TSULATSIYAT BUKHARI Metode Takhrij dan Karakteristiknya dalam Sanad Shahih al-Bukhari Intan Albeti Putri Aisyah MaAohad Aly Hasyim AsyAoari Tebuireng. Jombang. Indonesia intanaisha77@gmail. Muhammad Sidqi Abdurrahman Universitas Islam. Madinah. Saudi Arabia 411012556@stu. Abstrak Kitab Shahih Bukhari masyhur dengan keshahihannya dan memiliki sanad hadis yang aly atau biasa dikenal dengan istilah Tsulatsiyat Bukhari. Hadits tsulatsiyat telah diulas oleh beberapa ulama dalam karya-karyanya, akan tetapi yang berbeda, penelitian ini mengungkap karakteristik, kredibilitas, serta metode takhrij tsulatsiyat di kitab Shahih Bukhari. Penelitian ini menggunakan metode induktif kualitatif dengan memperoleh data dari kitabkitab syarah tsulatsiyat Bukhari dan kitab-kitab lainnya tentang ilmu sanad. Kajian ini menemukan bahwa seluruh hadits tsulatsiyat di Shahih Bukhari bersanad shahih walaupun terdapat beberapa rawi yang mubtadiAo, tercatat pernah melakukan tadlis, dan meriwayatkan hadis mungkar. Disamping itu, terdapat beberapa hadis lain yang rawi dalam sanadnya hanya 3 orang tapi bukan tsulatsiyat. Kata Kunci: tsulatsiyat, dirasat asanid, shahih bukhari, ilmu rijal 253 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI Abstract The Sahih Bukhari book is famous for its authenticity and has an aly hadith chain or commonly known as Tsulatsiyat Bukhari. Hadith tsulatsiyat by several scholars in their works, which will be different, this study reveals the characteristics, but actions, and methods of takhrij tsulatsiyat in Sahih Bukhari. This study uses a qualitative inductive method by obtaining data from the books of syar'ah tsulatsiyat Bukhari and other books on the science of sanad. This study found that all tsulatsiyat hadiths in Sahih Bukhari are Although there are some narrators who are mubtadi', there are recorded tadlis, and narration of munkar hadiths. In addition, there are several other hadiths which are narrated in the sanad only 3 people but not Keyword: tsulatsiyat, dirasat asanid, shahih bukhari, ilmu rijal Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC254 PENDAHULUAN Sebenarnya sudah terdapat beberapa mushannaf yang berisi kajian tentang tsulatsiyat, khususnya Tsulatsiyat Bukhari1. Diantara kitab yang membahas Tsulatsiyat Bukhari adalah: TaAoliqat al-Qaarii karya Syeikh Ali bin Sulthan Muhammad al-Qarii. Kifayah al-Qaarii karya Syeikh Hamid al-Din al-Sindi, dan al-Faraaid al-Marwiyaat karya Qadhi Muhammad bin Ibrahim al-Hadhrami. Ketiga kitab tersebut cukup jelas mengupas tentang tsulatsiyat kitab Shahih Bukhari dari segi matannya, hukum-hukum syariatnya, dan rijal alhadits-nya. Sayangnya, beberapa kitab tersebut belum menerangkan karakteristik sanad, kredibilitas, serta metode takhrij tsulatsiyat di kitab Shahih Bukhari secara gamblang. Mungkin para ulama menganggap bahwa semua peneliti hadis akan langsung faham hanya dengan membaca cuplikan yang mereka isyaratkan dalam kitab itu. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, terdapat peneliti hadis yang tidak faham hanya dengan isyarat tersebut. Oleh karena itu, topik ini dipandang penting untuk dibahas disini. Agar hasil penelitian ini memuaskan, maka penulis akan Adapun rujukan utama penelitian ini adalah kitab-kitab syarah tsulatsiyat Bukhari seperti: TaAoliqat al-Qaarii. Kifayah al-Qaarii, dan al-Faraaid al-Marwiyaat. Kemudian untuk dalil-dalil pendukung penelitian ini, penulis merujuk pada kitab-kitab syarah hadis, ilmu hadis, dan tarikh tadwin hadis seperti: Fath al- Baarii. Manhaj al-Imam al-Bukhari Fii Tashhih al-Ahadis, al-Rihlah Fii Thalab al-Hadis, al-Hadis Wa al-Muhaddisun, dan Tadwin alSunnah al-Nabawiyah Nasyatuhu Wa Tathawwuruhu. Disamping itu, juga kitab tentang rijalul hadis, seperti: Tahdzib al-Kamal Fii AsmaAo al-Rijal. Tahdzib al-Tahdzib, dan Siyar AAolam al-NubalaAo. Terdapat tiga rumusan masalah dan tiga tahapan penelitian yang ditempuh penulis. Pertama, mencari kelebihan dan karakteristik hadis tsulatsiyat Bukhari dengan mengumpulkan kitab yang membahas tentang hadis tsulatsiyat. Kedua, mennyingkap kualitas rawi yang diragukan kesahihan hadisnya dengan melakukan takhrij yang berupa dirasah asanid, bukan naqd matan. Ketiga, mencari contoh hadis yang mirip hadis tsulatsiyat tapi tidak termasuk Tsulatsiyat Bukhari adalah hadis yang jumlah rawi antara Imam Bukhari ke Rasulullah hanya 3 orang. 255 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI tsulatsiyat dengan mengamati hadis-hadis Shahih Bukhari dan penjelasan kitab musthalah hadis. Sebelum pembahasan dimulai, ada baiknya didahuli dengan kajian teori ringan berikut ini: Tsulatsiyat dan Keterkaitannya dengan Isnad Aly Tsulatsiyat dan isnad aly memiliki hubungan yang sangat Alasannya karena sanad yang menjulur dari Nabi mulia dan turun ke kita melalui tiga rawi saja, tentu saja masih tinggi . untuk Sebaliknya, sanad yang menjulur dari nabi mulia dan sampai kepada kita melalui banyak rawi, tentu saja sudah cukup turun . untuk diraih. Oleh karena itu pula, isnad nazil merupakan antonim isnad aly. Hadis tsulatsiyat termasuk bagian dari sanad aly sebab dekat dengan Rasulullah dan antara mukharrij dan Rasulullah hanya terpaut 3 orang rawi. Hadis semacam ini dikategorikan sebagai uluw muthlaq apabila sanadnya shahih. Selain itu, terdapat budaya ulama hadis yang menganjurkan: jika seorang rawi memiliki hadis dengan 2 jalur periwayatan, jalur periwayatan yang pertama shahih dengan sanad nazil dan di riwayat lain dhaif akan tetapi sanadnya aly, maka hendaknya rawi tersebut meriwayatkan hadis ini dengan 2 jalur sanad sekaligus untuk menjelaskan ketinggian sanad yang ada padanya dan menerangkan keshahihan sanadnya. Perlu diperhatikan bahwa pembahasan tentang sanad aly dan nazil bukanlah pembahasan keshahihan atau kelemahan suatu sanad. Objek kajian sanad aly dan nazil adalah jumlah para rawi dalam sanad. Jadi, sanad aly adalah hadis yang sanadnya lebih sedikit jumlah rawinya jika dibandingkan dengan sanad lain sedangkan nazil adalah Para ulama lebih memperhatikan sifat-sifat rawi daripada jumlah rawi dalam sanad. Hadis nazil yang shahih, lebih mereka utamakan daripada hadis aly yang dhaif. Hal ini bukan berarti sanad aly tidak penting. Tujuan ulama salaf mencari dan menganjurkan pencarian isnad aly adalah karena hadis dengan sanad aly dekat dengan Rasulullah dan kemungkinan perubahan pesannya lebih rendah daripada hadis dengan sanad nazil. Jadi, ibarat barang yang diperjualbelikan sekalipun sudah bekas: barang bekas yang pernah berganti pemilik satu kali, tentu lebih baik dan lebih minim cacat daripada barang yang pernah ganti pemilik dua atau tiga kali. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC256 Para ulama pun merasa perlu untuk menyediakan topik khusus yang membahas kajian ini. Dalam kitab-kitab ilmu hadis terdapat pembahasan terkait lathaif al-asanid, yaitu keistimewaan atau karakteristik sanad tertentu yang membuatnya berbeda dari jenis sanad yang lain. Tema lathaif al-asanid ini dibagi menjadi 7 pembahasan, salah satunya yaitu pembahasan tentang isnad aly dan isnad nazil. Para ulama membagi sanad aly atau Aouluw menjadi beberapa macam. Salah satunya al-Qurb Min Rasulillah . ekat dengan Rasu. dengan sanad yang shahih. Jenis sanad aly ini disebut juga dengan al-AoUluw al-Muthlaq dan merupakan tingkatan sanad aly yang Untuk keterangan selengkapnya bisa dilihat di kitab-kitab ilmu hadis seperti Muqaddimah Ibn Shalah,2 Tadrib al-Raawi,3 dan lain-lain. PEMBAHASAN Syarat Dan Kriteria Imam Bukhari Terkait Hadis-Hadis Tsulatsiyat dalam Kitab Shahihnya Sebatas pengalaman penulis mempelajari hadis, setiap muhaddis memilikiuslub dan syarat tertentu untuk sanad dan matan hadis yang mereka riwayatkan dalam kitabnya. Hal tersebut dapat diketahui melalui . pemeriksaan terhadap kitab-kitabnya, . pengkajian metode di dalamnya, . pernyataan para imam itu sendiri di muqaddimah kitabnya, dan . pernyataan ulama yang mensyarahi kitab-kitab mereka. Kriteria Imam Bukhari Terkait Hadis Tsulatsiyat Apabila hadis tsulatsiyat dikaitkan dengan kriteria hadis shahih versi Imam Bukhari, maka kriteria Imam Bukhari untuk hadis tsulatsiyat antara lain: Setiap hadis tsulatsiyat yang diriwayatkan dalam kitab shahihnya harus memenuhi lima syarat hadis shahih, yaitu: sanadnya muttashil, rawinya adil, dhabith, terbebas dari illat, dan terbebas dari syadz. Jadi, selain sanadnya uluw . ekat dengan Rasululla. , hadis tsulatsiyat juga harus shahih. Lihat Utsman bin Abdurrahman Taqiyuddin Ibnu al-Shalah. Muqaddimah al-Shalah, (Beirut: Dar al-Fikr al-MuAoashir, 1. Lihat Jalaluddin al-Suyuthi. Tadrib al-Raawi, (Lebanon: Dar al-Kutub al2 Ilmiyah, 2. 257 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI Rawi harus merupakan ahlu al-hifdzi wa al-itqaan . rang yang kuat hafalannya dan professional dalam hal hadi. Ringkasnya, semua rawi hadis tsulatsiyat merupakan rawi yang tsiqah. Tersambungnya sanad muAoanAoan. Meskipun jalur periwayatan hadis tsulatsiyat berupa sanad yang muAoanAoan, tapi antara satu rawi dengan yang lainnya . uru dan muri. harus terbukti pernah bertemu dan pernah hidup di satu masa. Pada kajian kitab turats, hal ini bisa diketahui dengan melihat daftar guru-murid dari masing-masing rawi. Gaya Penyebutan Hadis Tsulatsiyat dalam Shahih Bukhari Imam Bukhari tidak membuatkan judul khusus untuk hadis Sebagaimana hadis-hadis Shahih Bukhari pada umumnya, hadis-hadis tsulatsiyat pun disebutkan berdasarkan bab-bab fikih. Imam Bukhari meletakkannya sesuai topik kandungan hukum hadis Topik itu juga disebutkan sesuai nama tema berdasarkan urutan ala kitab fikih. Contohnya: hadis yang menyebutkan waktu maghrib dimasukkan Bab Waqt al-Maghrib . ab waktu maghri. yang terletak pada Kitab Mawaaqiit al-Shalah . itab waktu shala. Disamping itu, banyak hadis tsulatsiyat di Shahih Bukhari yang diulang . oleh Imam Bukhari. Sahih Bukhari memiliki 22 Hadis tsulatsiyat dengan tikrar4 atau 16 hadis tanpa tikrar. 5 Adapun faedah dari pengulangan hadis-hadis tsulatsiyat tersebut ialah: Menjelaskan jalur periwayatan hadis dari sanad lain, hal ini dilakukan karena terdapat perbedaan redaksi hadis. Misalnya, satu redaksi mengandung kalimat yang rancu atau nama rawi yang belum jelas sedangkan redaksi hadis yang lain, menyebutkannya dengan jelas. Mengeluarkan hadis dari ranah gharabah, yakni dengan meriwayatkan hadis dari seorang sahabat Nabi, lalu Imam Bukhari meriwayatkannya lagi dari sahabat yang lain. Akhirnya, hadis tersebut berstatus aziz karena ia mempunyai tabiAo atau syahid. Memberitahukan bahwa seorang rawi tidak hanya mendengar hadis dari satu guru saja, tapi juga dari guru yang lain. Ali bin Sulthan Muhammad al-Qaari. TaAoliqaat al-Qaari, (Riyadh: Maktabah al-MaAoarif Li al-Nasyr Wa al-TauziAo, 2. , 69. Muhammad bin Ibrahim al-Hadhrami, al-Faraaid al-Marwiyaat, (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2. , 62. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC258 Menghilangkan syubhat terhadap para penukil hadis, misalnya di satu waktu, seorang rawi meriwayatkan hadis secara lengkap dan di lain waktu, ia meriwayatkannya dengan bentuk yang ringkas. Maka dari itu, perlu menyebutkan riwayat yang lengkap dan riwayat yang ingkas untuk menghilangkan syubhat terhadap rawi menunjukkan banyaknya kemungkinan istidlal dengan hadis Imam Bukhari mengulang-ulang hadis-hadis tsulatsiyat di beberapa tempat . dikarenakan hadis tersebut mengandung beberapa topik hukum fikih. Karakteristik dan Keistimewaan Hadis-Hadis Tsulatsiyat di Kitab Shahih Bukhari Setelah muqaranah antar kajian terdahulu . erbandingan kitab syarah tsulatsiyat Bukhari dan kitab-kitab ilmu rijal hadi. dapat disimpulkan bahwa tsulatsiyat di Shahih Bukhari memiliki banyak keistimewaan, yaitu: Kedudukan dan keutamaan Imam Bukhari yang dijuluki sebagai amirul mukminin fi al-hadis serta kedudukan Shahih Bukhari selaku asshah al-kutub baAoda al-qurAoan. Sedikitnya jumlah jalur periwayatan, jika dihimpun seluruh jalur periwayatannya, maka tsulatsiyat hanya tercakup pada 5 jalur periwayatan saja. 6 Adapun perinciannya adalah: Para rawi tsulatsiyat dari thabaqah/tingkatan sahabat ada 3, yaitu: Salamah bin al-AkwaAo ada 17 riwayat hadis, dari Anas bin Malik 4 hadis, dan dari Abdullah bin Busr 1 hadis saja. Para rawi tsulatsiyat dari thabaqah tabiAoin ada 4, yaitu: Yazid bin Abi Ubaid dengan 17 hadis. Khumaid al-Thawil dengan 3 hadis. Hariz bin Utsman dengan 1 hadis, dan Isa bin Thahman yang riwayatnya 1 hadis juga. Para rawi tsulatsiyat dari thabaqah tabiAo tabiAoin ada 5 orang, yaitu: Makki bin Ibrahim dengan 11 hadis. Abu AoAshim al-Nabil dengan 6 hadis. Muhammad bin Abdullah al-Anshari dengan 3 Hamid al-Din al-Sindi. Kifayah al-Qaari, (Beirut: Dar al-Rayahin, 2. AuYang dimaksud dengan hanya 5 jalur periwayatan disini adalah periwayatan hadis-hadis tsulatsiyat yang langsung diambil oleh Imam Bukhari dari gurunya. Jadi Imam Bukhari mengambil atau meriwayatkan semua hadis-hadis tsulatsiyat di dalam kitab shahihnya dari 5 orang gurunyaAy. 259 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI hadis. Isham bin Khalid, dan Khallad bin Yahya yang masingmasing riwayatnya hanya 1 hadis. Tsulatsiyat dalam Shahih Bukhari merupakan jenis al-Aouluw almuthlaq. Keseluruhan hadis tsulatsiyat Sahih Bukhari bersanad. shahih dan ini merupakan tingkatan tsulatsiyat tertinggi. Antara guru dan murid terbukti pernah bertemu dan hidup di satu masa . subut al-liqaAo wa al-muAoashara. meskipun umur antar rawi terpaut jauh. Hal ini bisa di-crosscheck melalui daftar guru-murid masing-masing rawi di kitab biografi rawi, seperti tahdzib alkamal,8 tahdzib al-tahdzib,9 dan taqrib al-tahdzib. Walaupun hadis tsulatsiyat ini sahih tapi terdapat beberapa rawi tsulatsiyat yang terduga seorang nawashib . ama lain khawari. , murjiAoah, bahkan pernah men-tadlis dan meriwayatkan hadis munkar. Berikut ini nama-nama rawi tersebut: Humaid al-Thawil, pernah mendengar 18 hadis dari Anas bin Malik dan mendengarkan hadis Anas yang lain melalui perantara Tsabit, tapi beliau mentadlis hadis tersebut dan meriwayatkan langsung dari Anas tanpa menyebut Tsabit. 11 Walaupun termasuk mudallis, tapi Humaid adalah rawi yang tsiqqah. Berdasarkan qaul yang shahih, rawi mudallis tidak serta merta ditolak pada semua Jika rawi mudallis itu menyebutkan simaAo secara eksplisit seperti lafal samiAotu dan semacamnya, maka hadisnya 12 Adapun dalam hadis tsulatsiyat ini. Humaid menggunakan kata AuhaddatsahumAy yang masih satu tingkatan dengan samiAotu/samiAona. Disamping itu, melalui program GawamiAo Kalim, hadis ini ditemukan berjumlah 437 riwayat yang kesemuanya berujung pada Humaid dari Sahabat Anas. Tidak ada Hamid al-Din al-Sindi. Kifayah al-Qaari, (Beirut: Dar al-Rayahin, 2. Yusuf bin Abdurrahman bin Yusuf al-Mizzi. Tahdzib al-Kamal Fii AsmaAo al-Rijal, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Tahdzib al-Tahdzib, (Mesir: Dar al-Hadith, 2. Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Taqrib al-Tahdzib, (Suriah: Dar al-Rasyid, 1. Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin MaAoadz bin MaAobad, alTsiqat, (India: Dairah al-MaAoarif al-Ustmaniyah, 1. , 4: 148. Mahmud al-Thahan. Taisir Musthalah al-Hadis, (Riyadh: Maktabah alMaAoarif Li al-Nasyr Wa al-TauziAo, 2. , 103. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC260 riwayat dari Tsabit (Tsabit tidak meriwayatkan hadis ini dari Sahabat Ana. Oleh karena itu. Humaid tidak mungkin mentadlis Tsabit dan hadisnya tetap shahih. Hariz bin Utsman, disebut sebagai seorang nawashib13 oleh ulamaAo seperti Imam Dzahabi tapi Imam Ahmad mengingkari tuduhan bahwa Hariz seorang pengikut madzhab qadariyyah. Para ulama juga menceritakan bahwa Hariz bin Utsman sering mengucapkan laknat pada Sayyidina Ali. Namun, dikabarkan pula bahwa Hariz bin Utsman berhenti melakukannya. Imam Bukhari menukil kabar terakhir ini dari Abu al-Yama>n. Demikian pula kabar yang disampaikan oleh al-Hakam bin Na>fiAo al-Bahrani>. Mengenai ketsiqqah-an Hariz, mayoritas ulama hadis menyebut bahwa ia 14 Oleh karena itu, hadisnya pun tetap shahih. Kalaupun benar bahwa ia adalah seorang yang mengikuti akidah Nashibiy dan membenci Ali, maka hal itu tidak bisa merusak kesahihan hadisnya yang tidak berhubungan dengan Sayyidina Ali dan tidak bertopik akidah Nashibiy seperti hadits tsulatsiyat ini. Sebagian ulamaAo menyebutkan nawashib sebagai nama lain dari khawarij karena ada beberapa kesamaan, diantaranya karena membenci Sayyidina Ali. Jadi khawarij itu memiliki banyak nama lain, diantaranya adalah nawashib. Dikatakan nawashib sebab berlebihannya mereka dalam menyatakan permusuhan terhadap Sayyidina Ali. Lihat Ghalib bin Ali AoAwaji. Firaq MuAoashirah, (Jeddah: al-Maktabah al-AoAshriyah al-Dzahabiyah, 2. , 1: Namun ada juga sebagian ulamaAo yang membedakan antara keduanya. Perbedaannya kalau khawarij mereka sampai mengkafirkan Sayyidina Ali, sedangkan nawashib mereka hanya sampai pada tahap memfasikkan Sayyidina Ali. Lihat Ibrahim bin AoAmir bin Ali al-Rahili , al-Intishar Li Shuhbi Wa al-Ali Min IftiraAoati al-Samawiy al-Dhal, (Madinah: Maktabah alAoUlum wa al-Hikam, 2. , 247. Terlebih di biografi Hariz bin Ustman ada sebagian riwayat yang menjelaskan sebab Hariz membenci Sayyidina Ali adalah karena Sayyidina Ali memerangi kakek-kakeknya dan membunuh Lihat Yusuf bin Abdurrahman bin Yusuf al-Mizzi. Tahdzib al-Kamal Fi AsmaAo al-Rijal, (Beirut: MuAoassasah al-Risalah, 1. , 5: 576. Yusuf bin Abdurrahman bin Yusuf al-Mizzi. Tahdzib al-Kamal Fii AsmaAo al-Rijal, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1. a A a ua a aAUsAa a ec au aa aA a a a AE a ayA a aA Ea AU aA ec au U eau aauA a a a AU ec a a ceua ca seA a Aa ua aUA aA A c Aa s acA a AU e ai ao a aA a aA a uaauA UA aU asiU acA a A uaaua eaA:aA e Ua aayA a aA A a AU a e a aA a AU a e a aA a AA A Ea aEaeia s ac A:aA aayAUA aA 261 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI Isham bin Khalid, keterangan taAodil tentang beliau sangatlah sedikit, bahkan Ibnu Hajar pun mengatakan bahwa dia shaduq. Seperti yang diketahui bahwa hadis rawi yang shaduq tidak semerta-merta menjadi hadis shahih ataupun hasan. Rawi tersebut perlu di-ikhtibar. Apabila diketahui bahwa rawi ini memiliki dhabt tam, maka hadisnya shahih. Namun, apabila dhabt-nya khafi, maka hadisnya hasan. Jika ia memiliki dhabt naqish, maka hadisnya 17 Kemudian, diketahui bahwa ia memiliki dhabt tam karena ibn Hibban menyebutnya dalam tsiqqah. Disamping itu, riwayatnya sama dengan riwayat dari beberapa rawi lain18. Hal ini menunjukkan bahwa dia mampu menjaga konsistensi lafal walaupun pada hadis syamail yang normalnya diriwayatkan secara bi al-maAona. Jadi, hadis tsulatsiyat-nya ini shahih. Khallad bin Yahya. Imam Ahmad mengatakan bahwa dia rawi yang shaduq dan beliau juga berkata: Aukaana yurao syaiAoan min al-irjaAoAy, bisa jadi yang dimaksud yaitu condong terhadap pemikiran murjiAoah atau memiliki pemahaman murjiAoah dalam sebagian permaslahan, bukan murjiah secara keseluruhan. 19 Di dalam kitab TaAoliqat al-Qaarii juga disebutkan bahwa Khallad bin Yahya dituduh sebagai seorang murjiAoah. 20 Ibnu Numair pun juga berkata bahwa di dalam hadisnya terdapat kesalahan akan tetapi hanya 21 Imam Daruquthni menyebut kesalahan itu hanya pada Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Taqrib al-Tahdzib, (Suriah: Dar al-Rasyid, 1. , 390. Putri Wardatuzzahro. AuMetode Mengetahui Al-Dabt Al-Khafiy Pada Rawi Saduq Dan Penerapannya Pada Kritik Sanad Hadis,Ay Nabawi: Journal of Hadith Studies (October https://doi. org/10. 55987/NJHS. V2I1. Ia. Abu Nadhr dalam Musnad Ahmad nomor 17356. Ali bin AoAyyasy dalam Mustadrak nomor 4131. Abu al-Yaman dalam Musnad Syamiyyin nomor 1023. Ishaq bin Sulaiman dalam Musnad Abd bin Humaid nomor504, dan Yazid bin Harun dalam Musnad Ibn Abi Syaibah nomor 24479 memiliki lafal yang sama Au UA aU asiU acA a AU e ai ao a aA a AAyeaA. Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Tahdzib al-Tahdzib, (Mesir: Dar al-Hadith, 2. , 3: 174. Ali bin Sulthan Muhammad al-Qaari. TaAoliqaat al-Qaari, (Riyadh: Maktabah al-MaAoarif Li al-Nasyr Wa al-TauziAo, 2. , 307. Ibn Abi al-Hatim al-Raazi, al-Jarh Wa al-TaAodil, (Beirut: Dar IhyaAo alTurats al-AoArabi, 1. , 3: 368. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC262 satu hadis. Kesalahan ini tidak merusak ke-dhabit-annya. Ia tetap seorang yang dhabith karena satu hadis ini merupakan presentase yang sedikit dibandingkan 210 hadis yang mengandung namanya dalam sanad. Sifat dhabit-nya akan rusak apabila mayoritas periwayatan orang itu salah. 22 Adapun pemikiran murjiah-nya tidak merusak kesahihan hadis karena hadis tsulatsiyat yang ia riwayatkan23 bukan topik akidah yang mendukung murjiah. Jadinya, hadisnya tetap shahih. Isa> bin T. hma>n. Ibnu Hibban berkata bahwa dia menyendiri . alam meriwayatka. hadis-hadis munkar dari Anas, sepertinya dia mentadlis hadis Anas, yang dia riwayatkan dari Aban bin Abi Ayyasy dan Yazi bin T. hma>n. 25 Disamping itu, banyak ulama yang menilai Isa> bin T. hma>n sebagai seorang yang tsiqqah, yakni: Imam Ahmad. Imam Daruquthni. Imam Dzahabi. YaAoqub bin Sufyan dan Yahya bin MaAoin yang terkenal mutasyaddid dalam menilai rawi. Oleh karena itu, hadisnya tetap shahih. Zawaid Tsulatsiyat di Shahih Bukhari Zawaid yang dimaksudkan disini adalah tambahan-tambahan yang berhubungan dengan tsulatsiyat di kitab Shahih Bukhari, disini penulis membaginya menjadi 2, yaitu: Hadis MuAoallaq yang menyerupai Tsulatsiyat Di dalam Shahih Bukhari terdapat banyak hadis yang bentuknya tsulatsi, adapun sanadnya itu gambaran dari 3 rawi . aitu antara mukharrij dan Rasulullah terpaut 3 raw. , tapi Wardatuzzahro. AuMetode Mengetahui Al-Dabt Al-Khafiy Pada Rawi Saduq Dan Penerapannya Pada Kritik Sanad Hadis. a A ec auA :aA aoayAUaAU eA a aA A a Aa ceua aos aA a :A aa ayAU a e aauA a A a ua UaAUAa ua a a ec au ae aA a Aa eUia EaA a AA eAaiA AUA a AA AiA a AuA AsA AeA AcA AUA a AA AUA AUA a AEA a AA AiA eAA eAA a a A" aa aie A aia sa a a Aa ea a eA a a ac eA aa a aA a A aNu a Ea e au aa ea s A:aA auaie aoayAUA aA a AA a AU a e a aA a a a A A c A" s acA Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Tahdzib al-Tahdzib, (Mesir: Dar al-Hadith, 2. , 8: 216. Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani. Taqrib al-Tahdzib, (Suriah: Dar al-Rasyid, 1. , 439. 263 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI sebenarnya itu bukanlah hadis tsulatsiyat melainkan merupakan muallaqat26 Shahih Bukhari, yaitu karena ada satu bahkan lebih rawi yang dibuang di awal sanad baik karena sebab mursal atau sebab-sebab yang lain sehingga seakan-akan bentuknya seperti Diantara contohnya: a a Aa e aa a a a a e a a a aA e e a a A aO a a A- A aU e a aO a aA /A A2a A Ua A:AUA s A U a a"! ec a a aUA:AaE eoA a s A U AUAA ea a e a a e e a e a a e a a e Aae a a a e a a a e e a e ae a a a a a a a A UaCa A ac au aA s KA auI eUn eauoa a a a aa a AU a A a EA:A eoaAUA acae@ aACAa ao aEO A a e a a e a a e a A a . /A A a c 2AA e A aeAUA eU aO au a UAXa A eO aIARa Ya A Au au e aA:AaEA a A ae aoAUA aU a e a aO a aA !PAO a ARa Sa a a a Ae u ao aUA ea :A^oAoA( A) AOAjA( ca uoaci oEaA) Auoa Ua- A` _^Aa A eaOA. AA ao e a A Riwayat ini adalah bagian dari muallaqat . adis-hadis mualla. Shahih Bukhari sebab Imam Bukhari tidak pernah berjumpa dengan Laits. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: AuSaya tidak pernah melihat Imam Bukhari . alam riwayat in. ecara langsun. dari jalur LaitsAy, dan tidak sah jika dihitung sebagai bagian dari tsulatsiyat. Abu NuAoaim menambahkan jikalau sepertinya Imam Bukhari mengambil hadis ini dari juru tulis Imam Laits yakni Abdullah bin Shalih. Riwayat di Shahih Bukhari Dengan Hukum Tsulatsiyat Di Shahih Bukhari terdapat hadis yang hukumnya seperti hukumnya tsulatsiyat tapi sebenarnya bukan bagian darinya. Gambarannya yaitu guru gurunya Imam Bukhari itu tabiAoin akan tetapi tidak meriwayatkan dari sahabat melainkan dari tabiAoin Atau antara Imam Bukhari dengan sahabat hanya terpaut 2 orang rawi, akan tetapi sahabat ini tidak meriwayatkan hadis Muallaqat adalah hadis-hadis yang dibuang atau hilang satu rawinya atau lebih secara berkesinambungan pada awal sanadnya, salah satunya disebabkan mursal. Mursal adalah hadis yang terbuang rawinya pada akhir sanadnya setelah tabiAoin yaitu sahabat. Lihat Mahmud al-Thahan. Taisir Musthalah al-Hadis (Riyadh: Maktabah al-MaAoarif Li al-Nasyr Wa al-TauziAo, 2. , 84, 87. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-JamiAo al-Musnad al-Shahih alMukhtashar Min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi, (Damaskus: Dar Thauq al-Najah, 1422H), 2: 92. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Fath al-Baari Syarh Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 1379H), 5: 49. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC264 dari Rasulullah melainkan dari sahabat yang lain. 29 Adapun a adalah sebagai berikut: a a a A a au aa aU ae e a ec a aA- u a A aAU! tAA A aU eAUA aU e ac aAUA aaI ec a aU e aOAsa A a u a:AaEA AA eA` au e aO a . /A A a A U e O a aA. /AA a A A2A AI AUA a a a aiAuAaU a a ec aA s a s a a a aa e a a a a A( caA) Auoa A- A` _^Aa A eaOA. AAI Ee aAwAae cA u :A^oAoA( A) A` u oia cAa AA Ibnu Hajar berkata: sanad hadis ini mempunyai hukum sebagaimana tsulatsiyat meskipun bentuknya bukan tsulatsi. Kemudian Beliau menambahkan: sesungguhnya Hisyam bin Urwah adalah seorang tabiAoin tapi ia meriwayatkan hadis bukan dari sahabat melainkan dari tabiAoin lain yang mendapatkannya dari sahabat. Hadis semacam ini dihukumi sebagai al-Aouluw alnisbi. Aa A a a a A a c au A:`A A/AaE aUA a aa a AA Aa ac aa . eU aeI a eI eI au a a aO a a aA a A OA- e a e a a a e Aa aa aa a A `s c /a A E ai e a aU e aUAua A aU e A s AoaAOA ec a A a A ! U U aAtAua Ue e a c aA A( ca caU a OIA) Auoa UA- A` _^Aa A eaOA :A^oAoA( A. AACAi I iAsAI uA Abu Thufail adalah seorang sahabat, tapi ia tidak meriwayatkan hadis ini dari Rasulullah melainkan dari sahabat yang lain. Seperti hadis sebelumnya, hadis ini termasuk Aoawaali Imam Bukhori dan memiliki kedudukan seperti tsulatsiyat. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Fath al-Baari Syarh Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 1379H), 1: 469. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-JamiAo al-Musnad al-Shahih alMukhtashar Min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi, (Damaskus: Dar Thauq al-Najah, 1422H), 1: 94. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Fath al-Baari Syarh Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 1379H), 1: 469. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-JamiAo al-Musnad al-Shahih alMukhtashar Min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi, (Damaskus: Dar Thauq al-Najah, 1422H), 1: 41. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Fath al-Baari Syarh Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-MaAorifah, 1379H), 1: 225. 265 iC Intan & Muhammad Ae TSULATSIYAT BUKHARI KESIMPULAN Penelitian hadis tsulatsiyat al-Bukhari ini memiliki tiga rumusan masalah dan tiga tahapan penelitian. Pertama, muqaranah taAoliqat dan syarh hadis tsulatsiyat. Darinya, didapatkan tiga kesimpulan: . kriteria atau syarat Imam Bukhari mengenai hadis tsulatsiyat sama seperti syarat hadis shahih, yakni: rawinya termasuk ahlul hifdzi wal itqan, dan muttasil sanadnya. gaya penyebutan hadis tsulatsiyat disusun berdasarkan bab-bab fikih. faidah tikrar pada beberapa hadis tsulatsiyat adalah untuk menjelaskan jalur periwayatan hadis dari sanad lain, mengeluarkan hadis dari ranah gharabah, menghilangkan syubhat terhadap para penukil hadis, menempatkan hadis yang memiliki banyak topik hukum pada setiap bab yang membutuhkannya. Kedua, penelitian kelebihan hadis tsulatsiyat Bukhari. Dari kajian pustaka, diketahui bahwa tsulatsiyat bukhari hanya memiliki 5 jalur periwayatannya, kualitas sanadnya sahih, antara guru dan murid terbukti adanya pertemuan dan hidup di satu masa. Walaupun terdapat syubhat pada pribadi beberapa rawi tsulatsiyat, tapi syubhat tersebut tidak sampai merusak kesahihan hadis mereka. Ketiga, , terdapat beberapa hadis lain yang rawi dalam sanadnya hanya 3 orang tapi bukan tsulatsiyat. Nabawi - Volume 02 Nomor 02 Maret 2022 iC266 DAFTAR PUSTAKA