan Pengilon Kembar itu?Ay tanya Tjokro pada Nyi Kenanga. AuSaya memikirkan ndoro, ada baiknya jika kedua cermin ini disatukan sesuai namanya Pengilon Kembar. Mungkin ndoro Broto. Ay Nyi Kenanga yang belum sempat menyelesaikan ucapannya di potong oleh Tjokro AuKamu menyarankan aku damai dengan Brotoseno? Iyo?? Brotoseno itu bermuka dua, dia berlagak menjadi penderek Gusti Raja tapi dia grogoti keraton dan dia berikan pada anak-anak sekolah Londo yang merasa dirinya terpelajar, dan mereka sok-sok an bikin tatanan paugeran baru. Selama aku dan Brotoseno masih hidup, pengilon kembar ini tidak akan bersatu. Tidak akan pernah!Ay (Mangkujiwo, 00:50:03 Ae 00:51:. (Klasifikasi Emosi dan Nilai Karakter Tokoh pada Film Mangkujiwo Karya Dirmawan Hatta dan Erwanto Aphadullah (Kajian Psikologi Sastr. ) Rungkat: Ruang Kata Vol. No. Januari 2024, pp. Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan karakter berpendirian teguh. Hal itu dapat dibuktikan bahwa Tjokrokusumo selalu memegang prinsipnya untuk tidak mau lagi berurusan dengan Brotoseno. Dia tidak terkecoh sekalipun dengan saran yang diberikan Nyi Kenanga kepadanya dan tetap berpendirian teguh dengan prinsipnya. Simpulan Berdasarkan analisis klasifikasi emosi menurut David Krech, terdapat lima dari tujuh emosi yang muncul dari tujuh tokoh film tersebut. Lima emosi yang muncul adalah . Konsep Rasa Bersalah, . Rasa Bersalah yang Dipendam, . Kesedihan, . Kebencian, . Cinta. Berdasarkan analisis nilai karakter pada film Mangkujiwo, terdapat enam aspek nilai karakter yang muncul. Enam karakter tersebut adalah . Pendiriam Teguh, . Kritis, . Integritas, . Tolong-Menolong, . Kerja Keras, . Tanggung Jawab. Daftar Pustaka